BUKU SAKU SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS
BUKU SAKU
SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS
Rahmad Gunawan Ismail Bachrum Imanuel William Palinggi Putra Nero Tilanatta“GIS is waking up the world to the power of geography, this science of integration, and has the framework for creating a better future.”
"Sumber
-Jack Dangermond-
the Power of Geography, ESRI User Conferencekutipan: diambil dari Awakening the World to 2015"
Daftar Isi
Daftar Isi
Daftar Gambar
Pengantar
Pengertian Sistem Informasi Geografis
Data Spasial
Format Data Spasial
Pemanfaatan Aplikasi Google Maps & Google My Maps
Eksplorasi dengan Google Earth
Interpretasi Citra
Penutup
Referensi
Daftar Gambar
Gambar 2.1 Model datum dan proyeksi kordinat
Gambar 3.1 Contoh data raster ketinggian
Gambar 32 Data raster ketinggian
Gambar 33 Contoh data raster citra satelit
Gambar 34 Data vektor dalam bentuk point/titik
Gambar 3.5 Data vektor dalam bentuk line/garis
Gambar 3.6 Data vektor dalam bentuk polygon/Area
Gambar 4.1 Tampilan awal google maps
Gambar 42 Merubah tampilan basemap
Gambar 43 cara mengambil titik kordinat
Gambar 44 membagikan lokasi GPS
Gambar 4.5 cara menggunakan street view
Gambar 4.6 cara menggunakan street view
Gambar 47 Tampilan awal google my maps
Gambar 48 Tampilan Peta JAPRI Kota Palu
Gambar 4.9 Fitur Ruller/penggaris
Gambar 4.10 Fitur Pembuatan Rute
Gambar 411 Fitur Pembuatan Polygon
Gambar 412 Fitur Penambahan titik
Gambar 413 Fitur Kolaborasi dan berbagi
Gambar 4.14 Export dan impor kml/kmz
Gambar 4.15 Kostumasi simbol dan gaya
Gambar 4.16 Fitur lapisan dan gaya
Gambar 5.1 Fitur time series google earth
Gambar 52 Kantor Pajak Palu Tahun 2005
Gambar 53 Kantor Pajak Palu Tahun 2023
Gambar 54 Pesisir pantai Kota Palu sebelum bencana 2018
Gambar 5.5 Pesisir pantai Kota Palu pasca bencana 2018
Gambar 6.1 Tahapan Interpretasi Citra
Gambar 6.2 Interpretasi citra secara manual
Gambar 63 Interpretasi citra secara digital
Gambar 64 Rona pada foto hitam putih
Gambar 65 Warna dan rona berwarna pada foto Udara
Gambar 6.6 Bentuk gunung api
Gambar 6.7 Bentuk sekolah
Gambar 6.8 Ukuran pada lapangan sepak bola
Gambar 69 Pembentukan pola pada citra
Gambar 610 Bayangan pada citra
Gambar 611 Tekstur pada citra
Gambar 6.12 Situs memanjang jalan
Gambar 6.13 Contoh asosiasi pada citra
Kata Pengantar
Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Dengan rendah hati, kami mempersembahkan buku ini sebagai sebuah panduan praktis untuk mengimplementasikan Sistem Informasi Geografis (SIG) di Kantor Pajak Palu Sebagai alat yang semakin penting dalam era digital, SIG memiliki kemampuan untuk merevolusi cara kita memahami dan mengelola informasi geografis
Dalam dunia yang terus berkembang ini, inovasi adalah kunci untuk meningkatkan efisiensi dan keefektifan Oleh karena itu, melalui buku ini, kami berharap dapat memberikan pemahaman yang komprehensif tentang bagaimana SIG dapat diterapkan secara praktis dalam konteks kantor pajak Mulai dari konsep dasar hingga penerapan teknisnya, kami berusaha menyajikan materi yang mudah dipahami dan relevan dengan kebutuhan kantor pajak
Kami mengucapkan terima kasih yang tak terhingga kepada semua pihak yang telah berkontribusi dalam penyusunan buku ini, termasuk Ketua Jurusan Arsitektur Universitas Tadulako, Kepala Kantor Pajak Pratama Palu, rekan-rekan mahasiswa, dan pegawai kantor pajak Pratama Palu Semoga buku ini dapat menjadi sumber inspirasi dan panduan yang berharga bagi Anda semua yang berkecimpung dalam dunia pajak dan teknologi informasi
Akhir kata, kami berharap buku ini tidak hanya menjadi bacaan yang informatif, tetapi juga menjadi langkah awal yang menginspirasi perubahan positif dalam penerapan SIG di Kantor Pajak Palu.
