8 minute read

Demi UPPKS Naik Kelas

Atalia Kamil: UPPKS Harus Manfaatkan Peluang Ekonomi Era Adaptasi Kebiasaan Baru

UPPKS atau usaha peningkatan pendapatan keluarga sejahtera bukan barang familiar di telinga masyarakat. Produknya juga demikian. Publik lebih mengenal UMKM atau usaha mikro, kecil, dan menengah atau bahkan produk rumahan alias home industry. Pada umumnya, produk kelompk UPPKS beredar terbatas dari pameran ke pameran. Itu pun jika penyelenggaranya Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) atau satuan kerja perangkat daerah (SKPD) yang membidangi program pembangunan keluarga, kependudukan, dan keluarga berencana (Bangga Kencana). Sudah tentu kurang menarik dari sisi kemasan.

Advertisement

Tapi itu dulu. Potret UPPKS kini berubah. Para pegiat pemberdayaan ekonomi keluarga ini mulai berbenah. Produk UPPKS bukan lagi barang pameran atau gelar dagang Hari Keluarga Nasional (Harganas). Produknya beredar melintasi kota dan pulau. Upaya BKKBN mulai menampakkan hasil.

IRFAN HQ/BKKBN JABAR

BKKBN bukan bukan semata mengajak. Induk semang kelompok UPPKS ini memberikan sejumlah pelatihan teknis terkait digital marketing kepada para pelaku pemberdaya ekonomi keluarga tersebut. Bahkan, BKKBN Jabar turut memfasilitasi etalase virtual bagi setiap produk UPPKS yang dianggap sudah memenuhi standar kelayakan untuk dipasarkan kepada khalayak.

“BKKBN memang tidak berjalan sendirian. Kami menggandeng sejumlah pihak yang memiliki perhatian pada pengembangan

IRFAN HQ/BKKBN JABAR

ekonomi kerakyatan, khususnya ekonomi keluarga. Belum lama ini kami mengirimkan sejumlah kelompok UPPKS pilihan untuk mengikuti workshop digital marketing yang diadakan oleh Shopee. Selanjutnya, mereka yang telah lolos kurasi produk sudah bisa langusng memasarkan produknya melalui Shopee,” terang Kepala Bidang Keluarga Sejahtera dan Pembangunan Keluarga (KSPK) BKKBN Jawa Barat Elma Triyulianti saat ditemui di ruang kerjanya.

Selain bekerjasama dengan marketplace kelas kakap tersebut, pihaknya juga memfasilitasi kelompok yang lain untuk mengikuti workshop mandiri BKKBN. Meski prakarsa datang dari BKKBN, namun dalam pelaksanaannya tetap menggandeng para pihak yang memiliki perhatian kepada pengembangan ekonomi keluarga tersebut.

Elma menyebut setidaknya tiga mitra utama yang berkolaborasi dengan BKKBN Jawa Barat untuk membantu mengembangkan kelompok UPPKS: YK Mark, Evermos, dan Zoya. YK Mark merupakan sebuah perusahaan rintisan (startup) yang bergerak dalam digital campaign atau PRODUK UPPKS

Kepala BKKBN Jawa Barat Kusmana mendampingi anggota Komisi IX DPR RI Wenny Haryanto saat mampir ke stand pameran UPPKS di sela kunjungan kerja di Kota Depok.

pemasaran digital. Tim ini berperan menganalisis bisnis dan menawarkan strategi solutif dalam meraih objektif yang menjadi target pasar kelompok UPPKS.

Adapun Evermos merupakan sebuah platform untuk menjual produk-produk muslim Indonesia. Mengusung tagline “Everyday Need for Every Moslem”, Evermos bertujuan membantu pelaku-pelaku bisnis kecil dan perorangan untuk bersaing dengan perusahaanperusahaaan besar dan yang sudah maju. Evermos membangun channel penjualan dan peluang bisnis sebagai reseller untuk berjualan produk muslim di Indonesia dengan lebih efisien dan efektif.

“Potensi kelompok UPPKS ini sangat besar. Saat ini terdapat 6.205 kelompok UPPKS di Jawa Barat. Jenis usahanya juga beragam, mulai makanan olahan hingga kriya dan pakaian jadi. Batik Kencana edisi Jawa Barat yang menjadi seragam kebanggaan pengelola program Bangga Kencana merupakan produk UPPKS di Kabupaten Majalengka. Mereka memiliki kemampuan untuk menjadi sumber kekuatan ekonomi keluarga dan masyarakat,” terang Elma.

Elma menilai setidaknya terdapat dua kelemahan umum UPPKS di Jawa Barat maupun daerah lain di tanah air. Pertama, belum memiliki kemampuan untuk mengemas produk secara menarik atau sesuai selera konsumen. Kedua, memiliki keterbatasan dalam memasarkan produk. Sejauh ini produk UPPKS hanya berkembang di sekitar tempat produksi atau masyarakat setempat. Produk UPPKS sulit menjangkau pasar lebih luas.

