LPP

Page 1

LAPORAN PEREKONOMIAN PROVINSI SUMATERA SELATAN

NOVEMBER 2020


Visi Bank Indonesia Menjadi bank sentral digital terdepan yang berkontribusi nyata terhadap perekonomian nasional dan terbaik di antara negara emerging markets untuk Indonesia maju.

Misi Bank Indonesia 1.

Mencapai dan memelihara stabilitas nilai Rupiah melalui efektivitas kebijakan moneter dan bauran kebijakan Bank Indonesia.

2.

Turut menjaga stabilitas sistem keuangan melalui efektivitas kebijakan makroprudensial Bank Indonesia dan sinergi dengan kebijakan mikroprudensial Otoritas Jasa Keuangan.

3.

Turut mengembangkan ekonomi dan keuangan digital melalui penguatan kebijakan sistem pembayaran Bank Indonesia dan sinergi dengan kebijakan Pemerintah serta mitra strategis lain.

4.

Turut mendukung stabilitas makroekonomi dan pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan melalui sinergi bauran kebijakan Bank Indonesia dengan kebijakan fiskal dan reformasi struktural pemerintah serta kebijakan mitra strategis lain.

5.

Turut meningkatkan pendalaman pasar keuangan untuk memperkuat efektivitas

6.

Turut mengembangkan ekonomi dan keuangan syariah di tingkat nasional hingga di

7.

Mewujudkan bank sentral berbasis digital dalam kebijakan dan kelembagaan

kebijakan Bank Indonesia dan mendukung pembiayaan ekonomi nasional. tingkat daerah. melalui penguatan organisasi, sumber daya manusia, tata kelola dan sistem informasi yang handal, serta peran internasional yang proaktif.

Visi Kantor Perwakilan Bank Indonesia Menjadi Kantor Perwakilan Bank Indonesia yang kredibel dalam mendukung Kebijakan Bank Indonesia dan berkontribusi secara nyata bagi pembangunan ekonomi daerah dan nasional.

Misi Kantor Perwakilan Bank Indonesia Menjalankan kebijakan Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas nilai Rupiah, stabilitas sistem keuangan, efektivitas Pengelolaan Uang Rupiah dan kehandalan Sistem Pembayaran untuk mendukung pembangunan ekonomi daerah maupun nasional jangka panjang yang inklusif dan berkesinambungan.

ii

LAPORAN PEREKONOMIAN PROVINSI SUMATERA SELATAN NOVEMBER 2020


KATA PENGANTAR Segala puji dan syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena berkat rahmat dan karunia-Nya kami dapat menyusun “Laporan Perekonomian Provinsi Sumatera Selatan Edisi November 2020� ini tepat pada waktunya. Buku ini diharapkan dapat memenuhi kebutuhan para pemangku kepentingan baik internal maupun eksternal Bank Indonesia mengenai perkembangan ekonomi, moneter, perbankan, keuangan, dan sistem pembayaran di Provinsi Sumatera Selatan. Perekonomian Sumatera Selatan triwulan III 2020 membaik dari triwulan sebelumnya. Kontraksi pertumbuhan ekonomi Sumatera Selatan berkurang menjadi 1,40% (yoy) dari sebelumnya sebesar 1,53% (yoy) atau secara triwulanan tumbuh sebesar 4,12% (qtq). Dari sisi permintaan, perbaikan PDRB disebabkan oleh membaiknya hampir seluruh komponen penyusun pertumbuhan ekonomi sisi permintaan. Konsumsi rumah tangga, investasi dan ekspor luar negeri sebagai pangsa utama membaik sebagai dampak meredanya dampak pandemi terhadap pandemi. Dari sisi penawaran, lapangan usaha (LU) yang terkait penanganan COVID-19 dan aktivitas new normal mendorong perbaikan ekonomi di tengah kontraksi LU utama. Dari sisi inflasi, meningkatnya aktivitas ekonomi dan masyarakat juga mulai terlihat dari realisasi inflasi yang masih positif yaitu sebesar 1,01% (yoy), meskipun masih berada di bawah target nasional yang sebesar 3% + 1% (yoy). Dalam kesempatan ini kami juga mengucapkan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah berkontribusi dalam memberikan data dan informasi yang kami perlukan antara lain Pemerintah Daerah Provinsi Sumatera Selatan, Badan Pusat Statistik (BPS), perbankan, akademisi, dan instansi pemerintah lainnya. Harapan kami, kerja sama yang baik selama ini dapat terus berlanjut dan ditingkatkan lagi pada masa mendatang. Kami menyadari bahwa cakupan dan analisis dalam Laporan Perekonomian Provinsi Sumatera Selatan ini masih jauh dari sempurna. Berbagai saran, kritik dan dukungan informasi/data dari Bapak/Ibu sekalian sangat kami harapkan guna peningkatan kualitas dari laporan ini. Semoga Tuhan Yang Maha Esa senantiasa melimpahkan berkah dan karunia-Nya, serta memberikan kemudahan kepada kita semua dalam upaya menyumbangkan pemikiran untuk pengembangan ekonomi regional khususnya dan pengembangan ekonomi nasional pada umumnya. Akhir kata, kami berharap Laporan Perekonomian Provinsi Sumatera Selatan Edisi November 2020 ini bermanfaat bagi bangsa dan negara Indonesia.

Palembang, November 2020 KANTOR PERWAKILAN BANK INDONESIA PROVINSI SUMATERA SELATAN

Hari Widodo Direktur KANTOR PERWAKILAN BANK INDONESIA PROVINSI SUMATERA SELATAN

iii



Daftar Isi

KATA PENGANTAR

iii

DAFTAR ISI

vii

DAFTAR TABEL

viii

DAFTAR GRAFIK

x

INDIKATOR UTAMA

xiv

RINGKASAN UMUM

xviii

BAB II PERKEMBANGAN EKONOMI MAKRO REGIONAL 1.1

Perkembangan Ekonomi Makro Regional Secara Umum

2

1.2

Perkembangan Ekonomi Sisi Penggunaan

3

1.2.1

Konsumsi Rumah Tangga dan Pemerintah

4

1.2.2

Pembentukan Modal Tetap Domestik Bruto (PMTB)/Investasi

6

1.2.3

Ekspor Luar Negeri

8

1.2.4

Impor Luar Negeri

10

1.3

Perkembangan Ekonomi Menurut Lapangan Usaha

11

1.3.1

Lapangan Usaha Industri Pengolahan

12

1.3.2

Lapangan Usaha Pertambangan dan Penggalian

13

1.3.3

Lapangan Usaha Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan

14

1.3.4

Lapangan Usaha Perdagangan Besar dan Eceran, dan Reparasi

14

Mobil dan Sepeda Motor Lapangan Usaha Konstruksi

15

Boks A Optimisme Konsumen Melemah

17

1.3.5

BAB II PERKEMBANGAN KEUANGAN DAERAH 2.1

Gambaran Umum

20

2.2

APBD Wilayah Provinsi Sumatera Selatan

20

2.2.1

Realisasi Pendapatan APBD Pemerintah Daerah se-Provinsi

20

Sumatera Selatan 2.2.2

Realisasi Belanja APBD Pemerintah Daerah se-Provinsi Sumatera

22

Selatan 2.3

APBN Provinsi Sumatera Selatan

23

2.4

Derajat Desentralisasi Fiskal Provinsi Sumatera Selatan

23

2.5

Realokasi dan Refocusing Anggaran Pasca Pandemi COVID-19

24

KANTOR PERWAKILAN BANK INDONESIA PROVINSI SUMATERA SELATAN

v


BAB III PERKEMBANGAN INFLASI 3.1

Inflasi Secara Umum

30

3.2

Perkembangan Inflasi Bulanan

31

3.3

Inflasi Menurut Kelompok Pengeluaran

33

3.3.1

Kelompok Makanan, Minuman dan Tembakau

33

3.3.2 Kelompok Pakaian dan Alas Kaki

34

3.3.3 Kelompok Perumahan, Air, Listrik, Gas dan

34

Bahan Bakar Lainnya 3.3.4 Kelompok Perlengkapan, Peralatan dan

35

Pemeliharaan Rutin Rumah Tangga 3.3.5 Kelompok Kesehatan

35

3.3.6 Kelompok Transportasi

36

3.3.7 Kelompok Informasi, Komunikasi dan Jasa

36

Keuangan 3.3.8 Kelompok Rekreasi, Olahraga dan Budaya

37

3.3.9 Kelompok Pendidikan

37

3.3.10 Kelompok Penyediaan Makanan dan

38

Minuman/Restoran 3.3.11 Kelompok Perawatan Pribadi dan Jasa Lainnya

38

3.4

Analisis Inflasi Spasial

39

3.4.1

Kota Palembang

39

3.4.2 Kota Lubuklinggau

40

3.5

Kondisi Harga Pangan di Pasar Internasional

40

3.6

Tracking Inflasi Triwulan III 2020

41

3.7

Upaya Pengendalian Inflasi

42

BAB IV STABILITAS KEUANGAN DAERAH DAN PENGEMBANGAN USAHA MIKRO KECIL DAN MENENGAH 4.1

Kondisi Umum

44

4.1.1

Perkembangan Penghimpunan Dana Pihak

45

Ketiga 4.1.2

Penyaluran Kredit

45

4.1.3

Perkembangan Suku Bunga

48

4.2

Ketahanan Sektor Rumah Tangga

49

4.2.1

Kinerja Sektor Rumah Tangga

49

4.2.2

Kredit Perseorangan di Perbankan

50

4.3

Ketahanan Sektor Korporasi

51

4.3.1

Kinerja Sektor Korporasi

51

4.3.2

Dana Pihak Ketiga Sektor Korporasi di

52

Perbankan 4.3.3

Kredit Sektor Korporasi

52

4.4

Perkembangan Kegiatan UMKM di

54

Sumatera Selatan Boks B

Strategi Perbankan Menghadapi Era Adaptasi Kebiasaan Baru

vi

LAPORAN PEREKONOMIAN PROVINSI SUMATERA SELATAN NOVEMBER 2020

57


BAB V PENYELENGGARAAN SISTEM PEMBAYARAN DAN PENGELOLAAN UANG RUPIAH

BAB VII PROSPEK PERTUMBUHAN EKONOMI DAN INFLASI DAERAH

5.1

7.1

Prospek Pertumbuhan Ekonomi

82

7.2

Prospek Inflasi

84

7.3

Rekomendasi

84

Perkembangan Sistem Pembayaran Tunai

62

dan Pengelolaan Uang Rupiah 5.2

Perkembangan Sistem Pembayaran Non

63

Tunai 5.2.1

Transaksi SKNBI dan BI-RTGS

63

5.2.2

Perkembangan Tolakan Transaksi Cek/BG

64

5.2.3

Perkembangan Alat Pembayaran

65

Menggunakan Kartu 5.3

Perkembangan Transaksi Elektronifikasi dan

66

Daftar Istilah

88

Tim Penyusun

92

E-commerce 5.4

Kegiatan Penukaran Valuta Asing Bukan

70

B a n k ( K U P VA B B ) B e r i z i n d a n Penyelenggaraan Transfer Dana Bukan Bank (PTD BB) Boks C P e n e r b i t a n U a n g P e r i n g a t a n

72

Kemerdekaan 75 Tahun Republik Indonesia

BAB VI PERKEMBANGAN KETERNAGAKERJAAN DAN KESEJAHTERAAN DAERAH 6.1

Kondisi Kesejahteraan

76

6.2

Kemiskinan

77

6.2.1

Perubahan Garis Kemiskinan

78

6.2.2

Ketimpangan Pendapatan

78

KANTOR PERWAKILAN BANK INDONESIA PROVINSI SUMATERA SELATAN

vii


Daftar Tabel 4

Tabel 1.1

Andil Pertumbuhan Ekonomi Sumatera

31

Tabel 3.1

Selatan 2018-2020 (%yoy) 4 5

dan Deflasi Provinsi Sumatera Selatan

Tabel 1.2 Pertumbuhan Ekonomi Sumatera

32

Tabel 3.2

Andil Inflasi Bulanan Per Komoditas

Selatan Sisi Pengeluaran (%yoy)

33

Tabel 3.3

Andil Deflasi Bulanan Per Komoditas

Tabel 1.3 Hasil Survei Konsumen Provinsi

33

Tabel 3.4

Inflasi Provinsi Sumatera Selatan

Sumatera Selatan 11

Triwulan II-2020 Berdasarkan Kelompok

Tabel 1.4 Perkembangan Nilai Impor Komoditas Utama Provinsi Sumatera Selatan

Pengeluaran 39

Tabel 3.5

(jutaUS$) 12

Tabel 1.5 Laju Pertumbuhan Tahunan Sektoral 2010 (%yoy)

40

Tabel 3.6

41

Tabel 3.7

48

Tabel 4.1

Wilayah di Provinsi Sumatera Selatan

Daerah se-Provinsi Sumatera Selatan

(dalam Rp miliar) 55

Tabel 4.2

(Rp miliar) 22

23

25

2020 55

Tabel 4.3

Bank Indonesia Provinsi Sumatera

2020 (Rp Miliar)

Selatan

Tabel 2.4 Alokasi APBN Provinsi Sumatera Selatan

56

Tabel 4.4

Pengembangan Ekonomi Lokal di

Tahun 2020 (Rp Miliar)

Sumatera Selatan

Tabel 2.5 Perubahan Pagu Belanja Modal

64

Tabel 5.1

Perkembangan Transaksi RTGS Provinsi Sumatera Selatan

Selatan Tahun Anggaran 2020

68

Tabel 5.2

Transaksi Penggunaan Uang Elektronik

Tabel 2.6 Perubahan Pagu DAK Fisik Provinsi

77

Tabel 6.1

Penghasilan Konsumen Terhadap

Tabel 2.7 Alokasi Cadangan DAK Fisik Provinsi Sumatera Selatan Tahun Anggaran 2020

viii

Kegiatan Pengembangan UMKM dan

Triwulan II Tahun 2019 dan Triwulan II

Sumatera Selatan Tahun Anggaran 2020 26

Program UMKM Ketahanan Pangan

Selatan Triwulan II Tahun 2019 dan Tahun

Infrastruktur K/L Provinsi Sumatera 25

Proporsi Penyaluran Kredit UMKM Berdasarkan Sektor Ekonomi Triwulan II

Tabel 2.3 Anggaran dan Realisasi Belanja Pemerintah Daerah Provinsi Sumatera

Perkembangan Penyaluran Kredit/Pembiayaan Perbankan per

Tabel 2.2 Realisasi Pendapatan APBD Pemerintah Triwulan II Tahun 2019 dan Tahun 2020

Perkembangan Harga Komoditas Internasional

Per Triwulan II-2020 21

Inflasi Kota Lubuklinggau Berdasarkan Kelompok Pengeluaran

Tabel 2.1 Komponen Anggaran Keuangan Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan

Inflasi Kota Palembang Berdasarkan Kelompok Pengeluaran

PDRB Provinsi Sumatera Selatan ADHK 20

Komoditas Utama Penyumbang Inflasi

LAPORAN PEREKONOMIAN PROVINSI SUMATERA SELATAN NOVEMBER 2020

Penghasilan Saat Ini Dibandingkan 6 Bulan Yang Lalu Triwulan II 2020


77

Tabel 6.2

Penghasilan Konsumen Terhadap Penghasilan 6 Bulan YAD Triwulan II 2020

77

Tabel 6.3

Jumlah dan Persentase Penduduk Miskin

78

Tabel 6.4

Perkembangan Garis Kemiskinan Provinsi Sumatera Selatan

83

Tabel 7.1

Global Economic Outlook

83

Tabel 7.2

Volume Perdagangan Internasional

KANTOR PERWAKILAN BANK INDONESIA PROVINSI SUMATERA SELATAN

ix


Daftar Grafik 3

Grafik 1.1

PDRB dan Laju Pertumbuhan Tahunan

9

Grafik 1.15

PDRB Provinsi Sumatera Selatan ADHK 2010 3

Grafik 1.2

Sumatera Selatan 9

Grafik 1.16

PDRB dan Laju Pertumbuhan Triwulanan PDRB Provinsi Sumatera

Grafik 1.3

Indeks Konsumsi Barang Kebutuhan

9

Grafik 1.17

Perkembangan Nilai Ekspor Kelapa Sawit Sumatera Selatan

9

Grafik 1.18

Tahan Lama Survei Konsumen Bank Indonesia

Perkembangan Nilai Ekspor Batubara Sumatera Selatan

Selatan ADHK 2010 5

Perkembangan Nilai Ekspor Karet

Perkembangan Nilai Ekspor Pulp dan Kertas Sumatera Selatan

10

Grafik 1.19

Pangsa Ekspor Luar Negeri Sumatera

5

Grafik 1.4

Perkembangan Nilai Tukar Rupiah

Selatan Berdasarkan Nilai Ekspor

5

Grafik 1.5

Pertumbuhan Kredit Konsumsi

Triwulan II 2020

Sumatera Selatan 6

Grafik 1.6

10

Grafik 1.20

Realisasi Belanja APBD Sumatera Selatan Triwulan II 2019 dan Triwulan II

Berdasarkan Nilai Ekspor Triwulan II 2020 11

Grafik 1.21

2020 6

Grafik 1.7

Realisasi Belanja APBN di Wilayah Triwulan II 2020

7

Grafik 1.8 Grafik 1.9

11

Grafik 1.22

11

Grafik 1.23

Selatan Berdasarkan Negara Asal

Sumatera Selatan

Triwulan II 2020

Perkembangan PMA Wilayah Sumatera

11

Grafik 1.24

8

Grafik 1.25

12

Grafik 1.26

Likert Scale Kapasitas Utilisasi Pelaku Usaha di Sumatera Selatan

13

Grafik 1.27

Penyaluran Kredit Sektor Industri Pengolahan Sumatera Selatan

13

Grafik 1.28

Grafik 1.14 Perkembangan Harga Komoditas Internasional

Likert Scale Penjualan Ekspor Pelaku Usaha di Sumatera Selatan

Grafik 1.13 Perkembangan Volume Ekspor Impor Sumatera Selatan

8

12

Grafik 1.12 Perkembangan Ekspor Sumatera Selatan

8

2020

Perkembangan PDRB Komponen Ekspor Luar Negeri Sumatera Selatan

Pangsa Impor Provinsi Sumatera Selatan Berdasarkan Negara Asal Triwulan II

Grafik 1.10 Volume Penjualan Semen di Sumatera Grafik 1.11

Perkembangan Impor Provinsi Sumatera

Perkembangan PMDN Wilayah

Selatan 8

Perkembangan Volume Impor Provinsi Sumatera Selatan

Selatan 7

Perkembangan Nilai Impor Provinsi Sumatera Selatan

Sumatera Selatan Triwulan II 2019 dan 7

P a n g s a N e g a r a Tu j u a n E k s p o r

Likert Scale Perubahan Harga Jual Pelaku Usaha di Sumatera Selatan

13

Grafik 1.29

Penyaluran Kredit Sektor Pertambangan dan Penggalian Sumatera Selatan

x

LAPORAN PEREKONOMIAN PROVINSI SUMATERA SELATAN NOVEMBER 2020


14

Grafik 1.30

Penyaluran Kredit Sektor Pertanian,

30

Grafik 3.1

Kehutanan, dan Perikanan 15

Grafik 1.31

Likert Scale Penjualan Domestik Pelaku

Sumatera, dan Nasional 30

Grafik 3.2

Usaha di Sumatera Selatan 15

Grafik 1.32

Likert Scale Persediaan Pelaku Usaha di

Grafik 1.33

34

Grafik 3.3

15

Grafik 1.34 Grafik 1.35

Bulanan 34

Grafik 3.4

dan Tembakau per Subkelompok

Penyaluran Kredit Sektor Konstruksi

Pengeluaran 34

Grafik 3.5

Sumber Pertumbuhan Ekonomi Sektoral Provinsi Sumatera Selatan Triwulan II 2020

Grafik 2.1 Struktur Anggaran Belanja Keuangan

34

Grafik 3.6

35

Grafik 3.7

24

26

26

Grafik 2.3

Grafik 2.4

Grafik 2.5

Tingkat Ketergantungan Daerah (Derajat

Grafik 2.6

Tahunan dan Bulanan 35

Grafik 3.8

Inflasi Kelompok Perumahan Air, Listrik,

Desentralisasi Fiskal) Provinsi Sumsel TW

Gas dan Bahan Bakar Lainnya per

II 2020

Subkelompok Pengeluaran

Perubahan Pagu Belanja K/L Per Jenis

35

Grafik 3.9

Inflasi Kelompok Perlengkapan,

Belanja Akibat Realokasi dan Refocusing

Peralatan dan Pemeliharaan Rutin RT

Tahun 2020

secara Tahunan dan Bulanan

Total Penyaluran Bantuan langsung Tunai

35

Grafik 3.10

Inflasi Kelompok Kelompok

(BLT) Provinsi Sumatera Selatan Tahun

Perlengkapan, Peralatan dan

2020

Pemeliharaan Rutin RT per

Total Penyaluran Bantuan Langsung Tunai (BLT) Secara Spasial Per Kabupaten/Kota

27

Inflasi Kelompok Perumahan Air, Listrik, Gas dan Bahan Bakar Lainnya secara

Triwulan II-2020 (Rp Miliar) Grafik 2.2

Inflasi Kelompok Pakaian dan Alas Kaki per Subkelompok Pengeluaran

Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan 24

Inflasi Kelompok Pakaian dan Alas Kaki secara Tahunan dan Bulanan

(%-yoy) 20

Inflasi Kelompok Makanan, Minuman

Sepeda Motor Sumatera Selatan Sumatera Selatan 16

Inflasi Kelompok Makanan, Minuman, dan Tembakau secara Tahunan dan

Penyaluran Kredit Sektor Perdagangan dan Eceran dan Reparasi Mobil dan

Inflasi Provinsi di Regional Sumatera Periode Triwulan II-2020

Sumatera Selatan 15

Perkembangan Inflasi Sumatera Selatan,

Subkelompok Pengeluaran 36

Grafik 3.11

Alokasi Anggaran dan Realisasi Pencegahan dan/atau Penanganan

Tahunan dan Bulanan 36

Grafik 3.12

COVID-19 dalam APBD Provinsi dan Kabupaten/Kota Sumatera Selatan Tahun Anggaran 2020

Inflasi Kelompok Kesehatan secara Inflasi Kelompok Kesehatan per Subkelompok Pengeluaran

36

Grafik 3.13

Inflasi Kelompok Transportasi secara Tahunan dan Bulanan

KANTOR PERWAKILAN BANK INDONESIA PROVINSI SUMATERA SELATAN

xi


36

Grafik 3.14

Inflasi Kelompok Transportasi per

41

Grafik 3.28 P e r k e m b a n g a n H a r g a J a g u n g

Subkelompok Pengeluaran 37

Grafik 3.15

Inflasi Kelompok Informasi, Komunikasi

Internasional 44

Grafik 4.1 Perkembangan Pertumbuhan DPK

dan Jasa Keuangan secara Tahunan dan Bulanan 37

Grafik 3.16

Grafik 3.17 Grafik 3.18 Grafik 3.19

44

Grafik 4.3

45

Grafik 4.4

Inflasi Kelompok Rekreasi, Olahraga dan 45

Grafik 4.5

Inflasi Kelompok Pendidikan secara 46

Grafik 4.6

Grafik 3.22

Inflasi Kelompok Penyediaan Makanan

46

Grafik 4.7

38

Grafik 3.23

46

Grafik 4.8

46

Grafik 4.9

Grafik 3.24

Inflasi Kelompok Perawatan Pribadi dan

47

Grafik 4.10

Pengeluaran Grafik 3.25

47

Grafik 4.11

41

48

Grafik 4.12

41

Grafik 3.27

48

Grafik 4.13

Perkembangan NPL Kredit Berdasarkan Lapangan Usaha di Sumatera Selatan

49

Grafik 4.14

Perkembangan Suku Bunga Simpanan di Sumatera Selatan

49

Grafik 4.15

Pe r ke m b a n g a n H a rg a G a n d u m Internasional

Perkembangan NPL Kredit Berdasarkan Jenis Penggunaan

Grafik 3.26 P e r ke m b a n g a n H a rg a Ke d e l a i Internasional

Perkembangan Pertumbuhan Kredit Perbankan per Sektor

Perkembangan Inflasi Kota Sampel Perhitungan Inflasi

Pangsa Kredit Perbankan Sumatera Selatan Berdasarkan Lapangan Usaha

Jasa Lainnya per Subkelompok 39

Perkembangan Kredit Investasi Berdasarkan Sektoral

Bulanan 38

Perkembangan Kredit Modal Kerja Berdasarkan Sektoral

Inflasi Kelompok Perawatan Pribadi dan Jasa Lainnya secara Tahunan dan

Perkembangan Pertumbuhan Kredit Perbankan di Sumatera Selatan

dan Minuman/Restoran per Subkelompok Pengeluaran

Perkembangan Kredit Perbankan di Sumatera Selatan

dan Bulanan 38

Perkembangan Pertumbuhan DPK Perbankan di Sumatera Selatan

Inflasi Kelompok Penyediaan Makanan dan Minuman/Restoran secara Tahunan

Pe r ke m b a n g a n Ko m p o s i s i D P K Perbankan di Sumatera Selatan

Grafik 3.20 Inflasi Kelompok Pendidikan per Grafik 3.21

Perkembangan Rasio Biaya Operasional Perbankan di Sumatera Selatan

Subkelompok Pengeluaran 38

(LDR) Perbankan di Sumatera Selatan

Inflasi Kelompok Rekreasi, Olahraga dan

Tahunan dan Bulanan 38

Perkembangan Rasio Loan to Deposit

terhadap Pendapatan Operasional

Budaya per Subkelompok Pengeluaran 37

Grafik 4.2

Pengeluaran Budaya secara Tahunan dan Bulanan 37

44

Inflasi Kelompok Informasi, Komunikasi dan Jasa Keuangan per Subkelompok

37

Perbankan Sumatera Selatan

Perkembangan Suku Bunga Kredit di Sumatera Selatan

49

Grafik 4.16

Indeks Keyakinan Konsumen Rumah Tangga di Sumatera Selatan

xii

LAPORAN PEREKONOMIAN PROVINSI SUMATERA SELATAN NOVEMBER 2020


49

49

Grafik 4.17

Grafik 4.18

Persepsi Rumah Tangga Sumatera

54

Grafik 4.32

Selatan terhadap Kondisi Ekonomi Saat

Kredit, dan Risiko Perdagangan Besar

ini

dan Eceran

Persepsi Rumah Tangga Sumatera

54

Grafik 4.33

Selatan terhadap Kondisi Ekonomi 6 Bulan yang Akan Datang 50 50

Grafik 4.19

54

Grafik 4.34

Kredit, dan Risiko Industri Pertambangan

Ketiga Perseorangan Sumatera Selatan

dan Penggalian 55

Grafik 4.35

Perkembangan Komposisi Kredit Rumah

Grafik 4.22

Perkembangan Pertumbuhan Kredit

55

Grafik 4.36 Proporsi Penggunaan Kredit UMKM Triwulan II 2020

62

Grafik 5.1 Aliran Uang dalam Rangka Kegiatan Kas

Rumah Tangga Sumatera Selatan 51

Grafik 4.23

Perkembangan NPL Kredit Rumah

Titipan di Provinsi Sumatera Selatan 62

Grafik 5.2

Tangga Sumatera Selatan 52

Grafik 4.24

Likert Scale Penjualan dan Perkiraan

Grafik 4.25

Likert Scale Investasi dan Perkiraan

63

Grafik 5.3

Grafik 4.26 Pe r ke m b a n g a n Ko m p o s i s i D P K

Grafik 5.4

Grafik 4.27

Perkembangan Pertumbuhan DPK

64

Grafik 5.5

Grafik 4.28 Perkembangan Kredit Korporasi

64

Grafik 5.6

Grafik 4.29 Pangsa Kredit Korporasi Sumatera

64

Grafik 5.7

53

65

Grafik 5.8

Jumlah Peredaran Warkat Cek dan BG Kosong

65

Grafik 5.9

Jumlah Nominal Kartu ATM/D

Kredit, dan Risiko Industri Pengolahan

65

Grafik 5.10

Volume Transaksi Kartu ATM/D

Perkembangan Pertumbuhan Ekonomi,

65

Grafik 5.11

Pangsa Transaksi ATM/D

Kredit, dan Risiko Industri Pertanian,

65

Grafik 5.12

Jumlah Kartu ATM/D

Kehutanan, dan Perikanan

66

Grafik 5.13

Jumlah Nominal Kartu Kredit

66

Grafik 5.14

Volume Transaksi Kartu Kredit

Grafik 4.30 Perkembangan Pertumbuhan Ekonomi, Grafik 4.31

Jumlah Nominal Cek dan Bilyet Giro Kosong

Selatan 53

Perkembangan Volume RTGS Sumatera Selatan

Sumatera Selatan 53

Perkembangan Transaksi RTGS Sumatera Selatan

Korporasi Sumatera Selatan 53

Perkembangan Jumlah Warkat Transaksi Kliring di Sumatera Selatan

Korporasi Sumatera Selatan 52

Perkembangan Transaksi Kliring Sumatera Selatan

63

Investasi 52

Pemusnahan Uang Lusuh di Provinsi Sumatera Selatan

Penjualan 52

Perkembangan Pertumbuhan Kredit UMKM di Sumatera Selatan

Tangga Sumatera Selatan 51

Perkembangan Pertumbuhan Ekonomi,

Perkembangan Komposisi Dana Pihak

Grafik 4.20 Perkembangan Pertumbuhan DPK Grafik 4.21

Perkembangan Pertumbuhan Ekonomi, Kredit, dan Risiko Industri Konstruksi

Perseorangan di Sumatera Selatan 50

Perkembangan Pertumbuhan Ekonomi,

KANTOR PERWAKILAN BANK INDONESIA PROVINSI SUMATERA SELATAN

xiii


66 Grafik 5.15

Pangsa Transaksi Kartu Kredit

79

Grafik 6.7

Distribusi Pengeluaran Perkotaan

66 Grafik 5.16

Jumlah Kartu Kredit

80

Grafik 6.8

Distribusi Pengeluaran Pedesaan

67 Grafik 5.17

Jumlah Agen LKD

83

Grafik 7.1

Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi

67 Grafik 5.18

Jumlah Pemegang UE

Sumatera Selatan Keseluruhan Tahun

68 Grafik 5.19

Transaksi Uang Elektronik Berdasarkan

2020

Nominal

84

Grafik 7.2

68 Grafik 5.20 Transaksi Uang Elektronik Berdasarkan Frekuensi 69 Grafik 5.21

Jumlah Merchant QRIS

69 Grafik 5.22

Persebaran Merchant QRIS

69 Grafik 5.23

Proporsi Penyaluran Jumlah KPM Bantuan Sembako

69 Grafik 5.24

Proporsi Penyaluran Nominal Bantuan Sembako

70 Grafik 5.25

Proporsi Penyaluran Keluarga Penerima Manfaat (KPM)

70 Grafik 5.26 Nominal Transaksi E-commerce 70 Grafik 5.27

Frekuensi Transaksi E-commerce

70 Grafik 5.28 Perkembangan Transaksi KUPVA BB Sumatera Selatan 71 Grafik 5.29 Transfer Dana Domestik-Incoming 71 Grafik 5.30 Transfer Dana Luar Negeri-Incoming 71 Grafik 5.31

Transfer Dana Domestik-Outgoing

71 Grafik 5.32

Transfer Dana Luar Negeri-Outgoing

76 Grafik 6.1

Indeks Harga yang diterima, Indeks Harga yang dibayar dan Nilai Tukar Petani

76 Grafik 6.2

Perkembangan NTP dan Inflasi Pedesaan Sumatera Selatan

76 Grafik 6.3

Nilai Tukar Petani Per Subsektor

77 Grafik 6.4

Perkembangan Penduduk Miskin

79 Grafik 6.5

Perbandingan Gini Ratio Provinsi di Indonesia (Maret 2020)

79 Grafik 6.6

Perkembangan Koefisien Gini Provinsi Sumatera Selatan

xiv

LAPORAN PEREKONOMIAN PROVINSI SUMATERA SELATAN NOVEMBER 2020

Proyeksi Inflasi Tahunan Sumatera Selatan

84

Grafik 7.3

Ekspektasi Harga Konsumen


INDIKATOR UTAMA A.PDRB & INFLASI 2018

INDIKATOR

2020

2019

III

IV

TOTAL

I

II

III

IV

Sumatera Selatan

130,45

132,09

132,09

131,96

133,92

134,02

134,78

134,78

104,01 105,06

Palembang

130,39

132,09

132,09

131,94

133,92

102,53 103,07

103,07

104,02

104,23

103,53

Lubuk Linggau

130,98

131,80

131,80

131,76 134,06

102,48 103,05 103,05 103,90

104,18

103,92

TOTAL

I

II

III

MAKRO Indeks Harga Konsumen 103,56

Laju Inflasi Tahunan (yoy) Sumatera Selatan

2,60

2,74

2,74

1,66

2,14

2,74

2,06

2,06

3,15

1,72

1,01

Palembang

2,52

2,78

2,78

1,71

2,11

2,78

2,06

2,06

3,20

1,75

0,98

Lubuk Linggau

3,30

2,42

2,42

1,21

2,41

2,42

2,10

2,10

2,63

1,37

1,41

I

II

INDIKATOR

2018 III

IV

2020

2019 TOTAL

III

IV

TOTAL

I

II

III

Pertumbuhan Tahunan PDRB Sektoral (yoy)

6,14

6,07

6,04

5,68

5,80

5,67

5,69

5,71

4,86

-1,53

-1,40

Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan

0,57

4,66

2,16

3,81

3,15

2,35

3,72

3,22

4,11

0,66

-3,64

Pertambangan dan Penggalian

-3,99

11,94

9,29

9,27

9,41

7,91

8,24

7,57

8,27

2,47

-3,95

Industri Pengolahan

5,52

5,70

5,51

5,52

5,32

4,42

4,19

4,85

6,34

-0,17

-0,27

Pengadaan Listrik dan Gas

8,64

8,56

8,85

8,31

9,69

9,53

14,05

10,29

12,64

12,04

16,99

Pengadaan Air, Pengelolaan Sampah, Limbah dan Daur Ulang

9,34

9,37

7,96

6,26

5,76

6,87

10,86

7,46

4,68

3,46

5,75

Konstruksi

4,25

1,64

5,59

0,32

4,52

4,98

3,46

3,34

2,69

-1,35

-0,56

Perdagangan Besar dan Eceran; Reparasi Mobil dan Sepeda Motor

8,21

7,83

8,09

7,76

8,13

8,70

8,31

8,22

7,54

-7,70

-1,93

Transportasi dan Pergudangan

7,29

7,71

7,36

8,29

8,87

7,73

8,30

8,30

6,17

-11,36

-9,30

13,58

17,09

13,15

16,81

16,41

14,72

13,74

15,35

8,68

-18,26

-10,42

Informasi dan Komunikasi

6,79

8,36

7,32

7,32

9,22

7,72

7,08

8,15

9,58

12,11

14,50

Jasa Keuangan dan Asuransi

0,18

-0,81

1,78

-2,09

-3,30

-0,17

0,21

-1,35

0,15

-1,40

3,96

Real Estate

8,25

7,76

7,95

7,59

8,22

8,12

8,17

8,03

8,38

0,35

0,85

Jasa Perusahaan

-5,23

Penyediaan Akomodasi dan Makan Minum

9,73

10,20

9,51

8,90

9,91

9,52

9,91

9,57

9,05

-4,32

Administrasi Pemerintahan, Pertahanan dan Jaminan Sosial Wajib 5,81

1,27

2,70

-0,65

0,30

0,06

4,27

1,09

5,03

4,45

4,33

3,68

3,77

2,72

3,67

4,35

5,68

5,17

4,73

3,94

0,80

-3,01 15,15

Jasa Pendidikan Jasa Kesehatan dan Kegiatan Sosial

2,89

6,29

2,56

12,15

8,98

9,76

7,63

9,57

16,22

19,59

Jasa lainnya

9,69

10,80

9,06

8,17

8,23

7,60

7,16

7,77

7,27

7,89

4,79

Pertumbuhan Tahunan PDRB Penggunaan

6,14

6,07

6,04

5,68

5,80

5,67

5,69

5,71

4,86

-1,53

-1,40

Konsumsi Rumah Tangga

4,52

4,72

4,41

4,27

4,15

4,12

3,58

4,03

3,45

-6,69

-4,36

Konsumsi Lembaga Non Profit Rumah Tangga

9,32

13,91

8,57

13,93

12,87

9,06

3,84

9,78

-1,01

-9,93

-2,66 -12,36

Konsumsi Pemerintah

8,67

10,16

6,64

-14,97

6,11

5,31

20,06

5,54

5,33

-8,10

Investasi

0,96

-6,78

2,75

-2,91

0,36

3,01

5,97

1,09

4,81

-0,85

1,35

Ekspor Luar Negeri

13,52

-25,03

0,72

-18,14

4,94

-13,25

18,48

-2,96

12,16

-24,59

-14,15

Impor Luar Negeri

23,86

3,74

54,06

-20,28

-34,63

-2,70

20,10

-13,59

6,86

-13,32

12,03

KANTOR PERWAKILAN BANK INDONESIA PROVINSI SUMATERA SELATAN

xv


EKSPOR IMPOR

2018 III

IV

TOTAL

Nilai ekspor nonmigas (USD Juta)

1.160,13

858,39

4.011,34

Nilai impor nonmigas (USD Juta)

129,88

100,17

714,11

Volume ekspor nonmigas (juta kg) Volume impor nonmigas (juta kg)

2020

2019 I

II

III

IV

954,96

953,29 3.792,07

123,15

105,19

153,92

98,44

II

III

848,90

740,58

838,40

135,93

165,85

219,21

I

TOTAL

841,76 1.042,06

480,70

6.075,62 6.051,76 21.605,12 4.836,08 5.249,62 4.847,94 6.434,60 21.368,24 5.550,39 4.120,32 4.474,23 292,76

196,87

988,46

229,10

248,35

242,13

277,69

997,27

302,89

284,16

250,98

B.PERBANKAN INDIKATOR

2018

2019

2020

III

IV

I

II

III

IV

I

II

III

103,70

108,96

110,80

113,97

111,82

114,11

110,84

114,35

116,76

77,71

80,11

80,49

84,09

85,09

85,62

85,67

88,70

91,98

- Giro

12,5

11,6

13,1

14,8

13,8

13,7

13,3

16,7

16,4

- Tabungan

35,5

38,0

36,0

38,3

38,5

41,1

38,8

40,0

41,6

- Deposito

29,7

30,6

31,4

30,9

32,8

30,8

33,6

32,0

34,0

20.081

20.614

21.252

21.888

21.888

22.763

22.681

24.340

25.516

234

241

246

249

249

256

253

262

264

19.590

20.112

20.741

21.372

21.372

22.230

22.150

23.792

24.960

Perbankan Total Aset (Rp Triliun) DPK (Rp Triliun)

Jumlah Rekening DPK (Ribu) - Giro - Tabungan - Deposito Kredit Berdasarkan Penggunaan (Rp Triliun)

261

264

267

267

277

278

286

292

125,68

125,06

128,39

130,51

127,84

129,71

124,88

125,45

- Modal Kerja

50,86

50,12

48,57

52,97

53,78

53,04

53,97

52,20

54,13

- Investasi

40,27

39,55

40,28

38,65

39,11

35,94

36,30

33,81

32,45

34,78

36,00

36,21

36,77

37,62

38,87

39,44

38,87

38,87

125,90

125,68

125,06

128,39

130,51

127,84

129,71

124,88

125,45

Kredit Lapangan Usaha/Korporasi (RpTriliun)

91,12

89,68

88,85

91,62

92,89

88,98

90,28

86,01

86,58

Pertanian, Peternakan, Kehutanan & Perikanan

20,69

20,65

20,83

20,90

20,28

20,67

20,75

20,31

20,70

Pertambangan dan Penggalian

6,99

7,01

7,64

6,76

6,59

5,27

5,51

4,69

34,01

Industri Pengolahan

21,79

18,75

19,00

22,55

24,60

21,79

23,51

23,02

24,19

Listrik, Gas dan Air Bersih

6,22

5,57

5,40

5,33

5,52

4,91

5,42

4,53

4,85

Konstruksi

7,87

8,13

7,93

8,46

8,65

8,16

7,59

7,41

7,26

18,69

19,22

18,91

20,08

19,96

20,47

20,43

17,50

17,72

- Konsumsi Total Kredit (Rp Triliun)

Perdagangan Besar dan Eceran, Reparasi dan Perawatan Mobil dan Sepeda Motor Transportasi dan Pergudangan dan Komunikasi

2,20

2,25

2,27

2,33

2,13

2,17

2,07

2,04

2,12

Penyediaan Akomodasi dan Makan Minum

1,74

1,85

1,68

2,99

3,00

3,50

2,92

1,82

1,86

Keuangan, Real Estate dan Jasa Perusahaan

2,89

4,11

2,94

2,21

2,16

2,02

2,09

2,68

2,60

Jasa-jasa

2,04

2,14

2,25

13,67

13,82

13,69

12,60

2,01

1,87

34,78

36,00

36,21

36,77

37,62

38,87

39,44

38,87

38,87 10,48

Kredit Bukan Lapangan Usaha/Kredit Konsumsi Rumah Tinggal

8,80

9,09

9,32

9,70

9,96

10,04

10,25

10,31

Flat dan Apartemen

0,06

0,08

0,07

0,08

0,07

0,08

0,08

0,78

0,74

Rumah Toko (Ruko) dan Rumah Kantor (Rukan)

0,78

0,76

0,73

0,71

0,68

0,66

0,64

0,06

0,06

Kendaraan Bermotor

3,19

3,27

3,29

3,24

3,23

3,32

3,48

3,15

2,84

21,95

22,80

22,79

15,94

16,31

17,21

17,44

17,28

17,27

162,0%

156,9%

155,4%

152,7%

153,4%

149,3%

151,4%

140,8%

136,4%

2,77%

3,79%

3,81%

3,13%

2,90%

2,22%

2,39%

3,41%

3,62%

Lainnya LDR NPL Gross

xvi

257 125,90

LAPORAN PEREKONOMIAN PROVINSI SUMATERA SELATAN NOVEMBER 2020


C. SISTEM PEMBAYARAN KETERANGAN Jumlah hari

2018 III

IV

2019 TOTAL

I

II

III

2020 IV

TOTAL

I

II

III

61

63

240

61

55

66

64

246

63

58

62

12.470

12.083

11.865

10.549

10,431

10.878

13.154

45.011

11.799

7.891

11.324

1. Perputaran Kliring a.Nominal (Rp Miliar) b.Warkat (lembar)

330.644 317.598 319.552 288.069 285,865 276.888 309.227 1.160.049 274.815 238.314 268.290

2. Rata-rata Harian Kliring a. Nominal (Rp Miliar)

204,4

191,8

198,2

172,9

189.6

164,8

205,5

183,2

187,3

136,1

182,7

b. Jumlah Warkat (lembar)

5.420

5.041

5.339

4.722

5,198

4.195

4.832

4.737

4.362

4.109

4.327

a. Nominal/Hari (Rp Miliar)

106,7

132,1

118,7

89,7

46.4

733,9

1.002,3

866,0

614,4

800,9

927,7

b. Jumlah Warkat (lembar)

94

108

96

79

53

235

255

224

216

264

308

3. Rata-rata Harian RTGS

4. Penolakan Cek/BG a.Nominal (Rp Miliar)

123,1

131,2

523,4

125,7

153.7

135,2

139,4

554,0

136,4

112,7

106,0

b.Warkat (lembar)

3.222

3.585

14.054

3.190

3,236

3.026

3.057

12.509

2.846

2.340

1.845

a.Nominal (%)

0,99%

1,09%

4,41%

1,19%

1.47%

1,24%

1,06%

1,23%

1,16%

1,13%

0,94%

b.Warkat (%)

0,97%

1,13%

4,40%

1,11%

1.13%

1,09%

0,99%

1,08%

1,04%

0,98%

0,69%

865,6

3.811,7 2.322,0

1.394,1

2.203,3

5. Penolakan Cek/BG

6. Mutasi kas (Rp Miliar) 3.811,7

1.164,7

1,332.4

b. Aliran uang masuk/inflow

4.084,8

2.730,5 13.041,4

3.166,9

5,487.8 3.388,4

c. Aliran uang keluar (outflow)

2.949,7

4.258,3 14.674,5

3.254,9

7,174.3

1.135,2 (1.527,8) (1.633,1)

88,0

1,686.5

a. Pemberian Tanda Tidak Berharga (PTTB)

d. Net Inflow (outflow)

1.435,1

2.591,0 3.055,9 2.707,5

13.041,4 3.649,2

3.117,9 2.880,9

3.491,9

5.139,1

14.674,5 3.454,5 4.459,6

103,5

2.431,6

(1.633,1)

4.310,8

194,7 (1.341,7) (1.429,9)

KANTOR PERWAKILAN BANK INDONESIA PROVINSI SUMATERA SELATAN

xvii


RINGKASAN UMUM

PERKEMBANGAN EKONOMI MAKRO

PERKEMBANGAN KEUANGAN DAERAH

Pertumbuhan ekonomi Provinsi Sumatera Selatan

Realisasi Keuangan Daerah triwulan III 2020 lebih rendah

triwulan III 2020 membaik dari triwulan sebelumnya.

dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Kontraksi pertumbuhan ekonomi Sumatera Selatan pada

Realisasi pendapatan daerah Pemerintah Provinsi dan

triwulan III 2020 berkurang dari 1,53% (yoy) menjadi 1,40%

Kabupaten/Kota di Sumatera Selatan hingga triwulan III

(yoy) atau secara triwulanan tumbuh sebesar 4,12% (qtq).

2020 mencapai Rp28,45 triliun atau sebesar 71,92% dari pagu

Pertumbuhan ekonomi ini masih lebih tinggi dari

anggaran tahun 2020, lebih rendah dari realisasi triwulan

pertumbuhan ekonomi Nasional dan Sumatera yang

yang sama tahun sebelumnya Rp29,9 triliun atau 73,12% dari

masing-masing sebesar kontraksi 3,49% (yoy) dan 2,22%

pagu. Menurunnya realisasi pendapatan ini terutama

(yoy). Perbaikan ini sejalan dengan pelonggaran aktivitas

bersumber dari penurunan komponen pendapatan transfer.

ekonomi dan sosial masyarakat, kebijakan stimulus fiskal,

Selanjutnya, realisasi belanja Pemerintah Provinsi dan

dan perbaikan kinerja ekspor komoditas utama. Dari sisi

Kabupaten/Kota mencapai Rp19,04 triliun atau sebesar

pengeluaran, perbaikan pertumbuhan ekonomi di dorong

50,43% dari pagu anggaran tahun 2020, lebih rendah

oleh seluruh komponen kecuali komponen konsumsi

dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya

pemerintah. Dari sisi lapangan usaha (LU), perbaikan

Rp23,48 triliun atau 55,28% dari pagu. Masih rendahnya

ekonomi didorong oleh LU yang terkait dengan penanganan

serapan belanja disebabkan oleh masih minimnya realisasi

COVID-19 dan aktivitas new normal, meskipun tertahan oleh

anggaran di triwulan III 2020 karena pelaksanaan proyek

terkontraksinya LU utama Provinsi Sumatera Selatan yaitu

pembangunan yang sempat tertunda karena adanya

LU Pertambangan dan Penggalian, LU Industri Pengolahan,

pandemi. Sementara itu, realisasi anggaran belanja APBN

serta LU Pertanian, Kehutanan dan Perikanan.

meliputi belanja Kementerian/Lembaga dan Transfer ke

Meningkatnya permintaan domestik dan global seiring dengan meredanya dampak ekonomi dari COVID-19 diperkirakan akan mendorong pertumbuhan ekonomi pada triwulan IV 2020 lebih tinggi. Dari sisi penggunaan, perbaikan diperkirakan akan bersumber dari peningkatan kinerja konsumsi rumah tangga, kinerja ekspor, investasi dan konsumsi pemerintah. Di sisi lapangan usaha, meningkatnya aktivitas ekonomi akan berdampak pada mulai membaiknya kinerja LU Industri Pengolahan, LU Pertambangan dan Penggalian, serta LU Perdagangan Besar dan Eceran. Secara keseluruhan tahun, pertumbuhan ekonomi

Daerah dan Dana Desa (TKDD) untuk triwulan III 2020 mencapai Rp20,5 triliun atau sebesar 47,8% dari pagu anggaran tahun 2020. Realisasi serapan APBN ini lebih rendah dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar 55,28% dari pagu didorong oleh serapan belanja kementerian / lembaga untuk penanggulangan penyebaran COVID-19.

PERKEMBANGAN INFLASI Laju inflasi Provinsi Sumatera Selatan pada triwulan III 2020 sebesar 1,01% (yoy), menurun dibandingkan triwulan sebelumnya sebesar 1,72% (yoy). Realisasi tersebut lebih

Sumatera Selatan di tahun 2020 masih tumbuh positif

rendah dibandingkan realisasi inflasi nasional yang sebesar

namun melambat. Dampak pandemi COVID-19

1,42% (yoy), namun lebih tinggi dibandingkan realisasi inflasi

menurunkan kinerja ekonomi global dan domestik.

regional Sumatera yang sebesar 0,66% (yoy). Menurunnya

Permintaan global yang menurun, pembatasan aktivitas

laju inflasi triwulan III 2020 terutama disebabkan oleh

ekonomi dan sosial masyarakat, serta pelaku usaha yang

turunnya tekanan inflasi pada kelompok makanan,

menahan investasi memberikan dampak penurunan kinerja

minuman, dan tembakau dan

ekonomi di tahun 2020.

kelompok transportasi.

Penurunan ini sejalan dengan pembatasan aktivitas di luar rumah dan permintaan konsumsi yang menurun untuk mencegah penyebaran wabah COVID-19.

xviii

LAPORAN PEREKONOMIAN PROVINSI SUMATERA SELATAN NOVEMBER 2020


Inflasi tahunan pada triwulan IV 2020 diperkirakan

PERKEMBANGAN KETENAGAKERJAAN DAN KESEJAHTERAAN DAERAH

meningkat dibandingkan dengan triwulan sebelumnya,

Pertumbuhan ekonomi Sumatera Selatan pada triwulan I

namun tetap berada pada sasaran inflasi nasional 3% Âą 1%.

2021 diperkirakan lebih tinggi dibandingkan dengan

Peningkatan inflasi didorong oleh meningkatnya aktivitas

triwulan IV 2020. Dari sisi penggunaan, komponen

masyarakat dan kebijakan stimulus fiskal pemerintah yang

pengeluaran sisi rumah tangga diperkirakan membaik

meningkatkan daya beli masyarakat. Secara keseluruhan tahun, inflasi pada tahun 2020 diperkirakan berada di bawah ambang target inflasi nasional 3% Âą 1%. Menurunnya permintaan serta menurunnya pendapatan masyarakat yang memberikan tekanan pada daya beli menyebabkan penurunan permintaan terhadap barang dan jasa. Perilaku masyarakat yang berjaga-jaga juga turut menahan peningkatan inflasi di tahun 2020.

terbatas seiring meningkatnya aktivitas ekonomi dan sosial dengan penerapan protokol pencegahan COVID-19 yang cukup ketat. Dari sisi lapangan usaha, perbaikan diprakirakan akan terjadi pada LU industri pengolahan, LU Pertambangan dan Penggalian, LU pertanian, kehutanan dan perikanan, serta LU perdagangan besar dan eceran, reparasi mobil dan sepeda motor, sejalan dengan mulai pulihnya aktivitas manufaktur global, peningkatan harga komoditas, dan peningkatan konsumsi masyarakat. Secara keseluruhan tahun, pertumbuhan ekonomi

PERKEMBANGAN STABILITAS KEUANGAN DAERAH DAN PENGEMBANGAN USAHA MIKRO KECIL DAN MENENGAH

membaiknya prospek perekonomian domestik dan global.