Selamat membaca!
Palu, Mei 2024
Tim Penulis
Kata Pengantar vii
Sistem Informasi Geografis
Sistem Informasi Geografis (SIG) adalah sistem informasi komputer yang digunakan untuk memproses dan menyimpan data atau informasi geografis (Aronoff, 1989). SIG adalah sebuah sistem komputer yang dirancang untuk mengumpulkan, menyimpan, mengelola, menganalisis, dan menampilkan data geografis atau spasial Data geografis ini meliputi informasi tentang objek-objek di dunia nyata yang memiliki lokasi geografis, seperti jalan, sungai, bangunan, dan gunung SIG memungkinkan pengguna untuk memahami dan menganalisis hubungan spasial antara berbagai objek, serta membuat keputusan berdasarkan informasi geografis yang dikumpulkan Dengan bantuan SIG, pengguna dapat membuat peta, melakukan analisis spasial, memonitor perubahan lingkungan, dan merencanakan pengembangan wilayah, sehingga SIG memiliki aplikasi yang luas di berbagai bidang seperti pemetaan, pemeliharaan infrastruktur, manajemen sumber daya alam, dan perencanaan perkotaan
1 Sistem Informasi Geografis
Data Spasial
Format Data Spasial
Dalam format data spasial, terdapat dua jenis data: raster dan vektor. Baik raster maupun vektor memiliki kegunaan yang berbeda-beda tergantung pada jenis analisis atau visualisasi yang ingin dilakukan. Sebagai contoh, data raster sering digunakan untuk analisis ketersediaan air atau pemetaan penutupan lahan, sedangkan data vektor sering digunakan untuk analisis jaringan jalan atau pemodelan pola tanah.
a. Data Raster
Data Raster Tematik 1
Contoh dataset raster tematik ini disebut Digital Elevation Model (DEM). Setiap sel menampilkan ukuran piksel 30m dengan nilai ketinggian yang ditetapkan untuk sel tersebut Area yang ditampilkan adalah Daerah Aliran Sungai.
2. Data Citra Satelit
Contoh data raster di samping adalah data citra Quickbird milik Google Earth Maps yang menampilkan informasi spasial, Setiap sel berisi satu nilai yang mewakili nilai dominasi sel tersebut Kumpulan data raster merupakan hal yang intrinsik pada sebagian besar analisis spasial
b. Data Vektor
Gambar 34 Data vektor dalam bentuk point/titik
Gambar 35 Data vektor dalam bentuk line/garis
Gambar 36 Data vektor dalam bentuk polygon/Area
Jenis data selanjutnya dalam konteks sistem informasi geografis adalah data vektor, yang terdiri dari poin, garis, dan poligon. Data poin digunakan untuk merepresentasikan fitur diskrit seperti lokasi sekolah, tempat menarik, atau nama kota Garis digunakan untuk menggambarkan fitur linear seperti sungai, jalan setapak, atau jalan raya, sedangkan poligon digunakan untuk menunjukkan area seperti batas kota, danau, atau hutan. Data vektor memungkinkan pengguna untuk merepresentasikan fitur-fitur geografis dengan detail dan fleksibilitas yang tinggi, serta memberikan kemampuan untuk melakukan analisis spasial dan visualisasi yang kompleks Buku Saku Sistem Informasi Geografis
Pemanfaatan Aplikasi Google Maps & Web Google My Maps
Google Maps adalah aplikasi peta online gratis dari Google yang dapat diakses melalui browser web atau perangkat mobile Dengan Google Maps, Anda dapat memperoleh arahan yang detail dari suatu lokasi, mencari informasi tentang bisnis lokal, mengeksplorasi tempat-tempat menarik di sekitar Anda, melihat lalu lintas secara real-time, dan bahkan menemukan ulasan dan foto-foto dari tempat-tempat tertentu. Dengan fitur-fitur yang terus diperbarui dan dikembangkan, Google Maps menjadi alat yang sangat berguna untuk membantu navigasi dan mengeksplorasi dunia di sekitar kita.
Tampilan awal dari Google Maps pada gambar 1 menampilkan fitur dasar yang sering digunakan, salah satunya adalah membagikan titik lokasi secara live Selain itu, terdapat fitur untuk mengubah tampilan peta sesuai kebutuhan. Anda bisa merubahnya menjadi citra satelit atau memilih tampilan lain sesuai kebutuhan. Contohnya dapat dilihat pada gambar 2 dengan memilih citra satelit, kita dapat melihat peta dengan lebih jelas dan detail, menampilkan rupa bumi sebenarnya.
Untuk mengambil titik pada Google Maps, Anda dapat langsung menekan layar HP pada lokasi yang telah ditentukan sesuai kebutuhan Contohnya, seperti yang terlihat pada gambar 3 di bawah ini, Selain itu, Anda juga dapat membagikan titik lokasi yang telah ditentukan dalam bentuk link koordinat Google Maps dengan menekan tombol share seperti yang ditunjukan pada gambar 4.
Pada gambar di bawah ini merupakan tampilan dari Street View pada Google Maps. Dengan fitur ini, kita dapat melihat pemandangan asli dari titik lokasi yang telah ditentukan. Selain itu, kita juga bisa mengubah waktu tahun pada titik lokasi yang ditentukan sesuai kebutuhan dengan menekan fitur yang ditunjukkan pada gambar 5 dan 6 di bawah ini.
Geografis
Google My Maps adalah salah satu platform website dari Google yang memungkinkan pengguna untuk mengoperasikan peta dengan mudah dan gratis Dengan antarmuka pengguna yang sederhana dan integrasi penyimpanan yang menyeluruh dengan layanan Google, platform ini sangat direkomendasikan bagi pengguna awam dalam kegiatan pemetaan. Tampilan awal dari Google My Maps dapat dilihat pada gambar, dimana basemap yang digunakan serupa dengan Google Maps pada aplikasi mobile, namun dengan tambahan
my maps
Selain itu pada fitur Google My Maps memungkinkan pengguna untuk menambahkan file SHP (Shapefile) untuk digunakan dalam pembuatan peta kustom SHP adalah format data spasial yang sering digunakan dalam sistem informasi geografis (SIG) untuk menyimpan data vektor geografis. Dengan menambahkan file SHP ke Google My Maps, pengguna dapat mengimpor data geografis yang kompleks seperti garis, poligon, atau titik ke dalam peta yang sedang dibuat. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada peta Jejaring Penataan ruang Kota Palu di bawah ini
Google My Maps menyediakan sejumlah fitur yang memudahkan pengguna dalam mengelola dan mempersonalisasi peta mereka Berikut adalah rangkuman fitur-fitur utama yang ditawarkan:
1
Ruler (Penggaris): Fitur ini memungkinkan pengguna untuk mengukur jarak dan luas suatu kawasan. Pengguna dapat menarik garis untuk menentukan jarak dan menentukan luas kawasan dengan membuat tutupan pada garis.
2.
Pembuatan Rute: Google My Maps memfasilitasi pengguna dalam menentukan rute dan jarak tempuh dari titik A ke titik B Pengguna dapat memberikan keterangan sesuai kebutuhan dari titik awal ke titik tujuan.
