MANAJEMEN MENYAPA DARI REDAKSI PERJALANAN Berita Gas sekarang memasuki edisi 51/2011, sebuah perjalanan yang tidak pendek untuk sebuah majalah internal. Dengan umur yang sudah tidak singkat tersebut, Berita Gas terus berupaya menjadi media perekat hubungan bagi setiap insan di berbagai wilayah kerja. Pada edisi kali ini Berita Gas hadir dengan edisi khusus, dimana di dalamnya memuat lima karya tulis dari finalis Lomba Penulisan Internal PGN tahun 2011. Kemudian di dalamnya juga ada hasil foto hunting dari insan PGN yang akan dimuat secara khusus. Seiring terus berjalan waktu Berita Gas akan terus berbenah untuk terus menyempurnakan, untuk itu berbagai saran dan masukan akan sangat membantu meningkatkan kualitas majalah internal kita bersama ini. Tak lupa segenap redaksi Berita Gas mengucapkan Selamat Menunaikan Ibadah Puasa, Marhaban Ya Ramadhan Mohon Maaf Lahir dan Batin dan menyambut Idul Fitri 1432 H untuk seluruh karyawan PGN. Semoga bulan suci ini membawa berkah bagi kita semua.
SUSUNAN REDAKSI Pelindung: Direktur Utama Pembina: Direksi & Sekretaris Perusahaan Pengarah: Kepala Departemen Komunikasi Korporat Ketua Penyunting: Executive Officer Communication Internal
Asah Kemampuan Tulis MENYAMBUT HUT PGN ke-46, dan dalam rangka internalisasi program rebranding, PGN melaksanakan Lomba Karya Tulis Internal untuk mengasah dan meningkatkan kemampuan tulis para insan PGN. Pada Lomba Karya Tulis tersebut terdapat sekitar 29 tulisan yang masuk. Aku, PGN, dan Kehidupan adalah tema besar yang diusung dalam pelaksanaan lomba tersebut. Setiap peserta harus menyesuaikan karya tulisnya dengan tema tersebut. Dari hasil seleksi yang dilakukan terhadap sekitar 29 tulisan yang masuk, terdapat lima tulisan yang masuk dalam nominasi juara. Untuk memberikan apresiasi kepada para penulis yang berhasil masuk dalam lima besar, maka edisi kali ini akan disuguhkan lima tulisan terbaik karya insan PGN tersebut. Semoga dapat menjadi motivasi bagi insan-insan PGN lainnya untuk dapat terus menulis. Selain berisi tulisan, pada edisi kali ini juga ada tambahan foto-foto hasil jepretan para insan PGN di berbagai wilayah kerja, sehingga memberikan sebuah nuansa baru pada edisi khusus kali ini.
Finalis Lomba Karya Tulis ANANG WAHYUDI, SST
Mimpiku Bersama PGN,
Sekarang dan yang Akan Datang Tanpa terasa sudah 16 (enambelas) tahun saya bersama PGN. Ibarat kawan, dia selalu ada di samping saya, kemanapun saya pergi. Ibarat rumah, sudah banyak cerita kehidupan di dalamnya. Mulai saya tidur, bangun dan berkarya, membangun rumah tangga, hingga membangun mimpi-mimpi indah bersamanya.
I
barat mata air, di situlah saya minum kalau sedang kehausan. Di situ pulalah saya ambil air untuk menyirami bunga-bunga kehidupan. Pendek kata, sudah tidak terhitung memori yang terukir di hati ini selama saya mengabdi kepada PGN. Mulai zaman PGN masih jualan LPG kepada pelangganpelanggan setianya, sampai sekarang di saat gas bumi sudah bisa dirasakan di rumah-rumah, banyak ilmu dan pengalaman yang sudah saya dapatkan darinya. Dan sekarang, ada mimpi-mimpi liar yang mulai mengusik ketenangan batin saya, yaitu ingin menjadikan PGN sebagai suatu entity yang makin menggurita di seluruh dunia. Yah, di seluruh dunia, bukan hanya di Indonesia. Saya merasa, PGN sudah waktunya merambah dunia lain. Merambah bisnis lain, selain core bisnis yang digeluti selama ini, yaitu Distribusi dan Transmisi gas bumi.
Sudah saatnya kita harus berďŹ kir kreatif dan inovatif. Bagaimana memanfaatkan apa yang sudah ada sekarang untuk menggenggam
berita gas 3
dunia yang lebih besar. Banyak yang sudah kita punya yang bisa dijadikan senjata baru untuk mendongkrak kebuntuan pengembangan bisnis yang lebih menjanjikan, baik itu teknis dan non teknis. Sisi teknis yang bisa dijual oleh PGN antara lain : 1. Pengalaman membangun jaringan pipa gas, baik distribusi dan transmisi. Pengalaman ini bisa kita jual ke perusahaan lain bahwa kita bisa membangun jaringan pipa gas serupa di lain tempat. 2. Sisi operasional. PGN sudah puluhan tahun mampu mengoperasikan jaringan pipa baik distribusi maupun transmisi dengan baik. Apabila tata kelola prosedur kerja dan Instruksi Kerja PGN bisa di manage dengan lebih baik, maka sangat memungkinkan apabila prosedur kerja ini dijadikan standard operation procedure (SOP) yang bisa
SAJIAN UTAMA
Finalis Lomba Karya Tulis ANANG WAHYUDI, SST
diterapkan di perusahaan lain. Dengan kata lain, perusahaan lain bisa menggunakan prosedur kerja kita. Dari sini, maka prosedur tersebut bisa dijual ke perusahaan lain dan perusahaan tersebut bisa meminta lisensi kepada PGN.
3. Potensi tekanan gas yang ada di dalam jaringan pipa. Dengan tekanan ini, sebenarnya PGN bisa memperoleh nilai lebih dengan cara memanfaatkannya sebagai pembangkit tenaga listrik. Ya betul. Pembangkit tenaga listrik dengan Turbin Ekspander.