Stabilitas keuangan mulai membaik. Ditengah kinerja

Tingkat keberhasilan yang tinggi dari hasil evaluasi vaksin

Sumatera Selatan pada tahun 2021 diperkirakan lebih tinggi dibandingkan tahun 2020, sejalan dengan

penyaluran kredit yang masih mengalami kontraksi,

global mendorong peningkatan keyakinan pelaku ekonomi

penghimpunan DPK dan aset perbankan masih mengalami

global. Permintaan global meningkatkan kinerja ekspor dan

peningkatan. Ketahanan sektor korporasi dan rumah tangga

investasi pelaku usaha. Dari sisi domestik akan didorong oleh

masih terjaga. Eksposur perbankan pada kedua sektor relatif

meningkatnya aktivitas ekonomi dan sosial masyarakat.

aman diindikasikan oleh nilai Non-Performing-Loan (NPL)

Sementara itu dari sisi lapangan usaha, pertumbuhan

yang membaik dan berada di bawah batas indikatif.

ekonomi pada tahun 2021 akan didorong oleh LU Industri Pengolahan, LU Pertambangan dan Penggalian, LU Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan, serta LU Perdagangan

PENYELENGGARAAN SISTEM PEMBAYARAN DAN PENGELOLAAN UANG RUPIAH

Besar dan Eceran.

Pada triwulan III 2020, kegiatan transaksi non tunai melalui

Dari sisi tekanan harga, stabilitas harga barang dan jasa di

Sistem Kliring Nasional Bank Indonesia (SKNBI) dan Real

Provinsi Sumatera Selatan pada triwulan I 2021

Time Gross Settlement (RTGS) meningkat meskipun masih

diprakirakan tetap terjaga. Inflasi yang terjaga terutama

terkontraksi. Sementara itu, kegiatan transaksi tunai di

disebabkan oleh masih terbatasnya tekanan harga pada

Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sumatera Selatan

kelompok makanan, minuman dan tembakau serta

mencatatkan net outflow selama periode laporan.

kelompok penyediaan makanan dan minuman/restoran

Selanjutnya, nominal dan frekuensi transaksi UE juga

seiring dengan masih terkendalinya pasokan.

meningkat pada triwulan III 2020, meskipun secara tahunan masih mengalami kontraksi.

KANTOR PERWAKILAN BANK INDONESIA PROVINSI SUMATERA SELATAN

xix


Secara keseluruhan tahun, prakiraan inflasi Sumatera Selatan tahun 2021 diperkirakan lebih tinggi dibandingkan inflasi tahun 2020, namun masih berada pada kisaran target inflasi nasional 3% Âą 1% (yoy). Meningkatnya konsumsi dan mobilitas masyarakat akan memberikan tekanan permintaan yang mendorong kenaikan harga barang dan jasa. Wacana pemerintah untuk menaikkan kembali cukai rokok juga akan menjadi salah satu pendorong tekanan inflasi. Selain itu, harga emas perhiasan yang diperkirakan akan menguat juga mendorong tekanan inflasi di tahun 2021.

xx

LAPORAN PEREKONOMIAN PROVINSI SUMATERA SELATAN NOVEMBER 2020


BAB I

PERKEMBANGAN EKONOMI MAKRO REGIONAL Pertumbuhan ekonomi Provinsi Sumatera Selatan triwulan III 2020 membaik, sejalan dengan pelonggaran aktivitas masyarakat, realisasi stimulus pemerintah serta dorongan dari kinerja ekspor komoditas utama. Dari sisi pengeluaran, pada triwulan III 2020 perbaikan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) terlihat pada kinerja di seluruh komponen kecuali konsumsi pemerintah Dari sisi lapangan usaha, membaiknya ekonomi Sumatera Selatan pada triwulan III 2020 terutama ditopang oleh meningkatnya LU yang terkait dengan penanganan COVID-19 dan aktivitas new normal. Pada triwulan IV 2020, perbaikan kinerja perekonomian Sumatera Selatan diprakirakan berlanjut namun masih akan terkontraksi. Secara keseluruhan tahun, pertumbuhan ekonomi tahun 2020 melambat dibandingkan dengan tahun sebelumnya.


1.1 PERKEMBANGAN EKONOMI MAKRO REGIONAL SECARA UMUM Pertumbuhan ekonomi Provinsi Sumatera Selatan triwulan

pertanian, kehutanan dan perikanan, LU pertambangan dan

III 2020 membaik sejalan dengan pelonggaran aktivitas

penggalian, serta LU industri pengolahan masih terkontraksi

masyarakat, realisasi stimulus pemerintah serta dorongan

sejalan dengan masih terbatasnya permintaan CPO dan

dari kinerja ekspor komoditas utama.

Ekonomi Sumatera

Selatan dengan output riil sebesar Rp118,29 triliun membaik, yang tercermin pada pertumbuhan sebesar 4,12% (qtq) dari kontraksi 2,35% (qtq), atau kontraksi pertumbuhan yang berkurang menjadi 1,40% (yoy) dari 1,53% (yoy) pada triwulan sebelumnya. Capaian ini masih berada di atas pertumbuhan ekonomi nasional dan Sumatera yang juga membaik meski masih terkontraksi masing-masing sebesar 3,49% (yoy) dan 2,22% (yoy). Pangsa ekonomi Sumatera Selatan terhadap ekonomi nasional dan ekonomi Sumatera pada triwulan laporan relatif stabil, masing-masing sebesar 3,04% dan 13,7%.

LAPORAN PEREKONOMIAN PROVINSI SUMATERA SELATAN NOVEMBER 2020

02

batubara serta menurunnya produksi pertanian yang memasuki masa tanam. Pertumbuhan ekonomi Sumatera Selatan pada triwulan IV 2020 diprakirakan membaik. Dampak wabah COVID-19 terhadap ekonomi diperkirakan masih akan berlangsung namun mulai membaik. Perbaikan terbatas diprakirakan bersumber dari membaiknya kinerja konsumsi rumah tangga yang didorong oleh peningkatan aktivitas ekonomi dan sosial dengan penerapan protokol COVID-19 yang ketat. Realisasi belanja pemerintah dalam rangka penanggulangan kesehatan dan dampak ekonomi dari COVID-19 diperkirakan

Perbaikan ekonomi Sumatera Selatan terjadi pada hampir

dapat meningkatkan belanja pemerintah yang akan

semua komponen PDRB sisi pengeluaran, kecuali

menopang pertumbuhan ekonomi Sumatera Selatan.

komponen konsumsi pemerintah (Tabel 1.2). Realisasi

Realisasi belanja modal dalam rangka pembayaran kontrak

penyaluran bantuan sosial dan dampak ekonomi dari wabah

pembangunan infrastruktur juga diperkirakan mampu

COVID-19 turut menopang konsumsi pemerintah. Namun

mendorong pertumbuhan ekonomi lebih tinggi. Hal ini juga

masih tertahannya pembayaran kontrak dan proyek

berdampak terhadap kinerja investasi yang turut meningkat

pengerjaan lainnya yang baru akan dilakukan di akhir tahun

karena mulai membaiknya permintaan dan meningkatnya

menahan konsumsi pemerintah terkontraksi sebesar 12,36%

kegiatan ekspansi usaha. Selanjutnya, kinerja ekspor di

(yoy). Meskipun demikian, dorongan stimulus konsumsi

triwulan IV 2020 diperkirakan mulai meningkat sebagai

pemerintah dan mobilitas masyarakat yang membaik turut

dampak meningkatnya aktivitas industri dan logistik

menopang perbaikan kontraksi konsumsi rumah tangga

internasional. Harga komoditas yang terus meningkat juga

menjadi sebesar 4,36% (yoy). Kinerja investasi tumbuh positif

mendorong kinerja ekspor untuk tumbuh lebih tinggi lagi.

1,35% (yoy), terutama didorong investasi bangunan dan non bangunan. Selain itu, kinerja ekspor mengalami kontraksi yang

Dari sisi lapangan usaha, membaiknya ekonomi Sumatera

lebih kecil sebesar 14,15% (yoy) sejalan dengan meningkatnya

Selatan pada triwulan IV 2020 diprakirakan bersumber dari

harga komoditas global karet dan CPO serta perbaikan kinerja

mulai meningkatnya kinerja hampir seluruh LU utama.

mitra dagang utama Provinsi Sumatera Selatan, terutama

Kinerja LU industri pengolahan diprakirakan akan membaik

Tiongkok.

didorong oleh pulihnya aktivitas ekonomi dunia yang berdampak kepada mulai meningkatnya permintaan

Dari sisi lapangan usaha, membaiknya ekonomi Sumatera

komoditas dari Sumatera Selatan seperti karet, CPO dan

Selatan pada triwulan III 2020 terutama ditopang oleh

pulp&paper. Kinerja LU pertambangan dan penggalian

meningkatnya LU yang terkait dengan penanganan COVID19 dan aktivitas new normal. LU informasi dan komunikasi tumbuh tinggi seiring meningkatnya penggunaan teknologi digital dalam penerapan Work from Home (WFH) dan School from Home (SFH). LU terkait penanganan Covid-19 dan new normal, seperti LU jasa kesehatan dan kegiatan sosial, LU pengadaan listrik dan gas, LU jasa pemerintahan, pertahanan dan jaminan sosial, LU pengadaan air, serta LU real estat, tumbuh positif. Mobilitas masyarakat yang meningkat turut mendorong perbaikan kinerja LU penyediaan akomodasi dan

diperkirakan membaik didorong oleh peningkatan permintaan energi seiring dengan pemulihan aktivitas manufaktur. Kinerja LU perdagangan membaik didorong oleh normalisasi jam operasional pusat perdagangan (mall, pasar, restoran) seiring dengan penerapan adaptasi kebiasaan baru. Sementara, kinerja LU konstruksi diperkirakan membaik didorong oleh pengerjaan kembali beberapa proyek infrastruktur yang tertunda. Secara keseluruhan tahun, pertumbuhan ekonomi

makan minum, LU perdagangan besar dan eceran, LU

Sumatera Selatan di tahun 2020 masih tumbuh positif

transportasi dan pergudangan serta LU konstruksi yang

namun melambat. Dampak pandemi COVID-19 menurunkan

mencatat kontraksi yang lebih kecil. Ketiga sektor utama LU

kinerja ekonomi global dan domestik. Secara global,


Grafik 1.1 PDRB dan Laju Pertumbuhan Tahunan PDRB Provinsi Sumatera Selatan ADHK 2010 130 120

RP TRILIUN 5,86

Grafik 1 2 PDRB dan Laju Pertumbuhan Triwulanan PDRB Provinsi Sumatera Selatan ADHK 2010 %YOY 6,50

6,07

6,14

6,07

5,81

5,69

5,66

5,50

5,69

1,50

90 -1,37

-0,50

60 I

IV

III

II

I

III

II

2018

IV

I

II

2019 PDRB AHDB

%QTQ 4,12

3,99

70

-2,50

60

III

1,01

2,00

0,64

1,00

-0,14

-2,91

0,00 -1,00

-2,35

-2,89

-2,00 -3,00 -4,00

I

IV

III

II

2020

I

IV

III

II

2018

I

2019

GROWTH PDRB ADHK (AXIS KANAN)

PDRB-ADHB

Sumber: BPS Provinsi Sumatera Selatan, diolah

5,00 4,00

80

-1,50

6,00

3,00

90

0,50

-1,40

70

3,98

100

2,50

80

4,14

3,86

110

3,50

4,86

100

RP TRILIUN

120

4,50

110

130

III

II 2020

GROWTH PDRB ADHK (AXIS KANAN)

Sumber: BPS Provinsi Sumatera Selatan, diolah

menurunnya aktivitas perdagangan global akibat penurunan

terhadap total PDRB. Konsumsi rumah tangga memberikan

aktivitas manufaktur dan logistik menyebabkan kinerja ekspor

andil terbesar kepada penurunan pertumbuhan ekonomi

Sumatera Selatan mengalami penurunan. Secara domestik,

Sumatera Selatan di triwulan III 2020, yaitu sebesar -2,48%,

penerapan pembatasan sosial untuk menurunkan penularan

membaik dari -3,83% (yoy) pada triwulan II 2020. Pembentukan

wabah COVID-19 menahan seluruh aktivitas ekonomi dan

Modal Tetap Bruto (PMTB) atau investasi pada triwulan ini

sosial masyarakat yang menyebabkan penurunan konsumsi

memberikan kontribusi terbesar kedua yaitu 35,5% terhadap

rumah tangga. Turunnya konsumsi rumah tangga,

PDRB Sumatera Selatan. Investasi juga memberikan andil

menyebabkan pelaku usaha menahan ekspansi usahanya

positif sebesar 0,49% setelah pada triwulan sebelumnya

sehingga menyebabkan turunnya kinerja investasi.

memberikan andil negatif sebesar -0,31%. Kinerja ekspor luar negeri masih terkontraksi dan memberikan andil sebesar yang terkontraksi sebesar -3,71% (yoy). Namun demikian,

Berdasarkan PRDB menurut pengeluaran, struktur

konsumsi pemerintah pada triwulan III 2020 memberikan andil

2,30% (yoy), membaik dibandingkan triwulan sebelumnya

perekonomian Sumatera Selatan pada triwulan III 2020 masih

kontraksi sebesar -0,75% (yoy), lebih dalam dari andil triwulan

didominasi oleh konsumsi rumah tangga. Pengeluaran

sebelumnya sebesar -0,51% (yoy).

konsumsi rumah tangga memiliki pangsa sebesar 62,21% Tabel 1.1 Andil Pertumbuhan Ekonomi Sumatera Selatan 2018-2020 (%yoy) PROVINSI : SUMATERA SELATAN KOMPONEN PENGELUARAN Pengeluaran Konsumsi Rumah Tangga

2018

2019

II

III

IV

TOTAL

I

2,81

2,69

2,93

2,71

2,65

2020

II

III

IV

TOTAL

I

II

III

2,51

2,42

2,18

2,43

2,11

-3,83

-2,48

Pengeluaran Konsumsi LNPRT

0,10

0,14

0,22

0,13

0,23

0,21

0,14

0,06

0,16

-0,02

-0,15

-0,04

Pengeluaran Konsumsi Pemerintah

0,37

0,59

0,96

0,52

-0,96

0,49

0,45

2,16

0,40

0,23

-0,51

-0,75

Pembentukan Modal Tetap Bruto

3,15

0,80

-0,93

1,39

-0,60

0,32

1,06

1,66

0,61

1,68

-0,31

0,49

Ekspor Luar Negeri

1,68

3,80

-2,60

1,12

-2,45

1,19

-2,37

1,60

-0,71

2,16

-3,71

-2,30

Impor Luar Negeri

5,88

0,71

0,15

2,19

-0,70

-1,15

-0,02

0,61

-0,46

0,22

-0,38

0,40

PDRB

6,07

6,14

6,07

6,04

5,69

5,81

5,66

5,69

5,71

4,86

-1,53

-1,40

Sumber: BPS Provinsi Sumatera Selatan (diolah)

Tabel 1.2 Pertumbuhan Ekonomi Sumatera Selatan Sisi Pengeluaran (%yoy) 2018

2019

PROVINSI : SUMATERA SELATAN KOMPONEN PENGELUARAN

II

III

IV

Pengeluaran Konsumsi Rumah Tangga

4,57

4,52

4,72

4,41

Pengeluaran Konsumsi LNPRT

6,47

9,32

13,91

Pengeluaran Konsumsi Pemerintah

5,55

8,67

10,16

2020

II

III

IV

I

II

III

4,27

4,15

4,12

3,58

4,03

3,45

-6,69

-4,36

8,57

13,93

12,87

9,06

3,84

9,78

-1,01

-9,93

-2,66

7,13

(22,19)

7,21

6,55

20,06

5,54

5,33

-8,10

-12,36

TOTAL

I

TOTAL

Pembentukan Modal Tetap Bruto

8,31

2,19

-2,50

3,74

(1,72)

0,87

2,98

4,50

1,69

4,81

-0,85

1,35

Ekspor Luar Negeri

8,57

16,85

-14,67

5,56

(14,74)

6,04

(12,68)

8,78

(3,88)

12,16

-24,59

-14,15

110,66

22,65

5,15

55,69

(21,82)

(35,79)

(0,84)

18,26

(14,46)

6,86

-13,32

12,03

6,07

6,14

6,07

6,04

5,69

5,81

5,66

5,69

5,71

4,86

-1,53

-1,40

Impor Luar Negeri PDRB Sumber: BPS Provinsi Sumatera Selatan (diolah)

03 KANTOR PERWAKILAN BANK INDONESIA PROVINSI SUMATERA SELATAN

1.2 PERKEMBANGAN EKONOMI SISI PENGGUNAAN


Tabel 1.3 Pertumbuhan Ekonomi Sumatera Selatan Sisi Pengeluaran (%qtq) 2018

PROVINSI : SUMATERA SELATAN KOMPONEN PENGELUARAN

II

Pengeluaran Konsumsi Rumah Tangga

1,56

Pengeluaran Konsumsi LNPRT Pengeluaran Konsumsi Pemerintah

III

2019 IV

0,87

TOTAL

1,03

4,41

I 0,73

2020

II

III

IV

TOTAL

I

II

III

1,45

0,84

0,51

295,40

0,60

-8,48

3,36

-0,44 300,89

-2,42

-5,97

6,56

166,46 -59,52

41,97

-0,10

4,32

2,04

4,56

8,57

2,36

3,34

-1,40

18,10

5,40

35,48

7,13

-53,86

62,72

4,75

52,67

4,58

-0,05

-0,05

3,74

-5,94

7,34

2,04

1,43

285,24

-5,66

1,55

4,31

Ekspor Luar Negeri

-0,93

19,74

-23,69

5,56

-5,82

23,22

-1,39

-4,94

298,46

-2,89

-17,16

12,26

Impor Luar Negeri

27,62 -38,39

-7,17

55,69

7,11

4,80

-4,85

10,72

275,82

-3,21

-15,00

22,98

(2,91)

6,04

0,64

3,98

3,99

(2,89)

5,71

(0,14)

-2,35

4,12

Pembentukan Modal Tetap Bruto

3,86

PDRB

4,14

Sumber: BPS Provinsi Sumatera Selatan (diolah)

1.2.1 Konsumsi Rumah Tangga dan Pemerintah

LAPORAN PEREKONOMIAN PROVINSI SUMATERA SELATAN NOVEMBER 2020

04

Pada triwulan III 2020, konsumsi rumah tangga membaik yang

subsektor kredit konsumsi yaitu kredit kepemilikan

tercermin pada pertumbuhan sebesar 3,36% (qtq) dari

rumah/KPR, kredit kepemilikan kendaraan bermotor / KKB,

kontraksi 8,48% (qtq) atau kontraksi pertumbuhan yang

dan kredit multi guna. Kredit pemilikan rumah tinggal tumbuh

berkurang menjadi 4,36% (yoy) dari 6,69% (yoy) pada triwulan

melambat dari 6,25% (yoy) pada triwulan lalu menjadi 5,22%

sebelumnya. Perbaikan kinerja konsumsi ini didorong oleh

(yoy) dan pemilikan flat menurun dari sebelumnya 4,07% (yoy)

pembukaan sektor ekonomi yang terlihat dari mulai

menjadi 0,12% (yoy). Penurunan ini ditengarai karena

beroperasinya kembali tempat rekreasi dan pusat

terbatasnya permintaan sebagai dampak penurunan

perbelanjaan dengan protokol kesehatan yang ketat.

pendapatan. Kontraksi kredit kepemilikan kendaraan

Konsumsi yang lebih tinggi juga dipengaruhi oleh mulai

bermotor (KKB) meningkat menjadi 11,89% (yoy) dari 2,80%

meningkatnya pendapatan masyarakat, terutama di tingkat

(yoy) pada triwulan sebelumnya. Kontraksi ini dipicu oleh

petani, yang terlihat dari mulai meningkatnya harga komoditas

menurunnya permintaan terhadap kendaraan bermotor yang

karet dan CPO global yang didorong oleh meningkatnya

disebabkan oleh masih menurunnya pendapatan sejalan

aktivitas industri dan manufaktur global.

dengan meningkatnya tingkat pengangguran. Kredit

Perbaikan kinerja konsumsi rumah tangga pada triwulan III 2020 terkonfirmasi dari hasil Survei Konsumen yang dilakukan Bank Indonesia pada triwulan laporan. Pelonggaran aktivitas dan penerapan protokol kesehatan yang ketat pada seluruh aktivitas ekonomi dan sosial masyarakat meningkatkan level

multiguna tumbuh melambat menjadi 5,88% (yoy) dari periode sebelumnya sebesar 8,39% (yoy). Pelemahan ini disebabkan masih terbatasnya konsumsi barang-barang tahan lama untuk kebutuhan rumah tangga. Memasuki triwulan IV 2020, konsumsi rumah tangga

optimisme masyarakat. Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) dan

diprakirakan membaik namun masih terkontraksi.

Indeks Kondisi Ekonomi (IKE) tumbuh lebih tinggi (Tabel 1-4).

Membaiknya konsumsi rumah tangga didorong oleh (1)

Hal ini juga terlihat dari peningkatan indeks Konsumsi Barang-

meningkatnya aktivitas ekonomi dan sosial dengan

Barang Kebutuhan Tahan Lama dan Indeks Penghasilan Saat

penerapan protokol pencegahan COVID-19 yang ketat serta

Ini yang juga tumbuh meningkat dibandingkan dengan

penyaluran bantuan sosial dan program pemulihan ekonomi,

triwulan sebelumnya (Grafik 1-4).

(2) meningkatnya harga komoditas karet dan kelapa sawit

Kredit konsumsi turut menopang kinerja konsumsi rumah tangga. Kredit konsumsi Provinsi Sumatera Selatan pada triwulan III 2020 tumbuh sebesar 3,31% (yoy) melambat dibandingkan triwulan sebelumnya yang tumbuh sebesar 5,72% (yoy). Melambatnya kredit konsumsi ini disebabkan oleh masih berlanjutnya penurunan penyaluran kredit di seluruh

yang didorong oleh peningkatan permintaan global, dan (3) komitmen pemerintah daerah dalam mendorong percepatan pembangunan infrastruktur dalam rangka pemulihan ekonomi daerah. Namun demikian, masih terdapatnya risiko peningkatan kasus aktif COVID-19 diperkirakan dapat menahan konsumsi rumah tangga untuk tumbuh lebih tinggi.

Tabel 1.4 Hasil Survei Konsumen Provinsi Sumatera Selatan INDEKS

2018

2019

2020

II

III

IV

I

II

III

IV

I

II

III

133,90

123,10

132,20

129,80

141,30

121,60

136,56

130,74

54,33

57,26

Indeks Ekspektasi Konsumen ( IEK )

154,10

143,90

149,20

145,80

142,70

155,30

158,22

153,67

122,44

128,56

Indeks Keyakinan Konsumen (IKK)

144,00

133,50

140,70

137,80

142,00

138,40

147,39

142,20

88,39

92,91

Indeks Kondisi Ekonomi Saat Ini ( IKE )

Sumber: Bank Indonesia Provinsi Sumatera Selatan (diolah)


Grafik 1.3 Indeks Konsumsi Barang Kebutuhan Tahan Lama Survei Konsumen Bank Indonesia

Grafik 1.4 Perkembangan Nilai Tukar Rupiah

160,0

18.000

140,0

16.000 OPTIMISTIS

12.000

PESIMISTIS

10.000

15,0 10,0 5,0

8.000

60,0

0,0

57,26

20,0

54,33

6.000

40,0

II

III

4.000

-5,0

2.000

-10,0

000

I

III

II

IV

I

III

II

2018

IV

I

2019

Indeks Kondisi Ekonomi Saat Ini ( IKE ) Penghasilan saat ini dibandingkan 6 bulan yang lalu Ketersediaan lapangan kerja saat ini dibandingkan 6 bulan yang lalu

I

2020

III

II

IV

I

2018

Konsumsi barang-barang kebutuhan tahan lama saat ini dibandingkan 6 bulan yang lalu

Secara keseluruhan tahun, konsumsi rumah tangga

20,0

III

II 2019

NILAI TUKAR

IV

I

II

III

2020

%YOY (RHS)

Perlambatan konsumsi pemerintah terkonfirmasi dari

diperkirakan akan terkontraksi. Adanya wabah COVID-19

simpanan giro pemerintah. Pada triwulan III 2020, simpanan

menyebabkan pembatasan aktivitas ekonomi dan sosial yang

giro pemerintah yang berada di perbankan Sumatera Selatan

berdampak pada menurunnya permintaan masyarakat.

secara nominal naik menjadi sebesar Rp9,1 triliun

Tu r u n n y a a k t i v i t a s e ko n o m i j u g a m e n y e b a b k a n

dibandingkan triwulan sebelumnya yang sebesar Rp6,7 triliun.

meningkatnya pemutusan hubungan kerja yang berdampak

Peningkatan jumlah dana pemerintah di perbankan

menurunkan pendapatan masyarakat. Turunnya pendapatan

menandakan disamping adanya akumulasi pendapatan

menyebabkan konsumsi rumah tangga tertahan lebih dalam

pemerintah, pemerintah masih belum melakukan

karena masyarakat cenderung selektif dalam aktivitas

pengeluaran belanja karena belum dilaksanakannya

konsumsinya. Di sisi lain, permintaan komoditas yang relatif

realisasi/pembayaran proyek disebabkan baru meningkatnya

lebih rendah dibandingkan dengan tahun sebelumnya juga

kembali aktivitas pengerjaan proyek pembangunan. Mulainya

turut menyebabkan penurunan pendapatan masyarakat

kembali aktivitas ekonomi dan pemerintah mendorong

khususnya di tingkat petani.

peningkatan pendapatan pemerintah. Simpanan giro

Pertumbuhan konsumsi pemerintah pada triwulan III 2020 tercatat terkontraksi lebih dalam menjadi 12,36% (yoy) dari 8,10% (yoy) pada triwulan sebelumnya. Terkontraksinya konsumsi pemerintah pada triwulan III 2020 disebabkan oleh realisasi belanja yang terhambat karena masih baru

pemerintah pada triwulan III 2020 tumbuh sebesar 18,63% (yoy), namun masih di bawah pertumbuhan triwulan III 2019 yang tumbuh sebesar 37,43% (yoy). Pendapatan pemerintah mulai membaik, namun masih belum kembali normal seperti tahun sebelumnya.

dimulainya kembali pembangunan infrastruktur daerah.

Deselerasi konsumsi pemerintah juga terkonfirmasi dari

Namun, realisasi konsumsi pemerintah tersebut masih

penurunan serapan belanja APBD dan APBN di Sumatera

ditopang oleh realisasi penyaluran bantuan sosial dan

Selatan.

dampak ekonomi dari wabah COVID-19.

Kabupaten/Kota) triwulan III 2020 mencapai 50,43% dari pagu

Realisasi belanja APBD (Provinsi dan 17

anggaran, lebih rendah dibandingkan realisasi periode yang sama di tahun lalu yang sebesar 55,28% dari pagu. Secara nominal, realisasi belanja APBD di Sumatera Selatan pada

Grafik 1.5 Pertumbuhan Kredit Konsumsi Sumatera Selatan

triwulan III 2020 mencapai Rp19,04 triliun, menurun 70,0

%YOY

dibandingkan dengan realisasi belanja triwulan III 2019 yang

60,0 50,0

sebesar Rp23,4 triliun. Jika dilihat dari komponen belanja

40,0

daerah, pada triwulan III 2020 realisasi belanja terbesar

30,0 20,0

berasal dari komponen belanja operasi dengan kontribusi

10,0

sebesar 83,0% atau Rp15,80 triliun. Sebagian besar belanja

0,0 -10,0

operasi digunakan untuk belanja pegawai seperti

-20,0 -30,0 I

III

II 2018

KREDIT KONSUMSI RUMAH TINGGAL

IV

05

I

III

II

IV

I

2019 FLAT/APARTEMEN RUKO DAN RUKAN

II 2020

KENDARAAN BERMOTOR MULTIGUNA

III

pembayaran gaji dan lainnya, sementara itu belanja barang dan jasa operasional menurun jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya. Salah satu komponen yang mengalami peningkatan adalah komponen belanja tak

KANTOR PERWAKILAN BANK INDONESIA PROVINSI SUMATERA SELATAN

80,0

%YOY

14.000

120,0 100,0

RP/USD


terduga. Peningkatan komponen belanja tak terduga

Adanya wabah COVID-19 menyebabkan dilakukannnya

digunakan untuk penanggulangan dan penanganan wabah

pembatasan aktivitas dan kegiatan oleh pemerintah daerah.

COVID-19 yang disesuaikan dengan realokasi dan refocusing

Hal ini menyebabkan kegiatan belanja pemerintah baik

anggaran untuk penanganan kesehatan, penanganan

belanja modal untuk pembangunan infrastruktur maupun

dampak ekonomi dan penyediaan jaring pengaman sosial.

belanja operasional untuk kegiatan dinas dan perjalanan dinas

Hingga triwulan III 2020, belanja tidak terduga yang

menurun. Selain itu, menurunnya aktivtas ekonomi juga

dikeluarkan sebesar Rp351,84 miliar atau 24,38%, meningkat

menurunkan pendapatan pemerintah, sehingga pemerintah

tajam dibandingkan dengan triwulan III 2019 sebesar Rp6,69

harus merevisi kembali pagu anggaran yang telah ditetapkan

miliar atau terealisasi sebesar 45,98%.

sebelumnya.

Realisasi konsumsi pemerintah pada realisasi belanja APBN

1.2.2 Pembentukan Modal Tetap Domestik Bruto (PMTB)/Investasi

di Sumatera Selatan meningkat. Realisasi belanja APBN di Sumatera Selatan pada triwulan III 2020 sebesar 63,2% dari pagu anggaran, lebih tinggi dibandingkan dengan realisasi pada triwulan III 2019 yang sebesar 57,5%. Namun demikian, realisasi APBN secara nominal di triwulan III 2020 sebesar Rp8,2 triliun, masih lebih rendah dibandingkan triwulan III 2019

0,85% (yoy). Meningkatnya kinerja investasi terutama disebabkan oleh mulai dilanjutkannya kembali kegiatan

oleh pagu APBN di Sumatera selatan yang mengalami

pembangunan setelah adanya pelonggaran aktivitas

penyesuaian dalam rangka penanganan COVID-19 baik dari

ekonomi. Pertumbuhan kinerja investasi didorong oleh pertumbuhan

Pada triwulan IV 2020 konsumsi pemerintah diperkirakan akan

LAPORAN PEREKONOMIAN PROVINSI SUMATERA SELATAN NOVEMBER 2020

investasi pada triwulan III 2020 tumbuh 1,35% (yoy), lebih tinggi dibandingkan dengan triwulan sebelumnya yang terkontraksi

yang sebesar 9,17 triliun. Meningkatnya realisasi disebabkan

sisi kesehatan maupun dari sisi pemulihan ekonomi.

06

Kinerja investasi di triwulan III 2020 tumbuh positif dibandingkan dengan triwulan sebelumnya. Komponen

investasi bangunan dan non bangunan. Kinerja investasi

lebih tinggi dibandingkan triwulan sebelumnya. Realisasi

bangunan terkontraksi sebesar 0,44% (yoy) di triwulan III 2020,

belanja pemerintah untuk penanganan kesehatan,

membaik dibandingkan triwulan sebelumnya yang

penyaluran bantuan sosial yang tergabung dalam Jaring

terkontraksi sebesar 1,18% (yoy). Perbaikan investasi bangunan

Pengaman Sosial, serta rencana pemulihan dampak ekonomi

terkonfirmasi dari meningkatnya volume penjualan semen di

diperkirakan akan mendorong pertumbuhan konsumsi

triwulan III 2020 menjadi sebesar 591 ribu ton. Berlanjutnya

pemerintah. Realisasi kontrak pembangunan infrastruktur baik

pembangunan Jalan Tol Trans Sumatera dan pembangunan

dari pemerintah pusat dan pemerintah daerah yang akan

infrastruktur daerah mendorong investasi bangunan. Namun

dilakukan pada akhir tahun juga diperkirakan akan

demikian, perbaikan kinerja investasi bangunan belum diiringi

mendorong realisasi pengeluaran pemerintah. Selanjutnya

oleh perbaikan kinerja kredit sektor konstruksi. Pada triwulan

diselenggarakannya Pilkada serentak pada tanggal 9 Desember 2020 juga diperkirakan akan mendorong pengeluaran pemerintah lebih tinggi lagi.

III 2020, penyaluran kredit konstruksi masih terkontraksi sebesar 16,07% (yoy) lebih dalam dibandingkan dengan triwulan sebelumnya yang juga terkontraksi sebesar 12,40% (yoy). Proses restrukturisasi kredit yang masih berlangsung

Secara keseluruhan tahun, konsumsi pemerintah diperkirakan

menjadi salah satu penyebab penyaluran kredit baru masih

akan terkontraksi dibandingkan dengan tahun sebelumnya.

menurun.

Grafik 1.6 Realisasi Belanja APBD Sumatera Selatan Triwulan III 2019 dan Triwulan III 2020 80,00

%

60,00

90,0

69,98

70,00

69,28

56,94 56,13

80,0

54,81 45,98

50,00 40,00

Grafik 1.7 Realisasi Belanja APBN di Sumatera Selatan Triwulan III 2019 dan Triwulan III 2020

55,28

78,3

71,7

70,0

50,43

59,8 60,6

60,0

53,3

50,0

35,36

40,0

30,00

24,38

20,0

10,00

10,0

46,6

63,2

29,2

30,0

20,00

57,5 47,0

-

BELANJA OPERASI

BELANJA MODAL

BELANJA TAK TERDUGA

TRIWULAN III 2019

Sumber: BPKAD Sumsel

BELANJA TRANSFER

BELANJA TOTAL

BELANJA PEGAWAI

TRIWULAN III 2020

BELANJA BARANG TRIWULAN III 2019

Sumber : DJPBN Sumbagsel

BELANJA MODAL

BELANJA BANTUAN SOSIAL

TRIWULAN III 2020

BELANJA TOTAL


Investasi non bangunan tumbuh tinggi menjadi 8,91% (yoy)

Grafik 1.9 Perkembangan PMA Wilayah Sumatera Selatan

dari 0,45% (yoy) di triwulan sebelumnya. Kinerja investasi non bangunan tercermin dari peningkatan impor barang modal

0,7

pada triwulan III 2020 yang tumbuh lebih tinggi sebesar

0,6

442,8% (yoy), meningkat dari triwulan sebelumnya yang juga tumbuh 171,3% (yoy). Peningkatan impor barang modal terutama berupa impor mesin/peralatan industri, peralatan

MILIAR USD

2,00 1,50

0,5

1,00

0,15

0,4

0,50 0,3 0,2

khusus industri, dan lokomotif. Berlanjutnya pembangunan

0,1

fasilitas produksi dan infrastruktur industri kertas dan

-

-0,58

-1,00 I

pembangkit listrik mulut tambang di Sumatera Selatan

III

II

IV

I

III

II

2018

I

III

II 2020

GROWTH (%YOY)

INVESTASI PMA (LHS)

penanaman modal (PMA dan PMDN), kredit investasi, dan

IV

2019

mendorong kinerja investasi non bangunan. Kinerja investasi yang positif terkonfirmasi dari total realisasi

0,00 -0,50

Sumber : DPMPTSP Provinsi Sumatera Selatan (diolah)

4,03% (yoy) membaik dibandingkan dengan triwulan

hasil survei Bank Indonesia kepada pelaku usaha. Investasi

sebelumnya yang

PMDN pada triwulan III 2020 di Provinsi Sumatera Selatan

sejalan dengan hasil survei Bank Indonesia yang juga

mencapai Rp 4,49 trilliun, masih terkontraksi sebesar 0,47%

menunjukkan peningkatan likert scale investasi pada triwulan

(yoy) namun membaik dibandingkan dengan triwulan

III 2020 menjadi 0,21 dari 0,18 pada triwulan sebelumnya.

terkontraksi 6,88% (yoy). Perbaikan ini

sebelumnya yang terkontraksi lebih dalam sebesar 0,66% Pertumbuhan investasi di triwulan IV 2020 diperkirakan akan

transportasi sebesar 37,3%, sektor konstruksi sebesar 14,4%,

meningkat dari sisi swasta dan pemerintah. Peningkatan ini

dan sektor penyediaan listrik, gas, dan air sebesar 13,9%.

didorong oleh peningkatan aktivitas ekonomi. Adanya

Sementara itu, investasi PMA mengalami penurunan menjadi

perkiraan kenaikan konsumsi masyarakat mendorong pelaku

sebesar Rp 2,4 trilliun atau terkontraksi sebesar 0,58% (yoy),

usaha meningkatkan kapasitas/ekspansi usahanya. Selain itu

turun dibandingkan dengan triwulan sebelumnya yang masih tumbuh positif sebesar 0,15% (yoy). Kontribusi terbesar PMA berada pada sektor pertambangan, penyediaan listrik, gas, dan air, serta industri kertas dan percetakan. Secara keseluruhan, realisasi penanaman modal baik yang berasal dari PMA dan PMDN lebih tinggi dibandingkan dengan triwulan sebelumnya atau secara nominal sebesar Rp 6,9 triliun meskipun secara tahunan laju pertumbuhannya masih terkontraksi sebesar 0,21% (yoy).

korporasi besar juga melanjutkan realisasi investasi yang telah direncanakan dari tahun sebelumnya. Berlanjutnya proses pembangunan Kawasan Ekonomi Khusus Tanjung Api-Api, pembangkit listrik mulut tambang, fasilitas produksi industri pengolahan barang dari kertas, dan pembangunan pabrik pengolahan dimethyl eter (DME) dari batubara akan mendorong kinerja investasi yang meningkatkan kebutuhan pengadaan mesin-mesin pendukung pembangkit tenaga listrik, penyediaan lokomotif, dan juga pengadaan mesin pengemasan/pengepakan barang. Sementara itu dari sisi

Jika dilihat dari penyaluran perbankan, kredit investasi juga

pemerintah, realisasi pembayaran pelaksanaan pekerjaan

tercatat membaik meskipun masih terkontraksi. Kredit

infrastruktur yang dari triwulan IV 2020 hingga akhir tahun juga

investasi pada triwulan III 2020 terkontraksi sebesar

akan turut meningkatkan realisasi belanja modal pemerintah.

Grafik 1.8 Perkembangan PMDN Wilayah Sumatera Selatan 7,0

TRILIUN RP

6,0 5,0 4,0

-0,47

3,0

-0,66

2,0

Grafik 1.10 Volume Penjualan Semen di Sumatera Selatan 0,60

800

0,40

700

0,20

600

0,00

500

-0,20

400

-0,40

300

-0,60

200

1,0

-0,80

100

-

-1,00

0

I

III

II

IV

I

III

II

2018

IV

2019 INVESTASI PMDN (RHS)

Sumber : DPMPTSP Provinsi Sumatera Selatan (diolah)

I

II 2020

GROWTH (%YOY)

III

07

RIBU TON

%YOY

30,00 25,00 20,00 15,00 10,00 5,00

-2,48

0,00

-11,30

-5,00 -10,00 -15,00

I

III

II 2018

IV

I

III

II 2019

IV

I

II 2020

III

KANTOR PERWAKILAN BANK INDONESIA PROVINSI SUMATERA SELATAN

(yoy). Konstribusi terbesar PMDN berada pada sektor


Grafik 1.11 Perkembangan PDRB Komponen Ekspor Luar Negeri Sumatera Selatan 20,0

Grafik 1.12 Perkembangan Ekspor Sumatera Selatan 70,0 60,0

(%YOY)

15,0

50,0 40,0

10,0 5,0

30,0 20,0 10,0

0,0 -5,0 -10,0

(14,15)

-15,0

-7,71

0,0 -10,0

-20,0

-20,0

-25,0 -30,0 I

III

II

IV

I

III

II

2018

IV

I

2019

II

-12,20

-30,0 -40,0

(24,59) III

I

IV

III

II

2020

I

Sumber: BPS Provinsi Sumatera Selatan, diolah

I

II

III

2020

G VOLUME EKSPOR

Sumber: Bank Indonesia, diolah

Grafik 1.13 Perkembangan Volume Ekspor Impor Sumatera Selatan

Grafik 1.14 Perkembangan Harga Komoditas Internasional

JUTA USD

100

1200

80

1000

60

800 600

40

400

20

200

0

0

-20

-200 -400

-40 I

III

II

IV

I

08

III

II

2018

2019 EKSPOR

IMPOR

IV

I

II

III

2020

NET EKSPOR

Sumber: Bank Indonesia, diolah

LAPORAN PEREKONOMIAN PROVINSI SUMATERA SELATAN NOVEMBER 2020

IV

2019 G NILAI EKSPOR

1400

III

II

2018

I

IV

III

II 2018

I

III

II

IV

2019

%GKARET (SUMBU KANAN)

%GKELAPA SAWIT

I

II

III

2020 %GBATUBARA

%GMINYAK WTI

Sumber : Bloomberg, diolah

Selain itu, adanya komitmen pemerintah untuk melakukan

17,16% (qtq), atau kontraksi pertumbuhan yang berkurang

pembangunan infrastruktur strategis dalam rangka

menjadi 14,15% (yoy) dari 24,59% (yoy) pada triwulan

pemulihan ekonomi diperkirakan akan mendorong kinerja

sebelumnya. Membaiknya kinerja ekspor di triwulan ini

investasi di triwulan IV 2020. Pertumbuhan investasi di keseluruhan tahun 2020 diperkirakan akan tumbuh lebih tinggi dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Meskipun dampak COVID-19 memberikan tekanan terhadap permintaan yang menyebabkan pelaku usaha menunda ekspansi usahanya, rencana investasi terutama dari LU industri pengolahan, LU penyediaan listrik, gas, dan air, serta LU transportasi, gudang, dan telekomunikasi yang telah direncanakan dari tahun sebelumnya mampu mendorong kinerja investasi untuk tumbuh lebih tinggi. Namun demikian, menurunnya belanja modal untuk proyek

didorong oleh

pertumbuhan ekspor di hampir seluruh

komoditas ekspor unggulan utama yaitu karet, batubara, dan pulp & paper. Peningkatan ini terutama disebabkan oleh meningkatnya permintaan global yang didorong oleh peningkatan aktivitas industri manufaktur dan aktivitas logistik internasional. Sementara itu, kinerja ekspor komoditas kelapa sawit masih menunjukkan penurunan yang disebabkan menurunnya produksi kelapa sawit akibat belum optimalnya produksi kelapa sawit akibat musim kemarau tahun lalu, serta menurunnnya permintaan dari India, Uni Eropa, dan negaranegara Timur Tengah.

pembangunan infrastruktur dari pemerintah menahan kinerja

Nilai ekspor Provinsi Sumatera Selatan pada triwulan III 2020

investasi untuk tumbuh lebih tinggi.

mencapai USD838,39 juta, membaik meskipun masih

1.2.3 Ekspor Luar Negeri

yang terkontraksi sebesar 28,93% (yoy). Ekspor terbesar

Kinerja ekspor luar negeri membaik didorong oleh

adalah komoditas pulp&paper yang mencapai nilai USD317,4

terkontraksi sebesar 12,20% (yoy) dari triwulan sebelumnya

peningkatan permintaan global. Pertumbuhan ekspor luar negeri Sumatera Selatan membaik, yang tercermin pada pertumbuhan yang positif tinggi 12,26% (qtq) dari negatif

juta (pangsa 37,9%), diikuti komoditas karet yang mencapai USD285,2 juta (pangsa 34,0%), batubara dengan nilai sebesar USD 118,9 juta (pangsa 14,2%) dan kelapa sawit dengan nilai sebesar USD 17,1 juta (pangsa 2,0%).


Pada triwulan III 2020, komoditas Pulp & paper memberikan

Kinerja ekspor komoditas batubara juga masih terkontraksi

sumbangan ekspor terbesar dengan pangsa sebesar 37,9%.

namun membaik. Ekspor batubara pada triwulan III 2020

Pada triwulan laporan kinerja ekspor komoditas pulp & paper

tercatat sebesar USD118,9 juta, terkontraksi sebesar 25,47%

masih mengalami kontraksi sebesar 3,06% (yoy) namun

(yoy), membaik dibandingkan triwulan sebelumnya yang

membaik dibandingkan triwulan sebelumnya yang juga

terkontraksi sebesar 38,80% (yoy). Membaiknya kinerja ekspor

terkontraksi sebesar 28,12% (yoy). Negara tujuan ekspor utama

komoditas batubara didorong oleh peningkatan permintaan

pulp & paper adalah Tiongkok dengan pangsa sebesar 88,8%

global untuk kebutuhan energi dan kebutuhan industri

dari total ekspor pulp & paper di triwulan III 2020. Membaiknya

manufaktur terutama pengolahan baja dari India dan Jepang.

kinerja ekspor komoditas ini didorong oleh meningkatnya

Selain itu, meningkatnya produksi juga turut mendorong

aktivitas manufaktur dan permintaan kertas untuk kebutuhan

peningkatan kinerja pengiriman komoditas. Membaiknya

higienis dan kemasan.

permintaan juga diikuti oleh perbaikan harga rata-rata

meskipun membaik dibandingkan dengan triwulan sebelumnya. Pertumbuhan nilai ekspor karet pada triwulan III 2020 tercatat terkontraksi sebesar 21,21% (yoy), membaik dari triwulan sebelumnya yang terkontraksi sebesar 40,14% (yoy). Mulai meningkatnya kembali aktivitas manufaktur dan

sebesar USD 55,03/mt dibandingkan dengan triwulan sebelumnya yang sebesar USD 52,16/mt. Pada triwulan III 20202, negara tujuan ekspor komoditas batubara ke negara ASEAN sebesar 44,1%, lalu diikuti oleh India sebesar 24,3% dan Jepang sebesar 3,4%.

kegiatan transportasi mendorong kenaikan permintaan untuk

Kinerja ekspor komoditas kelapa sawit mengalami kontraksi

komoditas karet. Harga karet rata-rata pada triwulan III 2020

setelah tumbuh tinggi di triwulan sebelumnya. Kinerja ekspor

meningkat menjadi USD1,92/kg dari USD1,87/kg pada

kelapa sawit terkontraksi sebesar 18,62% (yoy), turun dalam

triwulan sebelumnya. Dari negara tujuan ekspornya, Tiongkok

dibandingkan dengan triwulan sebelumnya yang tumbuh

masih menjadi tujuan utama ekspor karet dengan pangsa

sebesar 187,81% (yoy). Penurunan ini disebabkan oleh

sebesar 37,6%, diikuti oleh Uni Eropa sebesar 16,5% dan

menurunnya permintaan kelapa sawit dari negara India,

Amerika Serikat sebesar 13,3%.

Tiongkok, dan Timur Tengah pasca berakhirnya perayaan Idul Grafik 1.16 Perkembangan Nilai Ekspor Batubara Sumatera Selatan

Grafik 1.15 Perkembangan Nilai Ekspor Karet Sumatera Selatan 450

JUTA USD

(%YOY)

400

20 10

350

0

300 250

-21,21

200

-30

-40,14

100 50 0 I

III

II

IV

I

III

II

2018

IV

I

2019

250

60

100

-40

50

-50

0

JUTA USD

(%YOY)

250

400

200

350

40

100

30

50

20

0

-18,62

0 IV

2018

III

II

IV

2019 EKSPOR CPO

Sumber: Bank Indonesia, diolah

I

%G EKSPOR CPO (SUMBU KANAN)

I

IV

I

II 2020

III

II

IV

I

III

II

2019

2020

%G EKSPOR BATUBARA (SUMBU KANAN)

Grafik 1.18 Perkembangan Nilai Ekspor Pulp dan Kertas Sumatera Selatan

150

III

-60 III

II 2018

50

10

0 -20 -40

EKSPOR BATUBARA

187,81

II

-25,47 -38,80

I

Grafik 1.17 Perkembangan Nilai Ekspor Kelapa Sawit Sumatera Selatan

I

40 20

150

2020

60

100 80

%G EKSPOR KARET (SUMBU KANAN)

EKSPOR KARET

70

(%YOY)

200

III

II

JUTA USD

-10 -20

150

300

III

JUTA USD

(%YOY)

400 350 300

300

250

250

200

200

150

150

-50

50

-100

0

100

-3,06

50

-28,12

100

0 -50 -100

I

III

II

IV

2018 EKSPOR PULP/KERTAS

I

III

II 2019

IV

I

II 2020

%G EKSPOR PULP/KERTAS (SUMBU KANAN)

III

09 KANTOR PERWAKILAN BANK INDONESIA PROVINSI SUMATERA SELATAN

Kontraksi ekspor juga masih terjadi pada komoditas karet

komoditas batubara di triwulan III 2020 yang naik menjadi


Grafik 1.19 Pangsa Ekspor Luar Negeri Sumatera Selatan Berdasarkan Nilai Ekspor Triwulan III 2020

Grafik 1.20 Pangsa Negara Tujuan Ekspor Berdasarkan Nilai Ekspor Triwulan III 2020

34,02%

5,1%

3,3%

7,1%

2,1%

47,8%

5,0%

3,6%

2,0%

5,8%

7,1%

USA

KARET

2,04%

EUROPE

KELAPA SAWIT

14,18%

CHINA

BATU BARA

37,86%

JAPAN

PULP/KERTAS

11,90%

INDIA

TAIWAN

VIETNAM

MALAYSIA

KAMBOJA

OTHERS

8,0%

LAINNYA

KOREA SELATAN

Sumber : Cognos BI

Adha. Penurunan ini juga disebabkan oleh diskrimasi

akan terkontraksi lebih dalam. Namun demikian, realisasi

perdagangan minyak kelapa sawit dari Indonesia yang

kontrak pengiriman ekspor yang telah ditetapkan sebelumnya

tertuang pada aturan RED II (Renewable Energy Directive II) dari

dapat menopang laju pertumbuhan ekspor untuk tidak

Uni Eropa serta adanya pengenaan tarif impor biodiesel 8-18%

terkontraksi lebih dalam.

dari Uni Eropa akibat tudingan praktik subsidi untuk produk biodiesel berbasis minyak sawit. Ditengah penurunan kinerja

LAPORAN PEREKONOMIAN PROVINSI SUMATERA SELATAN NOVEMBER 2020

10

1.2.4 Impor Luar Negeri

ekspor, harga crude palm oil (CPO) internasional tumbuh lebih

Kinerja impor luar negeri tumbuh lebih tinggi di triwulan III

tinggi dibandingkan dengan triwulan sebelumnya. Pada

2020. Komponen impor luar negeri pada periode laporan

triwulan III 2020, harga CPO tercatat sebesar USD 661,69/mt

tumbuh sebesar 12,03% (yoy), meningkat dibandingkan

lebih tinggi dibandingkan dengan triwulan sebelumnya yang

triwulan sebelumnya yang terkontraksi sebesar 13,32% (yoy).

sebesar USD 540,33/mt. Negara tujuan utama ekspor kelapa

Peningkatan impor ini didorong oleh peningkatan impor

sawit pada triwulan III 2020 adalah negara-negara Uni Eropa

barang modal. Nilai impor Sumatera Selatan pada triwulan III

dengan pangsa sebesar 62,9% dan negara-negara ASEAN

2020 tercatat sebesar USD 219,21 juta atau meningkat sebesar

dengan pangsa sebesar 37,1%.

108,38% (yoy) dibandingkan dengan triwulan sebelumnya

Pada triwulan IV 2020, kinerja pertumbuhan ekspor luar negeri diperkirakan akan kembali meningkat. Tiongkok, sebagai negara tujuan utama ekspor Sumatera Selatan terus menunjukkan peningkatan pertumbuhan ekonominya. Lebih lanjut, peningkatan ekspor diperkirakan akan mulai meningkat didorong oleh

membaiknya aktivitas industri manufaktur

global, membaiknya aktivitas logistik, meningkatnya permintaan untuk kebutuhan medis dan sanitasi seperti masker dan tisu toilet, meningkatnya kebutuhan kemasan, dan aktivitas transportasi darat. Hal ini terlihat dari ekspor pada bulan Oktober yang menunjukkan peningkatan pada

yang tumbuh sebesar 34,67% (yoy). Peningkatan nilai impor didorong oleh pertumbuhan nilai impor peralatan industri, peralatan khusus industri, bubur kertas dan kertas bekas. Peningkatan impor peralatan industri dan peralatan khusus industri disebabkan oleh peningkatan investasi sektor swasta/korporasi besar yang telah direncanakan di tahun sebelumnya. Sementara itu, untuk komoditas bubur kertas disebabkan adanya penundaan penerapan aturan eksportir yang tertuang pada Permendag 83/2020 yang menyebabkan pelaku usaha meningkatkan impor komoditas tersebut untuk kebutuhan bahan baku. Ditinjau dari negara asalnya, impor di triwulan III 2020 paling tinggi berasal dari Tiongkok dengan

komoditas batubara (26,6%, mtm), karet (27,94%, mtm) dan

pangsa sebesar 69,0%, selanjutnya disusul oleh ASEAN

pulp&paper (1,12%, mtm). Penguatan harga komoditas juga

dengan pangsa impor sebesar 9,1%.

turut mendorong kinerja ekspor untuk tumbuh lebih tinggi lagi.

Pada triwulan IV 2020, impor luar negeri diperkirakan masih tumbuh namun melambat. Hal ini sejalan dengan mulai

Secara keseluruhan tahun, kinerja pertumbuhan ekspor luar

pulihnya aktivitas manufaktur global dan masih berlanjutnya

negeri menurun dibandingkan dengan tahun sebelumnya.

proyek-proyek dari lapangan usaha industri pengolahan,

Turunnya permintaan global akibat menurunnya aktivitas

pertambangan dan penggalian, serta penyediaan listrik, gas,

industri manufaktur dan penghentian sementara aktivitas

dan air yang membutuhkan barang-barang impor berupa

logistik global akibat pandemi COVID-19 menyebabkan

mesin/peralatan industri. Selain itu, adanya peningkatan

kinerja ekspor luar negeri dari Sumatera Selatan diperkirakan

kebutuhan bahan baku bubur kertas dan kertas bekas juga


Tabel 1.5 Perkembangan Nilai Impor Komoditas Utama Provinsi Sumatera Selatan (juta US$) 2018

KOMPONEN IMPOR Total

2019

2020

PANGSA (%)

II

III

IV

I

II

III

IV

I

II

III

289,3

129,9

100,2

121,4

123,2

105,2

130,7

135,9

165,8

219,2

18,2

2,9

2,1

3,6

2,4

2,1

3,0

1,4

7,1

0,5

0,2%

1,6

5,0

3,7

19,8

13,7

13,1

10,4

4,3

1,7

0,9

0,4% 24,7%

Peralatan Elektrik Besi dan Baja

100,0%

Peralatan industri

28,9

22,3

23,1

10,0

15,9

11,4

24,4

28,1

37,6

54,1

Pupuk

26,4

25,0

24,5

18,2

17,3

26,4

25,0

24,1

20,7

20,4

9,3%

0,0

2,1

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0% 14,8%

Gandum

162,6

14,2

10,7

15,4

20,2

15,5

6,2

7,1

4,0

32,5

Bubur kertas dan kertas bekas

3,2

1,0

1,1

15,7

16,4

0,2

0,0

0,0

0,7

9,0

4,1%

Kendaraan

0,8

2,2

1,7

5,0

0,7

1,5

0,7

3,0

0,8

8,5

3,9%

Peralatan Khusus Industri

Mineral Non-Logam Lainnya

5,8

13,3

5,8

6,5

5,7

5,9

4,0

7,7

6,0

5,4

2,5%

41,8

41,9

27,6

27,3

30,8

29,2

56,8

60,3

87,4

87,9

40,1%

Sumber: Bank Indonesia, diolah

(%YOY)

250

108,38

200

34,67

150

50

219,21

165,85

100

0 I

IV

III

II

I

2018

IV

III

II

I

TOTAL NILAI IMPOR

350

200

300

150

250

100

200

50

150

0

100

-50

50

-100

0

III

II

2019

250

JUTA TON

30

14,42

-17,48

20 10 0 -10 -20 -30

III

II

IV

I

2018

GROWTH (AKSIS KANAN)

III

II

IV

I

2019 TOTAL VOLUME IMPOR

Sumber: Bank Indonesia, diolah

50 40

I

2020

(%YOY)

II

III

2020

Sumber: Bank Indonesia, diolah

Grafik 1.23. Perkembangan Impor Provinsi Sumatera Selatan Berdasarkan Negara Asal Triwulan III 2020

Grafik 1.24. Pangsa Impor Provinsi Sumatera Selatan Berdasarkan Negara Asal Triwulan III 2020

100% 90% 80% 70%

1,6%

9,1%

8,1%

8,8%

AMERIKA

60% 50%

EROPA

40%

ASEAN

LAINNYA

69,0%

30%

TIONGKOK

20%

0,8%

10%

JEPANG

0% I

III

II

IV

I

2018 AMERIKA

III

II

IV

2019 EROPA

TIONGKOK

JEPANG

I

II

2,6%

III

INDIA

2020 INDIA

ASEAN

LAINNYA

Sumber: Bank Indonesia, diolah

Sumber: Bank Indonesia, diolah

turut akan mendorong kinerja impor di akhir tahun. Namun

pengolahan kertas dan barang kertas, industri pertambangan

demikian, realisasi impor secara masif yang telah dilakukan

dan penggalian, serta penyediaan listrik, gas, dan air

pada pertengahan tahun 2020 diperkirakan akan menurunkan

mendorong kebutuhan impor barang modal dari luar negeri.

kinerja impor pada triwulan IV 2020.

Selain itu adanya penambahan lokomotif untuk kebutuhan

Secara keseluruhan tahun, impor luar negeri diperkirakan akan tumbuh lebih tinggi dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Realisasi pembangunan proyek industri

transportasi darat juga turut mendorong pertumbuhan kinerja impor tumbuh lebih tinggi lagi.

11

GROWTH (AKSIS KANAN)

KANTOR PERWAKILAN BANK INDONESIA PROVINSI SUMATERA SELATAN

JUTA USD

300

250,98

350

Grafik 1.22. Perkembangan Volume Impor Provinsi Sumatera Selatan

284,16

Grafik 1.21. Perkembangan Nilai Impor Provinsi Sumatera Selatan


1.3 PERKEMBANGAN EKONOMI MENURUT LAPANGAN USAHA Perekonomian Sumatera Selatan bersumber dari tiga

sebesar 54,14% terhadap struktur PDRB Provinsi Sumatera

lapangan usaha (LU) utama, yaitu LU industri pengolahan

Selatan. Pada triwulan III 2020, kontraksi pertumbuhan

(pangsa 19,36%), LU pertambangan dan penggalian (pangsa

ekonomi Sumatera Selatan terjadi pada seluruh LU utama

19,18%) dan LU pertanian, kehutanan dan perikanan (pangsa

yaitu LU industri pengolahan, LU pertambangan dan

15,60%). Secara kumulatif ketiga LU memberikan kontribusi

penggalian, dan LU pertanian, kehutanan dan perikanan.

Tabel 1.6 Laju Pertumbuhan Tahunan Sektoral PDRB Provinsi Sumatera Selatan ADHK 2010 (%yoy) 2018

2019

2020

SEKTOR II

III

IV

TOTAL

I

II

III

1,21

0,57

4,66

2,16

3,67

3,21

2,45

3,72

Pertambangan dan Penggalian

9,63

11,94

9,29

9,27

9,50

7,98

8,14

7,57

Industri Pengolahan

5,39

5,52

5,70

5,51

5,52

5,30

4,42

4,19

Pengadaan Listrik, Gas

8,44

8,64

8,56

8,85

7,96

9,69

9,53

14,05 10,29

12,64

Pengadaan Air

7,64

9,34

9,37

7,96

6,26

5,76

6,87

10,86

7,46

4,68

3,46

Konstruksi

7,55

4,25

1,64

5,59

0,32

4,52

4,98

3,46

3,34

2,69

-1,35 -0,56 -7,70

Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan

LAPORAN PEREKONOMIAN PROVINSI SUMATERA SELATAN NOVEMBER 2020

12

IV

TOTAL

3,22

I

II

II

4,11

0,66

8,27

2,47

-3,95 -3,99

4,85

6,34

-0,17

-3,64 -0,27

12,04 16,99 5,75

Perdagangan Besar dan Eceran, dan Reparasi Mobil dan Sepeda Motor

7,99

8,21

7,83

8,09

7,76

8,08

8,70

8,31

8,22

7,54

Transportasi dan Pergudangan

7,05

7,29

7,71

7,36

8,29

8,87

7,73

8,30

8,30

6,17 -11,36 -9,30

Penyediaan Akomodasi dan Makan Minum

11,31

13,58

17,09

13,15

16,81

16,41

14,72

13,74

15,35

8,68 -18,26 -10,42

Informasi dan Komunikasi

7,32

7,32

7,32

7,32

7,32

8,32

9,32

10,32

11,32

12,32

12,32

Jasa Keuangan

2,86

0,18

-0,81

1,78

-2,09

-3,30

-0,17

0,21

-1,35

0,15

-1,40

3,96

Real Estate

8,21

8,25

7,76

7,95

7,59

8,22

8,12

8,17

8,03

8,38

0,35

0,85

Jasa Perusahaan

9,64

9,73

10,20

9,51

8,90

9,91

9,52

9,91

9,57

9,05

-4,32

-5,23

Administrasi Pemerintah, Pertahanan dan Jaminan Sosial Wajib

2,37

5,81

1,27

2,70

-0,16

0,03

0,07

4,27

1,09

5,03

4,45

4,33

Jasa Pendidikan

2,43

3,68

3,77

2,72

3,67

4,35

5,68

5,17

4,73

3,94

0,80

-3,01 15,15

-1,93

12,32

Jasa Kesehatan dan Kegiatan Sosial

0,94

2,89

6,29

2,56

12,15

8,98

9,76

7,63

9,57

16,22

19,59

Jasa lainnya

8,40

9,69

10,80

9,06

8,17

8,23

7,60

7,16

7,77

7,27

7,89

4,79

PRODUK DOMESTIK REGIONAL BRUTO

6,07

6,14

6,07

6,04

5,69

5,81

5,66

5,69

5,71

4,86

-1,53

-1,40

Sumber: BPS Provinsi Sumatera Selatan (diolah)

Tabel 1.7 Laju Pertumbuhan Triwulanan Sektoral PDRB Provinsi Sumatera Selatan ADHK 2010 (%qtq) 2018

2019

2020

SEKTOR II

III

Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan

5,69

Pertambangan dan Penggalian

6,97

5,21

Industri Pengolahan

3,31

0,96

TOTAL

I

II

2,16

10,74

5,23

9,76 -18,91

-1,17

9,27

-1,56

5,49

5,36

0,48

5,51

0,68

3,10

0,12

IV

10,57 -19,90

III

TOTAL

I

3,22

11,16

-1,69

8,27

-6,22

-1,12

5,32

0,26

4,85

2,76

-3,22

0,02

IV

Pengadaan Listrik, Gas

1,55

1,91

-3,99

8,85

8,64

3,19

1,76

Pengadaan Air

3,83

2,01

0,05

7,96

0,27

3,34

3,08

Konstruksi

0,58

2,65

2,52

5,59

-5,23

4,79

3,11

Perdagangan Besar dan Eceran, dan Reparasi Mobil dan Sepeda Motor

1,62

1,95

3,23

8,09

0,75

1,93

2,53

Transportasi dan Pergudangan

1,94

2,13

2,06

7,36

1,92

2,49

1,06

2,60

Penyediaan Akomodasi dan Makan Minum

3,81

5,23

5,84

13,15

1,03

3,46

3,70

4,94

-0,02 10,29

II

1,73

II

5,07

7,30

2,64

6,25

7,46

-5,32

2,14

5,36

1,03

3,34

-5,93

0,66

3,94

2,86

8,22

0,04 -12,52

8,95

3,79

8,30 -0,09 -14,43 15,35

-3,47 -22,19

3,41 13,65

Informasi dan Komunikasi

1,78

2,27

2,74

7,73

1,59

2,32

0,87

2,13

8,15

3,96

4,68

3,02

Jasa Keuangan

0,83

-2,29

0,36

1,78

-0,97

-0,42

0,87

0,74

-1,35

-1,03

-1,96

6,36

Real Estate

2,78

0,99

1,27

7,95

2,35

3,39

0,89

1,32

8,03

2,55

-4,27

1,39

Jasa Perusahaan

2,92

2,38

2,52

9,51

0,81

3,87

2,02

2,89

9,57

0,02

-8,87

1,05

Administrasi Pemerintah, Pertahanan dan Jaminan Sosial Wajib

4,27

6,14

-1,32

2,70

-8,58

4,47

6,18

2,82

1,09

-7,91

3,89

6,06

Jasa Pendidikan

2,51

2,62

1,51

2,72

-2,92

3,19

3,92

1,02

4,73

-4,05

0,07

-0,01

Jasa Kesehatan dan Kegiatan Sosial

6,31

3,11

1,83

2,56

0,48

3,31

3,84

-0,14

9,57

8,49

6,31 -0,02

Jasa lainnya

2,97

3,49

3,96

9,06

-2,36

3,03

2,89

3,53

7,77

-2,26

3,63 -0,07

PRODUK DOMESTIK REGIONAL BRUTO

3,86

4,14

-2,91

6,04

0,64

3,98

3,99

-2,89

5,71

-0,14

Sumber: BPS Provinsi Sumatera Selatan (diolah)

-2,35

4,12


1.3.1 Lapangan Usaha Industri Pengolahan

Grafik 1.26 Likert Scale Kapasitas Utilisasi Pelaku Usaha di Sumatera Selatan

Pada triwulan III 2020, kinerja LU industri pengolahan masih 1,00

baik yang tercermin pada pertumbuhan positif 0,02% (qtq) dari

0,80

kontraksi 3,22% (qtq) pada triwulan sebelumnya. Namun

0,60 0,40

demikian, peningkatan pertumbuhan secara triwulanan

0,20 0,00 -0,20

tersebut tidak diikuti oleh pertumbuhan secara tahunan yang

0,00 -0,14

-0,40

terkontraksi lebih tinggi 0,27% (yoy) dari 0,17% (yoy) pada

-0,60

triwulan sebelumnya. Kontraksi tersebut utamanya

-0,80 -1,00

disebabkan oleh kontraksi subsektor industri batubara dan

-1,20

-1,00 I

III

II

pengilangan migas dan subsektor industri makanan dan

IV

I

2018

IV

III

II

I

III

II

2019

2020

minuman yang masing-masing terkontraksi sebesar 0,28% (yoy) dan 2,49% (yoy). Penurunan ini disebabkan oleh menurunnya kebutuhan migas domestik seiring dengan pengolahan pada triwulan laporan. Penyaluran kredit kepada LU industri pengolahan di Sumatera Selatan terkontraksi

meningkat, laju pertumbuhan tahunan industri makanan dan

menjadi 1,64% (yoy) dari sebelumnya tumbuh positif 2,09%

minuman masih menunjukkan penurunan.

(yoy) di triwulan sebelumnya.

Sebaliknya, subsektor industri kertas dan barang dari kertas

Pada triwulan IV 2020, LU industri pengolahan diperkirakan

masih tumbuh positif dibandingkan dengan triwulan

akan tumbuh meningkat dibandingkan triwulan III 2020.

sebelumnya yang didorong peningkatan permintaan global

Membaiknya aktivitas ekonomi dunia berdampak kepada

untuk kebutuhan kertas tissue dan kemasan. Sejalan dengan

mulai meningkatnya permintaan komoditas dari Sumatera

subsektor industri kertas, subsektor industri karet, barang dari

Selatan seperti karet dan pulp&paper. Permintaan atas karet

karet dan plastik juga tumbuh meskipun masih terkontraksi.

diperkirakan meningkat seiring dengan mulai meningkatnya

Meningkatnya aktivitas manufaktur dan transportasi serta

aktivitas industri otomotif dunia. Peningkatan konsumsi

harga karet global mendorong peningkatan subsektor industri

masyarakat seiring dengan pelonggaran aktivitas menuju era

karet. Pertumbuhan ini mampu menopang kinerja LU industri

kenormalan baru diperkirakan turut mendorong kinerja LU ini.

pengolahan untuk tidak turun lebih dalam.

Peningkatan aktivitas juga diperkirakan akan mendorong

Menurunnya kinerja industri pengolahan terkonfirmasi dari hasil survei yang dilakukan Bank Indonesia yang terindikasi dari penurunan likert scale penjualan domestik dan likert scale kapasitas utilisasi yang masih negatif meskipun membaik.

kegiatan transportasi masyarakat yang mendorong permintaan minyak dan gas untuk kebutuhan energi. Namun kinerja industri pengolahan diperkirakan masih tertahan seiring dengan masih terbatasnya perbaikan harga komoditas.

Likert scale penjualan domestik menurun menjadi –1,13 dari

Secara keseluruhan tahun, LU industri pengolahan

-0,90 di triwulan sebelumnya. Likert scale kapasitas utilisasi

diperkirakan akan tumbuh melambat dibandingkan dengan

membaik namun masih negatif menjadi -0,14 dari -1,00. Sisi

tahun sebelumnya. Menurunnya aktivitas industri akibat

perbankan juga mengkonfirmasi penurunan kinerja industri

pembatasan ekonomi dan sosial menurunkan kinerja industri

Grafik 1.25 Likert scale Penjualan Domestik Pelaku Usaha di Sumatera Selatan

Grafik 1 27 Penyaluran Kredit Sektor Industri Pengolahan Sumatera Selatan

1,50

30.000

1,00

25.000

0,50

20.000

0,00

(%YOY)

2,09

10

-1,13

-1,00

0

(1,64)

10.000

-0,90

-1,50

5.000

III

II 2018

IV

I

III

II 2019

IV

I

II 2020

III

-10 -20 -30

I

30 20

15.000

-0,26

-0,50

MILIAR RP

I

III

II

IV

I

2018 NOMINAL KREDIT IND. PENGOLAHAN

III

II 2019

IV

I

II 2020

G KREDIT IND. PENGOLAHAN

III

13 KANTOR PERWAKILAN BANK INDONESIA PROVINSI SUMATERA SELATAN

masih belum normalnya aktivitas transportasi. Sementara itu, meskipun permintaan terhadap makanan dan minuman mulai


global dan domestik. Dari sisi global, turunnya aktivitas

harga komoditas global terkonfirmasi dari hasil survei kepada

komoditas unggulan Sumatera Selatan. Hal ini juga ditambah

pelaku usaha. Likert scale persediaan menunjukkan

dengan pembatasan kegiatan logistik internasional untuk

peningkatan meskipun masih negatif menjadi -0,15 dari

mengurangi penyebaran wabah COVID-19. Dari sisi domestik,

sebelumnya sebesar -0,40. Demikian juga dengan likert scale

pembatasan aktivitas turut menurunkan produktivitas dari

harga jual yang menunjukkan peningkatan menjadi 0,06 dari

industri pengolahan. Turunnya permintaan aktivitas ekonomi

sebelumnya -0,55.

dan sosial masyarakat juga turut menurunkan permintaan domestik. Namun demikian, adanya kebutuhan komoditas kesehatan yang meningkat selama pandemi seperti komoditas kertas untuk kebutuhan medis dan sanitasi turut menopang kinerja industri pengolahan. Selain itu, kontrakkontrak penjualan yang telah ditetapkan dari awal tahun juga turun menopang kinerja industri pengolahan untuk tidak turun lebih dalam.

terkontraksi lebih dalam menjadi 48,4% (yoy) dari 30,57% (yoy) pada triwulan sebelumnya. Selanjutnya, kinerja LU pertambangan dan penggalian diperkirakan mulai meningkat pada triwulan IV 2020 masih terbatas meskipun permintaan eksternal dan domestik mulai meningkat. Permintaan batubara diprakirakan tumbuh terbatas seiring dengan harga komoditas yang masih tertahan

Pada triwulan III 2020, kinerja LU pertambangan dan penggalian membaik yang tercermin pada pertumbuhan positif 5,32% (qtq) dari kontraksi 1,12% (qtq) pada triwulan sebelumnya. Namun demikian, peningkatan pertumbuhan secara triwulanan tersebut tidak diikuti oleh pertumbuhan secara tahunan yang terkontraksi lebih tinggi 3,99% (yoy) dari 3,95% (yoy) pada triwulan sebelumnya. Ditengah peningkatan aktivitas penggalian yang mulai kembali pulih, kinerja LAPORAN PEREKONOMIAN PROVINSI SUMATERA SELATAN NOVEMBER 2020

Penurunan kinerja LU pertambangan dan penggalian juga terkonfirmasi dari penyaluran kredit perbankan ke LU ini yang

meskipun masih terkontraksi. Produksi batubara diperkirakan

1.3.2 Lapangan Usaha Pertambangan dan Penggalian

14

Meningkatnya aktivitas penggalian ditengah peningkatan

manufaktur global menurunkan permintaan ekspor terhadap

produksi batubara masih terbatas. Hal ini terlihat dari kuota produksi batubara Sumatera Selatan yang mengalami penurunan menjadi sebesar 54,5 juta ton dari 61,8 juta ton pada tahun sebelumnya. Meskipun demikian, kinerja LU ini masih ditopang oleh kinerja ekspor batubara yang mengalami

dibandingkan dengan awal tahun 2020. Meskipun demikian adanya peningkatan aktivitas manufaktur terutama untuk industri pengolahan baja dari India dan Jepang turut menopang kinerja LU pertambangan dan penggalian. Selain itu, masuknya musim dingin diperkirakan juga akan menopang kinerja LU pertambangan dan penggalian untuk tidak turun lebih dalam. Komitmen pelaku usaha produsen batubara untuk mengoptimalkan penjualan ke pasar alternatif seperti Taiwan, Vietnam, dan Hong Kong diperkirakan akan membantu mendorong kinerja LU pertambangan dan penggalian. Secara keseluruhan tahun, kinerja LU pertambangan

peningkatan di triwulan III 2020. Demikian juga dengan

diprakirakan terkontraksi dibandingkan dengan tahun

perbaikan harga komoditas batubara dan minyak dunia di

sebelumnya. Menurunnya permintaan global akibat

triwulan III 2020 yang masing-masing mengalami

penurunan aktivitas manufaktur dan industri akibat COVID-19

peningkatan menjadi sebesar USD 55,03/mt dan USD

menurunkan kinerja ekspor batubara. Produksi batubara juga

40,9/barrel.

menurun disebabkan oleh menurunnya permintaan

Grafik 1.29 Likert scale Harga Jual di Sumatera Selatan

Grafik 1.28 Likert scale Persediaan di Sumatera Selatan 0,80

0,80

0,60

0,60 0,40

0,40

0,20

0,14

0,20

0,067

0,00 0,00

-0,15

-0,20

-0,27

-0,20 -0,40

-0,40

-0,60

-0,40

-0,60

-0,55

-0,80 I

III

II 2018

IV

I

III

II 2019

IV

I

II 2020

III

I

III

II 2018

IV

I

III

II 2019

IV

I

II 2020

III


Grafik 1.30 Penyaluran Kredit Sektor Pertambangan dan Penggalian Sumatera Selatan

Grafik 1.31 Penyaluran Kredit Sektor Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan. 250

21.500

200

21.000

150

20.500

5.000

100

20.000

4.000

50

19.500

0

19.000

-50

18.500

-100

18.000

9.000

MILIAR RP

(%YOY)

8.000 7.000 6.000

-30,57

3.000

-48,40

2.000 1.000 I

III

II

IV

I

III

II

2018 NOMINAL KREDIT PERTAMBANGAN

IV

I

2019

II

III

2020 G KREDIT PERTAMBANGAN

kebutuhan listrik dalam negeri dan adanya penurunan jumlah

MILIAR RP

(%YOY)

14 12 10 8 6

2,09

4 2 0

-2,85

-2 -4 I

III

II

IV

I

III

II

2018

IV

2019 NOMINAL KREDIT PERTANIAN

I

II

III

2020

G KREDIT PERTANIAN

Dari sisi perbankan, penyaluran kredit ke LU pertanian,

kuota produksi. Meskipun demikian, harga komoditas

kehutanan, dan perikanan mengalami peningkatan.

batubara yang menguat relatif dibandingkan dengan tahun

Penyaluran kredit ke sektor pertanian, kehutanan dan

sebelumnnya menopang kinerja LU pertambangan dan

perikanan tumbuh positif 2,09% (yoy) meningkat dari kontraksi

batubara untuk tidak turun lebih dalam.

2,85% (yoy) pada triwulan sebelumnya. Peningkatan ini didorong oleh kinerja sektor pertanian, kehutanan, dan

1.3.3 Lapangan Usaha Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan

Lebih lanjut, hasil survei Bank Indonesia ke pelaku usaha juga

Pada triwulan III 2020, kinerja LU pertanian, kehutanan dan

mengkonfirmasi penurunan

perikanan yang memiliki dampak minimal di masa pandemi. LU pertanian yang terindikasi

perikanan masih baik yang tercermin pada pertumbuhan

dari menurunnya likert scale penjualan domestik dan

sebesar 5,07% (qtq) dari 1,73% (qtq) pada triwulan sebelumnya.

persediaan serta kapasitas utilisasi.

triwulanan tersebut tidak diikuti oleh pertumbuhan secara tahunan yang terkontraksi 3,64% (yoy) dari tumbuh positif 0,66% (yoy) pada triwulan sebelumnya. Terkontraksinya LU ini disebabkan oleh berakhirnya musim panen padi dan masuknya masa pengolahan lahan dan tanam seiring dengan turunnya produksi gabah kering giling. Penurunan kinerja LU ini bersumber dari subsektor tanaman pangan yang terkontraksi 18,50% (yoy) di triwulan III 2020 melambat signifikan dibandingkan dengan triwulan sebelumnya yang tumbuh positif 7,15% (yoy). Penurunan ini juga terlihat dari kinerja ekspor kelapa sawit yang mengalami penurunan di triwulan III 2020, meskipun harga komoditas CPO meningkat dibandingkan dengan triwulan sebelumnya. Namun kinerja LU pertanian, kehutanan, dan perikanan masih ditopang oleh kinerja ekspor karet dan pulp & paper yang tercatat meningkat di triwulan laporan. Meskipun kinerja LU pertanian, kehutanan, dan perikanan melambat, Nilai Tukar Petani (NTP) mengalami peningkatan di triwulan III 2020. Indeks NTP pada triwulan III 2020 mengalami peningkatan menjadi 96,49 dari triwulan sebelumnya yang sebesar 89,99. Peningkatan ini terutama didorong oleh peningkatan NTP dari sektor perkebunan dan perikanan tangkap. Sementara itu, NTP sektor tanaman padi palawija dan hortikultura mengalami penurunan.

15

Ke depan, kinerja LU pertanian, kehutanan, dan perikanan di triwulan IV 2020 diperkirakan meningkat. Produksi getah karet mulai meningkat seiring dengan pulihnya aktivitas penyadapan getah karet yang didorong oleh perbaikan harga karet di tingkat petani. Peningkatan ini seiring dengan pulihnya harga karet internasional yang didorong oleh meningkatnya permintaan karena mulai pulihnya aktivitas industri manufaktur. Adanya kebijakan penerapan Unit Pengolahan dan Pemasaran Bokar (UPPB) juga turut membantu petani memperoleh harga getah karet yang lebih tinggi dibandingkan dengan harga karet dari pengepul. Lebih lanjut, peningkatan aktivitas ekonomi dan sosial diperkirakan dapat meningkatkan permintaan makanan dan minuman, sehingga berdampak pada peningkatan permintaan komoditas bahan pangan baik dari produk pertanian maupun peternakan. Secara keseluruhan tahun, kinerja LU pertanian, kehutanan, dan perikanan diperkirakan masih tumbuh positif namun melambat dibandingkan tahun 2019. Menurunnya permintaan masyarakat akan bahan pangan karena menurunnya aktivitas e ko n o m i d a n s o s i a l d i m a s a p a n d e m i COV I D -1 9 menyebabkan menurunnya kinerja produksi di tingkat petani. Selain itu, harga komoditas perkebunan karet dan kelapa sawit diperkirakan tidak sebaik tahun sebelumnya, ditambah dengan menurunnya permintaan global. Namun demikian,

KANTOR PERWAKILAN BANK INDONESIA PROVINSI SUMATERA SELATAN

Namun demikian, peningkatan pertumbuhan secara


kinerja LU pertanian, kehutanan, dan perikanan masih

Grafik 1.33 Likert scale Margin di Sumatera Selatan

ditopang oleh kinerja industri pulp & paper yang mendorong pertumbuhan dari subsektor kehutanan.

0,80 0,60 0,40

1.3.4 Lapangan Usaha Perdagangan Besar dan Eceran, dan Reparasi Mobil dan Sepeda Motor

0,20 0,00 -0,29

-0,20 -0,40

Pada triwulan III 2020, pertumbuhan LU perdagangan besar dan eceran, dan reparasi mobil dan sepeda motor membaik

-0,60

-0,82

-0,80

-0,73

-1,00 I

yang tercermin pada pertumbuhan sebesar 8,95% (qtq) dari

III

II

IV

I

IV

III

II

2018

I

III

II

2019

2020

kontraksi 12,52% (qtq) atau kontraksi pertumbuhan yang berkurang menjadi 1,93% (yoy) dari 7,70% (yoy) pada triwulan sebelumnya. Relaksasi PSBB mendorong aktivitas ekonomi dan sosial masyarakat yang mendorong peningkatan konsumsi masyrakat. Dibukanya kembali tempat rekreasi dan

dan eceran, dan reparasi mobil dan sepeda motor

pusat perbelanjaan turut mendorong peningkatan aktivitas

diperkirakan terus membaik. Meningkatnya keyakinan

masyarakat. Masuknya HBKN Idul Adha dan penyaluran gaji

masyarakat untuk beraktivitas di luar rumah yang didukung

ke-13 kepada ASN mendorong kinerja LU perdagangan.

oleh penerapan protokol kesehatan yang ketat turut

Perbaikan kinerja LU perdagangan besar dan eceran, dan reparasi mobil dan sepeda motor terkonfirmasi dari penyaluran kredit dan hasil survei Bank Indonesia ke pelaku usaha. Penyaluran kredit ke LU perdagangan dan eceran

LAPORAN PEREKONOMIAN PROVINSI SUMATERA SELATAN NOVEMBER 2020

16

Memasuki triwulan IV 2020, kinerja LU perdagangan besar

meningkat yang tercermin dari menurunnya kontraksi pertumbuhan kredit ke LU ini menjadi 2,72 % (yoy) dari 4,48%

mendorong kinerja LU ini. Masuknya libur Maulid Nabi dan libur akhir tahun juga diperkirakan akan meningkatkan konsumsi masyarakat. Selain itu, diselenggarakannya Pilkada serentak pada tanggal 9 Desember 2020 juga diperkirakan akan meningkatkan kinerja LU perdagangan dari peningkatan penjualan atribut dan alat kampanye.

(yoy) pada triwulan sebelumnya. Sementara itu kinerja

Secara keseluruhan tahun, LU perdagangan besar dan

pertumbuhan kredit kepemilikan kendaraan bermotor (KKB)

eceran, dan reparasi mobil dan sepeda motor diperkirakan

diperkirakan menahan perbaikan kinerja LU ini. Kontraksi

terkontraksi dibandingkan dengan tahun sebelumnya.

pertumbuhan kredit KKB meningkat menjadi 11,89% (yoy) dari

Penerapan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB)

2,80% (yoy) pada triwulan sebelumnya. Menurunnya kinerja

memberikan dampak yang cukup berpengaruh terhadap

pertumbuhan kredit KKB ini disebabkan oleh menurunnya

kinerja LU perdagangan. Ditutupnya tempat rekreasi dan

permintaan dari masyarakat akan kendaraan bermotor karena

pusat perbelanjaan menurunkan konsumsi dan permintaan

menurunnya pendapatan selama pandemi. Namun demikian,

masyarakat. Selain itu, penerapan protokol kesehatan di

hasil survei ke pelaku usaha mengkonfirmasi peningkatan

pelaku usaha juga menyebabkan kapasitas produksi dan

kinerja LU ini yang terindikasi dari peningkatan likert scale

penjualan menjadi lebih rendah dibandingkan sebelum

penjualan dan margin.

pandemi. Selain itu, masyarakat yang cenderung menyimpan

Grafik 1.32 Likert Scale Penjualan Domestik Pelaku Usaha di Sumatera Selatan

Grafik 1.34 Penyaluran Kredit Sektor Perdagangan dan Eceran dan Reparasi Mobil dan Sepeda Motor Sumatera Selatan

1,60

19.500

1,40

19.000

1,20

18.500 0,93

1,00

0,50

0,6

16.000 15.500 2018

I

III

II 2019

IV

I

II 2020

III

6,00 4,00

0,20 IV

10,00 8,00

2,00

0,00 III

12,00

17.000 16.500

II

14,00

17.500

0,40

I

% (YOY)

18.000

0,80 0,60

MILIAR RP

-2,72 -4,48

0,00 -2,00 -4,00 -6,00

I

III

II

IV

I

III

II

2018 NOMINAL KREDIT PERDAGANGAN

IV

I

2019 G KREDIT PERDAGANGAN

II 2020

III


tabungannya untuk berjaga-jaga daripada melakukan

infrastruktur. Berlanjutnya pembangunan proyek Jalan Tol

konsumsi juga turut menyebabkan LU ini terkontraksi lebih

Trans Sumatera dan beberapa proyek infrastruktur strategis

dalam.

daerah seperti revitalisasi jalan turut mendorong perbaikan LU

1.3.5 Lapangan Usaha Konstruksi

konstruksi diperkirakan akan tumbuh membaik didorong oleh

konstruksi. Kedepan, pada triwulan IV 2020, kinerja LU

Pada triwulan III 2020, pertumbuhan LU konstruksi membaik yang tercermin pada pertumbuhan sebesar 3,94% (qtq) dari 0,66% (qtq) atau kontraksi pertumbuhan yang berkurang

realisasi kontrak pembangunan proyek infrastruktur oleh pemerintah daerah.

menjadi 0,56% (yoy) dari 1,35% (yoy) pada triwulan

Secara keseluruhan tahun, LU konstruksi di tahun 2020

sebelumnya. Membaiknya kinerja konstruksi terkonfirmasi

tumbuh melambat dibandingkan tahun sebelumnya.

dari kondisi penjualan semen yang meningkat dari

Meskipun terdapat penundaan pelaksanaan pekerjaan

sebelumnya 418 ribu ton menjadi 591 ribu ton, meskipun

infrastruktur daerah dalam rangka penanggulangan

secara tahunan masih mengalami kontraksi sebesar -11,3%

penyebaran wabah COVID-19, jumlah proyek infrastruktur

(yoy) pada triwulan III 2020. Perbaikan kinerja LU konstruksi masih belum terlihat dari penyaluran kredit konstruksi yang masih mengalami kontraksi sebesar 16,07% (yoy), lebih dalam dibandingkan triwulan sebelumnya yang juga terkontraksi sebesar 12,4% (yoy).

yang cukup besar yang tergabung dalam Proyek Strategis Nasional seperti pembangunan Jalan Tol Trans Sumatera, pembangunan Kawasan Ekonomi Khusus, dan pembangunan bendungan menopang penurunan LU konstruksi. Penurunan LU konstruksi juga ditopang oleh

Membaiknya LU konstruksi di triwulan III 2020 didorong oleh

proyek infrastruktur strategis daerah yang didorong oleh

mulai berlanjutnya kembali pembangunan proyek

pemerintah daerah dalam rangka pemulihan ekonomi daerah.

Grafik 1.35 Penyaluran Kredit Sektor Konstruksi Sumatera Selatan MILIAR RP

% (YOY)

17

120 100

8.200

80

8.000 7.800

60

7.600 7.400

40

-12,40

7.200 7.000

20

III

IV

I

III

II

NOMINAL KREDIT KONSTRUKSI

IV

I

2019

7,69

II

PERDAGANGAN

LAINNYA

INDUSTRI PENGOLAHAN

-0,06

-20 2018

-0,89 -0,05

0

6.800 6.600 II

-0,20

PERTANIAN

PERTAMBANGAN

-16,07

I

-0,63

KONSTRUKSI

III

2020 G KREDIT KONSTRUKSI

Sumber: BPS Provinsi Sumatera Selatan, diolah

KANTOR PERWAKILAN BANK INDONESIA PROVINSI SUMATERA SELATAN

8.800 8.600 8.400

Grafik 1.35 Sumber Pertumbuhan Ekonomi Sektoral Provinsi Sumatera Selatan Triwulan III 2020 (%-yoy)



BAB II

PERKEMBANGAN KEUANGAN DAERAH Pada triwulan III 2020 realisasi belanja APBD dan APBN di Sumatera Selatan lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, sedangkan untuk belanja TKDD mengalami penurunan menjadi 75,19% dari 96,43% di triwulan III 2019. Realisasi pendapatan dan belanja Pemerintah Daerah (Provinsi dan Kabupaten/Kota) di Provinsi Sumatera Selatan triwulan III 2020 masing-masing sebesar 71,92% dan 62,61% dari pagu, meningkat dibandingkan realisasi periode yang sama tahun sebelumnya. Realisasi penyerapan belanja APBN Kementerian/Lembaga di wilayah Provinsi Sumatera Selatan sebesar 63,17% dari pagu, meningkat dibandingkan dengan realisasi periode yang sama tahun sebelumnya. Sementara realisasi belanja TKDD mengalami penurunan menjadi sebesar 75,19%.


2.1 GAMBARAN UMUM Pada tahun 2020, pendapatan daerah yang ditargetkan pada 1

Hingga triwulan III 2020, realisasi belanja pemerintah (APBD

APBD-P di Provinsi Sumatera Selatan sebesar Rp39,57 triliun,

dan APBN) di Sumatera Selatan telah mencapai Rp54,19 triliun

lebih rendah 8,76% dibandingkan triwulan yang sama di tahun

atau 62,61% dari pagu. Capaian ini lebih tinggi dibandingkan

2019. Anggaran pendapatan tersebut terdiri dari APBD

dengan realisasi belanja periode yang sama tahun 2019 yang

Pemerintah Provinsi sebesar Rp9,71 triliun (pangsa 24,53%) dan

tercatat sebesar 52,59% dari pagu.

APBD gabungan Kabupaten/Kota sebesar Rp29,86 triliun (pangsa 75,47%). Hingga akhir triwulan III 2020, realisasi pendapatan daerah APBD di Provinsi Sumatera Selatan2 tercatat sebesar Rp28,45 triliun atau mencapai 71,92% dari pagu. Realisasi ini lebih tinggi

2.2 APBD WILAYAH PROVINSI SUMATERA SELATAN 2.2.1 Realisasi Pendapatan APBD Pemerintah Daerah se-Provinsi Sumatera Selatan

dibandingkan periode yang sama tahun 2019 yang tercatat

Struktur realisasi pendapatan APDB Pemerintah Daerah se-

sebesar 65,77% dari pagu. Realisasi tersebut terdiri dari

Provinsi Sumatera Selatan pada triwulan III 2020 terdiri atas

pendapatan daerah Provinsi Sumatera Selatan sebesar

Pendapatan Asli Daerah (PAD) 15,16%, Pendapatan Transfer

Rp8,10 triliun atau 83,17% dari pagu, dan pendapatan 17

77,46%, dan Lain-Lain Pendapatan yang Sah 7,38%. Realisasi

Kabupaten/Kota di Provinsi Sumatera Selatan sebesar

pendapatan APBD Pemerintah Daerah se-Provinsi Sumatera

Rp20,38 triliun atau 68,26% dari pagu.

Selatan pada triwulan III 2020 mencapai Rp28,45 triliun, atau

Di sisi lain, pagu anggaran perubahan belanja pemerintah di

dibandingkan dengan realisasi triwulan III 2019 yang sebesar

71,92% dari anggaran Rp39,57 triliun. Realisasi ini lebih tinggi

LAPORAN PEREKONOMIAN PROVINSI SUMATERA SELATAN NOVEMBER 2020

20

Sumatera Selatan (APBD dan APBN) tercatat sebesar Rp86,56

65,77% dari anggaran Rp43,37 triliun. Meskipun secara nominal

triliun. Alokasi ini terdiri dari tiga komponen yaitu APBD Provinsi

baik pagu dan realisasi pendapatan Pemerintah Daerah se-

Sumatera Selatan sebesar Rp9,94 triliun (pangsa 11,48%),

Provinsi Sumatera Selatan pada triwulan laporan mengalami

APBD gabungan Kabupaten/Kota senilai Rp32,10 triliun

penurunan. Penurunan realisasi pendapatan secara nominal

(pangsa 37,08%), dan APBN yang dialokasikan untuk wilayah

ini disebabkan oleh tidak optimalnya penerimaan Lain-lain

Sumatera Selatan senilai Rp44,53 triliun (pangsa 51,44%).

Pendapatan yang sah terutama yang bersumber dari hibah sebagai akibat dampak dari pandemi Covid-19 (Tabel 2-1).

Grafik 2.1 Struktur Anggaran Belanja Keuangan Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan Triwulan III-2020 (Rp Miliar)

Realisasi pendapatan daerah tertinggi berada di Provinsi Sumatera Selatan (83,17% dari pagu Rp9,71 triliun) dan Kabupaten Musi Banyuasin (82,49% dari pagu Rp3,07 triliun). Sedangkan realisasi terendah berada di Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir (PALI) dengan persentase realisasi 43,59%

Rp. 9,94 T; 12%

PEMPROV SUMATERA SELATAN

dari pagu Rp1,56 triliun.

Rp. 32,10 T; 37% KABUPATEN/KOTA

Rp. 44,53 T; 51% APBN

2.2.1.1 Realisasi Pendapatan Asli Daerah (PAD) Realisasi PAD Pemerintah Daerah se-Provinsi Sumatera Selatan pada triwulan III 2020 mencapai Rp4,32 triliun (61,90% dari target Rp6,97 triliun), meningkat 0,57% (yoy) dibandingkan dengan triwulan yang sama di tahun sebelumnya yang

Sumber: BPKAD & Kanwil DJPB Provinsi Sumatera Selatan (diolah)

Tabel 2.1 Anggaran dan Realisasi Pendapatan Pemerintah Daerah se-Provinsi Sumatera Selatan Triwulan III Tahun 2019 dan Tahun 2020 (Rp miliar) 2019 URAIAN

2020

Pagu Anggaran (Rp Miliar)

Realisasi (Rp Miliar)

43.365,68

28.520,27

65,77%

39.566,93

28.454,90

71,92%

7.122,16

4.290,90

60,25%

6.970,93

4.315,18

61,90%

PENDAPATAN TRANSFER

29.153,53

20.328,97

69,73%

28.477,49

22.040,59

77,40%

LAIN-LAIN PENDAPATAN YANG SAH

7.089,99

3.900,40

55,01%

4.118,51

2.099,14

50,97%

PENDAPATAN PENDAPATAN ASLI DAERAH

Sumber: BPKAD Provinsi Sumatera Selatan, diolah

1. APBD Perubahan 2. Pemerintah Daerah se-Provinsi Sumatera Selatan meliputi Provinsi dan 17 Kabupaten/Kota

% Realisasi

Pagu Anggaran (Rp Miliar)

Realisasi (Rp Miliar)

% Realisasi


sebesar Rp4,29 (60,25% dari target Rp7,12 triliun). Pencapaian

77,46%. Realisasi pendapatan transfer triwulan III 2020 adalah

realisasi tertinggi berasal dari realisasi hasil pengelolaan

sebesar Rp22,04 triliun (77,40% dari target), lebih tinggi

kekayaan daerah yang dipisahkan yaitu sebesar 74,88% dari

dibandingkan realisasi pada triwulan III 2019 yang sebesar Rp

anggaran Rp250,60 miliar,

20,33 triliun (69,73% dari target). Realisasi ini bersumber dari

meskipun masih lebih rendah

dibandingkan dengan periode yang sama di tahun 2019

Transfer Pemerintah Pusat Rp21,35 triliun (pangsa 96,86%),

sebesar 79,41%. Peningkatan ini terutama bersumber dari

Transfer Pemerintah Daerah lainnya Rp653,56 miliar (pangsa

pendapatan Badan Layanan Umum Daerah (BLUD) rumah

2,97%), dan Bantuan Keuangan sebesar Rp37,82 miliar (pangsa

sakit, khususnya rumah sakit daerah. Penunjukan rumah sakit

0,17%). Jika dibandingkan dengan anggaran yang telah

daerah sebagai rujukan pandemi disinyalir mendorong

ditetapkan, pendapatan transfer pemerintah pusat pada

naiknya realisasi pendapatan BLUD seiring meningkatnya

triwulan III 2020 telah terealisasi sebesar 79,01% dari pagu

permintaan akan obat-obatan dan layanan kesehatan.

Rp27,02 triliun. Sementara pendapatan transfer pemerintah

Realisasi tersebut diikuti oleh kenaikan realisasi pendapatan

daerah lainnya telah terealisasi sebesar 61,09% dari pagu

pajak daerah sebesar 71,18% (pagu Rp4,43 triliun) dari

Rp1,07 triliun. Sisanya adalah realisasi bantuan keuangan

sebelumnya di triwulan III 2019 sebesar 62,16%. Kenaikan ini

sebesar 9,81% dari pagu Rp385 miliar. Peningkatan transfer ini

sejalan dengan kebijakan yang dilakukan pemerintah untuk

diperkirakan didorong oleh peningkatan penyaluran bantuan

menghapuskan sanksi denda pajak kendaraan mulai awal

sosial dan program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN).

triwulan III 2020 pada tingkat provinsi guna membantu

2.2.1.3 Lain-Lain Pendapatan Yang Sah

serta mengurangi tunggakan pajak. Upaya lain yang dilakukan

Lain-Lain Pendapatan Yang Sah memberikan kontribusi

pemerintah daerah untuk meningkatkan pendapatan

realisasi sebesar 7,38% dari total pendapatan pemerintah

khususnya untuk pelayanan Pajak Kendaraan Bermotor di

daerah se-Provinsi Sumatera Selatan atau secara nominal

tengah pandemi adalah dengan melakukan pembayaran

tercatat Rp2,10 triliun (50,97% dari pagu Rp4,12 triliun). Realisasi

secara online melalui aplikasi e-Dempo (Samsat Online

Lain-Lain Pendapatan Yang Sah pada triwulan III 2020

Sumatera Selatan) dan aplikasi Samolnas (Samsat Online

menurun jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun

Nasional). Lebih lanjut kenaikan juga terjadi pada realisasi

2019 dengan realisasi sebesar Rp3,90 triliun (55,01% dari pagu

pendapatan retribusi daerah yang sebesar 57,58% (pagu Rp

Rp7,09 triliun). Realisasi ini bersumber dari Pendapatan Hibah

145,53 miliar) dari sebelumnya 36,92% di periode yang sama

Rp1,02 triliun (pangsa 48,61%) dan Pendapatan Lainnya Rp1,08

tahun 2019. Sementara itu, realisasi lain-lain PAD yang sah

triliun (pangsa 51,39%). Jika dibandingkan dengan anggaran

pada triwulan laporan adalah sebesar 41,59%, lebih rendah

yang telah ditetapkan, pendapatan hibah pada triwulan III

dibandingkan dengan triwulan III 2019 yang mencapai 55,11%.

2020 telah terealisasi sebesar 47,06% dari pagu Rp2,17 triliun.

2.2.1.2 Realisasi Pendapatan Transfer

55,32% dari pagu Rp1,95 triliun.

Sementara pendapatan lainnya telah terealisasi sebesar

Pendapatan perimbangan/transfer masih menjadi komponen terbesar dalam pendapatan APBD Pemerintah Daerah seProvinsi Sumatera Selatan dengan pangsa realisasi mencapai

Grafik 2.2 Realisasi Pendapatan Pemerintah Daerah se-Provinsi Sumatera Selatan Triwulan III Tahun 2020 90% 80% 70% 60% 50% 40% 30% 20% 10% 0%

12.000 10.000 8.000 6.000 4.000 2.000 SUMSEL

PALEMBANG

PRABUMULIH

LUBUK LINGGAU

PAGAR ALAM

OKI

OGAN ILIR

OKU

OKU SELATAN

OKU TIMUR

MUSI BANYUASIN

BANYUASIN

MUSI RAWAS

MUSI RAWAS UTARA

MUARA ENIM

PALI

LAHAT

EMPAT LAANG

-

ANGGARAN

9.705

3.599

967

1.026

741

2.264

1.564

1.533

1.406

1.564

1.739

1.104

639

699

538

1.516

1.063

957

966

1.674

1.809 1.142

2.418

2.422

3.069 2.532

944

8.072

1.898 1.295

2.217

REALISASI

610

1.823

682

1.208

618

83,17%

67,30%

66,06%

68,15%

72,62%

66,97%

67,94%

62,43%

68,67%

68,23%

82,49%

75,53%

63,16%

64,63%

75,41%

43,59%

69,44%

55,94%

% REALISASI

Sumber: BPKAD Provinsi Sumatera Selatan (diolah)

21 KANTOR PERWAKILAN BANK INDONESIA PROVINSI SUMATERA SELATAN

meringankan beban masyarakat akibat dampak pandemi


2.2.2 Realisasi Belanja APBD Pemerintah Daerah se-Provinsi Sumatera Selatan Anggaran Belanja APBD Pemerintah Daerah se-Provinsi

sebesar 35,36% dan 54,81%, lebih rendah dibandingkan

Sumatera Selatan triwulan III tahun 2020 adalah sebesar

serapan belanja triwulan III 2019 sebesar 37% dan 63,64%. Jika

Rp42,04 triliun, menurun dibandingkan dengan periode yang

dilihat berdasarkan wilayahnya, realisasi belanja tertinggi

sama tahun 2019 sebesar Rp44,79 triliun. Penurunan

berada di Kota Lubuklinggau (62,07% dari pagu Rp984,36

bersumber dari penurunan komponen belanja operasi dan

miliar) dan terendah di Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI)

belanja modal, yang masing-masing mengalami penurunan

(33,99% dari pagu Rp2,66 triliun). Penurunan konsumsi

sebesar 4,81% dan 26,81%. Penurunan ini sejalan dengan

pemerintah tersebut terjadi sejalan dengan masih terus

adanya refocusing anggaran mulai dari Triwulan II 2020 akibat

berlanjutnya realokasi dan refocusing anggaran, sehingga hal

pandemi COVID-19. Sementara itu, belanja tak terduga dan

tersebut berimbas pada terhambatnya proses tender

transfer pada triwulan laporan mengalami peningkatan

pengadaan barang dan jasa, dan proses realisasi anggaran.

dibandingkan dengan periode yang sama di tahun sebelumnya masing-masing menjadi Rp1,44 triliun dan Rp4,27 triliun, dari sebelumnya Rp62,93 miliar dan Rp3,99 triliun.

Pemerintah Daerah telah menyusun berbagai strategi untuk m e l a k u ka n p e rce p at a n re a l i s a s i b e l a n j a , s e p e r t i pengalokasian belanja khusus untuk pencegahan dan

Secara struktur, anggaran belanja APDB di Provinsi Sumatera

penanganan COVID-19 dan penundaan atau pengurangan

Selatan pada triwulan III 2020 terdiri atas Belanja Operasi 67%,

program atau kegiatan yang tidak menjadi prioritas kebutuhan

Belanja Modal 19,41%, Belanja Tak Terduga 3,43%, dan Belanja

organisasi.

Transfer 10,15%. Realisasi belanja APBD di Provinsi Sumatera Selatan untuk triwulan III 2020 tercatat sebesar 50,87% dari pagu atau senilai

22

Rp21,39 triliun. Sedikit menurun dibandingkan realisasi periode yang sama tahun sebelumnya sebesar 50,85% dari

Realisasi pendapatan negara di wilayah Provinsi Sumatera Selatan pada triwulan III 2020 mencapai Rp2,45 triliun atau mengalami kontraksi sebesar 20,57% (yoy) dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya (Rp3,08 triliun).

dan belanja transfer, dengan persentase masing-masing Tabel 2.2 Anggaran dan Realisasi Belanja Pemerintah Daerah se-Provinsi Sumatera Selatan Triwulan III Tahun 2019 dan Tahun 2020 (Rp Miliar) 2019 URAIAN

2020

Pagu Anggaran (Rp Miliar)

Realisasi (Rp Miliar)

% Realisasi

Pagu Anggaran (Rp Miliar)

Realisasi (Rp Miliar)

% Realisasi

44.786,90

22.773,50

50,85%

42.035,83

21.385,38

BELANJA OPERASI

29.589,71

16.106,01

54,43%

28.165,93

15.809,27

56,13%

BELANJA MODAL

11.148,29

4.124,45

37,00%

8.159,44

2.885,18

35,36%

BELANJA DAN TRANSFER

BELANJA TIDAK TEDUGA TRANSFER

50,87%

62,93

6,44

10,24%

1.442,94

351,85

24,38%

3.985,98

2.536,60

63,64%

4.267,52

2.339,08

54,81%

Sumber: BPKAD Provinsi Sumatera Selatan, diolah

Grafik 2.3 Realisasi Belanja Pemerintah Daerah se-Provinsi Sumatera Selatan Triwulan III Tahun 2020 12.000

70%

10.000

60% 50%

8.000

40%

6.000

30%

4.000

20%

2.000

10%

PALEMBANG

PRABUMULIH

LUBUK LINGGAU

PAGAR ALAM

OKI

OGAN ILIR

OKU

OKU SELATAN

OKU TIMUR

MUSI BANYUASIN

BANYUASIN

MUSI RAWAS

MUSI RAWAS UTARA

MUARA ENIM

PALI

LAHAT

EMPAT LAANG

0% SUMSEL

LAPORAN PEREKONOMIAN PROVINSI SUMATERA SELATAN NOVEMBER 2020

pagu. Penurunan serapan belanja terjadi pada belanja modal

2.3 APBN PROVINSI SUMATERA SELATAN

ANGGARAN

9.941

984

741

2.657

1.636

1.594

1.405

1.886

3.744

2.439

2.015

1.000

2.123

1.102

632

611

371

903

895

848

694

1.082

1.943

1.481

935

571

2.673 1.237

1.421

5.252

3.645 1.979

1.029

REALISASI

625

869

455

52,83%

54,29%

61,43%

62,07%

50,08%

33,99%

54,74%

53,24%

49,38%

57,38%

51,90%

60,73%

46,42%

57,12%

46,27%

43,95%

40,95%

41,30%

% REALISASI

Sumber: BPKAD Provinsi Sumatera Selatan (diolah)


Tabel 2.3 Realisasi Pendapatan Negara di Provinsi Sumatera Selatan Triwulan III Tahun 2019 dan Tahun 2020 (Rp Miliar) III 2019 URAIAN

III 2020

Pendapatan Bruto

Pengembalian

Pendapatan Netto

Pendapatan Bruto

Pengembalian

Pendapatan Netto

PENDAPATAN

3.493,56

415,20

3.078,36

2.929,90

484,78

2.445,13

Penerimaan Perpajakan

2.938,55

415,20

2.523,35

2.363,77

484,47

1.879,30

PNBP

538,97

-

538,97

566,13

0,31

565,82

Hibah

16,05

-

16,05

-

-

-

Sumber: Kanwil Ditjen Perbendaharaan Provinsi Sumatera Selatan

Tabel 2.4 Anggaran dan Realisasi Belanja Pemerintah Pusat Provinsi Sumatera Selatan berdasarkan Jenis Belanja Triwulan III Tahun 2019 dan Tahun 2020 III 2019 URAIAN

Pagu (Rp Miliar)

III 2020

Realisasi (Rp Miliar)

% Realisasi

Pagu (Rp Miliar)

Realisasi (Rp Miliar)

% Realisasi

PEGAWAI

4.644,13

3.634,98

78,27%

5.007,80

3.590,15

71,69%

BARANG

7.297,24

4.364,08

59,80%

5.124,77

3.104,39

60,58%

MODAL

4.004,45

1.169,50

29,20%

2.947,01

1.571,11

53,31%

17,07

7,95

46,57%

18,02

8,46

46,95%

15.962,89

9.176,50

57,49%

13.097,60

8.274,11

63,17%

BANTUAN SOSIAL BERDASARKAN JENIS BELANJA Sumber: Kanwil Ditjen Perbendaharaan Provinsi Sumatera Selatan

Kementrian/Lembaga (K/L) secara nasional. Hal ini

adanya pendapatan hibah pada triwulan III 2020, sementara di

berdampak pada turunnya pagu belanja K/L di Sumatera

triwulan III 2019 pendapatan hibah tercatat sebesar Rp16,05

Selatan pada triwulan III 2020 yang tercatat sebesar Rp13,10

miliar. Penurunan pendapatan juga disumbang oleh

triliun, atau menurun 17,95% dibandingkan pagu triwulan III

komponen pendapatan penerimaan perpajakan yang turun

2019.

25,52% menjadi Rp1,88 triliun dari sebelumnya Rp2,52 triliun pada periode yang sama di tahun 2019, namun tertahan oleh peningkatan Pendapatan Negara Bukan Pajak (PNBP) sebesar 4,98% dari sebelumnya Rp538,97 miliar di tahun 2019. Penurunan ini diperkirakan sejalan dengan kinerja perekonomian nasional.

23

Realisasi penyerapan belanja Pemerintah Pusat atas beban APBN di Provinsi Sumatera Selatan pada triwulan III 2020 tercatat sebesar Rp8,27 triliun atau 63,17% dari pagu. Realisasi belanja terbesar terdapat pada belanja pegawai dengan pangsa sebesar 43,39% atau secara nominal sebesar Rp3,59 triliun, diikuti oleh belanja barang untuk membiayai kegiatan

Pagu belanja Pemerintah Pusat atas beban Anggaran

operasional dengan pangsa sebesar 37,52% atau setara Rp3,10

Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) tahun 2020 di wilayah

triliun, belanja modal dengan pangsa sebesar 18,99% atau

Provinsi Sumatera Selatan telah beberapa kali mengalami

Rp1,57 triliun, dan sisanya belanja bantuan sosial dengan

perubahan. Adanya kebijakan refocusing anggaran karena

pangsa 0,10% atau sebesar Rp8,46 miliar. Realisasi serapan ini

pandemi COVID-19 menyebabkan pada akhir bulan April

meningkat dibandingkan dengan periode yang sama tahun

2020, terjadi pemotongan dan penurunan anggaran belanja

sebelumnya yang sebesar 57,49% dari pagu, namun secara

Grafik 2.4 Realisasi Belanja TKDD Sumatera Selatan Triwulan III 2020 berdasarkan Wilayah 7.000

90% 80% 70% 60% 50% 40% 30% 20% 10% 0%

6.000 5.000 4.000 3.000 2.000 1.000 EMPAT LAWAG

LAHAT

MUARA ENIM

MUBA

MUSI RAWAS

MUSI RAWAS UTARA

OI

OKI

OKU

OKU SELATAN

OKU TIMUR

PALI

LUBUK LINGGAU

PAGAR ALAM

PALEMBANG

PRABUMULIH

1.825 1.445

838

1.620 1.192

1.326

1.803

1.210

1.124

1.445

1.043

764

860

6.254

602

1.050

1.468

875

911

1.208

680

651

641 544

2.063

1.575

3.485 2.135

793

655

1.817 1.315

2.517

REALISASI

1.619

613

5.093

%REALISASI

79,2%

78,2%

72,4%

62,6%

61,3%

73,6%

75,9%

79,2%

81,4%

72,3%

81,0%

83,6%

65,2%

85,3%

84,7%

78,5%

71,3%

81,4%

PAGU

Sumber: Kanwil Ditjen Perbendaharaan Provinsi Sumatera Selatan

PEMPROV SUMSEL

BANYUASIN

-

KANTOR PERWAKILAN BANK INDONESIA PROVINSI SUMATERA SELATAN

Penurunan realisasi pendapatan disebabkan oleh tidak


dilakukan oleh Kota Lubuk Linggau dengan persentase

Grafik 2.5 Realisasi Belanja TKDD Sumatera Selatan Triwulan III 2020 berdasarkan Jenis TKDD 14.000

sebesar 85,26%, sedangkan realisasi terendah adalah Kabupaten Musi Banyuasin dengan persentase sebesar

120%

MILIAR RUPIAH

12.000

100%

10.000

61,27% dari pagu Rp3,49 triliun. Jika ditinjau dari jenis TKDD,

80%

8.000 6.000 4.000

60%

sampai dengan triwulan III 2020 Dana Alokasi Khusus (DAK)

40%

Fisik memiliki tingkat realisasi tertinggi dengan persentase

20%

2.000

sebesar 96,36% atau setara dengan Rp1,68 triliun sedangkan

0%

-

Dana Bagi Hasil (DBH) memiliki tingkat realisasi terendah DBH

DAU

DID

DAK NON FISIK

PAGU

10.542

11.775

1.744

2.682

5.833

9.861

560 539

4.127

REALISASI

3.619

1.681

2.098

55,33%

83,75%

96,21%

87,69%

96,36%

78,23%

%REALISASI

DAK FISIK

sebesar 55,33% atau Rp5,83 triliun.

DANA DESA

2.4 DERAJAT DESENTRALISASI FISKAL PROVINSI SUMATERA SELATAN

Sumber: Kanwil Ditjen Perbendaharaan Provinsi Sumatera Selatan

Derajat Desentralisasi Fiskal (Tingkat Ketergantungan Daerah) merupakan indikator/derajat yang menunjukkan gambaran

nominal lebih rendah karena adanya penurunan pagu tahun

pemerintah daerah dalam hal ketergantungan daerah pada

2020. Kementerian Keuangan (Kemenkeu) secara rutin

sumber dana pemerintah pusat. Dengan kata lain, derajat

melakukan diskusi dengan satuan kerja terkait dalam rangka

ketergantungan diperoleh dari perbandingan transfer dana

percepatan realisasi anggaran. Berdasarkan hasil evaluasi,

dari pusat terhadap total pendapatan pemerintah daerah.

dalam pelaksanaan anggaran beberapa satuan kerja

Sebaliknya, derajat kemandirian diperoleh dari perbandingan

menghadapi kendala lapangan, salah satunya dikarenakan

pendapatan asli daerah terhadap total pendapatan. Secara

adanya kebijakan physical distancing akibat pandemi COVID-

agregat, tingkat kemandirian fiskal Provinsi Sumatera Selatan

19. Sejalan dengan belanja Pemerintah Pusat, pagu Transfer ke

dibandingkan triwulan sebelumnya sebesar 17%. Persentase

Daerah dan Dana Desa (TKDD) di Provinsi Sumatera Selatan

tertinggi masih dicapai oleh Kota Palembang sebesar 38%,

pada tahun 2020 juga mengalami penurunan dibandingkan

sementara persentase terendah dicapai Ogan Komering Ulu

dengan tahun 2019. Hingga triwulan III 2020, pagu TKDD dari

Selatan sebesar 6%. Secara spasial, tingkat kemandirian

seluruh Pemerintah Daerah di Provinsi Sumatera Selatan

kota/kabupaten di Provinsi Sumatera Selatan pada triwulan III

adalah sebesar Rp31,43 triliun, turun 5,33% dari pagu TKDD di

2020 membaik dibandingkan triwulan sebelumnya.

periode yang sama tahun 2019 yang sebesar Rp33,20 triliun.

Sementara untuk pemerintah Provinsi Sumatera Selatan,

Jika dilihat dari realisasinya sampai dengan triwulan III 2020,

pada triwulan laporan tercatat menurun menjadi 32% dari

pemerintah daerah Provinsi Sumatera Selatan (kab/kota dan

sebelumnya sebesar 48% di triwulan II 2020. Menurunnya

provinsi) telah merealisasikan sebesar 75,19% dari total pagu

derajat fiskal ini disinyalir dipengaruhi oleh menurunnya

atau sebesar Rp23,63 triliun. Realisasi TKDD tertinggi

pendapatan daerah di tengah pandemi.

Grafik 2.6 Tingkat Kemandirian dan Ketergantungan Daerah (Derajat Desentralisasi Fiskal) Provinsi Sumatera Selatan Triwulan III 2020 30

TRILIUN RUPIAH

100% 90% 80% 70% 60% 50% 40% 30% 20% 10% 0%

25 20 15 10 5 LAHAT

MUSI RAWAS

OKI

BANYUASIN

OKUT

OKUS

OGAN ILIR

EMPAT LAWANG

MURATARA

PALEMBANG

PRABUMULIH

PAGAR ALAM

LUBUK LINGGAU

AGREGAT

1,88 1,35

1,15

1,35

1,12

0,62

0,72

0,61

0,62

0,75

0,91

0,89

0,55

0,63

0,56

2,56 1,59

0,70

1,21

1,38 1,21

0,97

1,19

1,60 1,23

1,75

1,00

0,60

0,54

0,65

28,13 21,73

85%

72%

87%

88%

77%

69%

88%

94%

79%

89%

88%

92%

62%

86%

87%

87%

77%

15%

28%

13%

12%

23%

31%

12%

6%

21%

11%

13%

8%

38%

14%

13%

13%

23%

PENDAPATAN

6,80

2,53

TRANSFER PUSAT

4,61

2,13

0,87

% KETERGANTUNGAN

68%

84%

% KEMANDIRIAN

32%

16%

Sumber: Kanwil Ditjen Perbendaharaan Provinsi Sumatera Selatan

PALI

MUARA ENIM

1,02

MUSI BANYUASIN

OKU

SUMSEL

LAPORAN PEREKONOMIAN PROVINSI SUMATERA SELATAN NOVEMBER 2020

24

pada triwulan III 2020 sebesar 23%, cenderung meningkat


2.5 REALOKASI DAN REFOCUSING ANGGARAN PASCA PANDEMI COVID-19 Pemerintah terus melakukan berbagai stimulus untuk memitigasi risiko penyebaran pandemi COVID-19, salah

Grafik 2.7 Perubahan Pagu Belanja K/L Per Jenis Belanja akibat Realokasi dan Refocusing Tahun 2020

5,00%

7.000

7,83%

6.000

satunya dengan melakukan realokasi dan refocusing

5.000

anggaran melalui beberapa peraturan yang ditetapkan. Dari

4.000

sisi APBN, perubahan pagu belanja Kementerian/Lembaga

10,00%

8.000

-5,00% -10,00% -15,00%

3.000

1.000

Keuangan Republik Indonesia No.35/PMK.07/2020 terkait

-

-25,00% -30,00% -35,00%

BELANJA PEGAWAI

Pengelolaan Transfer ke Daerah dan Dana Desa Tahun

-20,00%

-26,41%

-29,77%

2.000

dan TKDD sejalan dengan terbentuknya Peraturan Menteri

BELANJA BARANG

Anggaran 2020 Dalam Rangka Penanganan Pandemi COVID19, serta Peraturan Presiden No.72 Tahun 2020 terkait

0,00%

5,57%

III 2019

BELANJA MODAL

III 2020

BELANJA BANTUAN SOSIAL

%G

Sumber: Kanwil Ditjen Perbendaharaan Negara Prov Sumatera Selatan, diolah

Perubahan Atas Peraturan Presiden No.54 Tahun 2020 mengenai Perubahan Postur dan Rincian Anggaran

Sejalan dengan itu, penurunan pagu pada awal tahun 2020

Pendapatan dan Belanja Negara Tahun Anggaran 2020.

juga terjadi pada TKDD yang menurun sebesar 8,78% dari

Penurunan pagu belanja Kementerian/Lembaga terbesar

sebelumnya Rp33,20 triliun pada tahun 2019. Adanya pandemi

terjadi pada belanja barang dan modal dengan persentase

COVID-19 mengakibatkan pagu TKDD kembali mengalami

penurunan masing-masing adalah sebesar 29,77%(yoy) dan

penurunan sebanyak dua kali, yaitu melalui Peraturan Menteri

26,41%(yoy), sementara pagu belanja pegawai dan belanja

Keuangan Republik Indonesia No. 35/PMK.07/2020 dan

bantuan sosial tumbuh positif masing-masing sebesar

Peraturan Presiden No.72 Tahun 2020 dengan penurunan

7,83%(yoy) dan 5,57%(yoy).

masing-masing sebesar 21,30% dan 21,15% dibandingkan pagu tahun 2019. Jika ditinjau berdasarkan daerahnya, alokasi TKDD Provinsi Sumatera Selatan mengalami peningkatan

terjadi pada belanja modal infrastruktur yang disebabkan

1,33% dibandingkan dengan triwulan III 2019.

adanya evaluasi prioritas pelaksanaan kegiatan pada tahun

alokasi TKDD untuk 17 kota/kabupaten mengalami

Sementara

2020 dan realokasi kegiatan pada tahun 2021 (Tabel 2 5).

penurunan di seluruh wilayah dengan penurunan terbesar

Penurunan belanja modal infrastruktur terjadi pada hampir

berada pada Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir (PALI)

seluruh pos dengan penurunan terbesar terjadi pada pos

dengan persentase penurunan sebesar 26,04%, menurun dari

belanja modal jalan, irigasi dan jaringan serta pos belanja

Rp1,4 triliun di tahun 2019 menjadi Rp1,04 triliun di tahun 2020.

modal fisik lainnya dengan persentase penurunan masing-

Sementara, penurunan terkecil berada pada Kota Palembang

masing sebesar 43,15% dan 36,38%. Meskipun demikian, pagu

dengan persentase penurunan sebesar 1,81%, menurun dari

belanja modal Badan Layanan Umum (BLU) pada triwulan III

Rp2,10 triliun di tahun 2019 menjadi Rp1,88 triliun di tahun

2020 masih mengalami kenaikan sebesar 41,50%

2020.

dibandingkan dengan pagu awal tahun. Hal ini dikarenakan dalam penganggarannya BLU sudah berbasis bisnis,

Untuk mendukung program Pemulihan Ekonomi Nasional

sehingga tidak bergantung sepenuhnya terhadap anggaran

(PEN) yang lebih merata hingga ke Kabupaten/Kota,

pemerintah pusat. Saat ini, di Sumatera Selatan terdapat 10

pemerintah daerah mengalokasikan sejumlah dana

BLU yang sudah semi mandiri dan mengalami kemajuan dari

cadangan untuk DAK Fisik senilai Rp203,16 miliar (Tabel 2 6).

segi kinerja keuangan maupun pelayanannya.

Cadangan dana hanya diperuntukkan untuk usulan kegiatan

Tabel 2.5 Perubahan Pagu Belanja Modal Infrastruktur K/L Provinsi Sumatera Selatan Tahun Anggaran 2020 JENIS BELANJA MODAL

KENAIKAN/ PENURUNAN

AKHIR JAN 2020

AKHIR SEP 2020

Belanja Modal Tanah

317.382.622.000

317.269.700.000

(112.922.000)

Belanja Modal Peralatan dan Mesin

246.593.242.000

233.158.721.000

(13.434.521.000)

-5,45%

Belanja Modal Gedung dan Bangunan

628.295.508.000

504.740.710.000

(123.554.798.000)

-19,67%

2.896.824.687.000

1.646.801.343.000

(1.250.023.344.000)

-43,15%

81.663.468.000

51.952.185.000

(29.711.283.000)

-36,38%

Belanja Modal Jalan, Irigasi dan Jaringan Belanja Modal Fisik Lainnya Belanja Modal BLU TOTAL Sumber: Kanwil Ditjen Perbendaharaan Provinsi Sumatera Selatan

%G -0,04%

136.457.907.000

193.091.545.000

56.633.638.000

41,50%

4.307.217.434.000

2.947.014.204.000

(1.360.203.230.000)

-31,58%

25 KANTOR PERWAKILAN BANK INDONESIA PROVINSI SUMATERA SELATAN

Kebijakan pengurangan pagu pada belanja modal terutama


Grafik 2.8 Perubahan Pagu Belanja TKDD Per Wilayah Tahun 2020 7.000

5%

6.000

0%

PALI

MURATARA

PALEMBANG

PRABUMULIH

PAGAR ALAM

LUBUK LINGGAU

2.008 1.721

EMPAT LAWANG

2.138

1.959

1.546 1.521

1.197

1.414

858

1.410

883

2.101

930

681

804

1.173

1.370

935

824

2.092

775

654 539

684

1.719

1.983 1.911

1.859

OGAN ILIR

2.578

OKUS

1.322 1.235

5.853

OKI

3.633 2.947

2020 AWAL

MUSI RAWAS

6.172

2019

OKUT

-30% BANYUASIN

-25%

LAHAT

-20%

1.000 MUARA ENIM

-15%

2.000

OKU

-10%

3.000

MUSI BANYUASIN

-5%

SUMSEL

5.000 4.000

2020 (PMK 35)

5.182

2.187

1.057

1.530

1.683

1.677

1.343

1.179

1.881

3.485

1.210

1.817

1.620

1.803

1.825

1.445

1.326

838

1.043

697 793

828 725

6.254

1.038 1.124

887 755

2020 (PRP 72)

1.873 2.517

1.536 1.322

2.063

860

641

802 764

%YOY 19-20 (PRP 72)

1,33%

-4,06%

-8,44%

-2,39%

-9,52%

-5,75%

-9,04%

-6,82%

-6,52%

-6,11%

-6,21%

-2,34%

-26,04

-10,26

-1,81%

-7,47%

-5,86%

-5,03%

Sumber: Kanwil Ditjen Perbendaharaan Provinsi Sumatera Selatan

baru yang berbentuk padat karya. Sampai dengan posisi triwulan III 2020, cadangan dana untuk DAK Fisik sudah terealisasi 92% atau sebesar Rp186,90 miliar. Sehingga secara

Tabel 2.6 Alokasi dan Realisasi Cadangan DAK Fisik Provinsi Sumatera Selatan Tahun Anggaran 2020 Pagu Cadangan

URAIAN

total, DAK Fisik Provinsi Sumatera Selatan telah terealisasi sebesar 96% atau sebesar Rp1,68 triliun dari total pagu DAK Fisik tahun 2020 yang sebesar Rp1,74 triliun. Selanjutnya, dalam rangka mendukung program Pemulihan

LAPORAN PEREKONOMIAN PROVINSI SUMATERA SELATAN NOVEMBER 2020

26

Ekonomi Nasional (PEN), pemerintah daerah juga berupaya untuk mempercepat realisasi Bantuan Langsung Tunai (BLT)

Realisasi Cadangan

%Realisasi

Pemprov Sumsel

19.584

19.228

98%

Kota Palembang

3.233

2.536

78%

Kota Prabumulih

-

-

-

25.025

23.871

95% 99%

Kab. Ogan Ilir Kab. Ogan Komering Ilir

7.802

7.710

Kota Lubuk Linggau

5.059

4.995

99%

Kab. Musi Rawas

7.178

7.044

98% 99%

Dana Desa. Pemerintah pusat mewajibkan minimal 35% dari

Kab. Musi Rawas Utara

9.838

9.750

total anggaran Dana Desa disalurkan ke masyarakat dalam

Kab. Ogan Komering Ulu

17.695

13.876

78%

10.568

10.389

98%

bentuk BLT. Sampai dengan triwulan III 2020, BLT telah

Kab. OKU Timur

disalurkan dalam 6 (enam) tahap dengan nominal penyaluran

Kab. OKU Selatan

12.411

7.534

61%

masing-masing sebesar Rp168,13 miliar; Rp132,16 miliar;

Kab. Lahat

7.737

7.131

92%

Kab. Muara Enim

7.863

6.044

77%

Kab. Empat Lawang

9.569

9.112

95%

Rp81,48 miliar; Rp7,38 miliar; Rp4,26 miliar; dan Rp726 juta. Secara kumulatif, total BLT yang sudah disalurkan pada

Kota Pagar Alam

30.341

29.406

97%

triwulan laporan sejumlah Rp394,13 miliar dengan total

Kab. PALI

11.726

11.234

96%

Keluarga Penerima Manfaat (KPM) sebanyak 677.498 KK.

Kab. Musi Banyuasin

15.730

15.441

98%

1.802

1.589

88%

203.161

186.890

92%

Kab. Banyuasin

Jika dilihat secara spasial per kabupaten/kota, total realisasi penyaluran BLT terbesar terjadi di Kabupaten Penukal Abab

Jumlah TKDD

Sumber: Kanwil Ditjen Perbendaharaan Negara Prov Sumatera Selatan

Lematang Ilir (PALI) dan Kabupaten Musi Banyuasin dengan Grafik 2.9 Total Penyaluran Bantuan langsung Tunai (BLT) Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2020

persentase realisasi terhadap pagu masing-masing sebesar 27,03% dan 24,65%. Di sisi lain, realisasi penyaluran terendah di Kota Prabumulih dengan realisasi sebesar 3,20% atau Rp700 juta dari pagu Rp21,9 miliar.

180,00

300.000

MILIAR RUPIAH

160,00

250.000

140,00 120,00

200.000

100,00

150.000

80,00

100.000

60,00 40,00

50.000

20,00 -

TAHAP 1

TAHAP 2

TAHAP 3

TAHAP 4

NILAI PENYALURAN

Sumber: Kanwil Ditjen Perbendaharaan Negara Prov Sumatera Selatan

KPM

TAHAP 5

TAHAP 6


Komering Ilir (OKI) dan Kota Palembang dengan nominal

Grafik 2.10 Total Penyaluran Bantuan langsung Tunai (BLT) Secara Spasial Per Kabupaten/Kota

25%

250

Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU) dan Kota Pagar Alam

20%

200 150 100

15%

dengan nominal masing-masing sebesar Rp23,63 miliar dan

10%

Rp28,23 miliar (Grafik 2-10).

21,00

30,90

38,00

57,40

33,20

21,1

137,1

216,4

244,5

77,7

21,9

19,1

30,2

36,1

27,4

21

0,7

15,38% 16,13% 10,20% 16,09% 24,65% 17,53% 20,91% 6,14%

Anggaran penanganan COVID-19 tersebut dialokasikan pada

PRABUMULIH

292,8

12,4

OKI

202,1

OKU

PALI

45,70

OKU TIMUR

297,10 130,20 302,90 236,20 232,90 189,40 100,9

NILAI BLT

OKU SELATAN

PAGU

OGAN ILIR

MURATARA

MUSI BANYUASIN

LAHAT

BANYUASIN

MUSI RAWAS

0% MUARA ENIM

5%

0

EMPAT LAWANG

50

BLT/PAGU

Sementara itu, anggaran belanja terendah diberikan kepada

30%

MILIAR RUPIAH

300

tiga bidang, yaitu kesehatan, sosial, dan ekonomi dengan pangsa total masing-masing sebesar 47,76%, 31,15% dan 21,08% dari total pagu. Sampai dengan triwulan III 2020, anggaran yang sudah terealisasi sebesar Rp1,02 triliun (42,96%

6,52% 22,03% 16,68% 11,21% 27,03% 3,20%

dari total pagu) dengan realisasi tertinggi berada di Kota

Sumber: Kanwil Ditjen Perbendaharaan Negara Prov Sumatera Selatan

Lubuk Linggau sebesar 87,10% atau Rp20,20 miliar. Belanja

Perubahan alokasi anggaran juga terjadi pada struktur APBD

penanganan COVID-19 di Sumatera Selatan yang sudah

Provinsi Sumatera Selatan dimana pemerintah baik di tingkat

terealisasi pada Triwulan III 2020 untuk bidang kesehatan

provinsi maupun kabupaten/kota melakukan refocusing

adalah sebesar Rp487,85 miliar, yang digunakan untuk

anggaran sejak Triwulan II 2020 untuk digunakan dalam

pengadaan alat kesehatan, kendaraan operasional, tambahan

pencegahan dan penanganan COVID-19 yang tercatat

honorarium tenaga kesehatan, dan sosialisasi pencegahan

sebesar Rp2,38 triliun. Secara spasial, alokasi anggaran

dan penanganan COVID-19 kepada masyarakat. Sementara

belanja penanganan COVID-19 terbesar diberikan kepada

untuk bidang sosial, dana yang sudah terealisasi adalah

Kabupaten Musi Banyuasin dengan nominal sebesar

sebesar Rp378,12 miliar yang digunakan untuk kegiatan

Rp362,39 miliar, kemudian disusul oleh Kabupaten Ogan

perlindungan daya tahan ekonomi keluarga (pemberian

27

Grafik 2 11 Alokasi Anggaran dan Realisasi Pencegahan dan/atau Penanganan COVID-19 dalam APBD Provinsi dan Kabupaten/Kota Sumatera Selatan Triwulan III Tahun 2020 400

100% 90% 80% 70% 60% 50% 40% 30% 20% 10% 0%

350 300 250 200 150 100 50 PALEMBANG

PRABUMULIH

OGAN ILIR

OKI

LUBUK LINGGAU

MUSI RAWAS

MUSI RAWAS UTARA

OKU

OKU TIMUR

OKU SELATAN

LAHAT

MUARA ENIM

EMPAT LAWANG

PAGAR LAWANG

MUSI BANYUASIN

BANYUASIN

ANGGARAN

202,99

272,23

325,41

34,79

133,37

46,85

23,63

172,39

86,32

75,68

74,76

202,31

362,39

33,49

66,94

94,73

30,30

46,43

17,09

6,16

44,24

49,00

17,70

58,98

58,95

28,23 11,77

73,74

155,00

63,84 41,53

97,37

REALISASI

23,31

209,15

107,68 59,49

% REALISASI

76,36%

12,30%

65,06%

68,75%

29,11%

87,10%

34,81%

36,48%

26,05%

25,66%

56,76%

23,39%

78,90%

29,14%

41,70%

31,61%

57,71%

55,25%

PALI

SUMSEL

-

Sumber: BPKAD Prov Sumatera Selatan, diolah

Grafik 2 11 Alokasi Anggaran dan Realisasi Pencegahan dan/atau Penanganan COVID-19 dalam APBD Provinsi dan Kabupaten/Kota Sumatera Selatan Triwulan III Tahun 2020 180,00 150,00 120,00 90,00 60,00 30,00 OKU SELATAN

LAHAT

PAGAR LAWANG

PALI

21,07

-

-

0,29

2,57

2,26

4,32

3,00

-

0,95

57,34

-

20,81

6,20

0,22

0,92

5,67

1,13

2,83

54,63

9,46

10,89

5,94

43,02

40,77

14,31

26,41

8,94

3,16 19,20

91,58

22,35

13,36 41,29

29,54

34,61

11,76 13,59

60,24

4,86

BIDANG KESEHATAN

102,24

Sumber: BPKAD Prov Sumatera Selatan, diolah

BANYUASIN

OKU TIMUR

0,03

14,31

MUSI BANYUASIN

OKU

58,07

25,64

EMPAT LAWANG

MUSI RAWAS

6,69

28,83 12,19

MUARA ENIM

LUBUK LINGGAU

0,51

15,36 17,54

MUSI RAWAS UTARA

OKI

0,60

52,17

PRABUMULIH

0,58

BIDANG SOSIAL

PALEMBANG

BIDANG EKONOMI

SUMSEL

OGAN ILIR

-

KANTOR PERWAKILAN BANK INDONESIA PROVINSI SUMATERA SELATAN

350

masing-masing sebesar Rp325,41 miliar dan Rp272,23 miliar.


bantuan sosial bagi keluarga prasejahtera) dan penyediaan makan dan sandang bagi masyarakat terdampak COVID-19. Selanjutnya untuk membantu pemulihan di bidang ekonomi, sudah terealisasi sebesar Rp158,28 miliar untuk kegiatan operasi pasar, penguatan ekonomi peternak dan petani, subsidi tarif air, bantuan biaya pendidikan, bantuan usaha UMKM, hingga proyek padat karya guna menyerap tenaga kerja yang terdampak pandemi.

LAPORAN PEREKONOMIAN PROVINSI SUMATERA SELATAN NOVEMBER 2020

28


BAB III

PERKEMBANGAN INFLASI Pembatasan aktivitas di luar rumah dan pola konsumsi rumah tangga yang lebih difokuskan untuk pemenuhan bahan kebutuhan pokok dan kesehatan dalam upaya menjaga imunitas di tengah pandemi COVID-19 menyebabkan inflasi Provinsi Sumatera Selatan pada triwulan III 2020 menurun dibandingkan dengan triwulan sebelumnya. Inflasi tahunan pada triwulan IV 2020 diperkirakan akan meningkat dibandingkan kondisi triwulan laporan namun di bawah sasaran inflasi nasional pada akhir tahun yang sebesar 3% + 1%. Inflasi Provinsi Sumatera Selatan pada triwulan III 2020 tercatat sebesar 1,01% (yoy), menurun dibandingkan triwulan II 2020 yang sebesar 1,72% (yoy). Penurunan terjadi pada seluruh kelompok pengeluaran karena terjaganya pasokan dan masih belum pulihnya permintaan di tengah penerapan adaptasi kenormalan baru. Komoditas yang menyumbang penurunan terbesar adalah cabai merah, daging ayam ras dan angkutan udara. Laju inflasi terutama dipicu oleh kelompok penyedia makanan dan minuman/ restoran; kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga; dan kelompok perlengkapan, peralatan, dan pemeliharaan rutin rumah tangga, namun tertahan oleh deflasi kelompok transportasi.


3.1 INFLASI SECARA UMUM Inflasi Provinsi Sumatera Selatan pada triwulan III 2020

namun lebih tinggi dibandingkan inflasi kawasan Sumatera

tercatat sebesar 1,01% (yoy), menurun dibandingkan triwulan II

(0,66%, yoy) (Grafik 3-1). Secara keseluruhan, realisasi inflasi

2020 yang sebesar 1,72% (yoy). Realisasi inflasi tersebut lebih

pada triwulan III 2020 menempatkan posisi inflasi Sumatera

rendah dibandingkan triwulan III 2019 yang sebesar 2,74% (yoy)

Selatan pada urutan keempat setelah Aceh, Lampung dan

dan rata-rata selama 3 (tiga) tahun terakhir yang sebesar 3,09%

Riau yang masing-masing sebesar 1,89% (yoy), 1,35% (yoy) dan

(yoy). Inflasi Provinsi Sumatera Selatan pada triwulan laporan

1,14% (yoy) (Grafik 3-2).

lebih rendah dibandingkan dengan inflasi nasional (1,42%, yoy), Tabel 3.1 Perkembangan Inflasi Tahunan Provinsi Sumatera Selatan INFLASI TAHUNAN 2020 (%)

ANDIL INFLASI TAHUNAN (%)

KELOMPOK PENGELUARAN TW II

JUL

AGU

SEP

TW II

JUL

AGU

UMUM

1,72

0,98

0,75

1,01

1,72

0,98

0,75

1,01

Makanan, Minuman dan Tembakau

1,41

-1,04

-2,18

0,09

0,42

-0,31

-0,64

0,03 0,08

Pakaian dan Alas Kaki

1,51

1,02

1,38

1,25

0,09

0,06

0,08

Perumahan, Air, Listrik dan Bahan Bakar Rumah Tangga

1,18

1,06

1,10

0,95

0,21

0,19

0,20

0,17

Perlengkapan, Peralatan dan Pemeliharaan Rutin Rumah Tangga

2,81

2,81

2,66

1,60

0,15

0,15

0,14

0,09

2,38

2,22

2,12

1,25

0,07

0,06

0,06

0,04

-0,79

-0,35

0,37

-0,87

-0,08

-0,04

0,04

-0,09

Informasi, Komunikasi dan Jasa Keuangan

0,91

0,87

0,87

0,84

0,05

0,05

0,05

0,05

Rekreasi, Olahraga dan Budaya

4,49

4,30

4,59

1,62

0,09

0,09

0,09

0,03

Pendidikan

3,97

3,30

2,53

0,99

0,21

0,18

0,14

0,05

Kesehatan Transportasi

Penyediaan Makanan dan Minuman/Restoran

2,67

2,92

2,70

2,22

0,22

0,24

0,22

0,18

Perawatan Pribadi dan Jasa Lainnya

0,87

-2,02

-3,39

-0,83

0,22

-0,51

-0,84

-0,20

Sumber: BPS Provinsi Sumatera Selatan (SBH 2018=100), diolah

Tabel 3.2 Komoditas Utama Penyumbang Inflasi dan Deflasi Triwulan III 2020 INFLASI (%,YOY)

KONTRIBUSI (%,YOY)

Emas Perhiasan

32,39

Minyak Goreng

15,09

Telepon Seluler

12,42

KOMODITAS INFLASI

LAPORAN PEREKONOMIAN PROVINSI SUMATERA SELATAN NOVEMBER 2020

KOMODITAS DEFLASI

INFLASI (%YOY)

KONTRIBUSI (%, YOY)

0,39

Cabai Merah

-49,06

-0,26

0,17

Daging Ayam Ras

0,17

Angkutan Udara

-8,21

-0,12

-13,72

-0,09

6,94

0,11

Biaya Pulsa Ponsel

-2,40

-0,07

Tahu Mentah

16,75

0,09

Bensin

-1,43

-0,05

Bawang Merah

Rokok Kretek Filter

20,63

0,08

Bawang Putih

-17,62

-0,05

Sewa Rumah

1,54

0,07

Cabai Rawit

-44,17

-0,03

Rokok Putih

10,71

0,06

Beras

-0,70

-0,03

Angkutan Antar Kota

14,42

0,05

Kol Putih/ Kubis

-26,61

-0,01

Ikan Gabus

14,82

0,04

Ketimun

-16,49

-0,01

Sumber: BPS Provinsi Sumatera Selatan (SBH 2018=100), diolah

2,5

%YOY

2,0

1,89 1,35

1,5

4

1,14

1,0 3

1,42 1,01

0,99 0,45

0,5 1,96 1,01

2 1

0,66 0,31

0,16

0,09

KEPRI

(% YOY)

5

0,0

-0,36

III

II

IV

2019 SUMSEL

Sumber: BPS Provinsi Sumatera Selatan, diolah

NASIONAL

I

II 2020

III

RIAU

SUMATERA

NASIONAL

Sumber: BPS Provinsi Sumatera Selatan, diolah

SUMATERA

BABEL

I

SUMSEL

IV

2018

BENGKULU

III

II

JAMBI

I

LAMPUNG

-0,5 0,66

0

SUMSEL

6

Grafik 3.2 Inflasi Provinsi di Regional Sumatera Periode Triwulan II-2020

SUMBAR

Grafik 3.1 Perkembangan Inflasi Sumatera Selatan, Sumatera, dan Nasional

ACEH

30

SEP


Menurunnya tekanan inflasi pada triwulan III 2020 bersumber

sebesar 1,41% (yoy) menjadi 0,09% (yoy) dengan andil 0,03%

dari menurunnya tekanan inflasi pada seluruh kelompok

(yoy). Menurunnya tekanan inflasi kelompok ini terutama

pengeluaran (Tabel 3.1). Meredanya tekanan inflasi terutama

bersumber dari subkelompok makanan yang mengalami

disumbang oleh komoditas cabai merah, daging ayam ras dan

deflasi sebesar 0,83% (yoy) dengan andil -0,20% (yoy).

angkutan udara yang tercatat deflasi (Tabel 3.2). Penurunan ini

Beberapa komoditas yang memberikan andil deflasi pada

sejalan dengan pembatasan aktivitas di luar rumah dan pola

subkelompok ini adalah telur ayam ras, daging ayam ras dan

konsumsi rumah tangga

bawang merah. Komoditas daging ayam ras dan bawang

yang lebih difokuskan untuk

pemenuhan bahan kebutuhan pokok dan kesehatan dalam

merah sudah menjadi penyumbang deflasi sejak bulan Juli

upaya menjaga imunitas di tengah pandemi COVID-19.

2020. Menurunnya harga daging ayam ras disebabkan oleh

Kondisi ini terkonfirmasi dari data google mobility index yang

masih lemahnya permintaan dari rumah tangga dan penyedia

menunjukkan sejak awal Maret 2020 sampai dengan Agustus

jasa makan minum/restoran. Sementara itu harga bawang

2020, aktivitas masyarakat yang dilakukan dari rumah

merah tertekan seiring dengan masih berlangsungnya masa

meningkat 11,3%. Sementara aktivitas yang dilakukan di luar

panen di tengah permintaan yang masih lemah. Namun

rumah seperti tempat kerja, stasiun transit, retail dan rekreasi

demikian penurunan inflasi kelompok ini tertahan oleh

turun masing-masing sebesar -27,3%, -31,7%, dan -11,4%.

tekanan inflasi pada subkelompok tembakau yang tercatat

3.2 INFLASI MENURUT KELOMPOK PENGELUARAN

(yoy). Peningkatan inflasi subkelompok tembakau bersumber dari kenaikan harga eceran aneka rokok menyusul kenaikan

Berdasarkan kelompok pengeluaran, inflasi Provinsi Sumatera

tarif cukai rokok di awal tahun 2020.

meningkat dengan inflasi sebesar 7,10% (yoy) dan andil 0,20%

penyedia makanan dan minuman/restoran dengan andil

3.2.2 Kelompok Pakaian dan Alas Kaki

0,18% (yoy). Kelompok ini pada triwulan III 2020 tercatat inflasi

Pada triwulan III 2020, kelompok pakaian dan alas kaki

sebesar 2,22% (yoy). Sementara itu, andil inflasi terbesar kedua

mengalami inflasi tahunan sebesar 1,25% (yoy) dengan andil

dan ketiga pada triwulan III 2020 berasal dari kelompok

inflasi 0,08% (yoy), menurun dibandingkan triwulan

perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga dengan

sebelumnya (inflasi 1,51%, yoy). Kondisi ini terutama

andil 0,17% (yoy) serta kelompok perlengkapan, peralatan, dan

disebabkan oleh menurunnya tekanan harga pada

pemeliharaan rutin rumah tangga dengan andil sebesar 0,09%

subkelompok pakaian dari 1,37% (yoy) pada triwulan II menjadi

(yoy). Laju tekanan inflasi tertahan oleh deflasi kelompok

1,22% (yoy) pada triwulan laporan. Komoditas yang

perawatan pribadi dan jasa lainnya dengan andil -0,20% (yoy).

menyumbang penurunan inflasi terutama pada ongkos binatu/laundry, yang menurun dari 20,12% (yoy) pada triwulan

3.2.1 Kelompok Makanan, Minuman dan Tembakau

disebabkan menurunnya kebutuhan akan jasa laundry yang

Tekanan inflasi kelompok makanan, minuman dan tembakau

dipicu oleh pembatasan aktivitas di luar rumah dan

pada triwulan III 2020 menurun dari triwulan sebelumnya

implementasi pola belajar/bekerja secara online.

II menjadi 0,04% (yoy) pada triwulan laporan. Hal ini

Tabel 3.3 Perkembangan Inflasi Tahunan Kelompok Makanan, Minuman dan Tembakau INFLASI (%)

ANDIL (%)

KOMODITAS JUN

JUL

AGU

1,51

1,02

1,38

MINUMAN YANG TIDAK BERALKOHOL

1,37

0,85

TEMBAKAU

2,05

1,71

INFLASI KELOMPOK

SEP

JUN

JUL

AGU

SEP

1,25

0,09

0,06

0,08

0,08

1,27

1,22

0,07

0,04

0,06

0,06

1,74

1,37

0,03

0,02

0,02

0,02

INFLASI SUB KELOMPOK :

Sumber: BPS Provinsi Sumatera Selatan (SBH 2018=100), diolah

Tabel 3.4 Perkembangan Inflasi Tahunan Kelompok Pakaian dan Alas Kaki INFLASI (%)

ANDIL (%)

KOMODITAS JUN

JUL

AGU

1,51

1,02

1,38

PAKAIAN

1,37

0,85

ALAS KAKI

2,05

1,71

INFLASI KELOMPOK

SEP

JUN

JUL

AGU

SEP

1,25

0,09

0,06

0,08

0,08

1,27

1,22

0,07

0,04

0,06

0,06

1,74

1,37

0,03

0,02

0,02

0,02

INFLASI SUB KELOMPOK :

Sumber: BPS Provinsi Sumatera Selatan (SBH 2018=100), diolah

31 KANTOR PERWAKILAN BANK INDONESIA PROVINSI SUMATERA SELATAN

Selatan pada triwulan III 2020 terutama dipicu oleh kelompok


3.2.3 Kelompok Perumahan, Air, Listrik, Gas dan Bahan Bakar Lainnya Tabel 3.5 Perkembangan Inflasi Tahunan Kelompok Perumahan, Air, Listrik, Gas dan Bahan Bakar Rumah Tangga INFLASI (%)

ANDIL (%)

KOMODITAS JUN

1,18

INFLASI KELOMPOK

JUL

1,06

AGU

SEP

JUN

JUL

AGU

SEP

1,10

0,95

0,21

0,19

0,20

0,17

INFLASI SUB KELOMPOK : SEWA RUMAH

1,71

1,50

1,52

1,39

0,13

0,12

0,12

0,11

PEMELIHARAAN, PERBAIKAN, DAN KEAMANAN TEMPAT TINGGAL/ PERUMAHAN

1,07

0,93

1,02

0,62

0,04

0,04

0,04

0,02

PENYEDIAAN AIR DAN LAYANAN PERUMAHAN LAINNYA

0,00

0,00

0,00

0,00

0,00

0,00

0,00

0,00

LISTRIK, GAS, DAN BAHAN BAKAR LAINNYA

0,95

0,94

0,95

0,95

0,04

0,04

0,04

0,04

Sumber: BPS Provinsi Sumatera Selatan (SBH 2018=100), diolah

Tekanan inflasi kelompok perumahan, air, listrik, gas dan

LAPORAN PEREKONOMIAN PROVINSI SUMATERA SELATAN NOVEMBER 2020

32

menurun dibandingkan triwulan sebelumnya. Masih tingginya

bahan bakar rumah tangga di triwulan III 2020 menurun

inflasi kelompok ini bersumber dari meningkatnya inflasi

dibandingkan triwulan sebelumnya, dengan tingkat inflasi

subkelompok peralatan rumah tangga, subkelompok furnitur,

sebesar 0,95% (yoy) dan andil inflasi sebesar 0,17% (yoy).

perlengkapan dan karpet, dan subkelompok tekstil rumah

Menurunnya tekanan inflasi kelompok ini terutama

tangga. Komoditas yang mengalami kenaikan harga antara

bersumber dari menurunnya inflasi subkelompok

lain sabun detergen bubuk/cair dan upah asisten rumah

pemeliharaan, perbaikan dan keamanan tempat tinggal/

tangga. Kenaikan ini dipicu oleh adanya himbauan pemerintah

perumahan, khususnya pada komoditas besi beton yang

untuk menerapkan protokol kesehatan dalam rangka

mengalami deflasi sebesar -5,64% (yoy) dengan andil deflasi

memitigasi risiko penyebaran COVID-19, seperti penggunaan

sebesar -0,03%. Hal ini disebabkan oleh masih tertahannya

hand sanitizer, sering cuci tangan, dan berganti pakaian

investasi dan belum membaiknya lapangan usaha konstruksi

sehabis keluar rumah. Namun demikian, menurunnya tekanan

di tengah pandemi COVID-19. Namun penurunan inflasi

harga subkelompok barang dan layanan untuk pemeliharaan

kelompok ini tertahan oleh meningkatnya inflasi

rumah tangga rutin dan subkelompok peralatan dan

subkelompok listrik, gas dan bahan bakar lainnya, yaitu pada

perlengkapan perumahan dan kebun, dapat menahan inflasi

bahan bakar rumah tangga/gas elpiji. Kenaikan harga bahan

kelompok ini lebih lanjut.

bakar rumah tangga dipicu oleh peningkatan permintaan

3.2.5 Kelompok Kesehatan

akibat meningkatnya aktivitas di rumah seiring dengan kebijakan pembatasan sosial skala besar yang diterapkan oleh

Inflasi kelompok kesehatan pada triwulan III-2020 tercatat

pemerintah.

mengalami inflasi sebesar 1,25% (yoy) dengan andil inflasi 0,04% (yoy), menurun dibandingkan triwulan sebelumnya.

3.2.4 Kelompok Perlengkapan, Peralatan dan Pemeliharaan Rutin Rumah Tangga

Tekanan inflasi terjadi pada seluruh subkelompok, namun menurun dibandingkan triwulan II 2020. Subkelompok obat-

Inflasi kelompok perlengkapan, peralatan dan pemeliharaan

obatan dan produk kesehatan memberikan andil inflasi

rutin rumah tangga pada triwulan III-2020 tercatat mengalami

terbesar yakni 0,03% (yoy), diikuti oleh jasa perawatan (rawat

inflasi sebesar 1,60% (yoy) dengan andil inflasi 0,09% (yoy),

jalan/tanpa menginap) dengan andil sebesar 0,01% (yoy).

Tabel 3.6 Perkembangan Inflasi Tahunan Kelompok Perlengkapan, Peralatan dan Pemeliharaan Rumah Tangga INFLASI (%)

ANDIL (%)

KOMODITAS JUN

JUL

AGU

SEP

JUN

JUL

AGU

SEP

2,81

2,81

2,66

1,60

0,15

0,15

0,14

0,09

FURNITUR, PERLENGKAPAN DAN KARPET

0,51

0,70

0,68

0,98

0,00

0,00

0,00

0,01

TEKSTIL RUMAH TANGGA

1,21

1,27

1,30

1,23

0,00

0,00

0,00

0,00

PERALATAN RUMAH TANGGA

0,28

0,74

0,73

0,86

0,00

0,01

0,01

0,01

BARANG PECAH BELAH DAN PERALATAN MAKAN MINUM

1,95

1,85

1,55

1,12

0,01

0,01

0,01

0,00

PERALATAN DAN PERLENGKAPAN PERUMAHAN DAN KEBUN

3,28

2,46

1,91

1,44

0,01

0,00

0,00

0,00

BARANG DAN LAYANAN UNTUK PEMELIHARAAN RUMAH TANGGA RUTIN

4,00

3,91

3,73

2,01

0,13

0,13

0,12

0,06

INFLASI KELOMPOK INFLASI SUB KELOMPOK :

Sumber: BPS Provinsi Sumatera Selatan (SBH 2018=100), diolah


Tabel 3.7 Perkembangan Inflasi Tahunan Kelompok Kesehatan INFLASI (%)

ANDIL (%)

KOMODITAS

INFLASI KELOMPOK

JUN

JUL

AGU

2,38

2,22

2,12

SEP

JUN

JUL

AGU

SEP

1,25

0,07

0,06

0,06

0,04 0,03

INFLASI SUB KELOMPOK : OBAT-OBATAN DAN PRODUK KESEHATAN

4,02

4,72

4,48

2,48

0,04

0,05

0,05

JASA PERAWATAN (RAWAT JALAN/TANPA MENGINAP)

2,14

0,79

0,76

0,65

0,02

0,01

0,01

0,01

JASA PERAWATAN (MENGINAP)

0,01

0,01

0,01

0,00

0,00

0,00

0,00

0,00

JASA KESEHATAN LAINNYA

7,64

7,64

7,64

3,62

0,01

0,01

0,01

0,00

Sumber: BPS Provinsi Sumatera Selatan (SBH 2018=100), diolah

Inflasi kelompok kesehatan terutama terjadi karena kenaikan

penurunan sekitar 79% (yoy). Deflasi juga disumbang oleh

harga komoditas obat dengan resep dan komoditas

subkelompok pengoperasian peralatan transportasi pribadi

vitamin/suplemen sejalan dengan kasus pandemi COVID-19

sebesar -0,71% (yoy) dan andil -0,04% (yoy) karena penurunan

yang masih dalam tren meningkat pada triwulan III 2020.

harga bensin dan solar. Namun laju penurunan inflasi

Kedua komoditas tersebut masing-masing memberikan andil

kelompok transportasi masih tertahan oleh kenaikan

inflasi sebesar 0,01% (yoy) dan 0,01% (yoy). Namun

subkelompok pembelian kendaraan baik mobil maupun

dibandingkan triwulan sebelumnya, inflasi kedua komoditas

sepeda motor dengan andil inflasi sebesar 0,01% (yoy).

te r s e b u t m e n u r u n s e i r i n g d e n g a n m e n i n g kat nya ketersediaan baik melalui impor maupun produksi domestik.

