Portfolio -mumtazfarohi

Page 1

Muhammad Mumtaz Farohi

CV+Portfolio

S e r u nt a i

“Padamu, aku merupa aku”


Upaya pencarian ....................


Arsitektur bukan sesuatu yang dapat berdiri sendiri. Arsitektur merupakan produk budaya yang wujudnya dikenali sebagai jejak peradaban. Sebagai produk, arsitektur memiliki sesuatu yang mengawalinya sebelum memiliki wujud yang terlihat dan digunakan sesuai dengan maksud keberadaannya. Sebagaimana produk-produk budaya lain, subjek utama yang memainkan peran vital adalah manusia, dan penyebab utama yang membuat manusia melalukan sesuatu adalah alam dan kekuatan sesuai tempatnya berada. Kemampuan manusia tidak mudah diukur secara tuntas, sedangkan kekuatan alam tidak dapat diukur kualitasnya secara penuh. Manusia menyadari hal ini, dan kesadarannya berkembang menjadi suatu pemikiran umum bahwa di alam merupakan suatu kosmos, suatu jagad mahabesar di mana dirinya merupakan titik kecil yang berada di dalam ruang mahaluas yang kenyataan di dalamnya jauh dari pikirannya, bahkan jauh dari apa yang bisa dipikirkannya. Segala gejala yang menunjukkan kemampuan dan kekuatan alam terindera melalui jejak-jejak rentetan fenomena. Namun, gejala ini sering tertutupi oleh gejolak kehidupan sehari-hari. Penginderaan diperlukan untuk memunculkan pertanyaan yang mengawali pemahaman tentang gejala dan gejolak tersebut. Tetapi, pemahaman bukan sesuatu yang diperoleh dengan mudah. Untuk memahami, diperlukan pengkajian teks sebagai fenomena yang terjadi sekarang dan konteks sebagai uraian yang berhubungan dengan fenomena tersebut secara mendasar dan menyeluruh. Proses ini, bila mengikuti Hegel dalam ungkapannya, “listen to the forest that grows rather than the tree that falls�, adalah proses “mendengar� suara mahaluas, suara yang muncul dari balik bayangan. Seringkali proses ini menimbulkan gejolak batin dan emosi yang menjadi penyebab berlangsungnya refleksi diri untuk mengurai gugatan-gugatan batin menjadi kesadaran dan pemahaman baru yang semakin kaya, luas, dan kompleks. Proses penginderaan, pengkajian, dan pemahaman fenomena tidak pernah berhenti pada satu titik sebab proses ini selalu bermula dari pertanyaan-pertanyaan yang terus muncul sehingga upaya mendapatkan jawabannya pun merupakan proses pencarian panjang dan berliku. Dan arsitektur merupakan bagian darinya. Karya-karya pada portofolio ini adalah jejak dari proses pencarian yang sampai saat ini terus berlangsung. Meski belum tuntas, jejaknya menandakan upaya pembelajaran dan eksplorasi sebagai suatu yang harus terus dikembangkan.


Curriculum

Vitae

“Look at me, a word meaning vague and confusing, sometimes meaningless, sometimes means many things -Gibran” I am someone who likes architecture and design because these two objects can be said to be the world’s red thread of reality and the ideal world. I like the reality of the intermediate space that fills the gap with Being, as it is a poem whose verses are laid down by humans. My personality, like life itself, flows and flows in rhythm, is guided by intuition, and is guarded by common sense. I have a value that I hold fast to, dedication to be honest in every sweat, in every dark and light.

Interest and Hobbies Architecture&Design Reading Literature Discuss Philosophy Crafting Surealism Art Travelling Culture

Muhammad Mumtaz Farohi, B.Arch

Bachelor of Architecture. Sebelas Maret University Yudicium 13th December 2018, Graduation 23th February 2019. GPA 3.70 and completed in 4 years 5 months

Jakarta, 22 Juli 1995 +6285728154288 mumtazfarohi@gmail.com Jl. DI Panjaitan Gg. Remaja II Jatinegara, Jakarta Timur

Skill

Software AutoCAD 2D SketchUp Adobe Photoshop Adobe Illustrator Adobe InDesign Adobe Lightroom Export Rendering CorelDraw Ms. Office (basic) Craft&Art Art Installation Small modelling Sketch Writing Personality Open Minded Hard Work Creativity Organization Team Work Communication Curriculum Vitae Background

i


Works

Education Architecture. Sebelas Maret University MA. Persatuan Islam Matraman MTs. Persatuan Islam Matraman MI. Al-Falah Klender MI. An-Najihah Babussalam, Madiun SDN. 01 Pagi Cipinang

2014-2018 2010-2013 2007-2010 2005-2007 2003-2005 2001-2003

Professional Experience Freelance

Eko Prawoto - Architecture Workshop

Internship Student

Eko Prawoto - Architecture Workshop

Associate Architect

Pokdarwis Kreung Raya, Sabang

Januari 2019 Juni-Sept 2018 Jan-Feb 2018

Organization and EO Experience TeMA

2014-2018

Lentera Sabang

2017-2018

Archevent 2017

2016-2017

Rembug Panggon

2016-2017

Archevent 2016

2015-2016

Bamboo Biennale 2016

2015-2016

Archevent 2015

2015-2016

Archday 2015

2015-2016

HMA Vastu Vidya

2015-2016

HMA Vastu Vidya

2014

Department of Architecture UNS KKN Mandiri UNS 2018 Chief of Event Division Department of Architecture UNS Chief of Competition Division Construction and Preservation Team Member of Event Division Chief of Internal Competition Member of Ilmiah dan Daya Nalar Intern of Informasi dan Pers

Workshop Bamboo Biennale 2016

2016

Membaca Kampung

2016

Software Training

2015

Tawangmangu, Karanganyar Arkom Jogja ft. URDC Labo Ruang Rapat Studio

Misc. Scientific Publication

2019

Lecturer Assistant

2018

Seminar Speaker

2018

Jurnal Senthong

Site Planning andPreparation Courses

ICAIOS, Banda Aceh

College Art Garden of Surakarta

2018

Uangkringan Cafe

2017

Kulah Pohon. Informal School

2017

The Fraktal. Mixpurpose

2017

Anding Samudro. Resort

2016

Cedhak Keraton. Hotel

2015

Tugas Akhir

Ars. Jawa Kontemporer Studio PA 6 Studio PA 5 Studio PA 4 Studio PA 3

Competition IoS, Ios.

2018

Soloispace

2017

Masjid Al-Masjid

2017

Masjid Al-Mahmudah

2017

Rumah Remah Ruah

2017

Rutan Bambu

2016

120 Hours. Participant Afair UI. Participant Miniatur Undip. Participant Dria Manunggal. Honourable mention Rumah Intaran. Participant BambooBiennale 2016. Participant

Collaborative Project Beautiful Mess

2017

Arupa Anonim

2017

Rong-Rong

2016

Anemuka

2016

Panggung Tirta Amerta

2016

Gapura Panuntun

2015

Kotak Anyar

2015

Panggung Transformasi

2015

Bamboo Installation Paper Installation Bamboo Biennale Bamboo Biennale Bamboo Installation ICCN Solo

Iron Installation Bamboo Installation

Mini modelling Project

6 maquette Final Project 12 maquette Final Project 5 maquette Final Project 4 maquette Project

2018 2017 2016 2016-2017 Curriculum Vitae Activity

ii


Now see the invisible. If you could leave your selfishness, you would see; how you’ve been torturing you soul We are born and live inside black water in well. How could we know what an open field of sunlight is ? Don’t insist on going where you think you want to go. Ask the way to the spring. Your living pieces will form a harmony. Rumi



Portfolio

2 0 1 4 - 2 0 1 9


9

Content Selected Works

#1 Perkuliahan Taman Seni Surakarta Uangkringan Cafe Kulah Pohon - Sekolah Informal Resort Anding Samudero

......5 ....13 ....15 ....19

#2 Intern - Freelance Revitalisasi Padepokan Bagong Panggung Jatiluwih Renovasi Stasiun Wojo

....25 ....27 ....29

#3 Sayembara Oase Ios, Ios. Masjid Al-Masjid Redesain Masjid Al-Mahmudah

....33 ....35 ....37 ....39

#4 Instalasi Beautiful Mess Arupa Anonim Anemuka Panggung Tirta Amerta Gapura Panuntun

....43 ....45 ....47 ....49 ....51

Maket Tugas Akhir

....57

Misc. #5 Small Modelling

#6 Grafis Sketsa Poster Photography

....61 ....63 ....65

Architecture Portfolio Content

2


Menyelami

Kampus

kampus menjadi tempat saya melakukan sesuatu hingga menjadi Saya, seperti yang dikatakan Zumthor, “I like idea of doing something for myself, just for me, for one person. There’s me on my own, of course, and me as part of a group.”


#1 Bagi saya kampus merupakan sebuah taman. Sebuah tempat yang ruang aktivitas tidak dibatasi oleh fungsi dan program-program ruang yang baku. Adakala, aktivitasnya bergerak secara dinamis dan penuh semangat dan gairah mahasiswa untuk terus berkarya. Namun, adakalanya pula kampus menjadi suatu tempat sepi. Ialah kala ruang-ruangnya hanya terisi oleh detak jam dinding yang berdebu. Di kala itu, kampus, bagi saya, menjadi ruang kontemplasi. Ruang yang sudut-sudutnya tak lagi terjangkau, sebab kebanyakan yang datang hanya melihat pada kilasan waktu yang singkat, tanpa menyadari bahwa terdapat jejak dan jabat emosi, riuh kadang sendu, terpaku pada memori. Di kampus, kesadaran saya akan jejak mulai muncul. Sampai saat ini, jejak-jejak inilah yang selalu saya coba untuk memahaminya. Tidak hanya pada kehidupan kampus, namun pada keseharian yang begitu luas cangkupannya. Pemahaman membutuhkan upaya yang memakan waktu seumur hidup. Upaya yang selalu terikat pada teks dan konteks. Upaya yang menuntun untuk terus berefleksi dan berdikusi. Upaya pencarian sesuatu yang tak pernah selesai, sesuatu yang tak akan pernah terpuaskan. Dengan demikian, kampus menjadi tempat saya melakukan sesuatu hingga menjadi Saya, seperti yang dikatakan Zumthor, “I like idea of doing something for myself, just for me, for one person. There’s me on my own, of course, and me as part of a group.� Karya yang tersaji janganlah dilihat sebagai hasil dari apa yang saya dapatkan di kampus, melainkan jejak proses pencarian dan pembentukan diri dari apa yang saya pelajari di kampus. Proses yang diperoleh dari berbagai metode dan pendekatan berbeda untuk setiap bagiannya sebagai bagian dari upaya pencarian diri. Proses belajar, proses memahami. Sesuatu yang saya sadari sebagai inti kehidupan, sesuatu yang bisa dimulai dan tak akan bisa diakhiri.


Tugas Akhir

Taman Seni Surakarta dengan Pendekatan Fenomenologi

Konteks : Art, ruang publik Lokasi : Karanganyar, Jawa Tengah Luas : 6,7 ha Waktu : 2 bulan Grade : A Pembimbing Dr. Hardiyati dan Dr. Titis Pitana Architecture Portfolio Tugas Akhir

5


Taman Seni Surakarta dengan Pendekatan Fenomenologi adalah suatu konsep perencanaan dan perancangan taman kontemporer untuk diterapkan dalam ide desain. Taman seni ini merupakan tempat yang dapat menggugah memori kolektif untuk muncul dan menempatkan dirinya pada kesadaran manusia, memberikan pengaruh melalui “rasa penuh” yang dihadirkan pada taman sebagai jiwanya. Rasa penuh ini didapatkan dari pola hubungan interaksi manusia dengan taman secara inderawiah dan ruhiyah melalui hubungan langsung, “ada” dan “hadir di sana”. Memori dan rasa yang dihadirkan membuat taman menjadi seni itu sendiri. Dengan kata lain, Taman Seni pada konsep perencanaan dan perancangan ini tidak diarahkan pada taman yang digunakan untuk kegiatan seni, melainkan taman itu sendirilah yang menjadi seni. Penghadiran taman sebagai seni akan memberikan pengaruh seni padanya. Pengaruh yang dimaksud adalah keterpasrahan diri ke dalam rasa larut dan lebur yang dialami oleh manusia saat dirinya melibatkan dan memproyeksikan perasaan dirinya ke dalam benda seni dan dapat mengkomunikasikan keterpasrahan tersebut ke dalam bahasa. Untuk menghadirkan semua ini, fenomenologi digunakan sebagai pendekatan konsep perencanaan dan perancangan sebab fenomenologi dapat menuntun pada moment of clarity sebagai sebuah pembangkit ingatan yang berlangsung singkat dan cepat untuk kemudian ditempatkan dalam “gambaran” yang tepat. Gambaran tepat mengacu pada citra manusia yang tidak hanya dimiliki oleh dirinya, melainkan terikat dengan sejarah panjang wujud manusia itu sendiri dan budayanya yang mengandung arketipe unsur-unsur alam tempat manusia bereksistensi. Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa Taman Seni dengan pendekatan fenomenologi adalah taman sebagai karya seni yang menghadirkan memori dan rasa diri yang sesuai dengan ruang “di sini”, “sekarang”, dan “saat ini” tanpa mengesampingkan identitas jati dirinya.

Lokasi

Kriteria lokasi tapak memiliki nilai puitis dari kandung filosofis dan historis yang potensial untuk menjalin komunikasi terdalam manusia dengan tapak. Nilai putik diterima melalui interaksi langsung dengan keempat unsur alam: nampak maupun terjejak

Eksisting

Eksisting tapak memiliki potensi yang tidak berdiri sendiri, melainkan saling ditopang oleh sekelilingnya. Topangan membuat setiap potensi mendapatkan karakter dan menjadi collection taman. Karakter eksisting menghasilkan pola unik dengan kejutan di jalurnya sehingga menghasilkan sekuensi dan enklosur yang menjadi titik anjak setting taman

Architecture Portfolio Tugas Akhir

6


Architecture Portfolio Tugas Akhir

7


Rutinitas sehari-hari membuat masyarakat mengalami tingkat stress tinggi yang diakibatkan oleh faktor ekonomi maupun populasi. Dua hal tersebut menjadi patologi dan berdampak pada keberadaan ruang-ruang kosong yang dapat digunakan oleh masyarakat untuk menghadirkan memori kolektif sebagai ikatan moralitas bersama yang mempengaruhi kesadaran reflektif manusia sebagai makhluk yang memiliki kualitas fisik dan metafisik. Taman menjadi dimensi ruang bersama untuk membangkitkan interaksi dan memori kolektif yang berperan sebagai penguat pijakan dan pemahaman tentang diri dan kebudayaan, Narasi spasial taman disusun dengan menggali citra arketipal dari bahasa ibu yang bernafaskan kearifan lokal untuk membuat taman yang dapat memainkan peran pada diskurus arsitektur universal. Fenomenologi digunakan sebagai pendekatan untuk menghasilkan atmosfer kuat melalui persepsi dan intuisi terhadap ikatan memori yang berlaku. Pendekatan fenomenologi dimaksudkan pula untuk merefleksikan aktivitas yang tepat dari kecenderungan universal-kontekstual sehingga pengguna mendapatkan persepsi dan intuisi awal: puisi keberlangsungan komunikasi terdalam antara manusia dengan lingkungan sekitar.

Architecture Portfolio Tugas Akhir

8


Siteplan Setting Taman

Pilgrimage Taman

Memberikan jalan cerita, memetaforakan taman menjadi literatur, memposisikan garis besar hubungan antara awal dan akhir pada zona dan jalurnya

Memberikan alur untuk menghubungkan jalan cerita dan suasana taman, menganalisis pergerakan dan pertemuan manusia di jalan dan ekspresi sikap yang muncul

Fungsi

Sudut pandang Pertemuan

Sirkulasi

Koreografi

Gerakan manusia

Perpisahan

Pematang

Makna

Arketipe

Belantara

Jalur taman memiliki fungsi sebagai sirkulasi dan sudut pandang bentangan koreografi taman. Koreografi tidak hanya berasal dari wujud collection taman, tetapi juga berasal dari pergerakan aliran manusia yang saling bertemu. Untuk memberikan gambaran pertemuan tersebut, jalur taman dibuat seminim mungkin dengan persimpangan yang mempertemukan pergerakan dari arah lain. Gambaran utuh yang diharapkan sebagai arketipe jalur adalah pematang sawah, jalan kecil di pedesaan, dan jalan menembus kanopi lebat dedaunan di belantara

Setting taman berangkat dari eksisting dan suasana tapak. Suasana dibagi menjadi tiga bagian: olahan, alam, dan t r a n s i s i

Jalur Taman

Pada bagian taman, dihadirkan “tempat� yang memiliki kandungan makna menurut suluk dan arketipe kehidupan. Titik awal, perjalanan, kesadaran, pilihan, keputusan, dan titik akhir

“Tempat� dihubungkan dengan kerimbaan yang lebih besar dan diberi petunjuk alur untuk sampai kepada landmark taman yang samar dan mengandung simbol keutuhan yang tidak d i t o n j o l k a n

Tempat diisi oleh area yang berisi ruang-ruang yang dibatasi oleh sekuensi dan enklosur dari permainan proporsi, hirarki, dan intimasi

Ruang-ruang dibentuk menurut atmosfer, dan sebagian besar fungsi ruang tidak diikat oleh program ruang khusus sehingga ruang dapat digunakan secara bebas sesuai kemungkinannya

Secara garis besar, terdapat dua jenis jalur: jalur pejalan dan jalur peroda. Khusus jalur pejalan, sebagian besar jalur tidak diolah pada desain, namun direncanakan untuk mengikuti jejak perpindahan manusia lalu meruanginya dengan perdu atau batuan

Architecture Portfolio Tugas Akhir

9


Karakter Bangunan Aktivitas pengguna dan Ruang Menghadirkan ruang yang memiliki karakter atmosferik melalui aspek-aspek fenomenologi, yaitu perwujudan fisik dari konsepsi kualitas abstrak yang dikandung oleh ruang, media kualitas kongkret yang menghubungkan abstraksi dengan dunia nyata, serta menunjukkan garis besar peletakan ruang berdasarkan analisis konsep perencanaan dan perancangan taman

Keintiman dan proporsi Menganalisis material pembentuk dan dimensi vertikal untuk memberikan proporsi tepat bagi tingkat keintiman yang ingin didapatkan Tingkat keintiman taman diperoleh melalui teori dasar le modulor yang disesuaikan kembali menurut ketinggian kontur dan bidang di sekitarnya. Proporsi yang digunakan untuk menghadirkan tingkat keintiman tertentu adalah proporsi bidang geometris dan proporsi dari unsur alam di sekitar. Proporsi geometris dimaksudkan untuk mengikat kesan sakral, sedangkan proporsi unsur alam diterapkan untuk memberikan nuansa cair dan dinamis

Ruang taman dirancang melalui tanggapan terhadap kekosongan dan aliran unsur alam pada tapak. Penghadiran ruang taman dilakukan melalui peletakan batas yang dibuat stabil pada posisi yang diinginkan. Penghadiran potensi ruang menjadi ruang terikat oleh material yang membawa ruang dari alam ide ke alam nyata secara sensual dan emosional

Architecture Portfolio Tugas Akhir

10


Proses desain tugas akhir diawali oleh interaksi secara langsung dengan tapak. Struktur tapak dilingkupi oleh komponen-komponen fisik yang terindera. Tapak secara makro adalah media tempat makhluk berpijak dan menggemakan eksistensinya. Eksistensi tapak mengawali karakter yang dapat terindera sebagai jejak energi, nafas, dan gelora alam yang melingkupinya. Keseluruhan eksistensi ini menyatu dan terjejak secara fisik menjadi keberadaan yang menghasilkan simbol-simbol sebagai pesan agung kosmos untuk hidup bersama dalam suasana yang seimbang, harmonis, dan damai. Tapak tidak lain merupakan alam tempat arsitektur mencirikan dirinya. Alam merupakan keseluruhan gatra dan situasi, ruang dan waktu, fisik dan metatisik, profane dan transcendental. Dengan kata lain, alam merupakan keutuhan kehidupan menghadirkan ungkapan “mengalami� untuk menunjukkan keseluruhan potensi daya dan upayanya sebagai makhluk untuk menerima keberadaannya di alam itu sendiri. Definisi alam di atas merupakan opini dari ketidakpahaman saya terhadap alam, sebab pemahaman tentang alam sebagaiman alam dipahami sebagai alam harus dialami secara langsung melalui pendekatan reflektif yang sangat mendalam, tidak terikat maupun diikat. Mengalir berteman waktu, sebagaimana alam itu sendiri. Pemikiran tersebutlah yang membuat saya menggunakan fenomenologi sebagai penderakatan tugas akhir. Fenomenologi digunakan pada setiap tahapan desain untuk mendapatkan pesan yang muncul dan mencoba memahaminya sesuai konteks keberadaannya. Hasil tahapan ini berupa proses yang berjalan secara ephemeral. Proses direkam pada kertas menjadi goretan-goretan ide kasar. Sketsa digunakan sebagai langkah awal untuk mencurahkan dan mengeksplorasi ide yang terlintas. Metode ini sangat berguna untuk menangkap curahan ide sebab ide memiliki sifat ephemeral sehingga ide mudah menguap bila tidak dicurahkan. Sketsa ide juga digunakan untuk mengawali perkembangan ide dan merekam makna-makna psikis melalui goresannya yang dinamis. Sketsa ide telah diterapkan untuk menorehkan ide yang terlintas pada konteksnya dalam menanggapi fenomena yang berlangsung. Sketsa ide dilanjutkan dengan pengolahan ruang dalam miniatur atau studi maket. Miniatur digunakan untuk merealisasikan ide 2D menjadi ruang 3D untuk mengetahui skala, proporsi, irama, atmosfer, juga aspek fisik terkait peletakan dan teknis. Maket dapat pula digunakan sebagai alat transformasi desain untuk mengetahui dan merasakan ruang secara langsung dalam skala yang dapat dimainkan secara luwes

Kilasan Proses Desain Architecture Portfolio Tugas Akhir

11


Architecture Portfolio Tugas Akhir

12


uangKRINGAN Cafe Arsitektur Jawa Kontemporer Konteks : F&B, budaya Lokasi : Solo, Jawa Tengah Tahun : 2018 Grade : A Pembimbing Dr. Titis Pitana

Sejatinya budaya berkumpul untuk berbincang-bincang sudah ada di Jawa dengan ekspresi yang khas sebagai perwujudan dari filosofi fungsi rumah Joglo yang tak hanya menjadi ruang dan tempat tinggal tetapi juga tempat berdiam (panapen )dan adaptasi (palungguhan). Variasi fungsi Joglo serupa dengan kafe. Variasi fungsi ini memberikan kesempatan bagi arsitektur Jawa untuk berkembang. Hal ini sangat mungkin sebab Jawa sudah memiliki kecocokan budaya berkumpul sehingga arsitektur jawa dapat bersaing dengan gaya masa kini melalui keluhuran budaya lokal yang telah dikandungnya. Gunungan menandakan keseimbangan unsur alam sebagai perwujudan keteraturan semesta yang terdiri dari empat unsur pokok kehidupan dan angkasa yang menaunginya. Penerapan filosofi segoro-gunung sebagai lambang dualitas wujud yang berlawanan sebagai suatu keseimbangan dan sebagai lambang kesuburan. Filosofi ini diterjemahkan dengan konsep vertikal-horizontal, ibu yang menyokong dan ayah yang menaun-

gi melalui material dan sistem konstruksi. Konsep ini menggambarkan kekuatan dari keseimbangan dan memberi harapan sekaligus rasa percaya bahwa melalui keberlangsungan kafe dapat menjadi media kesuburan rezeki untuk meneruskan kehidupan Solo sebagai pusat budaya Jawa menampakkan hidupan Jawa yang kental, termasuk budaya nongkrong sebagai adaptasi dari Palungguhan yang menjadi esensi dari pendopo. Budaya inilah yang saat ini berkembang secara kontemporer mengikuti budaya diferensial akibat proses akulturasi yang terjadi secara cepat di era informasi seperti saat ini. Konteks ini memunculkan potensi ekonomi yang besar. Terlebih bila digabungkan dengan kekuatan lain, yaitu masa lalu yang dibawa ke masa kini, suasana Jawa sebagai ciri khas yang memberi identitas kuat..

Architecture Portfolio Jawa Kontemporer

13


Konsep

Transformasi Desain

Adaptasi tampak

Transformasi Desain

Adaptasi peruangan

Material Material utama menggunakan material alam kayu yang disusun berdasarkan kaidah tektonik. Kayu dipilih sebab kayu berasal dari pohon yang tumbuh selaras dengan unsur-unsur alam yang diserapnya. Karena itu, pemilihan kayu sebagai material utama akan membuat bangunan menjadi indah dan hidup karena kehidupan. Material alam lain adalah batu dan bata. Batu digunakan sebagai penutup lantai. batu dipilih karena batu masih memungkinkan air untuk menembusnya. Air yang masuk melalui celah-celah batu akan sampai ke tanah. Hal ini dilakukan untuk memberi ruang bagi tanah untuk mencapai keseimbangannya. Selain itu, terdapat material olahan seperti kaca digunakan untuk membatasi ruang gerak tetapi tidak membatasi ruang visual. Baja digunakan untuk menopang kaca. Beton digunakan sebagai elemen pendukung kolam dan pendukung pemasangan baja maupun pergola. Alumunium digunakan sebagai list kaca dan pembatas tangga.

Aksonometri

Denah

Potongan

Architecture Portfolio Jawa Kontemporer

14


kulahPOHON Sekolah informal

Studio Perancangan Asitektur 6 Konteks : Sekolah, masyarakat Lokasi : Bogor, Jawa Barat Tahun : 2018 Grade : A Pembimbing Dr. Eng. Kusumaningdyah

Kulah Pohon merupakan suatu konsep sekolah informal untuk mewadahi proses pendidikan bagi anak yang kurang mampu. Konsep sekolah ini bermula dari refleksi tentang pendidikan untuk terbebas dari stigma strata sosial dan angka sebagai tolak-ukur. Pendidikan sekolah ini fokus pada pengembangan Diri melalui pendekatan cinta, kreativitas, dan kemandirian sebagaimana yang dituangkan Iqbal dalam puisinya. Pendekatan tersebut memiliki pengaruh radikal pada wujud arsitektur, terutama batas ruang dan fungsi kelas. Batas ruang pada sekolah ini tidak terikat pada ukuran, melainkan eksperimental pada akibat dari proses alam dan kegiatan belajar. Imbasnya, orang yang belajar dituntun untuk memiliki rasa yang kuat, juga keberanian untuk bertindak, termasuk mengintervensi struktur dan material pengisi ruang.

“Jumlah anak usia belajar yang putus sekolah di Indonesia relatif tinggi. Data Unicef tahun 2016 menyebutkan bahwa 2,5 juta anak putus sekolah. Penyebab utama kondisi ini adalah faktor kemiskinan yang masih menjadi momok bagi perkembangan daerah. “

Pendekatan Sekilas sinar bernama Diri, adalah kilatan hidup lebih kerdil dari debu! Dengan diminyaki cinta, ia akan lebih tahan lama, lebih bergairah, lebih membara, lebih menyala! Ubahlah debu dalam genggamanmu menjadi gumpalan emas kencana, Bersimpuhlah, pada penjelmaan utama manusia utama! Tetaplah mandap dalam menatap wajah kasihmu, Dan berpasrah diri, agar menggamit sinar ilahi Sir Muhammad Iqbal

Architecture Portfolio Kulah Pohon

15


Tapak berada di kawasan Ciliwung yang memiliki banyak kelokan, kawasan ini banyak digunakan oleh komunitas untuk melakukan kegiatan seperti arungjeram sebab kelokan, debit, dan kualitas airnya yang cukup menunjang.

Pertemuan antara titik fokus dengan beberapa direktrik membentuk rangka ruang yang lebih kaku namun tetap dinamis sehingga dapat digunakan sebagai ruang untuk kegiatan yang lebih formal.

Architecture Portfolio Kulah Pohon

16


Aliran sungai sebagai inspirasi sketsa ide

Maket eksplorasi 1

Transformasi Desain

Maket eksplorasi 2

Zoning

Maket akhir

Architecture Portfolio Kulah Pohon

17


Perspektif Eksterior

Perspektif

Maket Presentasi Architecture Portfolio Kulah Pohon

18


andingSamudero Resort Studio Perancangan Asitektur 6 Konteks : Resort, wisata Lokasi : Gunung kidul, DIY Tahun : 2016 Grade : A Pembimbing Ir. Ana Hardiana

Sepanjang yang tercatat sejarah, peradaban Nusantara berhubungan erat dengan alir dan tanah. Air memberi kehidupan dan tanah memberi penghidupan. Kekuatan yang begitu vital tersebut membuat masyarakat menghubungkannya dengan berbagai mitos yang pada akhirnya memberikan pesona tersendiri. Unsur kebudayaan ini menjadi identitas dan suguhan kehidupan tersendiri yang menyihir banyak orang untuk datang, belajar, dan mengenalnya lebih dekat. Tetapi, pengolahan lingkungan alam belakangan ini terlampau berpusat pada pariwisata sehingga muncul tren perusakan alam yang pada akhirnya merusak tatan masyarakat di sekitarnya. Apakah pembangunan selalu berkaitan dengan keuntungan dan kerusakan alam. Apakah pembangunan selalu merugikan manusia dan mengeksploitasi kebudayaan sehingga yang banyak terjadi adalah ritus-ritus yang sengaja diadakan untuk menunjang pariwisata dan melupakan aspek mistiknya. Keadaan ini telah membuat budaya menjadi sesuatu yang artifisial, tanpa jiwa, tanpa semangat. Bukankah lebih baik bila hal-hal tersebut disintesa sehingga didapatkan jalan tengah yang saling menguntungkan, atau minimal meminimalisir kerugian yang ditimpakan pada lingkungan dan masyarakat.