berita gas 4
Gas dengan tekanan tinggi ini, sebelum diturunkan tekanannya untuk keperluan industri maupun keperluan lain, maka penurunan tekanan ini bisa dimanfaatkan untuk menggerakkan Turbin Ekspander yang terhubung dengan generator, yang pada akhirnya bisa untuk membangkitkan energi listrik. 4. Potensi energi dingin dari regasiďŹ kasi LNG yang sebentar lagi akan dibangun PGN. Seperti yang sudah kita ketahui tentang karakter LNG, bahwa temperatur LNG yang mencapai -160°C pada keadaan cair, bisa dimanfaatkan untuk mendinginkan makanan dan minuman, untuk pengalengan ikan, pembuatan es, untuk membangkitkan listrik dari ekspansi gas phase cair ke phase gas/uap dan lain-lain. Sehingga, untuk memanfaatkan energi dingin tersebut, sudah seharusnya PGN untuk mulai memikirkan berapa energi yang akan terbuang apabila terminal LNG yang akan dibangun hanya bertujuan untuk regasiďŹ kasi saja alias hanya untuk mengubah phase LNG dari cair ke phase gas saja. Berapa ratus juta rupiah yang akan terbuang sia-sia apabila kita tidak memanfaatkan energi dingin LNG ini. Untuk itu, sebaiknya setiap terminal regasiďŹ kasi LNG yang akan dibangun oleh PGN harus mulai memperhatikan luasan lahan dan prospek keekonomiannya, dengan cara mengintegrasikan industriindustri terkait di sekitarnya yang bisa memanfaatkan energi dingin tersebut untuk keperluan proses produksinya. Kalau perlu, PGN juga harus membangun pabrik pengalengan ikan, pabrik es, pembangkit listrik, pabrik pemisahan Oxigen dan Nitrogen dan lain-lain. 5. Potensi teknologi yang sangat mungkin untuk dikembangkan
Sumber : http://www.tokyo-gas.co.jp/lngtech/chap_03/index.html
oleh PGN adalah dengan diversiďŹ kasi usaha dengan masuk ke sisi hulu, terutama dengan mengakusisi lapangan-lapangan gas marjinal untuk dijadikan sebagai Mini LPG plant. Dengan memasuki sektor ini, sangat mungkin PGN akan mendapatkan pendapatan yang lebih tinggi dari sekedar menjual gas bumi. Karena apa? Hal ini dikarenakan harga LPG lebih tinggi bila dibanding dengan harga gas bumi yang disalurkan ke pabrik-pabrik atau rumah tangga. Sisi non teknis yang bisa dijadikan modal oleh PGN diantaranya ; 1. Kepercayaan publik terhadap kinerja perusahaan. Dengan kepercayaan yang telah diperoleh PGN selama ini, maka akan memudahkan PGN untuk mencari tambahan modal untuk pengembangan usaha-usaha lainnya. 2. SDM yang handal. Dengan SDM yang handal, yang cekatan dan berketerampilan khusus, maka PGN bisa menjual tenaga ini sebagai tenaga-tenaga profesional untuk menangani permasalahanpermasalahan yang terjadi di
perusahaan lain, baik dari segi engineering maupun operasinya. Dengan demikian, apabila ada perusahaan lain yang ingin memakai tenaga profesional dari PGN, maka perusahaan tersebut harus membayar fee kepada PGN sejumlah harga tertentu. 3. Kinerja keuangan yang sehat. Sudah menjadi hukum alam bahwa hanya perusahaanperusahaan yang mempunyai kinerja keuangan yang sehatlah yang akan mendapat tempat di hati para pemodal atau investor. Dengan demikian, harga saham PGN akan terus melambung apabila kinerja keuangan PGN ini bisa di maintain dengan baik. Selain hal-hal di atas, saya memimpikan agar PGN bisa sejajar dengan perusahaan kelas dunia lainnya. Tidak hanya slogan, tetapi real di lapangan. Bagaimana caranya? Pertamatama kita harus berani mengadopsi sistem yang sudah dikembangkan oleh perusahaan-perusahaan kelas dunia tersebut, khususnya perusahaan yang bergerak di bidang perminyakan dan gas bumi. Baik itu sistem pengelolaan SDM-nya, sistem training pegawainya, sistem
berita gas 5
dokumentasi prosedur kerja yang eďŹ sien dan sistem pengelolaan data yang terintegrasi. Memang tidak serta merta semua sistem tersebut bisa kita adopsi dan kita terapkan, mengingat kepemilikan PGN di atas 50% masih milik pemerintah. Tetapi, hal-hal teknis yang sudah terbukti di lapangan, tidak ada salahnya kalau kita terapkan di PGN. Disamping itu, PGN harus berwawasan lingkungan. Bagaimana caranya? Kan PGN cuma menerima gas yang sudah bersih dan tidak perlu diproses lagi? Jawabnya, ya! Untuk sekarang, tetapi bukan berarti PGN tidak melakukan apa-apa terhadap lingkungan kita. Pada saat konstruksi, saat operasi dan saat melakukan pemeliharaan, ada kalanya kita bisa merusak lingkungan kita. Tetapi dengan kepedulian pada lingkungan, maka kita tidak akan sembarangan menebang pohon untuk jalur pipa, tidak sembarangan membuang oli atau grease saat pemeliharaan valve dan lain-lain. Apalagi untuk masa mendatang, di saat PGN sudah mulai merambah ke dunia lain, dalam arti masuk ke dalam bidang selain distribusi dan transmisi gas, maka PGN harus lebih concern terhadap lingkungan sekitarnya. Dengan demikian, PGN akan diterima dan dinantikan kehadirannya. Oleh siapa? Oleh keluarga kita, oleh pegawainya, oleh masyarakat sekitarnya, oleh investor yang akan menanamkan modalnya, oleh pemerintah, oleh perusahaan lain yang bekerja sama dengan PGN dan oleh dunia, yang menginginkan PGN jadi teladan bagi semua masyarakat industrinya. Bravo PGN. Maju terus untuk terus berkarya dan berinovasi demi kesejahteraan kehidupan manusia. „
Finalis Lomba Karya Tulis CHAIRIAH MUSTAFA
Kalkulator Ketika saya ingin membuat Babe tersenyum gembira, saya memberikan dia hadiah sebuah kalkulator. Saat ulang tahun PGN yang ke-46, saya ingin membuat PGN tersenyum, dengan juga memberikan kado: sebuah “kalkulator”.
