4 minute read

OPENING

Next Article
THE PROJECT

THE PROJECT

WOMEN’S VISION

Lokasi Showroom Laflo

Advertisement

SHEERAH

Tak lama setelah Amerika menyerang Afghani- sebuah reportase tentang para arsitek perempuan dan stan pada 2001, saya memasuki negara itu peran mereka di dunia arsitektur. Tulisan tersebut melalui sisi Timur. Menaiki dan menuruni gu- diturunkan karena ada kekhawatiran akan dominasi nung berbatu, melintasi kota-kota yang sepa- pria yang masih terlalu kuat di profesi ini. ruh utuh, melewati pinggir jalanan jurang-gu- Merujuk pada survei yang dilakukan oleh American nung Khyber Pass yang runcing seperti taring monster raksasa. Institute of Architects, dua tahun lalu, diketahui bahwa

Setiap singgah di sebuah kota, hal pertama yang paling ada ketimpangan perlakuan gender di profesi ini. mencolok--selain soal beberapa puing--adalah ketidakhadiran “Women strongly believe that there is not gender equity in perempuan. Hampir semua manusia yang saya lihat di setiap the industry,” begitu salah satu kesimpulan penelitian kota adalah pria. Perempuan hanya muncul di kota besar se- tersebut di Amerika Serikat. Para arsitek perempuan digaji perti Kabul, itupun tenggelam dalam burqa biru. lebih rendah dari arsitek pria (dengan jabatan yang sama),

Sejak Taliban muncul (bahkan setelah mereka teng- dihambat promosi kariernya, diragukan kemampuannya gelam), perempuan memang disimpan dalam rumah, tak oleh klien, atau akses untuk masuk dalam komunitas boleh bekerja dan sekolah. Jika harus keluar, mereka harus dihambat. didampingi suami, ayah, atau anak laki-laki yang sudah mu- Kekhawatiran yang sama muncul dari negara yang lai besar. Seorang wartawan dari Eropa berkata, “Pantaslah juga demokratis dan maju, Inggris. Di sana jumlah arsitek mereka selalu berperang, pria terlalu dominan.” perempuan berkurang. Sebuah survey yang dilakukan

Asumsinya belum tentu benar. Tapi, mungkin tak ter- oleh The Guardian menunjukkan bahwa jumlah arsitek lalu salah. Kota-kota di Afghanistan adalah contoh ekstrem perempuan di firma-firma arsitek berkurang dari 28 persen dari dominasi tersebut. Dalam versi yang jauh lebih ringan, menjadi 21 persen antara 2009-2011. Hal ini dikarenakan kita bisa melihat dominasi pria di kota-kota manapun di mahasiswi arsitek menyusut dari tahun ke tahun. “For a dunia. Hampir semua kota di dunia dibangun oleh para woman to go out alone in architecture is still very, very hard,” kata pria, arsitek, kontraktor, desainer, planner, hingga tukang. arsitek Zaha Hadid yang meninggal dua tahun lalu. “It’s still a Mulai dari Thebes dan Luxor dari zaman Firaun Mesir, man’s world.” hingga New York dan London di masa modern. Demikian Yang menarik adalah sebuah survei yang dilakukan juga dengan Jakarta. oleh Dezeen.com beberapa waktu lalu. Dari survei tersebut

Mungkin hanya tiga kota yang dibangun oleh diketahui bahwa hanya 3 dari 100 firma arsitektur terbesar perempuan: Beth Horon Atas, Beth Horon Bawah, dan di dunia yang dipimpin oleh wanita. Uniknya, ketiganya ada Uzzen Sheerah yang dibangun oleh Sheerah, seorang di kawasan Skandinavia. Dari 100 itu, hanya dua firma yang perempuan yang diceritakan dalam Alkitab Ibrani. jumlah wanita dan pria di tim manajemennya sama. Tidak dijelaskan secara pasti seperti apa kota yang Sayangnya, tidak ada kajian detail tentang hal ini di dibangun oleh seorang wanita. Indonesia. Sejumlah arsitek yang kami hubungi mengatakan

