Panduan fmea standart 11

Page 1

PEMERINTAH KABUPATEN BLORA

RSUD Dr. R. SOETIJONO BLORA Jl. Dr. Sutomo No. 42 BLORA - 58211 Telp. (0296 ) 531118, 531839 Fax (0296) 531504 Email : rsublora@yahoo.co.id

KEPUTUSAN DIREKTUR RUMAH SAKIT UMUM DAERAH Dr. R. SOETIJONO BLORA NOMOR : 445/ /2016

TENTANG PANDUAN ANALISA MODUS KEGAGALAN DAN DAMPAKNYA ( FAILURE MODE EFFECTS DAN ANALYSIS / FMEA) RSUD Dr. R. SOETIJONO BLORA DIREKTUR RUMAH SAKIT UMUM DAERAH Dr. R. SOETIJONO BLORA Menimbang

Mengingat

:

a. bahwa dalam upaya meningkatkan mutu secara keseluruhan dengan terus menerus mengurangi resiko terhadap pasien dan staf baik dalam proses asuhan klinis maupun lingkungan fisik. b. bahwa sehubungan dengan hal tersebut pada huruf a, perlu menetapkan Panduan Analisa Modus Kegagalan dan Dampaknya (Failure Mode Effect Dan Analysis / FMEA ) dengan Peraturan Direktur RSUD Dr. R Soetijono Blora :

1. Undang – Undang Nomor 36 Tahun 2009 Tentang kesehatan; 2. Undang Undang Nomor 44 Tahun 2009 tentang Rumah Sakit; 3. Undang – Undang Nomor 29 Tahun 2004 Tentang Praktek Kedokteran; 4. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 1691 Tahun 2011 Tentang keselamatan Pasien; 5. Permenkes Nomor 1438 Tahun 2010 Tentang Standar Pelayanan Kedokteran; 6. Permenkes Nomor 12 Tahun 2012 Tentang Akreditasi Rumah Sakit; 7. Pedoman Upaya Peningkatan Mutu Departemen Kesehatan


Tahun 1994 8. Standar Pelayanan Minimal Rumah Sakit Tahun 2007 ; 9. Panduan Nasional Keselamatan Pasien edisi 2 Tahun 2008; 10. Pedoman Pelaporan Insiden keselamatan Pasien edisi 2 Tahun 2008; 11. Keputusan Bupati Blora Nomor : 821.1/247/2012,Tentang Pengangkatan / Penunjukan Pegawai Negeri Sipil Dalam Jabatan Struktural Eselon III Dan IV Di Lingkungan Pemerintah Kabupaten Blora. MEMUTUSKAN

Menetapkan : Pertama :

PERATURAN DIREKTUR RSUD Dr. R. SOETIJONO BLORA TENTANG PANDUAN ANALISA MODUS KEGAGALAN DAN DAMPAKNYA (FAILURE MODE EFFECT DAN ANALYSIS/ FMEA) RSUD Dr. R. SOETIJONO BLORA.

Kedua

:

Panduan Analisa Modus kegagalandan dampaknya (Failure Mode Effect dan Analysis / FMEA) sebagaimana tercantum dalam lampiran Peraturan Direktur RSUD Dr. R. Soetijono Blora ini merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari peraturan ini dan digunakan sebagai acuan bagi petugas yang bertanggungjawab di bagian klinik maupun non klinik.

Ketiga

:

Peraturan ini berlaku sejak tanggal ditetapkan sampai dengan adanya keputusan yang baru.

Keempat

:

Segala sesuatu akan dirubah dan ditinjau kembali apabila di kemudian hari ternyata terdapat kekeliruan dalam penetapan ini.

Ditetapkan di Blora


Pada Tanggal : DIREKTUR RSUD Dr. R. SOETIJONO BLORA

NUGROHO ADIWARSO


PANDUAN ANALISA MODUS KEGAGALAN DAN DAMPAKNYA (FAILURE MODE EFFECTS DAN ANALYSIS / FMEA ) RSUD DR. R. SOETIJONO BLORA

Jl.