S
aya kerap mampir di warung nasi kecil milik Babe, begitu dia biasa dipanggil, yang terletak di Jalan Wijaya Kusuma, Perumnas I Karawaci, Tangerang. Perjalanan kunjungan rutin saya ke pelanggan, biasanya berhenti di warung nasi ini untuk makan siang. Itulah sebabnya, saya tahu bahwa pedagang kecil asal Betawi asli yang bernama Ansari itu tidak punya kalkulator, karena dia menghitung transaksi para pembelinya secara manual di atas sobekan kertas. Babe yang rumahnya hanya berjarak sepuluh meter dari kedainya yang sederhana itu adalah Pelanggan Gas Kecil PGN, sejak Juni 2002, dengan nomor ID 0013187. Karena berkaitan dengan tugas saya jugalah, sebagai AE Rumah Tangga (RT), maka saya berhubungan dengan Babe. Tapi, mengapa Babe dan warungnya itu begitu istimewa di mata saya dan, juga selayaknya, di mata PGN? Dari warung Babe, sembari menikmati sayur tumis pare kesukaan saya, saya bisa
“membaca” sejarah penyaluran gas rumah tangga di Tangerang. Sebab, beberapa meter dari kedai Babe tampak berdiri Meter Regulator Stasiun (MR/S) Wijaya Kusuma, milik PGN. MR/S pertama yang dibangun oleh PGN di wilayah Tangerang yang dikhususkan untuk menyalurkan aliran gas rumah tangga, sekitar tahun 1991, itu pada awalnya hanya untuk melayani beberapa pelanggan saja, itupun hanya
berita gas 6
pegawai PGN. Saat itu gas alam belum tersosialisasi secara baik, dan masyarakat lebih banyak khawatir terhadap keamanan dan kenyamanan pemakaian gas alam. Di warung Babe, terkadang saya berjumpa dengan sejumlah Pelanggan RT yang kebetulan juga membeli makanan. Mumpung ketemu dengan petugas PGN, mereka bertanya dan atau mengeluh pada saya tentang pelayanan gas. Ada juga yang
memberikan saran. Dengan sabar dan antusias saya memberikan respon dan menjawab pertanyaan mereka. Hati saya pun bisa trenyuh, ketika mendengar, “Belum selesai masak nasi uduk, sudah disegel Petugas......,” tutur seorang pedagang nasi uduk di sebuah gang yang pernah mempunyai pengalaman terlambat membayar rekening tagihan pemakaian gas. Saya juga bisa bertemu dengan teman-teman PGN lainnya di kedai nasi Babe yang juga sedang “dinas luar”, yaitu teman-teman Layanan Teknis, teman-teman Operasi dan Pemeliharaan, juga teman-teman dari Pgas Sol. Selalu ada yang kami perbincangkan di sana, yang berkaitan dengan pekerjaan kami mengurusi para Pelanggan Kecil dan RT. Misalnya saja tentang teman-teman Pgas Sol yang berhasil menemukan kebocoran pipa, “pasukan” Layanan Teknis yang harus sedikit bersitegang dengan pelanggan ketika melakukan penyegelan atau pencabutan Meter, tingginya pengenaan denda keterlambatan, sampai pemenuhan permohonan berlangganan gas RT yang tertunda karena pembangunan
jaringan pipa PGN belum menyentuh ke seluruh lokasi pemohon. Diskusi kami tak jarang menjadi serius dan berkualitas, yang substansinya mungkin belum terjangkau oleh para pengambil keputusan di tingkat kantor pusat. Misalnya saja topik tentang pipa instalasi yang ideal digunakan pelanggan, yang memang belum ada manual bakunya, kecuali hanya “pemasangan instalasi harus memperhatikan tingkat keamanan”, “harus berjarak satu meter di balik pagar, dengan ketinggian 1,5 meter”. Sehingga bermacam instalasi terpasang di lokasi rumah pelanggan. Secara bergurau, seorang teman dari Layanan Teknis, mempertanyakan apakah PGN yang tengah menuju perusahan bertaraf internasional (world class company) tak terpikirkan membakukan tata cara pemasangan instalasi itu? Tanya teman itu lagi, sambil mencontoh instalasi dari Perusahaan Listrik Negara (PLN) yang rapi letak Meter ber-cashingnya, apakah tak terpikir oleh PGN akan memiliki Pelanggan Kecil dan RT secara masif di masa depan seperti PLN, sehingga tak harus
berita gas 7
mempersiapkannya kemudian, apalagi tentang instalasi ini sangat berkaitan erat dengan safety, salah satu perilaku utama insan PGN? Secara kalkulasi ekonomi, Pelanggan Kecil dan RT memang tidaklah menguntungkan perusahaan. Saat ini di Penjualan dan Layanan Area Banten; Pelanggan Kecil dan RT ratarata per bulan menyerap sekitar 100.000 M3, sedangkan pelanggan industri sekitar 135.000.000 M3. Jadi, pemakaian Pelanggan Kecil dan RT kurang dari 1% saja, selebihnya 99% disalurkan kepada pelanggan industri. Belum lagi investasi yang harus dikeluarkan PGN bagi Pelanggan Kecil dan RT juga harus memberikan ‘subsidi’ dengan pembangunan pipa induk dan perlengkapan Meter. Pelanggan hanya menanggung biaya instalasi dalam dari Meter ke perlengkapan pembakaran di dalam rumah. Saya tidak menafikan kalkulasi ekonomi tersebut, sehingga pelanggan industri menjadi prioritas. Sejak menjadi perusahaan publik di tahun 2003 PGN memang “dipaksa” untuk selalu berorientasi profit. Dan PGN pun terus tumbuh
SAJIAN UTAMA
Finalis Lomba Karya Tulis CHAIRIAH MUSTAFA
dan meninggi, dengan “lompatan quantum”, menjadi perusahaan berkelas dunia di bidang penyediaan dan pemanfaatan gas bumi. Berbagai penghargaan nasional dan internasional disandang PGN yang membuat bangga bangsa dan khususnya para pengelolanya, termasuk para “alumni”nya seperti ayah saya yang sudah belasan tahun pensiun sebagai karyawan PGN. Sehingga, PGN pun dituntut untuk terus-menerus mengukir citra, agar imej tidak hanya berada dalam benak - seperti definisi Walter Lipmman “image is something in your head” - melainkan terwujud jati diri yang sesungguhnya melalui performa yang berkelanjutan berbasiskan kultur kerja karyawan dan manajemen perusahaan yang berkualitas. Demi PGN yang telah turut menyejahterakan saya dan keluarga serta membuat saya bangga berada di dalamnya, dengan sepenuh hati saya mengurusi sesuatu yang
skalanya kecil berdasarkan kalkulasi ekonomi itu, yaitu para Pelanggan Kecil dan RT. Demi citra PGN juga, sebagai wakil brand-nya, saya bersedia berhadapan dan berkomunikasi dengan mereka. Saya memiliki keyakinan, small is beautiful, sesuatu yang kecil ini sejatinya harus turut juga mempercantik wajah PGN di tengah masyarakat. Itulah sebabnya saya ingin membuat Babe, pedagang kedai kecil yang terletak di tepi kali kecil di Jalan Wijaya Kusuma, selalu tersenyum jika dia mengenang PGN. Saya memberikan hadiah sebuah kalkulator yang sangat dibutuhkannya, ketika dia bersedia memberikan testimoni dalam acara Temu Calon Pelanggan Kecil dan RT pada 24 April 2011, di Gedung Balai Bina Budaya, Jalan Nanas Raya, Perumnas I, Karawaci Tangerang. Dengan berpakaian rapi, berkaca mata minus, Babe mengungkapkan di hadapan 200 calon pelanggan tentang aman,
berita gas 8
nyaman dan murahnya memakai gas dari PGN berdasarkan pengalamannya. Babe tersenyum dengan hadiah kalkulatornya. Tapi, saya ragu akankah PGN mau menerima hadiah ulang tahun sebuah “kalkulator” dari saya? “Kalkulator” yang saya gunakan, dari perspektif seorang AE RT, dan bukan kalkulasi ekonomi semata, dalam menghitung keuntungan para Pelanggan Kecil dan RT, seperti Babe, pedagang nasi uduk, dan rakyat kecil lainnya yang juga ingin merasakan manfaat aman, nyaman dan murahnya gas PGN. “Kalkulator” yang juga saya harapkan bisa digunakan oleh PGN untuk menghitung kembali kekuatan, kelemahan, peluang dan kendala secara lebih akurat dalam menghadapi masa depan, khususnya di suatu masa ketika telah bermunculan para pesaing di ranah usaha yang sama. Selamat Ulang Tahun PGN ke 46. Keep flying, teruslah meninggi!