“Boleh dibilang pandemi Covid-19 ini membawa berkah. Gara-gara imbauan di rumah saja dan kebijakan bekerja dari rumah, kami mendesain kegiatan workshop virtual yang bisa diikuti para pegiatan kelompok UPPKS. Responsnya sangat bagus. Mereka antusias mengikuti serial pelatihan digital marketing yang kami adakan selama pandemi. Hasilnya juga sudah bisa kita lihat sekarang. Mereka mulai piawai menjajakan produknya secara daring, baik melalui media sosial sendiri maupun menjadi mitra marketplace yang sudah ada,” papar Elma.

“Kami menargetkan melalui pelatihan dan pendampingan digital marketing ini UPPKS kita bisa naik kelas. Bila sebelumnya produk UPPKS hanya beredar di daerah tertentu, melalui pemasaran digital ini bisa menjangkau lebih banyak konsumen. Tak ada lagi batasan wilayah. Kami menerima laporan, kini banyak produk UPPKS yang dipesan dari luar kota, bahkan dari luar Pulau Jawa. Ini menunjukkan bahwa produk UPPKS bisa bersaing, baik kualitas maupun harga. Jika ini terus berjalan, kami

sangat yakin akan menjadi daya ungkit perekonomian keluarga Jawa Barat. Sudah barang tentu mengatrol tingkat kesejahteraan masyarakat Jawa Barat secara keseluruhan,” tambah Elma.

Lebih jauh Elma menjelaskan, untuk mengenalkan produkproduk UPPKS, pihaknya menyediakan etalase virtual yang bisa dimanfaatkan seluruh kelompok UPPKS. Etalase ini berupa lapak digital pada platform Instagram dan Facebook dengan nama akun @rumpakabalantik. Melalui lapak ini, warganet bisa mengintip produk apa yang ditawarkan UPPKS se-Jawa Barat. Mereka yang berminat bisa langsung mengubungi pemilik produk tersebut yang informasinya tersaji lengkap pada deskripsi masing-masing produk. Penasaran? Mari berkunjung ke @ rumpakabalantik!

Peluang Ekonomi Baru

Dukungan kini mengalir. Ketua Tim Penggerak Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (PKK) Provinsi Jawa Barat Atalia Praratya Ridwan Kamil mengajak kelompok UPPKS di Jawa Barat untuk terus membangun ekonomi keluarga pada masa adaptasi kebiasaan baru (AKB). Caranya dengan cerdas membaca peluang usaha untuk menghasilkan produk yang diminati masyarakat.

Bu Cinta, sapaan Atalia Praratya Ridwan Kamil, mengungkapkan hal itu saat menjadi narasumber dalam webinar atau seminar daring tentang “New Normal Bangga Kencana: Masa Depan Pelayanan Bangga Kencana Pascapandemi Covid-19” beberapa waktu lalu.

“Wabah Covid-19 memang berdampak luas pada kehidupan kita. Sebagaimana diberitakan di sejumlah media, banyak di antaranya keluarga kelaparan. Ada keluarga pemulung yang tidak bisa makan selama dua hari. Ada mencoba bertahan dengan hanya makan nasi dan cabai. Bahkan, ada di antaranya yang terpaksa mencuri beras untuk bisa makan. Ini kondisi yang kita hadapi selama pandemi Covid-19. Kita harus bersama-sama menghadapinya,” kata Atali Cinta penuh iba.

Atalia lantas bercerita pengalamannya saat terjun ke masyarakat bersama tim Jabar Bergerak. Menurutnya, para penerima bantuan tersebut sangat bersyukur karena mendapat bantuan langsung dari pemerintah maupun hasil penggalangan dari masyarakat. Sebagian di antaranya menangis saking bahagianya ketika menerima bantuan di tengah kelaparan.

Namun begitu, Atalia mengajak warga Jawa Barat untuk tabah menghadapi cobaan sambil terus berusaha untuk bangkit pada

PEMBERDAYAAN EKONOMI

Ketua Tim Penggerak PKK Jawa Barat Atalia Praratya menjadi narasumber webinar tentang pemberdayaan ekonomi keluarga melalui UPPKS. masa penormalan baru alias AKB. Master Ilmu Komunikasi jebolan Universitas Pasundan (Unpas) ini tidak memungkiri wabah korona menghantam demikian berat perokonomian keluarga.

“Wabah korona ini berdampak pada hilangnya pendapatan rumah tangga. Pekerja yang dirumahkan dan kena pemutusan hubungan kerja (PHK) lebih dari 1,5 juta. Impor kita juga pada triwulan I 2020 turun 3,7 persen. Sementara inflasi Mei 2020 mencapai 2,19 persen. Artinya, semua terkena dampak. Pada level mikro di keluarga maupun ekonomi nasional kita,” papar Atalia.