Bulan lalu, dalam rangka memperingati Hari bahwa mereka tidak mengalami diskriminasi berdasarkan Perempuan Sedunia, CNN Online menurunkan gender dalam pekerjaan mereka. Hal yang sama juga muncul

saat kami menanyakannya kepada para desainer interior atau perempuan yang membangun kota-kota. Seperti apa landscaper yang berada dalam industri yang sama. kota-kota itu nantinya? Yang ditanyakan oleh Rustin

Meski demikian, itu tidak memastikan tidak adanya bukan bentuk bangunan di kota itu. Pertanyaannya ketidaksetaraan dalam industri ini. Sebuah kajian yang lebih bukan apakah nanti kota tersebut akan dipenuhi oleh mendalam diperlukan untuk memastikannya. Yang jelas bangunan-bangunan berkurva ala Zaha Hadid? arsitek Wendy Djuhara mengakui bahwa arsitektur masih Pertanyaan ini muncul karena, seperti kita tahu, dipandang sebagai dunia ‘patriarki’. dominasi pria dalam industri ini (arsitek, kontraktor,

“Arsitektur itu bidang yang berat untuk wanita. Arsitek desainer, dll) membuat kota-kota dibuat lewat mirip dengan pelari marathon, bukan sprinter. Arsitek kacamata para pria. Itu membuat ukuran kebutuhan memerlukan totalitas, 24 jam sehari, 7 hari seminggu. dan kenyamanan yang dipakai adalah ukuran dari Sementara wanita juga berperan sebagai ibu, punya anak sudut pandang pria. dan keluarga. Hal itu yang membuat arsitek wanita harus Salah satu contohnya adalah saat arsitek legendaris punya ketahanan lebih,” kata Wendy kepada Donny Amrin Le Corbusier menyatakan ide agar bangunan dan kota dari Home Living. dibuat dalam skala manusia (human scale), semua orang

Meski demikian, Wendy tidak pernah direndahkan setuju. Ia menamai proporsinya ini sebagai Modulor. oleh klien karena dia perempuan. Ia dan suaminya, Pintu, anak tangga, meja, kursi, atap, tiang, semuanya Ahmad Djuhara, selalu maju bersama ke klien di bawah harus dibuat dalam proporsi manusia hingga orang yang bendera Djuhara - Djuhara. Kadang konsep dan desain tinggal di dalamnya nyaman. Wendy yang dipilih, kadang desain suaminya. Masalahnya, “manusia” yang dimaksud oleh

Hal yang sama dikatakan oleh desainer interior Corbu adalah ukuran rata-rata pria Prancis, sekitar Rieska Achmad. “Hingga sekarang saya tidak merasakan 175 centimeter, bahkan kemudian diubah menjadi 183 itu. Belum ada klien yang gagal kontrak karena saya centimeter. Wendy Davis, salah seorang pendiri Women’s perempuan,” kata dia kepada Ninin Rahayu dari Home Design Service mempertanyakan proporsi ini. “Terus Living. terang saja, perempuan lebih pendek dari itu. Bagaimana

Perlakuan yang merendahkan tidak datang dari dengan anak-anak?” klien, tapi dari pekerja di lapangan. “Di dunia konstruksi Tentu, pendapat ini bisa dibantah dengan mengatakan yang kebanyakan pekerjanya laki-laki. Tidak jarang bawa kalau begitu tidak akan ada proporsi yang pas untuk ada tukang yang bersiul saat melihat arsitek wanita semua orang. Tentu saja itu betul, tapi jika arsitek atau di proyek,” kata Wendy. Untuk mengatasi hal seperti desainer perempuan lebih banyak, bahkan jumlahnya ini, landscaper Ira Puspa Kencana punya tips: “Kalau seimbang dengan pria, ada pertimbangan-pertimbangan kita tangguh dan pandai membawa diri, mereka juga tertentu untuk mengubah sedikit sudut pandang. Yang segan.” diserap oleh para pembangun ke dalam bangunan bukan

Di luar soal isu gender di atas, Susanna Rustin sekadar apa yang dibutuhkan oleh pria dan menjadikan pria menulis artikel menarik soal apa yang terjadi jika sebagai satu-satunya tolok ukur kenyamanan universal.

This article is from: