PURAKASASTRA | SEPTEMBER 2015
0
DAFTAR ISI
03
09
05
03 CATATAN ANOMALI CATATAN ANOMALI Produk Budaya?
Produk budaya?
05 PARASASTRA Biografi Budayawan Rabindranath Tagore
LENTERASASTRA Kritik Sastra dan Peningkatan Kualitas
09 KAJIAN SASTRA
PARASASTRA Rabindranath Tagore
26 LENTERASASTRA
Go’et: Seni sastra masyarakat Manggarai, Rima
14 PURAKARYA Evolusi gemah ripah loh jinawi, Ku tak mau bila, bila ku, Ayah, Coretan yang susah dipahami, Puisiku, Hanyalah mimpi, Penanti lelaki senja, Kisah gadis praktura, Kembang menyan
Kritik sastra dan peningkatan kualitas, Proses kreatif dari punya ke punya
31 SASTRACYBER Sastra lama dan budayanya, Tolok ukur sebuah bahasa
KAJIAN SASTRA Go’et: Seni Sastra Masyarakat Manggarai
36 INFOSASTRA Ngamen sastra untuk bumi dan budaya, Forum lingkar pena Hongkong, Kemah sastra PURAKASASTRA | SEPTEMBER 2015 1 di kebun teh Medini
DARI REDAKSI
Salam sastra dan budaya
REDAKSI
Majalah Purakasastra kembali hadir di hadapan Anda. Tema yang diangkat dalam Edisi 5 adalah sastra dan budaya. Sejatinya, antara sastra dan budaya memiliki tautan yang intim. Mereka dipikirkan seolah-olah menjadi satu. Kesatuan itu, memberi cara berpikir soal keterikatan yang kokoh antara keduanya. Artinya, sastra merupakan ekspresi dan luapan budaya. Lantas, apa yang diulas oleh sastra, memiliki karakter budaya yang kuat.
Pemimpin Umum Manaek Sinaga
Selain itu, sejarah sastra tidak terlepas dari sejarah budaya. Sastra secara cemerlang mengulas ekspresi budaya, melalui seni, teater, percakapan lisan dan tulisan. Ulasan inilah, yang dituangkan dalam majalah edisi kali ini. Sangat menarik dan memberi wawasan baru bagi para pembaca. Selamat membaca
Redaksi
Pemimpin Redaksi Rizal Wakil Pemimpin Redaksi Ricky Richard Sehajun Redaktur Pelaksana Muhammad Ridwan Kholis Dewan Redaksi Adi Septa Suganda Ade Junita Dian Rusdi Yessy Oktaviani Nurul Latifa Elfridus Silman Syaihun Nafahad Riska Hermawati Ellyas Rawamaju Nilam Ikhwani Sakdiah Renaning H. Deni Gorg Desain Artistik Karna Mustaqim Kontak Redaksi redaksipuraka@gmail.com
Purakasastra adalah majalah sastra independen yang turut serta dalam usaha membangun dan mengembangkan dunia kesusastraan nasional yang menghormati religiusitas/ norma agama dan menjunjung tinggi keberagamaan. Majalah Purakasastra menerima sumbangan naskah untuk dipublikasikan melalui media ini. Sumbangan naskah tsb dapat berupa kajian sastra, liputan kegiatan sastra, tips menulis, karya sastra, resensi buku, foto artistik dan lain-lain. Naskah tulisan atau foto/ ilustrasi yang dikirim ke majalah Purakasastra harus orisinal (asli), tidak menjiplak, dan tidak mengandung unsur kekerasan, atau pornografi. Penulis atau pengirim foto/ ilustrasi bertanggung jawab penuh atas orisinalitas naskah tulisannya atau orisinalitas foto/ ilustrasi yang dikirim ke Redaksi. Redaksi berhak menyunting naskah tulisan dan memodifikasi/ membuang bagian-bagian tertentu dari foto/ ilustrasi bila diperlukan. purakasastra @purakasastra majalahpurakasastra purakasastra.blogspot.com Foto sampul oleh Latifa.
PURAKASASTRA | SEPTEMBER 2015 2 Lokasi foto: Gunung Banyak Angkrem, Salaman, Magelang
CATATAN ANOMALI
foto karya Manaek Sinaga
oleh Ricky Richard Sehajun
ajah bumi hampir kehilangan makna transenden. Setiap hari, disuguhi patahan-patahan tubrukan masalah yang meriggis jiwa. Bumi dipasung tangisan pilu yang sangat memilukan. Semua itu adalah ulah sang akal budi yang tidak mengindahkan nilai budaya. Keluhuran nilai budaya dicincang dengan sayatan-sayatan intelektual yang kedengaran logis dan sistematis. Ini kemelut manusia Indonesia. Dan Sastra berpijar pada bumi yang diguncang kemelut kemanusiaan itu. Sastra punya konteks. Konteks terpaut ruang dan waktu. Bingkai ruang dan waktu menempatkan sastra terjamah nalar. Bisa dikupas walau tak jua tuntas. Selalu ada tanya di atas tanya. Tampilan tanya kerap menyertakan hal problematis. Juga, muncul hal emblematis yang meneguhkan atau pun menggoncang makna sebuah karya sastra.
Hal problematis dan emblematis bisa berada
pada
lajur
budaya.
Budaya
memeroduksi sastra. Jadi, lahirnya karya sastra selalu membawa tautan budaya, psikologi penulis, pembaca dan penafsir. Tautan tersebut memeroduksi
pesona aliran dalam sastra.
Seperti, sastra lisan dan sastra tulis. Sejatinya, sastra tulis adalah kristalisasi dari sastra lisan. Pola kristalisasi itu, berkaitan erat dengan sejarah peradaban manusia.
Soal kupasan
peradaban manusia, logika manusia seolaholah dipaksa untuk berpikir tentang budaya. Yang
dipikirkan
wajib
terarah
pada
kelihatan
tidak
perwujudan sikap beradab. Manusia,
banyak
beradab. Sastra lahir persis dalam situasi ketidakberadaban. Maka, pantas dimengerti kalau karya sastra muncul sebagai auto kritik terhadap pola kehidupan yang tidak beradab. PURAKASASTRA | SEPTEMBER 2015
3
CATATAN ANOMALI
Pertanyaan
provokatifnya
adalah
Indonesia dipenuhi kisah paradoksal. Apakah
mampukah sastra mendobrak kemapanan
paradoksal
ketidakberadaban itu menjadi adab? Hanya
globalisasi? Produk intrik politik ataukah
dalam ruang dan waktu tak tentu,
produk jiwa materialisme? Seperti gambaran
kita
mendambakan jawaban “mampu”. Menjadi
“mampu”
itu,
ketimpangan
bukan
perkara
produk
budaya
atau
budaya materialis. Jika beban
ekonomi makin berat, itu bisa merambat pada
lingkaran kemampuan yang datang secara
tindakan
mukjizat. Tiba-tiba muncul. Tiba-tiba meraung.
mahasiswa
Seperti cetaran kilat. Menjadi “mampu” butuh
kedamaian dan kebijakan malah berakhir
proses. Berjalan dari ruang ke ruang dan
dengan adegan tawuran yang merugikan. Para
waktu ke waktu. Budaya menjadi tata formatif
pejabat sibuk mencari pangkat, urusan sepak
dan non formatif dalam proses tersebut.
bola menjadi terbengkalai.
Budaya
terhadap
berpihak pada siapa dan pada apa? Berkata
perbedaan. Namun, manusia yang diilhami
karena budaya atau menulis karena budaya? φ
tidak
pernah
protes
anarkis. sekarang,
Lihatlah,
Seringkali
alih-alih
mencari
Para sastrawan
oleh budayalah, yang melancarkan protes atas perbedaan.
Protes
lisan
dan
tulisan,
digaungkan dengan gegap gempita. Bingung
juga,
dalam
menentukan
kepastian atas alasan mendasar dari sebuah protes. Pemerotes dan yang diproses selalu punya cukup alasan untuk meraih traktat kemenangan. Parahnya, kemenangan tidak selalu
ditempuh
dengan
jiwa
rohaniah.
Orientasi terarah pada kemenangan mutlak. Tidak peduli bagaimana cara meraihnya. Gerakan hati nurani, moral dan etika seakanakan tidak lagi menjadi sebuah kekuatan luar biasa. Lantas, manusia berbudaya menjelma
foto karya Muh Herjan
menjadi tak berbudaya. Paradoksal, bukan?
PURAKASASTRA | SEPTEMBER 2015
4
PARASASTRA
RABINDRANATH TAGORE nobelprize.org
abindranath Tagore atau dalam bahasa Bengali Rabindranath Thakur, lahir di Jorasanko, Calcutta, India pada 7 Mei 1861. Kemudian meninggal di Santi-Niketan tanggal 7 Agustus 1941 dalam usianya yang ke delapan puluh (80) tahun[ᵞ]. Tagore, yang juga dikenal dengan nama Gurudev[ᵟ], adalah seorang Brahmo Samaj, penyair, dramawan, filsuf, seniman, musikus, dan sastrawan Bengali. Ia terlahir dalam keluarga Brahmana daerah Bengali, daerah di anakbenua India (antara India dan Bangladesh). Tagore memiliki nama kecil Rabi, ia putra dari Debendranath Tagore dan Sarada Devi[ᵋ], anak bungsu dari empat belas bersaudara. Setelah menjalani upacara Upanayanam di usia sebelas tahun (sebuah prosesi upacara yang menandai seorang anak laki-laki untuk memasuki masa Brahmacari, masa menuntut ilmu), Tagore meninggalkan Kolkata bersama ayahnya.
foto karya Adi Septa Suganda
Mereka mengunjungi Shantiniketan dan Amritsar sebelum kemudian mencapai Dalhousie, bukit peristirahatan di kaki Himalaya. Di sini Tagore belajar ilmu sejarah, perbintangan, pengetahuan modern dan bahasa Sansekerta, mendalami karya sastra klasik dari Kalidasa[¹][²]. Pada usia delapan tahun Tagore mulai menulis puisi, baru pada tahun 1877 ia dengan nama samaran Bhanisingho, yang artinya Singa Matahari menerbitkan puisi panjangnya Maithili dan membawanya menjadi seorang terkemuka. Ia juga menulis Bikharini (Wanita Pengemis) dan Sandya Langit[³][⁴]. Tagore merupakan sastrawan Asia pertama peraih Hadiah Nobel Satra (1913). Tagore bukan hanya seorang penyair tapi merupakan suara pada zamannya. Dunia mengakuinya sebagai suara spiritualis India, masyarakat India menyebutnya sebagai legendaris yang tak tergantikan. Ia menulis beberapa genre sastra seperti cerita pendek, novel, drama dan puisi.
PURAKASASTRA | SEPTEMBER 2015
5
PARASASTRA
Karya puncaknya adalah Gitanjali (Song Offerings) (1910) [⁵] yang membuat ia meraih
Hadiah Nobel Sastra. Disamping Gitanjali, Ia juga menulis sekitar 3000 puisi lainnya, sekitar 2000 nyanyian, delapan novel, empat puluh jilid esai dan beberapa kumpulan cerita pendek serta 50 judul lakon. Ia merupakan penulis yang subur dan mampu memelihara dunia kreatif dalam jangka panjang diselingi berbagai kegiatan dan kerja yang berbedabeda. Mula-mula ia mendapat pendidikan di rumah (home schooling) dan tinggal di Shilaidaha. Keseringannya melakukan perjalan panjang menjadikan ia sebagai seorang yang pragmatis dan tidak patuh terhadap norma sosial dan adat yang ada. Rasa kecewanya terhadap British Raj membuat Tagore memberikan dukungannya terhadap Gerakan Kemerdekaan India dan berteman dengan Mahatma Gandhi. Juga dikarenakan rasa kehilangannya atas segenap keluarga, serta kurangnya penghargaan dari Benggala terhadap karya besarnya, Universitas VisvaBharati. Tagore sempat melanjutkan pendidikan formal dalam bidang hukum di Inggris (18781880). Namun pendidikan formal ini tidak diselesaikan karena mesti pulang, ayahnya menjodohkan Tagore dengan Mrinalini Devi, lalu menikah di 9 Desember 1883, memiliki enam orang anak yang empat diantaranya meninggal sebelum dewasa[⁶]. Setelah kembali ke India ia sangat tersentuh oleh kemiskinan dan rendahnya pendidikan. Tahun 1890 Tagore mengelola usaha keluarga di Shelidah, wilayah yang sekarang termasuk negara bagian Bangladesh. Dikenal dengan Zamindar Bambu Tagore melakukan perjalanan melintasi perkebunan luas untuk mengumpulkan uang sewa serta memberi berkat kepada penduduk desa[⁷].Dalam periode ini ia berada dalam masa-masa produktif. Ada lebih dari setengah dari tiga volume dan delapan puluh empat karya Glpaguchchha ditulis[⁴].