Finalis Lomba Karya Tulis ADI MUNANDIR
Mengapa Memilih Bekerja di PGN?
Awal dari setiap perjalanan adalah mengambil pilihan. Pilihan harus dan selalu harus memiliki alasan yang kuat, sehingga memilih adalah suatu keputusan yang diinginkan. Tidak pernah ada kondisi tak ada pilihan. Orang yang kaya bukanlah orang yang memiliki banyak harta, tapi orang yang memiliki banyak pilihan. Termasuk berada di PGN ini adalah pilihan yang memiliki alasan. Dari banyaknya alasan yang bertebaran di hati dan kepala ribuan insan PGN, ada beberapa alasan yang rasanya perlu dibagi dengan harapan memberikan nuansa yang berbeda dan membuka perspektif lain untuk kemanfaatan.
berita gas 9
Finalis Lomba Karya Tulis ADI MUNANDIR
S
emua berawal dari Indonesia. Ya, Negara Indonesia. Semua yang kita tahu, pernah tahu tentang Indonesia pasti memiliki kesan yang berbeda–beda. Negara ini sangat unik, memiliki nilai luar biasa mengenai keragaman yang berusia puluhan tahun dan dalam puluhan tahun kita terkenal hidup dengan keragaman tersebut. Ingat bagaimana Obama memuji Bhineka Tunggal Ika dan Pancasila pada saat lawatannya yang lalu? Pemimpin negara adikuasa itu ‘iri’ akan nilai keragaman yang kita miliki karena keragaman masih diusahakan di Negara besar itu. Isu rasialis dan kesenjangan sosial tidak pernah usang di negaranya, bahkan saat dirinya mencalonkan diri menjadi presiden pun beberapa ancaman pembunuhan terdengar, karena isu rasial tersebut. Indonesia pun adalah negara yang sangat terkenal akan kekayaan alamnya, bahkan keindahan alamnya mendahului nama negaranya. Dalam beberapa kesempatan berbincang dengan
ekspatriat yang bekerja di Indonesia, pada saat menanyakan asal saya dan saya menjawab, “saya dari Indonesia”, maka respon mereka adalah “is it near Bali?”. Entah karena kemampuan geografinya yang buruk, atau begitu terkenalnya Bali. Dan hebatnya respon seperti itu terjadi lebih dari satu kali. Negara yang kita tinggali ini adalah negara yang sangat unik, begitu banyak potensi yang menunggu untuk diolah menjadi keunggulan daya saing, mulai dari manusianya, bayangkan tim Olimpiade Fisika Indonesia tidak pernah pulang dengan tangan kosong, kemudian potensi alamnya yang beraneka ragam, garis pantainya yang terpanjang di seluruh dunia dan suku bangsanya, dengan bahasa yang sangat banyak. Negara ini kaya dengan sumberdaya internal yang sudah memenuhi kriteria untuk menjadi keunggulan daya saing, setidaknya menurut versi Barney, yaitu Valuable, Rare, Inimitable dan Non Substitutable. Banyak sumber daya internal kita yang bernilai,
berita gas 10
jarang, tidak dapat ditiru dan tak tergantikan, misalkan kebudayaan. Tidak ada negara lain yang sekaya kita. Ini adalah negara yang besar dan memiliki semua potensi untuk menjadi lebih besar. Namun mencermati apa yang terjadi di Indonesia saat ini, sungguh membuat kita lupa untuk bersyukur akan potensi yang ada tersebut. Kasus korupsi di Indonesia, walaupun rating CPI (Corruption Perception Index) kita sudah lebih baik sekarang menjadi urutan 110 sebelumnya 115, kita bukan negara terkorup lagi di Asia, namun tetap bukan negara yang bersih. Korupsi memberi titik hitam tersendiri, sehingga membuat kita malu. Kasus hukum yang terjadi dengan rekayasa dahsyat melebihi skema Bourne the Trilogy, terjadi di sini. Ketimpangan dari tiga kekuatan dalam Negara, yaitu Hak Publik, Hak Swasta dan Hak Negara terjadi dengan harapan equilibrium yang tak kunjung datang. Bagaimana Hak Publik dikalahkan oleh Hak Swasta dipertontonkan dan kita menjadi silent majority yang menjadi apatis dan mati rasa. Titiktitik hitam tersebut memberi bekas dan menjadi identitas. Suatu ketika saya bertugas untuk melakukan Factory Acceptance Test (FAT) terhadap peralatan yang dibeli oleh PGN di luar negeri. Yang terjadi adalah barang tersebut tidak sesuai dengan spesifikasi PGN sehingga harus diputuskan untuk me-reject barang tersebut. Menempuh perjalanan jauh dan mahal untuk kemudian ditolak adalah musibah besar bagi Kontraktor. Pada saat itu principal dari Vendor yang merupakan orang asing itu berkata “this is Indonesia we are talking about right? Everything can be arranged.” Saat itu saya luar biasa tersinggung, situasi saat itu menjadi sulit, karena
orang asing yang berkata demikian adalah orang yang pernah bekerja di Indonesia puluhan tahun, sepertinya dia sudah menangkap nuansa titik hitam tersebut. Di saat itu, saya menjawab “Not in my company sir!”. Dan barang tersebut tetap saya tolak. Saat itu, nilai seperti itu yang saya percayai dan ditanamkan oleh atasan saya, maka saya percaya tidak demikian di perusahaan saya bekerja. Di kesempatan lain saya pernah berbincang dengan tenaga ahli dari luar negeri, dan perbincangan ini sampai pada titik pertanyaan mengenai gaji. Dia kaget mendengar jawaban saya dan mengatakan “why do you want to work there? My company would pay more, even triple from that.” Menarik memang bila semua ditaruh dalam dasar perspektif uang. Saya saat itu berbagi alasan saya bekerja dengan dia melalui jawaban, “unfortunately your company doesn’t offer me an opportunity to serve my country”. Dia hanya tersenyum. Mengingat sepotong fragmen–fragmen tersebut dan menceritakannya pada teman–teman selalu mendapatkan respon senyum dan tertawa. Karena temanya yang usang dan sudah tidak dapat diterima untuk konteks saat ini yaitu nasionalisme. Saat proyek SSWJ selesai, kemudian dilaksanakan gas in, saat gas sudah mengalir ke Jawa ada perasaan yang menarik. Dengan berbagai analisis pakar dan pengamat ekonomi mengenai nilai krusial dari gas bumi mengalir ke Jawa untuk industri, saat itu semua memahami kondisi krisis energi dan mengalirkan gas ke sana adalah wajib untuk nasib 200 juta orang Indonesia. Memiliki peran kecil dalam pembangunan pipa tersebut dan kemudian jutaan SCFD gas mengalir melalui fasilitas dimana kita memiliki andil, memberikan kesan tersendiri. Perasaan bahwa
kita sudah melakukan sesuatu dan berdampak pada 200 juta orang. Ini adalah sedekah sejadah kita yang akan memberikan manfaat saat digunakan, dan saat manfaat tersebut terus timbul maka akan terus mengalir pada kita walaupun kita sudah meninggal. Saat itu semua alasan untuk bekerja di sini masuk akal. Perusahaan ini adalah BUMN yang merepresentasikan kekuatan Negara dan Publik, memberi pelayanan pada Hak Publik. Lebih dari 45% seluruh pipa transportasi gas di hilir di Indonesia dibangun
akhirnya adalah tentang bagaimana kita ingin diingat. Maka PGN harus bisa merealisasikannya yaitu menjalankan bisnis dengan misi kemanfaatan untuk rakyat banyak, untuk tumbuh dan menumbuhkan bangsa. Dan pada akhirnya dikenal sebagai motor penggerak pertumbuhan bangsa, sebagai BUMN pengemban tugas Negara untuk melayani Hak Publik. Dari seluruh alasan yang ada untuk memilih suatu pilihan maka pertimbangan perlu dicermati. Salah satunya adalah bahwa
dan dimiliki oleh PGN. Seiring dengan pertumbuhan PGN maka infrastruktur pengangkutan gas bumi di Indonesia pun tumbuh, pada akhirnya bila infrastruktur sudah mapan maka mekanisme sharing facilities dan open access dapat meningkatkan efektifitas dan efisiensi penggunaan gas untuk rakyat banyak. Maka perkataan Growing with nation, harusnya bukan hanya slogan. Peter Drucker berkata tentang misi sebagai suatu bentuk identifikasi bagaimana cara kita melakukan bisnis dan pada
hidup ini begitu pendek, tak cukup waktu untuk berlaku banyak. Namun keabadian adalah suatu kemungkinan, yaitu dengan memberi manfaat sebanyak–banyaknya, menyentuh benak dan menggerakan banyak hati. Maka setiap kita akan selalu diingat melewati banyak generasi seperti para pahlawan dan tokoh besar yang ucapan dan tulisannya masih menginspirasi kita. Melalui tulisan ini saya berbagi sebuah alasan untuk bekerja di PGN yaitu kemanfaatan untuk negeri dan cara menuju keabadian.
berita gas 11
Finalis Lomba Karya Tulis DEDI HIDAYAT
a r a t an Saya, PGN
dan Kehidupan �Kita tidak akan pernah sampai ke garis finish, tanpa memulai langkah pertama. Kita tidak akan pernah sampai pada sebuah titik kesuksesan, tanpa adanya perjuangan untuk memulai langkah awalnya�
berita gas 12
M
ega proyek jaringan pipa transmisi gas bumi dari Sumatera Selatan ke Jawa Barat (South Sumatra - West Java/SSWJ) adalah jaringan pipa gas bumi milik PGN yang membentang sepanjang empat provinsi (Sumatera Selatan, Lampung, Banten dan Jawa Barat). Ini merupakan proyek prestisius PGN untuk memenuhi kebutuhan energi yang terpusat di Jawa Bagian Barat. Dengan selesainya proyek SSWJ pada akhir Maret 2007, PGN berhasil meningkatkan volume penjualan gas perseroan sampai semester I 2007 sebesar 17% atau dari 332 MMSCFD pada semester I 2006 menjadi 389 MMSCFD pada semester I 2007 dengan perolehan laba bersih PGN mencapai Rp 1 Triliun (dikutip dari Majalah Berita Gas, edisi khusus SSWJ/2007). Bagi PGN keberadaan jaringan pipa gas SSWJ ini memberikan berkah tersendiri, karena seiring dengan mengalirnya gas di dalamnya pundipundi keuntungan PGN pun semakin meningkat dari tahun ke tahun. Bisa dikatakan saat ini PGN telah menjelma menjadi sebuah perusahaan besar dan sukses. Salah satu faktor penyebabnya adalah keberadaan jalur pipa gas bumi SSWJ ini. Kita tidak akan pernah sampai ke garis finish, tanpa memulai langkah pertama, kedua dan seterusnya. Kita tidak akan pernah sampai pada sebuah titik kesuksesan, tanpa adanya perjuangan untuk memulai langkah awalnya. Semata melihat kesuksesan PGN di saat ini tentu akan membuat kita semua menjadi terlena, sedangkan di saat kita mencatat dan mengingat perjuangan
berat untuk meraih kesuksesan itu justru akan membuat kita lebih bijak di dalam memandang dan menghargai makna kesuksesan itu sendiri. Memaknai kesuksesan dengan dibarengi penghargaan tinggi pada perjuangan di masa lalu, justru akan semakin menggelorakan semangat untuk terus berkarya dan berjuang untuk mempertahankan kesuksesan dan bahkan meningkatkan nilai kesuksesan itu sendiri. Sekaligus sebagai wujud rasa syukur atas berkah dan karunia dari Sang Maha Kuasa. Perjuangan untuk mewujudkan bentangan jalur pipa gas SSWJ yang begitu panjang tidaklah mudah. Begitu besar pengorbanan segenap insan PGN untuk merealisasikannya, tidak semata karena begitu besarnya jumlah rupiah yang harus dikucurkan, bahkan: tenaga, waktu, pikiran dan jauh dari keluarga menjadi investasi yang harus dikorbankan untuk mewujudkannya, bahkan ada yang kehilangan nyawa karena mengalami kecelakaan. Bentangan pipa SSWJ yang begitu prestisius adalah berkat jasa
berita gas 13
dan pengorbanan berbagai pihak antara lain: karyawan PGN di berbagai level manajemen, para supir juga para Office Boy. Bukan semata jasa karyawan organik, tapi juga karyawan kontrak/outsourcing. Saya kebetulan sebagai pelaku sekaligus saksi betapa dahsyatnya pengorbanan para insan PGN. “Tim Pembebasan Tanah” (selanjutnya disebut Tim Tanah), adalah salah satu tim dari sekian banyak tim kerja PGN yang turut berjuang mewujudkan mimpi besar PGN. Tim inilah yang antara lain bertugas membebaskan tanah yang akan dilalui jalur pipa gas. Saya pertama kali bergabung di tim tanah pada tanggal 07 Juni tahun 2004. Kegiatan Inventarisasi tanam tumbuh dan pengukuran tanah yang akan dilalui jalur pipa gas adalah tugas pertama saya di tim ini. Saya termasuk salah satu orang yang beruntung bisa bergabung di tim ini, untuk berjuang bersama tim PGN lainnya. Mengapa saya katakan “Beruntung”, bukan semata karena sejumlah gaji yang di transfer setiap bulannya ke rekening saya, tetapi juga karena begitu banyak pengalaman hidup yang begitu berharga untuk dimaknai. Begitu banyak peristiwa yang membuat diri semakin dewasa di dalam memandang kehidupan. Pengorbanan dan perjuangan bersama tim membuat diri semakin mengerti tentang arti persahabatan, persaudaraan dan makna senasib sepenanggungan. Bayangkan, kurang lebih satu bulan kami berjalan kaki menelusuri berbagai kondisi medan yang akan dilalui jalur gas. Berjalan di bawah terik matahari yang membakar tubuh, basah kuyup di saat hujan mengguyur bumi. Menelusuri berpuluh-puluh kilo meter untuk memastikan lahan yang dibebaskan aman dan dapat