“Saya menyampaikan pesan Pak Gubernur untuk terus optimistis dan kreatif membaca peluang. Termasuk bagi para pegiat UPPKS agar bergerak memanfaatkan peluang pascapandemi nanti. Pada penormalan baru nanti kita tidak bisa kembali seperti sebelum adanya wabah. Kita akan memasuki normal yang baru. Mari kita manfaatkan peluang pada periode baru tersebut,” tambah Atalia.

Apa saja peluang usaha yang bakal hadir pada periode AKB tersebut? Belajar dari masa pandemi, Atalia

menyebut sejumlah usaha yang kolaps dan sebagian lain yang bertahan. Bahkan, ada juga di antara jenis usaha yang meningkat selama pandemi. Nah, usahausaha itulah yang kemudian menjadi peluang bagi Kelompok UPPKS ke depan. Sektor yang justru bangkit pada masa pandemi tersebut antara lain makanan, kesehatan, teknologi informasi dan komunikasi, produk kesehatan pribadi, dan retail.

Mengutip sebuah portal berita, Atalia mencontohkan pergeseran bisnis yang diambil Ayu Artati, warga asal Petang Kabupaten Badung, Bali, yang sebelum pandemi membuka usaha jualan baju anak dengan merek AySea Baby. Wabah Covid-19 tiba, bisnis Ayu mengalami penurunan tajam. Sang suami pun menjelang status unpaid leave akibat kebijakan perusahaan tampatnya bekerja. Ayu lantas berkreasi membuat roti. Walhasil, pasarnya ternyata bagus dan banyak yang memesan. Atalia juga mencontohkan pebisnis Solo, Anne Patricia Sutanto, yang sukses membaca peluang bisnis di tengah pandemi Covid-19. Anne merupakan Vice CEO Pan Brothers, perusahaan yang memproduksi kain, benang, dan juga pakaian jadi. Pans Brothers mengoperasikan 25 pabrik di tiga provinsi di Pulau Jawa dan memasok 46 merek ternama dunia seprti Adidas, Nike, Uniqlo, dan New Balance.

Di balik pakaian yang terancam tak lagi ramai seperti biasanya, Pan Brothers berhasil melihat peluang usaha baru. Pan Brothers banting setir memproduksi masker kain dan baju hazmat. Alat pelindung diri (APD) yang diproduksi mereka telah diekspor karena diminati pasar luar negeri. Hal ini disebabkan karena fungsi APD dan masker medis yang dibuat dapat dicuci hingga 30 kali.

“Kondisinya tentu tidak sama antara satu usaha dengan usaha lainnya. Namun, kita jangan berhenti membaca peluang untuk menghadapi tantangan yang dihadapi. Secara umum, tantangan usaha sebenarnya relatif sama. Yakni, seputar produk, modal, sumber daya manusia (SDM), dan pemasaran. Nah, tugas para pelaku usaha untuk menemukan produk yang dibutuhkan,” ungkap komisaris Urbane Indonesia tersebut. Selain dibutuhkan, sambung Atalia, pelaku usaha juga dituntut untuk membuat produk yang disukai. Setelah itu, bagaimana agar produk yang terbukti dibutuhkan dan disukai tersebut bisa diketahui publik. Lebih dari sekadar diketahui, target akhirnya adalah bagaimana agar produk bisa dibeli konsumen. Dengan potensi besar yang dimiliki, Atalia berharap kelompok UPPKS bisa membaca peluang ekonomi baru pada era AKB.

Bu Cinta lantas merinci sejumlah upaya yang bisa dilakukan UPPKS selama masa pandemi maupun pada babak penormalan baru. Pertama, Kelompok UPPKS bisa memproduksi masker yang saat ini dibutuhkan oleh masyarakat. Kedua, UPPKS bisa berperan menjadi penyuplai kebutuhan masyarakat selama masyarakat tetap berada di rumah. Dalam hal ini, UPPKS menjual bahan pokok secara daring atau layanan antar. Ketiga, UPPKS memproduksi minuman penambah daya tahan tubuh seoerti minuman rempah-rempah. Produk dijual secara daring untuk memenuhi

kebutuhan masyarakat.

“Produk UPPKS ini cukup beragam. Ada olahan makanan, fashion, craft, perhiasan, batik, APD, dan lain-lain. Ini bisa dipasarkan secara offline maupun online di media sosial. Yang terbaru misalnya, UPPKS mengembangkan pasar online melalui instagram dan facebook dengan akun Rumpaka Balantik. Saya mengapresiasi Kelompok UPPKS Jawa Barat yang telah merambah media sosial untuk memasarkan produknya,” ujarnya bangga. •NJP

This article is from: