
3 minute read
DESIGNER
WENDY DJUHARA THE ARCHITECT IS A MARATHON RUNNER
WOMEN’S VISION / DESIGNER Saya dan suami pernah bekerja di PAI selama 10 tahun, sebuah biro desain dengan ratusan karyawan Teks Donny Amrin kala itu. Saat kami memutuskan untuk keluar dari PAI, kami juga memutuskan untuk membuat karakter desain kami sendiri, karakter biro kami sendiri. Waktu itu sekitar 2004-an kami belum punya kantor sendiri dan memutuskan untuk memulai sementara di rumah. Kebetulan di sebelah rumah ada lahan kosong. Kami membangun kantor kecil di situ dan terus bertahan
Advertisement
Wendy Djuahara mengakui jika hingga sekarang. arsitektur masih dipandang sebagai Pertimbangan lain kala itu adalah anak-anak. Ketika dunia ‘patriarki’. Arsitek lulusan saya bekerja sebagai orang kantoran saya berpikir, anakUniversitas Parahyangan, Bandung anak saya ditinggal seharian dengan pengurus rumah. ini adalah satu dari wanita Indonesia Setelah mulai kerja di rumah saya merasa lebih senang yang konsisten berkarya sebagai arsitek. Bersama dengan karena ketika anak-anak pulang dari sekolah, saya ada. Jika sang suami, Ahmad Djuhara, dia mendirikan biro arsitek mereka perlu apa-apa tinggal ke halaman sebelah. Saya Djuhara+Djuhara yang mereka jaga agar tetap sebagai merasa sangat beruntung bisa ada saat mereka tumbuh. biro kecil. Keputusan mendirikan biro desain sendiri juga Waktu itu usia mereka 12 dan 9 tahun. memberi kebahagiaan tersendiri bagi Wendy sebagai seorang ibu dengan dua anak. Sebagai arsitek wanita yang juga seorang ibu, bagaimana Anda melihat dunia arsitek?
Ada berapa orang di kantor Anda saat ini? Arsitektur itu bidang yang berat unuk wanita. Arsitek mirip
Selain saya dan suami, ada empat orang lain yang dengan pelari marathon, bukan sprinter. Arsitek memerlukan semuanya arsitek. Jadi kami berenam. Saya dan suami totalitas, 24 jam sehari, 7 hari seminggu. Sementara wanita juga juga mengerjakan semua urusan administrasi. Karena berperan sebagai ibu, punya anak dan keluarga. Hal itu yang itu kami tidak mau mengambil klien-klien besar atau membuat arsitek wanita harus punya ketahanan lebih. Belum pemerintahan yang perlu kelengkapan dan syarat lagi di dunia konstruksi yang kebanyakan pekerjanya laki-laki. administrasi yang banyak. Takutnya malah tidak Tidak jarang ada tukang yang bersiul saat melihat arsitek wanita di tertangani dengan baik. proyek. Tapi kita bisa melihat ada banyak nama arsitek wanita yang
Apa tidak ingin menjadi biro yang lebih besar? sukses sebagai arsitek, selain Zaha Hadid. Anne Tyng misalnya. Dia Jika melihat kualitas dan nama besar Anda berdua adalah arsitek wanita yang pernah bekerja di biro milik Louis Kahn. sebagai arsitek sepertinya sangat memungkinkan Banyak karya terbaik Kahn yang sangat dipengaruhi pemikirannya, untuk menarik klien dan arsitek-arsitek muda tapi namanya tidak pernah tercantum sebagai arsitek bangunan untuk bekerja di tempat Anda? tersebut.
Foto Budi Surachmat
Anda dan suami juga bekerjasama sebagai arsitek dalam satu biro. Apakah ada klien yang lebih memilih diarsiteki oleh Ahmad Djuhara, sebagai arsitek pria, dibanding Anda?
Kami selalu maju berdua ke klien karena karakter saya dan mas Djuahara berbeda. Kita tidak tahu klien akan lebih cocok dengan siapa. Pernah suatu kali ada klien yang minta bertemu karena tertarik dengan salah satu karya mas Djuhara. Ketika kami presentasikan portfolio Djuhara+Djuhara, klien itu memilih satu karya yang dia suka. Ternyata itu desain saya. Maka saya yang jadi arsitek untuk klien itu. Pernah juga sebaliknya. Kadang saya dan mas Djuhara mendesain masing-masing dan mengajukan ke klien sebagai alternatif satu dan dua. Lalu klien memilih.
Bagaimana Anda dan suami membagi waktu kerja dan waktu pribadi?
Iya benar. Agak sulit membedakannya. Kadang tengah malam saya atau suami baru terpikir ide atau solusi baru yang sepertinya akan keren. Maka kami membahasnya dengan antusias. Kami tidak menganggapnya sebagai kerjaan karena kami menikmatinya. Saya baca apa, nanti saya share ke dia. Dia belajar apa, nanti diceritakan ke saya. Jadi kami ada percepatan ilmu.
Apa memang hanya arsitek yang bisa memahami dunia arsitek, maka Anda berdua cocok?
Tidak juga. Banyak arsitek yang punya pasangan berprofesi lain dan cocok-cocok saja. Tapi dulu waktu kuliah mas Djuhara pernah bilang; Kita salah main. Mainnya sama arsitek lagi. Jadi bertemunya dia lagi-dia lagi. Habis mau bagaimana? Yang mengerjakan tugas sampai bergadang ya mahasiswa arsitek. Mahasiswa jurusan lain sudah tidur.
Kedua anak Anda mengambil jurusan arsitektur. Apakah juga akibat dari lingkungan ‘bertemunya dia lagi’ dengan kedua orang tua yang arsitek?
Sebenarnya kami tidak pernah mengarahkan anak-anak jadi arsitek. Kami memang sering mengajak mereka kalau ada acara open house arsitek, atau traveling ala saya dan suami yang ‘arsitektural’. Karena sejak kuliah dulu kami memang sering jalan-jalan sambil bikin penelitian arsitektur. Mungkin di bawah sadar anak-anak kami tertanam hal-hal yang indah tersebut.
Shining Stars Bintaro (atas).
Widjanarko House (bawah).

Foto Tony Djohan