Dr. Sutomo No. 42 Telp. (0296 ) 531118, 531839 Fax (0296) 531504 E – Mail : rsublora@yahoo.co.id BLORA - 58211


BAB I PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG Tujuh langkah menuju keselamatan rumah sakit adalah upaya untuk menggerakkan

program

keselamatan

pasien

di

RSUD

Dr.

R.

Sotijono

Blora .Berdasarkan langkah ke enam dari tujuh langkah tersebut yaitu rumah sakit mengembangkan kebijakan yang mencakup insiden yang terjadi dan minimum satu kali pertahun melakukan Failure Modes and Effects Analysis (FMEA) untuk proses risiko tinggi. Berkaitan dengan hal tersebut diatas, maka Sub Komite Manajemen Resiko Rumah Sakit Umum Daerah Dr.R. Soetijono Blora menyusun panduan FMEA (Failure Mode Effect and analysis) sebagai tool untuk penilaian risiko pada proses yang belum dilakukan, sedang dilakukan dan proses baru dengan pendekatan proaktif.

B. TUJUAN

I. Tujuan Umum

Buku panduan ini sebagai dasar bagi Sub Komite manajemen Resiko untuk meningkatkan mutu layanan RS melalui kegiatan redesain proses pelayanan untuk menganalisis modus kegagalan dan dampaknya II. Tujuan Khusus a. Pedoman dalam melaksanakan 5 langkah melakukan Analisis Modus Kegagalan dan Dampak b. Panduan dalam menentukan proses-proses pelayanan yang mempunyai


resiko tinggi terjadi error. c. Panduan dalam perbaikan sistem (re-desain proses) terhadap proses-proses pelayanan yang mempunyai resiko tinggi terjadi error.


BAB II DEFINISI I.DEFINISI

Pada saat ini pencegahan kesalahan medis belum menjadi fokus utama untuk asuhan perawatan pasien di rumah sakit. Sebagian besar sistem pelayanan kesehatan tidak didesain untuk mencegah terjadinya error. Definisi dari FMEA (Failue Mode and Effect Analysis) adalah : 1) Metode perbaikan kinerja dengan mengidentifikasi dan mencegah potensi kegagalan sebelum terjadi. 2) Proses proaktif dimana kesalahan dapat dicegah dan diprediksi. 3) Mengantisipasi kesalahan dan meminimalkan dampak buruk. Secara umum definisinya adalah : metode perbaikan kinerja dengan mengidentifikasi dan mencegah Potensi Kegagalan sebelum terjadi. Hal tersebut didesain untuk meningkatkan keselamatan pasien.

II.RUANG LINGKUP 1. Memilih proses yang beresiko tinggi dan membentuk tim. 2. Membuat diagram proses. 3. Bertukar pikiran tentang modus kegagalan dan menetapkan dampaknya. 4. Memprioritaskan modus kegagalan. 5. Identifikasi akar masalah. 6. Redesain proses 7. Analisis dan uji prose baru 8. Implementasi dan monitor perbaikan proses.


BAB III TATA LAKSANA Tata laksana Analisis Modus Kegagalan & Dampak ( Failure Mode Effect and Analysis / FMEA ) ada 5 tahap. Yaitu : I.

Tahap 1 Pilih proses yang beresiko tinggi dan Membentuk Tim.

A. Pilih proses yang beresiko tinggi. 1. Proses yang beresiko tinggi meliputi : a. Proses baru. Misalnya : staf mengoperasikan alat / instrumen medis yang baru. b. Proses yang sedang berjalan. Misalnya : proses pengadaan, penyimpanan & distribusi tabung gas medis (O2, N2O). c. Proses klinis. Misalnya : proses pengambilan darah di laboratorium. d. Proses non klinis. Misalnya : mengkomunikasikan hasil laborat ke dokter atau identifikasi pasien yang beresiko jatuh. 2. Proses yang beresiko tinggi biasanya memiliki satu atau lebih karakteristik. a. Variabel individu : 

Pasien : tingkat keparahan penyakit, keinginan pribadi pasien, proses pengobatan.



Pemberi layanan : tingkat ketrampilan, cara pendekatan dalam pelaksanaan tugas.

b. Kompleksitas : 

Proses dalam layanan kedokteran sangat kompleks, terdiri puluhan langkah. Semakin banyak langkah dalam suatu proses, semakin tinggi probabilitas


terjadinya kesalahan. 

Teori Donald Berwick bahwa : 

Bila proses terdiri dari 1 langkah, kemunginan salah 1%.



Bila proses 25 langkah, kemungkinan salah 22%



Bila proses 100 langkah, kemungkinan salah 63%

c. Tidak standar. Proses dilakukan menurut persepsi pemberi pelayanan berdasarkan kebiasaan atau prosedur yang sudah ketinggalan jaman. Diperlukan : SPO, Protokol atau Clinical Pathways untuk membatasi pengaruhdari variabel ini. d. Proses tanpa jeda. o Perpindahan satu langkah ke langkah lain dalam waktu berurutan tanpa jeda sehingga seringkali baru disadari terjadi penyimpangan pada langkah berikutnya. Misal : NORUM. o Keterlambatan dalam suatu langkah akan mengakibatkan gangguan pada seluruh proses. o Kesalahan dalam suatu langkah akan menyebabkan penyimpangan pada langkah berikut. o Kesalahan biasanya terjadi pada perpindahan langkah atau adanya langkah yang diabaikan. Kesalahan pada satu langkah akan segera diikuti oleh kesalahan berikutnya, terutama karena koreksi tidak sempat dilakukan. e. Proses yang sangat tegantung pada intervensi petugas. o Ketergantungan yang tinggi akan intervensi seseorang dalam proses dapat menimbulkan variasi kesalahan. Misal : penulisan resep dengan singkatan dapat menimbulkan Medication error. o Sangat tergantung pada pendidikan dan pelatihan yang memadai sesuai dengan tugas dan fungsinya. o


f. Kultur garis komando ( Hierarchical culture ). Suatu proses akan menghadapi resiko kegagalan lebih tinggi dalam unit kerja dengan budaya hirarki dibandingkan dengan unit kerja yang budayanya berorientasi tim. Hal ini karena : o Staf enggan berkomunikasi & berkolaborasi satu dengan yang lain. o Perawat enggan bertanya kepada dokter atau petugas farmasi tentang medikasi, dosis serta elemen perawatan lainnya. f. Keterbatasan waktu. Proses yang memiliki keterbatasan waktu cenderung meningkatkan resiko kegagalan. 3. Pertimbangkan : o Yang paling tinggi potensi resikonya. o Yang paling “saling berkaitan� dengan proses lain o Ketertarikan orang untuk memperbaiki.

B. Membentuk tim. 1. Komposisi tim. a) Multidisiplin & multi personal 

Berbagai macam profesi yang terkait dilibatkan menjadi anggota tim.



Beberapa karakter seperti : orang yang memiliki kewenangan memutuskan,



orang yang penting untuk penerapan perubahan yang mungkin diperlukan, pemimpin

yang

memiliki

pengetahuan-dipercaya-dihormati, orang

pengetahuan yang sesuai, b) Jumlahnya tidak lebih dari 10 orang (idealnya 4-8 orang) 2. Pembagian peran tim a) Team leader

dengan


Pemimpin yang memiliki pengetahuan, dipercaya dan dihormati.

Mempunyai kemampuan membuat keputusan.

Orang yang memiliki „critical thinking‟ saat perubahan akan dilaksanakan.

b) Fasilitator. 

Fungsi fasilitator bisa dirangkap oleh team leader.

Orang yang ditunjuk sebagai fasilitator bukan berasal dari area yang dianalisis.

Memandu tim dalam proses diskusi.