Finalis Lomba Karya Tulis DEDI HIDAYAT
dilalui jalur pipa gas. Bukan hanya hamparan kebun singkong yang kami lewati, areal persawahan, hamparan tanah kosong bertumbuhkan alangalang, tapi juga jurang-jurang dalam, rawa-rawa yang dalamnya seukuran pinggang orang dewasa juga areal kehutanan dengan rimbunannya pepohonan dan semak belukar. Medan yang begitu berat, rasa lelah yang mendera, sulitnya mencari jalur yang cocok buat jalur pipa gas seringkali menimbulkan rasa stress dan riak-riak konik serta pertengkaran diantara sesama tim. Hari Sabtu dan Minggu bukanlah waktu libur bagi kami. Saat itu hampir di setiap malam kami baru bisa memajamkan mata saat di penghujung malam. Akhirnya satu persatu anggota tim tanah jatuh sakit (antara lain Tipes dan DBD) dan harus diopname di Rumah Sakit. Kondisi sosial ekonomi masyarakat yang dilewati jalur pipa gas juga sangat beragam. Saya kebetulan pada awalnya ditugaskan di Kabupaten Way Kanan. Masyarakat pemilik tanah sebagian besar adalah pendatang dari Jawa yang mengikuti program transmigrasi di Kabupaten Way Kanan. Kondisi tanah di sana yang kurang subur dan lebih cocok untuk ditanami singkong dan pohon perkebunan seperti kelapa sawit atau karet, tetapi karena untuk menanam pohon perkebunan membutuhkan biaya yang tinggi dan mereka tidak memiliki modal maka sebagian lahan tidak digarap sehingga ditumbuhi alangalang. Sebagian besar petani lebih memilih bekerja sebagai buruh di perkebunan tebu PTPN VII Bunga Mayang. Masyarakat yang kita tawari untuk menjadi helper menyambutnya dengan begitu riang gembira. Sebuah pelajaran hidup tentang pemaknaan rasa syukur, betapa sesungguhnya kita para insan PGN jauh lebih
beruntung dibandingkan mereka setidaknya dari sisi materi. Musyawarah harga adalah salah satu tahapan pembebasan tanah yang begitu kompleks dan memusingkan kepala. Seringkali musyawarah harga berujung dengan dead lock alias tidak ditemukan kesepakatan harga dengan pemilik tanah. Akhirnya kami harus bergerilya siang dan malam mendekati masyarakat, tokoh masyarakat, aparat desa untuk memberikan penjelasan ulang pentingnya proyek ini dan supaya mereka bersedia menerima harga tanah yang sudah ditentukan. Keberadaan para spekulan tanah dan provokator yang memanas-manasi masyarakat semakin membuat permasalahan menjadi semakin kompleks. Belum lagi ada tanah-tanah yang dalam status sengketa membuat proses pembebasan tanah menjadi sedemikian rumit. Kerjasama tim tanah yang solid, rasa tanggungjawab serta jalinan hubungan yang baik dengan pihak birokrat/Panitia Pengadaan Tanah kabupaten/kota dan berbagai dinas instansi terkait seperti kepolisian dan pengadilan sangat membantu pelaksanaan pembebasan tanah. Selain itu beruntung tim tanah memiliki Ketua Tim Pembebasan Tanah (Bapak Drs. Suranta, MM), sosok ketua tim tanah yang disegani kawan maupun lawan, memiliki karakter, sikap yang tegas dan berani mengambil risiko sehingga berbagai kondisi yang rumit tersebut satu persatu bisa diuraikan dan diperoleh jalan keluarnya. Beruntung saya bisa bekerjasama dengan beliau. Tak terasa tepat tanggal 07 Juni 2011 nanti tepat 7 (tujuh) tahun saya berbakti untuk PGN. Pekerjaan saya secara pribadi maupun atas nama tim mungkin tidaklah sempurna dan sampai saat ini masih menyisakan PR yang harus dikerjakan. Tapi sungguh jauh di lubuk hati, saya merasa gembira ketika di tahun 2007 akhirnya gas bumi dari Sumatera
berita gas 14
Selatan untuk pertama kalinya bisa dialirkan ke Pulau Jawa. Bukan semata karena ada tetes keringat saya yang pernah menetes di lahan yang dilalui jalur pipa gas itu, tapi karena dengan adanya jalur pipa gas SSWJ ini akhirnya menjadi salah satu faktor PGN tumbuh menjadi sebuah perusahaan transmisi dan distribusi gas bumi yang disegani. Lebih jauh lagi akhirnya banyak pabrik, perusahaan, PLN di Pulau Jawa yang sangat terbantu. Sesungguhnya PGN dan segenap orang di dalamnya telah turut serta membangun bangsa dan negara ini dengan karya nyata. Harus dengan jujur saya tuliskan di sini, begitu banyak berkah setelah saya bergabung di PGN bagi kehidupan saya pribadi maupun keluarga. Baik secara materi maupun dalam membentuk karakter diri dan pengalaman kerja serta dalam memandang hidup dan kehidupan. Di saat proses pembebasan tanah inilah, di tahun 2006 saya bertemu dengan seorang wanita yang sedang menyelesaikan tugas akhir di Universitas Lampung (UNILA). Di tanggal 31 September 2006 akhirnya kami menikah dan kini telah dikaruniai 2 orang anak perempuan yang cantik dan lucu. Di saat bersama Tim Tanah saya menemukan cinta seorang wanita dan jauh di lubuk hati ini perlahan tetapi pasti bersama dengan berbagai beban, permasalahan, tanggungjawab dan tantangan tumbuh rasa cinta yang semakin membesar pada: pekerjaan ini, pada Tim Tanah dan pada PGN sebagai sebuah perusahaan. Entah sampai kapan saya bersama dengan Tim Tanah PGN, tapi sampai kapanpun dan dimanapun saya berada saya doakan semoga PGN semakin maju dan berkembang. Tumbuh menjadi perusahaan transmisi dan distribusi yang berkelas dunia. Semoga seluruh rekan-rekan di Tim Tanah khususnya dan seluruh karyawan PGN senantiasa ada dalam lindungan Tuhan Yang Maha Kuasa. Amiiin. „
Finalis Lomba Karya Tulis DJOKO SURIPTO
Saya, PGN, dan Kehidupan Tak pernah terbayangkan bahwa saya bisa berada di dalam satu Perusahaan dengan laba sebesar Rp. 6,239 triliyun lebih pada tahun 2010.
P
erusahaan yang saat ini mulai akrab dipanggil dengan sebutan PGN (sampai beberapa waktu lalu perusahaan masih sering dipanggil dengan nama Gas Negara atau PGN atau Perum Gas) dan dengan inisial PGAS di BEJ ini memiliki karakteristis finansial
yang memukau siapapun, maka predikat Saham Bluechip adalah suatu hal yang memang seharusnya disandang oleh perusahaan ini. Karakteristik lainnya adalah jumlah pegawai yang ramping dengan kualitas profesionalisme yang tinggi serta struktur organisasi yang excellent dan mampu mengakomodasi perkembangan kebutuhan pasar/pelanggan, Security of Supply, Security of Revenue serta bisnis proses lainnya. Selain karakteristis diatas, budaya Procise (Professionalism, Continuous Improvement, Integrity, Safety, Excellent Service) telah menjadi spirit bagi insan PGN pada setiap aktifitasnya, disamping penerapan HSE secara konsisten dan berkesinambungan. “Saya turut berkontribusi terhadap pertumbuhan dan perkembangan PGN”, itulah ungkapan optimisme dan kebanggaan saya terhadap PGN yang telah memberi warna dalam kehidupan saya selama 23 tahun mengabdi. Kalimat itu selalu terpatri dalam hati saya
berita gas 15
Finalis Lomba Karya Tulis DJOKO SURIPTO
yang paling dalam dan akan muncul dalam bentuk ungkapan kebanggaan “Saya pegawai PGN” atau “Saya bekerja di PGN“ pada saat saya berkenalan dengan mitra atau rekan bisnis atau siapapun, dan selanjutnya dengan segala kebanggaan saya terhadap PGN, biasanya saya selalu meneruskannya dengan penjelasan secara detail seluk beluk PGN, mulai dari gas bumi itu apa?, bidang kegiatannya apa?, daerah operasinya dimana saja?, sistem berbasis TIK yang dimiliki apa saja?, kesejahteraan pegawainya bagaimana?, financial conditionnya seperti apa?, CSRnya apa saja?, pokoknya Nascisme Corporat mengalir deras dari mulut saya. Uniknya hal ini juga selalu terjadi dalam lingkungan keluarga besar saya, terutama saat mudik di rumah mertua di Nganjuk setiap tahun, dimana seluruh keluarga istri saya dari penjuru Indonesia berkumpul disana, maka topik Nascisme Corporat akan selalu mewarnai suasana Lebaran. Subhanallah..... sebuah karunia kehidupan buat saya dan keluarga saya yang secara sistemik dirancang oleh sang Khalik, Amin. Kalau dirunut 23 tahun kebelakang sampai sekarang, banyak cerita yang mungkin menarik untuk saya share kepada siapapun, mulai dari “pelecehan” saya terhadap PGN, “pengkhianatan” saya terhadap PGN, “cinta kasih PGN” terhadap saya (yang mungkin tidak dialami oleh pegawai lainnya kecuali saya sendiri), juga kondisi dimana saya harus menjadi “Sales produk IT” kepada sesama pegawai PGN dari satuan kerja lain. Tahun 1987 saat saya diminta mengirimkan lamaran kerja oleh teman saya (sebelumnya saya memang berpesan kalau ada lowongan agar diberitahu), “Jok, buruan elu kirim lamaran ke Perum Gas tuh.... ada lowongan buat pendidikan SMA+komputer, sebentar lagi tutup”
kata teman saya memenuhi janjinya untuk menginfokan lowongan. Dua minggu saya mencari info tentang Perum Gas sebelum saya mengajukan lamaran karena memang saya tidak tahu sama sekali apa itu Perum Gas. Begitu tahu Perum Gas itu adalah perusahaan negara alias pegawai negeri alias gajinya kecil alias statusnya gak keren, saya maju mundur untuk mengajukan lamaran sampai-sampai teman saya marah. Akhirnya saya mengirim lamaran untuk menyenangkan teman saya, itulah bentuk “pelecehan” saya terhadap PGN tahun 1987 alias Perum Gas Negara. Selanjutnya saya ikut proses seleksi dan diterima sebagai pegawai harian setingkat SLTA+komputer tanggal 1 Nopember 1987 dan
berita gas 16
ditempatkan di Sub Direktorat Kepegawaian, tiga bulan kemudian tepatnya tanggal 1 Pebruari 1988 saya diangkat menjadi calon pegawai dan diangkat sebagai pegawai tetap setahun kemudian. Inilah deskripsi kebijakan personalia Perum Gas Negara saat itu. Tahun 1990, atas desakan teman-teman dan atasan, saya mengikuti ujian penyesuaian ijazah Diploma III dan saya dinyatakan lulus. Penyesuaian ini memberikan benefit buat saya berupa “penghematan waktu pencapaian karier + 4 tahun” karena saya melompat satu ruang kepangkatan. Inilah bentuk “cinta kasih PGN” kepada saya melalui kebijaksanaan Kepala Sub Direktorat Kepegawaian saat itu.