3.2.7 Kelompok Informasi, Komunikasi dan Jasa Keuangan

3.2.6 Kelompok Transportasi

Kelompok informasi, komunikasi, dan jasa keuangan di Provinsi Sumatera Selatan mengalami inflasi menurun.

melanjutkan tren deflasi. Kelompok transportasi mengalami

Realisasi inflasi kelompok ini pada triwulan III 2020 adalah

deflasi yang lebih dalam dibandingkan dua triwulan

sebesar 0,84% (yoy) dengan andil sebesar 0,05% (yoy) turun

sebelumnya menjadi sebesar -0,87% (yoy), dengan andil

sedikit dibandingkan realisasi triwulan sebelumnya yang

sebesar -0,09% (yoy). Deflasi kelompok ini terutama

sebesar 0,91% (yoy) dengan andil 0,05% (yoy). Menurunnya

disumbang oleh subkelompok jasa angkutan penumpang

tekanan inflasi terutama bersumber dari subkelompok

dengan andil sebesar -0,06% (yoy) dan subkelompok

layanan informasi dan komunikasi yang tercatat deflasi

pengoperasian peralatan transportasi pribadi dengan andil

sebesar -1,79% (yoy) yang terutama disebabkan oleh

sebesar -0,04% (yoy). Pada subkelompok jasa angkutan

menurunnya tekanan harga komoditas biaya pulsa ponsel. Hal

penumpang, penurunan masih disumbang terutama oleh

ini disebabkan oleh mulai dicairkannya bantuan kuota data

angkutan udara dengan laju deflasi -13,72% (yoy), meskipun

internet bagi pelajar, mahasiswa, guru dan dosen dari

tidak sedalam triwulan sebelumnya yang mencatatkan deflasi

Kemendikbud pada bulan September 2020. Namun demikian,

-22,52% (yoy).

tekanan inflasi masih terjadi pada subkelompok peralatan

Deflasi yang masih terjadi terutama karena

menurunnya permintaan sejak merebaknya wabah COVID-19

informasi dan komunikasi yang tercatat inflasi 9,31% (yoy)

dan pemberlakuan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB)

dengan andil inflasi 0,13% (yoy). Tingginya inflasi subkelompok

yang mendorong masyarakat untuk melakukan pembatalan

ini masih disebabkan oleh kenaikan harga telepon seluler dan

rencana bepergian jarak jauh dengan menggunakan seluruh

laptop/notebook sejalan dengan mekanisme WFH (Work

moda transportasi, termasuk transportasi udara. Jumlah

From Home) dan LFH (Learn From Home) yang diterapkan oleh

penumpang angkutan udara pada triwulan III mengalami

sekolah, universitas dan perusahaan/instansi pemerintah.

Tabel 3.8 Perkembangan Inflasi Tahunan Kelompok Transportasi INFLASI (%)

ANDIL (%)

KOMODITAS

INFLASI KELOMPOK

JUN

JUL

AGU

SEP

JUN

JUL

AGU

SEP

-0,79

-0,35

0,37

-0,87

-0,08

-0,04

0,04

-0,09

INFLASI SUB KELOMPOK : 0,56

0,58

0,63

0,66

0,01

0,01

0,01

0,01

PENGOPERASIAN PERALATAN TRANSPORTASI PRIBADI

-0,73

-0,72

-0,71

-0,71

-0,05

-0,05

-0,04

-0,04

JASA ANGKUTAN PENUMPANG

-2,35

-0,36

2,94

-2,66

-0,06

-0,01

0,07

-0,06

2,68

2,68

2,44

1,20

0,00

0,00

0,00

0,00

PEMBELIAN KENDARAAN

JASA PENGIRIMAN BARANG Sumber: BPS Provinsi Sumatera Selatan (SBH 2018=100), diolah

33 KANTOR PERWAKILAN BANK INDONESIA PROVINSI SUMATERA SELATAN

Pada periode triwulan III 2020 ini, kelompok transportasi


Tabel 3.9 Perkembangan Inflasi Tahunan Kelompok Informasi, Komunikasi dan Jasa Keuangan INFLASI (%)

ANDIL (%)

KOMODITAS

INFLASI KELOMPOK

JUN

JUL

AGU

SEP

JUN

JUL

AGU

SEP

0,91

0,87

0,87

0,84

0,05

0,05

0,05

0,05

INFLASI SUB KELOMPOK : PERALATAN INFORMASI DAN KOMUNIKASI

9,56

9,48

9,48

9,31

0,13

0,13

0,13

0,13

LAYANAN INFORMASI DAN KOMUNIKASI

-1,76

-1,79

-1,79

-1,79

-0,07

-0,07

-0,07

-0,07

ASURANSI

0,03

0,00

-0,03

-0,04

0,00

0,00

0,00

0,00

JASA KEUANGAN

0,00

0,00

0,00

0,00

0,00

0,00

0,00

0,00

Sumber: BPS Provinsi Sumatera Selatan (SBH 2018=100), diolah

3.2.8 Kelompok Rekreasi, Olahraga dan Budaya Inflasi pada kelompok rekreasi, olahraga dan budaya pada

dibandingkan triwulan sebelumnya. Meredanya tekanan

triwulan III 2020 sebesar 1,62% (yoy) dengan andil inflasi 0,03%

inflasi disebabkan oleh lebih rendahnya inflasi pada seluruh

(yoy), menurun dibandingkan

34

triwulan sebelumnya.

subkelompok kecuali subkelompok pendidikan menengah.

Meredanya tekanan inflasi disebabkan karena lebih

Meskipun mereda, subkelompok pendidikan dasar dan anak

rendahnya inflasi pada subkelompok barang rekreasi lainnya

usia dini masih tercatat inflasi sebesar 2,47% (yoy), dengan

dan subkelompok koran, buku dan perlengkapan sekolah.

komoditas sekolah dasar menjadi penyumbang inflasi utama.

Pada subkelompok barang rekreasi lainnya komoditas utama

Sementara itu inflasi subkelompok pendidikan menengah

yang menyebabkan inflasi mereda adalah komoditas sepeda

meningkat, disumbang oleh komoditas sekolah menengah

anak. Sementara pada subkelompok koran, buku dan

atas dan sekolah menengah pertama. Masih terjadinya inflasi

perlengkapan sekolah komoditas utama yang menyebabkan

ditengah pemberlakuan sistem pembelajaran jarak jauh

inflasi mereda adalah komoditas buku tulis bergaris, buku

disebabkan oleh kenaikan pembayaran SPP dan dana

pelajaran akademi/universitas, dan buku pelajaran SLTA.

sumbangan pendidikan (DSP) khususnya pada sekolahsekolah swasta pada tahun ajaran baru 2020/2021. Untuk

LAPORAN PEREKONOMIAN PROVINSI SUMATERA SELATAN NOVEMBER 2020

3.2.9 Kelompok Pendidikan

menekan biaya pendidikan agar lebih terjangkau, Pemerintah

Pada triwulan III 2020, kelompok pendidikan tercatat inflasi

Provinsi Sumatera Selatan berkomitmen melakukan program

sebesar 0,99% (yoy) dengan andil inflasi 0,05%, menurun

sekolah gratis bagi masyarakat yang kurang mampu.

Tabel 3.10 Perkembangan Inflasi Tahunan Kelompok Rekreasi, Olahraga dan Budaya INFLASI (%)

ANDIL (%)

KOMODITAS

INFLASI KELOMPOK

JUN

JUL

AGU

SEP

JUN

JUL

AGU

SEP

4,49

4,30

4,59

1,62

0,09

0,09

0,09

0,03

INFLASI SUB KELOMPOK : BARANG REKREASI LAINNYA

6,03

6,05

7,65

1,64

0,02

0,02

0,03

0,01

LAYANAN REKREASI

0,05

0,05

0,05

0,04

0,00

0,00

0,00

0,00

LAYANAN KEBUDAYAAN

0,00

0,00

0,00

0,00

0,00

0,00

0,00

0,00

KORAN, BUKU, DAN PERLENGKAPAN SEKOLAH

6,77

6,37

6,39

2,58

0,07

0,07

0,07

0,03

Sumber: BPS Provinsi Sumatera Selatan (SBH 2018=100), diolah

Tabel 3.11 Perkembangan Inflasi Tahunan Kelompok Pendidikan INFLASI (%)

ANDIL (%)

KOMODITAS JUN

JUL

AGU

SEP

JUN

JUL

AGU

SEP

3,97

3,30

2,53

0,99

0,21

0,18

0,14

0,05

PENDIDIKAN DASAR DAN ANAK USIA DINI

4,55

5,50

2,43

2,47

0,05

0,06

0,03

0,03

PENDIDIKAN MENENGAH

0,64

1,76

1,24

1,24

0,01

0,03

0,02

0,02

PENDIDIKAN TINGGI

4,67

4,67

4,67

0,00

0,08

0,08

0,08

0,00

PENDIDIKAN YANG TIDAK DITENTUKAN DENGAN TINGKATAN

7,97

0,85

0,82

0,81

0,07

0,01

0,01

0,01

INFLASI KELOMPOK INFLASI SUB KELOMPOK :

Sumber: BPS Provinsi Sumatera Selatan (SBH 2018=100), diolah


3.2.10 Kelompok Penyediaan Makanan dan Minuman/Restoran Inflasi kelompok penyediaan makanan dan

sebesar 0,35% (yoy). Inflasi terutama bersumber dari

minuman/restoran di Provinsi Sumatera Selatan pada

komoditas emas perhiasan yang mengalami inflasi sebesar

triwulan III 2020 menurun dibandingkan triwulan sebelumnya,

30,14% (yoy) dengan andil sebesar 0,39% (yoy). Selanjutnya,

dengan tingkat inflasi tercatat sebesar 2,22% (yoy). Dengan

inflasi juga didorong oleh subkelompok perawatan pribadi

kondisi ini, andil inflasi terhadap inflasi umum juga menurun

dengan inflasi sebesar 2,33% (yoy) dan andil inflasi sebesar

menjadi sebesar 0,18% (yoy). Beberapa komoditas yang

0,09% (yoy). Komoditas yang menyumbang inflasi yaitu lipstik

tercatat inflasi adalah sate, mie, nasi dengan lauk, dan

dan sabun mandi dengan andil inflasi sebesar 0,20%.

tekwan/model. Hal ini sejalan dengan kembali beroperasinya ekonomi di era adaptasi kebiasaan baru. Namun inflasi

3.3 PERKEMBANGAN INFLASI BULANAN DAN TRACKING INFLASI TRIWULAN IV 2020

kelompok ini tertahan oleh deflasi yang terjadi pada

Tekanan Inflasi Menurun, Juli Deflasi

restoran/rumah makan seiring mulai normalnya kegiatan

komoditas ayam bakar, seiring dengan menurunnya harga daging ayam ras.

Pada bulan Juli 2020 Sumatera Selatan tercatat deflasi sebesar -0,28% (mtm), menurun dibandingkan bulan Juni 2020 yang tercatat inflasi sebesar 0,20% (mtm). Deflasi

3.2.11 Kelompok Perawatan Pribadi dan Jasa Lainnya

tembakau yang tercatat deflasi sebesar -1,66% (mtm).

Kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya pada triwulan III

Terjadinya deflasi terutama disebabkan turunnya harga

terutama bersumber dari kelompok makanan, minuman dan

2020 tercatat deflasi sebesar 0,83% (yoy) dengan andil

komoditas utama dalam kelompok ini yaitu daging ayam ras,

sebesar -0,20% (yoy), menurun dibandingkan triwulan lalu

bawang merah, jeruk, gula pasir dan bawang putih. Penurunan

(0,87%, yoy). Penurunan ini terutama disumbang oleh

harga daging ayam ras disebabkan oleh meningkatnya

subkelompok perawatan pribadi lainnya dengan andil

pasokan komoditas di tengah rendahnya permintaan

35

INFLASI (%)

ANDIL (%)

KOMODITAS

INFLASI KELOMPOK

JUN

JUL

AGU

SEP

JUN

JUL

AGU

SEP

2,67

2,92

2,70

2,22

0,22

0,24

0,22

0,18

2,67

2,92

2,70

2,22

0,22

0,24

0,22

0,18

INFLASI SUB KELOMPOK : JASA PELAYANAN MAKANAN DAN MINUMAN Sumber: BPS Provinsi Sumatera Selatan (SBH 2018=100), diolah

Tabel 3.13 Perkembangan Inflasi Tahunan Kelompok Perawatan Pribadi dan Jasa Lainnya INFLASI (%)

ANDIL (%)

KOMODITAS

INFLASI KELOMPOK

JUN

JUL

AGU

SEP

JUN

JUL

AGU

SEP

0,87

-2,02

-3,39

-0,83

0,22

-0,51

-0,84

-0,20 0,09

INFLASI SUB KELOMPOK : PERAWATAN PRIBADI PERAWATAN PRIBADI LAINNYA JASA LAINNYA

2,74

2,59

2,34

2,33

0,11

0,10

0,09

10,54

12,05

15,89

15,90

0,21

0,25

0,35

0,35

0,08

0,08

0,08

0,02

0,00

0,00

0,00

0,00

Sumber: BPS Provinsi Sumatera Selatan (SBH 2018=100), diolah

Gambar 3.1. Perkembangan Inflasi Bulanan Provinsi Sumatera Selatan INFLASI JULI 2020

INFLASI AGUSTUS 2020

INFLASI SEPTEMBER 2020

INFLASI OKTOBER 2020

-0.28%

-0.33%

-0.04%

0.18%

KOMODITAS INFLATOR (ANDIL %MTM)

KOMODITAS INFLATOR (ANDIL %MTM)

KOMODITAS INFLATOR (ANDIL %MTM)

KOMODITAS DEFLATOR (ANDIL %MTM)

1. DAGING AYAM RAS

-0,19

1. DAGING AYAM RAS

-0,17

1. TELUR AYAM RAS

-0,06

1. CABAI MERAH

0,19

2. BAWANG MERAH

-0,14

2. BAWANG MERAH

-0,17

2. BAWANG MERAH

-0,05

2. BAWANG MERAH

0,06

3. JERUK

-0,06

3. IKAN MUJAIR

-0,03

3. DAGING AYAM RAS

-0,02

3. MINYAK GORENG

0,04

Sumber: BPS Provinsi Sumatera Selatan (SBH 2018=100), diolah

KANTOR PERWAKILAN BANK INDONESIA PROVINSI SUMATERA SELATAN

Tabel 3.12 Perkembangan Inflasi Tahunan Kelompok Penyediaan Makanan dan Minuman/Restoran


menjelang HBKN Idul Adha. Selain itu, penurunan daging

36

September kembali deflasi

ayam ras juga dipicu oleh penurunan harga pakan sejalan

Pada bulan September 2020 Provinsi Sumatera Selatan

dengan turunnya harga jagung internasional. Sementara itu,

kembali deflasi sebesar -0,04% (mtm), meskipun tidak

penurunan harga bawang merah disebabkan berlimpahnya

sedalam bulan sebelumnya (-0,33% mtm) maupun rata2

pasokan seiring masuknya musim panen di daerah sentra.

historis September 3 tahun terakhir (-0,23%, mtm). Deflasi pada

Secara umum deflasi kelompok ini dipengaruhi oleh masih

bulan ini terutama bersumber dari penurunan harga

berlanjutnya pembatasan kegiatan masyarakat karena

kelompok bahan makanan, minuman dan tembakau serta

pandemi COVID-19 di tengah implementasi adaptasi

kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya. Dari kelompok

kebiasaan baru. Namun deflasi Juli 2020 tertahan karena

bahan makanan, minuman dan tembakau, deflasi bersumber

masih meningkatnya harga beberapa komoditas seperti telur

dari berlanjutnya penurunan harga komoditas telur ayam ras,

ayam ras dari kelompok makanan, minuman dan tembakau,

daging ayam ras dan bawang merah. Penurunan harga

komoditas angkutan antar kota dari kelompok transportasi,

pangan terus terjadi sejalan dengan masih berlangsungnya

dan komoditas emas perhiasan dari kelompok pribadi dan

masa panen di beberapa sentra produksi di tengah

jasa lainnya. Peningkatan harga telur ayam ras terjadi karena

permintaan yang masih rendah. Dari kelompok perawatan

terbatasnya pasokan. Sementara itu, kenaikan harga angkutan

pribadi dan jasa lainnya, deflasi terutama didorong oleh

antar kota sejalan dengan penerapan strategi kenaikan tarif

subkelompok jasa lainnya yang disebabkan oleh penurunan

oleh operator bus antar kota untuk menyiasati keterbatasan

biaya fotocopy dengan andil sebesar 0,00%. Namun demikian,

kapasitas angkut yang masih sebesar 70%. Kenaikan harga

deflasi pada bulan ini tertahan oleh kenaikan komoditas emas

emas perhiasan yang lebih tinggi dari pola historisnya di

perhiasan dari kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya

tengah ketidakpastian ekonomi global, juga turut menahan

seiring dengan kenaikan harga emas dunia. Deflasi lebih

penurunan deflasi lebih dalam.

dalam juga tertahan oleh kenaikan jasa perawatan (rawat jalan/tanpa menginap) pada kelompok kesehatan karena

Deflasi bulan Agustus lebih dalam

masih berlanjutnya penyebaran pandemi COVID-19 di Provinsi

Pada bulan Agustus 2020, Provinsi Sumatera Selatan kembali

Sumatera Selatan.

LAPORAN PEREKONOMIAN PROVINSI SUMATERA SELATAN NOVEMBER 2020

mencatatkan deflasi sebesar -0,33% (mtm), lebih dalam dibandingkan bulan sebelumnya yang mengalami deflasi

Tekanan Inflasi Oktober Meningkat

sebesar -0,28% (mtm). Realisasi tersebut lebih rendah

Memasuki triwulan IV 2020, inflasi Sumatera Selatan

dibandingkan data historis bulan Agustus pada tiga tahun

meningkat. Setelah tiga bulan berturut-turut mengalami

terakhir yang juga tercatat deflasi sebesar -0,15% (mtm).

deflasi, pada bulan Oktober 2020 inflasi tercatat sebesar 0,18%

Deflasi pada bulan ini terutama bersumber dari kelompok

(mtm). Perkembangan ini terutama dipengaruhi oleh inflasi

makanan, minuman dan tembakau, khususnya pada

pada kelompok bahan makanan, minuman dan tembakau

komoditas daging ayam ras dan bawang merah. Berlanjutnya

yang bersumber dari kenaikan harga komoditas cabai merah,

penurunan inflasi kedua komoditas tersebut disebabkan oleh

bawang merah, dan minyak goreng. Dari sisi pasokan (supply),

kembali menurunnya permintaan pasca HBKN Idul Adha di

kenaikan inflasi pada sebagian besar komoditas hortikultura

tengah pasokan yang terjaga. Penurunan yang cukup

disebabkan oleh mulai terbatasnya pasokan dari daerah

signifikan dari sisi permintaan terjadi pada sektor rumah

sentra seiring berakhirnya musim panen dan masuknya

tangga dan penyedia jasa makanan minuman/restoran

musim hujan. Sementara dari sisi permintaan (demand),

seiring dengan masih berlanjutnya pandemi COVID-19.

kenaikan harga komoditas hortikultura dipicu oleh mulai

Menurunnya harga komoditas daging ayam ras juga

kembali menggeliatnya aktivitas masyarakat pasca relaksasi

disebabkan oleh berlanjutnya penurunan harga pakan sejalan

kebijakan pembatasan aktivitas oleh pemerintah. Selanjutnya,

dengan menurunnya harga jagung internasional. Sementara

kenaikan harga minyak goreng sejalan dengan kenaikan

itu, inflasi komoditas bawang merah yang melambat didorong

harga CPO internasional yang terus bergerak naik sejak bulan

oleh mulai meningkatnya pasokan seiring masuknya musim

Juli 2020. Meskipun demikian, inflasi kelompok ini tertahan

panen di daerah sentra, termasuk Brebes sebagai salah satu

oleh penurunan harga komoditas telur ayam ras yang

sentra produksi terbesar. Namun demikian, deflasi Provinsi

didorong oleh tercukupinya pasokan di tengah permintaan

Sumatera Selatan tertahan oleh kenaikan harga komoditas

yang masih belum kembali normal. Selanjutnya, tekanan

emas perhiasan dari kelompok perawatan pribadi dan jasa

inflasi pada bulan Oktober tertahan oleh kelompok

lainnya serta komoditas rokok putih dari kelompok makanan,

transportasi yang tercatat deflasi -0,57% (mtm). Deflasi

minuman dan tembakau.

kelompok ini bersumber dari subkelompok jasa angkutan


penumpang, khususnya angkutan udara sebesar -8,25%,

3.4 ANALISIS INFLASI SPASIAL

menurun signifikan dibandingkan bulan sebelumnya yang

Grafik 3.3 Perkembangan Inflasi Kota Sampel Perhitungan Inflasi

tercatat inflasi sebesar 0,22% (mtm). Koreksi harga ini disebabkan oleh masih berlanjutnya pemberian diskon tiket

7

yang diberlakukan oleh maskapai karena rendahnya

6

permintaan di tengah pandemi. Pemberian diskon tidak hanya

5

diberikan oleh sejumlah operator penerbangan, namun juga

4

dari beberapa Online Travel Agent (OTA) berupa cashback, voucher perjalanan, dan bundling akomodasi lainnya. Penurunan tarif angkutan udara juga diberlakukan pihak maskapai sebagai strategi mendorong permintaan dalam menyambut periode libur dan cuti bersama di akhir bulan Oktober 2020.

(% YOY)

3

1,41 0,97

2 1 0 1

2

3

4

5

6

7

8

9

10

11

12

1

2

2019

3

4

5

6

7

8

9

2020 PALEMBANG

LUBUKLINGGAU

Sumber: BPS Provinsi Sumatera Selatan, diolah

dan data historis, pada bulan November 2020 Provinsi

3.4.1 Kota Palembang

Sumatera Selatan diperkirakan akan mengalami inflasi yang

Inflasi Kota Palembang pada triwulan III 2020 tercatat sebesar

rendah. Inflasi diperkirakan dipengaruhi oleh inflasi kelompok

0,97% (yoy), menurun dibandingkan triwulan sebelumnya

bahan makanan yang bersumber dari kenaikan harga

sebesar 1,75% (yoy). Inflasi pada triwulan ini juga lebih rendah

komoditas bawang merah dan cabai merah. Hal ini sebagai

jika dibandingkan dengan rata-rata historis realisasi inflasi

dampak fenomena iklim La Nina yang menyebabkan

Kota Palembang dalam 3 tahun terakhir yang sebesar 3,07%

kenaikan curah hujan. Selain itu, kenaikan harga komoditas

(yoy). Menurunnya tekanan inflasi tersebut terutama

bahan pangan diperkirakan akan terjadi seiring dengan

disebabkan oleh menurunnya inflasi pada kelompok

peningkatan permintaan yang dipicu oleh percepatan

transportasi yang tercatat deflasi sebesar 0,94% (yoy) dengan

penyaluran bantuan sosial oleh pemerintah. Namun demikian,

andil sebesar -0,10% (yoy), terutama pada angkutan udara.

laju inflasi diperkirakan akan tertahan oleh potensi penurunan

Penyesuaian ke bawah tarif angkutan udara dipicu oleh

harga beras yang produksinya diprediksi surplus 717,18 ribu

rendahnya permintaan karena meluasnya pandemi yang

ton hingga akhir tahun. Selain itu, laju inflasi minyak goreng

membuat beberapa negara termasuk Indonesia menerapkan

dan gula pasir juga diprediksikan akan tertahan seiring

kebijakan social distancing dan larangan bepergian baik di

dengan terjaganya pasokan kedua komoditas tersebut di

dalam maupun ke luar negeri untuk meminimalkan

BULOG. Dengan perkembangan ini tekanan inflasi Provinsi Sumatera Selatan pada triwulan IV 2020 diperkirakan akan meningkat dari triwulan sebelumnya, namun lebih rendah dibandingkan triwulan IV 2019 yang sebesar 2,06% (yoy). Peningkatan ini disebabkan permintaan yang kembali meningkat seiring mulai menggeliatnya aktivitas masyarakat pasca relaksasi kebijakan oleh pemerintah. Berbagai program bantuan sosial yang diberikan oleh Pemerintah diprediksi mampu meningkatkan daya beli masyarakat. Kemudian, dari sisi permintaan juga didorong dengan masuknya Hari Besar

penyebaran virus tersebut. Menurunnya inflasi pada triwulan laporan juga bersumber dari kelompok makanan, minuman dan tembakau yang tercatat sebesar 0,02% (yoy), menurun dari triwulan lalu sebesar 1,43% (yoy). Penurunan inflasi kelompok ini terutama disebabkan oleh komoditas cabai merah dan daging ayam ras sejalan dengan melimpahnya pasokan di tengah permintaan yang masih lemah. Secara keseluruhan, lima komoditas penyumbang deflasi Kota Palembang pada triwulan laporan adalah cabai merah (andil 0,26%), daging ayam ras (andil -0,14%), angkutan udara (andil 0,08%), biaya pulsa ponsel (-0,07%) dan bensin (andil -0,06%).

Keagamaan Nasional (HBKN) Natal dan Tahun Baru pada akhir

Laju penurunan inflasi Kota Palembang tertahan karena masih

triwulan IV. Namun demikian, inflasi akhir tahun 2020

meningkatnya inflasi kelompok perawatan pribadi dan jasa

diperkirakan tidak akan setinggi inflasi pada tahun 2019. Faktor

lainnya. Inflasi kelompok ini tercatat sebesar 6,42% (yoy) dan

yang ikut berperan pada rendahnya inflasi per akhir tahun ini

memberikan sumbangan/andil terhadap inflasi umum Kota

adalah terjaganya ekspektasi inflasi para pelaku ekonomi,

Palembang sebesar 0,40% (yoy). Hal ini terutama didorong

stabilitas nilai tukar rupiah, ketersediaan pasokan panen di

oleh kenaikan pada subkelompok perawatan pribadi lainnya.

sejumlah sentra produksi, serta harga komoditas pangan yang

Komoditas emas perhiasan menjadi penyumbang utama

rendah.

pada subkelompok ini dengan laju inflasi sebesar 29,92% (yoy)

37 KANTOR PERWAKILAN BANK INDONESIA PROVINSI SUMATERA SELATAN

Mencermati perkembangan terkini, beberapa indikator harga


Tabel 3.14 Inflasi Kota Palembang Berdasarkan Kelompok Pengeluaran INFLASI TAHUNAN 2020 (%)

ANDIL INFLASI TAHUNAN (%)

KELOMPOK PENGELUARAN TW II

JUL

AGU

SEP

TW II

JUL

AGU

SEP

UMUM

1,75

0,98

0,72

0,97

1,75

0,98

0,72

0,97

Makanan, Minuman dan Tembakau

1,43

-1,09

-2,33

0,02

0,43

-0,32

-0,68

0,01

Pakaian dan Alas Kaki

1,55

1,02

1,39

1,26

0,09

0,06

0,08

0,08

Perumahan, Air, Listrik dan Bahan Bakar Rumah Tangga

1,18

1,05

1,07

0,92

0,21

0,19

0,20

0,17

Perlengkapan, Peralatan dan Pemeliharaan Rutin Rumah Tangga

2,93

2,90

2,74

1,58

0,15

0,15

0,14

0,08

2,43

2,24

2,16

1,19

0,07

0,07

0,06

0,03

-0,73

-0,30

0,42

-0,94

-0,08

-0,03

0,05

-0,10

Informasi, Komunikasi dan Jasa Keuangan

0,94

0,94

0,94

0,90

0,05

0,05

0,05

0,05

Rekreasi, Olahraga dan Budaya

4,84

4,65

4,94

1,72

0,10

0,09

0,10

0,03

Pendidikan

3,90

3,18

2,37

1,01

0,22

0,18

0,13

0,06

Penyediaan Makanan dan Minuman/Restoran

2,80

3,10

2,85

2,34

0,23

0,25

0,24

0,19

Perawatan Pribadi dan Jasa Lainnya

4,98

5,31

6,39

6,42

0,30

0,32

0,40

0,40

Kesehatan Transportasi

Sumber: BPS Provinsi Sumatera Selatan (SBH 2018=100), diolah

meningkat dari triwulan sebelumnya yang sebesar 19,41%

Lubuklinggau pada triwulan III dalam tiga tahun terakhir

(yoy), dengan andil sebesar 0,37% (yoy). Peningkatan harga

sebesar 3,17% (yoy). Secara bulanan, Kota Lubuklinggau

emas sejalan dengan naiknya harga emas dunia akibat

mengalami deflasi pada bulan Juli dan Agustus masingmasing sebesar -0,18% (mtm) dan -0,11% (mtm), sebelum

merebaknya kasus pandemi COVID-19 sejak awal tahun 2020.

kemudian mengalami inflasi pada bulan September sebesar

Emas dianggap sebagai safe heaven, sehingga permintaan

0,04% (mtm).

terhadap emas meningkat. Penyumbang inflasi lainnya bersumber dari kelompok penyedia makanan dan

38

Meningkatnya inflasi Kota Lubuklinggau pada triwulan

minuman/restoran dengan laju inflasi sebesar 2,34% (yoy)

laporan disebabkan oleh tekanan inflasi pada kelompok

dengan andil sebesar 0,19% (yoy). Inflasi pada kelompok ini

perawatan pribadi dan jasa lainnya. Inflasi kelompok ini

LAPORAN PEREKONOMIAN PROVINSI SUMATERA SELATAN NOVEMBER 2020

bersumber dari kenaikan harga mie, nasi dengan lauk, dan

tercatat sebesar 9,27% (yoy) dengan andil sebesar 0,60% (yoy).

sate dengan andil inflasi masing-masing 0,02% (yoy), 0,02%

Inflasi terutama didorong oleh kenaikan pada subkelompok

(yoy), dan 0,04% (yoy).

perawatan pribadi lainnya yaitu komoditas emas perhiasan

3.4.2 Kota Lubuklinggau

sebelumnya yang sebesar 21,43% (yoy). Realisasi inflasi

Inflasi Kota Lubuklinggau pada triwulan III 2020 tercatat

komoditas emas perhiasan di Kota Lubuklinggau lebih tinggi

dengan inflasi sebesar 32,50% (yoy), meningkat dari triwulan

sebesar 1,41% (yoy) sedikit meningkat dibandingkan triwulan

dari di Kota Palembang yang tercatat inflasi sebesar 29,92%

sebelumnya yang mengalami inflasi sebesar 1,37% (yoy).

(yoy). Lebih lanjut, kelompok makanan, minuman, dan

Namun demikian, realisasi inflasi pada triwulan ini lebih

tembakau turut memberikan sumbangan inflasi dengan andil

rendah jika dibandingkan dengan rata-rata inflasi Kota

0,27% (yoy). Inflasi kelompok ini bersumber dari komoditas

Tabel 3.15 Inflasi Kota Lubuklinggau Berdasarkan Kelompok Pengeluaran INFLASI TAHUNAN 2020 (%)

ANDIL INFLASI TAHUNAN (%)

KELOMPOK PENGELUARAN TW II

JUL

AGU

TW II

JUL

AGU

UMUM

1,37

0,93

1,09

1,41

1,37

0,93

1,09

1,41

Makanan, Minuman dan Tembakau

1,25

-0,45

-0,52

0,86

0,41

-0,14

-0,17

0,27

Pakaian dan Alas Kaki

1,07

1,12

1,18

1,18

0,07

0,07

0,08

0,08

Perumahan, Air, Listrik dan Bahan Bakar Rumah Tangga

1,19

1,16

1,38

1,33

0,22

0,22

0,26

0,25

Perlengkapan, Peralatan dan Pemeliharaan Rutin Rumah Tangga

1,40

1,80

1,76

1,84

0,08

0,10

0,10

0,11

Kesehatan

1,94

1,96

1,70

1,95

0,04

0,05

0,04

0,05

Transportasi

-1,52

-0,89

-0,21

-0,16

-0,15

-0,09

-0,02

-0,02

Informasi, Komunikasi dan Jasa Keuangan

0,65

0,16

0,16

0,14

0,03

0,01

0,01

0,01

Rekreasi, Olahraga dan Budaya

0,71

0,53

0,67

0,40

0,01

0,01

0,01

0,01

Pendidikan

4,74

4,69

4,43

0,82

0,16

0,16

0,15

0,03

Penyediaan Makanan dan Minuman/Restoran

1,27

0,92

0,93

0,91

0,10

0,07

0,08

0,07

Perawatan Pribadi dan Jasa Lainnya

6,84

8,21

9,50

9,27

0,42

0,52

0,61

0,60

Sumber: BPS Provinsi Sumatera Selatan (SBH 2018=100), diolah

SEP

SEP


rokok kretek filter dari subkelompok tembakau yang tercatat inflasi sebesar 5,30% (yoy) dengan andil sebesar 0,09% (yoy). Hal ini secara umum dipicu oleh kenaikan cukai rokok sebesar 23% sejak awal tahun 2020. Sementara itu, kelompok transportasi menjadi penahan laju inflasi di Kota Lubuklinggau. Deflasi kelompok transportasi pada triwulan III 2020 tercatat sebesar -0,16% (yoy) dengan andil sebesar -0,02% (yoy). Sejalan dengan Kota Palembang, deflasi terutama disumbang oleh tarif angkutan udara dari subkelompok jasa angkutan penumpang yang tercatat sebesar -19,66% (yoy) dengan andil sebesar -0,17% (yoy). Penurunan inflasi ini terjadi karena adanya pembatasan aktivitas di luar rumah yang ditetapkan oleh pemerintah sebagai langkah mitigasi risiko penyebaran COVID-19. Secara keseluruhan, lima komoditas utama penyumbang deflasi di Kota Lubuklinggau adalah cabai merah (andil -0,27%), angkutan udara (andil -0,17%), bawang putih (andil -0,12%), cabai rawit (andil -0,06%), dan biaya pulsa ponsel (andil 0,05%).

3.5 UPAYA PENGENDALIAN INFLASI Kegiatan pengendalian inflasi pada triwulan III diawali dengan koordinasi menjelang HKBN Idul Adha pada Juli 2020. Pada tanggal 14 Juli 2020, tim TPID Provinsi Sumatera Selatan telah

39

yang telah dilakukan di tengah kondisi kenormalan baru. Kegiatan pengendalian inflasi daerah terus dilanjutkan pada bulan Agustus dan September 2020 dengan berpedoman pada strategi Pengendalian Inflasi 4K. Upaya menjaga Ketersediaan Pasokan dilakukan dengan program diversifikasi pangan berbasis umbi-umbian untuk mengantisipasi gagal panen di musim kemarau. Selanjutnya, kegiatan pemantauan Keterjangkauan Harga terus dilakukan untuk memastikan tidak terjadi pelampauan Harga Eceran Tertinggi (HET). TPID Provinsi Sumatera Selatan juga telah mengembangkan kerjasama dengan Gojek untuk pengiriman gratis pembelian bahan pangan dari Toko Tani. TPID Provinsi Sumatera Selatan juga berusaha menjaga Kelancaran Distribusi dengan memprioritaskan angkutan untuk komoditas bahan pangan dan bahan pokok penting di tengah kondisi kenormalan baru (new normal) ke depan. Selain ketiga hal di atas, TPID Provinsi Sumatera Selatan yang diketuai langsung oleh Gubernur Provinsi Sumatera Selatan terus membangun Komunikasi yang Efektif dengan berbagai pihak melalui melalui koordinasi rutin dan rilis siaran pers

KANTOR PERWAKILAN BANK INDONESIA PROVINSI SUMATERA SELATAN

melaksanakan pertemuan teknis untuk membahas keberlanjutan/progress Kerjasama Antar Daerah dan upaya


Upaya Tim Pengendalian Inflasi Daerah Sumatera Selatan Dalam Menjaga Inflasi di Tengah Pandemi

Boks A

Gambar 1. Berbagai Upaya yang Dilakukan TPID Sumatera Selatan

Capacity Building TPID Prov. Sumsel

HLM TPID Prov, Sumsel

Rapat teknis terkait Panic Buying dg TPID Prov, Sumsel

Sidak Gudang Gula Pasir bersama TPID Kota Palembang

Rakor Bapokting dg Wagub Prov. Sumsel dan Dinas Perdagangan

Gubernur Prov. Sumsel meninjau gudang logistik Dinsos di OI

Rapat Teknis terkait KAD

Koordinasi kerjasama penyaluran beras dari Palembang ke Banyuasin

29 Jan ‘20

26 Feb ‘20

4 Mar ’20

12 Mar ‘20

24 Mar ‘20

25 Apr ’20

14 Jul ‘20

Sep ‘20

Operasi pasar Murah* oleh Pemkot Palembang & Bulog ( 14 - 31 Maret 2020)

7 Feb ‘20

2 Mar ‘20

Rapat Teknis terkait KAD dg TPID Prov. Sumsel

Rapat Teknis terkait koordinasi program unggulan dg TPID Kota Palembang

11 Mar ‘20

22 Mar ‘20

23 Mar ‘20

HLM TPID Kota Palembang

Gubernur Prov. Sumsel melakukan sidak ke Gudang Bulog

Gubernur Prov. Sumsel meninjau gudang Bulog di OKI

Inflasi yang rendah dan stabil merupakan salah satu

40

1.

Mei ‘20

Agu ‘20

Media Briefing dan Penayangan ILM

Program Pengiriman gratis menggunakan Gojek untuk pembelian di toko Tani

Pemantauan ketersediaan pasokan, melalui

persyaratan mewujudkan kesejahteraan masyarakat.

program sidak pasar, peninjauan gudang, dan

Inflasi dapat dipengaruhi dari permintaan (demand) dan

program pola tanam musiman.

penawaran (supply). Sinergi Bank Indonesia dengan LAPORAN PEREKONOMIAN PROVINSI SUMATERA SELATAN NOVEMBER 2020

Pasar Murah secara door to door dan pasar online

INFLASI PROVINSI SUMATERA SELATAN YANG RENDAH DAN STABIL

2. Pemantauan keterjangkauan harga untuk

Pemerintah baik di tingkat pusat maupun di tingkat

memastikan tidak terjadi pelampauan Harga Eceran

daerah dalam kerangka Tim Pengendalian Inflasi Daerah

Tertinggi (HET). Hal ini dilakukan melalui program

(TPID) telah membuahkan hasil dengan tren inflasi yang

pasar murah serta bekerja sama dengan Gojek untuk

menurun dalam 4 (empat) tahun terakhir. Peran

pengiriman gratis bahan pangan melalui Toko Tani.

Pemerintah untuk stabilisasi inflasi sangat penting

3. Kelancaran distribusi dengan prioritas angkutan

terutama terkait dengan harga barang dan jasa dalam

untuk komoditas pangan dan bahan pokok penting

kelompok administered prices. Menyadari pentingnya

di tengah pandemi COVID-19.

peran koordinasi dalam rangka pencapaian inflasi yang

4. Komunikasi yang efektif melalui koordinasi secara

rendah dan stabil, Kantor Perwakilan Bank Indonesia

rutin baik High Level Meeting maupun pertemuan di

Provinsi Sumatera Selatan bersama Pemerintah Daerah

level teknis. Selain itu, telah dilakukan rilis siaran pers

Sumatera Selatan melalui TPID terus melakukan upaya

secara regular terkait perkembangan inflasi

untuk mengendalikan inflasi.

Sumatera Selatan.

TPID Sumatera Selatan telah melakukan berbagai upaya

Selanjutnya, untuk jangka menengah dan panjang, TPID

pengendalian inflasi daerah melalui kerangka 4K, yaitu

Sumatera Selatan juga telah dan akan melakukan

Ketersediaan Pasokan, Keterjangkauan Harga,

berbagai upaya pengendalian inflasi termasuk

Kelancaran Distribusi, dan Komunikasi yang Efektif.

mendorong swasembada produksi komoditas inflasi,

Upaya jangka pendek yang telah dilakukan oleh TPID

mendorong penggunaan teknologi untuk meningkatkan

Sumatera Selatan antara lain:

kualitas dan produktivitas bahan pangan, dan membentuk Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) Pangan.


Boks A

KANTOR PERWAKILAN BANK INDONESIA PROVINSI SUMATERA SELATAN

41

Selain itu, TPID Sumatera Selatan juga telah memiliki dan

Di tingkat provinsi, Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan

melaksanakan Kerjasama Antar Daerah (KAD). Tujuan dari

telah memiliki KAD dengan 10 (sepuluh) Pemerintah

pelaksanaan KAD ini adalah untuk menjaga ketersediaan

Provinsi, yaitu Provinsi Riau, Provinsi Aceh, Provinsi

pasokan pangan di daerah dan mendukung

Sumatera Utara, Provinsi Sumatera Barat, Provinsi

perekonomian daerah melalui perluasan akses pasar.

Bengkulu, Provinsi Kepulauan Riau, Provinsi Jambi,

KAD atau perdagangan antar daerah juga menjadi salah

Provinsi Lampung, dan Provinsi Bangka Belitung. Ruang

satu alternatif dalam memastikan tersedianya pasokan

lingkup kerja sama ini meliputi sektor-sektor prioritas

produk atau komoditas tertentu sehingga fluktuasi harga

salah satunya adalah sektor pertanian (termasuk

dapat diredam ketika suatu daerah tidak mampu

perkebunan dan peternakan). Kerja sama ini juga

memenuhi kebutuhannya sendiri.

mencakup perdagangan komoditas/produk unggulan antar daerah.


Boks A Selanjutnya, terdapat beberapa kerjasama yang dilakukan baik antar provinsi, kabupaten/kota, dan Organisasi Perangkat Daerah (OPD), antara lain: 1.

Perjanjian Kerja Sama antara Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan dan Pemerintah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung dengan cakupan meliputi kerja sama penyediaan dan distribusi hasil produksi gabah dan/atau beras.

2. Perjanjian Kerja Sama antara Pemerintah Kota Palembang dan Pemerintah Kabupaten Banyuasin dengan cakupan perdagangan beras. 3. Perjanjian Kerja Sama antara Dinas Perdagangan Koperasi dan UKM Provinsi Riau dengan Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Sumatera Selatan dengan cakupan meliputi: a. Bidang perdagangan yang terdiri dari pertanian, perikanan dan kelautan, kehutanan, bahan

42

pokok, makanan olahan, bahan konstruksi, pupuk organik, hasil kerajinan, hasil tambang,

LAPORAN PEREKONOMIAN PROVINSI SUMATERA SELATAN NOVEMBER 2020

dan lainnya. b. Bidang industri yang terdiri dari perkebunan, perikanan, kelautan, kimia hilir, kayu olahan, logam mesin, kerajinan, dan aneka industri, barang dan jasa transportasi, pengembangan SDM industri kecil menengah dan distributor pangan, serta komoditi lainnya. Dalam mendorong percepatan dan peningkatan pelaksanaan KAD telah dibentuk Koordinasi Kerja Sama Daerah (TKKSD) yang berfungsi mengevaluasi Nota Kesepakatan atau Kerjasama dalam mendorong tingkat perekonomian daerah.


BAB IV

STABILITAS KEUANGAN DAERAH DAN PENGEMBANGAN USAHA MIKRO KECIL DAN MENENGAH Pada triwulan III 2020 stabilitas keuangan di Provinsi Sumatera Selatan mulai membaik sejalan dengan kinerja perekonomian. Penghimpunan DPK dan aset perbankan masih mengalami peningkatan sementara kinerja penyaluran kredit masih terkontraksi. Ketahanan sektor rumah tangga masih terjaga dengan non performing loan berada di bawah batas indikatif. Ketahanan sektor korporasi masih terjaga meskipun cenderung menurun sejalan dengan dampak pandemi COVID-19 yang dirasakan oleh pelaku usaha. Pangsa penyaluran kredit UMKM tercatat meningkat dengan tingkat risiko yang cenderung menurun dan dalam batas aman.


4.1 KONDISI UMUM Kondisi stabilitas keuangan Provinsi Sumatera Selatan pada triwulan III 2020 terpantau masih dalam kondisi yang baik.

Performing Loan (NPL) sebesar 3,62% pada triwulan III 2020,

Indikator perbankan di Sumatera Selatan menunjukkan

sedikit meningkat dibandingkan triwulan sebelumnya yang

perbaikan ditandai dengan meningkatnya aset perbankan

tercatat 3,41% (Grafik 4-3). Namun risiko kredit ini masih dalam

walau dalam level yang rendah. Pertumbuhan aset perbankan

batas aman (di bawah 5%).

diikuti oleh pertumbuhan kredit dan Dana Pihak Ketiga (DPK). Sejalan dengan hal tersebut, intermediasi perbankan Sumatera Selatan relatif terjaga yang tercermin dari Loan to 3

Deposit Ratio (LDR) yang masih dalam rentang ketentuan .

banyak didanai dari bank di luar provinsi, khususnya kantor pusat bank di DKI Jakarta. Hal ini terkonfirmasi dari nominal penyaluran kredit berdasarkan lokasi proyek (Rp125,45 triliun)

periode yang sama tahun sebelumnya 97,61% (Grafik 4-1).

lebih besar dari nominal penyaluran kredit berdasarkan lokasi

Penurunan rasio LDR disebabkan perlambatan penyaluran

bank (Rp84,45 triliun).

kredit di tengah pertumbuhan Dana Pihak Ketiga (DPK). Di sisi (NPL) meningkat, namun masih dalam batas yang aman.

Dana Pihak Ketiga (DPK) masih mencatat peningkatan pada triwulan III 2020, yakni mencapai Rp91,98 triliun atau tumbuh sebesar 8,11% (yoy) dibandingkan tahun sebelumnya.

Aset perbankan di Sumatera Selatan pada triwulan III 2020

Perbaikan DPK ini disumbang oleh seluruh komponen

tumbuh 4,41% (yoy) meningkat dibandingkan triwulan

pembentuk DPK. Pangsa DPK hingga triwulan III 2020 yaitu

sebelumnya yang tumbuh 0,33% (yoy) (Grafik 4-2). Nominal

tabungan (45,22%), deposito (36,97%), dan giro (17,81%).

aset tersebut tercatat sebesar Rp116,76 triliun, meningkat dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya Rp114,35 triliun. Pangsa kepemilikan aset masih didominasi oleh bank persero sebesar 44,38%, bank swasta nasional 29,76%, bank milik pemerintah daerah 27,53%, serta bank asing dan campuran 0,44%. Pangsa kepemilikan aset dari bank persero mengalami sedikit penurunan, sementara bank swasta nasional dan BPD meningkat dibandingkan triwulan II 2020.

Efisiensi sistem keuangan dapat dilihat dari rasio Biaya Operasional terhadap Pendapatan Operasional (BOPO). Semakin kecil nilai BOPO maka semakin efisien manajemen bank dalam mengelola beban operasionalnya. Rasio BOPO pada triwulan III 2020 tercatat 93,94%, meningkat dibandingkan dengan triwulan II 2020 yang tercatat 86,41% (Grafik 4-4). Hasil survei kepada perbankan mengkonfirmasi meningkatnya rasio BOPO didorong oleh kenaikan biaya

Sementara itu, penyaluran kredit perbankan di Sumatera

terkait implementasi protokol kesehatan pencegahan

Selatan tercatat sebesar Rp125,45 triliun atau terkontraksi

penyebaran COVID-19.

sebesar -3,88% (yoy). Perlambatan penyaluran kredit diikuti Grafik 4.1 Perkembangan Rasio Loan to Deposit (LDR) Perbankan di Sumatera Selatan RP TRILIUN

%YOY

136,38%

120

180% 160% 140%

100

120%

91,80%

80

100%

60

80% 60%

40 20 I

III

II

IV

2018 DPK

I

III

II 2019

KREDIT

LDR LOKASI PROYEK (RHS)

IV

I

II

40% 20% 0%

III

2020

120

RP TRILIUN

%YOY

115

116,76

140

Grafik 4.2 Perkembangan Asset Perbankan di Sumatera Selatan

91.98 125,45

LAPORAN PEREKONOMIAN PROVINSI SUMATERA SELATAN NOVEMBER 2020

Secara umum, penyaluran kredit di Sumatera Selatan cukup

LDR4 triwulan III 2020 91,80% lebih rendah dibandingkan

lain, risiko kredit yang tercermin dari rasio Non Performing Loan

44

oleh kenaikan risiko kredit, tercermin dari rasio Non-

110

4,41%

105

1. Berdasarkan Peraturan Bank Indonesia Nomor 17/11/PBI/2015, batas bawah LDR yang kemudian berubah menjadi LFR (Loan to Funding Ratio) adalah sebesar 7892%. Peraturan tersebut kemudian disempurnakan menjadi RIM (Rasio Intermediasi Makroprudensial) dan juga PLM (Penyangga Likuiditas Makroprudensial), dan ditetapkan dengan target kisaran 84-94%. 2. LDR merupakan rasio intermediasi yaitu rasio antara Kredit Lokasi Bank dibagi dengan DPK Lokasi Bank.

12% 10% 8% 6% 4%

100

2% 95

0% -2%

90 I

III

II

IV

I

2018

LDR LOKASI BANK (RHS)

Sumber: Bank Indonesia, diolah

14%

IV

2019 ASET

Sumber: Bank Indonesia, diolah

III

II

GROWTH (YOY; RHS)

I

II 2020

III


Pertumbuhan DPK pada triwulan laporan terkonfirmasi oleh

Grafik 4.3 Perkembangan Kredit Perbankan di Sumatera Selatan

hasil survei kepada perbankan yang terutama disebabkan

125,45

135 130

8%

3,62%

4%

120

0%

-3,88%

110 IV

III

II

I

IV

III

II

2018

I

KREDIT

p u s a t p e r b a n k a n u n t u k t e t a p b e r fo k u s ke p a d a

-8%

penghimpunan DPK. Kenaikan setiap komponen DPK baik giro, tabungan, dan deposito dapat dilihat pada Grafik 4-6.

2020

GROWTH (YOY; RHS)

NPL (RHS)

4.1.2 Penyaluran Kredit

Sumber: Bank Indonesia, diolah

Sejalan dengan kontraksi pertumbuhan ekonomi Sumatera

Grafik 4.4 Perkembangan Rasio BOPO Perbankan di Sumatera Selatan 100,00%

Selatan, penyaluran kredit tercatat melambat. Penyaluran

RP TRILIUN

14

90,00% 80,00% 70,00% 60,00% 50,00%

tercatat sebesar Rp125,45 triliun atau terkontraksi sebesar -

10

3,88% (yoy), lebih dalam dibandingkan kontraksi triwulan

8

sebelumnya sebesar -2,73% (yoy). Perlambatan pertumbuhan

6

30,00%

4

20,00%

2

10,00% 0,00%

IV

III

II

I

III

II

2018

IV

I

2019

PENDAPATAN OPERASIONAL

2020

BIAYA OPERASIONAL

kredit sejalan dengan menurunnya aktivitas perekonomian di Provinsi Sumatera Selatan dan nasional sebagai dampak pandemi COVID-19. Hal ini terkonfirmasi dari hasil survei kepada perbankan dimana beberapa bank di Sumatera

III

II

kredit perbankan Sumatera Selatan pada triwulan III 2020

12

40,00%

I

peningkatan DPK ini juga sesuai dengan kebijakan dari kantor

-4%

III

II

2019

pola konsumsi masyarakat di tengah ketidakpastian ekonomi sebagai dampak penyebaran pandemi COVID-19. Selain itu,

Selatan telah menurunkan target penyaluran kreditnya

BOPO

dikarenakan masih belum pulihnya aktivitas pelaku usaha dan konsumsi masyarakat di tengah pandemi.