Gayanya ironi dan emosional, begitu kental ketika menggambarkan kehidupan pedesaan di Benggala[⁸]. Tahun 1901 Tagore pindah ke Shantiniketan (Benggala Barat) dan tinggal di Ashram. Di sini ia mendirikan lembaga pendidikan alternative, sebuah sekolah percobaan di ruang terbuka dengan pohon rindang, taman yang indah, dan perpustakaan[⁹] sebagai upaya meningkatkan sumber daya manusia. Tagore bukan hanya sastrawan ternama, seorang reformis kebudayaan dan polymath, ia juga seorang patriot, pejuang kemanusiaan, ahli sastra, komponis, ahli pendidikan, pelopor perubahan social dan pelukis. Lirik-lirik Tagore bercorak ketuhanan dan puisi-puisinya yang relijius universal itu mampu menyentuh hati dan perasaan kemanusiaan manusia di seluruh muka bumi. Sebuah puisinya “Janaganamana” diaransemen musiknya oleh H.Nuril dan menjadi lagu kebangsaan India. Sementara Amar Shonar Bangla diambil menjadi lagu kebangsaan Bangladesh. Di Shantiniketan ini istri dan dua orang anaknya meninggal. Disusul ayahnya pada tahun 1905 yang membuat ia menerima uang bulanan sebagai bagian dari warisan orangtuanya. Pada tahun 1915 Tagore menerima gelas kebangsawanan dari Kerajaan Inggris, namun kemudian dilepasnya sebagai bentuk protes terhadap pembantaian massal di Armtisar, di mana tentara kolonial melakukan penembakan terhadap rakyat sipil tanpa senjata, membunuh sebanyak kurang lebih 379 orang. Pada tahun 1921 bersama Leonard Elmhirst, seorang pakar ekonomi pertanian, ia mendirikan sekolah di Surul, bernama Shriniketan dengan maksud menyediakan tempat alternatif gerakan Swaraj yang digalang Mahatma Gandhi[¹⁰]. Ia merekrut sarjana dan penyumbang dana untuk menjalankan sekolah ini. Ia berusaha membebaskan rakyat dari kemiskinan dan kebodohan dengan terus memperkuat diri di sektor pendidikan.
PURAKASASTRA | SEPTEMBER 2015
6
PARASASTRA
[¹¹][¹²] Tahun 1930an ia mulai memberi perhatian lebih terhadap kaum Dalit (kaum kasta rendahan). [¹³][¹⁴] Tahun 1937 sampai akhir kematiannya, penyakit yang lama diderita Tagore mulai kronis. Dimulai ketika ia kehilangan kesadaran di tahun ini; koma dalam waktu yang panjang dan hampir meninggal. Dan di tahun 1940 ia kambuh dan tidak pernah pulih lagi. puisipuisi yang ditulis Tagore pada tahun-tahun ini adalah salah satu yang paling indah dan menonjol. Perhatiannya terhadap kematian lebih mendalam dan mistis membuatnya dicap sebagai penyair modern. Hari kematiannya diperingati dalam acara-acara publik di seluruh dunia berbahasa Bengali. Karya-karya Tagore memperlihatkan simbol alamnya yang murni dikombinasikan dengan suasana relijius. Cinta dan kemanusiaan bersatu dalam komposisi yang dinyatakan dengan indah. Meskipun ia juga terjun ke dunia politik dan sosial, puisipuisinya mampu berdiri kukuh dalam bentuk yang utuh tanpa dicemari oleh protes yang melengking dan goncangan kehidupan yang bobrok. Ia amat tenang dan seperti arus yang mengalir dari bawah, tidak memperlihatkan riaknya di permukaan, tetapi semua karyanya menyayat dasar jiwa pembacanya, membawa renungan tentang kehidupan, renungan tentang masyarakat, bangsa dan negara. Tagore bukan hanya berbicara tapi juga ia pelaku pejuang kemanusiaan. Tagore menulis delapan novel dan empat novela termasuk diantaranya Chaturanga,
Shesher Kobita, Char Odhay dan Noukadubi. Manasi (1890), Sonar Tari (1894), Gitimalya(1914), A Flight of Swans(1914) dan novel Gora (1910), berikut sejumlah kumpulan cerita pendek dan lakon seperti Sacrifice (1890), The King of The Dark Chamber (1910), Chitra (1892), Post Office (1912), Ghare Baire (1916),Yogayog (1929). Pada akhir hayatnya ia menulis drama tari berjudul Shyama (1939) yang menampilkan persoalan keagamaan.
Tagore mencipta sekitar 2.230 lagu. Termasuk diantaranya Rabindrasangit (dalam bahasa Inggris disebut Tagore Song). Di usia enambelas tahun Tagore mulai menggambar dan melukis, ia tampil dalam sebuah pameran di Paris atas desakan para seniman. Tagore juga menyusun 15 jilid tulisan, termasuk karya-karya prosa liris Punashcha (1932), Shes Saptak (1935), dan Patraput (1936), ia terus bereksperimen dengan mengembangkan lagu prosa dan sendratari, teramsuk Chitrangada (1914). Dalam teater ia memulainya di usia enambelas tahun juga, mendapatkan peran utama dalam sebuah karya adaptasi berjudul Moliere L Bourgeois Gentilhomme. Di usia dua puluh tahun ia menulis drama-opera Valmiki Pratibha (Sang Jenius Walmiki), bagaimana seorang bandit Walmiki memperbaiki hidupnya, mendapat anugerah Saraswati, dan menggubah Ramayana, Dak Ghar (Kantor Pos), Chandalika (Gadis Yang Tak Tersentuh), Visarjan (Pengorbanan Suci) –drama terbaiknya di tahun 1890, dan sebagainya. φ Karya Dalam Bahasa bengali Puisi: 1. Manasi, 1890 (The Ideal One) 2. Sonar Tari, 1894 (The Golden Boat) 3. Gitanjali, 1910 (Song Offerings) 4. Gitimalya, 1914 (Wreath of Song) 5. Balaka, 1916 (The Flight of Cranes) Drama 1. Valmiki Pratibha, 1881 (The Genious of Walmiki) 2. Visarja, 1890 (The Sacrifice) 3. Raja,1910 (The King of the Dark Chamber) 4. Dak Ghar, 1912 (The Post Office) 5. Achalayatan, 1912 (The Immovable) 6. Muktadhara, 1922 (The Waterfall) 7. Raktakaravi, 1926 (Red Oleanders) Fiksi 1. Nastanirh, 1901 (The Broken Nest) 2. Gora, 1910 (Fair-Faced) 3. Ghare Baire, 1916 (The Home and the World) 4. Yogayog, 1929 (Crosscurrents)
PURAKASASTRA | SEPTEMBER 2015
7
PARASASTRA
Otobiografi 1. Jivansmriti, 1912 (My Reminiscences) 2. Chhelebela, 1940 (My Boyhood Days) Diterjemahkan dalam Bahasa Inggris 1. Chitra, 1914[²⁰] 2. Creative Unity, 1922 3. Fruit Gathering, 1916 4. Gitanjali: Song Offerings, 1912 5. Glimpses of Bengal, 1991 6. I Want Let You Go: Selected Poems, 1991 7. My Boyhood Days, 1943 8. My Reminiscences, 1991 9. Nasionalism, 1991 10. The Crescent Moon, 1913 11. The Fugitive, 1921 12. The Gardener, 1913 13. The Home and the World, 1985 14. The Hungry Stones and other stories, 1916 15. The Post Office, 1996 16. Sadhana: The Realisation of Life, 1913 17. Selected Letters, 1997 18. Selected Poems, 1994 19. Selected Short Stories, 1991 20. Songs of Kabir, 1915 21. Stray Birds, 1916 Karya dalam Bahasa Inggris 1. Thought Relics, 1921
Referensi 1. Chakravarty, A (1961), A Tagore Reader, Beacon Press, ISBN 0-80705971-4 2. Duta, K&Robinson, A (1995), Rabindranath Tagore: The MyriadMinded Man, St. Martin’s Press, ISBN 0312-14030-4 3. Hijärne, H (1913), “The Nobel Prize In Literature 1913”, Nobel Foundation 4. Stewart, T&Twichell, Chase(2003), Rabindranath Tagore: Lover of God, Copper Canyon Press, ISBN 1-55659196-9
Simbol [ᵞ] Dalam Kalender Bangla: 25 Baishakh, 126822 Srabon, 1348 [ᵟ] Gurudev berarti penasehat Agung [ᵋ] Tagore lahir di Dwarkanath Tagore Lane, No. 6, Jorasanko (Jorasanko Thakurbari)
Catatan Kaki [¹] Dutta & Robinson 1995, hlm 55-56 [²] Stewart &Twichell 2003, hlm 91 [³]ᵃᵇᶜᵈᵉChakravarty 1961, hlm 45 [⁴]Dutta & Robinson 1997, hlm 265 [⁵] Hijärne 1913 [⁶]Dutta & Robinson 1995, hlm 373 [⁷]Dutta & Robinson 1995, hlm 109-111
foto karya Rudi
[⁸]Dutta & Robinson 1995, hlm 109 [⁹]Dutta & Robinson 1995, hlm 239-240 [¹⁰]Dutta & Robinson 1995, hlm 242 [¹¹]Dutta & Robinson 1995, hlm 308-309 [¹²]Dutta & Robinson 1995, hlm 303 [¹³]Dutta & Robinson 1995, hlm 309 [¹⁴]ᵃᵇ Chakravarty 1961, hlm 123 PURAKASASTRA | SEPTEMBER 2015
8
KAJIAN SASTRA
GO’ET:
SENI SASTRA MASYARAKAT MANGGARAI foto karya Latifa
radisi tulisan umumnya terbentuk dari tradisi lisan. Tradisi tulisan sering disebut sebagai tradisi lisan yang dibekukan. Itu bukanlah suatu hal yang mengherankan. Kemampuan manusia dalam berkomunikasi dan berbahasa lahir dari kesanggupannya untuk mengerti dan memahami tradisi lisan. Apa yang diterima dan diperoleh dari tradisi lisan itu umumnya dibekukan dalam tulisan guna mengingat dan melestarikannya. Kita mestinya tidak boleh terjebak dalam persoalan tentang apakah yang lebih dahulu ada, bahasa ataukah manusia? Setiap manusia yang lahir selalu mewarisi bahasa dari orang tua, keluarga, masyarakat dan negara. Ia tidak akan menciptakan bahasa baru baginya. Ia hanya menerima dan meneruskan bahasa yang telah diwariskan baginya. Pewarisan bahasa itu umumnya dilakukan secara lisan. Komunikasi lisan antara orang-orang yang di sekitarnya turut membentuk kepribadian, pemahaman dan tingkah lakunya.