Ditahun yang sama , berbekal ijazah Diploma III saya melamar di satu holding perusahaan nasional, yaitu Bimantara Citra dan diterima, setelah melalui diskusi aktif dengan teman-teman satu ruangan dan dengan alasan utama saya waktu itu ingin bekerja di bidang komputer sesuai ijazah saya, maka akhirnya saya memutuskan untuk hengkang ke Bimantara Citra dan Perum Gas saya “tinggalkan” dengan cuti 2 minggu, berkas-berkas pribadi saya bersihkan dari meja kerja, inilah bentuk “pengkhianatan saya” terhadap Perum Gas, namun Tuhan berkehendak lain, 2 minggu saya bekerja di sana tetapi hati saya terasa masih di Perum Gas, selain itu kondisi kerja di swasta jauh lebih berat
daripada kondisi kerja di Perum Gas pada saat itu terutama dalam hal waktu (di Bimantara Citra pukul 19:00 saya masih di kantor, sementara di Perum Gas saat itu jam kerja sampai pukul 14:00), kondisi ini sangat tidak kondusif terhadap program penyelesaian kuliah saya. Akhirnya berdasarkan pertimbangan itu saya back to Perum Gas. Di kantor, kejadian ini hanya diketahui oleh 4 orang saja, 3 teman seruangan dan calon istri saya di bagian lain. Ketiga teman saya bingung atas sikap saya kecuali calon istri saya yang sebelumnya sudah saya ajak diskusi atas keputusan saya. Tahun 1991 Tuhan mengabulkan keinginan saya untuk bekerja di bidang komputer tanpa harus pindah kantor, saya bersama beberapa teman dipindah ke satuan kerja Pusat Pelayanan Informasi sebagai pengelola TI saat itu. Tahun 1993, saya kembali mengikuti ujian penyesuaian Strata Satu dan saya dinyatakan lulus. Inilah kembali bentuk “cinta kasih PGN” kepada saya melalui kebijaksanaan Kepala Pusat Pelayanan Informasi saat itu. Karena “cinta kasih PGN” kepada saya menjadikan saya adalah satu-satunya pegawai yang mendapat kesempatan penyesuaian ijazah sampai dua kali, sesuatu hal yang sangat sulit untuk kondisi saat ini. Selama 20 tahun sejak tahun 1991 saya berkarya di PGN, perjalanan karier saya melalui promosi, mutasi, rotasi dari satuan kerja bernama Sub Direktorat Kepegawaian, Pusat Pelayanan Informasi (PPI), kemudian ke Divisi Perencanaan dan Informasi, kemudian ke Pusat Kajian Pengusahaan dan Informasi (Puskapin), kemudian ke Divisi Informasi dan Humas (INMAS) dan kemudian Divisi Sistem dan Teknologi Informasi (SISTI) dan terakhir Divisi Teknologi Informasi dan Komunikasi
berita gas 17
(DTIK), tetapi buat saya pribadi, saya merasa hanya ganti “casing” saja karena bidang pekerjaannya tetap yaitu bidang TI. Kondisi ini mengukuhkan teori konsultan SDM yang membantu PGN yaitu struktur organisasi TI itu spesifik dan pengisian pegawai/pejabatnya dengan rumus “ kalau sudah masuk ke dalam (TI) , sulit untuk keluar dan orang luar (non IT) sulit masuk”. Benefitnya buat saya, saya adalah satu dari segelintir pejabat PGN yang bisa menduduki jabatan selevel Kepala Divisi tanpa harus merasakan “nikmat dan susahnya” sebagai pejabat di daerah operasi PGN. Bidang TIK adalah medan pengabdian saya di PGN, dimana saya harus selalu berkoordinasi dengan pejabat/staf dari satuan kerja lain dalam rangka penyusunan dan implementasi aplikasi berbasis TI serta mengintegrasikannya secara korporat. Banyak kendala yang akrab menemani saya dalam menyelesaikan tugas implementasi aplikasi TI, dari terbatasnya sumberdaya TI, sistem manual yang tidak tersedia atau kurang memadai, pejabat/staf terkait yang resisten terhadap aplikasi TI, sampai adanya perasaan “kondisi kerja yang nyaman tanpa masalah” dari calon User (pengguna aplikasi) padahal kondisi kerjanya masih manual dan sudah tidak relevan lagi. Kadang-kadang saya dan temanteman harus menerapkan jurus “Sales produk IT” kepada sesama pegawai PGN dari satuan kerja lain dengan cara menawarkan aplikasi TI, mengentry data mereka, membuat laporan yang mereka butuhkan, jurus ini kami jalankan sampai calon User benar-benar yakin bahwa aplikasi TI yang kita tawarkan akan membantu cara kerja mereka. Itulah cerita singkat saya yang mengantarkan saya pada suatu muara perenungan “sebuah pengabdian tanpa henti sampai PGN tidak membutuhkan saya lagi. “You are always in my heart when never you wish”.
san n I n N a t e pr Je oto P G F
Sang Penari
by Yoga Trihono (Div . Operasi) Canon EOS 7D
Focal Length Speed F/number ISO
!
sh!! a pl S ian iD Tom 80 y b D on gth Nik al Len Foc ed Spe mber u F/n ISO
: 128 mm : 1/80 s :2 : 800
SJ)
UT
SB ra (
t
Pu
m 0m s : 17 600 1 : 1/ 6 : 5. 0 : 40
berita gas 18
Bia
ngla
la
by (D Ros i a Ol t. Pe Pe ng rm Fo ym Sp cal L pus em ata F/n eed eng EP ban Sar th ga i 1 ISO um n) be :2 r :2 8m :4 s m :1 00 0
er
ph a r g oto
Ph
ion
ct A in )
SJ
UT
SB o(
ety ras D r P 450 mm a 4 h OS : 2 1/25 s Ma : .8 by on E gth n Len : 2 600 a C cal :1 Fo eed er Sp umb F/n ISO
Fun Sm ile
m : 18 m s 40 : 1/6 : 3.5 : 100
ga ndun Parli okoh 00D OS 5 on E
by K
Can Length l Foca d Spee ber F/num ISO
. Ope n (Div rasi)
berita gas 19
Ke s
ana…
san n I n N a t e pr Je oto P G F
by H Nik anafi Pra Foc on D bo a Sp l Le 90 wo n e
F/n ed ISO umbe r
gth
U :M : 1/ anual : - 180 s Fish E ye : 20 0
Terbang by Ihdina Adli (SBU TSJ) Canon EOS 550D Focal Length Speed F/number ISO
berita gas 20
: 47 mm : 1/200 s : 5.6 : 100
!!
(SB
1)
na re a angorKnado g e T T
)
SL
J v. T (Di olis 0D h 0 rc Nu OS 5 50 mm 2 E us ag non gth : 00 s b 1 u n a T C al Le d : 1/ : 10 by r Foc Spee mbe 0 0 u F/n SO: 1 I
by Ery Wahyuni (Div. Riset dan Pengembangan Teknologi) Nikon D5000
Ae
Focal Length Speed F/number ISO
: 105 mm : 1/1250 s :5 : 200
robi
Fotografer Kusut
c
by Furqanul Fikri (Div. Operasi) Canon EOS 500D Focal Length Speed F/number ISO
berita gas 21
: 200 mm : 1/250 s : 7.1 : 100
san n I n N a t e pr Je oto P G F
Bakiak Drag Race
by Sony Achmad (SBU TSJ) Nikon D90 Focal Length Speed F/number ISO
: 50 mm : 1/250 s : 1.8 : 1600
Sn danaM g Fo odeltografer
by Y Nik osv
ian Fo on dri c Sp al Le D70 (PD JB F/n eed ngth 0 ) ISO umb :1 er 70 :1 m m / : 2 1000 . s :4 8 00
berita gas 22
Chee
by M Nik . Ha
rful I
nstru
rdi Fo on an c Sp al Le D90 sya e h( F/n ed ngth PP ISO umbe JP :2 00 r GB :1 ) /64 mm :2 0 s . :1 8 00
ctor
is
re Th u t c i P
SJ) UT SB B( N am 00 8 mm Ad 0 : 2 00 s by D7 1 : 1/ on ength k i 8 N al L : 2. 0 Foc ed Spe mber u F/n ISO
0
: 32
berita gas 23
MTh edaels by S BU 2 on E
Can
Foca
l Len OS 50 Spee gth : 25 0D 0 mm d F/nu : 1/100 s mbe r : 10 ISO : 100
PETA TOL Merak - Cikampek - Cileunyi Dalam Kota dan Jagorawi
PETA MUDIK LEBARAN 2011