3
Pembuatan Garis dan Polygon: Fitur ini memungkinkan pengguna untuk membuat garis atau rute, baik untuk sepeda maupun pejalan kaki. Selain itu, fitur ini dapat digunakan untuk membuat polygon pada peta dan menambahkan keterangan sesuai kebutuhan
5
Tambahkan Penanda (Titik): Pengguna dapat menambahkan titik atau penanda pada peta sesuai dengan kebutuhan dan lokasi yang telah ditentukan. Fitur ini juga memungkinkan pengguna untuk menambahkan keterangan pada setiap penanda atau titik yang dibuat
4. Kolaborasi dan Berbagi: Google My Maps memungkinkan pengguna untuk berbagi peta mereka dengan orang lain dan berkolaborasi dalam pengeditan Fitur ini berguna untuk proyek tim, pelaporan lapangan, atau berbagi informasi lokasi dengan keluarga dan teman.
Import dan Export Data: Pengguna dapat mengimpor data dari berbagai format file, seperti KML, GPX, atau CSV, ke dalam Google My Maps. Ini memungkinkan mereka untuk dengan mudah menambahkan data yang sudah ada ke dalam peta mereka Selain itu, pengguna juga dapat mengekspor data peta mereka ke format yang kompatibel dengan aplikasi lain atau untuk keperluan analisis lebih lanjut 6
7.
Kustomisasi Simbol dan Gaya: Pengguna memiliki fleksibilitas untuk menyesuaikan simbol dan gaya pada peta mereka sesuai dengan preferensi dan kebutuhan mereka Mereka dapat memilih dari berbagai macam simbol, warna, dan gaya garis untuk menandai berbagai elemen peta secara visual
8.
Lapisan Peta: Google My Maps memungkinkan pengguna untuk menambahkan beberapa lapisan peta pada satu peta. Ini memungkinkan mereka untuk mengatur informasi secara hierarkis dan membuat peta yang lebih terperinci dan terstruktur. Pengguna dapat mengaktifkan atau menonaktifkan lapisan-lapisan tersebut sesuai kebutuhan mereka
9.
Penggunaan Offline: Google My Maps memungkinkan pengguna untuk menyimpan peta mereka secara offline, sehingga mereka dapat mengaksesnya tanpa koneksi internet. Fitur ini sangat berguna untuk navigasi di daerah yang memiliki sinyal internet yang lemah atau tidak ada sama sekali
Buku Saku Sistem Informasi Geografis 8
Gambar 49 Fitur Ruller/penggaris
Gambar 410 Fitur Pembuatan Rute
Gambar 411 Fitur Pembuatan Polygon 3 4
Gambar 412 Fitur Penambahan titik
Gambar 413 Fitur Kolaborasi dan berbagi 5
6
Gambar 414 Export dan impor kml/kmz
Gambar 415 Kostumasi simbol dan gaya
Gambar 416 Fitur lapisan dan gaya 7 8
Buku Saku Sistem Informasi Geografis
Explorasi dengan Google Earth
Google Earth merupakan sebuah program komputer yang memungkinkan pengguna untuk menjelajahi peta bumi secara interaktif Program ini dilengkapi dengan fitur Historical Imagery yang memungkinkan pengguna untuk melihat perkembangan bumi dari waktu ke waktu. Opsi ini memungkinkan pengguna untuk menelusuri peta Google dari tahun ke tahun, menampilkan perubahan dari foto satelit pertama hingga terbaru. Dengan fitur ini, pengguna dapat mengamati perubahan yang terjadi di suatu kota, seperti pembangunan gedung baru, perubahan jalan, dan transformasi lainnya yang terlihat dari foto-foto yang diambil melalui satelit.
Untuk mengakses opsi Historical Imagery, pengguna dapat membuka aplikasi Google Earth dan mengklik tab "View", lalu memilih opsi tersebut Setelah mengklik opsi ini, akan muncul sebuah batang pilihan yang panjang. Setiap titik pada batang tersebut mewakili arsip foto lama dan foto baru yang diambil oleh satelit Google Pengguna dapat melihat perubahan dari foto satelit mulai dari awal tahun 2000-an hingga foto terbaru.