Bentuk komunikasi lisan dalam pewarisan bahasa juga menyentuh dunia sastra. Bagaimanapun juga, seni sastra tiap bangsa dibentuk dari tradisi lisan itu sendiri. Negara Indonesia yang terdiri dari beragam pulau, suku, bahasa, dan daerah pun tidak luput dari pengaruh tradisi lisan ini. Karya-karya sastra termasyur dan mencengangkan dari anak bangsa lahir dari pengaruh tradisi lisan ini. Seni Puisi, Prosa, dan Drama tidak dengan sendirinya lahir begitu saja. Ketiganya dibentuk dari kearifan lokal yang sangat kaya dan beragam di bumi pertiwi ini. Salah satu contoh yang hemat saya menjadi simbol dari pentingnya tradisi lisan untuk pembentukan seni sastra ialah Go’et yang ada dalam budaya Manggarai. Go’et umumnya sering diartikan sebagai peribahasa. Namun, arti yang sesungguhnya lebih dari itu. Hal ini berkaitan dengan makna dan nilai pedagogis yang ada dalam go’et itu sendiri. Go’et dalam budaya Manggarai pun tidak digunakan secara bebas. Go’et sering digunakan dalam pembicaraan resmi (upacara adat) yang berorientasi untuk mendidik dan mengajar namun secara implisit. Artinya ialah, makna, maksud, dan nilai yang hendak diajarkan tidak disampaikan secara gamblang. PURAKASASTRA | SEPTEMBER 2015
9
KAJIAN SASTRA
Struktur dan bentuk Go’et umumnya tidak terlalu rumit dan sulit. Strukturnya hampir sama dengan gurindam. Go’et umumnya hanya terdiri dari dua baris dan bahkan ada yang terdiri dari satu baris. Tiap baris pun hanya berisi satu kalimat. Baris pertama umumnya memuat gambaran dan makna yang akan dipertegas dalam baris kedua. Baris kedua merupakan nilai, makna dan isi yang ingin diajarkan. Isi dan pesan yang hendak disampaikan lewat go’et menyentuh berbagai dimensi kehidupan manusia pada umumnya dan masyarakat Manggarai pada khususnya. Setiap persolan yang sering timbul dalam masyarakat Manggarai pada umumnya dapat kita temukan dalam go’et. Hubungan keluarga, hubungan antar sesama dalam masyarakat, sikap orang tua terhadap anak, sikap anak terhadap orang tua serta berbagai bentuk tindak-tanduk hidup manusia dalam masyarakat lainnya umumnya termuat dalam go’et. Oleh karena itu, go’et yang ada dalam budaya Manggarai lahir dari situasi dan persoalan hidup masyarakat Manggarai sendiri dan disandingkan dengan realitas alam yang tampil memesona sebagai bentuk pengajarannya. Kesatuan masyarakat Manggarai dengan alam tercermin dalam kata-kata yang ada dalam go’et. Nilai dan ajaran yang ada dalam go’et umumnya bersumber pada nilai dan ajaran yang diyakini orang Manggarai ada dalam alam. Orang Manggarai selalu memandang bahwa alam menjadi contoh harmonisasi kehidupan bagi manusia. Semua yang ada dalam alam berjalan secara harmonis tanpa adanya relasi saling menguasai dan menghilangkan satu sama lain. Itulah gambaran hidup yang harmonis yang sejatinya harus dihidupi oleh manusia. Oleh karena itu, masyarakat Manggarai berusaha agar menjalani hidup sesuai dengan apa yang diajarkan alam sehingga kehidupan
bersama sungguh dijalankan dalam keadaan damai. Cita-cita orang Manggarai untuk hidup selaras dengan alam tertuang dalam go’et. Melalui go’et itulah orang Manggarai berusaha untuk mengajar kepada generasi berikutnya betapa pentingnya membangun hidup bersama yang aman, harmonis dan damai. Salah satu contoh go’et yang menggambarkan betapa pentingnya hidup dalam persatuan yakni, nekabehasneho kena. Secara harafiah diartikan sebagai “bersatulah seperti pagar”. Pagar dalam konteks ini tidaklah seperti pagar yang seperti kita liat di perumahan modern sekarang. Pagar dalam masyarakat Manggarai terbuat dari barisan batang kayu yang banyak yang diikat dengan tali. Pagar itu berfungsi selain untuk menjadi pembatas kebun juga untuk menjaga seluruh tanaman yang ada di dalam kebun dari serangan binatang dan manusia lain yang berusaha untuk mencurinya. Maka bisa dibayangkan bahwa jika salah satu dari kayu-kayu yang berderet itu tercabut (behas) maka binatang ataupun manusia dengan mudah bisa masuk ke dalam kebun itu untuk mencuri hasil-hasil kebun itu. Oleh karena itu, gambaran persatuan orang Manggarai digambarkan dengan pagar (kena). Contoh di atas merupakan salah satu dari beragam seni go’et orang Manggarai dalam mengajarkan nilai kehidupan ke generasi berikutnya. Akan tetapi, kesenian itu telah tenggelam dimakan waktu. Generasi muda Manggarai kini telah lupa akan segala go’et yang menjadi ciri khas tradisi lisan orang Manggarai dalam mengajar dan mendidik. Sayangnya bahwa tidak banyak penulis Manggarai yang berusaha untuk melestarikan semua go’et itu yang merupakan salah satu bentuk
PURAKASASTRA | SEPTEMBER 2015
10
KAJIAN SASTRA
seni sastra masyarakat Manggarai. Hal ini semakin didukung oleh tidak adanya minat dari generasi muda masyarakat Manggarai dalam mengingat go’et-go’et yang diajarkan oleh generasi terdahulu. Adanya tradisi lisan yang menjadi asal dan sumber lahirnya karya sastra menunjukkan bahwa antara budaya dan karya sastra memiliki hubungan yang erat dan tak terpisahkan. Bahasa- baik verbal maupun tulisan- tidak boleh dilepaskan dari budaya. Ia merupakan bagian dari budaya. Budaya suatu masyarakat ditentukan pula oleh bahasa yang mereka gunakan. Oleh karena itu, melepaskan karya sastra dari budaya masyarakat mengakibatkan hilangnya makna dari karya sastra itu sendiri. Kita harus mengakui bahwa pengaruh budaya terhadap lahirnya karya sastra sangatlah tinggi. Budaya masyarakatlah yang menjadi dasar pijakan bagi manusia untuk mengaktualisasi dan merealisasikan diri dan hidupnya. Wujud realisasi itu terungkap dalam dan melalui bahasa. Bahasa sebagai bagian dari budaya menjadi tempat bagi manusia pribadi dan masyarakat mengungkapkan peradaban mereka. Melalui bahasa pulalah kita akan mengenal betapa tinggi atau rendahnya peradaban suatu masyarakat. Go’et yang merupakan tradisi lisan masyarakat Manggarai menjadi contoh pengaruh budaya terhadap lahirnya karya sastra. Seni puisi dan pendidikan orang Manggarai tidak akan bisa dipahami jika tidak mampu mengerti go’et yang ada dalam masyarakat Manggarai. Oleh karena itu, memahami betapa seninya suatu karya sastra tidak boleh dilepaskan dari budaya tempat sastra itu dilahirkan. Mutu suatu karya seni akan dengan mudah dipahami jika budaya tempat karya seni itu dilahirkan dikenal dengan baik.
Pemaknaan serta nilai yang ada dalam karya seni tidak mungkin tercipta tanpa ada kaitannya dengan budaya. Pengaruh budaya terhadap karya sastra mewujud dalam simbol-simbol yang digunakan oleh karya sastra. Simbol-simbol yang digunakan pastinya hanya akan dipahami lewat budaya yang menjadi asal dan sumber simbol-simbol itu. Dengan demikian, isi dan mutu karya sastra bisa dipahami dengan baik. Pentingnya budaya bagi lahirnya karya sastra menyadarkan kita akan pentingnya melestarikan budaya. Budaya bukanlah barang kuno yang telah habis masa berlakunya. Ia merupakan nadi bagi perkembangan peradaban masyarakat. Tanpa budaya, suatu masyarakat akan berjalan tanpa arah. Masyarakat akan kehilangan seluruh identitasnya jika tidak menyandarkan diri pada budaya. Melestarikan budaya lewat karya sastra merupakan suatu langkah maju yang patut diapresiasi. Itulah langkah terbaik agar masyarakat tidak lupa akan peradabannya sendiri. Pentingnya karya sastra dalam melestarikan budaya masyarakat merupakan suatu kebutuhan mendesak saat ini. Karya sastra sebagai bagian dari budaya haruslah menjadi pion yang mampu melestarikan budaya itu sendiri. Rendahnya minat generasi muda untuk mengenal, mempelajari serta menghidupkan budaya sendiri haruslah segera di atasi. Amnesia massal itulah yang menghantar masyarakat jauh dari peradabannya sendiri. Seni sastra yang lahir dari kebudayaan itu sendiri mau tidak mau harus memikul beban dan tugas yang berat itu. Sebab, relasi antara keduanya tidaklah saling menghilangkan. Keduanya saling membangun dan melestarikan satu sama lain. φ
PURAKASASTRA | SEPTEMBER 2015
11
KAJIAN SASTRA
oleh Ricky Richard Sehajun
I. Pengantar Banyak yang belum mengetahui seluk beluk rima dalam puisi. Diskusi menarik kerap kali ditimbulkan dari persoalan ini. Barangkali ada yang bilang bahwa rima itu hanya berkaitan dengan suku kata (haruf) terakhir pada setiap bait puisi. Padahal rima, memiliki banyak jenis dan menempati posisi tertentu dalam tubuh puisi. II. Rima dan Irama Dalam puisi, bunyi dibentuk oleh rima dan irama. Rima adalah bunyi yang ditimbulkan oleh huruf atau kata-kata dalam larik dan bait. Rima kerap juga dimengerti sebagai persamaan bunyi dalam puisi. Soal rima erat tautannya dengan irama. Irama disebut juga ritme. Irama dalam puisi dimengerti sebagai alunan bunyi pergantian tinggi-rendah, panjang-pendek, keras- lembut. Irama dicuatkan karena adanya rima yang ditimbulkan dari perulangan bunyi secara berturut-turut dan bervariasi. Misalnya, tersembul dari pengulangan kata per-larik, pengulangan kata perbait.
Tekanan-tekanan kata atau pun huruf yang bergantian, keras-lembut (setiap larik dan setiap bait) karena muatan huruf konsonan dan vokal. Jadi, rima dimengerti sebagai satu unsur pembentuk irama. Tetapi irama tidak mutlak dibentuk oleh rima. Rima dan irama inilah yang menyembulkan seni musikalisasi pada puisi. III. Jenis- jenis Rima A. Dari segi jenis 1. Rima sempurna: persamaan bunyi pada suku-suku kata terakhir. 2. Rima tak sempurna: persamaan bunyi yang terdapat pada sebagian suku kata terakhir. 3. Rima mutlak: persamaan bunyi yang terdapat pada kata setiap larik secara mutlak (suku kata) 4. Rima terbuka: persamaan bunyi yang terdapat pada suku akhir terbuka atau dengan vokal sama. 5. Rima tertutup: persamaan bunyi yang terdapat pada suku kata tertutup (konsonan).
PURAKASASTRA | SEPTEMBER 2015
12
KAJIAN SASTRA
6. Rima aliterasi: persamaan bunyi yang terdapat pada bunyi awal kata pada baris yang sama atau baris yang berlainan. 7. Rima asonansi, yaitu persamaan bunyi yang terdapat pada asonansi vokal tengah kata. 8. Rima disonansi, yaitu persamaan bunyi yang terdapat pada huruf-huruf mati/ konsonan. B. Dari Segi Letak 1. Rima akhir, yaitu persamaan bunyi yang terdapat di akhir baris pada tiap bait puisi. 2. Rima awal, yaitu persamaan bunyi yang terdapat pada awal baris pada tiap bait puisi. 3. Rima tengah, yaitu persamaan bunyi yang terdapat di tengah baris pada bait puisi 4. Rima tegak yaitu persamaan bunyi yang terdapat pada bait-bait puisi yang dilihat secara vertical 5. Rima mutlak: persamaan bunyi yang terdapat pada setiap kata dalam satu bait 6. Rima rangkai/ rima rata, yaitu persamaan bunyi yang tersusun sama pada akhir semua larik (aaaa) 7. Rima sejajar: persamaan bunyi yang berbentuk sebuah kata yang dipakai berulang-ulang pada larik puisi yang mengandung kesejajaran maksud. 8. Rima berpeluk, yaitu persamaan bunyi yang tersusun sama antara akhir larik pertama dan larik keempat, larik kedua dengan larik ketiga (ab-ba) 9. Rima bersilang: persamaan bunyi yang tersusun sama antara akhir larik pertama dengan larik ketiga dan larik kedua dengan larik keempat (ab-ab).
10. Rima datar yaitu persamaan bunyi yang terdapat pada baris puisi secara horisontal 11. Rima patah: persamaan bunyi yang tersusun tidak menentu pada akhir larik-larik puisi (a-b-c-d) 12. Rima kembar/ berpasangan, yaitu persamaan bunyi yang tersusun sama pada akhir dua larik puisi (aa-bb) φ
Sumber-sumber: 1. James Legge
(trans.) Confucius, Mencius, Wu, The Chinese Classics Vol. IV, The She King or The Book of Poetry.
(1871) 2. Hinton, David (2008), Classical Chinese Poetry: An Anthology, New York: Farrar, Straus, and Giroux, 3. Arthur Waley, The Book of Songs: The
Ancient Chinese Classic of Poetry. 4. Yip, Wai-lim (1997), Chinese Poetry: An Anthology of Major Modes and Genres, Durham and London: Duke University Press.
foto karya Latifa
PURAKASASTRA | SEPTEMBER 2015
13
foto: karya Latifa PURAKASASTRA | SEPTEMBER 2015
14
EVOLUSI GEMAH RIPAH LOH JINAWI oleh ELNIOL S. BADRUN TOELKENYOET
sebenarnya bagaimana peduli ditata, jiwa-jiwa berjumlah sekian ratus juta, lemah mejan daya, melongo terkesima, geram tiada bisa apa-apa, dan mereka tertawa matahari, bulan, bintang, langit, dan awan, telah ditawan, gunung, lembah, ngarai, sungai, laut, muka kecut, mbesengut, diikat dengan kabel-kabel baja berserabut kalang kabut, kabut berkalang, kalang kalangan adalah kemiskinan, kesengsaraan, kepayahan, kesejahteraan adalah mimpi yang dikuburkan, dari masa ke masa itulah fosilnya, fatamorgana, impian yang selalu disarankan beban hidupnya membeban, bahkan doa-doa, sayapnya terlalu berat membawa, keikhlasan yang terus mengelus dada, jari jemari tak bisa menghitung berapa kali telah meminta, tengadah tangan ibarat setiap waktu senamnya oi, tak usah repot meminta angin mengkabarkan, sebab telah tertancap di semua otak negeri ini, gemah ripah dikuras tiada henti, masa bergulir dimana ujungnya, oi, di titik penting penjahat-penjahatnya, seakan titah adalah makna, untuk bahagia, untuk cinta, untuk sejahtera, semua kalangan mengatakannya, asal tahu letaknya oi, miskinnya, lusuhnya, kusutnya, masam mukanya, sorot tajam matanya, enggan senyumnya, diamnya, kesabarannya, teriakannya, dan bahkan meracaunya, namun di hati merah putih masih ada, biar pun porak poranda, masih disebut Indonesia Tuhan masih bersamanya, tumbuh subur ladang keikhlasannya, tumbuh subur ladang kesabarannya, tumbuh subur doa-doanya, inikah gemah ripah loh jinawi senyatanya Pekalongan, 2 Febuari 2015, jam 08.45 Wib
PURAKASASTRA | SEPTEMBER 2015
15
KU TAK M AU BI LA, BI LA KU oleh ELNIOLTAK S. BADRUN M TOELKENYOET AU ku tak mau bila negeriku seperti celana, yang lantas dikoyak-koyak dan disobek-sobek, apakah aku harus menanggung malu, mengenakan celana robek-robek, lusuh, nan kotor ku tak mau bila negeriku seperti nasi tersaji di piring, lantas dicacah-cacah, dicampurcampurkan dengan apa saja, apakah aku harus menanggung keterpaksaan memakan nasi yang demikian ini ku tak mau bila negeriku seperti toples tempat kue, namun kosong plong dan diletakkan di atas meja tamu, apakah otakku ini adalah seperti toples kosong, hingga tak tahu malu ku tak mau bila negeriku seperti kerupuk yang mlempem, kerupuk bentuknya, namun tiada kemriuk, gurihnya lenyap, nggak sedap untuk menemani makan nasi, dan walaupun dengan lauk pauk yang lebih enak lagi ku tak mau bila negeriku, seperti kuda tua yang sakit-sakitan, namun disuruh menarik sado, apakah negeri ini sedemikian sengsaranya, siapa yang menyengsarakan. Pekalongan, selasa, 18 febuari 2015, jam 01.25 Wib
PURAKASASTRA | SEPTEMBER 2015
16
AYAH
oleh ELNIOL S. BADRUN TOELKENYOET
ayah, engkau adalah bumimu berdiri yang basah, peluh-peluhmu bersimbah, kau peras semua yang ada pada mu penuh ghirah, hingga peluh-peluh itu adalah keikhlasan cerah, dan ridhoNya menjadi warna-warni pertumbuhan kami yang penuh sumringah ayah, kering kerontang masa tuamu adalah tuanya pemaknaan hidup, yang terus engkau hunjam tanpa sendup, agar hidup ini benar-benar hidup, dan kamilah ketegaran tak pernah redup, di padang kehidupan kini lihatlah kami tak gentar berdegab degub ayah, amarahmu nan lantang, keras dan menakutkan, manakala kenakalan-kenakalan sering bermunculan, adalah rel kereta yang engkau jaga, tak rusak dan semakin kuat, kinilah kehidupan kami melaju seperti kereta, adalah berjalur dan berlajur keselamatan ayah, lelakumu penuh arif, namun bodohnya kekanakan dulu nan naif, tak pernah berkepedulian melihatnya sebagai suritauladan nan konstruktif, kinilah kini, menjadi sejarah tersendiri, ouh, ku kenang kini, jadilah jadi, kearifanmu kesadaran kami, kan ku buka sejarah, agar kearifan adalah pula kami ayah, di liang lahat engkau tirah, damailah, secercah telah menjadi kami semoga nan kaffah, semangat buncerah, nilai-nilaimu ayah, tak kan goyah, meski dunia semakin gerah, lihatlah, jiwa telah menjadi ayah, bercabang ayah, beranak pinak ayah Pekalongan, selasa, 31 maret 2015, jam 06.30 Wib
PURAKASASTRA | SEPTEMBER 2015
17
CORETAN YANG SUSAH DIPAHAMI oleh ELNIOL S. BADRUN TOELKENYOET
hujan ini lebat, menumpuk derasnya, air yang menggenangi kumpulan hati di negeri ini, gelagapan bernafas hingga tak bisa bertanya padahal digenangi air, namun seperti roti yang telah satu jam ada di dalam oven, ukh, negeri yang corat-coretannya tak bisa dibaca, namun demi nasionalisme, semua harus terkesima, meski susah membaca ini bukan puisi, apalagi hujan telah meluruhkan aksara, tenanglah kau bilang, maknamakna tak bakal lepas, sambil tertawa, pandainya membikin keyakinan semua pun sudah mengenalinya, dimana makna, hujan tak melepaskannya, semua mata tertuju ke matahari, tangannya diangkat, kepala geleng-geleng, apa, begitu katanya oh, lantas, Tuhanlah telah memaparkan makna, ya, ya, ya, semua kah, telahkah menemukan, lantas mengapa begitu saja percaya, lihatlah dia tertawa-tawa hujan lagi-lagi deras, rakhmat-Nya, semua siapa saja ternyata, mata tak dibuka, hati tak dibuka, ketika hujan semakin deras, akhirnya pertanyaan yang muncul hanya, mengapa gemetaran Pekalongan, 29 januari 2015, jam 21.20 Wib
PURAKASASTRA | SEPTEMBER 2015
18
PUISIKU oleh ELNIOL S. BADRUN TOELKENYOET
ku tak berani tuk katakan, kata-kata yang terkadang terselubungi, ku hanya berani, bila kata yang berkata, tanpa selubung hati yang lain, namun terkadang, itulah manusia, dan akulah adanya kadang itu, tergelincir aku, dalam kata-kataku, hingga waktu, terlanjur siang dan berlalu, namun bilalah bila, tak mengandung cuma, semoga nan terpanjat, ada harum-harum bersemerbak, lantas turun hujan, beserta rahmat dan barokah bilakah ada, dan perkenan, banyaklah rendah hatiku masih ku kantongi, berbagai maaf terperi mengiringi, ku sebarkan jua, karena sajak-sajak dan puisi, bila milikku, itu pula harimau milikku dan kata-kata, nuansa makna, adalah ramuan mujarab jiwa, namun tiada cerdas, kecuali tiupan Tuhan, di situ adanya, dan omong kosong adalah aku yang dungu puisiku, lipatlah aku, bila tiada indah tiada makna, tiada mafhum, tiada parfum, menguap atau menjelma, siapa terkesima, pun aku sodorkan, semoga perkenan, semoga pula panjatan, cahaya-cahaya menghapus kegelapan Pekalongan, jum'at, 20 febuari, 06.25 Wib
PURAKASASTRA | SEPTEMBER 2015
19
HANYALAH MIMPI oleh HASIYAH AS-SYIFA
Meraung dalam ruang imaji Menerapkan kisah yang tak pernah pasti Tuhan haruskah kisah ini hanya menggantung dalam tarian mimpi? Sedangkan mentari begitu cepat menyeret langkah malam Hingga semuanya hanyalah mimpi yang semu di runjung kelam Inikah malam ataukah lembah yang muram? Mengapa seribu kisah tak mampu kugenggam erat Seakan semuanya mengasap dalam lambaian yang menyeret Tuhan haruskah lembaran kisah hanya indah dalam ruang mimpi? Sedangkan riasan ungu merajam hati Memudarkan kisah abu-abu pada jaring laba-laba Akankah aku hanyalah menjadi pengagum dalam solekan rahasia Ah, terasa berat jiwa ini untuk mengatakan sebuah cinta pada dia yang tak pernah peka! Haruskah aku hanya menjadi wanita hujan penunggu pelangi? Sedang semuanya terasa menyepi Menghalau datangnya cita-cita yang teramat tinggi Tuhan aku ingin segalanya indah di alam nyata Bukan hanya menjadi misteri pada alam yang penuh rekayasa
PURAKASASTRA | SEPTEMBER 2015
20
PENANTI LELAKI SENJA oleh HASIYAH AS-SYIFA
Bersolek dalam alunan doa-doa Menggelar sajadah di hati malam demi sebuah cinta Aku terdiam dalam lamunan sebuah kesetiaan Yang katanya akan tiba dalam kehidupan Inikah nyata, ataukah hanya sebuah perkataan? Menari dalam alunan melodi penuh pilu Akan semuanya akan mengangkat aksara kisah yang bermutu? Sedangkan langkahku begitu kaku Dan bibirku terlalu bisu Tuhan tangkap aku dalam cakar-Mu Karena hanya Engkau yang dapat menumbuhkan sayap-sayap sakinah Yang akan membuatku bahagia bersama lelaki senja yang terbaik disisi-Mu Merajut berbagai kisah dalam penantian seorang lelaki senja Dan aku yakin inilah jawaban yang selama ini menjadi misteri Yang selalu bersolek dalam ratapan malam yang tak bertepi
PURAKASASTRA | SEPTEMBER 2015
21
KISAH GADIS PRAKTURA oleh HASIYAH AS-SYIFA Ketika goresan kata menjadi sumbang Ketika nada-nada kisah menjadi gersang Kabut nestapa kembali menari bersama gumpalan mega Suara parau memecah di antara senja yang memasrah Jalan pintas sudah kulalui Jalan alternative sudah kujalani Namun mengapa sakit tertancap dalam hati Teringat akan gulungan kisah yang sudah empat tahun kugulung Mengundang nestapa yang begitu berlipat dan menghujam Tatkala teringat kisah ketika praktura yang pernah kusandang Hanya ayah, dan ibu yang setia membaluti lukaku Yang setia menerima setiap kisah-kisahku yang begitu menguras air mata Seorang yang setia memperkenalkan aku pada aksara yang bermutu Kini hanya duduk manis dan membisu Tanpa peduli akan goresan pilu yang merajam langkahku Aku diam dalam tangisan lukaku bersama infus yang menjalar di dalam syarafku Sedangkan kau hanya terdiam kaku tanpa pedulikan sakitku Hanyalah ibu, dan ayah yang peduli akan sakitku Namun mengapa kau hanya bisa membawaku Dan lari dari tanggung jawabmu ketika aku terjungkal pada kenaasan yang menyandangku Waru pamekasan 13-Mei-2015
PURAKASASTRA | SEPTEMBER 2015
22
PURAKASASTRA | SEPTEMBER 2015
23
foto: karya Veronica
oleh BISARUL IHSAN
agi di sudut kampung masih menyisakan kesunyian berselimut kabut, mendadak ramai oleh kerumunan masyarakat yang sebagian masih berselimutkan sarung menahan dingin yang menusuk kala subuh. “Ini pasti ulah dukun santet,” teriak salah seorang warga dari dalam kerumunan. “Iya, tidak salah lagi. Ini pasti ulah dukun santet,” teriak salah seorang yang lain. Kesunyian berubah menjadi gemuruh suara yang mulai tak jelas apa yang mereka bicarakan, bisik-bisik dengan suara lirih silih pendapat yang tak bisa kumengerti, seperti kode rahasia yang hanya bisa mereka pahami sendiri. Suasana tiba-tiba semakin mencekam seiring dengan suara jeritan tangis yang menyayat membelah kabut yang menghentak sang fajar untuk menampakkan sinar binarnya. Suara wanita paruh baya itu semakin menjadi, sekerumunan warga yang sedari tadi tak henti membicarakan sebungkus kembang menyan beralih fokus dan bergegas menuju sumber suara.