Site terletak di pantai terjal gunung kidul. Pemilihan tempat didasarkan pada sejarah pantai selatan yang berhubungan erat dengan budaya dan tradisi Jawa yang dirasa perlu diangkat dari mitos menjadi falsafah mistik. Pengangakatan ini akan menjadikannya sebuah pengetahuan yang menarik bagi masyarakat sekitar maupun pendatang. Selain itu dasar utama tersebut, pemilihan lokasi juga didasarkan pada pemandangan serta nuansa yang indah untuk menggugah kehadiran alam pada ruang fisik dan ruang psikis Architecture Portfolio Anding Samudro

19


Konsep penataan massa Massa utama ditata mengikuti motif ukir kerajaan Mataram yang memberikan pengaruh besar pada perkembangan daerah

Motif YK

Zonasi

Transformasi desain

Denah KAMAR TIPE 4 KELUARGA KAMAR TIPE 5

Bentuk awal denah adalah lingkaran yang m e l a m b a n g k a n pencarian.Denah digandakan dan salah satunya diputar 60 derajat berlawanan arah jarum jam. Massa diberi rongga-rongga Arah putar mengadopsi antarlantai untuk diisi tanaman perputaran benda langit demi menurunkan suhu. Jumlah bukaan yang banyak digunakan untuk memberikan ruang angin. Teritis ganda untuk menahan Bangunan utama sinar matahari. Void digunakan untuk mengeluarkan udara panas dari bangunan KAMAR TIPE 3

KAMAR TIPE 2

KAMAR TIPE 1

Motif SK

Cottage Tampilan cottage berasal dari gubahan bentuk denah segi enambelas yang dikali empat. Massa ditutupi oleh atap dengan prinsip megarpayung sehingga bentuk atapnya mengerucut. Bentuk ini menitik beratkan pada pencarian awal dan akhir.

MINIBAR

TOILET

KOLAM AIR HANGAT

RUANG SANTAI

KAMAR SATU KASUR TOILET

Siteplan Architecture Portfolio Anding Samudro

20


Perspektif selasar

Perspektif kamar

Kolam indoor Architecture Portfolio Anding Samudro

21


Gugup jiwa terusik, berteriak membalas bisik. Lelap bertandang, didatangkan selagi sadar meregang. Pada kosong saat mata terpejam, dan diam yang nyata saat memaknai kata, Pada malam nan jauh dari gegap gempita, dan citra yang perlahan membentuk tanda tanya. Kita ada di sana.


I n t e r n

Freelance

&

Eko Prawoto -Architecture Workshop


#2 Pembelajaran ilmu arsitektur merupakan suatu proses yang berlangsung terus-menerus sepanjang pelakunya masih menjalani “kehidupan” arsitektur. Sejatinya, proses berarsitektur merupakan proses menyenangkan: proses yang selalu mensyaratkan pengetahuan baru melalui pengalaman-pengalaman yang sangat terasa – dan selalu berada di sekitar kehidupan, menunggu untuk disadari keberadaannya. Pengalaman arsitektur adalah pengalaman ruang, sedangkan ruang sendiri merupakan entitas dimensi yang menjadi wadah keseharian manusia. Oleh karenanya, pengalaman arsitektur sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari, sebab tidak pernah sedetik pun manusia menjalani eksistensinya tanpa berada dalam ruang. Entitas ruang memiliki kualitas fisik dan metafisik, kualitas yang seringkali samar namun terasa adanya, kualitas ini menyebabkan ruang seakan memiliki nafasnya sendiri. Hubungan antara kekosongan dan nafas ruang adalah paradoks yang sulit dijelaskan: pada satu sisi, ruang terasa hidup, sedangkan di sisi lain, disadari bahwa jiwa ruang bukanlah sesuatu yang menempel, melainkan hanya ditempelkan padanya. Kala itu, sebagai mahasiswa arsitektur, kesadaran ruang memiliki peran yang penting untuk menunjang keotentikan dalam berkarya kelak. Kesadaran ruang tersebut tidak didapatkan dari proses pembelajaran yang berlangsung cepat, melainkan akumulasi memori dari berbagai situasi yang dijalani selama ini. Meski demikian, kesadaran ini masih belum cukup. Selain kesadaran, agaknya dibutuhkan sesuatu yang lain, dan mungkin sesuatu yang lain itu adalah pemahaman. Kesadaran dan pemahaman adalah aspek yang ”kehadirannya” berhulu pada pengetahuan, bermuara pada tindakan, sedang hilirnya tepat pada perjalanan mengarungi lika-liku kehidupan. Perihal di atas mendasari saya untuk memilih melakukan Praktek Kerja Profesi Arsitek di Eko Prawoto – Architecture Workshp (EP-AW) untuk mendapatkan esensi pemahaman tentang proses berarsitektu yang tidak dapat terlepas dari alam, terutama yang berkaitan dengan kehidupan manusia. Pada bagian ini, beliau menjadikan alam dan kehidupan sebagai hal utama, lalu arsitektur sebagai proses dan wujud manusia merespon alam dan kehidupan. Beliau menuliskan bahwa proses tersebut dibiarkan mengalir seperti aliran sungai kecil yang berada di hutan; ada antusiasme dalam deras arus kecilnya, dan di saat bersamaan ada begitu banyak kelokan tersembunyi dalam relung ketidakpastian yang dilewatinya.


PADEPOKAN Internship

Konteks : Seni pertunjukan Lokasi : Bantul, DIY Tahun : 2018 ©Eko Prawoto - Architecture Workshop

BAGONG KUSSUDIARDJA

Maket presentasi Architecture Portfolio Renovasi Padepokan Bagong

25


Proyek revitalisasi Pedepokan adalah proyek hibah dari pemerintah Republik Indonesia melalui Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf). Proyek revitalisasi Padepokan Seni Bagong Kussudiardja – selanjutnya disingkat menjadi PSBK – terletak di Dusun Kembaran, RT 004/21, Kasih, Tamantirto, Kasihan, Bantul, DI Yogyakarta. Renovasi tidak dilakukan untuk keseluruhan PSBK, melainkan untuk gedung Layang-layang yang difungsikan sebagai ruang pertunjukan dan penyimpanan. Gedung Layang-layang memiliki luas 348,6 m2 dengan rincian ruang pertunjukan seluas 11,2 x 15,5 m2 dan ruang gudang seluas 10 x 17,5 m2. Gedung Layang-layang terletak di ujung kawasan PSBK bila dilihat dari entrance-nya dan berbatasan dengan perumahan dan lahan masyarakat sekitar serta dengan sungai Konteng. Gedung Layang-layang difungsikan sebagai gedung pertunjukan seni. Seperti juga seni, pengungkapan tubuh gedung Layang-layang sangat intuitif. Narasi konsep ialah keterbukaan untuk membuat suatu ekpresi “ikonik” yang otentik. Bukan sebagai wujud “angkuh”, melainkan wujud substansi karya seni: sesuatu yang khas dan memiliki jiwanya sendiri. Pada gedung ini, pak Eko Prawoto memberikan ekspresi keluwesan gerak tari dan irama musik yang mengiringai melalui penggunaan garis dinamis dengan prinsip organis yang meliuk-liuk. Sekilas, ekspresi tarian memberikan tautan persepsional antara tubuh arsitektur dengan citraan fungsi yang diwadahi. Namun, dibalik itu semua dapat digali banyak pertalian hubungan antara arsitektur, alam, manusia, dan material. Pertalian hubungan tidak berasal dari sesuatu yang meluap-luap, melainkan berasal dari kejujuran sebelum akhirnya tubuh bangunan dapat mengungkapkan keindahan menurut kebenaran substansionalnya. Peran saya dalam proyek ini adalah membuat maket dan menggambar revisi gambar kerja. Maket dikerjakan secara manual. Pengerjaan maket secara manual dimaksudkan untuk memberikan nilai kriya pada maket sebagai suatu karya melalui sentuhan tangan yang dilakukan dengan teliti. Adapun revisi gambar kerja, dilakukan dalam rangka kebutuhan konstruksi mengikuti temuan-temuan di lapangan sehingga saya tidak hanya mendapatkan ilmu terkait kondisi di lapangan dan penyesuaiannya secara arsitektural.

Fasad bata Architecture Portfolio Renovasi Padepokan Bagong

26


PA N G G U N G Internship Konteks : Seni pertunjukan Lokasi : Jatiluwih, Bali Tahun : 2018 ŠEko Prawoto - Architecture Workshop

JATILUWIH

Maket eksplorasi Architecture Portfolio Panggung Jatiluwih

27


Arsitektur bukan soal kaidah komposisi (formal) belaka. Menurut pak Eko, di dalam arsitektur terdapat kejujuran, kesahajaan, kreativitas, harmoni dengan alam, sekaligus spiritualitas. Esensi arsitektur adalah pencapaian keindahan yang berasaskan keadilan bagi semua, bukan formalitas bentuk belaka. Pendapat beliau tersebut terasa memberikan sebentuk wujud dari pesan yang disampaikan oleh romo Mangun bahwa pengenal kemuliaan arsitektur adalah kejujurannya, dan (lagi) keindahan arsitektur adalah pancaran kebenaran. Secara fisik, wujud kejujuran dan kebenaran diungkap oleh beliau melalui penggunaan material sesuai sifat material. Beliau tidak pernah memaksakan material untuk menjadi seperti material lain, membiarkan material tersebut sebagaimana adanya, bersolek sewajarnya, dan terkadang mengekspresikan material “segila”-nya. Pengetahuan tentang sifat material tidak beliau peroleh begitu saja, melainkan melaui proses “membaca-pahami” sebagaimana diungkapkan oleh romo Mangunwijaya adalah upaya menyelaraskan arsitektur pada hukum alamiah. Saya mendapatkan kesempatan untuk merasakan pengalaman “kejujuran” dalam proses eksplorasi bentuk karya instalasi bambu di Jatiluwih, Bali. Peran saya dalam perancangan instalasi ini dapat dikatakan dimulai dari awal, yakni dari pengembangan desain menurut sketsa awal dari pak Eko. Pengembangan dilakukan secara manual menggunakan media maket untuk merasakan secara langsung sifat bambu dan pengalaman ruang di dalamnya. Karya instalasi kali ini bertujuan untuk mengangkat potensi masyarakat desa seputar pengolahan bambu. Saya mendapatkan cerminan bagaimana cara beliau memandang dan mengolah material serta hubungannya dengan mendampingi tukang untuk meningkatkan kemampuannya. Bambu dipandang oleh beliau sebagai pesolek indah yang menari dalam kelenturannya. Kesolekan pesolek ini beliau ekspresikan sebagaimana adanya. Beliau sama sekali tidak memaksa bambu untuk mencapai titik kritisnya dengan melengkungkan bambu sedemikian rupa demi mendapatkan bentuk “estetis”. Bentuk instalasi didapatkan dari cara pandang beliau yang memposisikan bambu sebagaimana bambu memposisikan dirinya sebagai bambu. Ciri riasan tetap ada, namun seperti hemat beliau “berhias itu karena memang dorongan dari karakter ruang, bahan, konstruksi, skema struktur, budaya, tradisi, dan lain-lain – muatan substansial”. Inner beauty berbeda antarsubstansi sehingga dapat dipastikan bahwa setiap riasan karya berbeda satu sama lain, uniknya riasan inilah yang seringkali tampak sebagai karakter karya: kejujuran, keluguan, kepolosan, kepongahan, dan lainnya. Pada instalasi bambu kali ini, riasannya berupa bentuk cangkang yang berasal dari kelentuan bambu. Bentuk menunjukkan sifat bambu yang lentur dan dapat mengikat satu sama lain hingga memberikan kekuatan bagi bentuk instalasi secara keseluruhan sehingga riasan ini dapat dikatakan memiliki nilai substansial dari pemahaman sifat material yang mendalam.

Architecture Portfolio Panggung Jatiluwih

28


STASIUN Freelance

Konteks : Transportasi Lokasi : Purworejo, Jawa Tengah Tahun : 2019 ©Eko Prawoto - Architecture Workshop

WOJO - PURWOREJO

Potongan stasiun Architecture Portfolio Stasiun Wojo

29


Stasiun Wojo merupakan stasiun “kecil” yang terletak di Purworejo. Keunikan stasiun Wojo terletak pada tubuh bangunan khas stasiun lama dan letaknya yang berada di antara kerimbunan. Kondisi tersebut berpengaruh pada citraan masyarakat yang dapat menggugah memori kolektif maupun suatu imaji yang jatuh pada masa silam. Stasiun ini dihidupkan kembali oleh Kementrian Perhubungan untuk keperluan transportasi sementara sembari menunggu stasiun “besar” selesai dan dapat difungsikan. Meskipun hanya difungsikan sementara, desain renovasi stasiun dipikirkan untuk jangka waktu yang panjang demi mewadahi kegiatan lain yang nantinya dapat berguna bagi masyarakat sekitar. Peran saya dalam proyek ini adalah sebagai freelancer yang menggambar gambar kerja berikut detail-detailnya, dan membuat kelengkapan 3D stasiun sesuai aspek yang diminta. Desain renovasi stasiun tidak mengintervensi eksisting, desain justru dimaksudkan untuk mempertahankan rasa ruang stasiun dengan segala suasana yang terbangun akibat interaksi antara bangunan dengan sekelilingnya. Konsep ini memiliki mengandung prinsi berarsitektur sesuai kehendak tapak (lingkungan) yang memiliki arti bertempat mengikuti aliran yang berlaku pada tapak tersebut. Tidak mengintervensi, terlebih memaksakan kehendak terhadap sesuatu di luar apa yang sebenarnya tidak dapat berada di sana. Arsitektur dalam pengertian ini membutuhkan kesadaran terhadap rasa wajar dan kesadaran untuk menekan ego yang berasal dari keinginan-keinginan untuk berbuat melebihi kebutuhan. Dengan cara ini, bangunan yang berdiri dapat berbahasa dengan lingkungannya, menampakkan keindahan dari kesederhanaanya. Bahasa lingkungan yang ditangkap adalah bahasa pepohonan yang rimbun, merumpun, meneduhkan, dan menyejukkan untuk mengundang makhluk beraktivitas di sekitarnya. Bahasa tersebut kemudian diterjemahkan menjadi bahasa desain melalui pembacaan unsur dan suasana yang timbul dari keberadaan pohon hingga menghasilkan ide renovasi berupa penambahan struktur entrance, hall dan foyer sebagai pengatapan ringan yang berfungsi sebagai pengeduh dan pengundang aktivitas. Penambahan menggunakan struktur baja dengan prinsip struktur mengikuti pohon yang terdiri dari akar, batang, dahan, dan ranting. Bahasa lingkungan lain yang ditangkap adalah bahasa topografi yang mengandung simbol bentuk dan karakter tanah. Bahasa topografi adalah pijakan aktivitas, penyedia ragam elemen dasar potensial untuk menghadirkan struktur kehidupan. Selain itu, bahasa topografi juga merupakan “syair daratan” yang rimanya kembali pada jejak tiga dimensional gelombang bumi. Merespon bahasa ini, penempatan hall dan foyer dibuat mengikuti kontur sehingga memiliki rima naik-turun yang mampu menyuarakan irama dari kekhasan bahasa topografi nan artistik.

Architecture Portfolio Stasiun Wojo

30


. . . . . . i . . O N C . . .

o m . . p . . . . . .

. . . . . e t . . . . i t . . . .

C o m . . . . . . . . . . . p e t . . . . . 2 0 . . . . . . . . O N

sayembara


#3

Sayembara menjadi cara untuk menuangkan ide dan melatih sisi penunjang arsitektur yang tidak diajarkan dalam perkuliahan. Proses eksplorasi ide sayembara sebagai sesuatu yang menarik. Sayangnya, saya merasa kurang bagus dan baik ketika mengeksekusi ide-ide menjadi konsep-konsep dengan penyajian yang matang. Namun, alih-alih mengikuti sayembara, pada akhirnya lebih banyak waktu yang saya habiskan untuk mengurusi acara sayembara dibandingkan dengan mengikuti sayembara. Bagi saya, keduanya memiliki proses dan pengalamannnya masing-masing yang mampu menjadi bekal ilmu bagi saya secara pribadi.


Oase Sayembara

Konteks : Rest area Status : tidak terkirim Tahun : 2019

Oase merupakan tempat teduh dan sejuk yang dapat digunakan oleh manusia ketika melakukan perjalanan jauh dan melelahkan. Citra Oase sedemikian lekat sehingga Oase menjadi arketipe memori kolektif manusia. Manifestasi konsep Oase pada desain ini diimplementasikan pada unsur arketipe yang memiliki pengaruh psikologis terhadap pengalaman ruang sehingga, diluar fungsi umum rest area, akan memberikan nuansa memori yang bertumpu pada ketenangan, kenyamanan, dan rasa penuh saat berada dalam Oase. Pembentukan arketipe secara langsung berpengaruh pada konsep Rest Area yang memiliki kemandirian unsur alam (terutama air) untuk memenuhi kebutuhan bangunan, mewadahi unsur udara dan cahaya untuk meminimalisir penggunaan listrik, memanfaatkan bangunan dan pohon untuk memberikan naungan pada ruang terbuka, dan memiliki identitas kelokalan tangible maupun intangible yang tersajikan dalam desain rest area. Untuk sirkulasi, pemisahan flow kendaraan dipisah untuk memberikan pengaruh signifikan pada keberaturan dan kenyamanan rest area karena terkait dengan keamanan, pencapaian, dan kaspek audio, thermal, serta visual.

Garis besar sirkulasi rest area ada tiga, 1) Sirkulasi bus/truk yang dekat dengan jalan, 2) sirkulasi mobil yang dekat dengan pintu keluar, dan 3) sirkulasi pejalan yang menerus. Adapun untuk permasalahan sanitasi, konsp utilitas pengolahan air Oase dirancang untuk mampu mendaur air untuk memenuhi kebutuhannya sendiri. Penyimpanan air dirancang dalam bentuk kolam yang berfungsi untuk menyimpan kebutuhan bangunan, penyeimbang kelembaban udara, unsur rekreatif, dan yang tidak kalah penting adalah memberikan identitas pada persepsi Oase itu sendiri. Konsep Sanitasi Kolam

1

Daur penanggulangan air kotor

2

Daur pemanfaatan air bersih

3

Musholla Penyaring

Toilet Wudhu Penyaring

Penampung air buangan dan hujan

Akses lantai bawah

Septictank Penampung air buangan dan hujan

Akses lantai bawah

Kolam

Garis alur air yang melalui riol bangunan Garis alur air dari septictank menuju sumur resapan

Sumber air utama berasal dari air hujan yang dialirkan pada penampungan untuk kemudian disalurkan ke kolam (1). Air hujan mengalir melalui riol yang disediakan di kanan dan/atau kiri di seliap selasar dan juga talang yang ada di bangunan (2).