Sumber: Bank Indonesia, diolah

4.1.1 Perkembangan Penghimpunan Dana Pihak Ketiga

Berdasarkan jenis penggunaannya, penyaluran kredit Sumatera Selatan terdiri dari kredit modal kerja (pangsa

Penghimpunan Dana Pihak Ketiga (DPK) di Provinsi Sumatera

43,15%), kredit konsumsi (pangsa 30,98%), dan kredit investasi

Selatan pada triwulan III 2020 tercatat sebesar Rp91,98 triliun

(pangsa 25,86%). Pada triwulan III 2020, penurunan penyaluran

dan tumbuh sebesar 8,11% (yoy), meningkat dibandingkan

terutama terjadi pada kredit investasi dan kredit konsumsi,

dengan triwulan sebelumnya yang hanya tumbuh sebesar

sementara kredit modal kerja mengalami peningkatan. Kredit

5,47% (yoy). Peningkatan DPK ini terutama bersumber dari

investasi terkontraksi sebesar -17,04% (yoy), lebih dalam

peningkatan ketiga komponen pembentuk DPK yaitu

dibandingkan triwulan sebelumnya sebesar -12,53% (yoy).

tabungan (8,12%), deposito (3,66%) dan giro (18,65%) (Grafik 4.5).

Selanjutnya, kredit konsumsi terkontraksi lebih dalam sebesar

Grafik 4.5 Perkembangan Komposisi DPK Perbankan di Sumatera Selatan 100

Grafik 4.6 Perkembangan Pertumbuhan DPK Perbankan di Sumatera Selatan 30%

RP TRILIUN

90

25%

80

34,01

70

20%

60

15%

50

10%

40

41,60

30

5% 0%

20 10

16,38

-

-5% -10%

I

III

II

IV

I

III

II

2018

IV

2019 GIRO

Sumber: Bank Indonesia, diolah

45

TABUNGAN

I

II 2020

DEPOSITO

III

I

III

II

IV

2018 DPK (YOY)

Sumber: Bank Indonesia, diolah

I

III

II

IV

I

2019 GIRO (YOY)

TABUNGAN (YOY)

II 2020

DEPOSITO (YOY)

III

KANTOR PERWAKILAN BANK INDONESIA PROVINSI SUMATERA SELATAN

I

oleh adanya penempatan dana pemerintah dalam rangka Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) serta adanya pergeseran

12%

125

115

20% 16%


Grafik 4.8 Perkembangan Pertumbuhan Kredit Perbankan di Sumatera Selatan

Grafik 4.7 Perkembangan Kredit Perbankan di Sumatera Selatan 140

25%

RP TRILIUN

20%

120 38,87

100 80

32,45

60

54,13

20

-5% -10% -15%

I

III

II

IV

I

III

II

2018

IV

I

2019 MODAL KERJA

II

III

I

INVESTASI

III

II

2020

IV

I

IV

I

2019 MODAL KERJA

KREDIT

KONSUMSI

III

II

2018

II

III

2020

INVESTASI

KONSUMSI

Sumber: Bank Indonesia, diolah

Sumber: Bank Indonesia, diolah

-3,88% (yoy) dibandingkan dengan triwulan sebelumnya -

(8,39%; yoy). KKB terkontraksi sebesar 11,89% (yoy) melambat

2,73% (yoy). Di sisi lain, penyaluran kredit modal kerja tumbuh

dibandingkan kontraksi triwulan sebelumnya (2,80%; yoy).

positif 0,66% (yoy), lebih tinggi dibandingkan triwulan

Demikian halnya dengan kredit pemilikan properti (KPR, KPA,

sebelumnya yang mengalami kontraksi sebesar -1,45% (yoy).

Ruko/Rukan) yang tumbuh sebesar 3,25% (yoy) melambat

Perlambatan pertumbuhan kredit investasi pada triwulan III

Perlambatan kredit konsumsi ini diperkirakan disebabkan oleh

2020 didorong oleh terkontraksinya kredit kepada seluruh LU

LAPORAN PEREKONOMIAN PROVINSI SUMATERA SELATAN NOVEMBER 2020

5% 0%

40

46

15% 10%

dibandingkan dengan triwulan sebelumnya 5,05% (yoy). terjadinya pergeseran pola konsumsi masyarakat yang

utama Provinsi Sumatera Selatan, dengan kontraksi terdalam

ditandai dengan indeks konsumsi barang kebutuhan tahan

terjadi pada LU pertambangan dan penggalian (-67,86%; yoy)

lama5 yang masih dalam level rendah yaitu 72,67 pada

dan LU konstruksi (-21,93%) (Grafik 4-9). Selanjutnya kredit LU

triwulan laporan. Pembatasan aktivitas dan penurunan

industri pengolahan tumbuh melambat menjadi sebesar -

pendapatan di tengah pandemi COVID-19 ditengarai juga

16,64% (yoy), LU pertanian, kehutanan dan perikanan tumbuh

menjadi penyebab pergeseran prioritas masyarakat sehingga

melambat sebesar -7,50% (yoy), serta LU perdagangan besar

menurunkan animo masyarakat untuk pemilikan kendaraan

dan eceran tumbuh melambat menjadi sebesar -7,15% (yoy).

bermotor dan properti.

Terkontraksinya penyaluran kredit investasi ini ditengarai oleh tertundanya proyek-proyek infrastuktur strategis serta adanya kecenderungan pelaku usaha untuk menahan investasi dan fokus pada stabilisasi operasional di tengah pandemi.

Di sisi lain, pertumbuhan kredit modal kerja pada triwulan III 2020 secara sektoral didorong oleh peningkatan penyaluran kredit modal kerja pada 2 (dua) Lapangan Usaha (LU) utama provinsi Sumatera Selatan (Grafik 4-10). Kredit modal kerja ke

Kredit konsumsi pada triwulan laporan tumbuh melambat

LU pertanian, kehutanan dan perikanan serta LU industri

yang bersumber dari perlambatan pertumbuhan kredit

pengolahan masih tumbuh positif masing-masing sebesar

multiguna, Kredit Kendaraan Bermotor (KKB) dan kredit

13,73% (yoy) dan 3,31% (yoy). Hal ini kemudian terkonfirmasi

pemilikan properti. Kredit multiguna tumbuh sebesar 5,88%

dari Focus Group Discussion (FGD) yang dilakukan dengan

(yoy), melambat dibandingkan dengan triwulan sebelumnya

pihak perbankan dimana penyaluran kredit ke dua LU

Grafik 4.9 Perkembangan Kredit Modal Kerja Berdasarkan Sektoral 20

Grafik 4.10 Perkembangan Kredit Investasi Berdasarkan Sektoral 16

RP TRILIUN

RP TRILIUN

14 12

15

10 8

10

6 5

4

0

0

2 I

III

II

IV

I

INDUSTRI PENGOLAHAN PERDAGANGAN BESAR DAN ECERAN

III

II

2018

2019

IV

I

II 2020

INDUSTRI PERTANIAN, KEHUTANAN, DAN PERIKANAN KONSTRUKSI PERTAMBANGAN DAN PENGGALIAN

Sumber: Bank Indonesia, diolah

5. Hasil Survei Konsumen Bank Indonesia

III

I

III

II

IV

2018 INDUSTRI PENGOLAHAN PERDAGANGAN BESAR DAN ECERAN Sumber: Bank Indonesia, diolah

I

III

II 2019

IV

I

II 2020

INDUSTRI PERTANIAN, KEHUTANAN, DAN PERIKANAN KONSTRUKSI PERTAMBANGAN DAN PENGGALIAN

III


Grafik 4 11 Perkembangan NPL Kredit Berdasarkan Jenis Penggunaan

Grafik 4 12 Perkembangan NPL Kredit Berdasarkan Lapangan Usaha di Sumatera Selatan 30,00%

2,00%

% YOY

4,00% 3,50%

25,00% 1,50%

3,00%

20,00%

2,50%

15,00%

2,00%

1,00%

10,00%

1,50%

5,00%

0,50%

1,00%

0,00%

0,50%

-5,00%

0,00% I

III

II

IV

I

2018

III

II

IV

I

II

2019 MODAL KERJA

INVESTASI

III

0,00% I

III

II

2020

IV

I

2018 TOTAL KREDIT (AXIS KANAN)

KONSUMSI

Sumber: Bank Indonesia, diolah

IV

III

II

I

2019

II

III

2020

INDUSTRI PENGOLAHAN INDUSTRI PERTANIAN, KEHUTANAN, DAN PERIKANAN PERDAGANGAN BESAR DAN ECERAN

KONSTRUKSI PERTAMBANGAN DAN PENGGALIAN

Sumber: Bank Indonesia, diolah

Tabel 4.1 Perkembangan Penyaluran Kredit/Pembiayaan Perbankan per Wilayah di Provinsi Sumatera Selatan (dalam Rp miliar) 2019 I

2020

II

III

IV

I

II

III

GROWTH ANDIL III 2020 III 2020 (%-YOY) (%-YOY)

PANGSA

Kab. Musi Banyuasin

11.338

12.922

13.309

11.368

14.513

12.942

13.441

0,99%

0,11%

10,7%

Kab. Ogan Komering Ulu

4.330

4.389

5.043

5.307

5.230

5.106

5.332

5,73%

0,24%

4,3%

Kab. Muara Enim

7.039

6.927

6.824

6.086

6.560

6.132

6.516

-4,51%

-0,23%

5,2%

Kab. Lahat

6.406

6.182

6.079

6.344

6.573

5.921

5.735

-5,66%

-0,26%

4,6%

Kab. Musi Rawas

3.368

3.637

3.728

3.751

3.894

3.638

3.648

-2,14%

-0,06%

2,9%

Kab. Ogan Komering Ilir

8.001

7.507

8.674

8.583

9.242

8.792

8.931

2,96%

0,21%

7,1%

Kab. Banyuasin

6.252

6.687

6.077

5.969

5.513

5.623

5.851

-3,72%

-0,17%

4,7%

718

740

794

812

852

864

853

7,37%

0,05%

0,7%

Kab. Ogan Komering Ulu Timur

1.737

1.785

1.912

1.945

2.035

2.036

2.097

9,70%

0,16%

1,7%

Kab. Ogan Ilir

Kab. Ogan Komering Ulu Selatan

1.557

1.627

1.830

1.803

1.799

1.823

1.930

5,44%

0,08%

1,5%

Kab. Empat Lawang

447

455

504

497

511

509

511

1,32%

0,01%

0,4%

Kab. Musi Rawas Utara

399

410

437

194

221

223

250

-42,84%

-0,09%

0,2%

Kab. Penukal Abab Lematang Ilir

188

194

189

173

162

271

226

19,80%

0,04%

0,2%

66.063

67.649

67.812

67.719

65.315

63.268

62.318

-8,10%

-4,02%

49,7% 2,3%

Kota Palembang Kota Lubuklinggau

2.761

2.731

2.744

2.790

2.882

2.854

2.873

4,72%

0,11%

Kota Prabumulih

3.591

3.658

3.643

3.595

3.523

4.004

4.048

11,11%

0,36%

3,2%

Kota Pagar Alam

868

890

913

905

889

874

888

-2,72%

-0,02%

0,7%

129.713 124.880 125.448

-3,88%

-3,88%

100,0%

PROVINSI SUMATERA SELATAN

125.064 128.387 130.512 127.844

Sumber: Bank Indonesia, diolah

tersebut mencapai 53% dari total penyaluran kredit.

sebelumnya 1,29%. Sementara itu, NPL kredit investasi dan

Sementara itu, penyaluran kredit modal kerja turun paling

kredit konsumsi pada triwulan III 2020 tercatat menurun

dalam pada LU pertambangan dan penggalian, diikuti oleh LU

dibandingkan triwulan sebelumnya masing-masing menjadi

konstruksi dan LU perdagangan yang masing-masing

1,44% dan 0,64% (Grafik 4-11). Sementara itu berdasarkan

terkontraksi sebesar -16,27% (yoy), -14,42% (yoy) dan -1,95%

lapangan usaha, peningkatan NPL tertinggi terjadi di LU pertambangan dan penggalian sebesar 14,98% serta LU

(yoy).

konstruksi sebesar 14,36% (Grafik 4-12). Tingginya risiko kredit Risiko kredit di Provinsi Sumatera Selatan pada triwulan III

di LU konstruksi karena pembiayaan proyek infrastruktur

2020 sedikit meningkat namun masih dalam batas aman. Hal

bersifat jangka panjang didukung dengan tertundanya proyek

ini tercermin dari Non Performing Loan (NPL) yang meningkat

infrastruktur karena pembatasan aktivitas selama pandemi

menjadi 3,62% dari triwulan sebelumnya sebesar 3,41%.

COVID-19. Kualitas kredit di LU pertambangan dan penggalian

Meskipun demikian, NPL Provinsi Sumatera Selatan masih

perlu mendapat perhatian karena rasio kredit bermasalah

terjaga di level 5%. Berdasarkan jenis penggunaannya,

yang meningkat cukup signifikan pada triwulan III 2020. Hal ini

menurunnya kualitas kredit hanya terjadi pada kredit modal

diprediksi terjadi karena penurunan kinerja industri di tengah

kerja yakni

masih terbatasnya permintaan dari negara tujuan ekspor.

sebesar 1,55%, meningkat dari triwulan

47 KANTOR PERWAKILAN BANK INDONESIA PROVINSI SUMATERA SELATAN

KABUPATEN/KOTA


Secara spasial, penyaluran kredit masih terkonsentrasi di Kota

Grafik 4.15 Persepsi Rumah Tangga Sumatera Selatan terhadap Kondisi Ekonomi 6 Bulan yang Akan Datang

Palembang dengan pangsa sebesar 49,7% atau tercatat sebesar Rp63,32 triliun, terkontraksi sebesar -8,10% (yoy) pada

180

triwulan III 2020. Hal ini mengindikasikan bahwa berdasarkan

160

lokasi, pertumbuhan kredit di Provinsi Sumatera Selatan yang

140

terkontraksi bersumber dari terkontraksinya kredit di Kota Palembang.

135,78 132,22 117,67

120 OPTIMISTIS

100

4.2 KETAHANAN SEKTOR RUMAH TANGGA 4.2.1 Kinerja Sektor Rumah Tangga

PESIMISTIS

80 I

III

II

IV

I

IV

I

2019

II

III

2020

PERKIRAAN PENGHASILAN 6 BULAN MENDATANG DIBANDINGKAN SAAT INI PERKIRAAN KETERSEDIAAN LAPANGAN KERJA 6 BULAN MENDATANG DIBANDINGKAN SAAT INI PERKIRAAN KEGIATAN USAHA 6 BULAN MENDATANG DIBANDINGKAN SAAT INI

Konsumi Rumah tangga (RT) memiliki peran besar dalam perekonomian dan sistem keuangan Sumatera Selatan. Pada

III

II

2018

Sumber:Survei Konsumen Bank Indonesia, diolah

triwulan III 2020, konsumsi RT menyumbang 62,21% dari total perekonomian Provinsi Sumatera Selatan. Besarnya peran

Indeks Keyakinan Konsumen (IKK), Indeks Kondisi Ekonomi

rumah tangga dalam perekonomian perlu ditopang dengan

Saat ini (IKE), Indeks Penghasilan dan Indeks Ketersediaan

tingkat kerentanan yang rendah agar kinerjanya tidak

Lapangan Kerja saat ini dibandingkan dengan 6 bulan lalu.

terganggu. Ditinjau dari sisi perbankan, pangsa Dana Pihak

Namun demikian, optimisme masyarakat terhadap ekspektasi

Ketiga (DPK) RT sebesar 68,24% dari total DPK di Sumatera

kondisi perekonomian ke depan masih cukup tinggi. Hal ini

Selatan pada triwulan III 2020. Sementara itu kredit konsumsi

tercermin dari Indeks Ekspektasi Konsumen (IEK), Indeks

RT sebesar 30,98% dari total kredit yang disalurkan perbankan

Perkiraan Penghasilan dan Indeks Perkiraan Ketersediaan

di Sumatera Selatan.

Lapangan Kerja 6 bulan mendatang dibandingkan saat ini

Pada triwulan III 2020, tekanan terhadap keuangan rumah

48

tangga masih berlanjut. Hal ini tercermin dari kinerja konsumsi rumah tangga di provinsi Sumatera Selatan yang masih

LAPORAN PEREKONOMIAN PROVINSI SUMATERA SELATAN NOVEMBER 2020

tercatat negatif. Kontraksi ini diperkirakan dampak dari menurunnya pendapatan masyarakat seiring dengan terkontraksinya kinerja Lapangan Usaha (LU) industri pengolahan, LU pertambangan dan penggalian, LU pertanian dan kehutanan serta LU perdagangan besar dan eceran di tengah pandemi. Kinerja PDRB konsumsi rumah tangga pada triwulan III 2020 terkontraksi 4,36% (yoy).

berada di atas level 100 (Grafik 4-13, 4-14, dan 4-15). Pada triwulan III 2020, total penghimpunan DPK di Sumatera Selatan tercatat sebesar Rp91,98 triliun, didominasi oleh DPK rumah tangga/perseorangan sebesar Rp62,77 triliun atau setara dengan pangsa 68,24% dari total DPK. Komposisi DPK rumah tangga masih didominasi oleh tabungan (63,12%), deposito (34,08%), dan giro (2,81%). Sejalan dengan perlambatan kinerja rumah tangga di triwulan III 2020, DPK perseorangan juga tumbuh melambat sebesar 4,52% (yoy) dibandingkan triwulan lalu (5,21%; yoy). Perlambatan DPK

Pembatasan aktivitas di tengah pandemi yang masih

dipicu oleh terdeselerasinya giro dan deposito. Pertumbuhan

berlangsung telah menekan optimisme masyarakat ke level

giro tercatat sebesar -1,97% (yoy), menurun cukup signifikan

pesimis. Hal ini tercermin dari hasil Survei Konsumen yang

dibandingkan triwulan lalu (35,11%; yoy). Selanjutnya,

dilakukan Bank Indonesia. Keyakinan konsumen pada

pertumbuhan deposito tercatat sebesar -1,11% (yoy),

triwulan III 2020 berada pada level pesimis yang tercermin dari

melambat dibandingkan triwulan lalu (4,91%; yoy). Grafik 4.14 Persepsi Rumah Tangga Sumatera Selatan terhadap Kondisi Ekonomi Saat Ini

Grafik 4.13 Indeks Keyakinan Konsumen Rumah Tangga di Sumatera Selatan 180

160

160

140

120 100 80

100,78

120

140 128,56

OPTIMISTIS PESIMISTIS

92,91

100

OPTIMISTIS

80

PESIMISTIS

60

70,67

40

60 57,26

40

20

28,44

0

20 I

III

II

IV

I

2018 INDEKS KONDISI EKONOMI SAAT INI (IKE)

Sumber:Survei Konsumen Bank Indonesia, diolah

III

II 2019

IV

I

II 2020

INDEKS EKSPEKTASI KONSUMEN (IEK) INDEKS KEYAKINAN KONSUMEN (IKK)

III

I

III

II

IV

2018

I

III

II 2019

IV

I

II 2020

PENGHASILAN SAAT INI DIBANDINGKAN 6 BULAN YANG LALU KETERSEDIAAN LAPANGAN KERJA SAAT INI DIBANDINGKAN 6 BULAN YANG LALU KEGIATAN USAHA SAAT INI DIBANDINGKAN 6 BULAN YANG LALU Sumber:Survei Konsumen Bank Indonesia, diolah

III


Grafik 4.16 Perkembangan Komposisi Dana Pihak Ketiga Perseorangan Sumatera Selatan 70

Grafik 4.18 Perkembangan Komposisi Kredit Rumah Tangga Sumatera Selatan 80

RP TRILIUN

RP TRILIUN

70

60 21.40

50

17,27 2,84

60 50

40

11,15

40

30

39,62

20

30 20

10

1,76

-

38,87

10 0

I

IV

III

II

I

2018

IV

III

II

I

II

2019 GIRO

TABUNGAN

III

I

III

II

2020

IV

I

DEPOSITO

I

2019

KREDIT KONSUMSI

Sumber: Bank Indonesia, diolah

IV

III

II

2018

II

III

2020

KPR, KPA, RUKO/RUKAN

KKB

MULTIGUNA

Sumber: Bank Indonesia, diolah

Grafik 4.17 Perkembangan Pertumbuhan DPK Perseorangan di Sumatera Selatan

Grafik 4.19 Pekembangan Pertumbuhan Kredit Rumah Tangga Sumatera Selatan 20%

45,00%

15%

35,00%

10%

25,00%

5% 15,00%

0%

5,00%

-5%

-5,00%

-10%

-15,00%

-15% III

II

IV

I

2018 DPK (YOY)

III

II

IV

I

2019 GIRO (YOY)

TABUNGAN (YOY)

II

III

I

III

II

2020

IV

I

DEPOSITO (YOY)

IV

III

II

2018

I

2019

KREDIT KONSUMSI (YOY)

II

III

2020

KPR, KPA, RUKO/RUKAN (YOY)

KKB (YOY)

MULTIGUNA (YOY)

Sumber: Bank Indonesia, diolah

Sumber: Bank Indonesia, diolah

Perlambatan ini diperkirakan disebabkan oleh menurunnya

sebesar 11,89% (yoy), melambat dari triwulan lalu (-2,80%; yoy).

ketersediaan dana cadangan masyarakat di tengah pandemi

Selain itu, kredit multiguna tercatat tumbuh sebesar 5,88%

seiring dengan menurunnya pendapatan. Di sisi lain,

(yoy), melambat dari triwulan lalu (8,39%; yoy). Perlambatan

meningkatnya pangsa tabungan terhadap total DPK

kredit di sektor rumah tangga sejalan dengan motif berjaga-

perbankan perseorangan menunjukkan tren peningkatan

jaga masyarakat di tengah pandemi COVID-19 dan fokus pada

preferensi rumah tangga atau perseorangan terhadap aspek

pemenuhan kebutuhan pokok dan kebutuhan terkait

fleksibilitas dan kebutuhan likuiditas yang tinggi pada periode

kesehatan.

perlambatan ekonomi saat ini.

Pada triwulan III 2020, risiko kredit rumah tangga masih

4.2.2 Kredit Perseorangan di Perbankan Pertumbuhan kredit konsumsi bagi rumah tangga di

terjaga. Hal tersebut tercermin dari NPL yang masih cukup rendah dan berada di bawah 5%. NPL kredit rumah tangga

Sumatera Selatan pada triwulan III 2020 mencatat

Grafik 4.20 Perkembangan NPL Kredit Rumah Tangga Sumatera Selatan

perlambatan dari sebelumnya sebesar 5,72% (yoy) pada triwulan II 2020 menjadi 3,31% (yoy). Hal ini sejalan dengan perlambatan kinerja konsumsi rumah tangga di triwulan laporan. Kredit rumah tangga sebagian besar disalurkan dalam bentuk kredit multiguna, Kredit Kepemilikan properti

5% 4% 3%

berupa Rumah/Apartemen-Ruko-Rukan (KPR/KPA), dan

2%

Kredit Kendaraan Bermotor (KKB).

1%

Perlambatan

pertumbuhan kredit sektor rumah tangga didorong oleh melambatnya pertumbuhan kredit KPR, KPA, Ruko/Rukan, KKB dan multiguna. Kredit KPR, KPA, Ruko/Rukan tercatat tumbuh sebesar 4,14% (yoy), melambat dari triwulan lalu (5,05%; yoy). Selanjutnya, KKB juga tercatat tumbuh negatif

0% I

III

II 2018

KREDIT KONSUMSI

Sumber: Bank Indonesia, diolah

IV

I

IV

III

II 2019

KPR, KPA, RUKO/RUKAN

I

II 2020

KKB

MULTIGUNA

III

49 KANTOR PERWAKILAN BANK INDONESIA PROVINSI SUMATERA SELATAN

I


menurun dibandingkan dengan triwulan sebelumnya.

sebesar 21,73% (yoy) dari 9,79% (yoy) pada triwulan lalu dan

Berdasarkan jenis kreditnya, menurunnya NPL bersumber dari

peningkatan pertumbuhan deposito dari -0,16% (yoy) menjadi

penurunan NPL pada semua jenis kredit yakni kredit

12,89% (yoy). Sementara itu, pertumbuhan tabungan

multiguna, KPR, KKB dan kredit konsumsi (Grafik 4-20).

melambat menjadi sebesar 7,13% (yoy). Peningkatan

4.3 KETAHANAN SEKTOR KORPORASI 4.3.1 Kinerja Sektor Korporasi

tertundanya penggunaan dana korporasi untuk pembelian

pertumbuhan giro diperkirakan disebabkan oleh masih bahan baku produksi yang tertahan akibat pandemi COVID-

Di tengah tekanan ekonomi global dan nasional, serta terkontraksinya pertumbuhan ekonomi Provinsi Sumatera Selatan, kinerja korporasi pada triwulan laporan menurun. Terganggunya rantai pasok global karena pandemi COVID-19 berdampak pada menurunnya kinerja korporasi domestik. Permintaan masyarakat tertahan, sehingga berdampak pada menurunnya kondisi penjualan, baik untuk domestik maupun ekspor. Hasil survei Bank Indonesia pada triwulan III 2020

50

19. Sementara itu, peningkatan pertumbuhan deposito diprediksi terjadi sebagai langkah persiapan investasi jangka panjang yang harus tertunda karena pandemi COVID-19. Sementara perlambatan tabungan ditengarai sejalan dengan penurunan pendapatan korporasi di tengah penurunan suku bunga.

4.3.3 Kredit Sektor Korporasi

menunjukkan bahwa likert scale penjualan domestik dan

Penyaluran kredit kepada korporasi di wilayah Sumatera

ekspor turun ke angka -1,13 dan -1,50 (Grafik 4-21).

Selatan pada triwulan III 2020 mengalami kontraksi sebesar -

Menurunnya penjualan diikuti pula dengan adanya kenaikan

6,79% (yoy) dengan nilai Rp86,58 triliun, melambat

persediaan perusahaan. Selain itu, untuk menurunkan beban

dibandingkan kontraksi triwulan lalu (-6,12%; yoy). Dari sisi

operasionalnya dan merespon turunnya permintaan,

penggunaan, melambatnya pertumbuhan kredit korporasi

perusahaan juga menurunkan kapasitas utilisasi. Menurunnya

bersumber dari menurunnya penyaluran kredit investasi,

permintaan juga berdampak pada menurunnya margin

seiring dengan tertahannya investasi sebagai dampak

keuntungan perusahaan.

pandemi COVID-19.

Grafik 4.22 Perkembangan Kredit Korporasi Sumatera Selatan

LAPORAN PEREKONOMIAN PROVINSI SUMATERA SELATAN NOVEMBER 2020

Grafik 4.21 Likert Scale Penjualan dan Perkiraan Penjualan 2

INDEKS

LIKERT SCALE

94

25%

RP TRILIUN

92

20%

1

90

15%

0

86

88

86.58

5%

84 -1

0%

82

-6,79%

80 -2 III

II

IV

I

2018 LIKERT PENJUALAN EKSPOR

III

II

IV

I

2019

II

III

2020

I

III

II

4.3.2 Dana Pihak Ketiga Sektor Korporasi di Perbankan

IV

I

2018

LIKERT PENJUALAN DOMESTIK

Sumber: Liaison Bank Indonesia, diolah

III

II

IV

2019 KREDIT KORPORASI

I

II

III

2020 GROWTH (YOY)

Sumber: Bank Indonesia, diolah

Grafik 4.23 Pangsa Kredit Korporasi Sumatera Selatan

Pertumbuhan DPK sektor korporasi pada triwulan III 2020

27,94%

INDUSTRI PENGOLAHAN

tercatat meningkat khususnya pada komponen giro korporasi

23,72%

yang memiliki pangsa 50,04% dari total DPK sektor korporasi.

PERTANIAN, KEHUTANAN, DAN PERIKANAN

DPK korporasi di Sumatera Selatan pada triwulan III 2020

20,47%

tumbuh sebesar 16,71% (yoy) dengan nilai Rp29,22 triliun,

8,39%

PERDAGANGAN BESAR DAN ECERAN

KONSTRUKSI

meningkat dibandingkan dengan triwulan II 2020 yang hanya

5,60%

tumbuh sebesar 6,09% (yoy).

PERTAMBANGAN DAN PENGGALIAN

13,89%

LAINNYA

Meningkatnya pertumbuhan DPK Korporasi pada triwulan III 2020 disebabkan oleh peningkatan pertumbuhan giro

-5% -10%

78 I

10%

Sumber: Bank Indonesia, diolah


Grafik 4.24 Perkembangan Pertumbuhan Ekonomi, Kredit, dan Risiko Industri Pengolahan

20,00%

7,00%

120,00%

16,00%

6,00%

100,00%

14,00%

5,00%

80,00%

4,00%

10,00%

3,00%

0,00%

2,00% 1,00%

-10,00% -20,00% -30,00% I

III

II 2018

NPL KREDIT (RHS)

IV

I

III

II 2019

PERTUMBUHAN KREDIT

IV

I

II

8,00%

40,00%

6,00%

-1,00%

-20,00%

-2,00%

-40,00%

PERTUMBUHAN EKONOMI LU (RHS)

4,00%

20,00% 0,00%

2020

10,00%

60,00%

0,00%

III

12,00%

2,00% 0,00% -2,00% -4,00% I

III

II

IV

I

2018 NPL KREDIT (RHS)

III

II

IV

I

2019 PERTUMBUHAN KREDIT

II

III

2020 PERTUMBUHAN EKONOMI LU (RHS)

Sumber: Bank Indonesia, diolah

Sumber: Bank Indonesia, diolah

Berdasarkan sektoral, pangsa kredit korporasi di Sumatera

21,55%. Rasio ini dinilai cukup baik karena telah melampaui

Selatan didominasi oleh sektor utama yaitu LU industri

kewajiban pemberian kredit/pembiayaan UMKM minimal

pengolahan (27,94%), LU pertanian, kehutanan, dan perikanan

20%6. Dilihat dari sisi sektor ekonomi, pangsa penyaluran kredit

(23,72%), LU perdagangan besar dan eceran (20,47%), LU

UMKM terbesar adalah di sektor perdagangan besar dan

konstruksi (8,39%), serta LU listrik, gas dan air (5,60%) (Grafik 4-

eceran yaitu sebesar 40,98% dengan pertumbuhan yang

23). Perlambatan kredit korporasi terutama disebabkan oleh

terkontraksi sebesar -5,59% (yoy), lebih rendah dari triwulan

perlambatan permintaan kredit pada LU industri pengolahan

sebelumnya sebesar -3,13% ( yoy).

dan konstruksi.

Pada triwulan III 2020 kredit UMKM mengalami kontraksi yang

Sejalan dengan terkontraksinya pertumbuhan PDRB LU

tidak sedalam triwulan sebelumnya yaitu sebesar -4,23% (yoy)

industri pengolahan, penyaluran kredit di LU industri

dengan penyaluran kredit mencapai Rp27,55 triliun.

pengolahan juga mengalami perlambatan. Penyaluran kredit

Meningkatnya pertumbuhan kredit UMKM bersumber dari

industri pengolahan terkontraksi sebesar 1,64% (yoy) pada

peningkatan penyaluran kredit UMKM untuk LU penyediaan

triwulan III 2020 dibandingkan triwulan sebelumnya tumbuh

akomodasi makanan dan minuman dan LU jasa kesehatan

positif 2,09% (yoy). Perlambatan kredit industri pengolahan

(Tabel 4-2). Penyaluran kredit UMKM sebagian besar

didorong oleh penurunan produksi karet karena adanya

digunakan untuk kredit modal kerja (67,53%) dan kredit

penyakit gugur daun. Sementara itu, kualitas penyaluran

investasi (32,47%) (Grafik 4-27).

kredit industri pengolahan tercatat meningkat, ditunjukkan dengan nilai NPL pada triwulan III 2020 sebesar 0,96% dari 0,79 pada triwulan II 2020 (Grafik 4-24).

NPL sektor UMKM pada triwulan III 2020 tercatat sebesar 4,60% lebih rendah dibandingkan triwulan sebelumnya (4,74%). NPL kredit UMKM masih berada dalam batas threshold

Selain itu, penurunan penyaluran kredit pada triwulan III 2020

(Grafik 4-26). Penurunan NPL disinyalir karena kebijakan

juga terjadi pada LU konstruksi yang tercatat terkontraksi

restrukturisasi kredit yang diberikan kepada pelaku UMKM

sebesar 16,07% (yoy), lebih dalam dibandingkan dengan

sebagai salah satu bentuk stimulus kebijakan yang ditetapkan

triwulan sebelumnya (-12,40%; yoy). Penurunan penyaluran

oleh pemerintah di tengah pandemi COVID-19.

kredit pada LU ini sejalan dengan kontraksi pertumbuhan PDRB LU konstruksi. Perlambatan ini dikarenakan penundaan pembangunan infrastruktur di berbagai sektor sebagai dampak dari wabah COVID-19. Di sisi lain, rasio NPL untuk LU konstruksi tercatat sedikit menurun menjadi sebesar 14,36% pada triwulan laporan atau berada di atas batas threshold.

4.4 PERKEMBANGAN KEGIATAN UMKM DI SUMATERA SELATAN Pada triwulan III 2020, pangsa kredit UMKM terhadap total

Dalam menjalankan tugasnya di bidang pengendalian inflasi, Bank Indonesia ikut mendukung perkembangan UMKM di Sumatera Selatan, salah satunya dalam menjaga ketahanan pangan dan mengembangkan ekonomi lokal. Sejak tahun 2015, Bank Indonesia telah melaksanakan program kerja inisiatif berupa pembentukan klaster ketahanan pangan bersinergi dengan pemerintah daerah. Isu ketahanan pangan ini menjadi sangat penting karena dapat memberikan tekanan inflasi pada kelompok bahan makanan. Beberapa komoditas

penyaluran kredit di Sumatera Selatan tercatat sebesar 22,06%, sedikit meningkat dibandingkan triwulan sebelumnya

6. Berdasarkan Peraturan Bank Indonesia No.17/12/PBI/2015, Perbankan memiliki kewajiban penyaluran kredit/pembiayaan UMKM minimal 20%

51 KANTOR PERWAKILAN BANK INDONESIA PROVINSI SUMATERA SELATAN

30,00%

Grafik 4.25 Perkembangan Pertumbuhan Ekonomi, Kredit, dan Risiko Industri Konstruksi


Grafik 4.26 Perkembangan Pertumbuhan Kredit UMKM di Sumatera Selatan 35

Grafik 4.27 Proporsi Penggunaan Kredit UMKM Triwulan III 2020

%YOY

RP TRILIUN

25,0

30

20,0

25

15,0

20

10,0

15

5,0

10

0,0

5

-5,0

67,01%

MODAL KERJA

32,99%

INVESTASI

-10,0

I

III

II

IV

I

2018

IV

III

II

I

2019 RASIO NPL (RHS)

KREDIT UMKM

II

III

2020 PERTUMBUHAN (RHS)

Sumber: Bank Indonesia, diolah

Sumber: Bank Indonesia, diolah

Tabel 4.2 Proporsi Penyaluran Kredit UMKM Berdasarkan Sektor Ekonomi Triwulan III 2020 GROWTH (%YOY)

KREDIT (RP MILIAR)

2020 III

PANGSA

Sektor Ekonomi

27.552,16

100,00%

Perdagangan Besar Dan Eceran

SEKTOR EKONOMI

2019 I 6,99

I

2020 II

III

0,31

(0,49)

(7,27)

(4,23)

0,56

(3,13)

(5,59)

II

III

IV

5,49

5,47

11.289,69

40,98%

6,08

0,09

2,37

(0,41)

Pertanian, Perburuan Dan Kehutanan

7.211,06

26,17%

15,98

20,16

17,22

7,44

Konstruksi

2.564,33

9,31%

(9,26) (10,65) (7,42)

1.193,17

4,33%

19,86

8,61 24,35

1.040,28

3,78%

2,62

(0,97) (0,99)

(7,03) (14,49) (13,90) (13,04)

950,86

3,45%

7,99

(4,37) (7,93)

(8,88) (10,62) (12,54) (10,47)

3.302,76

11,99%

6,37

16,44 10,49

Penyediaan Akomodasi Dan Penyediaan Makan Industri Pengolahan Jasa Kemasyarakatan, Sosial Budaya, Hiburan Dan Perorangan Lainnya Lainnya

2,75 (10,61)

(15,11) (15,17) 5,30

7,42

30,12

(1,03)

(7,75)

(3,44)

2,96

18,46

0,61 (12,26) (10,45)

52 LAPORAN PEREKONOMIAN PROVINSI SUMATERA SELATAN NOVEMBER 2020

yang menjadi penyumbang inflasi di Sumatera Selatan adalah

UMKM yang terbagi menjadi 3 (tiga) pilar Strategi Nasional

komoditas beras, bawang putih, bawang merah, cabai merah,

Pengembangan UMKM meliputi korporatisasi, peningkatan

dan ikan segar, sehingga diperlukan penguatan sektor UMKM

kapasitas dan akses pembiayaan.

dalam bidang pertanian agar dapat mendukung terjaganya inflasi sesuai dengan sasarannya.

Ditengah tantangan atas penyesuaian pembatasan pelaksanaan kegiatan secara langsung, Bank Indonesia

Selain dalam rangka pengendalian inflasi, Bank Indonesia

menyelenggarakan peningkatan kapasitas digitalisasi UMKM

juga melakukan peningkatan kegiatan ekonomi dan

dan perluasan akses pasar berupa edukasi onboarding

pengembangan ekonomi lokal dengan cara pemberian

kepada UMKM dan pelaksanaan pameran produk unggulan

pelatihan wirausaha, pelatihan pemasaran dan pemberian

UMKM secara virtual yang terhubung dengan marketplace

bantuan teknis kepada UMKM. Harapannya, perekonomian

dan digital payment. Pelaksanaan kegiatan tersebut sekaligus

Sumatera Selatan dapat tumbuh, kuat terhadap ancaman

menjadi bagian dari dukungan nyata Bank Indonesia terhadap

krisis, dan dengan inflasi yang terkendali.

Gerakan Nasional Bangga Buatan Indonesia (Gernas BBI).

Dalam rangka mendorong UMKM berbasis potensi lokal m e n j a d i ke k u a t a n b a r u p e re ko n o m i a n , s t r a t e g i pengembangan UMKM dilakukan melalui akselerasi pemanfaatan teknologi digital serta peningkatan akses Tabel 4.3 Program UMKM Ketahanan Pangan Bank Indonesia Provinsi Sumatera Selatan PORSI PENGGUNAAN (%) BAWANGÂ MERAH (Kab. OKI)

Jml Petani (Org)

Jml Tng Kerja (Org)

Luas Lahan (Ha)

Jml Prod. Produktivitas /Tahun (kg/Ha) (Kg)

6

6

1

6.040,0

6.040

CABAI MERAH (Desa 45 Muara Burnai kab. OKI)

200

35

112.458,5

1.785


Tabel 4.4 Kegiatan Pengembangan UMKM dan Pengembangan Ekonomi Lokal di Sumatera Selatan

1.

TEMA KEGIATAN

Nama Kegiatan

Komoditas

Lokasi

Komoditas Unggulan Daerah (Local Economic Development)

Pengembangan Kelompok Usaha Bersama Griya Kain Tuan Kentang

Kain khas Sumatera Selatan (jumputan, blongsong, tajung, songket)

Kota Palembang

2.

Konversi kopi robusta ke arabika

Kopi

Kab. Muara Enim

3.

Kewirausahaan

Pengembangan WUBI

Produk kategori food, fashion, home decor, perkebunan

Kota Palembang

4.

Ekonomi Syariah

Pengembangan ekonomi syairah di Pondok Pesantren Sabibul Hasanah

Hidroponik

Kabupaten Banyuasin

5.

Juara 1 Pondok Pesantren Sabibul Hasanah sebagai Ponpes Unggulan dalam FESyar Sumatera 2020

Pemberdayaan masyarakat

Kota Palembang

6.

Fasilitas UMKM Binaan (Portal Warkop, Pempek Syamil, dan Pyo Jewelry) tergabung dalam IKRA

Produk kategori food dan fashion

Kota Palembang

Partisipasi 6 UMKM binaan dan mitra dalam KKI Virtual 2020

Kategori produk fashion, food dan kriya

Kota Palembang

Penyelenggaraan SerU Sriwijaya 2020 meliputi pameran virtual dan capacity building dengan topik a) UMKM siap ekspor, b) Pemasaran UMKM, c) Kewirausahaan, dan) Komoditi unggulan.

UMKM

Kota Palembang

Rumah Kopi Sumsel

Kopi

Kota Palembang

10.

Partisipasi kurasi produk UMKM ekspor oleh kurator Amerika Serikat dan Singapura, partisipasi Trade Expo Indonesia

Home decor

Kota Palembang

11.

Partisipasi Future Tea and Coffee Summit and Expo 2020 Singapura

Kopi

Singapura

Fasilitas akses pembiayaan kepada 6 UMKM dengan PT. BPD Sumsel dan Babel

UMKMkategori food

Kota Palembang

7.

UMKM Kreatif

8.

9.

12.

Komoditas Ekspor

Akses pembiayaan

53 KANTOR PERWAKILAN BANK INDONESIA PROVINSI SUMATERA SELATAN

No.


Boks B

Karya Kreatif Indonesia 2020: UMKM Kekuatan Baru Perekonomian Nasional di Era Digital

Perkembangan ekonomi dan keuangan digital yang semakin pesat, terlebih pandemi COVID-19 ini

Indonesia Provinsi Sumatera Selatan sejumlah 6 (enam)

memberikan peluang dalam mengakselerasi peran

UMKM kategori kain tradisional, home decor, fashion dan

UMKM untuk memasuki ekosistem digital. Digitalisasi

turunannya, serta makanan dan minuman berpartisipasi

menjadi solusi kepada UMKM untuk meningkatkan dan

dalam KKI 2020. Produk yang diikutsertakan dalam KKI

memperluas akses pasar serta akses keuangan. Hal ini

Virtual 2020 mewakili KPwBI Provinsi Sumatera Selatan

sejalan dengan strategi pengembangan UMKM oleh

adalah kain tradisional khas Palembang seperti songket,

Bank Indonesia melalui pemanfaatan teknologi digital

jumputan, dan blongsong, home decor dari kain khas

dalam meningkatkan akses UMKM ke pasar domestik

Palembang, fashion dan turunannya berupa aksesoris

dan internasional. Langkah nyata peningkatan akses pasar UMKM, Bank Indonesia menyelenggarakan Karya Kreatif Indonesia (KKI) sebagai sebuah selebrasi kesuksesan UMKM yang telah dibina dan menjadi mitra 46 Kantor Perwakilan Bank Indonesia di seluruh Indonesia. Melalui penyelenggaraan KKI, UMKM didorong untuk

54

melakukan inovasi, lebih produktif, dan memiliki daya saing. Penyelenggaraan KKI 2020 terbagi menjadi 3 (tiga) seri pada bulan Agustus, Oktober, dan November 2020

LAPORAN PEREKONOMIAN PROVINSI SUMATERA SELATAN NOVEMBER 2020

UMKM binaan dan mitra Kantor Perwakilan Bank

secara virtual sebagai penyesuaian di masa pandemi dan mempersiapkan UMKM mendalami digitalisasi. Tema utama KKI Virtual 2020 adalah “Mendorong UMKM sebagai Kekuatan Baru Perekonomian Nasional di Era Digital�. KKI dilaksanakan dengan tujuan: 1.

Mensosialisasikan dan mempublikasikan kepada masyarakat mengenai peran BI dalam pengembangan UMKM,

2.

Memperluas akses pasar domestik maupun ekspor dengan mengenalkan produk UMKM berbasis kain tradisional dan kerajinan kepada calon pembeli (marketplace) yaitu masyarakat umum dan pihakpihak yang terhubung dengan pasar ekspor,

3.

Sebagai katalisator bagi pelaku usaha industri kreatif dalam meningkatkan kualitas produk sesuai trend pasar sekaligus mendorong peningkatan nilai tambah melalui ekstensifikasi produk kain menjadi pakain yang bernilai jual tinggi.

dari Sumatera Selatan, serta komoditi unggulan Sumatera Selatan yakni kopi. KPwBI Provinsi Sumatera Selatan memberikan fasilitasi kepada UMKM peserta KKI Virtual 2020 berupa penyusunan katalog produk dan video profil UMKM sebagai marketing tools. Selanjutnya dalam pelaksanaan kegiatan KKI Virtual 2020, UMKM melakukan pameran secara daring melalui website www.karyakreatifindonesia.co.id dan penjualan melalui e-commerce dan conversational platform. UMKM juga diikutsertakan dalam rangkaian kegiatan workshop, talkshow, dan business coaching KKI Virtual 2020. KPwBI Provinsi Sumatera Selatan juga bekerjasama dengan Dekranasda Sumatera Selatan untuk mengadakan pameran display fisik UMKM di Home Gallery Kriya Sriwijaya Palembang, sebuah galeri pameran UMKM, sebagai bentuk dukungan penyelenggaraan KKI Virtual 2020. Dalam pelaksanaan KKI Virtual 2020, KPwBI Provinsi Sumatera Selatan memperoleh peringkat 8 (delapan) dari total 46 KPwDN seluruh Indonesia atas perolehan rekapitulasi penjualan tertinggi. Selain itu pada selebrasi business matching KKI Virtual 2020 seri 1, UMKM binaan KPwBI Provinsi Sumatera Selatan menjadi UMKM terbaik pada kategori sukses onboarding atau UMKM Go Digital atas perolehan penjualan di ecommerce mencapai 300 juta Rupiah.


BAB V

PENYELENGGARAAN SISTEM PEMBAYARAN DAN PENGELOLAAN UANG RUPIAH Di tengah perlambatan ekonomi pada triwulan III 2020, penyelenggaraan sistem pembayaran non tunai dan tunai di Sumatera Selatan berjalan dengan lancar, aman dan efisien. Di tengah perlambatan ekonomi pada triwulan III 2020, penyelenggaraan sistem pembayaran non tunai dan tunai di Sumatera Selatan berjalan dengan lancar, aman dan efisien. Transaksi SKNBI melambat sejalan dengan kinerja konsumsi Rumah Tangga Sumatera Selatan pada triwulan III 2020 yang mengalami kontraksi. Transaksi RTGS tumbuh dan arus uang kartal mencatat net outflow, sejalan dengan realisasi investasi Provinsi Sumatera Selatan pada triwulan III 2020 yang melebihi target. Penyaluran Bantuan Sosial Non Tunai mengalami peningkatan seiring dengan program Pemulihan Ekonomi Nasional oleh Pemerintah.


5.1 PERKEMBANGAN SISTEM PEMBAYARAN TUNAI DAN PENGELOLAAN UANG RUPIAH Pada triwulan III 2020, peredaran uang kartal di Provinsi

Grafik 5.2 Perkambangan Inflasi, growth PDRB Konsumsi RT, growth DPK, dan growth Kredit di Provinsi Sumatera Selatan

Sumatera Selatan mengalami net outflow sebesar Rp1,43 triliun, dengan jumlah penarikan sebesar Rp4,31 triliun dan

4,00

penyetoran sebesar Rp2,88 triliun (Grafik 5.1). Transaksi

3,50

penarikan uang kartal penarikan pada triwulan laporan

RP MILLIAR

6 4

3,00

1,04

2

2,50

tumbuh 23,45% (yoy), meningkat signifikan dibandingkan

2,00

triwulan sebelumnya yang terkontraksi sebesar -37,84% (yoy).

1,50

-

0,93

(2)

-4,36

(4)

1,00

Kondisi ini dipicu oleh mulai meningkatnya konsumsi

0,50

masyarakat pada triwulan III 2020 meskipun masih

0,00

(6)

1,01 I

terkontraksi sebesar -4,36% (yoy) dari sebelumnya sebesar -

IV

III

II

I

2018

6,69% (yoy) pada triwulan II 2020. Hal ini didorong oleh masih

IV

III

II

I

2019 INFLASI

GDPK

(8)

III

II 2020

GKREDIT

GPDRB RT

terbatasnya aktivitas konsumsi karena pandemi meskipun sudah mulai pulih sejalan dengan penerapan adaptasi kebiasaan baru. Masih tertahannya konsumsi masyarakat juga tercermin dari inflasi yang rendah pada triwulan III 2020

Langkah penarikan dan pemusnahan UTLE tersebut sudah

sebesar 1,01% (yoy), lebih rendah dari triwulan II 2020 sebesar

memperhatikan kebutuhan dan ketersediaan uang kartal

1,72% (yoy) (Grafik 5.2). Sejalan dengan itu, transaksi

layak edar di Provinsi Sumatera Selatan. (Grafik 5.3).

penyetoran uang kartal penyetoran pada triwulan laporan terkontraksi sebesar -14,98% (yoy), meningkat dibandingkan triwulan sebelumnya yang terkontraksi lebih dalam sebesar 43,18% (yoy). Secara keseluruhan, peningkatan net outflow di Provinsi Sumatera Selatan disinyalir didorong oleh program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN).

tercatat melalui laporan serta setoran perbankan ke Bank Indonesia sebanyak 500 lembar, terkontraksi -58,02% (yoy) lebih tinggi dibandingkan triwulan sebelumnya yang terkontraksi -88,00% (yoy). Untuk menekan jumlah uang

Sebagai bagian dari tugas pengelolaan uang Rupiah, Bank

rupiah tidak asli yang beredar, Kantor Perwakilan Bank

Indonesia Provinsi Sumatera Selatan terus berupaya menjaga

Indonesia Provinsi Sumatera Selatan terus melakukan

kualitas uang yang beredar di masyarakat (clean money policy

sosialisasi keaslian uang rupiah serta mendorong masyarakat

and fresh for circulation). Salah satu implementasi kebijakan ini

untuk lebih meningkatkan transaksi secara non tunai di

dilakukan melalui penarikan dan pemusnahan Uang Tidak

tengah pandemi COVID-19. Bank Indonesia juga senantiasa

Layak Edar (UTLE) secara rutin. Pada triwulan III 2020 UTLE

menjalin hubungan baik dan kerjasama dengan Polda

yang dimusnahkan tercatat sebesar Rp2,20 triliun, atau

Sumatera Selatan dalam upaya penanganan yang bersifat

mengalami kontraksi -14,97% (yoy) dibandingkan triwulan II

preventif maupun represif untuk mengurangi peredaran uang

2020 yang tercatat sebesar Rp1,39 triliun atau tumbuh sebesar

palsu di Sumatera Selatan.

4,63% (yoy). Kenaikan ini sejalan dengan meningkatnya jumlah Grafik 5.1 Perkembangan Sistem Pembayaran Tunai Dan Pengelolaan Uang Rupiah 8

Grafik 5.3 Perkembangan Pemusnahan Uang Tidak Layak Edar di Provinsi Sumatera Selatan 4

RP TRILIUN

2,88

6 4 2

-1,43

-

300%

RP TRILIUN

250%

3

200%

3

150%

2 2

(2)

(6) (8)

0%

1

-50% -100%

I

III

II

IV

2018

I

III

II

IV

2019 PENYETORAN

PENARIKAN

I

II 2020

NETFLOW

III

100% 50%

-15%

1

(4)

-4,31

LAPORAN PEREKONOMIAN PROVINSI SUMATERA SELATAN NOVEMBER 2020

Dari pelaksanaan layanan kas di wilayah Sumatera Selatan selama triwulan III 2020, jumlah uang rupiah tidak asli yang

2,20

56

setoran perbankan ke Bank Indonesia pada triwulan laporan.

I

III

II 2018

IV

I

III

II

IV

I

2019 PEMUSNAHAN UANG TIDAK LAYAK EDAR (PTTB)

II 2020

%YOY

III


5.2 PERKEMBANGAN SISTEM PEMBAYARAN NON TUNAI 5.2.1 Transaksi SKNBI dan BI-RTGS Pada triwulan III 2020 terjadi penurunan transaksi non tunai

akomodasi dan makan minum, serta LU perdagangan besar

melalui Sistem Kliring Nasional Bank Indonesia (SKNBI)

dan eceran. Hal ini terkonfirmasi dari hasil survei Bank

sebesar -4,69% (yoy) dengan jumlah nilai nominal transaksi

Indonesia kepada LU penyediaan akomodasi makan dan

sebesar Rp11,32 triliun (Grafik 5.4). Penurunan ini lebih dalam

minum serta LU perdagangan besar dan eceran, reparasi

dibandingkan triwulan sebelumnya yang sebesar -4,01% (yoy).

mobil dan sepeda motor; yang menyatakan penurunan

Jumlah warkat transaksi SKNBI juga terkontraksi sebesar -

penjualan pada triwulan laporan dikarenakan adanya

meskipun tidak sedalam triwulan sebelumnya yang

pembatasan aktivitas masyarakat untuk memitigasi risiko penyebaran pandemi COVID-19.

terkontraksi sebesar -12,02% (Grafik 5.5). Tren perkembangan

Berbeda dengan SKNBI, transaksi Bank Indonesia Real Time

transaksi SKNBI mengalami penurunan sejak awal tahun di

Gross Settlement (BI-RTGS) di wilayah Sumatera Selatan pada

tengah pandemi COVID-19 yang dimulai sejak Maret 2020.

triwulan laporan justru mengalami peningkatan. Pada triwulan

Penurunan pertumbuhan transaksi SKNBI sejalan dengan

III 2020, nominal RTGS tercatat sebesar Rp57,52 triliun atau

kinerja ekonomi Sumatera Selatan dan penurunan PDRB

tumbuh 18,74% (yoy), meningkat signifikan dibandingkan

beberapa lapangan usaha (LU) seperti LU penyediaan

triwulan sebelumnya yang tercatat sebesar Rp46,45 triliun

Grafik 5.4 Perkembangan Nominal Transaksi Kliring Sumatera Selatan RP TRILIUN

15 10

12

5

10

(4,69)

0

350

8

-5

200

-10

150

-15

11,32

-20

2 III

II

IV

I

2018

IV

III

II

I

-10,0

-20,0

50

-25

-

I

III

II

2020

IV

I

IV

III

II

2018

I

2019

G% (YOY) - RHS

NOMINAL

-25,0

III

II 2020

G% (YOY) - RHS

JUMLAH WARKAT

Tabel 5.1 Perkembangan Transaksi RTGS Provinsi Sumatera Selatan 2018

KETERANGAN

I

2019

II

III

IV

II

I

2020 III

I

IV

II

III

RTGS dari Provinsi Sumsel 7,09

6,57

6,51

8,32

54,32

46,05

48,44

64,15

38,71

46,45

57,52

5.401

5.105

5.754

6.774

12.350

11.174

15.483

16.318

13.616

15.302

19.103

Nilai (Rp Triliun) Volume

Grafik 5.7 Perkembangan Volume Transaksi RTGS Sumatera Selatan

Grafik 5.6 Perkembangan Transaksi RTGS Sumatera Selatan 800%

RP TRILIUN

25

200%

RIBU

700%

57,52

60 50 40

600%

20

150%

500% 400%

19,10

70

15

300%

30

200%

18,74%

20

23,35%

10

100% 50%

100% 0%

10

5

0%

-100% -200%

-

I

III

II

IV

I

III

II

2018

2019 NOMINAL

IV

I

II 2020

G%(YOY)

III

57

-15,0

III

II

2019

(10,52)

100

-30

I

-5,0

250

6 4

0,0

RIBU LEMBAR

300

268

14

Grafik 5.5 Perkembangan Jumlah Warkat Transaksi Kliring di Sumatera Selatan

-

-50%

I

III

II

IV

I

III

II

2018

2019 VOLUME

IV

I

II 2020

G%(YOY)

III

KANTOR PERWAKILAN BANK INDONESIA PROVINSI SUMATERA SELATAN

10,52% (yoy) dengan jumlah warkat sebesar 268.290 lembar,


atau tumbuh 0,86% (yoy) (Grafik 5.6). Sejalan dengan hal

terkontraksi -9,25% (yoy). Volume transaksi penggunaan

tersebut, volume transaksi RTGS tercatat sebanyak 19.103

ATM/Debet juga meningkat sebesar 7,27% (yoy) dengan

lembar meningkat dibandingkan triwulan sebelumnya yang

transaksi sebanyak 33,20 juta transaksi. Peningkatan aktivitas

tercatat sebanyak 15.302 lembar. Meskipun mengalami

transaksi melalui kartu ATM/Debet didorong oleh

penurunan pertumbuhan menjadi 23,35% (yoy) pada triwulan

meningkatnya jumlah kartu ATM/Debet menjadi 4,42 juta

laporan, dari 36,80% (yoy) pada triwulan sebelumnya (Grafik

kartu atau tumbuh sebesar 18,30% (yoy) dibandingkan pada

5.7). Peningkatan transaksi RTGS di Sumatera Selatan sejalan

triwulan sebelumnya 4,23 juta kartu.

dengan pencapaian realisasi investasi Provinsi Sumatera Selatan pada triwulan III 2020 yang mencapai Rp 6,91 triliun atau 105,37%, melebihi dari target investasi yang ditetapkan sebesar Rp 6,56 triliun didukung oleh pembangunan Jalan Tol Trans-Sumatera, perkembangan industri pertambangan, perkebunan, serta pengolahan kertas di wilayah Provinsi Sumatera Selatan.

Transaksi menggunakan Alat Pembayaran Menggunakan Kartu (APMK) di Sumatera Selatan pada triwulan III 2020 meningkat baik untuk transaksi ATM/Debet maupun transaksi kartu kredit.

transfer interbank senilai Rp13,89 triliun (pangsa 34,31%), dan antarbank senilai Rp7,74 triliun (pangsa 19,11%). Sementara untuk pembayaran transaksi belanja menggunakan EDC hanya senilai Rp859,33 miliar (pangsa 2,12%). Peningkatan peningkatan transaksi tarik tunai yang pada triwulan sebelumnya terkontraksi -11,02% (yoy) tumbuh menjadi 3,39% (yoy), transaksi interbank yang pada triwulan sebelumnya terkontraksi -8,30% (yoy) tumbuh menjadi 8,73% (yoy), dan transaksi antarbank yang pada triwulan sebelumnya terkontraksi -2,66% (yoy) tumbuh menjadi 20,62% (yoy).

Transaksi menggunakan kartu ATM/Debet pada triwulan III

Peningkatan ini sejalan dengan konsumsi rumah tangga yang

2020 mencapai Rp40,49 triliun atau tumbuh 8,02% (yoy),

mulai meningkat meskipun masih pada pertumbuhan negatif

meningkat dibandingkan triwulan sebelumnya yang

pada triwulan laporan.

Grafik 5.8 Jumlah Nominal Kartu ATM/D

Grafik 5.9 Volume Transaksi Kartu ATM/D

35 30 25 20 15 10 5 0 2018

I

III

II

IV

I

2019 NOMINAL (TRILIUN)

II

40 35

20%

4% 2% 0% -2%

30

15%

20

5%

-4% -6%

15

0%

10

-5%

-8% -10% -12%

25%

7,27%

25

10%

5

III

IV

2020

I

III

II

2018

IV

I

II

2019

YOY-RHS

III

2020 YOY-RHS

VOLUME (JUTA)

Grafik 5.10 Pangsa Transaksi ATM/D

-10% -15%

0

Grafik 5.11 Jumlah Kartu ATM/D 25%

5,00 4,50

44,45%

4,00

2,12%

3,00

34,31%

2,00

TARIK TUNAI

BELANJA

TRANSFER INTERBANK

0,00%

ONLINE

19,11%

TRANSFER ANTARBANK

18,30%

20%

3,50 15%

2,50 10%

1,50 1,00

4,42

IV

10% 8% 6%

33,20

8,02%

45 40

40,49

LAPORAN PEREKONOMIAN PROVINSI SUMATERA SELATAN NOVEMBER 2020

masih didominasi oleh

transaksi menggunakan kartu ATM/Debet ditopang oleh

5.2.2 Perkembangan Tolakan Transaksi Cek/BG

58

Penggunaan kartu ATM/Debet

kegiatan tarik tunai senilai Rp21,64 triliun (pangsa 44,45%),

0,50

5% 0%

0,00 IV 2018

I

III

II

IV

2019 JUMLAH KARTU (JUTA)

I

II 2020

YOY-RHS

III


Grafik 5.12 Jumlah Nominal Kartu Kredit

Grafik 5.13 Volume Transaksi Kartu Kredit

700

0%

800

0%

600

-5%

700

-5%

-10%

600

-10%

-15%

500

-15%

-20%

400

-25%

300

-30%

200

-35%

100

-40%

0

300 200 100

-30,22%

0 IV 2018

I

III

II

IV

I

2019 NOMINAL (MILIAR)

II

III

-20%

-27,46%

I

III

II

2018

IV

I

2019

YOY-RHS

II

III

YOY-RHS

Grafik 5.15 Jumlah Kartu Kredit 15%

290

TARIK TUNAI

68,52%

BELANJA

21,91%

TRANSFER INTERBANK

5,57%

ONLINE

-%

TRANSFER ANTARBANK

280

10%

270

0,73%

260

5% 0%

250 240

-5%

230

253,70

3,99%

-35%

2020

VOLUME (RIBU)

Grafik 5.14 Pangsa Transaksi Kartu Kredit

-30%

-40% IV

2020

-25%

220 210

-10% -15%

IV 2018

I

III

II

IV

I

2019 JUMLAH KARTU (JUTA)

II

III

2020 YOY-RHS

Aktivitas transaksi non tunai menggunakan kartu kredit

pembayaran minimum, serta denda keterlambatan kartu

meningkat meskipun masih berada pada pertumbuhan

kredit yang berlaku sejak 1 Mei 2020 s.d. 31 Desember 2020.

negatif di triwulan III 2020. Nominal penggunaan kartu kredit perseorangan tercatat sebesar Rp420,38 miliar atau terkontraksi -30,22% (yoy), meningkat dibandingkan triwulan sebelumnya sebesar Rp392,89 miliar atau terkontraksi lebih dalam sebesar -37,97% (yoy). Sejalan dengan hal tersebut, peningkatan juga terjadi pada volume transaksi penggunaan kartu kredit yang tercatat 498.076 transaksi atau terkontraksi 27,46% (yoy), meningkat dibandingkan triwulan sebelumnya yang tercatat 458.979 transaksi atau terkontraksi lebih dalam 34,01% (yoy). Dari pangsanya, penggunaan kartu kredit masih didominasi oleh kegiatan belanja yakni sebesar Rp288,06 miliar (68,52%) dan transaksi online sebesar Rp92,13 miliar

Sementara itu, jumlah kartu kredit pada triwulan laporan mengalami penurunan menjadi 253.696 kartu dibandingkan pada triwulan sebelumnya sebanyak 253.854 kartu. Meskipun demikian, laju pertumbuhan jumlah kartu kredit pada triwulan III 2020 tumbuh positif 0,73% (yoy), meningkat dibandingkan triwulan sebelumnya yang terkontraksi -9,48% (yoy). Menurut survei Bank Indonesia, penurunan ini disebabkan penurunan manpower sales marketing dalam rangka efisiensi biaya sehingga fokus sampai saat ini dilakukan untuk menghimpun Dana Pihak Ketiga dibandingkan penambahan jumlah pemegang kartu kredit.

(21,91%). Kenaikan penggunaan kartu kredit perseorangan pada triwulan laporan ditengarai sebagai konsekuensi perlambatan pertumbuhan ekonomi yang berdampak pada

5.3 PERKEMBANGAN TRANSAKSI ELEKTRONIFIKASI DAN E-COMMERCE

lebih rendahnya pendapatan secara relatif sehingga

Dalam rangka menciptakan less cash society dan

masyarakat lebih cenderung menggunakan kartu kredit untuk

meningkatkan inklusivitas keuangan, Bank Indonesia

memenuhi kebutuhan konsumsi jangka pendek. Untuk

mengembangkan uang elektronik, membentuk agen LKD

mendorong peningkatan transaksi non tunai selama pandemi,

(Layanan Keuangan Digital), serta mendorong elektronifikasi

Bank Indonesia juga telah mengeluarkan penyesuaian

penyaluran bantuan sosial dan digitalisasi transaksi Pemda.

kebijakan terkait batas maksimum suku bunga, nilai

59 KANTOR PERWAKILAN BANK INDONESIA PROVINSI SUMATERA SELATAN

420,38

400

498,08

500


Tabel 5 2 Perkembangan Transaksi Penggunaan Uang Elektronik di Provinsi Sumatera Selatan IV 2019

III 2019 TRANSAKSI

Frekuensi 255.243

Pengisian ulang (top up)

I 2020

II 2020

III 2020

Nominal Frekuensi Nominal Frekuensi Nominal Frekuensi Nominal Frekuensi Nominal (Rp Miliar) (Rp Miliar) (Rp Miliar) (Rp Miliar) (Rp Miliar) 163.024 3.329 3.201 3.432 305,80 14,67 14,80 17,66 445,52

Tarik tunai

125.758

25,96

72.912

43,83

24.663

8,52

12.157

9,73

13.233

8,87

Pembayaran atas tagihan rutin

359.892

207,34

281.202

174,16

95.644

49,52

113.532

53,54

120.863

64,41 0,15

Fasilitator registrasi pemegang

27.988

5,30

13.632

3,38

218

0,17

146

0,16

137

Transfer Person to Person

89.853

37,65

60.099

25,46

195

0,24

193

0,21

190

0,12

Transfer Person to Account

102.431

256,10

68.325

170,81

49

0,07

47

0,07

47

0,04

Total

961.165

977,87

659.194

723,44

124.098

73,20

129.276

78,50

137.902

91,25

Sumber: Bank Indonesia

Transaksi Layanan Keuangan Digital (LKD) pada triwulan III 2020 tercatat sebesar Rp91,25 miliar, terkontraksi -90,67%

sisi jumlah pada triwulan laporan telah terjadi peningkatan

(yoy), lebih dalam dibandingkan triwulan sebelumnya yang

menjadi 137.902 transaksi dari 129.276 transaksi pada triwulan

tercatat sebesar Rp78,50 miliar atau terkontraksi -90,38% (yoy).

sebelumnya. Peningkatan frekuensi terjadi pada transaksi

Penurunan terjadi baik untuk transaksi payment, tarik tunai,

pengisian ulang (top up), tarik tunai, dan pembayaran atas

transfer serta initial dan top up yang ditengarai seiring dengan

tagihan rutin meskipun seluruh transaksi masih pada

terbatasnya aktivitas masyarakat guna memitigasi risiko

pertumbuhan negatif. Mulai meningkatnya penggunaan uang

penyebaran pandemi COVID-19 seperti pembelian tiket LRT,

elektronik sejalan dengan peningkatan volume lalu lintas

pembayaran tarif jalan tol, dan aktivitas lain yang

pengguna jalan tol baik untuk ruas Terbanggi Besar – Pematang Panggang – Kayu Agung, ruas Palembang –

menggunakan uang elektronik (Tabel 5-2). Transaksi uang elektronik pada LKD masih tumbuh negatif

60

sejak akhir 2019 sejalan dengan perlambatan perekonomian, meskipun meningkat baik secara frekuensi maupun nominal (Tabel 5-2). Peningkatan nominal transaksi uang elektronik

LAPORAN PEREKONOMIAN PROVINSI SUMATERA SELATAN NOVEMBER 2020

sebelumnya yang terkontraksi -82,04% (yoy). Meskipun dari

ditopang oleh transaksi pembayaran atas tagihan rutin senilai Rp64,41 miliar (pangsa 70,59%) dan pengisian ulang (top up) sebesar Rp17,66 miliar (pangsa 19,35%). Transaksi pembayaran atas tagihan rutin masih terkontraksi -68,93% (yoy) namun meningkat dibandingkan triwulan sebelumnya yang terkontraksi -74,88% (yoy). Transaksi pengisian ulang (top up)

Indralaya, maupun ruas tol Kayu Agung – Palembang – Betung. Dari hasil focus group discussion, rata-rata volume lalu lintas harian di jalan tol tersebut telah meningkat 65% dibandingkan triwulan II 2020. Selain itu, terbatasnya transportasi umum seperti LRT dan pusat perbelanjaan yang melayani pembayaran menggunakan uang elektronik dan adanya koreksi data7 dari laporan salah satu Penyelenggara Jasa Sistem Pembayaran (PJSP), turut berdampak pada penurunan transaksi uang elektronik. Jumlah agen Layanan Keuangan Digital (LKD) pada triwulan

juga masih terkontraksi -96,04% (yoy), relatif stabil

III 2020 sebanyak 16.816 agen tumbuh 33,37% (yoy), meningkat

dibandingkan triwulan sebelumnya yang terkontraksi -96,14%

dibandingkan triwulan sebelumnya 14.386 agen atau tumbuh

(yoy). Sementara itu, frekuensi transaksi uang elektronik

13,55% (yoy) (Grafik 5-16). Sejalan dengan hal tersebut, jumlah

terkontraksi -85,65% (yoy) lebih dalam dibandingkan triwulan

pemegang uang elektronik terdaftar (registered) mengalami

Grafik 5.16 Jumlah Agen LKD 18

Grafik 5.17 Jumlah Pemegang UE

RIBU

RIBU

16

17

14 12

180% 160% 140% 120%

350

4000%

RIBU

3500%

300

3000%

250

2500%

10

100%

200

2000%

8

80%

150

1500%

6

33,37%

4 2

60% 40% 20%

0

0% I

III

II 2018

IV

I

III

II

IV

2019 JUMLAH AGEN LKD

I

II

III

2020 %YOY

7. Koreksi laporan dilakukan untuk data dari Desember 2019 sehingga berdampak pada turunnya nominal dan frekuensi transaksi serta jumlah uang elektronik dibandingkan dengan periode-periode sebelumnya.

1000%

100

-90,84%

50

30

0

I

III

II

IV

I

2018

IV

III

II 2019

PEMEGAN UE

I

II 2020

%YOY

III

500% 0% -500%


Grafik 5 18 Transaksi Uang Elektronik Berdasarkan Nominal

Grafik 5.19 Transaksi Uang Elektronik Berdasarkan Frekuensi

100%

100%

90%

90%

80%

80%

70%

70%

60%

60%

50%

50%

40%

40%

30%

30%

20%

20%

10%

10% 0% TRANSAKSI PEMBAYARAN

TRANSFER P TO P

TRANSFER P TO A

INITIAL

TARIK TUNAI

TOP UP

TRANSAKSI PEMBAYARAN

TRANSFER P TO P

TRANSFER P TO A

INITIAL

TARIK TUNAI

TOP UP

MUSI BANYUASIN

OKU

MUARA ENIM

LAHAT

MUSI RAWAS

MUSI BANYUASIN

OKU

MUARA ENIM

LAHAT

OKI

PANGKALAN BALAI

BANYUASIN

OKU SELATAN

OKU TIMUR

OKI

PANGKALAN BALAI

BANYUASIN

OKU SELATAN

OGAN ILIR

EMPAT LAWANG

MUSI RAWAS UTARA

PALI

PALEMBANG

OGAN ILIR

EMPAT LAWANG

MUSI RAWAS UTARA

PALI

PALEMBANG

LUBUKLINGGAU

PRABUMULIH

BATURAJA

PAGAR ALAM

LAINNYA

LUBUKLINGGAU

PRABUMULIH

BATURAJA

PAGAR ALAM

LAINNYA

MUSI RAWAS OKU TIMUR

peningkatan sebesar 4,61% (qtq) menjadi 29.577 uang

lebih memadai untuk melakukan transaksi uang elektronik

elektronik dari sebelumnya 28.273 uang elektronik pada

seperti sarana publik yang menggunakan uang elektronik,

triwulan II 2020 (Grafik 5-17). Hal ini didukung oleh upaya

jumlah merchant yang menerima uang elektronik, dan

penerbit untuk memperluas jangkauan pasar di tengah upaya

penggunaan uang elektronik berbasis server yang masih

perluasan bantuan sosial (bansos) non tunai dari Pemerintah

didominasi kota Palembang. Meskipun, transaksi pembayaran

pada masa pandemi, peningkatan kebutuhan uang elektronik

dan tarik tunai sudah mulai dilakukan di daerah lain sejalan

dalam bertransaksi khususnya di jalan tol, serta meningkatnya

dengan pencairan Bantuan Sosial Non Tunai di seluruh

preferensi penggunaan uang elektronik di masyarakat

wilayah Provinsi Sumatera Selatan.

sebagai instrumen alternatif dalam bertransaksi.

Pada tahun 2019 Bank Indonesia telah meluncurkan salah

Secara spasial, Kota Palembang menjadi daerah dengan

satu alternatif kanal pembayaran yang mendukung gerakan

transaksi penggunaan uang elektronik terbesar di Sumatera

non tunai yang disebut Quick Response Code Indonesian

Selatan berdasarkan nominal dan frekuensinya. Secara total,

Standard (QRIS). QRIS yang wajib digunakan untuk

transaksi di Kota Palembang memiliki proporsi nominal

pembayaran QR Code sejak 1 Januari 2020, terus didorong

tertinggi dengan persentase nominal sebesar 60,58%

untuk dapat diimplementasikan secara luas karena

dibandingkan total nominal transaksi di wilayah Provinsi

membutuhkan investasi yang lebih sedikit dibandingkan kanal

Sumatera Selatan (Grafik 5-18).

pembayaran lainnya seperti mesin EDC sehingga dapat

Sejalan dengan hal tersebut, frekuensi total transaksi di Kota Palembang juga mendominasi transaksi uang elektronik di LKD dengan persentase sebesar 42,58% dibandingkan total

diimplementasikan baik untuk usaha besar, menengah, kecil, maupun mikro. Jumlah merchant QRIS di Provinsi Sumatera Selatan pada

volume transaksi di wilayah Provinsi Sumatera Selatan (Grafik

triwulan III 2020 tercatat tumbuh 28,22% (qtq) atau terdapat

5-19). Hal ini didukung oleh tersedianya infrastruktur yang

144.045 merchant (Grafik 5-20). Angka ini menempati posisi ke-

Grafik 5.21 Persebaran Merchant QRIS

Grafik 5.20 Jumlah Merchant QRIS 160

RIBU

140 120 100

28,22%

80

70%

5%

1%

60%

1%

1%

50%

5%

4%

40%

2%

0%

3%

61%

3%

3%

1%

1%

3%

1%

30%

60

20%

40 20

144

0

10% 0%

IV

I

2019

II 2020

JUMLAH MERCHANT

%QTQ

III

BANYUASIN EMPAT LAWANG

LAHAT MUARA ENIM MUBA MURA OGAN ILIR OKI

4%

OKU

OKUS OKUT

LUBUK LINGGAU PAGAR ALAM PALEMBANG PRABUMULIH MURATARA PALI

61 KANTOR PERWAKILAN BANK INDONESIA PROVINSI SUMATERA SELATAN

0%


Grafik 5.22 Proporsi Penyaluran Jumlah KPM Bantuan Sembako 700

92.14%

RIBU

100% 80%

500

RP MILYAR

84.36%

40%

600

60%

70% 50% 40%

400

30%

200

20%

100

30% 200

20%

10%

0

0% I

III

II

IV

2018

I

III

II

IV

I

2019 PENYALURAN

PENYERAPAN

II

10% 0

III

0% I

III

II

2020

IV

I

III

II

2018

% PENYERAPAN -RHS

8 secara nasional dan menjadi kedua tertinggi di Sumatera

90% 80%

50%

300

100%

800

70% 60%

400

IV

I

II

2019 PENYALURAN

PENYERAPAN

III

2020 % PENYERAPAN -RHS

sebanyak 817.713 KPM (Grafik 5-24). Peningkatan jumlah KPM

setelah Sumatera Utara. Persebaran merchant QRIS terbanyak

dan nominal yang disalurkan merupakan implementasi salah

masih di Kota Palembang dengan persentase 61% sejalan

satu kebijakan Jaring Pengaman Sosial dari pemerintah untuk

dengan banyaknya fasilitas umum yang telah melayani

menjaga daya beli masyarakat terdampak pandemi melalui

penggunaan QRIS seperti pedagang/pasar, rumah sakit,

perluasan Bantuan Sosial Non Tunai. Untuk meningkatkan

tempat ibadah, dan SPBU (Grafik 5-21).

efektivitas penyaluran kepada masyarakat terdampak,

Sejalan dengan perkembangan jumlah merchant QRIS yang tumbuh positif, penyerapan Bantuan Sosial Non Tunai juga tercatat meningkat baik dari jumlah KPM (Keluarga Penerima Manfaat) maupun nominal penyerapan pada triwulan III 2020.

Pemerintah juga telah melakukan penyesuaian waktu penyaluran PKH yang sebelumnya dilakukan secara triwulanan menjadi setiap bulan sampai dengan bulan Agustus 2020.

Pada triwulan III 2020, performa penyerapan baik untuk

Sejalan dengan upaya mendorong peningkatan transaksi non

program PKH (Program Keluarga Harapan) maupun Bantuan

tunai di Sumatera Selatan, transaksi e-commerce8 mengalami

Sembako Non Tunai berlangsung baik dan tepat sasaran.

peningkatan baik dari sisi nominal maupun frekuensi. Jumlah

Pada triwulan III 2020, penyerapan Bantuan Sembako Non

nominal transaksi pada triwulan laporan adalah sebesar

Tunai sudah mencapai 84,36% dengan nilai Rp769,54 miliar,

Rp1.244,38 miliar dengan pertumbuhan sebesar 51,78% (yoy),

yang disalurkan kepada 531.762 KPM (92,14% dari total KPM).

meningkat dibandingkan triwulan sebelumnya yang tercatat

Capaian penyaluran ini lebih baik dibandingkan triwulan

Rp934,28 miliar dengan pertumbuhan 31,84% (yoy) (Grafik 5-

sebelumnya yang sebanyak 474.841 KPM (84,78% dari total

25). Sejalan dengan hal tersebut, frekuensi transaksi melalui e-

KPM) (Grafik 5-22 dan 5-23). Dalam masa pandemi COVID-19

commerce pada triwulan laporan tumbuh 134,57% (yoy) atau

pemerintah telah menaikkan jumlah bantuan dari

6,69 juta transaksi dari 63,20% (yoy) atau 4,29 juta transaksi

Rp150.000,00/KPM/bulan menjadi Rp200.000,00/

pada triwulan sebelumnya (Grafik 5-26). Peningkatan ini terjadi

KPM/bulan. Dalam rangka mendukung perluasan elektronifikasi bantuan sosial, Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sumatera Selatan turut serta dalam

sebagai dampak pergeseran pola perilaku konsumen untuk bertransaksi melalui e-commerce dalam memenuhi

melaksanakan edukasi penyaluran Bantuan Sembako dan PKH. Bank Indonesia turut bekerjasama dengan Otoritas Jasa

Grafik 5.24 Proporsi Penyaluran Keluarga Penerima Manfaat (KPM)

Keuangan (OJK), Dinas Sosial Provinsi/Kabupaten/Kota,

1.200

Koordinator Teknis, Pendamping, dan Himpunan Bank Milik

1.000

Negara (HIMBARA) sebagai Bank Penyalur dalam rangka

800

monitoring bantuan sosial sehingga tepat guna dan tepat

600

sasaran. Persentase penyerapan jumlah KPM Program Keluarga Harapan (PKH) pada triwulan III 2020 tercatat sebesar 89,13% atau sebanyak 872.922 KPM, meningkat dibandingkan triwulan sebelumnya dengan penyerapan 87,06% atau 8. Data berasal dari 4 marketplace terbesar di Indonesia.

RIBU

100 979,42

98 96 94 92 90

89.13

400

88 86

872,92

LAPORAN PEREKONOMIAN PROVINSI SUMATERA SELATAN NOVEMBER 2020

1000

90%

600

62

Grafik 5.23 Proporsi Penyaluran Nominal Bantuan Sembako

200 0

84 82 80

I

III

II

IV

2018 PENYERAPAN PKH

I

III

II 2019

PENYALURAN PKH

IV

I

II 2020

PROPORSI PENYERAPAN

III


Grafik 5.25 Nominal transaksi e-commerce RP MILYAR

1.200

51,78%

1.000 800 600

1.244,38

400 200 I

III

II

IV

I

III

II

2018

2019 TOTAL

IV

I

II

80%

8

70%

7

60%

6

50%

5

100%

40%

4

80% 60%

160%

JUTA

134,57%

140% 120%

30%

3

20%

2

10%

1

0%

-

40% 6,69

III

20% 0%

I

III

II

IV

I

2018

2020

III

II

IV

I

2019

%YOY

III

II 2020

G(%YOY)

FREKUENSI

kebutuhannya ditengah kondisi pandemi COVID-19. Tiga jenis

oleh Singapore Dollar (pangsa 42,34%), sementara transaksi

barang dengan pangsa tertinggi yang dibeli adalah pakaian

jual didominasi oleh Ringgit Malaysia (pangsa 52,09%).

dan perlengkapan rumah tangga serta kantor sebesar 10,39%. Peningkatan yang terjadi juga didukung oleh ekosistem pembayaran digital yang semakin baik untuk tetap menjaga daya beli masyarakat. Dalam bertransaksi, jenis pembayaran yang paling sering digunakan di e-commerce adalah transfer bank dengan persentase 31,89%, diikuti pembayaran menggunakan UE sebesar 26,39%, Cash on Delivery (CoD) atau tunai sebesar 14,92%, dan pembayaran di kios/minimarket sebesar 13,78%.

5.4 KEGIATAN PENUKARAN VALUTA ASING BUKAN BANK (KUPVA BB) BERIZIN DAN PENYELENGGARAAN TRANSFER DANA BUKAN BANK (PTD BB) Pada triwulan III 2020, perkembangan transaksi valuta asing dari KUPVA BB di Sumatera Selatan tercatat sebesar Rp2,38 miliar, terkontraksi -43,11% (yoy) meskipun tidak sedalam triwulan sebelumnya yang terkontraksi -89,50% (yoy) dengan nominal Rp743,40 juta (Grafik 5-27). Baik dari sisi pembelian maupun penjualan valuta asing terjadi peningkatan transaksi dibandingkan triwulan sebelumnya. Transaksi pembelian

Pada triwulan III 2020, transfer dana masuk (incoming) yang berasal dari domestik dari sisi nominal mengalami peningkatan menjadi Rp172,04 miliar pada triwulan laporan dari Rp132,36 miliar pada triwulan sebelumnya (Grafik 5-28). Meskipun, dari laju pertumbuhannya terjadi penurunan menjadi -11,68% (yoy) dari triwulan sebelumnya 15,44% (yoy). Sejalan dengan hal tersebut, volume transaksi juga mengalami peningkatan menjadi 1,49 juta transaksi dibandingkan triwulan sebelumnya sebanyak 802 ribu

yang terjadi pada transfer dana domestik sejalan dengan konsumsi rumah tangga yang meningkat meskipun masih berada pada pertumbuhan negatif di triwulan laporan. Sementara itu, transfer dana masuk (incoming) yang berasal dari luar negeri ke Sumatera Selatan tumbuh sebesar 13,86% (yoy), lebih tinggi dibandingkan triwulan sebelumnya yang terkontraksi -4,54% (yoy). Peningkatan transaksi terjadi baik dari sisi nominal maupun volume, dimana jumlah nominal transaksi pada triwulan laporan meningkat menjadi Rp76,44 miliar dari triwulan sebelumnya Rp71,11 miliar. Dari sisi volume,

valuta asing pada triwulan laporan adalah sebesar Rp970,36

Grafik 5.27 Perkembangan Transaksi KUPVA BB Sumatera Selatan

juta terkontraksi -53,99% (yoy), meningkat dibandingkan triwulan sebelumnya yang sebesar Rp523,66 juta terkontraksi

16

lebih dalam -86,16% (yoy). Sejalan dengan hal tersebut,

14

tercatat Rp1,41 miliar, meningkat dibandingkan triwulan Rp219,74 juta. Pertumbuhan transaksi valuta asing yang masih

jenis mata uang yang ditransaksikan, transaksi beli didominasi

0%

8

4

negeri baik untuk beribadah maupun berwisata. Berdasarkan

40% 20%

10

6

mancanegara serta masih terbatasnya perjalanan ke luar

60%

12

sebelumnya yang terkontraksi -93,33% (yoy) atau tercatat terkontraksi dipengaruhi oleh nihilnya kunjungan wisatawan

80%

RP MILIAR

-0,43 0,74

transaksi penjualan valuta asing terkontraksi -32,03% (yoy) atau

63

transaksi. Meskipun terjadi penurunan pertumbuhan dari 65,95% (yoy) menjadi terkontraksi -1,22% (yoy). Peningkatan

2

2,38

sebesar 30,41%, kosmetik dan barang pribadi sebesar 14,79%,

-20% -40% -60% -80% -100%

I

III

II

IV

I

III

II

2018

2019 TOTAL

YOY

IV

I

II 2020

III

KANTOR PERWAKILAN BANK INDONESIA PROVINSI SUMATERA SELATAN

1.400

Grafik 5.26 Frekuensi transaksi e-commerce


Grafik 5.28 Transfer Dana Domestik-incoming

200%

200

132

172

150 100

150% 100% 50%

50

0%

-11,68%

I

III

II

IV

I

III

II

2018

IV

I

60%

70

50%

60 50

10%

20

0%

10

-10%

-

-20% I

60%

RP MILIAR

50% 40%

250

240

244

30%

150

-27,57%

-10% -30% -40%

IV

I

2018

LAPORAN PEREKONOMIAN PROVINSI SUMATERA SELATAN NOVEMBER 2020

10%

-20%

50

64

20% 0%

III

III

II 2019

NOMINAL

I

IV

I

III

II

IV

I

2019

III

II 2020

GROWTH

Grafik 5.31 Transfer Dana Luar Negeri-Outgoing

300

II

IV

2018

Grafik 5.30 Transfer Dana Domestik-Outgoing

I

III

II

NOMINAL

100

20%

30

2020

200

40% 30%

13,86%

40

G%YOY

NOMINAL

350

70%

RP MILIAR

III

II

2019

-50%

90 80

76

250%

RP MILIAR

71

250

Grafik 5.29 Transfer Dana Luar Negeri-incoming

II

III

2020

GROWTH

terjadi kontraksi -27,49% (yoy) dengan jumlah 18.269 transaksi,

12

RP MILIAR

58,22%

10

70% 60% 50%

10

8

40% 30%

6

20%

6

4

10% 0%

2

-10%

-

-20% I

III

II

IV

I

2018

III

II

IV

2019 NOMINAL

I

II

III

2020

GROWTH

Selatan meningkat menjadi 847 transaksi atau terkontraksi -

lebih tinggi dibandingkan triwulan sebelumnya yang

9,89% (yoy), lebih tinggi dibandingkan triwulan sebelumnya

terkontraksi -45,87% (yoy) dengan jumlah 16.663 transaksi

sebanyak 704 transaksi atau terkontraksi lebih dalam -61,15%

(Grafik 5-29). Peningkatan ini dipengaruhi oleh pertumbuhan

(yoy). Peningkatan yang terjadi dipengaruhi oleh

kinerja ekspor pada triwulan laporan yang terkontraksi -14,15%

meningkatnya aktivitas impor pada triwulan laporan yang

(yoy), meningkat dibandingkan triwulan sebelumnya yang

tumbuh 12,03% (yoy) meningkat dibandingkan triwulan

terkontraksi lebih dalam -24,08 % (yoy).

sebelumnya yang terkontraksi -17,27% (yoy).

Transfer dana yang keluar (outgoing) secara domestik dari Sumatera Selatan pada triwulan III 2020 tercatat sebesar Rp239,70 miliar, terkontraksi -27,57% (yoy) lebih rendah dibandingkan triwulan sebelumnya yang senilai Rp244,34 miliar atau terkontraksi -20,73% (yoy) (Grafik 5-30). Di sisi lain, volume transaksi outgoing domestik tumbuh positif sebesar 79,27% (yoy) dengan jumlah 704.431 transaksi, meningkat dibandingkan triwulan sebelumnya yang terkontraksi -20,73% (yoy) dengan jumlah 580.648 transaksi. Sejalan dengan hal tersebut, transfer dana outgoing ke luar negeri meningkat baik dari sisi nominal maupun volume. Nominal transaksi pada triwulan laporan tercatat sebesar Rp9,58 miliar atau tumbuh 58,22% (yoy), meningkat dibandingkan triwulan sebelumnya yang tercatat Rp6,00 miliar atau tumbuh 23,06% (yoy) dengan nominal Rp6,01 miliar (Grafik 5-33). Sedangkan volume transaksi transfer dana ke luar negeri dari Provinsi Sumatera


BAB VI

PERKEMBANGAN KETENAGAKERJAAN DAN KESEJAHTERAAN DAERAH Pada triwulan III 2020 kondisi ketenagakerjaan di Provinsi Sumatera Selatan menurun namun kondisi kesejahteraan petani sedikit membaik Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) Agustus 2020 meningkat dan penyerapan tenaga kerja menurun dibandingkan Agustus 2019. Terdapat 597,9 ribu orang yang terdampak Covid-19 atau 9,48 persen dari penduduk usia kerja. Kondisi kesejahteraan petani menunjukkan perbaikan yang tercermin pada peningkatan Nilai Tukar Petani (NTP) meski masih berada di bawah level optimis.


6.1 KONDISI KESEJAHTERAAN Kondisi ketenagakerjaan di Sumatera Selatan menunjukkan

akomodasi dan makan minum sejalan dengan kinerja sektor

penurunan karena terdampak pandemi COVID-19. Tingkat

tersebut yang turun terutama pada triwulan II. Namun,

Pengangguran Terbuka (TPT) pada Agustus 2020 tercatat

serapan tenaga kerja di sektor yang terkait penanganan

sebesar 5,51%, lebih tinggi dibandingkan dengan TPT pada

COVID-19 serta informasi dan komunikasi tercatat meningkat.

bulan Agustus 2019 (4,53%), sejalan dengan kinerja perekonomian yang terkontraksi terutama pada triwulan II 2020 (Tabel 1). Kebijakan pengetatan protokol kesehatan dan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) untuk memitigasi penyebaran pandemi COVID-19 di beberapa wilayah

LAPORAN PEREKONOMIAN PROVINSI SUMATERA SELATAN NOVEMBER 2020

66

Penurunan aktivitas perekonomian akibat pandemi juga berdampak pada dinamika ketenagakerjaan di Indonesia, termasuk Sumatera Selatan. Tidak hanya pengangguran, penduduk usia kerja lainnya juga turut terkena dampak

berdampak pada aktivitas produksi dan investasi yang

pandemi ini. Secara keseluruhan, terdapat 597,9 ribu orang

berkurang sehingga mengurangi permintaan tenaga kerja.

penduduk usia kerja yang terdampak COVID-19 di Provinsi

Hal tersebut tercermin pada kontraksi pertumbuhan pekerja

Sumatera Selatan (9,48%)9 yang terdiri dari pengangguran

penuh waktu. Sebaliknya, pertumbuhan pekerja tidak penuh

karena COVID-19 (49,8 ribu orang), Bukan Angkatan Kerja

meningkat, khususnya setengah penganggur. Kenaikan

(BAK) karena COVID-19 (14,2 ribu orang), sementara tidak

tingkat pengangguran terutama terjadi di wilayah perkotaan

bekerja karena COVID-19 (41,0 ribu orang), dan penduduk

yang menerapkan protokol COVID-19 dengan lebih ketat.

bekerja yang mengalami pengurangan jam kerja karena

Pada Agustus 2020, TPT perkotaan meningkat menjadi 8,57%

COVID-19 (492,9 ribu orang). Secara umum, pada semua

dari 6,88% pada Agustus 2019. Sementara itu, TPT di

kategori tersebut, jumlah laki-laki yang terdampak lebih

pedesaan sedikit meningkat dari 3,23% pada Agustus 2019

banyak dibandingkan perempuan. Jika dilihat menurut daerah

menjadi 3,79% pada Agustus 2020. Secara spasial, kenaikan

tempat tinggal, penduduk usia kerja di daerah perkotaan lebih

TPT terutama tercatat di Kota/Kabupaten yang terdampak

banyak terdampak COVID-19 dibandingkan dengan di

pembatasan aktivitas antara lain Palembang, Lubuklinggau,

perdesaan. Penurunan ini terkonfirmasi dari hasil FGD dengan

Prabumulih dan Ogan Komering Ulu dengan tingkat TPT lebih

instansi terkait, dimana sebanyak 204 perusahaan telah

tinggi dari TPT Sumatera Selatan. TPT Sumatera Selatan

melakukan pengurangan tenaga kerja selama pandemi sejak

tercatat masih lebih rendah dari TPT nasional (7,07%).

Maret 2020, terutama dari sektor perhotelan / jasa Lainnya.

Penyerapan tenaga kerja pada Agustus 2020 menurun,

Perekonomian telah membuka Program Kartu PraKerja10 guna

sejalan dengan kinerja ekonomi. Pada Agustus 2020, penyerapan tenaga kerja terkontraksi 4,26% (yoy), turun dibandingkan dengan penyerapan tenaga kerja pada Agustus 2019 yang tumbuh 1,19% (yoy). Secara sektoral, penurunan serapan tersebut disumbang oleh turunnya serapan pada sektor pertanian, kehutanan dan perikanan; perdagangan

Merespon kondisi ini, Pemerintah Pusat melalui Kemenko mengurangi tingkat pengangguran dalam masa pandemi. Dari total 10 batch program pengembangan kompetensi yaitu sebanyak 156.679 orang telah berhasil mengikuti Program KPK di Provinsi Sumatera Selatan. Pasokan tenaga kerja Sumatera Selatan masih didominasi

besar dan eceran, reparasi dan perawatan mobil dan sepeda

oleh tenaga kerja unskilled. Jumlah pekerja berpendidikan

motor; industri pengolahan; konstruksi; dan

rendah (SMP ke bawah) mendominasi struktur tenaga kerja

penyediaan

Tabel 6 1 Jumlah Penduduk Usia 15 Tahun ke Atas Menurut Kegiatan (Ribu Orang) 2018

2019

2020

KEGIATAN UTAMA

G% FEB

AGS

FEB

Penduduk Usia Kerja

5980,6

6025,9

Angkatan Kerja

4368,5

4139,0

- Bekerja

4193,0 175,5

Bukan Angkatan Kerja Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja Tingkat Pengangguran Terbuka (%)

- Penganggur

AGS

FEB

AGS

6074,5

6211,0

6168,3

6307,0

1,55

4339,9

4202,8

4325,2

4329,7

3,02

3963,9

4166,8

4012,6

4158,5

4091,4

1,96

175,1

173,0

190,2

166,7

238,4

25,34

1612,1

1886,9

1734,6

2008,2

1843,0

1977,3

(1,54)

73,04

68,69

71,44

67,67

70,12

68,65

0,98

4,02

4,23

3,99

4,53

3,86

5,51

0,98

Ket: Estimasi ketenagakerjaan menggunakan penimbang hasil Proyeksi Penduduk Sumber: BPS Provinsi Sumatera Selatan

9 . Sumber: Sakernas Agustus 2020 “Mengukur Dampak Covid-19� 10. Kartu PraKerja adalah program pengembangan kompetensi berupa bantuan biaya yang ditujukan untuk pencari kerja, pekerja ter-PHK atau pekerja yang membutuhkan guna peningkatan kompetensi.


dengan porsi 60,11%. Rendahnya pendidikan penduduk usia

dari 10,61% pada Agustus 2019 menjadi 10,58% pada Agustus

kerja tersebut juga menyebabkan serapan tenaga kerja masih

2020. Secara keseluruhan, rendahnya penyerapan tenaga

terkonsentrasi pada lapangan kerja informal seperti sektor

kerja berpendidikan tinggi menunjukkan adanya gap antara

pertanian. Di sisi lain, porsi tenaga kerja berpendidikan SMA ke

pasokan tenaga kerja berkualitas dan permintaan tenaga kerja

atas mengalami sedikit kenaikan dari 38,76% pada bulan

di wilayah Sumatera Selatan, antara lain dapat dikarenakan: i)

Agustus 2019 menjadi 39,89% pada Agustus 2020.

oversupply, pertumbuhan industri tidak secepat pertumbuhan

Pe n i n g kat a n te r u t a m a te r j a d i p a d a te n a g a ke r j a

angkatan kerja; ii) kualitas tenaga kerja tidak sesuai dengan

berpendidikan SMA sebesar 1,53%, sedangkan tenaga kerja

standar industri; dan iii) semakin banyak industri yang

SMK justru mengalami penurunan sebesar 0,37%. Hal ini

mengarah pada automasi. Untuk memperluas akses tenaga

mengindikasikan bahwa tenaga kerja pendidikan menengah

kerja ke pasaran kerja, Dinas Ketenagakerjaan telah

atas lebih diminati industri. Sementara itu, persentase

mengembangkan program penempatan kerja berdasarkan

partisipasi kerja pendidikan perguruan tinggi cenderung stabil

tingkat pendidikan. Program Penempatan Kerja berdasarkan

Tabel 6.2 Jumlah Penduduk Usia Kerja Menurut Lapangan Pekerjaan Utama, Agustus 2019 – Agustus 2020 (Ribu Orang)

Petugas Antar Kerja dari Dinas yang membidangi

2020

AGS

AGS

Pertanian, Kehutanan & Perikanan Perdagangan Industri Pengolahan Jasa Pendidikan Penyediaan Akomodasi dan Makan Minum Konstruksi Informasi dan Komunikasi Jasa Lainnya Adm. Pemerintahan, Pertahanan & Jaminan Sosial Wajib Pertambangan dan Penggalian Jasa Kesehatan Jasa Perusahaan Aktivitas Keuangan, Asuransi & Real Estate Pengadaan Listrik dan Gas Transportasi dan Pergudangan Pengadaan Air, Pengelolaan Sampah, Limbah & Daur Ulang Total

Sumber: BPS Provinsi Sumatera Selatan

Jumlah

1842,1

1881,1

Persentase

45,91%

45,98%

Ketenagakerjaan Kabupaten /Kota, dengan melakukan Job Canvasing keperusahaan-perusahaan di daerahnya. Setelah di data, lowongan kerja dari perusahaan – perusahaan kemudian diupload ke dalam Bursa Kerja Online melalui

Jumlah

661,7

663,2

aplikasi Ayo Kerja milik Kementerian Ketenagakerjaan. Dalam

Persentase

16,49%

16,21%

aplikasi tersebut ada supply (para pencari kerjaterdaftar), demand (permintaan) dan terjadi matching (penempatan)

Jumlah

249,7

241,9

Persentase

6,22%

5,91%

Jumlah

175,9

181,5

Persentase

4,38%

4,44%

Jumlah

188,0

185,7

Persentase

4,69%

4,54%

Provinsi Sumatera Selatan Nomor 6 Tahun 2019 tentang

Jumlah

211,8

202,8

Pemberdayaan dan Penempatan Tenaga Kerja Lokal sebagai

Persentase

5,28%

4,96%

upaya nyata pemerintah menyikapi investor yang masuk ke

Jumlah

17,2

18,8

Provinsi Sumatera Selatan, untuk lebih mendahulukan pekerja

Persentase

0,43%

0,46%

bagi masyarakat lokal sesuai dengan visi misi Gubernur dan

Jumlah

147,0

166,4

Persentase

3,66%

4,07%

yang sesuai dengan kualifikasi yang dipersyaratkan pengguna seperti tingkat pendidikan. Lebih lanjut Pemerintah Provinsi Sumatera telah mengeluarkan Peraturan Daerah

Wakil Gubernur dalam membangun daerah, mengingat sumber daya manusia Sumatera Selatan cukup banyak dan

Jumlah

132,5

141,1

Persentase

3,24%

3,45%

Jumlah

65,2

62,7

Persentase

1,62%

1,53%

Jumlah

56,5

63,5

Persentase

1,41%

1,55%

pada triwulan III 2020 terkonfirmasi dari hasil Survei Kegiatan

Jumlah

35,7

43,8

Dunia Usaha (SKDU) yang dilakukan Kantor Perwakilan Bank

Persentase

0,89%

1,07%

Indonesia Provinsi Sumatera Selatan. Kondisi tersebut

Jumlah

38,3

41,9

Persentase

0,94%

1,02%

Jumlah

7,2

9,4

Persentase

0,18%

0,23%

berdaya saing. Aturan ini juga membatasi banyaknya Tenaga Kerja Asing yang akan masuk ke Provinsi Sumatera Selatan. Menurunnya kondisi ketenagakerjaan di Sumatera Selatan

tercermin dari nilai Saldo Bersih Tertimbang (SBT) tenaga kerja yang turun dari 4,32% pada triwulan II menjadi -7,32% pada triwulan III 2020. Sektor ekonomi yang mengalami penurunan

Jumlah

173,3

179,0

penggunaan tenaga kerja terbesar diantaranya adalah sektor

Persentase

4,24%

4,38%

industri pengolahan (-5,02%), konstruksi (-1,76%), informasi dan

Jumlah

10,5

7,7

komunikasi (-0,95%), dan penyedia akomodasi dan makan

Persentase

0,26%

0,19%

minum (-0,06%). Hanya sektor perdagangan besar dan

Jumlah

4012,6

4091,4

Persentase

100%

eceran, dan reparasi mobil dan motor yang mengalami

100%

peningkatan penggunaan tenaga kerja yaitu sebesar 0,48%.

67 KANTOR PERWAKILAN BANK INDONESIA PROVINSI SUMATERA SELATAN

2019 LAPANGAN PEKERJAAN UTAMA

tingkat pendidikan terutama bagi pencari kerja melibatkan


Grafik 6.1 Indeks Ketersediaan Lapangan Pekerjaan Saat Ini Dibandingkan 6 Bulan Yang Lalu

Grafik 6.2 Indeks Harga yang diterima, Indeks Harga yang dibayar dan Nilai Tukar Petani

140

160

120

140

INDEKS HARGA

NILAI TUKAR PETANI

96

120

100

94

100

80

92

80

60

28,44

40

20 0 III

II

IV

2018

I

III

II 2019

IV

I

II

88

40

0 I

90

60

20

86 84

III

I

III

II

IV

I

III

II

2018

2020

IV

I

2019

INDEKS HARGA YANG DITERIMA

Sumber : Hasil Survei Konsumen Bank Indonesia

98

III

II 2020

INDEKS HARGA YANG DIBAYAR

NILAI TUKAR PETANI

Sumber : BPS Provinsi Sumatera Selatan

Di tengah kondisi pandemi yang memicu menurunnya kondisi

dibandingkan triwulan sebelumnya. Terbatasnya perbaikan

ketenagakerjaan, hasil Survei Konsumen menunjukkan bahwa

NTP ini disinyalir disebabkan oleh terbatasnya dampak

kondisi ketersediaan lapangan kerja masih diyakini membaik

membaiknya harga TBS komoditas kelapa sawit dan harga

(Grafik 6-1). Keyakinan ini tercermin dari meningkatnya indeks

karet bagi petani akibat menurunnya produksi karena masih

ketersediaan lapangan pekerjaan saat ini dibandingkan 6

berlangsungnya masa trek (low crop) kelapa sawit sejak April

bulan yang lalu sebesar 28,44 meningkat dari sebelumnya

2020. Harga komoditas karet pada triwulan laporan juga

27,89.

terpantau meningkat dibandingkan triwulan sebelumnya seiring dengan meningkatnya harga minyak dunia dan mulai

6.2 KONDISI KESEJAHTERAAN

LAPORAN PEREKONOMIAN PROVINSI SUMATERA SELATAN NOVEMBER 2020

68

pulihnya aktivitas manufaktur mobil di China.