foto: karya Ade Junita
Ternyata tangisan itu dari Mbok Darmi, dia menangis sembari tangannnya mencengkram kuat-kuat lengan anak perempuannya yang sudah bisa di bilang cukup dewasa itu. Berbagai pertanyaan dilontarkan beberapa orang, tapi Mbok Darmi tetap saja menangis menjerit menjadijadi, membuat semua orang yang ada di rumahnya panik. “Arum, Arum sudah tak bernafas lagi,” teriak Mbok Darmi menjelaskan. Sontak warga seketika tercengang tak menyangka Arum meninggal secara tiba-tiba. “Ini pasti ada kaitannya dengan kembang menyan yang ada di samping jembatan tadi.” Gumam salah satu warga yang di ikuti dengan desas-desus lirih silih berganti menyetujui. Salah seorang lagi bergegas lari menuju rumah tetuah desa melaporkan kejadian itu. Setibanya tetuah di rumah Mbok Darmi keadaan sudah riuh ramai bergemuruh. “Arum menjadi korban tumbal dukun santet,” celetuk tetuah pada sekerumunan warga. “Besok, kita harus mengadakan upacara sesembahan kembang tujuh rupa dan darah ayam jago untuk keamanan desa kita agar desa kita terlindungi dan tidak ada korban lagi,” cetus tetuah desa. ***** PURAKASASTRA | SEPTEMBER 2015
24
Keesokan harinya semua warga sudah berkumpul di pinggir jembatan, sementara kembang menyan misterius itu masih dibiarkan utuh tanpa ada satu orang pun yang berani menyentuhnya. Upacara dipimpin langsung oleh tetuah desa, sesajen dan kembang tujuh rupa diletakkan di pinggir kembang menyan misterius, kemudian ayam-ayam jago dipotong dan darahnya di taruh dalam cawan antik. Dupa dinyalakan, tetuah memulai membacakan mantra yang entah apa aku tak mengerti, bahkan mungkin tidak ada yang mengerti artinya kecuali tetuah itu sendiri. Setelah mantra selesai dibacakan cawan yang berisikan darah ayam kemudian disiramkan di atas kembang menyan misterius. Seketika angin bergemuruh menyambar dan memporak-porandakan apa saja yang menghalanginya, tempat sajen meledak bagai ranjau yang terinjak musuh. Menghempaskan semua yang ada di dekatnya termasuk juga tetuah yang terhempas dan seketika juga ia meninggal dunia menyisakan ketakutan dan trauma yang teramat dalam bagi masyarakat. Setelah kejadian itu, keadaan desa menjadi lengang. Setiap malam yang menyambut, tak ada yang berani keluar rumah, semua warga bersembunyi di balik dindingdinding bambu, bahkan suara-suara jangkrik tak lagi terdengar, yang ada hanya suara ketakutan memekik telinga. Hampir setiap pagi ada korban jiwa yang meninggal secara misterius, kali ini bukan anak-anak gadis yang menjadi korban, namun setiap laki-laki dari yang masih anak-anak hingga yang sudah menua. Wanita-wanita banyak yang menjanda, suasana begitu lengang, kebahagiaan berubah menjadi tatapan mata penuh dengan ketakutan yang teramat dalam.
Tak ada jalan keluar, tetuah sudah meninggal. Jika ada yang pergi dari desa, maka pilihannya hanya ada dua, hidup namun menjadi gila, atau mati secara misterius setelah menginjakkan kaki di luar perbatasan kampung. Orang-orang masih sibuk dengan pertanyaan yang menumpuk di kepala mereka dan tak juga menemukan jawaban. Apakah yang terjadi dengan desa kita? Apakah desa kita terkena kutukan leluhur? Ataukah ini tanda-tanda kiamat akan datang dan menghancurkan desa kita? Sudah sampai di manakah dia, kapankah giliran kita, sampai kapan kita harus menunggu datangnya maut, satu hari, satu jam, atau pada tarikan nafas terakhir kita. Semua orang menunggu tapi tetap tak kunjung tiba. Mereka mulai bangkit dan mencoba melupakan kejadian-kejadian menakutkan yang menimpa mereka. Suara bising teriakan petani yang menyapa mulai terdengar, riuh tawa anak-anak menutup kebisuan. Tak disangka suara gemuruh dari balik bukit mengikuti semangat mereka, semua mata tertuju mengarah pada balik bukit, semangat menjadi was-was, hanya hitungan detik, tak ada waktu lagi seketika bola api menghempas ke tanah pijakan mereka. Meluluh lantakkan semua, wajah-wajah hangus terbakar nyala api dari langit. Tak ada yang tersisa, pagi itu adalah pagi terakhir mereka saling sapa dan tersenyum. φ
Bojonegoro 2015
PURAKASASTRA | SEPTEMBER 2015
25
Kritik Sastra Dan Peningkatan Kualitas Oleh Yusman Nasution Mendengar kata kritik mungkin sebagian orang merasa alergi atau trauma. Sebab di dalam pikiran mereka kritik untuk mencari kesalahan dan kelemahan mereka atau karya mereka. Tetapi sebagian orang lainnya, merasa senang mendapatkan kritik. Alasannya adalah dengan adanya kritik terhadap diri atau karyanya akan memperlihatkan kelebihan dan kekurangan diri atau karyanya. Dengan demikian dia akan berusaha memperbaiki diri atau mengupayakan agar karyanya bisa lebih baik dari yang telah dihasilkannya.
Pada umumnya krisan yang tampil berupa hasil pengamatan dalam teknik penulisan kata atau tegasnya salah ketik (typografi) dan penggunaan EYD. Sedikit sekali yang menyoroti secara mendalam karya tersebut sesuai dengan kaidah dan aturan sastra yang berlaku secara ilmiah.
Demikian pula halnya terhadap perkembangan kesastraan Indonesia. Saat ini sastra di Indonesia boleh dibilang tetap eksis. Para sastrawan senior yang telah mumpuni dalam berkarya, masih aktif menghasilkan karya-karya yang mendapat perhatian dari khalayak sastra di tanah air. Para penyair pun masih kreatif menerbitkan kumpulan puisinya dalam bentuk antologi tunggal ataupun
Foto karya Adi Septa Suganda antologi bersama. Media penerbitan karya sastra selain berupa buku, juga dalam lembar seni/budaya suratkabar nasional dan daerah serta media elektonik dan media online. Media online yang kita kenal sebagai media sosial yang bersifat maya (dunia maya), baik dalam format blog maupun facebook menjadi media yang banyak dimanfaatkan para peminat sastra menyalurkan bakat dan kreasinya. Tidak saja para pemula, tetapi ada juga para penulis dan penyair yang sudah mapan dalam dunia kepenulisan menampilkan karyanya di dunia maya. Fenomena ini menunjukkan perkembangan positif kesastraan yang layak kita apresiasi. Aktivitas literasi di dunia maya ini mendapat support positif dari penerbit indie yang tumbuh menjamur. Penerbit indie itu pun membentuk komunitas-komunitas sastra di bawah naungannya. Penerbit indie dengan komunitas sastranya merekrut para penulis yang berkiprah di grupnya untuk menduduki jabatan penanggung jawab atau administrator penyelenggara berbagai event yang mereka laksanakan bersama komunitasnya. Event-event yang kerap tampil di dunia maya tersebut, antara lain event penulisan puisi, cerpen, cerpen mini, dan novel dengan berbagai tema dan macammacam genre serta esai dengan tema yang telah ditentukan. Selain itu ada juga event penulisan puisi, cerpen, cerpen mini, novel, dan esai atau jenis tulisan lainnya dengan tema yang sepenuhnya PURAKASASTRA | SEPTEMBER 2015
26
LENTERASASTRA
Foto karya Muh Herjan diserahkan kepada para penulis. Para penulis yang mengikuti event bebas mimilih apakah akan menulis cerpen, puisi, cerpen mini atau esai dengan tema pilihannya sendiri. Event-event ini pada umumnya bersifat perlombaan dengan hadiah yang sangat sederhana berupa pulsa 10 – 50 ribu rupiah, voucher penerbitan berkisaran 100 – 250 ribu rupiah ditambah dengan buku hasil event yang diterbitkan, E-sertifikat serta buku lainnya yang pernah diterbitkan oleh penerbit penyelenggara. Tujuannya bukan sekedar untuk menempatkan seorang penulis pada jenjang yang terbaik, tetapi merupakan motivasi semangat para penulis, terutama penulis pemula untuk terus berkreasi. Kritik dan saran Biasanya karya yang diposting dalam dinding status komunitas atau penerbit indie penyelenggara event mendapat respon dari para anggota komunitas itu. Sambutan yang tampil berupa pujian dengan menge-like karya yang disertakan dalam event itu. Sebagian anggota komunitas memberikan kritikan dan saran (krisan) terhadap tulisan itu. Pada umumnya krisan yang tampil berupa hasil pengamatan dalam teknik penulisan kata atau tegasnya salah ketik (typografi) dan penggunaan EYD. Sedikit sekali yang menyoroti secara mendalam karya tersebut sesuai dengan kaidah dan aturan sastra yang berlaku secara ilmiah. Misalnya menyoroti unsur intrinsik dan
Foto karya Muh Herjan unsur ekstrensik karya yang ditanggapi. Padahal sebuah kritik harus bisa dilakukan secara intensif, mendalam sesuai dengan kajian sastra. Hal ini bukan untuk menunjukkan bahwa pemberi krisan memiliki ilmu atau lebih hebat dari orang yang tulisannya dikritik, tetapi untuk saling mengisi agar penulis yang bersangkutan bisa berkembang dan meningkatkan kualitas karyanya. Sayangnya, ada kalanya penulis yang karyanya dikritik merasa tersinggung. Memberikan respon negatif terhadap kritik yang ditujukan pada karyanya. Secara emosional membuka front untuk berdebat yang sering pula keluar dari konteks kritik yang membahas tulisannya. Polemik yang semacam ini menunjukkan ketidaklegowoan penulis yang tulisannya dikritik. Memang tidak semua penulis bersikap seperti itu. Ada juga penulis yang menanggapi positif krisan terhadap tulisannya. Bahkan setelah memposting tulisannya dia mengundang anggota komunitas lainnya untuk menyimak dan memberikan krisan terhadap karyanya. Dia malah berterima kasih kepada orang- orang yang telah memberikan
Kesakitan membuat Anda berpikir. Pikiran membuat Anda bijaksana. Kebijaksanaan membuat kita bisa bertahan dalam hidup. “John Pattrick� PURAKASASTRA | SEPTEMBER 2015
27
LENTERASASTRA
Sejauh mungkin menghindarkan pembunuhan karakter dengan mengulas pribadi dan unsur fisik penulisnya.
krisan terhadap tulisannya. Penulis yang bersikap terbuka terhadap krisan yang ditujukan pada karyanya akan memberikan peluang bagi lahir dan berkembangnya kritikus sastra. Keberadaan kritikus sastra pada dasarnya sangat diharapkan sebagai pemerhati yang benarbenar mempunyai minat dan perhatian terhadap karya sastra. Pada tahun 1960an hingga 1980an kritik sastra di Indonesia berkembang cukup baik. Terutama pada masa HB Jassin secara kreatif memperhatikan karyakarya para sastrawan dan penulis masa itu. Paus sastra ini dengan serius membedah dan menelusuri puisi, cerpen, dan novel karya sastrawan ini secara ilmiah dengan teori-teori dan perkembangan budaya yang sangat dinamis. Bahkan pada masa itu, banyak para penulis yang mengharapkan kritikus sastra itu membedah karya mereka. Dengan demikian, mereka bisa menemukan kelebihan dan kekurangannya untuk diperbaiki ke depan.