Air yang telah ditampung di kolam dipelihara secara alami dan buatan. Secara alami dengan menggunakan teratai, secara buatan dengan memanfaatkan pompa dan saringan. Air saringan dari kolam dialirkan menjadi air untuk kebutuhan rest area (3).

Architecture Portfolio Oase

33


Lokasi Rest Area

Lokasi rest area terletak di arah menuju Semarang, tepatnya di tol Semarang - Batang, Rowoaking, Rowobranten, Ringinarum, Kabupaten Kendal, Jawa Tengah 51356. Lokasi ini dipilih berdasarkan opini bahwa semarang merupakan kota pemerintahan, perdagangan, dan rekreasi yang penting di Jawa sehingga dapat diperkirakan bahwa akan banyak pengendara dari kota di barat Semarang yang akan menuju Semarang. Eksisting lokasi Rest Area merupakan daerah persawahan. Eksisting ini ditanggapi dengan membuat rancangan bangunan yang ambigu, dalam arti kontras namun terasa lekat dengan citraan masyarakat sehingga keberadaan rest area dapat diterima secara fungsi maupun memori.

Analisis Konsep 1) Bentuk dasar bangunan adalah dua persegi di sisi utara-selatan untuk memberikan udara yang banyak dengan ruang kosong di tengah yang dimanfaatkan menjadi ruang plasa yang sejuk. 2) Bentuk bangunan diolah dengan memberikan shape atap rumput, penghubung antarmassa. dan zona untuk kios. 3) Massa dipotong untuk dijadikan fasad yang menyerong ke selatan (menghadap jalan) dan meneguhkan karakter bangunan. Sedikit muka di sisi barat digunakan untuk pencahayaan.

Kota Semarang dikenal sebagai kota bersejarah, sedangkan kabupatennya dikenal sebagai kabupaten pegunungan. Dua unsur inilah yang dijadikan sebagai inspirasi bentuk dari rest area Oase. Kota sejarah diimpementasikan dengan penggunaan kisi-kisi yang banyak terdapat pada bangunan lama, dan pegunungan dijadikan bentuk bangunan utama rest area. Pertimbangan lain dari pemilihan bentuk gunung adalah imagery arketipal yang atraktif dan cocok dengan citraan simbolik lingga yoni di tengah persawahan sehingga Oase dapat dikatakan memiliki peran persepsional sebagai ekspresi kontemporer dari filosofi Jawa.

Transformasi Desain

4

5 1 6 2 4) Pemberian shape yang mengesankan puncak gunung, pemberian area selonjor (coklat), penambahan luasan atap rumput, dan pemberian atap musholla yang ditampakkan pada tapak.

3 5) Pada fasad ditambahkan bukaan untuk akses jalan menuju rerumputan yang nantinya digunakan sebagai plasa. Area kios (kuning) diolah menjadi ruang tektonik untuk memberikan akses visual dan thermal, juga penambaha lorong menuju lantai bawah (toilet dan musholla)

6) Ditambahkan kolam dengan pertimbangan fungsi thermal, penyimpanan, visual, dan suasana. Penambahan area istirahat (coklat) di sisi musholla, dan gambaran letak toilet terhadap tapak (ungu).

Konsep mikro 1) Struktur menggunakan material baja dan beton 4) Partisi dan kisi menggunakan kayu fabrikasi dan kaca 2) Lantai menggunakan material andesit, bata, batu, dan geotextile 5) Railing menggunakan besi hollow 6) Pelindung utilitas tanpa plafon menggunakan pipa Area tengah bangunan yang 3) Atap menggunakan dak beton dan rumput digunakan sebagai plasa sekaligus penyeimbang temperatur

Material

Bentuk dasar ruang bawah tanah

Penambahan sekat toilet

Atap rumput dan area selonjor yang dibuat “tertutup� untuk mencangkupi area agar tenang dan sejuk

Penggunaan lubang angin dan cahaya untuk sistem penghawaan dan pencahayaan area bawah

Penambahan kolam di sisi timur dan barat

Ruang terbuka, jalan, dan perlubangan

Pedestrian dan ramp menuju ruang bawah

Sistem pencahayaan dan penghawaan bawah

Penzonaan dan penyekatan area kios

Peletakan area kantor

Penambahan ATM centre

Pemberian struktur baja+beton

Penambahan lantai atas

Penambahan kisi-kisi sebagai pengatur thermal dan cahaya, gerbang entrance

Ramp sebagai akses ke lantai atas

Penambahan ruang selonjor (tiduran)

Kisi-kisi untuk memasukkan angin dan cahaya, menahan air hujan, sekaligus tanggapan historis

Tampak Selatan

Tampak Utara

Penutup ramp sekaligus greenroof fungsional untuk duduk

Pemberian atap rumput di setiap bangunan

Penutup akses berupan greenroof

Penambahan furnitur

Penambahan vegetasi untuk barrier, penguat tanah, dan pengatur suhu

Hasil akhir desain Oase berikut akses mobil dan truk

Tampak Timur

Tampak Barat

Architecture Portfolio Oase

34


IoS, Ios. Sayembara

Konteks : Komunikasi Partner : Talisa Audryn Status : Partisipan Tahun : 2018

Aku… Suara itu… Nada yang mengalun, bahkan saat aku tak melihatnya Gerak tubuh itu… Tanpa kata kamu, dia atau mereka berbicara

“Out beyond ideas of wrongdoing and rightdoing there is a field. I’ll meet you there.

Tatapan mata itu…. Yang bahkan ribuan kata tak cukup untuk menggambarkannya

When the soul lies down in that grass the world is too full to talk about.” -Rumi

Komunikasi bukanlah tentang suara, kata, gerak tubuh, maupun tatapan mata. Komunikasi adalah tentang pesan yang disampaikan melalui indera dan rasa, pesan yang diterima menjadi kesadaran dalam pikiran.

lokus suatu motif maupun moment untuk dua pihak bertemu. Batas ruang untuk berkomunikasi adalah interaksi itu sendiri.

Tetapi dengan semua itu, manusia tetap membutuhkan kehadiran untuk membuatnya menjadi pesan utuh. Kehadiran menyempurnakan konsep yang tersusun, konsep komunikasi ideal: saat manusia tahu secara langsung bahwa aku, kamu, dia, mereka, atau kita lah yang sedang bersandingan dengan keberadaannya. Ketika memiliki motif, manusia menciptakan ruangnya sendiri untuk berkomunikasi, berinteraksi mengutarakan pikirannya masing-masing. Ruang komunikasi dan interaksi tidak terikat oleh tempat yang mutlak. Ruang ini dapat berada di mana saja, selama ruang tersebut menjadi

Ruang komunikasi yang kami rancang adalah ruang tanpa batas tegas. Batas ini tidak terlihat, tetapi dapat dirasakan dan dikuatkan oleh suasana. Di lingkupnya, kami berikan pohon sebagai pelindung untuk menunjang aspek kenyaman fisik dan psikologis. Selain itu, pohon juga dimaksudkan untuk mengahadirkan memori kolektif tentang interaksi manusia dengan lingkungan sebelum masa komunikasi virtual merajalela dan mengurangi interaksi manusia dengan lingkungannya.

Architecture Portfolio IoS, Ios.

35


Naungan

Titik fokus

Komunikasi subjek dan lingkungan dalam ruang

Ruang komunikasi

Subjek

2.00 m

2.00 m Luasan intangible

Denah

Luasan intangible

Luasan intangible

Potongan Architecture Portfolio IoS, Ios

36


MASJID Sayembara

Konteks : Tempat ibadah Status : Partisipan Tahun : 2017

AL-MASJID

Al-Masjid (‫)دجسملا‬ merupakan masjid tanpa nama. Nama Al-Masjid disandangkan pada masjid sebagai kata benda yang umum lalu diberi imbuhan alif-lam ma’rifah untuk menyandarkannya pada yang khusus. Hakikat Masjid adalah tempat manusia bersujud. Masjid tidak memerlukan nama.

Masjid hanya memerlukan keserasian antara hakikat dengan kenampakannya, sebagai tempat bersujud dengan kegiatan utamanya ialah bersujud, yang oleh Ibn ‘Arabi, dimaknai sebagai simbolisasi penghayatan kita terhadap asal-usul peciptaan kita berasal dari tanah. Dikatakan juga, berdiri dalam shalat adalah simbol alam syahadah, sujud adalah simbol puncak rahasia (sir al-asrar), dan rukuk dianggap simbol alam barzakh karena berada antara alam syahadah dan gaib mutlak.

Zaman di saat semua serba mekanik-matrealistik membuat banyak orang menganggap ibadah hanya sebatas ritual budaya arkais yang dapat hilang ataus dihilangkan saat dirasa sudah tidak sesuai dengan pola kehidupan modern. Padahal, transendensi eksistensi Tuhan bersifat abadi melebihi keabadian makna abadi itu sendiri. Masalah ini ditambah lagi dengan kehadiran sekelompok orang yang menguasai masjid sebagai tempat yang dikhususkan untuk golongannya. Hal ini berlawanan dengan hakikat masjid sebagai tempat peleburan status manusia menjadi hanya sebatas makhluk yang sama derajatnya di mata Tuhan. Begitupun ceramah yang dilakukan di masjid, yang hanya dilakukan secara berkala pada saat tertentu dengan konten mainstream, monoton, dan seputar itu-itu saja. Kenyataan ini jauh berbeda dengan gambaran masjid di Sirah Nabawiyah, di mana masjid tidak hanya menjadi tempat sujud dalam arti sebagai gerakan, tetapi masjid sebagai tempat sujud dalam arti menjadi tempat manusia berserah pada kewajibannya untuk melaksanakan semua perintah Allah, termasuk menimba ilmu untuk menggali makna ilahiah.

