What News Zine Exhibition Vol. 7 "Mencapai Kemuliaan Dari Cara Melihat Karya Seni"

Page 1

MENCAPAI
KEMULIAAN DARI
CARA
MELIHAT KARYA
SENI Zine
vol.
7



Terlihat
kedua
sosok
penikmat
seni
ini
kebingungan.
Suatu
benda
ketika
sudah
disebut
karya
seni
ini
 sudah
bukan
sekedar
bernilai
fungsi.
Namun
lebih
dari
itu
yang
jauh
lebih
berharga


P

Kata
Pengantar

andemi
yang
disebabkan
oleh
virus
 Covid-19
 telah
 memaksa
 hampir
 seluruh
 warga
 dunia
 melakukan
 aktivitas
di
dalam
rumah.
Saat
ini,
 kita
diusahakan
untuk
tetap
waras
 dengan
 adanya
 bantuan
 teknologi.
 Ayah
 bekerja,
 ibu
 berbelanja,
 anak
 bersekolah
 –
 semua
dapat
dilakukan
secara
mudah
untuk
 melanjutkan
hidup,
tentunya
dengan
jaringan
 internet
dan
teknologi
yang
memadai.
Tidak
 hanya
 melanjutkan
 kegiatan
 pokok
 melalui
 dukungan
internet,
manusia
sebagai
makhluk
 sosial
 pun
 mulai
 dibiasakan
 mengadakan
 pertemuan
secara
daring;
seperti
buka
puasa
 bersama
daring
di
bulan
Ramadan
yang
lalu,
 lembaga
dan
institusi
pendidikan
merayakan
 wisuda
 melalui
 media
 daring,
 bahkan
 mengadakan
pameran
seni
secara
virtual. 
 What
News
merupakan
satu
dari
sekian
 banyak
 pameran
 seni
 virtual
 yang
 diadakan
 selama
 masa
 pandemi
 virus
 Covid-19.
 Pameran
 ini
 sendiri
 mengusung
 tema
 besar
 berupa
 rasa
 kangen
 yang
 dapat
 mencakup
 sebaran
 yang
 luas.
 Sederhananya,
 seperti
 kangen
 bercengkerama
 dengan
 orang-orang
 terdekat
 di
 luar
 rumah
 tanpa
 takut
 tertular
 atau
 menularkan
 virus,
 atau
 rasa
 kangen
 mengerjakan
 kegiatan
 sehari-hari
 tanpa
 dibatasi
oleh
layar
digital
yang
membuat
mata
 perih
atau
sakit
punggung
akibat
terlalu
lama
 duduk,
hingga
kangen
untuk
melakukan
kerja
 sebagai
seniman
–
dalam
konteks
ini
berkarya
 lalu
mengadakan
pameran
–
sembari
duduk
 santai
 berhadapan
 dengan
 para
 seniman
 lainnya
membicarakan
tentang
konsep
karya
 yang
akan
dibuat.

Tajuk
 What
 News
 pun
 dipilih
 sebagai
 sebuah
bentuk
pertanyaan,
tidak
hanya
bagi
 para
 seniman
 namun
 untuk
 siapa
 saja
 jika
 merasa
 terpanggil
 dan
 ingin
 menjawab;
 ada
 berita
 baik
 apa
 tentang
 kreativitasmu
 di
 masa
 inkubasi
 ini?
 Tentunya
 jawaban
 yang
 diharapkan
adalah
kabar
baik
mengenai
karya
 yang
 segar
 dan
 baru,
 pertanda
 bahwa
 kreativitas
 tidak
 lantas
 mati
 suri
 dalam
 keadaan
 yang
 tidak
 kooperatif
 sekalipun.
 Dalam
 What
 News,
 kami
 percaya
 bahwa
 selalu
ada
hal
baru
yang
bisa
dikembangkan
 meski
 hanya
 di
 rumah
 dan
 melewati
 sistem
 digital.
 
 Pame ran
 se ni
 virtual
 What
 News
 menghadirkan
bagi
para
seniman
muda
untuk
 saling
bertegur
sapa
dan
bertukar
kabar
soal
 produktivitas
 mereka
 selama
 masa
 diam
 di
 rumah.
 Selain
 itu,
 diharapkan
 pula
 bahwa
 What
 News
 dapat
 menjadi
 pengingat
 baik
 bagi
 para
 kontributor
 maupun
 pengunjung
 pameran,
 bahwa
 kreativitas
 selalu
 mampu
 dikembangkan
 di
 manapun
 selama
 otak
 di
 raga
 seorang
 individu
 masih
 dapat
 bekerja
 sama
 dengan
 sistem
 tubuh
 lainnya
 agar
 membuat
raga
tersebut
tetap
hidup.

Meutia
Swarna
Maharani Banjarbaru,
27
Juni,
2020


Mencapai
Kemuliaan
dari
Cara
 Melihat
Karya
Seni

D

alam
 melihat
 karya
 seni,
 kita
 tidak
dapat
menjadi
pengamat
 visual
 tanpa
 melibatkan
 nilai
 yang
 membuat
 sesuatu
 itu
 disebut
 “karya
 seni”.
 Karena
 nilai
 inilah
 yang
 akan
 membedakan
 sebuah
 sandal
 dari
 sebingkai
 lukisan.
 Sekalipun
 sandal
 adalah
 produk
 yang
 dapat
 dikategorikan
 hasil
 senikebudayaan,
tapi
nilainya
hanya
berhenti
 pada
 fungsinya
 sebagai
 alas
 kaki.
 Beda
 halnya
 bila
 kita
 menghadapi
 artwork,
 meski
lukisan
hanya
berupa
benda
sama
 seperti
 sandal,
 tapi
 nilai
 lebih
 yang
 membebani
 
lukisan
membuat
benda
itu
 menjadi
berharga. 
 Bayangkan
saja
seekor
kera
dengan
 buku
 di
 mukanya.
 Melihat
 kera
 itu
 membolak-balik
kertas
akan
sama
seperti
 yang
manusia
lakukan.
Tapi
apakah
kera
 itu
 sungguh-sungguh
 membaca
 seperti
 kita?
Apresian
yang
tidak
melibatkan
daya
 nalar
 dan
 rasanya
 akan
 menjadi
 kera
 seperti
yang
diterangkan. 
 Semisal
 lukisan
 “Cimon
 and
 Pero”
 karya
 Peter
 Paul
 Rubens
 (1630-1640),
 y a n g 
 m e n g g a m b a r k a n 
 s e o r a n g
 perempuan
 tengah
 menyusui
 laki-laki.
 Maka
 pikiran
 non-seni
 (pikiran
 tanpa
 melihat
nilai)
akan
menerima
gambar
itu
 sebagai
 sampah;
 gambar
 cabul
 dan
 amoral.
 Sebaliknya,
 jika
 kita
 memakai
 kacamata
seni,
justru
mutiara-mutiaralah
 yang
bakal
kita
dapat.

Lukisan
itu
meminjam
plot
cerita
tentang
 R o m a n a 
 C h a r i t y . 
 C e r i t a 
 y a n g
 m e n g i s a h k a n 
 C i m o n 
 y a n g 
 s e d a n g
 m e n j a l a n i 
 h u k u m a n 
 m a t i 
 d e n g a n
 dibiarkan
 kelaparan.
 Diam-diam
 dalam
 kunjungan
penjara,
si
anak,
Pero,
datang
 menyambung
 nyawa
 sang
 ayah
 dengan
 menyusuinya.
Jauh
dari
cabul,
lukisan
itu
 dalam
 kacamata
 seni
 malah
 memberi
 kemuliaan
pada
apresiannya,
sebuah
nilai
 darma
 bakti
 seorang
 anak
 kepada
 orang
 tua
yang
layak
dihayati. Begitulah
 seharusnya
 kita
 sebagai
 pengamat
visual
melihat
sebuah
artwork.
 Karena
 sejatinya
 seni
 adalah
 sebagian
 dari
 keindahan,
 dan
 keindahan
 itu
 m e r u p a k a n 
 s a r a n a 
 a m p u h 
 u n t u k
 memperhalus
jiwa.
 Di
 edisi
 ke-7
 ini
 kita
 akan
 dihadapkan
 dengan
berbagai
macam
artwork:
patung,
 cetak
grafis,
dan
lukisan
yang
menyajikan
 aneka
 macam
 tema.
 Mulai
 nude
 art
 sampai
 karya
 bernuansa
 spiritual
 akan
 kita
jumpai—simbol-simbol
yang
semoga
 a k a n 
 m e n g a n t a r 
 k i t a 
 p a d a 
 t a h a p
 mengapresiasi
 karya
 yang
 sebenarnya.
 Berbekal
 pengantar
 inilah
 selanjutnya
 kita
 akan
 menikmati
 karya-karya
 itu.
 Bahwa
 karya
 seni
 menjadi
 berharga
 karena
 nilainya,
 dan
 nilai
 itulah
 yang
 harus
kita
baca
dan
resapi. M.
Sifak
Suliswanto Kediri,
22
Juli,
2020


Rifkkivia
Rofik “Pesan
dari
Kegaiban” Oil
on
Moldy
Canvas
and
Eaten
by
Termites 40cm
x
45cm 2020


Lebih
 dikenal
 dengan
 panggilan
 Rofik,
 ia
 sendiri
 merupakan
 ketua
 angkatan
 Nawanata
 2019.
 Rofik
 ,sosok
 pria
 yang
 bertanggung
 jawab
 ini
 pun
 sama
 seperti
 beberapa
 teman
 lainnya
 yang
 belakangan
 ini
 juga
 aktif
 mengikuti
 pameranpameran.

Deskripsi
Karya

Karena
peradaban
atau
apa
 yang
menyebut
diri
 sebagai
 p e r a d a b a n 
 g e m a r
 menganggap
 semua
 yang
 alami
 sebagai
 keanehan"

­Multatuli 
 Dalam
 kondisi
 saat
 ini
 beberapa
 kegiatan
 terpaksa
 dihentikan
 sejenak,
 untuk
 waktu
 yang
 mungkin
 tak
 bisa
 ditebak.
Dari
situlah
kegiatan
yang
lebih
 intens
 terhadap
 suatu
 lingkungannya
 sendiri
 terjalin,sebagai
 wujud
 saling
 menjaga
dengan
membersihkan
diri
juga
 sekitarnya.
Tanpa
kita
sadari,
kita
telah
 begitu
 banyak
 membenahi
 diri
 dan
 bersiasat
 dalam
 pandemi
 ini
 yang
 didorong
 oleh
 rasa
 "rindu"
 akan
 kenormalan
seperti
dulu. 
 Karya
 saya
 kali
 ini
 "Pesan
 dari
 Kegaliban"
 mencoba
 memvisualkan
 tentang
 adanya
 suatu
 kehendak
 dari
 alam
yang
malah
terkadang
kita
anggap
 aneh
 dan
 mungkin
 juga
 ada
 yang
 berlebih
 hingga
 menganggapnya
 ini
 sebagai
 bencana.
 Padahal
 jika
 diambil
 sisi
 baiknya,
 saat
 ini
 kita
 lebih
 banyak
 berintrospeksi,
 bersiasat
 dan
 saling
 menjaga
 atas
 keadaan
 ini.
 Dari
 situlah
 s a y a 
 k e m b a l i 
 m e n g i n g a t 
 d a n
 membenarkan
 kata-kata
 Multatuli
 itu.

Dengan
 kanvas
 yang
 tak
 sengaja
 saya
temukan
pada
tumpukan
di
dalam
 gudang
 bersama
 kondisinya
 yang
 seperempat
 rusak
 dipangan
 oleh
 rayap
 dan
 jamur
 akibat
 tempat
 yang
 terlalu
 lembab
 dan
 figur
 seseorang
 yang
 membawa
 pohon
 dengan
 seperempat
 nyawanya
 itu
 saya
 simbolkan
 sebagai
 pandemi
 kali
 ini
 yang
 walaupun
 masih
 beberapa
 bulan
 namun
 terasa
 sangat
 lama.
 Saya
 ingin
 meneruskan
 siasat
 rindu
 saya
 akan
 keseimbangan
 dengan
 menyadarinya,
 berbenah
 dan
 tentunya
 saling
menjaga.


M.
Sifak
Suliswanto “Tawanan
Kegembiraan” Oil
on
Canvas 50cm
x
70cm 2020


M.
Sifak
Suliswanto,
lahir
di
Kediri,
31
Desember,
2000.
 Saat
 ini
 tengah
 menempuh
 pendidikan
 seni
 rupa
 di
 ISI
 Yogyakarta.
Aktif
menulis
dan
melukis.

Deskripsi
Karya

S

etiap
pecinta
adalah
tawanan
 dari
apa
yang
ia
cinta.
Secara
 p e n a m p a k a n , 
 l u k i s a n
 “Tawanan
 Kegembiraan”
 ini
 m e n g g a m b a r k a n 
 r o m a n
 klasik
 dari
 kasusastran
 Persia,
 Layla
 Majnun.
 Dalam
 terminologi
 tasawuf,
 cinta
 bisa
 bermakna
 vertikal
 dan
 horizontal
 sekaligus.
 Ambiguitas
 yang
 m e n u r u t 
 p e r u p a 
 b e r h a s i l
 menerjemahkan
 dzat
 Ilahi
 dengan
 bahasa
paling
bahagia.
Untuk
itu,
perupa
 mencoba
 mencitrakan
 lukisan
 ini
 s e b a g a i 
 h a s i l 
 p a n d a n g a n 
 d a n
 perenungan
spiritual. 
 Dalam
visualisasinya,
selain
simbol
 pecinta
 dan
 cintanya,
 sahaya
 dan
 Tuhannya,
yang
direpresentasikan
lewat
 pelukisan
figur
Qais
Majnun
dan
Layla.
 Perupa
 juga
 menambahkan
 gambar
 anak
 menjangan
 dalam
 dekapan
 dua
 objek
utama.
Hal
itu
merupakan
ilustrasi
 dalam
roman
Layla
Majnun
yang
ditulis
 Nizami
 Ganjavi
 (1141-1209),
 di
 mana
 Qais
dikisahkan
pernah
menyelamatkan
 seekor
 kijang
 dari
 jeratan
 pemburu
 karena
 kilat
 mata
 hewan
 itu
 yang
 mengingatkannya
pada
mata
Layla.
Dari
 situ
 perupa
 membaca,
 bila
 cinta
 dan
 kerinduan
 telah
 benar
 terbenam
 dalam
 hati,
 maka
 segala
 sesuatu
 akan
 tampak
 sebagai
wujud
sang
kekasih
dalam
mata
 pecinta.

Tajalli,
 istilah
 yang
 dipakai
 kaum
 sufi
untuk
menyebut
percik-percik
Ilahi
 dalam
 setiap
 ciptaan-Nya.
 Bagi
 Qais,
 kijang
 itu
 merupakan
 tajalli
 dari
 Layla,
 dan
bagi
para
darwis,
apa
yang
di
muka
 bumi
adalah
tajalli
dari
Tuhannya. 
 P e n g g u n a a n 
 w a r n a 
 c e r a h
 merepresentasikan
 kegembiraan,
 sedang
distorsi
pada
objek
dimaksudkan
 perupa
 sebagai
 perwakilan
 keluwesan
 dunia
 spiritual.
 Background
 berlatar
 landscape
tropis
dan
atribut
middle
east
 yang
 dikenakan
 figur
 utama
 adalah
 simbol
 orientalisme.
 Dengan
 kata
 lain,
 perupa
 ingin
 menyampaikan
 gagasan
 d a n 
 p e m i k i r a n n y a 
 y a n g 
 b e r l a t a r
 belakang
 dari
 falsafah
 dan
 kebudayaan
 bangsa
Timur
(Asia).


Gabrielle
Maria
Anna “Inner
Child” Acrylic
on
Canvas 50cm
x
40cm 2020


Gabrielle
 Maria
 Anna
 kerap
 dipanggil
 Bule
 dikalangan
 teman-temannya.
 Hal
 ini
 dikarenakan
 dirinya
 sendiri
 yang
 memiliki
 keturunan
 Eropa.
 Perempuan
 asal
 Yogyakarta
 ini
 menempuh
 pendidikan
 seni
 rupa
 di
 kampus
 ISI
 Yogyakarta.
 Selain
 ketertarikannya
 terhadap
 seni,
 Ia
 juga
 senang
 berpetualang
dan
merupakan
sosok
yang
tangguh.

Deskripsi
Karya

S

uatu
 tanggung
 jawab
 yg
 dirindukannya.
 kehadiran,
 kenyamanan
 dan
 ketulusan
 yang
 belum
 pernah
 dirasa
 sebelumnya.
 Bagaimana
 ia
 hidup
 dihantui
 rasa
 rindu
 yang
 belum
 pernah
 tercipta.
 dia
 sendiri
 yang
 mencipta
 kerinduannya,
 melihat
 apa
 yang
ingin
di
lihat,
merasa
apa
yang
ingin
 dirasa.
 dan
 malah
 melahirkan
 bayang
 yang
tak
terbayang.


Rochmat
Basuki “Kangen” Linocut
Print
on
Paper 21cm
x
30cm 2020


Berasal
 dari
 Gunung
 Kidul,
 Yogyakarta.
 Rochmat
 Basuki
 ini
 kerap
dipanggil
dengan
nama
Basuki
atau
Bas.
Ia
kerap
menjual
 kanvas
 kepada
 teman-teman
 luar
 kota
 yang
 kesulitan
 mencari
 penjual
 kanvas
 pada
 awal
 semester.
 Basuki
 masih
 menempuh
 pendidikan
seni
murni
di
kampus
ISI
Yogyakarta,
namun
karya
 grafisnya
kerap
telah
tdiakui
di
banyak
kalangan.

Deskripsi
Karya

M

ungkin
aku
tak
punya
musik
 untuk
 mengenang
 semua
 yang
telah
berlalu, atau
 mungkin
 puisi
 untuk
 m e n g u n g k a p k a n 
 r a s a

rinduku, bahkan
 sekedar
 perantara
 untuk
 menanyakan
kabarmu, a k u 
 t a k 
 p u n y a 
 a p a p u n 
 u n t u k
 melampiaskan
semua
itu, sungguh
aku
tak
punya... yang
 kupunya
 hanyalah
 keheningan
 bersama
 asap
 dan
 secangkir
 cairan
 hitam, sebagai
teman
ceritaku...


Ahmad
Labib
Fikri
Ash
Shidqy “Upgrade
Alam” Acrylic
on
Canvas 90cm
x
70cm 2020


Ahmad
 Labib
 Fikri
 Ash
 shidqy,
 Mahasiswa
 Institut
 Seni
 Indonesia
 Yogyakarta.
 Pria
 kelahiran
 Tulungagung
 tanggal
 19
 september
tahun
2000
ini
sangat
mahir
dalam
membuat
kaligrafi
 dan
lukisan
realis.

Deskripsi
Karya

K

e a d a a n 
 A l a m 
 s a a t 
 i n i
 sangatlah
 memprihatinkan.
 Hampir
 semua
 orang
 tidak
 memperhatikan
atau
berpikir
 u n t u k 
 m e r a w a t 
 d a n
 menjaganya.
 Karya
 ini
 saya
 buat
 untuk
 mengajak
 semua
 orang
 agar
 tersadar
 dengan
 keindahan
 alam
 yang
 perlu
 dijaga
dan
dirawat.
Maka
keadaan
alam
 yang
 seperti
 saat
 ini
 perlu
 diperbarui
 lagi.
Tidak
hanya
dalam
hal
tindakan
tapi
 juga
dalam
hal
spiritual.
Agar
alam
kita
 memberikan
kenyamanan
bagi
makhluk
 yang
 terlibat
 didalamnya,
 dan
 terlihat
 asri
kembali.


Faiha
Maghrista
B. “Jerawat
Rindu” Epoxy
Clay 10cm
x
9cm
x
1,5cm 2020


Faiha
 maghrista,
 wanita
 asal
 jogja
 yang
 dikenal
 selalu
 memakai
 celana
 batik
 setiap
 ke
 kampus
 akrab
 disapa
 dengan
 nama
Ista.
Merupakan
seorang
mahasiswi
jurusan
seni
murni
di
 Institut
 Seni
 Indonesia
 Yogyakarta.
 Sedang
 berusaha
 untuk
 menabung
ilmu,
agar
kelak
dapat
menjadi
salah
seorang
seniman
 perempuan
di
bidang
seni
patung.

Deskripsi
Karya

I

stilah
'Jerawat
Rindu'
kali
ini
 menginspirasi
 saya
 dalam
 membuat
 karya.
 istilah
 yang
 d i m a k s u d k a n 
 j i k a 
 a d a
 jerawat
yang
muncul
di
wajah
 seseorang,
 berarti
 ada
 yang
 sedang
 merindukannya.
 
 Rasa
 rindu
 tersebut
 muncul
dalam
bentuk
jerawat.
Inspirasi
 ini
juga
diperkuat
berdasarkan
peristiwa
 yang
 dialami
 beberapa
 teman
 saya.
 Mereka
 mengeluh
 karena
 banyaknya
 jerawat
 yang
 muncul
 di
 wajah
 mereka.
 Istilah
'Jerawat
Rindu'
ini
saya
kemas
ke

d a l a m 
 b e n t u k 
 k a r y a 
 d e n g a n 
 m e l a l u i
 kenampakan
 botol
 bekas
 kemasan
 pembersih
 wajah,
yang
diatasnya
terdapat
wajah
seorang
 pria
 yang
 sedang
 tersenyum
 walaupun
 wajahnya
 dipenuhi
 oleh
 'Jerawat
 Rindu'.
 Jerawat
 tersebut
 merupakan
 rasa
 rindu
 dari
 teman-temannya
 yang
 tidak
 dapat
 ditemui
 selama
masa
pandemi
Covid-19.
Menggunakan
 bahan
epoxy
clay,
dan
diwarnai
menggunakan
 cat
akrilik,
saya
berhasil
membuat
karya
ini.


Hudan
Sulthan “Untitled” Acrylic
on
Canvas 80cm
x
60cm 2020


Kerap
 disapa
 Sulthan,
 pria
 yang
 dikenal
 ekspresif
 dan
 ambisius
 dalam
 berkarya
 ini
 lahir
 pada
 9
 Desember
 2000.
 Merantau
 dari
 bukittinggi
 ke
 Yogyakarta
 demi
 melanjutkan
 studinya
di
Institut
Seni
Indonesia
(ISI)
Yogyakarta.

Deskripsi
Karya

A

euphoria


Gregorius
Pandu
Wijaya “Menanti
Kamajaya” Oil
on
Canvas 100cm
x
100cm 2020


Pria
kelahiran
Surakarta
ini
dikenal
dengan
misuhan
nya
 yang
tetap
terdengar
halus,
setelah
menyelesaikan
pendidikan
di
 SMA
 Pangudi
 Luhur
 Van
 Lith
 pada
 tahun
 2019,
 kemudian
 iasekarang
 sedang
 belajar
 dan
 berproses
 di
 Institut
 Seni
 Indonesia
(ISI)
Yogyakarta
jurusan

Deskripsi
Karya

S

e p e r t i 
 s e o r a n g 
 k e k a s i h ,
 dengan
 setia
 dan
 sabar
 hati,
 dirinya
 menanti
 Kamajaya.
 Saban
 malam,
 dalam
 polos
 dan
 bersih
 tubuhnya,
 ia
 menanti
 dan
 terus
 melihat
 ke
 atas,
 m e m o h o n 
 k e p a d a 
 Y a n g 
 M a h a
 P e n y a y a n g 
 u n t u k 
 m e n g a k h i r i
 penantiannya.
Ia
membiarkan
tubuhnya
 di
 selimuti
 dinginnya
 biru
 
 malam
 dan
 dihangatkan
 cahaya
 kuning
 
 matahari.
 T a n g a n 
 k a n a n n y a 
 m e l a y a n g k a n
 pandangan
 jauh,
 menerawang
 dan

berharap
Kamajaya
akan
ada
di
sana.
Ia
 mencintai
 Kamajaya
 dengan
 sepenuh
 hatinya,
dengan
eros,
philia,
dan
agape
 sepenuhpenuhnya.


Muhammad
Nur
Ikhsan “Rindu
Berlayar” Acrylic
on
Canvas 50cm
x
70cm 2020


Dipanggil
 dengan
 nama
 Ikhsan,
 pria
 asal
 Magelang
 ini
 adalah
 salah
 satu
 mahasiswa
 seni
 murni
 di
 kampus
 ISI
 Yogyakarta.
Ikhsan
dikenal
dengan
orang
yang
senang
bercanda
 dan
memiliki
sifat
lucu.
Karya-karyanya
memiliki
goresan
yang
 berbeda
dan
membuatnya
terlihat
lebih
khas.

Deskripsi
Karya

S

ore
waktu
itu,
di
pelabuhan... Begitu
padat,
perahu-perahu
 nelayan
bersandar,
berlabuh,
 lama... Diam,
tak
bergerak,
terlilit
tali,
terpaku
 jangkar... Begitu
rindu
berlayar... Rindu
bergoyangkan
ombak
lautan...


“Hal
terhebat
dalam
karya
tidak
datang
dari
 sebuah
kuas.
Ia
datang
dari
jiwa” –
Michael
Carini
–


Thanks
to

Terima
 kasih
 sebesar-besarnya
 atas
 bantuannya
 kepada
 Lutse
 Lambert
Daniel
Morin,
M.Sn.,
Satrio
Hari
Wicaksono,
M.Sn.,
Devy
Ika
 Nurjanah,
 S.Sn.,
 M.Sn.,
 AC
 Andre
 Tanama,
 M.Sn.,
 Opung
 Farhan,
 Guruh
 Ramdani,
 Alodia
 Yap,
 Lor
 band,
 Danang
 Nasution,
 Saltys
 Spitoons,
anggota
Nawanata,
dan
para
penulis
yang
terdiri
dari;
Meutia
 Swarna
 Maharani,
 Desi
 Sofianti,
 Awi
 Nasution,
 Tarisya
 Amalia,
 Anggieta
Maharani,
Maila
A.
Fainanita,
dan
M.
Sifak
Suliswanto,
serta
 sponsor
 dan
 media
 partner
 yang
 membantu
 kelancaran
 pameran
 virtual
ini.

Sponsored
by
:

Media
Partner
:

@chantfelicia





Turn static files into dynamic content formats.

Create a flipbook
Issuu converts static files into: digital portfolios, online yearbooks, online catalogs, digital photo albums and more. Sign up and create your flipbook.