agama, dan pendidikan penulis dengan karyanya itu harus dibahas secara etis. Dengan demikian kritik sastra, bukan menafikan karya dan menjelekjelekkan penulis pengalaman hidupnya yang kelam yang sama sekali tidak ada relevansinya dengan karyanya yang sedang dibahas dalam kritik itu. Dengan memahami hal sederhana ini, tentulah kita mengharapkan kembali marak kritik sastra dan para penulis pun terbuka
secara positif terhadap kritik guna meningkatkan kualitas karyanya. Tangerang Selatan, 24 Mei 2015 Biodata penulis: Yusman Nasution lahir di Bandar Baru, Sumatera Utara, 8 Maret 1947. Pendidikan akhir S1 Ilmu Komunikasi dari Institut Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (IISIP) Jakarta. Menulis ditekuninya sejak duduk di bangku SMA tahun 1966. Tulisannya dipublikasikan di berbagai media nasional dan daerah. Meraih juara 3 lomba menulis naskah cerita film Deppen dan Majalah Vista tahun 1997 dan 1998. φ
Etika Mengritik Kritik terhadap sebuah karya sastra seyogyanya ditampilkan secara etis dan santun. Mengungkap kelebihan dan kekurangan karya tersebut. Tidak semata mengkaji kekurangannya tanpa memperlihatkan kelebihannya. Sejauh mungkin menghindarkan pembunuhan karakter dengan mengulas pribadi dan unsur fisik penulisnya. Memang perlu menghubungkan unsur ekstrinsik karya itu berupa latar belakang penulisnya yang mendorong tampilnya tema serta setting dan pesan yang disampaikan melalui karyanya. Relevansi latar belakang sosial, politik,
Jembatan Gantung Rawayan Foto karya Dian Rusdi
PURAKASASTRA | SEPTEMBER 2015
28
LENTERASASTRA
oleh Billah Danuarta
uya ke Puya bercerita tentang arwah-arwah orang Toraja yang sedang dalam proses menuju ke Puya (alam baka). Mereka dihadapkan pada pertanyaan 'kenapa Puya atau surga diciptakan?'. Ide singkat itulah yang pada akhirnya mengantarkan pemuda kelahiran September tahun 1994 ini menjadi juara IV dalam Sayembara Novel DKJ 2014 lalu. Kecintaan sekaligus ketertarikannya pada kebudayaan tanah Toraja itu membuat Faisal Oddang menulis novel Puya Ke Puya. “Ide novel itu sebenarnya sudah lama saya pikirkan dan diam di kepala saya. Agustus 2014 kalau tidak salah, ada Toraja International Festival, kebetulan novel itu, Puya ke Puya mengangkat lokalitas Toraja. Dan kebetulan karena alasan yang sebenarnya klise saya harus pergi ke Toraja sekaligus riset dan menonton TIF. Sepulang dari Toraja, saya menulis novel tersebut selama dua pekan,� tutur mahasiswa semester 6 fakultas Sastra Indonesia Universitas Hasanudin Makassar ini, saat ditanya sejak kapan ide novel itu muncul. Dari penuturannya, dalam menulis novel tersebut, hal-hal yang menjadi penghalang adalah mengatur waktu, secara kegiatannya sebagai mahasiswa dituntut untuk mengerjakan tugas-tugas kuliah yang cukup banyak. Tentu demikian pula hal yang menimpa sebagian besar penulis lainnya. Kepentingan dan kesibukan di dunia nyata sangat menyita waktu, pikiran dan tentu saja tenaga. Hanya saja sejauh apa ia cinta menulis bisa dilihat dari bagaimana ia menyempatkan diri menulis disamping padatnya kegiatan di dunia nyata. Setiap karya, apapun itu tentu ada pesan yang ingin disampaikan. Di sisi lain
pesan dalam sebuah karya merupakan ruh dari karya tersebut. Dalam novel Dari Puya Ke Puya itu pun penulis hendak menyampaikan bahwa perjalan hidup manusia sebenarnya adalah saat memasuki dunia arwah. Hal ini terlihat dalam salah satu bagian novel tersebut yang menceritakan bahwa setiap kali ada warga Tana Toraja yang meninggal maka kerabat yang meninggal tersebut memberi bekal dengan mengadakan upacara Rambu Solo1. Dalam novel itu pula, penyair sekaligus cerpenis ini menceritakan kepercayaan masyarakat Tana Toraja bahwa orang yang meninggal akan melalui sebuah perjalanan pula, karenanya di dalam peti matinya diletakkan berbagai barang sebagai “bekal perjalanan� menuju Puya. Barang-barang tersebut berupa pakaian, bermacam-macam perhiasan dan sejumlah uang. Tidak hanya bekal milik jenazah, bekal untuk anggota keluarga yang sudah lama meninggal juga dititipkan para jenazah yang baru saja meninggal ini. Namun demikian ada motif lain yang ditawarkan oleh penulis dalam novel ini. Sosok kapitalis yang hanya memikirkan keuntungan dengan jalan apapun dihadirkan dalam novel ini. Masalah eksploitasi alam oleh perusahaan nikel yang berujung bentrok dengan masyarakat adat memberi warna lebih PURAKASASTRA | SEPTEMBER 2015
29
LENTERASASTRA
Foto karya Adi Septa Suganda pada kisah yang disuguhkan. Dari sini pembaca seolah diingatkan kembali bahwa ketika sebuah tradisi atau kebudayaan didiamkan, akan ada pihak yang diam-diam mencoba menguburkannya. Dan kita (pembaca) yang menyadari kekayaan budaya atau tradisi semacam itu sampai kapanpun masih punya upaya untuk menghentikan ‘penguburan’ itu. Negeri yang miskin adalah negeri yang tidak menghargai budaya dan tradisinya. Pada akhirnya manusia selalu diberi pilihan untuk menyatu dengan alam atau malah menjadi musuh alam. Sedangkan manusia sendiri secara tidak langsung adalah merupakan bagian dari alam tersebut. Maka usaha untuk menyatu dengan alam pun bisa melalui tulisan, mengangkat kembali kebudayaan dan tradisi yang kaya adalah salah satunya. “Disadari atau tidak, bagi saya, tradisi adalah hal penting dan sangat sering diangkat dalam kesusastraan kita,” tutur pemuda yang akan menelurkan novel ke duanya ini.
Lego-lego. Menulis puisi dan cerita pendek yang sudah dimuat di Harian Fajar Makassar, Radar Banjarmasin dan Kompas. Faisal memenangkan juara pertama di Lampung Universitas Sains Fiksi kompetisi cerpen pada tahun 2013, hadiah pertama dalam kompetisi Nasional Menulis Cerita Pendek Revolusi tahun 2012, hadiah pertama di All-Makassar Mahasiswa Universitas Lomba Cerpen oleh Universitas Hasanuddin dan terpilih sebagai Penyair Makassar 2013 dan menerima beasiswa dari tulisan (Sahabat Dari Jauh) di Makassar International Writers Festival pada tahun 2012. Novel terbarunya diterbitkan pada bulan Maret 2014 dengan judul Rain and Tears. 1Rambu Solo yaitu upacara penyempurnaan kematian karena orang yang meninggal baru dianggap benar-benar meninggal setelah seluruh prosesi upacara ini digenapi, jika belum maka orang yang meninggal tersebut hanya dianggap sebagai orang sakit atau lemah sehingga tetap diperlakukan seperti halnya orang hidup (dibaringkan di tempat tidur, disandingkan makanan dan minuman bahkan selalu diajak bicara). φ
Cirebon, Mei 2015
Catatan: Faisal Oddang lahir pada 18 September 1994. Adalah seorang mahasiswa Sastra Indonesia di Universitas Hasanuddin Makassar. Aktif dalam Komunitas Menulis
Manusia dibentuk dari keyakinannya. Apa yang ia yakini, itulah dia. (Bhagavad Gita)
PURAKASASTRA | SEPTEMBER 2015
30
PURAKASASTRA | SEPTEMBER 2015 foto: karya Veronica
31
SASTRA-LAMA DAN BUDAYANYA OLEH DIAN RUSDI
orang–orang yang masih mengamalkannya. Di bawah ini adalah salah satu jenis sastra lama atau mantra dari daerah Pasundan yang dipercayai:
* Banyu suci Banyu nuus Banyu suci kajayaan Nu hurung dina jajantung Nu herang na tungtung raga Cat mancat sangkolenyai putih. foto karya Layung Kemuning
MANTRA Salah satu sastra yang sangat dekat dengan masyarakat adalah sastra lama termasuk di antaranya adalah Mantra, Pantun, dsb. Mantra itu sendiri telah ada dan dibuat berabad-abad yang lalu seperti halnya syair. Mantra dipercaya memiliki kekuatan, aura, pamor seperti apa yang kita inginkan. Lelakonnya bisa melalui tapa, puasa, membeli dengan uang, bahkan ada yang sampai mau membelinya dengan mempertaruhkan nyawa yang telah ditargetkannya. Mantra pun telah turun-temurun menjadi kepercayaan bagi sebagian orang yang mempercayai dan mengikutinya dari remaja sampai orang tua tentunya. Sampai terbentuk komunitas-komunitas tertentu bagi yang mau mempelajarinya. Bisa Paguron, Padepokan, Pesantren dst. Mungkin mantra adalah sastra yang paling tua dan bertahan di antara yang lainnya, yang sampai sekarang masih ada
Pupuh Pupuh merupakan
karya sastra berbentuk puisi yang termasuk pada jajaran sastra sunda. Seperti halnya puisi lainnya, Pupuh pun terikat dengan aturan(patokan). Pupuh itu sendiri adalah berupa Guru Wilangan, Guru Lagu, dan juga Watek. Guru Wilangan adalah jumlah engang(suku kata) ditiap larik atau baris(padalisan). Guru Lagu adalah suara atau bunyi vocal akhir tiap padalisan. Sementara Watek itu sendiri adalah karakteristik isi dari sebuah Pupuh. Pupuh terbagi 17 jenis yang terbagi dalam dua kategori, yaitu Sekar Ageung(4 jenis pupuh) dan Sekar Alit(13 jenis pupuh). Pupuh jenis Sekar Ageung bisa ditembangkandengan menggunakan beberapa jenis lagu, sedangkan pupuh Sekar Alit hanya bisa dinyanyikan dengan satu jenis lagu saja. Ke 17 jenis pupuh ini memiliki padalisan yang berbeda, begitu pun PURAKASASTRA | SEPTEMBER 2015
32
SASTRACYBER
denganpatokan Pupuh, berupa Guru Wilangan, Guru Lagu, juga Watek-nya pun berbeda-beda. Di bawah adalah nama-nama dari ke 17 jenis Pupuh tersebut:
5. PUCUNG Watek: menggambarkan rasa marah terhadap diri sendiri atau benci karena tidak setuju hati. Guru Wilangan dan Guru Lagu: 12-u, 6-a, 8-‘e/o, 12-a
1.KINANTI Watek: menggambarkan perasaan sedang menanti, khawatir, atau rasa sayang, rindu. Guru Wilangan dan Guru Lagu: 8-u, 8-I, 8-a, 8-I, 8-a, 8-i
6. WIRANGRONG Watek: Menggambarkan rasa maluoleh prilaku diri sendiri. Guru Wilangan dan Guru Lagu: 8-I, 8-o, 8-u, 8-I, 8-a, 8-a 7. MASKUMAMBANG Watek: menggambarkan rasa kesedihan dan sakit hati. Guru Wilangan dan Guru Lagu: 12-I, 6-a, 8-I, 8-a
* Banyu suci Banyu nuus Banyu suci kajayaan Nu hurung dina jajantung Nu herang na tungtung raga Cat mancat sangkolenyai putih.