Kadang-kadang, pengguna akan melihat titik-titik tersebut tersebar dengan kepadatan yang berbeda di beberapa tempat Hal ini disebabkan oleh fakta bahwa satelit mengambil gambar dari atas, dan tidak selalu memungkinkan untuk mengabadikan permukaan bumi secara detail karena adanya penghalang seperti awan atau kondisi atmosfer lainnya
Sehingga, hanya ada beberapa periode waktu di mana foto-foto tersebut tersedia untuk dilihat, bergantung pada ketersediaan data dari satelit. Informasi ini kemudian dimasukkan dan ditampilkan oleh Google Earth untuk memberikan pemahaman yang lebih mendalam mengenai perkembangan sejarah di berbagai lokasi.
Gambar 52 Kantor Pajak Palu Tahun 2005 Gambar 53 Kantor Pajak Palu Tahun 2023 Gambar 54 Pesisir pantai Kota Palu sebelum bencana 2018 Gambar 5.5 Pesisir pantai Kota Palu pasca bencana 2018 11 Buku Saku Sistem Informasi GeografisInterpretasi Citra
Interpretasi citra adalah proses penting yang merupakan langkah awal dalam memperoleh informasi yang spesifik dari citra satelit atau foto udara. Keterampilan interpretasi sangat diperlukan untuk menyelesaikan penelitian yang berkaitan dengan kebumian serta isu lingkungan. Ketika kita dapat mengidentifikasi apa yang kita lihat pada citra dan menginformasikannya kepada yang lainnya, kita dapat mempraktekkan Interpretasi Citra (Lillesand et al, 2004)
A. Manfaat Citra:
3.
Memberikan informasi mengenai keadaan dan perubahan lahan sehingga dapat membantu dalam perencanaan pembangunan;
1 Membantu dalam menganalisis perairan darat maupun laut; 2 Membantu dalam menganalisis keadaan cuaca dan iklim beserta prediksinya;
Menyajikan model, relief, dan kemiringan lereng suatu lahan; 4 Memberikan gambaran atau pemetaan daerah bencana alam, seperti banjir, tsunami, dan daerah letusan gunung api sehingga dapat dimanfaatkan untuk proses pencegahan dan evakuasi.
5. B. Tahapan Interpretasi Citra
Dalam teknik interpretasi citra dapat di klasifikasikan menjadi dua yaitu:
Interpretasi Citra Secara Manual 1
Interpretasi secara manual merupakan interpretasi data penginderaan jauh yang mendasarkan pada pengenalan ciri atau karakteristik objek secara keruangan
2 Interpretasi Citra Secara digital
Interpretasi secara digitila merupakan teknik interpretasi evaluasi kuantitatif tentang informasi spektral, berupa klasifikasi citra pixel berdasarkan nilai spektralnya dan dapat dilakukan dengan cara statistik yang disajikan pada citra
Buku Saku Sistem Informasi Geografis
C. Unsur-unsur dalam Interpretasi Citra
Dalam Interpretasi Citra terdapat Unsur-unsur yang umumnya digunakan dalam melakukan interpretasi citra diantaranya adalah sebagai berikut:
Rona Atau Warna 1
Rona atau tone adalah tingkat kecerahan atau kegelapan suatu objek yang terdapat pada foto udara atau pada citra lainnya Pada foto hitam putih, rona yang ada biasanya adalah hitam, putih, atau kelabu. Tingkat kecerahannya tergantung pada keadaan cuaca saat pengambilan objek, arah datangnya sinar matahari, serta waktu pengambilan gambar
Pada foto/citra udara berwarna, rona sangat dipengaruhi oleh spektrum gelombang elektromagnetik yang digunakan, misalnya menggunakan spektrum ultraviolet, spektrum tampak, spektrum inframerah, dan sebagainya. Perbedaan penggunaan spektrum gelombang tersebut mengakibatkan rona yang berbeda-beda Selain itu, karakter pemantulan objek terhadap spektrum gelombang yang digunakan juga mempengaruhi warna dan rona pada foto udara berwarna
Buku Saku Sistem Informasi Geografis 14 Gambar 64 Rona pada foto hitam putih Gambar 65 Warna dan rona berwarna pada foto udara2. Bentuk
Bentuk-bentuk atau gambar yang terdapat pada foto udara merupakan konfigurasi atau kerangka suatu objek. Bentuk merupakan ciri yang jelas, sehingga banyak objek yang dapat dikenali hanya berdasarkan bentuknya saja Contoh: Gedung sekolah pada umumnya berbentuk huruf I, L, U, atau empat persegi panjang.Gunung api biasanya berbentuk kerucut.
3.Ukuran
Ukuran merupakan ciri objek yang antara lain berupa jarak, luas, tinggi lereng, dan volume. Ukuran objek pada citra berupa skala, oleh karena itu, dalam memanfaatkan ukuran sebagai interpretasi citra, harus selalu diingat skalanya. Contoh: Lapangan olahraga sepak bola dicirikan oleh bentuk (segi empat) dan ukuran yang tetap, yakni sekitar (80 m - 100 m).
4. Pola
Pola atau susunan keruangan merupakan ciri yang menandai bagi banyak objek bentukan manusia dan bagi beberapa objek alamiah. Contoh:
- Pola aliran sungai menandai struktur geologis
- Pola aliran trelis menandai struktur lipatan.
- Permukiman transmigrasi dikenali dengan pola yang teratur, yaitu ukuran rumah dan jaraknya seragam, dan selalu menghadap ke jalan.
- Kebun karet, kebun kelapa, kebun kopi mudah dibedakan dari hutan atau vegetasi lainnya dengan polanya yang teratur, yaitu dari pola serta jarak tanamnya
5 Bayangan
Bayangan bersifat menyembunyikan detail atau objek yang berada di daerah gelap Meskipun demikian, bayangan juga dapat menjadi kunci pengenalan yang penting bagi beberapa objek yang justru dengan adanya bayangan menjadi lebih jelas. Contoh: Lereng terjal tampak lebih jelas dengan adanya bayanganCerobong asap dan gedung tinggi tampak lebih jelas dengan adanya bayangan. Foto-foto yang sangat condong biasanya memperlihatkan bayangan objek yang tergambar dengan jelas, sedangkan pada foto tegak tidak terlalu mencolok, terutama jika pengambilannya dilakukan pada tengah hari.
Buku Saku Sistem Informasi Geografis 16 Gambar 69 Pembentukan pola pada citra Gambar 610 Bayangan pada citra6. Tekstur
Tekstur adalah frekuensi perubahan rona pada citra atau pengulangan pada rona kelompok objek yang terlalu kecil untuk dibedakan secara individual. Tekstur dinyatakan dengan: kasar, halus, dan sedang. Misalnya: Hutan bertekstur kasar, belukar bertekstur sedang, dan semak bertekstur halus.
7. Situs
Situs adalah letak suatu objek terhadap objek lain di sekitarnya Misalnya: permukiman pada umumnya memanjang pada pinggir beting pantai, tanggul alam, atau sepanjang tepi jalan Begitu pula dengan persawahan, yang banyak terdapat di daerah dataran rendah, dan sebagainya.
8. Asosiasi
Asosiasi adalah keterkaitan antara objek yang satu dengan objek yang lainnya. Contoh: Stasiun kereta api berasosiasi dengan jalan kereta api yang jumlahnya lebih dari satu (bercabang).
D. Konvergensi Bukti
Konvergensi bukti adalah penggunaan beberapa unsur interpretasi citra sehingga lingkupnya menjadi semakin menyempit ke arah satu kesimpulan tertentu. Contoh: Tumbuhan dengan tajuk seperti bintang pada citra, menunjukkan pohon palem Bila ditambah unsur interpretasi lain, seperti situsnya di tanah becek dan berair payau, maka tumbuhan palma tersebut adalah sagu
Penutup
A. Kesimpulan
Buku saku ini telah membahas tentang Sistem Informasi Geografis (SIG) dasar yang dapat diterapkan dalam konteks kantor pajak Palu Dari pengertian dasar hingga aplikasi praktis menggunakan alat seperti Google Maps dan Google Earth, pembaca diberikan pemahaman yang kuat tentang bagaimana SIG dapat digunakan untuk meningkatkan efisiensi dan efektivitas dalam pengelolaan informasi geografis dalam konteks perpajakan
B. Saran:
1
Pelatihan Lanjutan: Disarankan untuk mengadakan pelatihan lanjutan bagi pegawai kantor pajak Pratama Palu mengenai penggunaan SIG. Pelatihan ini dapat mencakup praktik langsung dalam mengambil titik koordinat, merubah tampilan pada Google Maps, dan eksplorasi menggunakan Google Earth.
2
Pengembangan Panduan Praktis: Kantor pajak dapat mengembangkan panduan praktis yang mencakup langkah-langkah praktis tentang penggunaan SIG dalam kegiatan sehari-hari di kantor pajak Panduan ini dapat menjadi sumber referensi yang berguna bagi pegawai yang ingin memperdalam pengetahuan mereka tentang SIG.
3
Kolaborasi dengan Ahli SIG: Kolaborasi dengan ahli SIG dari institusi terkait atau lembaga pendidikan dapat membantu kantor pajak dalam mengoptimalkan penggunaan SIG dan memperoleh saran yang lebih spesifik sesuai dengan kebutuhan kantor.
4.
Evaluasi Reguler: Penting untuk melakukan evaluasi reguler terhadap penggunaan SIG di kantor pajak Evaluasi ini dapat membantu dalam mengidentifikasi masalah yang muncul dan mengevaluasi efektivitas langkah-langkah yang telah diimplementasikan
Referensi
Aronoff, Stan (1989) Geographic Information Systems: A Management Perspective. Ottawa, Canada: WDL Publications.
"Types of GIS Data Explored: Vector and Raster (2024, May 1) Retrieved from https://www.geographyrealm.com/geodatabases-explored-vector-and-rasterdata/"
PT. Geo Sriwijaya Nusantara. (2019). Modul Pelatihan Sistem Informasi Geografi (SIG) Tingkat Dasar Palembang: PT Geo Sriwijaya Nusantara
Buku saku ini merupakan sebuah panduan sederhana tentang Sistem Informasi Geografis (SIG) dasar yang dapat diterapkan dalam konteks kantor pajak Palu. Mulai dari pengertian dasar hingga aplikasi praktis menggunakan alat-alat modern seperti Google Maps dan Google Earth, pembaca akan dibimbing untuk memperoleh pemahaman yang mendalam tentang potensi dan penerapan SIG dalam meningkatkan efisiensi dan efektivitas dalam pengelolaan informasi geografis, khususnya dalam konteks perpajakan.
Dalam setiap babnya, buku ini memberikan penjelasan mengenai konsepkonsep dasar SIG, termasuk pemahaman tentang data spasial dan formatnya Pembaca juga akan dipandu langkah demi langkah dalam memanfaatkan alat-alat seperti Google Maps dan Google Earth untuk keperluan kantor pajak, mulai dari cara mengambil titik koordinat hingga cara melihat time series data satelit
Dengan demikian, buku saku ini tidak hanya menjadi sebuah referensi yang informatif, tetapi juga menjadi panduan yang praktis bagi para pegawai kantor pajak Palu dalam memahami dan menerapkan konsep-konsep SIG dalam tugas sehari-hari mereka. Semoga dengan penerapan SIG yang efektif, kantor pajak dapat meningkatkan kinerja mereka dalam memberikan pelayanan yang lebih baik kepada masyarakat, serta mengoptimalkan potensi yang dimiliki oleh teknologi informasi geografis untuk kepentingan perpajakan yang lebih baik.