Tingkat kesejahteraan masyarakat khususnya di wilayah

NTP subsektor Tanaman Perkebunan Rakyat (NTPR)

perdesaan dapat terkonfirmasi dari Nilai Tukar Petani (NTP).

menunjukkan peningkatan sejalan dengan kembali

Hal ini sejalan dengan mata pencaharian masyarakat

meningkatnya permintaan dunia terhadap karet dan produksi

perdesaan yang terkonsentrasi pada lapangan usaha

kayu bulat yang meningkat hingga lebih dari 30%

pertanian. Perkembangan NTP Sumatera Selatan pada

dibandingkan triwulan sebelumnya. NTPR provinsi Sumatera

triwulan III 2020 tercatat sebesar 96,49, meningkat 7,22%

Selatan mencatatkan peningkatan sebesar 10,07% pada

dibandingkan triwulan sebelumnya yang sebesar 89,99. Hal

triwulan III 2020 dibandingkan triwulan sebelumnya dan

ini menunjukkan tingkat kesejahteraan petani meningkat,

merupakan peningkatan terbesar dibandingkan dengan

meski belum optimal karena masih di bawah nilai 100.

subsektor lainnya. Harga indeks kelompok tanaman

Kenaikan NTP pada Triwulan III 2020 terutama didorong oleh peningkatan pendapatan yang diterima petani, sementara pada saat bersamaan biaya yang dibayar petani relatif berkurang. Penerimaan petani dicerminkan oleh Indeks yang diterima petani (It) yang tercatat meningkat dari 94,70 pada

perkebunan rakyat (khususnya kelapa sawit, karet dan kopi) menunjukkan peningkatan yang secara rata-rata naik sebesar 3,44 persen. Kenaikan NTPR juga didorong oleh membaiknya harga komoditas CPO pada triwulan III setelah turun pada triwulan sebelumnya.

triwulan II 2020 menjadi sebesar 101,04 pada triwulan III 2020.

Grafik 6.3 Perkembangan NTP dan Inflasi Pedesaan Sumatera Selatan

Peningkatan indeks yang diterima paling besar terjadi pada sektor perkebunan yang mengalami kenaikan sebesar 10,07%.

98

Kenaikan indeks yang diterima pada sektor perkebunan rakyat

96

disebabkan naiknya harga indeks kelompok tanaman

94

perkebunan rakyat (khususnya kelapa sawit, karet dan kopi)

92

yang secara rata-rata naik sebesar 3,44 persen. Sementara itu, indeks harga yang dibayar petani (Ib) menurun dari 105,23 pada triwulan II 2020 menjadi 104,71 pada triwulan laporan. Kondisi ini terjadi pada semua subsektor tanpa terkecuali dengan penurunan indeks dibayar (Ib) terbesar terjadi pada

NILAI TUKAR PETANI

IHK PEDESAAN

160 140 120 100 80

90

60

88

40

86

20

84

0 I

III

II

IV

I

2018

Sumber : BPS Provinsi Sumatera Selatan

IV

2019 NILAI TUKAR PETANI

subsektor hortikultura yang turun sebesar -0,59%

III

II

I

II 2020

IHK PEDESAAN

III


Grafik 6.5 Indeks Tingkat Pendapatan/Penghasilan Provinsi Sumatera Selatan

Grafik 6.4 Nilai Tukar Petani Per Subsektor NTP SUBSEKTOR

NTP

98 96

100

94

80

92 60 90 40

88

20

86

0

84 I

III

II

IV

I

2018 NTPP

NTH HORTI

IV

III

II 2019

NTPR

NTH PETERNAK

I

II

III

2020 NTNP

NILAI TUKAR PETANI

Sumber : BPS Provinsi Sumatera Selatan

180 160

135,78

140 120 100

70,67

80 60 40 20 0 I

III

II

IV

2018

I

III

II

IV

I

2019

II

III

2020

PENGHASILAN SAAT INI DIBANDINGKAN 6 BULAN YANG LALU PERKIRAAN PENGHASILAN 6 BULAN MENDATANG DIBANDINGKAN SAAT INI Sumber : Hasil Survei Konsumen Bank Indonesia

NTP subsektor hortikultura (NTPH) dan perikanan (NTNP) juga

Peningkatan NTP Provinsi Sumatera Selatan pada triwulan III

meningkat sejalan dengan mulai meningkatnya kembali

2020, terkonfirmasi dari

permintaan masyarakat serta operasional penyedia jasa

terhadap tingkat pendapatan/penghasilan saat ini

indeks hasil Survei Konsumen

makan dan minum/restoran di Provinsi Sumatera Selatan,

dibandingkan 6 bulan yang lalu yang meningkat menjadi

masing-masing sebesar 0,93% dan 2,07%. Hal ini terkonfirmasi

70,67 dari 65,22 pada triwulan lalu (Grafik 6-5).

dengan meningkatnya lapangan usaha penyediaan akomodasi dan makan minum sebesar 13,65% dibandingkan triwulan sebelumnya. Di sisi lain, NTP subsektor peternakan (NTPT) mengalami penurunan sebesar -0,96%. Penurunan NTPT pada triwulan laporan disinyalir terjadi karena penurunan pendapatan yang diterima oleh peternak setelah HBKN Ramadhan dan Idul Fitri pada triwulan II sejalan dengan normalisasi harga komoditas telur ayam ras dan daging ayam ras.

Masyarakat juga optimis bahwa penghasilan mereka ke depan akan relatif lebih baik seiring dengan meredanya penyebaran pandemi COVID-19. Hal ini terkonfirmasi dari indeks hasil Survei Konsumen terhadap tingkat penghasilan 6 bulan yang akan datang dibandingkan penghasilan saat ini yang sudah berada dalam level optimis sebesar 135,78.

69 KANTOR PERWAKILAN BANK INDONESIA PROVINSI SUMATERA SELATAN

120



BAB VII

PROSPEK PERTUMBUHAN EKONOMI DAN INFLASI DAERAH Pertumbuhan Ekonomi Sumatera Selatan triwulan I 2021 diperkirakan akan lebih tinggi dibandingkan dengan triwulan IV 2020. Pertumbuhan ekonomi triwulan I-2021 diperkirakan tumbuh lebih tinggi dibandingkan dengan triwulan IV-2020. Secara keseluruhan tahun 2021 pertumbuhan ekonomi Sumatera Selatan diperkirakan akan tumbuh lebih tinggi didorong oleh pulihnya aktivitas ekonomi yang terlihat dari membaiknya konsumsi rumah tangga, perbaikan kinerja ekspor dan berlanjutnya pembangunan infrastruktur. Tekanan inflasi Sumatera Selatan pada triwulan I-2021 dan keseluruhan tahun 2021 diperkirakan lebih tinggi dibandingkan tahun 2020 namun masih berada dalam target inflasi nasional sebesar 3,0Âą1% (yoy).


7.1 PROSPEK PERTUMBUHAN EKONOMI Pertumbuhan ekonomi Sumatera Selatan triwulan I 2021

pembangunan perumahan diperkirakan juga menopang

diperkirakan tumbuh lebih tinggi dibandingkan dengan

kinerja investasi di triwulan I-2021.

triwulan IV 2020. Hasil evaluasi dari vaksin untuk penyakit COVID-19 menunjukkan angka keberhasilan yang cukup tinggi, mendorong keyakinan masyarakat dan pelaku usaha untuk meningkatkan aktivitasnya kembali di luar rumah. Konsumsi secara keseluruhan diprakirakan membaik meskipun masih terkontraksi dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Sementara itu, kinerja investasi dan ekspor diperkirakan akan terkontraksi dibandingkan dengan triwulan sebelumnya. Di sisi lapangan usaha (LU), perbaikan diperkirakan terjadi pada LU Perdagangan Besar dan Eceran, LU pertambangan dan penggalian serta LU Konstruksi. Sementara itu, untuk LU pertanian, kehutanan, dan perikanan serta LU Industri pengolahan diperkirakan tumbuh terbatas di triwulan I-2021. Konsumsi rumah tangga diperkirakan akan tumbuh lebih tinggi didorong oleh meningkatnya aktivitas ekonomi yang didukung dengan penerapan protokol pencegahan penularan COVID-19. Mulai kembalinya aktivitas ekonomi dengan menerapkan social distancing dan ekspektasi

72

masyarakat yang mulai optimis dengan mulai terkendalinya wabah COVID-19 mendorong pemulihan ekonomi. Selain itu,

LAPORAN PEREKONOMIAN PROVINSI SUMATERA SELATAN NOVEMBER 2020

keputusan Menteri Pendidikan yang memperbolehkan sekolah secara tatap muka akan memberikan dampak kenaikan permintaan atas konsumsi makanan, transportasi, dan pakaian. Hal ini akan mendorong LU perdagangan besar dan eceran dan LU penyediaan akomodasi dan makan minum. Meskipun demikian, masih adanya risiko penyebaran wabah COVID-19 dan masih terdapatnya sekolah yang belum dapat memenuhi standar kesehatan diperkirakan masih akan

Sementara itu, ekspor luar negeri diperkirakan akan terkontraksi karena aktivitas perdagangan global di awal tahun masih dalam tahap konsolidasi. Konsolidasi penetapan kontrak penjualan seiring dengan aktivitas manufaktur global diperkirakan masih dalam tahap permulaan sehingga akan menahan permintaan ekspor global. Harga komoditas batubara, karet dan CPO diperkirakan meningkat. Harga batubara diperkirakan membaik

kebutuhan energi pada saat memasuki musim dingin. Sementara itu, harga karet diperkirakan akan lebih tinggi seiring dengan masih terbatasnya produksi karet dari negara penghasil karet lainnya. Harga komoditas CPO diperkirakan juga akan terus meningkat dengan berlanjutnya kebijakan B30 di tingkat nasional dan meningkatnya permintaan terutama dari Tiongkok dan India, meskipun terdapat kampanye negatif dari Uni Eropa. Sejalan dengan perekonomian global dan nasional yang diproyeksikan meningkat, pertumbuhan ekonomi Sumatera Selatan pada keseluruhan tahun 2021 diperkirakan lebih tinggi dibandingkan dengan tahun 2020. Membaiknya aktivitas perekonomian yang didorong oleh hasil evaluasi vaksin COVID-19 yang baik mendorong peningkatan kinerja dari sisi permintaan dan lapangan usaha. Pertumbuhan ekonomi dunia tahun 2021 diperkirakan akan mengalami peningkatan. Menurut World Economic Outlook dari IMF, pertumbuhan ekonomi dunia diproyeksikan akan tumbuh positif sebesar

menahan konsumsi untuk tumbuh lebih tinggi. Konsumsi

Tabel 7 1. Global Economic Outlook

LNPRT diperkirakan akan menurun yang disebabkan belum 2017

2018

adanya jadwal pelaksanaan Pilkada di awal tahun 2021.

WILAYAH

Sementara konsumsi pemerintah diperkirakan masih tertahan

World

3,8

3,6

seiring dengan proses konsolidasi penyusunan dan

US

2,2

2,9

pengesahan anggaran pemerintah di awal tahun .

Euro Area

2,4

Kinerja PMTB (investasi) diperkirakan akan tumbuh seiring dengan berlanjutnya proyek program pembangunan infrastruktur baik dari pemerintah pusat maupun pemerintah daerah. Berlanjutnya pembangunan infrastruktur yang

dipicu

oleh meningkatnya permintaan yang didorong oleh

Proyeksi Jun 20 2019 2020*

2021*

2,9

-4,4

5,2

2,3

-4,3

3,1

1,8

1,2

-8,3

5,2

Japan

1,9

0,9

0,7

-5,3

2,3

China

6,9

6,6

6,1

1,9

8,2

India

6,7

7,1

4,8

-10,3

8,8

Sumber: WEO IMF, *) estimasi

Tabel 7 2. Volume Perdagangan Internasional

tergabung di dalam Proyek Strategis Nasional seperti pembangunan Jalan Tol Trans Sumatera, pembangunan bendungan, dan Kawasan Ekonomi Khusus Tanjung Api-Api.

2017

2018

2019

2020p

2021p 8,3

Volume Perdagangan Internasional

5,7

3,7

0,9

-10

Selain itu, program pembangunan infrastruktur strategis

Negara Maju

4,7

3,2

1,2

-12

7,3

pemerintah daerah seperti proyek pembangunan jalan besar,

Negara Berkembang

7,3

4,6

0,8

-9,4

11,0

program Pengelolaan Sumber Daya Air (PSDA), dan program

Sumber: WEO, IMF, *) estimasi


5,29% (yoy) didorong oleh peningkatan perekonomian dari

Grafik 7.1. Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi Sumatera Selatan Keseluruhan Tahun 2021

negara Tiongkok dan Amerika Serikat. Meskipun saat ini kasus COVID-19 memasuki fase gelombang kedua, beberapa indikator ekonomi global seperti kinerja manufaktur global sudah mulai membaik. Perkembangan volume perdagangan dunia juga menunjukkan tren yang meningkat. Lebih lanjut, pengaruh politik dunia dari hasil pemilihan Presiden Amerika Serikat juga memberikan keyakinan positif terhadap aktivitas perdagangan dunia. Selain itu, pertumbuhan negara tujuan ekspor utama Sumatera Selatan yaitu Tiongkok dan Amerika

8,00 7,00

2020 0,06-0,46

6,00 5,00 4,00 3,00 2,00 1,00 0,00 -1,00 -2,00 -3,00 I

III

II

IV

I

2019

III

II

IV

I

2020

III

II

IV

2021

Serikat juga membaik. Kondisi ekonomi global yang mendorong pemerintah dari seluruh dunia mengeluarkan kebijakan-kebijakan yang akomodatif di tahun 2020 dalam rangka perbaikan aktivitas perekonomian di masing-masing negara. Oleh karena itu, proyeksi pertumbuhan volume perdagangan internasional diperkirakan tumbuh positif mencapai 8,3% pada tahun 2021. Pertumbuhan ekonomi tahun 2021 diperkirakan belum akan

P : Proyeksi Bank Indonesia Sumber: BPS, estimasi BI

dampak implementasi penjualan langsung melalui Unit Pengolahan dan Pemasaran Bokar (UPPB). Selain itu kondisi cuaca yang kondusif juga ikut mendorong peningkatan produksi tanaman perkebunan tahunan, tanaman hortikultura, dan tanaman bahan pangan lainnya. Selanjutnya, LU pertambangan dan penggalian diperkirakan tumbuh lebih

kembali ke periode sebelum pandemi. Namun demikian, tren

tinggi karena permintaan energi global yang lebih tinggi

pemulihan sudah mulai terlihat sejak dibukanya kembali

dibandingkan tahun 2020.

beberapa sektor utama dari pertengahan tahun 2020, mendorong pertumbuhan ekonomi di tahun 2021 akan tumbuh lebih tinggi. Sejalan dengan hal tersebut, perbaikan permintaan global di beberapa negara yang sebaran virusnya mulai turun, mendorong kembalinya aktivitas manufaktur sehingga memberikan dampak positif kepada kinerja ekspor. Kinerja ekspor diperkirakan akan meningkat dan menopang ekonomi tumbuh lebih tinggi.

Disamping LU utama tersebut, LU perdagangan besar, eceran, reparasi mobil, dan motor serta LU penyediaan tumbuh seiring dengan mulai meningkatnya aktivitas masyarakat dengan protokol kesehatan yang ketat. Hal ini diperkirakan akan meningkatkan kembali aktivitas ekonomi dan konsumsi masyarakat. LU konstruksi diperkirakan tumbuh positif yang didorong berlanjutnya pembangunan

Dari sisi lapangan usaha (LU), LU industri pengolahan

infrastruktur baik yang tergabung dalam Proyek Strategis

diperkirakan akan menjadi LU utama dengan pertumbuhan

Nasional maupun program infrastruktur strategis daerah.

tertinggi, terutama disumbangkan oleh subsektor industri kertas dan barang kertas serta industri karet dan barang dari karet. Penerapan kebiasaan baru dampak pandemi Covid-19 akan mendorong permintaan global untuk kebutuhan higienis seperti kertas tissue, masker, serta kemasan untuk kebutuhan pengiriman logistik. Kondisi ini akan mendorong kinerja dari industri kertas dan barang dari kertas. Sementara itu, meningkatnya permintaan dari industri ban yang didorong oleh mulai meningkatnya kinerja transportasi, akan mendorong kinerja industri karet dan barang dari karet. LU pertanian, kehutanan, dan perikanan juga diperkirakan

73

akomodasi dan makan minum diperkirakan akan kembali

Perekonomian Sumatera Selatan pada tahun 2021 dihadapkan pada faktor risiko yang dapat menyebabkan pertumbuhan ekonomi lebih rendah dari proyeksi. Beberapa risiko yang perlu diwaspadai seperti kepastian implementasi vaksin yang belum terealisasi ke seluruh masyarakat, adanya risiko politik global yang berpengaruh kepada aktivitas perdagangan dan harga komoditas global, serta realisasi kebutuhan pembiayaan untuk pembangunan infrastruktur yang lebih tinggi dibandingkan dengan rencana.

7.2 PROSPEK INFLASI

akan meningkat seiring dengan membaiknya harga

Perkembangan inflasi pada triwulan I 2021 diperkirakan masih

komoditas kelapa sawit dan karet. Harga komoditas kelapa

rendah dan terkendali. Inflasi yang terjaga terutama

sawit akan terus membaik karena berlanjutnya implementasi

disebabkan oleh masih terkendalinya pasokan bahan pangan

kebijakan B30. Harga komoditas karet juga ikut meningkat

meskipun curah hujan yang meningkat berdampak terhadap

seiring dengan membaiknya harga di tingkat petani sebagai

menurunnya produksi bahan pangan dari daerah sentra.

KANTOR PERWAKILAN BANK INDONESIA PROVINSI SUMATERA SELATAN

terkontraksi lebih dalam sebagai dampak pandemi COVID-19,


Grafik 7.2. Proyeksi Inflasi Tahunan Sumatera Selatan

Grafik 7.3. Ekspektasi Harga Konsumen

3,50

500

3,00 400

2,50 2,00

300

1,50

92,9

1,00

200

0,50 0,00

128,6

100

-0,50 -1,00

57,3

I

III

II 2019

IV

I

III

II 2020

IV

I

III

II

IV

I

2021

III

II

IV

I

2018 INDEKS KONDISI EKONOMI SAAT INI (IKE) INDEKS KEYAKINAN KONSUMEN (IKK)

Sumber: BPS Provinsi Sumatera Selatan dan proyeksi Bank Indonesia

III

II

IV

I

2019

II

III

2020

INDEKS EKSPEKTASI KONSUMEN (IEK)

Sumber: Survei Konsumen, BI

Namun demikian, permintaan dari rumah tangga untuk

instansi yang tergabung dalam Tim Pengendalian Inflasi

makanan dan minuman dari sektor penyediaan makanan dan

Daerah (TPID) diharapkan dapat menjaga inflasi berada dalam

minuman diperkirakan masih terbatas. Kondisi ini akan

batas yang terkendali sesuai target inflasi nasional sebesar

menahan laju inflasi terutama dari kelompok makanan,

3,0±1% (yoy) diakhir tahun 2021.

minuman, dan tembakau serta kelompok penyediaan makanan dan minuman/restoran. Tekanan inflasi pada kelompok transportasi diperkirakan akan bersumber dari kenaikan tarif angkutan udara, yang dipicu oleh meningkatnya aktivitas perjalanan pada libur awal tahun dan

74

kegiatan perjalanan dinas dari pelaku usaha / pemerintahan di awal tahun. Kenaikan harga emas perhiasan meskipun

LAPORAN PEREKONOMIAN PROVINSI SUMATERA SELATAN NOVEMBER 2020

terbatas, diperkirakan akan mendorong laju peningkatan inflasi kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya di Sumatera Selatan. Tekanan inflasi Sumatera Selatan di tahun 2021 diperkirakan lebih tinggi dibandingkan tahun 2020, namun tetap berada di dalam kisaran target inflasi nasional. Meningkatnya tekanan inflasi tersebut diperkirakan terjadi pada kelompok inflasi

7.3 REKOMENDASI Percepatan pembangunan infrastruktur, kecukupan pasokan energi, harmonisasi ketentuan, monitoring pencapaian dan growth strategy untuk mencari sumber pertumbuhan ekonomi baru menjadi syarat perlu untuk pembangunan ekonomi Sumatera Selatan yang berkualitas dan berkelanjutan. Adapun rekomendasi yang perlu mendapat perhatian dalam upaya mempercepat dan mempertahankan pertumbuhan ekonomi di Sumatera Selatan yang solid dan berkelanjutan diantaranya adalah:

1. Peningkatan pertumbuhan ekonomi: •

Menerapkan protokol pencegahan penyebaran COVID-

makanan, minuman dan tembakau dan kelompok

19 yang ketat dan menyeluruh di seluruh kegiatan

transportasi. Selain itu, kelompok perawatan pribadi dan jasa

ekonomi. Hal ini dilakukan untuk memberikan keyakinan

lainnya diperkirakan masih tumbuh lebih tinggi. Inflasi

kepada masyarakat yang akan melakukan aktivitas

kelompok makanan, minuman, dan tembakau lebih tinggi

ekonomi di luar rumah, sehingga diharapkan dapat

karena meningkatnya permintaan bahan makanan dari rumah

mendorong konsumsi rumah tangga.

tangga dan pelaku usaha restoran/perhotelan yang didorong

Melakukan kebijakan penggunaan produk UMKM unggulan daerah sesuai dengan Gerakan Bangga

oleh meningkatnya aktivitas ekonomi masyarakat, ditambah terdapat peningkatan cukai rokok yang rencananya akan

Buatan Indonesia (GBBI) seperti kain dan makanan khas

diberlakukan kembali di tahun 2021. Selanjutnya, tekanan

daerah di lingkungan pemerintah untuk mendorong

pada kelompok transportasi diperkirakan akan lebih tinggi

konsumsi produk UMKM daerah disamping program

karena mulai meningkatnya penggunaan angkutan udara

pemulihan ekonomi kepada pelaku usaha baik untuk

yang didorong peningkatan perjalanan dari masyarakat,

pelaku usaha besar maupun usaha kecil (UMKM).

pelaku usaha, dan pemerintah. Sementara itu, tekanan inflasi

Berkoordinasi dengan lembaga audit dan penegakan

juga masih terasa pada kelompok perawatan pribadi dan jasa

hukum dalam rangka penyusunan rencana belanja

lainnya yang disebabkan oleh kenaikan harga komoditas

penanganan kesehatan dan pemulihan ekonomi daerah,

emas yang lebih tinggi dari historisnya meskipun terbatas

sehingga belanja daerah dapat terakselerasi lebih cepat

dibandingkan dengan tahun 2020. Koordinasi yang solid antar

sesuai dengan petunjuk teknis yang telah disampaikan.


Melakukan pendampingan dalam pemanfaatan dana

desa, mengingat Dana Desa memiliki peran strategis

SDM dan permodalan. Peningkatan kapasitas produksi

dalam pengentasan kemiskinan di perdesaan dan

dilakukan melalui integrasi rantai pasokan dan nilai

mendorong pertumbuhan ekonomi di wilayah

produk UMKM. Peningkatan kualitas SDM UMKM

perdesaan. Pemanfaatan dana desa perlu digunakan

dilakukan melalui edukasi proses bisnis, pemasaran, dan

secara optimal, misalnya untuk membangun BUMDes

akses keuangan. Lebih lanjut, peningkatan kapasitas

yang dapat melakukan usaha produktif sesuai potensi

pembiayaan dilakukan melalui pemberian fasilitas

daerah.

pinjaman yang sesuai untuk UMKM.

Percepatan pembangunan fasilitas pelabuhan samudera di Tanjung Carat untuk mendorong

2. Pengendalian inflasi

peningkatan ekspor dari Sumatera Selatan.

menjaga inflasi yang relatif stabil, perlu dikembangkan

terintegrasi dengan Kawasan Ekonomi Khusus Tanjung

Kerjasama Antar Daerah (KAD) untuk mendukung

Api-Api (KEK TAA) untuk mendorong hilirisasi industri

pengiriman pasokan dari daerah yang surplus ke daerah

yang memberikan nilai tambah dan mengurangi

yang defisit.

ketergantungan terhadap ekspor komoditas sumber

terhadap harga komoditas bahan pangan strategis oleh Tim Pengendalian Inflasi Daerah, Satgas Pangan, dan

Sumatera Selatan seperti minyak kelapa sawit menjadi

instansi terkait lainnya.

biodiesel, crumb rubber menjadi komoditas ban, aspal

meningkatkan penyerapan produk pertanian dan

rumah tangga. Optimalisasi elektronifikasi transaksi pemerintah daerah baik transaksi pengeluaran maupun penerimaan melalui

memotong rantai perdagangan. •

komoditas pangan yang telah memperhitungkan

efisiensi pengelolaan keuangan daerah, meningkatkan

kebutuhan wilayah dan kebutuhan wilayah sekitar

kualitas pelayanan publik, serta mempercepat integrasi

sehingga diperoleh data surplus/defisit bahan pangan

ekonomi dan keuangan digital. penyediaan jasa telekomunikasi dalam rangka mendorong percepatan pembangunan infrastruktur pendukung elektronifikasi sistem pembayaran di fasilitas umum dan layanan masyarakat. •

yang lebih akurat. •

Dalam rangka meningkatkan efektivitas pemantauan harga bahan pangan dan penyediaan informasi kepada publik perlu adanya peningkatan partisipasi pemerintah daerah dalam pengkinian data harga komoditas secara berkelanjutan pada aplikasi Pusat Informasi Harga

Sehubungan dengan sektor pertanian yang merupakan

Pangan Strategis (PIHPS) agar utilisasi sistem lebih

sektor terbesar dalam penyerapan tenaga kerja di

maksimal.

Sumatera Selatan, maka Nilai Tukar Petani perlu ditingkatkan dengan penerapan teknologi tepat guna untuk meningkatkan produktivitas lahan dan menekan biaya produksi, serta memperpendek rantai distribusi melalui pembangunan Sentra Terminal Agribisnis dan pemasaran produk-produk pertanian secara daring. •

Untuk memastikan ketersediaan pasokan komoditas

Mendorong peningkatan jumlah UPPB (Unit Pengolahan dan Pemasaran Bokar) untuk komoditas karet dan pembentuk lembaga seperti UPPB untuk komoditas lainnya untuk meningkatkan kualitas dan harga komoditas dari tingkat petani.

75

pangan diperlukan adanya laporan ketersediaan

instrumen non tunai untuk memperkuat efektivitas dan

Sinergi antara pemerintah, perbankan, dan perusahaan

Mendorong kerjasama dan kemitraan petani dengan pelaku usaha melalui digital farming untuk

Ether (DME) yang dapat digunakan sebagai bahan bakar

Terus meningkatkan pengawasan dan pemantauan

Mendorong hilirisasi komoditas SDA unggulan dari

karet, dan dock fender, serta batubara menjadi Dimethyl

Dalam rangka menjaga ketersediaan pasokan dan

Pembangunan pelabuhan juga dapat dilakukan secara

daya alam. •

Peningkatan kapasitas UMKM baik dari sisi produksi,

KANTOR PERWAKILAN BANK INDONESIA PROVINSI SUMATERA SELATAN


LAMPIRAN


A.Tabel Inflasi Bulanan Provinsi Sumatera Selatan Perumahan, Air, Listrik, Gas Pakaian & Alas Kaki & Bahan Bakar Lainnya

Perlengkapan, Informasi, Peralatan & Komunikasi, Pemeliharaan Kesehatan Transportasi & Jasa Rutin Rumah Keuangan Tangga

Penyediaan Perawatan Rekreasi, Pribadi Olahraga, & Pendidikan Makanan & & Jasa Minuman / Budaya Lainnya Restoran

Umum

Makanan, Minuman, & Tembakau

1

0,62

1,96

(0,00)

0,33

0,17

0,19

(0,81)

-

0,41

-

0,27

0,48

2

0,26

0,78

0,08

(0,65)

0,06

0,09

(0,13)

0,01

(0,04)

(0,00)

0,01

0,27

3

0,04

0,09

-

0,77

0,10

0,02

(0,69)

0,01

-

-

0,09

1,06

4

(0,12)

(0,37)

-

-

0,24

0,08

(0,06)

(1,30)

-

-

0,14

0,68

5

0,13

(0,66)

0,86

(0,09)

0,04

0,12

0,15

2,20

1,10

-

1,08

0,84

6

0,19

0,61

0,01

(0,02)

0,02

0,05

0,02

-

-

-

0,22

(0,12)

7

(0,28)

(1,66)

0,01

-

0,25

0,28

0,51

-

(0,04)

1,01

0,49

0,62

8

(0,35)

(1,63)

0,14

0,03

0,03

0,04

(0,02)

-

0,28

-

0,04

1,79

9

(0,05)

(0,34)

0,04

-

0,23

0,27

-

-

-

-

(0,01)

0,56

0,16

0,68

0,01

0,12

(0,10)

0,03

(0,57)

-

-

-

-

0,16 0,40

TAHUN /BULAN

Palembang (mtm%)

2020

10

Lubuklinggau (mtm%)

2020

1

0,36

1,00

0,03

(0,14)

(0,05)

0,02

0,07

0,32

(0,36)

-

0,38

2

0,39

0,91

0,01

10,87

0,23

0,32

0,32

0,37

0,13

(0,00)

0,04

0,20

3

0,07

0,17

0,01

(9,60)

0,11

0,13

(0,79)

0,06

0,10

-

0,07

0,50

4

(0,43)

(0,87)

(0,08)

0,11

0,03

0,01

(1,51)

(1,21)

-

-

0,05

0,65

5

0,40

0,04

0,62

0,67

0,08

0,25

0,06

0,87

0,24

-

0,31

2,19

6

0,31

0,61

0,20

(0,07)

0,38

0,49

0,54

(0,18)

0,01

-

0,05

0,52

7

(0,18)

(1,01)

0,16

(0,06)

0,55

0,03

0,12

(0,28)

0,12

0,80

-

1,38

8

(0,11)

(0,89)

0,07

0,20

0,05

(0,05)

0,08

-

0,17

0,03

0,01

2,01

9

0,04

(0,21)

0,08

(0,03)

0,15

0,25

0,30

0,07

0,05

-

-

0,93

10

0,38

0,77

(0,01)

0,21

0,18

0,43

(0,21)

-

0,12

1,90

-

0,41

Sumatera Selatan (mtm%)

1

0,60

1,88

0,00

0,29

0,15

0,18

(0,73)

0,03

0,35

0,00

0,28

1,68

2

0,27

0,79

0,08

0,27

0,07

0,11

(0,09)

0,04

(0,02)

(0,00)

0,01

0,83

3

0,04

0,10

0,00

0,70

0,11

0,03

(0,70)

0,01

0,01

(0,00)

0,09

0,06

4

(0,15)

(0,41)

(0,01)

(0,83)

0,22

0,07

(0,18)

(1,29)

0,00

0,00

0,13

(0,55)

5

0,16

(0,60)

0,84

(0,03)

0,04

0,13

0,14

2,09

1,03

(0,00)

1,02

(0,69)

6

0,20

0,61

0,03

(0,02)

0,05

0,09

0,06

(0,01)

0,00

(0,00)

0,21

0,71

7

(0,27)

(1,61)

0,02

(0,00)

0,27

0,26

0,48

(0,02)

(0,02)

0,99

0,45

(1,93)

8

(0,33)

(1,57)

0,14

0,04

0,03

0,03

(0,01)

0,00

0,27

0,00

0,04

(1,87)

9

(0,04)

(0,33)

0,04

(0,00)

0,22

0,27

0,02

0,01

0,00

(0,00)

(0,01)

(0,41)

0,18

0,69

0,01

0,12

(0,08)

0,06

(0,54)

0,00

0,01

0,15

(0,00)

0,74

10

77 KANTOR PERWAKILAN BANK INDONESIA PROVINSI SUMATERA SELATAN

2020


B.Tabel Inflasi Tahunan Provinsi Sumatera Selatan Perumahan, Air, Listrik, Gas Pakaian & Alas Kaki & Bahan Bakar Lainnya

Perlengkapan, Informasi, Peralatan & Komunikasi, Pemeliharaan Kesehatan Transportasi & Jasa Rutin Rumah Keuangan Tangga

Penyediaan Perawatan Rekreasi, Pribadi Olahraga, & Pendidikan Makanan & & Jasa Minuman / Budaya Lainnya Restoran

Umum

Makanan, Minuman, & Tembakau

1

2,49

3,43

1,86

1,87

3,17

2,67

1,04

0,27

3,96

4,01

2,10

3,17

2

3,12

6,32

1,95

0,93

3,15

2,42

(0,14)

0,27

3,93

4,01

1,52

3,41

3

3,20

6,53

1,83

1,54

3,06

2,42

(0,29)

0,28

3,93

4,01

1,56

4,58

4

2,54

4,44

1,60

1,45

3,30

2,45

(0,57)

(1,03)

4,04

4,01

1,56

5,46

5

2,19

2,79

1,74

1,28

3,08

2,55

(1,22)

0,94

4,84

3,90

2,57

6,24

6

1,75

1,43

1,55

1,18

2,93

2,43

(0,73)

0,94

4,84

3,90

2,80

4,98

7

0,98

(1,09)

1,02

1,05

2,90

2,24

(0,30)

0,94

4,65

3,18

3,10

5,31

8

0,72

(2,33)

1,39

1,07

2,74

2,16

0,42

0,94

4,94

2,37

2,85

6,39

9

0,97

0,02

1,26

0,92

1,58

1,19

(0,94)

0,90

1,72

1,01

2,34

6,42

10

1,20

1,00

1,24

0,85

1,16

1,17

(1,35)

0,90

1,72

1,01

2,34

6,84

1

1,77

2,32

1,08

0,06

0,75

1,41

1,96

1,39

0,26

4,75

2,37

4,20

2

2,62

5,24

1,09

10,58

1,11

1,72

2,34

1,77

0,42

4,74

1,63

3,46

3

2,63

5,36

1,07

0,02

1,73

1,79

0,53

1,82

0,52

4,74

2,11

3,74

4

1,87

3,11

0,76

0,62

1,66

1,68

(0,34)

0,59

0,53

4,74

1,71

4,44

5

1,45

1,41

0,94

1,26

1,21

1,42

(1,42)

0,83

0,59

4,74

1,86

6,45

6

1,37

1,25

1,07

1,19

1,40

1,94

(1,52)

0,65

0,71

4,74

1,27

6,84

7

0,93

(0,45)

1,12

1,16

1,80

1,96

(0,89)

0,16

0,53

4,69

0,92

8,21

8

1,09

(0,52)

1,18

1,38

1,76

1,70

(0,21)

0,16

0,67

4,43

0,93

9,50

9

1,41

0,86

1,18

1,33

1,84

1,95

(0,16)

0,14

0,40

0,82

0,91

9,27

10

1,62

1,03

1,19

1,73

2,09

2,37

(0,43)

(0,18)

0,61

2,73

0,90

9,75

1

2,43

3,34

1,79

1,73

2,97

2,56

1,11

0,36

3,65

4,07

2,13

2,98

2

3,08

6,23

1,87

1,71

2,98

2,36

0,07

0,39

3,63

4,07

1,53

6,35

3

3,16

6,43

1,77

2,28

2,95

2,36

(0,22)

0,41

3,64

4,07

1,60

6,61

4

2,48

4,33

1,53

1,39

3,16

2,39

(0,55)

(0,89)

3,75

4,07

1,57

4,12

5

2,13

2,67

1,67

1,28

2,93

2,45

(1,23)

0,93

4,48

3,97

2,52

2,24

TAHUN /BULAN

Palembang (mtm%)

2020

Lubuklinggau (mtm%)

2020

Sumatera Selatan (mtm%)

2020

LAPORAN PEREKONOMIAN PROVINSI SUMATERA SELATAN NOVEMBER 2020

78

6

1,72

1,41

1,51

1,18

2,81

2,38

(0,79)

0,91

4,49

3,97

2,67

0,87

7

0,98

(1,04)

1,02

1,06

2,81

2,22

(0,35)

0,87

4,30

3,30

2,92

(2,02)

8

0,75

(2,18)

1,38

1,10

2,66

2,12

0,37

0,87

4,59

2,53

2,70

(3,39)

9

1,01

0,09

1,25

0,95

1,60

1,25

(0,87)

0,84

1,62

0,99

2,22

(0,83)

10

1,24

1,00

1,23

0,92

1,23

1,27

(1,27)

0,81

1,63

1,14

2,22

0,19


C.Daftar KUPVA Bukan Bank Berizin di Sumatera Selatan NAMA KUPVA BB

ALAMAT

PT Try Dharma Perdana

Jl.Kol. Atmo No.446 17 Ilir, Ilir Timur I, Palembang, Sumatera

STATUS KANTOR

NO. TELP/ HP

Kantor Pusat

081377918991 0711-351786

Kantor Pusat

081367727628

Kantor Pusat

0811786128

Kantor Pusat

081373088288 0711-317601

Kantor Pusat

0711-354858

Selatan 30125 PT Sinar Valuta Asing Palembang

Jl. Sayangan No.164 RT 003/001 17 Ilir, Ilir Timur I, Palembang,

PT Berkat Sukses Bersama

Jl. R. Sukamto, PTC Mall GF-A2.27- 28, 8 Ilir, Ilir Timur 2,

Sumatera Selatan 30125

Palembang, Sumatera Selatan 30114 PT Makmur Alam Jaya

Jl. Beringin Janggut II No.6/351, 17 Ilir, Ilir Timur 1, Palembang, Sumatera Selatan 30125

PT Ranting Emas Jaya Abadi

Jl. Jend.Sudirman No.98/456, 20 Ilir, Ilir Timur 1, Palembang, Sumatera Selatan 30126 Jl. Kapten A Rivai Komplek Ruko Hotel Arista No.B.01/08

Kantor Pusat

085273059866

PT Mas Sriwijaya Abadi

Jl. TP Rustam Effendi No.380 D RT 006 RW 003 Kel.17 Ilir

Kantor Pusat

08127341808 0711351111

Kantor Pusat

08117892478 0711-365691

Kec.Ilir Timur I, Palembang PT Sumber Daya Usaha

Internasional Plaza Jl. Jenderal Sudirman No.147 Blok B-3, Palembang

PT H. La Tunrung A.M.C

Jl. R. Sukamto, No.79 RT 10/005 Kel.8 Ilir, Kec. Ilir Timur 2,

Kantor Cabang

082175059245 0711-5630188

Kantor Cabang

08558341789 0711-382418

Palembang, Sumatera Selatan 30114 PT Mekarindo Abadi Sentosa

Palembang Trade Center Mall (PTC) Lantai GF Blok A2, No.4243 Jl. R Sukamto Palembang, Sumatera Selatan

79 KANTOR PERWAKILAN BANK INDONESIA PROVINSI SUMATERA SELATAN

PT Ario Kesuma Indovalas


Daftar Istilah

80

Mtm

Month to month. Perbandingan antara data satu bulan dengan bulan sebelumnya

Qtq

Quarter to quarter perbandingan antara data satu triwulan dengan triwulan sebelumnya

Yoy

Year on year. Perbandingan antara data satu tahun dengan tahun sebelumnya

Share Of Growth

Kontribusi suatu sektor ekonomi terhadap total pertumbuhan PDRB

Investasi

Kegiatan meningkatkan nilai tambah suatu kegiatan suatu kegiatan produksi melalui peningkatan modal

Sektor ekonomi dominan

Sektor ekonomi yang mempunyai nilai tambah besar sehingga mempunyai pengaruh dominan pada pembentukan PDRB secara keseluruhan

Migas

Minyak dan Gas. Merupakan kelompok sektor industri yang mencakup industri minyak dan gas

Omzet

Nilai penjualan bruto yang diperoleh dari satu kali proses produksi

Share effect

Kontribusi pangsa sektor atau sub sektor terhadap total PDRB

Indeks Keyakinan Konsumen (IKK)

Indeks yang menunjukan level keyakinan konsumen terhadap kondisi ekonomi saat ini dan ekspektasi kondisi ekonomi enam bulan mendatang. Dengan skala 1-100

Indeks Harga Konsumen (IHK)

Sebuah indeks yang merupakan ukuran perubahan rata-rata harga barang dan jasa yang dikonsumsi masyarakat pada suatu periode tertentu

Indeks Kondisi Ekonomi

Salah satu pembentuk IKK. Indeks yang menunjukan level keyakinan konsumen terhadap kondisi ekonomi saat ini, dengan skala 1-100

Indeks Ekspektasi Konsumen

Salah satu pembentuk IKK. Indeks yang menunjukan level keyakinan konsumen terhadap ekspektasi kondisi ekonomi saat ini, dengan skala 1-100

Pendapatan Asli Daerah (PAD)

Pendapatan yang diperoleh dari aktifitas ekonomi suatu daerah seperti hasil pajak daerah, retribusi daerah, hasil perusahaan milik daerah dan hasil pengelolaan kekayaan daerah

Dana Perimbangan

Sumber pendapatan daerah yang berasal dari APBN untuk mendukung pelaksanaan kewenangan pemerintah daerah dalam mencapai tujuan pemberian otonomi daerah.

Indeks Pembangunan Manusia

Ukuran kualitas pembangunan manusia, yang diukur melalui pencapaian rata-rata 3 hal kualitas hidup, yaitu pendidikan, kesehatan, daya beli

APBD

Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah, Rencana keuangan tahunan pemerintah daerah yang dibahas dan disetujui bersama oleh pemerintah yang dibahas dan disetujui bersama oleh pemerintah daerah dan DPR, dan ditetapkan dengan peraturan daerah

Andil inflasi

Sumbangan perkembangan harga suatu komoditas/kelompok barang/kota terhadap tingkat inflasi secara keseluruhan

Bobot inflasi

Besaran yang menunjukan pengaruh suatu komoditas, terhadap tingkat inflasi secara keseluruhan, yang diperhitungkan dengan melihat tingkat konsumsi masyarakat terhadap komoditas tersebut

Ekspor

Dalam keseluruhan barang yang keluar dari suatu wilayah/daerah baik yang bersifat komersil maupun bukan komersil.

LAPORAN PEREKONOMIAN PROVINSI SUMATERA SELATAN NOVEMBER 2020


Impor

Seluruh barang yang masuk suatu wilayah/daerah baik yang bersifat komersil maupun bukan komersil

PDRB atas dasar harga berlaku

Penjumlahan nilai tambah bruto (NTB) yang mencakup seluruh komponen faktor pendapatan yaitu gaji, bunga, sewa tanah, keuntungan, penyusutan dan pajak tak langsung dari seluruh sektor perekonomian

PDRB atas dasar harga konstan

Merupakan perhitungan PDRB yang didasarkan atas produk yang dihasilkan menggunakan harga tahun tertentu sebagai dasar perhitungannya

Bank Pemerintah

Bank-bank yang sebelum program rekapitalisasi merupakan bank milik pemerintah (persero) yaitu terdiri dari bank Mandiri, BNI, BTN dan BRI

Dana Pihak Ketiga (DPK)

Simpanan masyarakat yang ada di perbankan terdiri dari giro, tabungan, dan deposito

Loan to Deposits Ratio (LDR)

Rasio antara kredit yang diberikan oleh perbankan terhadap jumlah dana pihak ketiga yang dihimpun

Cash inflows

Jumlah aliran kas yang masuk ke kantor Bank Indonesia yang berasal dari perbankan dalam periode tertentu

Cash Outflows

Jumlah aliran kas keluar dari kantor Bank Indonesia kepada perbankan dalam periode tertentu

Net Cashflows

Selisih bersih antara jumlah cash inflows dan cash outflows pada periode yang sama terdiri dari Netcash Outflows bila terjadi cash outflows lebih tinggi dibandingkan cash inflows, dan Netcash inflows bila terjadi sebaliknya

Aktiva Produktif

Penanaman atau penempatan yang dilakukan oleh bank dengan tujuan menghasilkan penghasilan/pendapatan bagi bank, seperti penyaluran kredit, penempatan pada antar bank, penanaman pada Sertifikat Bank Indonesia(SBI), dan surat-surat berharga lainnya.

Aktiva Tertimbang Menurut Risiko (ATMR)

Pembobotan terhadap aktiva yang dimiliki oleh bank berdasarkan risiko dari masing-masing aktiva. Semakin kecil risiko suatu aktiva, semakin kecil bobot risikonya. Misalnya kredit yang diberikan kepada pemerintah mempunyai bobot yang lebih rendah dibandingkan dengan kredit yang diberikan kepada perorangan

Kualitas Kredit

Penggolongan kredit berdasarkan prospek usaha, kinerja debitur dan kelancaran pembayaran bunga dan pokok. Kredit digolongkan menjadi 5 kualitas yaitu lancar, Dalam Perhatian Khusus (DPK), Kurang Lancar, Diragukan dan Macet

Capital Adequacy Ratio (CAR)

Rasio antara modal (modal inti dan modal pelengkap) terhadap Aktiva Tertimbang Menurut Risiko (ATMR)

Financing to Deposit Ratio (FDR)

Rasio antara pembiayaan yang diberikan oleh bank syariah terhadap dana yang diterima. Konsep ini sama dengan konsep LDR pada bank umum konvensional

Inflasi

Kenaikan harga barang secara umum dan terus menerus (persistent)

Kliring

Pertukaran warkat atau Data Keuangan Elektronik (DKE) antar peserta kliring baik atas nama peserta maupun atas nama nasabah peserta yang perhitungannya diselesaikan pada waktu tertentu

Kliring Debet

Kegiatan kliring untuk transfer debet antar bank yang disertai dengan penyampaian fisik warkat debet seperti cek, bilyet giro, nota debet kepada penyelenggara kliring lokal (unit kerja di Bank Indonesia atau bank yang memperoleh persetujuan Bank Indonesia sebagai penyelenggara kliring lokal) dan hasil perhitungan akhir kliring debet dikirim ke Sistem Sentral Kliring (unit kerja yang menagani SKNBI di KP Bank Indonesia) untuk diperhitungkan secara nasional

KANTOR PERWAKILAN BANK INDONESIA PROVINSI SUMATERA SELATAN

81


Non Performing Loans /Financing (NPLs/Ls) Penyisihan Penghapusan Aktiva Produktif (PPAP)

82

Kredit atau pembiayaan yang termasuk dalam kualitas kurang lancar, diragukan dan macet. Suatu pencadangan untuk mengantisipasi kerugian yang mungkin timbul dari tidak tertagihnya kredit yang diberikan oleh bank. Besaran PPAP ditentukan dari kualitas kredit. Semakin buruk kualitas kredit, semakin besar PPAP yang dibentuk, misalnya, PPAP untuk kredit yang tergolong Kurang Lancar adalah 15 % dari jumlah Kredit Kurang Lancar (setelah dikurangi agunan), sedangkan untuk kedit Macet, PPAP yang harus dibentuk adalah 100% dari total kredit macet (setelah dikurangi agunan)

Rasio Non Performing Loans /Financing (NPLs/Fs)

Rasio kredit/pembiayaan yang tergolong NPLs/Fs terhadap total kredit/pembiayaan. Rasio ini juga sering disebut rasio NPLs/Fs, gross. Semakin rendah rasio NPLs/Fs, semakin baik kondisi bank ybs.

Rasio Non Performing Loans (NPLs) – NET

Rasio kredit yang tergolong NPLs, setelah dikurangi pembentukan penyisihan penghapusan Aktiva Produktif (PPAP), terhadap total kredit

Sistem Bank Indonesia Real Time Gross Settlement (BI RTGS)

Proses penyelesaian akhir transaksi pembayaran yang dilakukan seketika (real time) dengan mendebet maupun mengkredit rekening peserta pada saat bersamaan sesuai perintah pembayaran dan penerimaan pembayaran.

Sistem Kliring Nasional Bank Indonesia (SKN-BI)

Sistem kliring bank Indonesia yang meliputi kliring debet dan kliring kredit yang penyelesaian akhirnya dilakukan secara nasional.

Industri

Suatu kegiatan yang mengubah barang dasar menjadi barang jadi/setengah jadi dan atau barang yang kurang nilainya, menjadi yang lebih tinggi nilainya termasuk kegiatan jasa industri, pekerjaan perakitan (assembling) dari bagian suatu industri.

Pekerja

Orang yang biasanya bekerja diperusahaan/usaha tersebut.

Pekerja Dibayar

Orang yang biasanya bekerja diperusahaan/usaha dengan mendapatkan upah/gaji dan tunjangantunjangan lainnya baik berupa uang maupun barang.

Pekerja Tidak Dibayar

Pekerja pemilik dan pekerja keluarga yang ikut aktif dalam pengelolaan perusahaan tetapi tidak mendapatkan upah/gaji, tidak termasuk mereka yang bekerja kurang dari 1/3 jam kerja yang biasa di perusahaan.

Input

Biaya antara yang dikeluarkan dalam kegiatan proses produksi/proses industri yang berupa bahan baku, bahan bakar, barang lainnya diluar bahan baku/penolong, jasa industri, sewa gedung dan biaya jasa non industri lainnya.

Output

Nilai keluaran yang dihasilkan dari kegiatan proses produksi/proses industri yang berupa nilai barang yang dihasilkan, tenaga listrik yang dijual, jasa industri yang diterima, keuntungan jual beli, pertambahan stok barang setengah jadi dan penerimaan-penerimaan lainnya.

Nilai Tambah/Value Added

Selisih nilai output dengan nilai input atau biasa disebut dengan nilai tambah menurut harga pasar.

Produktivitas

Rasio antara nilai out put dengan jumlah tenaga kerja baik yang dibayar maupun yang tidak dibayar.

Tingkat Efisiensi

Ratio antara nilai tambah atas dasar harga pasar terhadap output produksi.

Intensitas Tenaga Kerja

Suatu rasio antara biaya upah/gaji yang dikeluarkan untuk tenaga kerja terhadap nilai tambah.

Gross Margin

%persentase value added dikurangi biaya tenaga kerja dibagi output.

LAPORAN PEREKONOMIAN PROVINSI SUMATERA SELATAN NOVEMBER 2020


Usaha

Kegiatan yang menghasilkan barang/jasa dengan tujuan sebagian atau seluruh hasilnya untuk dijual/ditukar dan atau menunjang kehidupan dan menanggung risiko.

Perusahaan

Suatu unit usaha yang diselenggarakan/ dikelola secara komersil yaitu yang menghasilkan barang dan jasa sehomogen mungkin, umumnya terletak pada satu lokasi dan mempunyai catatan administrasi tersendiri mengenai produksi, bahan baku, pekerja dan sebagainya yang digunakan dalam proses produksi.

Perusahaan Industri

Diklasifikasikan menjadi empat kategori berdasarkan jumlah tenaga kerja tanpa memperhatikan penggunaan mesin maupun nilai dari aset yang dimiliki.

Jasa Industri

Kegiatan dari suatu usaha yang melayani sebagian proses industri suatu usaha industri atas dasar kontrak atau balas jasa ( fee ).

KANTOR PERWAKILAN BANK INDONESIA PROVINSI SUMATERA SELATAN

83


Tim Penyusun Penanggung Jawab Hari Widodo Koordinator Penyusun Demina R. Sitepu Indra Kuspriyadi Tim Penulis Rendha Prasetya Kuswono Destiarini Pahmi Utamaraja Ginting Raja Alfredo Siregar Nuri Rizky Az-Zahra Gayo Arvi Triana Elsa Sabrina Maharani Kontributor Fungsi Asesmen Ekonomi dan Surveillance Fungsi Data Statistik Ekonomi dan Keuangan Fungsi Komunikasi dan Koordinasi Kebijakan Fungsi Pelaksanaan dan Pengembangan UMKM Fungsi Perizinan dan Pengawasan SPPUR Fungsi Keuangan Inklusif dan Perlindungan Konsumen Produksi dan Distribusi Asriandi

Tim Advisory Ekonomi dan Keuangan Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sumatera Selatan Jl. Jend. Sudirman No.510, Palembang Telp : 0711 - 354188 ext 8205, 8218, 8247 Faks : 0711 – 312013 Versi softcopy buku ini dapat diunduh melalui www.bi.go.id

84

LAPORAN PEREKONOMIAN PROVINSI SUMATERA SELATAN NOVEMBER 2020


Turn static files into dynamic content formats.

Create a flipbook
Issuu converts static files into: digital portfolios, online yearbooks, online catalogs, digital photo albums and more. Sign up and create your flipbook.