2. SINOM Watek: menggambarkan rasa gembira atau rasa sayang. Guru Wilangan dan Guru Lagu: 8-a, 8-I, 8-a, 8-I, 7-I, 8-u, 7-a, 8-I, 12-a 3. ASMARANDANA Watek: menggambarkan rasa asmara, rasa cinta, rasa sayang. Guru wilangan dan guru lagu: 8-I, 8-a, 8-‘e/o, 8-a, 7-a, 8-u, 8-a. 4. DANGDANGGULA Watek: menggambarkan rasa kedamaian, keindahan, keagungan atau kegembiraan. Guru Wilangan dan Guru Lagu: 10-I, 10-a, 8’e/o, 7-u, 9-I, 7-a, 6-u, 8-a, 12,I, 7-a (Sekar Alit)
8. LADRANG Watek: menggambarkan rasa lelucon dengan maksud menyindir. Guru Wilangan dan Guru Lagu: 10-I, 4-a (2x), 8-I, 12-a 9. BALAKBAK Watek: menggambarkan lelucon atau komedi. Guru Wilangan dan Guru Lagu: 15-‘e, 15-’e, 15-‘e 10. MAGATRU Watek: menggambarkan rasa sedih, penyesalan oleh prilaku sendiri, atau menasehati. Guru wilangan dan guru lagu: 12-u, 8-I, 8-u, 8-I, 8-o 11. LAMBANG Watek: menggambarkan rasa lelucon tetapi lelucon yang mengandung hal yang harus dipikirkan. Guru Wilangan dan Guru Lagu: 8-a, 8-a, 8-a, 8-a 12. JURU DEMUNG Watek: menggambarkan rasa bingung, susah dengan apa yang harus dilakukan. Guru Wilangan dan Guru Lagu: 8-a, 8-I, 8-a, 8-I, 8-a, 8-i
PURAKASASTRA | SEPTEMBER 2015
33
SASTRACYBER
13. GURISA Watek: menggambarkan rasa sedang melamun atau melamun kosong. Guru Wilangan dan Guru Lagu: 8-a, 8-a, 8-a, 8-a, 8-a, 8-a, 8-a, 8-a 14. GAMBUH Watek: menggambarkan rasa sedih, susah atau sakit hati. Guru Wilangan dan Guru Lagu: 7-u, 10-u, 12-I, 8-u, 8-o 15. MIJIL Watek: menggambarkan rasa sedih tapi dengan penuh harapan. Guru Wilangan dan Guru Lagu: 10-I, 6-o, 10-‘e, 10-I, 6-I, 6-u 16. PANGKUR Watek: menggambarkan rasa marah yang tersimpan dalam hati atau menghadapi tugas yang berat. Guru Wilangan dan Guru Lagu: 8-a, 11-I, 8-u, 7-a, 12,-u, 8-a, 8-i 17. DURMA Watek: menggambarkan rasa marah, besar hati, dan semangat. Guru Wilangan dan Guru Lagu: 12-a, 7-I, 6-a, 7-a, 8-I, 5-a, 7-i Pupuh itu sendiri pemaknaannya syarat dengan pesan atau nasihat-nasihat tentang ke-Tuhanan, makna hidup, riwayat sholeh atau teladan, emosi diri. Sebagai pengingat dan
suri teladan bagi siapa yang mau mendengar serta memaknainya. Pernahkah di sekolah gurumu mengajarkannya? Lantas bagaimana kita memahaminya? Di bawah ini saya tuliskan salah satu jenis pupuh dari asmarandana:
* ‘Eling-‘eling mangka ‘eling Rumungkang di bumi alam Darma wawayangan bae Raga taya pangawasa Lamun kasasar lampah Nafsu nu matak kaduhung Badan anu katempuhan ‘Eling-‘eling masing ‘eling Di dunya urang ngumbara Laku lampah nu utama Asih ka papada jalma Ucap t’ekad reujeung lampah Tingkah polah sing merenah Runtut rukun sauyunan Hirup jucung panggih jeung kamulyaan. Demikian saya jelaskan dengan singkat di antara sastra yang membudaya di tengahtengah masyarakat di tanah air, kurang dan lebihnya mohon maaf. Semoga bermanfaat. (Diambil dari berbagai sumber) φ
Foto karya Adi Septa Suganda PURAKASASTRA | SEPTEMBER 2015
34
SASTRACYBER
Oleh: Dian Rusdi udaya sastra di masyarakat memang tak lepas dari bahasa itu sendiri. Dari keragaman dan kekhasannya yangmenjadi ciri dari sebuah daerah dimana mereka tinggal. Kita tahu ada beribu lebih bahasa yang ada di tanah air ini, sebagai contoh adalah daerah Jawa Barat, yang kesehariannya atau kekhasannya adalah memakai bahasa sunda. Tetapi jika kita perhatikan, ada perbedaan yang terlihat dari dialek sampai kata-kata yang membedakan dari setiap kota yang ada di daerah Jawa Barat tersebut. Terutama di daerah pelosok Jawa Barat seperti Cianjur, Sukabumi, Garut, Indramayu, dst. Kita tahu, bahasa adalah sastra yang sangat dekat dan memasyarakat, tanpa bahasa kita apalah jadinya sebagai sarana jelas untuk mengungkapkan atau cara berkomunikasi antar sesama individu. Di era globalisasi seperti ini, tentunya kita bisa melihat atau mungkin mendengar dimana ada sebagian dari masyarakatkita telah perlahan melupakan bahasa daerahdaerahnya. Bercakap, bercengkrama dan berdiskusi dengan memakai bahasa lain yang bukan bahasa daerahnya sendiri meskipun dengan kerabat, teman, tetangga sekampungnya. Entah karena gengsi atau memang merasa bosan. Memang bagus kita memahami bahasa lain atau bahasa nasional kita tercinta, tapi alangkah baiknya juga kita tak melupakan atau memandang sebelah mata bahasa daerah kita, sebagai ciri khas yang
mewakili daerah kita sendiri. Karena kalau bukan kita yang menjunjungnya siapa lagi? Bahasa daerah sebagai sastra turuntemurun mengusung kesusastraan di tanah air. Memberi suatu nilai bahwa tolak ukur sebuah bangsa bisa dilihat juga dari budaya dan bahasanya. Yang rata-rata orang-orang di zaman ini lebih mengutamakan gaya agar terlihat keren atau pintar dan itu jelas suatu prinsip yang salah. Namun memang tidak semua masyarakat di tanah air ini seperti itu, ada juga sebagian dari masyarakat yang masih melestarikannya, di mana dan kapan saja. Tentunya jka bercengkrama atau bertemu dengan rekan, kerabat,keluarga dari sedaerahnya. Ini adalah sebuah pertanda dan bisa dijadikan sebuah tolak ukur pada budaya dan bahasa di masyarakat kita. Sebuah ketakutan dan sangat disayangkan tentunya jika ternyata salah satu ciri khas dari keragaman bahasa di nusantara ini lambat laun akan menghilang terhapus zaman. Bukan mustahil jika kelak anak cucu kita belajar bahasa daerah kita sendiri pada bangsa lain. Karena itu mari kita lestarikan bahasa kita terutama bahasa daerah kita supaya anak cucu kita kelak akan mengenal dan memahaminya.
“Imajinasi lebih penting daripada pengetahuan.� Albert Einstein “
PURAKASASTRA | SEPTEMBER 2015
35
NGAMEN SASTRA UNTUK BUMI DAN BUDAYA umi, budaya dan sastra adalah tiga hal yang tak bisa dipisahkan. Seperti mata rantai abadi yang selalu terkait satu sama lain, dimana pecinta dan penggiat sastra selalu menggunakan kekuatan alam dan budaya sebagai bagian dari karya, tema dan ruh dalam pergerakannya. Kekinian eksistensi budaya leluhur dan eksotisme bumi seakan mendekati ambang ajal. Usia bumi yang telah tua ditambah dengan polusi, limbah, pencemaran, dan sikap tak pedulinya manusia membuat keadaan bumi semakin parah. Sifat maruk dan rakus manusia mengeruk habis kekayaan alam tanpa dibarengi dengan menjaga alam sekitar, diperparah dengan budaya konsumtif tak ubahnya seorang anak yang durhaka kepada ibunya. Melihat semakin lunturnya budaya leluhur dan merasa ikut prihatin akan fenomena mengerikan tersebut, para awak KoTeMa (Komunitas Teater Matahari, Hongkong) menggelar acara Ngamen Sastra Hijau dan Budaya Indonesia Tempoe Doeloe dengan tema "Gelar Cinta untuk Bumi". Minggu, 31 Mei 2015 acara dilaksanakan dengan roadshow marathon pada tiga titik. Dimulai dari Meifoo dilanjut Tsim Tsa Tsui dan berakhir di Cosway Bay. Diikuti oleh para penggiat sastra dan pecinta lingkungan dengan kostum khusus dan unik yaitu mengenakan baju daerah zaman dahulu lengkap dengan aksesoris dan perlengkapannya. Atasan kebaya kutu baru,
bawahan jarik wiru batik khas berbagai daerah di nusantara benar-benar menghadirkan suasana Indonesia tempo dulu. Acara ngamen sastra hijau diisi dengan penampilan lagu-lagu daerah yang seakan menjadi tonggak untuk kembali menghidupkan semangat Bhineka Tunggal Ika, dilanjut dengan tarian daerah, orasi tentang dampak penebangan hutan, membuang sampah sembarangan dan penggunaan alat rumah tangga serta kosmetik seperti kulkas, AC, deodorant, hairspray, tanpa kita sadari dan ketahui telah membuat lubang ozon semakin lebar. Pembacaan puisi yang penuh penghayatan oleh Rein Onli dengan judul "Melihat Pohon Hayat" karya Ibu Naning Pranoto membuat suasana khusuk tetapi juga
Orasi tentang dampak penebangan hutan Foto karya Riska PURAKASASTRA | SEPTEMBER 2015
36
SASTRA
Penampilan dolanan saduran di Tsim Tsa Tsui Foto karya Riska mampu menggedor-gedor ulu hati betapa bumi ini harus kita jaga dan rawat karena menjaga dan merawat bumi tak ubahnya menjaga keselamatan dan kemaslahatan seluruh umat. Penonton dan orang-orang yang lalu lalang di sekitar acara seakan dibius dan dibuat terperangah dengan langgam-langgam yang ditembangkan oleh Laras Wati yang mempunyai suara dan cengkok-cengkok khas sinden profesional. Menunjukkan bahwa Indonesia juga mempunyai lagu tradisional bernilai seni tinggi yang tak kalah dengan lagu-lagu modern yang kini digandrungi para generasi muda. Setelah mendayu syahdu dengan langgam jawa, suasana kembali dihentak dengan penampilan stand up komedi yang dibawakan oleh Wijiati Supari. Joke-jokenya yang renyah, kocak mampu mengocok perut dan menyentil fenomena generasi muda saat ini yang sedikit demi sedikit menjadikan budaya barat sebagai kiblat dalam kehidupan sehari-hari seperti cara berpakaian, bergaul, budaya hidup konsumtif, hedonisme dan seakan kehilangan kepekaan dengan alam sekitar. Monolog dengan judul Srintil yang dibawakan oleh Ayda Ida kembali mencubit hati para penonton yang mayoritas adalah warga Indonesia yang menjadi buruh migran di negara dengan julukan negara beton tersebut. Monolog yang bercerita tentang seorang gadis kampung yang lugu kemudian berubah menjadi gadis modern yang lupa akan asal usul budayanya setelah pergi merantau ke negeri orang. Monolog ini apik membingkai keadaan yang sejujurnya dari semakin mengikisnya rasa mencintai budaya
nusantara dan lebih bangga dengan kebudayaan luar yang sejatinya tidak sesuai dengan adat ketimuran. Hadirnya penampilan dolanan seperti cublak-cublak suweng, jamuran, saduran, sluku-sluku batok, mengajak penonton bernostalgia kembali dengan kenangan zaman cilik, dimana dolanan tersebut tak hanya bagian dari mozaik kenangan bahagia tetapi juga mengandung filosofi yang tak bisa dianggap remeh. Pembacaan puisi oleh Alexa Angel menjadi penampilan pamungkas dan sebagai penutup acara pada hari itu. Tak ubahnya menjadi pengingat dalam hati sanubari bahwa budaya dan bumi ini harus kita jaga, rawat dan harus kita lestarikan, karena kita adalah bangsa yang berbudaya juga sebagai manusia yang menjadi bagian dari alam semesta. [rep: Riska] φ
Penampilan dolanan sluku-sluku batok di Meifoo Foto karya Riska
Stand up komedi oleh Wijiati Supari di Meifoo Foto karya Riska PURAKASASTRA | SEPTEMBER 2015
37
SASTRA
FORUM LINGKAR PENA HONGKONG sehingga membuat mereka tidak bisa aktif mengunjungi rumah biru untuk mengikuti pembelajaran. Menyiasati hal tersebut Fotokarya Anna Ilham pembelajaran dilakukan via grup khusus di facebook sehingga anggota tetap bisa ong Kong adalah surga bagi tenaga kerja berinteraksi dan bersinergi bersama sesama asing baik dari Indonesia, Philipina, India maupun anggota komunitas dalam pergerakan, meski dari kawasan lain. Dengan fasilitas umum sangat tidak bisa saling bertatap muka. memadai, hak libur setiap minggu dan hari libur Bersastra dan Berdakwah sebagai nasional memudahkan para tenaga kerja migran Energi di Sela Rutinitas Kerja di negara bekas koloni Inggris ini membentuk FLP HK mempunyai kegiatan rutin organisasi/ kelompok/ forum untuk mengisi hari pekanan dan tahunan. Dengan jadwal libur untuk menyalurkan bakat, minat serta pertemuan pukul 10.00 pagi sampai dengan sebagai ruang silaturahmi. Salah satunya adalah pukul 13.00 tiap pekan. Sebagai pelatihan Forum Lingkar Pena Hong Kong (FLP HK). penulisan mingguan anggota diharuskan mengirim karya berupa puisi maupun cerpen Dari rahim pemikiran dan pergerakan tiap minggu di awal bulan. Naskah yang Endang Pratiwi, Ida Permata Sari serta terpilih akan dibedah pada pertemuan minggu beberapa penggiat sastra di Hong Kong, pada ke tiga dilanjut dengan pemberian materi dari tanggal 15 Februari 2004 Kowloon Park, Tsim FLP pusat. Workshop, diskusi, seminar Tsa Tsui menjadi saksi lahirnya Forum Lingkar kepenulisan maupun religi dengan Pena Hong Kong. Berharap dari lahirnya forum mengundang jurnalis atau cendekia menjadi ini bisa mewadahi para pejuang devisa agenda rutin pada minggu ke dua dan ke Indonesia di Hong Kong menyalurkan hasrat empat yang terbuka untuk umum. Setiap dalam bidang kepenulisan maupun sastra trimester atau tiga bulan sekali para peri biru sehingga bisa memanfaatkan hari libur harus mengirimkan karya yang telah dimuat di dengan hal-hal positif, bermanfaat, serta ikut media cetak maupun media cyber sebagai andil menyuarakan kebenaran dalam gebrakan baru menandai hari ulang tahun FLP pelaksanaan hak-hak BMI (buruh migrain HK pada bulan Februari kemarin. indonesia)melalui tulisan. Nafas-nafas sastra para Peri Biru Forum yang bermarkas di Causeway sangat kental terasa dalam Festival Sastra Bay Hongkong ini, biasa disebut dengan Migran Indonesia (FSMI). Festival yang menjadi rumah biru, beranggotakan 40 orang. Para hajatan tahunan tersebut paling ditunggu dari anggota ini ada yang aktif ada juga yang forum yang telah berdiri selama 11 tahun ini. kurang aktif karena menyesuaikan dengan FSMI pertama kali diselenggarakan pada tahun jadwal libur kerja masing-masing. Beberapa 2010. Terakhir festival diadakan pada tanggal Peri Biru (sebutan untuk anggota FLP HK) 19 Oktober 2014 dan menjadi festival ke mendapat jatah libur selain hari Minggu
PURAKASASTRA | SEPTEMBER 2015
38
SASTRA lebih mensyukuri karunia Tuhan sehingga pikiran menjadi segar dan mudah memunculkan ide-ide untuk menulis." kata Anna Ilham, yang sekarang menjabat sebagai ketua forum. Media dakwah amar ma'ruf nahi mungkar tidak hanya melalui tulisan, sehingga diharapkan memperkaya khazanah hati dan mempertajam panca indera untuk lebih peka dengan alam sekitar serta sesama.