Architecture Portfolio Masjid Al-Masjid

37


Aksonometri

Kegiatan

Kegiatan di Masjid di dasarkan pada contoh Nabi untuk mengembangkan masyarakat sekitar Masjid

Setiap kegiatan tidak memerlukan ruang khusus. Ruang-ruang akan melebur menyesuaikan dengan kegiatannya.

Semua kegaitan berhenti ketika waktu sholat tiba sehingga kegiatan sholat tidak terganggu oleh aktivitas lain

Architecture Portfolio Masjid Al-Masjid

38


REDESAIN Sayembara

Konteks : Renovasi tempat ibadah Status : Honourable mention Tahun : 2017

MASJID AL-MAHMUDAH

Masjid al-Mahmudah merupakan masjid besar yang menjadi tempat umat muslim mengadakan kegiatan keagamaan. Sebagai masjid besar, ada satu kekurangan masjid yaitu tidak adanya fasilitas akses bagi penyandang disabilitas. Padahal, masjid sebagai fasilitas ibadah seharusnya dapat diakses oleh seluruh masyarakat dengan mudah. Masjid al-Mahmudah memiliki pekarangan yang cukup luas. Pekarangan ini memiliki potensi untuk dikembangkan menjadi ruang publik yang dapat menjadi alternatif bagi masyarakat untuk berkumpul di luar waktu shalat. Peran masjid bagi kegiatan masyarakat cukup vital sebab masjid tidak hanya menjadi tempat umat melaksanakan ibadah vertikal seperti shalat, mengaji, dan mengkaji, namun juga menjadi tempat melakukan ibadah horizontal seperti bersosialisasi, bermain, belajar, bahkan menyalurkan ek-

spresi kreatif. Ibadah horizontal sebagai ruang bersama ini membuat masjid dapat menyatukan umat muslim maupun umat lain dengan berbagai keragamannya melalui sikap toleransi dalam bermasyarakat. Ruang ibadah utama dalam masjid sudah dalam kondisi yang baik dan kondusif untuk melakukan ibadah sehingga ruang utama tidak menjadi fokus renovasi. Oleh sebab itu, renovasi masjid dirancang menjadi masjid yang ramah bagi semua masyarakat tanpa memandang ciri fisik, strata sosial, kepercayaan, dll. Renovasi masjid sebagai tempat yang aksesibel dilakukan dengan penambahan ramp, jalur difabel, dan toilet sekaligus tempat wudhu khusus untuk menunjang akses bagi setiap masyarakat. Architecture Portfolio Masjid Al-Mahmudah

39


Selanjutnya, renovasi pada halaman masjid dilakukan melalui penataan lansekap (pohon, kebun buah, area parkir, dan area resapan), serta ruang bersama (lapangan, ruang ilmu dan pameran, instalasi, dan tempat duduk). Penataan ini diharapkan membuat masjid menjadi tempat alternatif untuk berkumpul dan bersantai yang sekaligus dapat menunjang ekspresi kreatif.

Dengan konsep ini, diharapkan keberadaan masjid dapat meningkatkan taraf sosial, budaya, dan ekonomi dalam masyarakat.

Akses

Instalasi instalasi dirancang sebagai pemantik ide kreatif sekaligus sebagai pemanis. Desain instalasi diharapkan berasal dari pemuda sekitar dan diganti secara berkala

Ramp

Kebun buah

Nggonilmu

Kebun buah dirancang untuk memberi kontribusi gizi bagi masyarakat yang datang ke masjid

Lansekap dan ruang bersama

MATERIAL: BATU ALAM TINGGI KE LANTAI: 1 M TINGGI KE BATAS: 0.5 M PANJANG: 10 M KEMIRINGAN: 6 DERAJAT

MATERIAL: KAYU, BETON, KACA, BATA, DAN BATU TINGGI KE PAPAN: 1.5 M TINGGI KE ATAP: 2 M PANJANG: 14 M

Nggonilmu dapat digunakan sebagai tempat memberi informasi terkini yang menarik, tempat pameran visual-grafis, dan tempat rehat sejenak.

Architecture Portfolio Masjid Al-Mahmudah

40


Art & Architecture

INSTALLATION


#4 Berinstalasi bagi saya adalah hal yang menarik dan juga rumit. Menarik karena proses diskusi yang terjadi dalam perancangan dan pembuatan dapat mengasah perasaan dan membuka wawasan terhadap banyak hal. Rumit karena instalasi menurut saya adalah penggabungan antara seni dengan arsitektur. Seni yang kaya filosofi dan nilai yang menggugah rasa dan arsitektur yang penuh dengan bahasa ruang yang menggugah indera dan raga. Bentuk instalasi memberikan pesan. Ia bisa menangkap dan menceritakan peristiwa, menganalisis dan mengkritisi situasi yang dewasa ini terjadi, memantik dan menggerakkan kesadaran, dan apapun yang berkaitan dengan rasa dan perasaan yang dituangkan. Instalasi kuat akan aspek kolaboratif, aspek inti yang mengajarkan pembagian peran yang manfaatnya dapat diterapkan dalam keseharian. Melalui kolaborasi, proses pembuatan instalasi menjadi hidup. Dalam arti, pengetahuan dan ilmu yang didapat akan mengalir dalam interaksinya. Interaksi ini tidak hanya berhubungan dengan manusia, melainkan material, alat, dan jejak nafas alam yang nampak dan berhembus. Selama proses instalasi, saya tidak berperan sebagai perancang utama. Saya berperan sebagai koordinator tim maupun penyambung instalasi dengan rangkaian lain untuk mendapatkan satu cerita utuh, teman diskusi sekaligus pelempar isu dan penganalisis pendapat-pendapat yang muncul, namun yang lebih sering adalah saya sebagai murid yang belajar dari pembicaraan, wejangan, dan kejadian-kejadian yang berlangsung di sana.


BEAUTIFUL

M E S S Instalasi Arsitektur

Konteks : Refleksi kehidupan Collabs : TeMA Tahun : 2017 Idealnya, masyarakat merupakan kumpulan individu yang melebur dengan nilai-nilai toleransi terhadap kehidupan yang majemuk. Kemajemukan teranyam pada jiwa masyarakat, muncul secara berkesinambungan selayaknya nafas yang terus menerus dihela selama ruh masih berada di jasad tempat peraduannya. Tetapi adakalanya kemajemukan ini kehilangan nafas toleransinya. Perbedaan dianggap sebagai kesenjangan sehingga yang muncul bukanlah persatuan melainkan pemisahan antara yang berada dengan yang dipinggirkan. Permasalahan ini bukanlah tentang nasib, namun tentang ego dan ketidakpedulian yang terlalu dimanjakan oleh buaian eksistensi semu. Inilah yang kami coba menangkapnya dalam sebuah bentuk instalasi. Keindahan yang tampak pada setiap hal. Seburuk apapun tetap ada keindahan yang bersembunyi di baliknya. Sebab kami yakin, keindahan merupakan pesan bahwa Tuhan selalu ada, sangat dekat dengan makhluk-Nya.

Architecture Portfolio Beuatiful Mess

43


Architecture Portfolio Beautiful Mess

44


A RU PA

ANONIM Instalasi Seni

Konteks : Kritik kampus Collabs : TeMA Tahun : 2017 Kampus dan mahasiswa, serta suara-suara yang terucap saat mereka saling mengisi. Tetapi suara-suara itu seringkali terbungkam setelah sesaat merambat tak jauh dari dirinya. Suara-suara itu pernah bergelombang, menghempas telinga siapapun yang mendengarnya. Tetapi, gelombang besar itu tak pernah didengar. Mereka atau kita, sayangnya, hanya ingin mendengar apa yang ingin didengar. Hingga gelombang besar itupun sumbang. Dan kini, ketika mereka atau kita tersadar, betapa pentingnya suara itu. gelombang tersebut telah menghilang, terkubur dalam kuburan sunyi yang mencekam. Berangkat dari fenomena tersebut, instalasi anonymous ini dibuat sebagai wujud mahasiswa yang sudah tidak ingin maupun tidak berani bersuara untuk menyampaikan pendapatnya.

Architecture Portfolio Arupa Anonim

45


Architecture Portfolio Arupa Anonim

46


ANEMUKA Instalasi Arsitektur Konteks : Eksplorasi Event : Bamboo Biennale Collabs : TeMA Tahun : 2016 Selain fleksibel dan multiguna, bambu merupakan material yang banyak dan mudah didapat. Namun, pamor bambu seakan kalah dari material lain yang sebenarnya mahal dan sulit didapatkan. Hal tersebut terjadi karena stigma masyarakat yang kurang sadar akan kehadiran bambu sebagai material unik dan terbarukan. Stigma ini muncul akibat kurang tersadarkannya masyarakat akan mudahnya mengolah dan memanfaatkan bambu Tujuan dari karya ini adalah mempopulerkan penggunaan bambu dikalangan masyarakat yang didasari dari fenomena masyarakat belum menyadari bambu sebagai material yang potensial untuk diolah menjadi karya seni atau arsitektural. Berangkat dari fenomena tersebut, karya ini mencoba berperan dalam bersinergi dengan karya lain dalam event Bamboo Biennale. Bentuknya adalah sebagai pemberi informasi secara sederhana tentang pengolahan bambu dari yang sederhana hingga yang sulit. Munculah gagasan Anemuka (enam muka bambu) yang menginformasikan contoh ekplorasi bambu dari yang mudah hingga sulit. Dimana acuannya adalah tingkat kesulitan dalam pengolahannya. Mulai dari hanya membelah hingga memerlukan alat dan keterampilan khusus. Secara sederhana, menunjukkan contoh dasar olahan bambu dalam masing-masing pilihan (wajah) yang memberikan pilihan dalam mentransformasikan dalam bentuk lain.

Architecture Portfolio Anemuka

47


Architecture Portfolio Anemuka

48


T I RTA

AMERTA Instalasi Seni Konteks : Respon material Collabs : TeMA+Bamboo Biennale Tahun : 2016 Festival Tirta Amerta adalah festival desa di daerah Ngargoyoso yang memiliki hawa dingin dan pemandangan indah. Skala festival cukup besar dan berlangsung lebih dari satu hari. Entah bagaimana mulanya, pihak Bamboo Biennale menghubungi kami untuk ikut serta dalam mengkonsep dan mengerjakan panggung festival. Konsep panggung festival sangat menarik karena menerapkan konsep bertumbuh dan organis. Dengan kata lain, mengikuti alur dan situasi yang ada tanpa program-program baku. Hanya berpaku pada penggunaan bambu sebagai material dan tanaman hidroponik. Konsep ini disepakati dengan pertimbangan alam dan material sekitar. Adapun permasalahan yang muncul pun cukup seru. Permasalahan berkutat pada kondisi tanah dan pemilihan view. Singkatnya, setelah melalui proses rumit, panggung ini dapat berdiri dan digunakan secara semestinya.

Architecture Portfolio Tirta Amerta

49


Architecture Portfolio Tirta Amerta

50


GAPURA PANUNTUN Instalasi Seni Konteks : Pesta rakyat Collabs : TeMA Tahun : 2015 Instalsai Gapura Panuntun merupakan instalasi yang dibuat untuk memeriahkan pesta rakyat Solopolah, ICCN. Pengerjaan instalasi bermula dari penawaran pak Mayor Haristanto untuk membuat instalasi dengan material bambu sejumlah 122 potong dan tinggi 6-7 m tanpa boleh dipotong sama sekali. Wujud gapura memiliki makna menyongsong perkembangan era industri kreatif Nusantara. Instalasi bertempat di Jl. Slamet Riyadi, tepat saat CFD berlangsung. Proses desain dan pengerjaan instalsi berpacu dengan waktu. Pengerjaan dilakukan di pelataran Sriwedari pada soremalam hari selama empat hari agar tidak mengganggu orang lain. Momen-momen ini membuat kami banyak menghabiskan momen dengan suasana pinggir jalan untuk menikmati nuansa dan irama yang menyenangkan. Pada hari H, instalasi diangkat dari pelataran Sriwedari ke jalan utama dengan bantuan masyarakat, dan menjelang berakhir, instalasi harus dibongkar. Pembongkaran instalasi berpacu dengan waktu. Limabelas menit dan instalasi sudah terbongkar, sungguh hukum alam yang seru dan menarik.

Architecture Portfolio Gapura Panuntun

51


Architecture Portfolio Gapura Panuntun

52



Misc.


S

M

A

L

L

Mo del ling


#5 Eksplorasi arsitektur berkutat dengan penjelajahan dimensi berupa ruang yang kualitasnya tidak hanya terukur secara kuantitatif akibat wujudnya yang nampak secara fisik, namun juga kualitatif akibat peran metafisiknya. Wujud fisik berkaitan dengan ukuran teknis, sedangkan kualitas metafisik berkaitan dengan pengalaman, rasa, bahkan intuisi, sesuatu yang tidak dapat diukur secara pasti. Berbeda dengan pengetahuan lain yang dapat diuji melalui sampel-sampel. Pengetahuan arsitektur tidak dapat diuji sebab pengujiannya akan memakan biaya yang sangat besar. Satu-satunya cara untuk menguji arsitektur adalah mendiami dan melebur dalam rasa ruangnya. Meski begitu, bukan berarti tidak ada cara untuk melakukan studi pendekatan ruang dalam berarsitektur. Ruang memiliki ukuran tertentu yang dapat dituangkan dalam bentuk miniatur melalui skala dan proporsi. Miniatur ini sangat berguna untuk melakukan pendekatan studi ruang. Melalui miniatur tersebut, konsep-konsep ruang dapat ditelaah sehingga ruang dapat dirasakan ritme, skala, proporsi, dan aspek-aspek lain yang menggugah kesadaran ruang walau masih terbayang di awang. Akhirnya saya merasa eksplorasi dan pengolahan ruang melalui maket begitu penting sebagai sarana belajar, juga sebagai sarana penajaman rasa ruang.


Marselinus David R

Judul : Gereja katolik dengan pendekatan Sacred Space Kolaborasi : Aldo, Chanda, Iqbal Tahun : 2018

Prayogi Nusa Bakti

Judul : Stadion dan Gelanggang Olahraga Kolaborasi : Chanda, Iqbal, Fitra, Agung Tahun : 2018

Architecture Portfolio Mini Modelling

57


Hildaria Siregar

Judul : Kawasan Benteng Vastenburg sebagai Museum Kota Surakarta dengan Pendekatan Infill Design Kolaborasi : Aldo, Chanda, Iqbal, Fitra Tahun : 2017

Fagella Dive

Judul : Resor Alam Selo Boyolali dengan Pendekatan Lokalitas Kolaborasi : Chanda, Iqbal, Fitra, Wisnu Tahun : 2016

Architecture Portfolio Mini Modelling

58


D

E

S

A

I

N

G R A F I S


#6 Desain adalah proses yang menyenangkan karena proses desain membawa saya pada kesadaran baru tentang banyak hal. Dalam desain, saya tidak dapat terpaku pada satu hal sebab saya harus menelaah hal tersebut sehingga seringkali satu proses desain membawa saya pada belantara dunia yang penuh rahasia lalu saya mencoba menemukan atau bahkan membuat jalan untuk menembusnya. Terjadinya proses ini sering tidak saya duga. Kadang seperti keinginan yang membuncah, dorongan yang kuat untuk mengulik-ulik sesuatu. Intuisi. Yang oleh Bergson ditempatkan menjadi penggerak realitas, “We touch the reality of the object in an immediate intuition�. Ungkapan Bergson saya gunakan untuk menyelami pikiran dan tindakan saya yang seringkali tiba-tiba ada. Ada dalam pikiran lalu saya mencoba untuk menuangkannya dalam berbagai media seperti kertas, batu, kayu, bambu, maupun media elektronik. Sayangnya, media-media tersebut sering terlalu acak sehingga hilang begitu saja. Di antara media-media tersebut, yang banyak tersisa adalah media elektronik sehingga yang banyak saya sajikan di sini adalah eksplorasi digital. Eksplorasi di sini tidak terpaku dalam hal memvisualisasikan atau membebaskan inspirasi. Terkadang ekplorasi di sini merupakan cara saya untuk menyadari sudut pandang melalui foto dan mempelajari suatu software untuk mengasah sense. Selanjtunya, saya memiliki atensi untuk mengeksplorasi material-material secara arsitektural agar pemahaman saya tentang material dan kaitannya dengan arsitektur dan kehidupan dapat tumbuh dan berkembang. Pada bagian ini, fotografi adalah sesuatu yang cukup penting bagi saya. Fotografi merupakan manifestasi dari sudut dan cara saya memandang sesuatu, serta dunia ide yang saya bubuhkan di dalamnya. Fotografi saya adalah bingkai memori dengan angle sederhana, sesederhana kehidupan yang beku dalam sedetik waktu itu sendiri. Namun, kesederhanaan itulah yang justu mengisi ruang dan waktu, hitam dan putih, meski kadang tidak sadari sebab sesuatu yang diada-adakan, yang cepat hilang, dan cepat dilupakan. Selain itu, saya menyukai mengambil foto dengan warna monkrom, terutama hitam-putih. Bagi saya, ada puisi tersendiri dari foto ini. Foto monokrom tidak hanya membekukan waktu, namun juga memindahkan warna dari kenyataan ke konseptual sehingga pada segi ini foto monokrom memiliki sudut pandang memori penerima, tidak hanya sudut pandang pemotret.


Sketchsa


Pantai Teupin Ciriek, Sabang Livesketch

Dermaga Teupin Layeu, Sabang Livesketch

Jejak memori, Tugas Akhir Conceptualsketch

Architecture Portfolio Sketsa

62


POS TER


Poster KKN

Software: CorelDraw

Poster AE

Software: Photoshop

Architecture Portfolio Poster

64


photo -grap hy-


Architecture Portfolio Photogaphy

66


Akihrnya, semua yang tersaji bukanlah bentuk-bentuk jawaban, melainkan jejak pertanyaan yang langkahnya terus terderap dalam benak terdalam. Karya-karya yang terlampir bukan terlihat sebagai hasil apa yang dilalui, melainkan sebuah proses yang darinya terlihat banyak kekurangan dan kelemahan. Pun begitu dengan penjabaran yang saya tulis sebagai gambaran pemahaman saya, di sana-sini terlihat banyak pikiran dan pola pikir yang kurang sistematis dan tidak komprehensif, ide yang tidak lengkap, eksplorasi yang kurang mendalam, maupun hal-hal yang dikerjakan secara terburu-buru. Namun, setiap manusia memiliki potensi untuk berproses, berubah ke arah yang lebih baik. Mengutip Rumi, “if you irritated by every rub, how will your mirror be polished ?� Perkataan inilah yang membuat saya berbesar hati saat menyadari banyaknya kekurangan yang saya miliki. Pada proses ini, bahkan kesalahan dapat menjadi pelajaran. Tetapi, proses ini tidak bisa berjalan sendiri, proses ini membutuhkan guru dan bimbingannya agar potensi tersebut dapat terasah dan berkembang. Inilah adanya, semoga menjadi bahan pertimbangan dan saya mohon maaf atas segala yang kurang berkenan.

Terimakasih 61



CV+Portfolio Muhammad Mumtaz Farohi +6285728154288 mumtazfarohi@gmail.com


Turn static files into dynamic content formats.

Create a flipbook
Issuu converts static files into: digital portfolios, online yearbooks, online catalogs, digital photo albums and more. Sign up and create your flipbook.