Aktifitas Literasi para BMI
Fotokarya Fotokarya Anna Ilham empat. Pada hajatan ini karya tulisan seluruh BMI HK ditampilkan, berupa antologi cerpen, souvenir dan karya hasil kreativitas lainnya. Selain parade galeri karya BMI ada juga pembacaan puisi, lomba menulis, bazar buku dan tak ketinggalan dimeriahkan dengan penganugerahan perpustakaan BMI favorit. Sebagai penyempurna dari acara akbar ini, Shinta Yudisia sang Ketua Umum Forum Lingkar Pena Pusat akan memberikan seminar kepenulisan dan kesempatan ini menjadi ajang menimba ilmu bagi para BMI. Refleksi dakwah fi sabilillah yang menjadi salah satu asas berdirinya forum ini diwujudkan dalam agenda yasinan, tadarusan selama bulan Ramadhan, cerdas cermat seputar religi, penggalangan dana untuk korban bencana, dan kunjungan cinta ke shelter-shelter BMI bermasalah di Hong Kong, salah satunya shelter Iqro Dompet Dhuafa Hong Kong. Setiap satu tahun dua kali yaitu sekitar bulan April dan akhir tahun diadakan tafakur alam. Acara dikemas dalam bentuk penjelajahan sekitar Hong Kong dengan diisi cerdas cermat, diskusi tentang kepenulisan juga sastra, serta permainan-permainan yang mampu mengasah kemampuan menulis. "Diharapkan melalui tafakur alam para anggota saling asah, asih dan asuh, melepaskan penat beban rutinitas kerja, dan
Berawal dari sesama anggota saja, pada tahun 2010 perpustakaan FLP HK resmi dibuka untuk umum. Perpustakaan ini dibuka secara lesehan dan outdoor setiap Minggu jam 09.00 hingga jam 18.00 WIB dengan tempat yang rindang, strategis yaitu di depan Hong Kong Library. Akses jalan yang mudah membuat teman-teman BMI dan pengunjung umum tidak kesulitan jika ingin meminjam dan membaca buku. Perpustakaan dibuka dengan tujuan ikut serta mengembangkan dan membudayakan gemar membaca dan menulis. Syarat peminjaman buku hanya dengan mengisi formulir nama dan no telepon, batas waktu peminjaman selama dua minggu dan tidak dikenakan biaya peminjaman. Anggota FLP HK telah membidangi berbagai antologi cerpen maupun puisi dengan penerbit indie dan juga mayor di tanah air. Diantaranya buku yang berjudul Senandung Mimpi Hawa, Berjuang di Tanah Rantau Man Jadda Wa Jada, terbaru buku Miracle of Life; Sandiwara Upik Abu. Menjadi reporter majalah mingguan, majalah religi berbahasa Indonesia di Hong Kong adalah bentuk lain dari sepak terjang srikandi forum sastra ini. FLP HK adalah kawah candradimuka bagi para penulis dan pejuang sastra migran Hong Kong. Wujud nyata sumbangsih para tenaga migran Indonesia dalam bidang sastra dan kepenulisan yang sering hanya dianggap sebelah mata. "Meski jauh dari keluarga dengan keadaan yang sangat terbatas tidak mengurangi niat untuk terus belajar, berbagi, dan berkarya sesuai visi FLP HK yaitu mengajak teman-teman gemar membaca dan menulis. Mengisi liburan dengan hal yang bermanfaat." Ucap Anna Ilham mengakhiri pembicaraan. Terus berjuang FLP HK! [rep: Riska / narasumber: Anna Ilham] φ
PURAKASASTRA | SEPTEMBER 2015
39
SASTRA
KEMAH SASTRA DI KEBUN TEH MEDINI Medini merupakan sebuah desa di lereng gunung Ungaran, termasuk dalam wilayah kabupaten Kendal Jawa Tengah. Di lereng tersebut satu komunitas sastra bertumbuh dengan begitu sehatnya. Komunitas Lereng Medini, sejak dibentuknya pada tahun 2008 hingga kini aktif mengadakan berbagai kegiatan sastra, dengan melibatkan warga sekitar hingga penggiat sastra di luar daerah.Kegiatan yang baru saja sukses terselenggara adalah Kemah Sastra di Kebun Teh Medini. Bersama milis Apresiasi Sastra (Apsas) pada 1-3 Mei 2015, Komunitas Lereng Medini berhasil mengumpulkan sekitar 125 penggiat sastra lintas generasi untuk bersama-sama belajar, bertukar ilmu dan pengalaman serta menikmati hijaunya kebun teh yang luasnya mencapai sekitar 386,82 hektar. Dalam acara yang mengambil tema “Alam Sebagai Sumber Intuisi” sejumlah sastrawan kenamaan dihadirkan untuk menjadi narasumber. Pada kesempatan pertama ada Martin Aleida yang memberikan materi mengenai “Sastra Kampung Halaman”. Kemudian di hari kedua ada kritikus sastra asal Kalimantan, Korrie Layun Rampan yang menjadi nara sumber obrolan seputar kepekaan penulis dan alam sebagai sumber kepenulisan serta cara menciptakan kalimat permulaan bagi seorang penulis. Gunoto Saparie membawakan tema tentang “Kembang-Kempis Komunitas Sastra Kita”. Yahya Tirta Prewita berbagi cerita mengenai aktifitas menulisnya sebagai terapi penyembuhan pada sakit ginjal yang pernah dideritanya. Iman Budhi Santosa sastrawan asal Yogyakarta membawakan tema “Puisi dan Kebun Teh Medini” pada malam hari sebagai penutup kegiatan hari kedua. Pada hari
terakhir ada sastrawan kolumnis pertanian F. Rahardi yang membawakan materi dengan tema “Dari Bertani hingga Bersastra”. Tiga Hari Sarat Ilmu Berangkat dari Pondok Maos Guyub di Jalan Raya Bebengan No 221 Boja, Kendal peserta disediakan mobil pick up untuk menuju Medini. Melewati jalan beraspal sampai beralih ke jalan berbatu menanjak
Fotokarya Latifa berliku-liku disertai embun berkabut yang basah merupakan pemandangan dan sambutan alam bagi para peserta. Tenda dengan gerbang instalasi ranting dan hiasan jerami telah dipasang begitu indah di samping kebun bertanaman teh. Kegiatan Kemah Sastra di Medini ini tak akan pernah disesali para peserta, pasalnya dalam kegiatan yang hanya berbiaya Rp 20.000,- untuk pelajar dan mahasiswa dan Rp 30.000,- untuk umum itu sarat dengan ilmu yang sangat berguna bagi mereka. Selain materi kesastraan yang diberikan, peserta kemah sastra mendapat kesempatan emas untuk nonton bareng perjalanan sastra Sigit Susanto di hampir 40 negara yang terangkum menjadi 3 jilid buku berjudul “Menyusuri Lorong-lorong Dunia”. Buku tersebut pun dijadikan doorprize bagi PURAKASASTRA | SEPTEMBER 2015
40
SASTRA
Diskusi Reading Group bersama Esther dan Nitami Fotokarya Latifa peserta yang memberikan pertanyaan kepada penulis. Sigit Susanto, penulis asal Kendal yang sejak April 1996 menetap di Swiss ini adalah pendiri Komunitas Lereng Medini yang juga pemilik Pondok Maos Guyub-Kendal Jawa Tengah. Dalam satu sesi peserta diperkenalkan mengenai kegiatan reading group yang menjadi salah satu aktifitas Pondok Maos Guyub. Melalui bedah skripsi milik mahasiswi Universitas PGRI Semarang Nitami Mahanani yang berjudul “Influences The Old Man and the Sea-Ernest Hemingway“ sebagai refleksi ketertarikannya terhadap kegiatan reading group di Pondok Maos Guyub yang diampu oleh Esther Mahanani. Reading group merupakan kegiatan yang diboyong Sigit dari pengalamannya menjadi murid pada Reading Group novel Ulysses di Yayasan James Joyce di Zurich. Dari
sini peserta memperoleh pencerahan bahwa untuk benar-benar memahami sebuah karya sastra dan pengarangnya, membaca dengan mengartikan per-kata secara bersama-sama adalah format belajar yang tepat. Kemah Sastra kali ini juga menjadi ajang Korrie Layun Rampan yang pernah bergabung dengan Persada Studi Klub sebuah klub sastra di Yogyakarta- yang diasuh penyair Umbu Landu Paranggi meluncurkan buku antologi puisi Suara Sendawar Kendal karyanya bersama penyair asal Kendal Gunoto Saparie. Sementara sebagai upaya sosialisasi pada anak-anak dan masyarakat setempat serta untuk memotivasi minat baca, KLM meluncuran Gubuk Baca Medini (Rak Baca Medini). Peluncuran diselingi dengan pertunjukan dolanan (baca: mainan) kreatif yang dipandu Kak Daurie dan permainan sulap oleh Om Sigit. Puncak kegiatan Kemah Sastra tanggal 3 Mei 2015 adalah pendakian menyusuri lereng Medini yang penuh dengan tanaman teh. Namun sebelumnya seluruh peserta diajak berziarah ke makam Kiai Kidang. Pendakian berakhir di Promasan dengan menjelajah goa jepang dan candi promasan. Selama kegiatan di Medini hingga pendakian ke Promasan para peserta secara kesinambungan menyuarakan puisi. Suasana benar-benar sastra dan sejuk. Sore hari peserta meninggalkan lokasi kebun teh menuju ke Pondok Maos Guyub untuk kembali ke daerah masing-masing. [rep: Latifa] φ
Diskusi Sastra bersama Korrie Layun Rampan Fotokarya Latifa Martin Aleida sedang memberi materi Fotokarya Latifa PURAKASASTRA | SEPTEMBER 2015
41
PURAKASASTRA | SEPTEMBER 2015
42