Memilah temuan atau masukan yang tidak penting.

Memastikan bahwa anggota tim menyelesaikan setiap langkah dan mendokumentasikan hasil.

Mengarahkan tim untuk fokus pada masalah yang sedang dibicarakan.

Anggota tim merasa nyaman dengan adanya fasilitator.

c) Expert. 

Petugas yang menguasai dan ahli dalam bidang yang dianalisis.

Dengan keahliannya diharapkan memberikan masukan berupa perubahan proses.

d) Perwakilan dari disiplin ilmu terkait. e) Notulen o Bertanggung jawab mencatat dan membagikan notulen. o Fungsi notulen bisa dirangkap oleh anggota secara bergantian. Fungsi notulis dapat menghambat kemampuannya sehingga perlu bergantian. o Membuat dokumentasi.

dalam mengemukakan pendapat,


II.

LANGKAH 2. MEMBUAT ALUR PROSES

Pilihlah salah satu diagram / mapping Process o Mapping Process juga dikenal sebagai Flowchart, menggambarkan semua langkah dalam proses. o Mapping Process membantu Tim mengidenLfikasi masalah yang dapat diperbaiki. o Tool ini sangat mendasar yang sebaiknya digunakan pada langkah awal karena dapat memberikan pandangan yang jelas tentang proses. o Tim

sebaiknya

memulai

dengan

Process

Map

level

tinggi

(5-12

langkah).Kemudian memilih proses yang mempunyai masalah yang paling besar. o Contoh : 0. Detaile Process Map paling umum digunakan


b. High-Level. Process Map tercepat, paling sederhana dan detil

c. High--�low (Top--�down)

Menambahkan pada kedalaman pada high--�level Process Map, namun tanpa mapping yang detil

III.

Tahap 3. Brainstorm Potensial Modus Kegagalan dan Dampaknya.

Dalam tahap ke 3, proses harus menggunakan alat bantu berupa : 1. Failure Mode. o Jenis potensi kegagalan dalam proses untuk memenuhi persyaratan atau tujuan proses. o Berasal dari proses yang tidak sempurna. o Menyebabkan dampak. o Contoh : tidak berfungsi, fungsi menurun, fungsi menyimpang, jatuh, salah identifikasi dll.


2. Efek. o Akibat dari kegagalan, yang mengganggu / merugikan. o Dirasakan pasien o Contoh : keterlambatan penanganan, kematian, cacat, kerusakan jaringan, tidak dapat diperbaiki, melanggar ketentuan, kerugian finansial. Contoh diagram 1 proses No 1.

Sub Proses

Failure Mode

Effect

Print charge slip &

Charge slip & etiket

Dampak pada pasien : salah obat,

etiket

berbeda dg resep

salah harga, terapi irasional Dampak pada pengunjung : Dampak pada staf : komplain pasien, sangsi atasan Peralatan / fasilitas : -

Charge slip & etiket

Dampak pada pasien : salah minum

buram

obat Dampak pada pengunjung : Dampak pada staf : komplain dari pasien

Langkah 4. Hitung skala prioritas kegagalan.

IV.



Sberapa parah efek yang ditimbulkan.



Tingkat kefatalan dampak menggunakan alat bantu berupa tabel Severity.



Seberapa sering potensi penyebab terjadi. Tingkat kemungkinan terjadi menggunakan alat bantu berupa tabel Occurrence.



Beberapa mudah potensi penyebab terdeteksi. Kemampuan deteksi dari sistem yang ada menggunakan tabel Detection.


Risk Priority number (RPN)

Sering digunakan untuk mengkalkulasi kritisnya keadaan sebagai suatu a risk priority number (RPN), juga disebut Criticality Index (CI), berdasarkan derajat Severity,Probability dan Deteksi.

Risk Priority Number = severity x Occurence x Detection

 Modus kegagalan dengan nilai RPN yang tinggi, otomatis menjadi perhatian untuk diatasi / menjadi PRIORITAS.  Memilih skala peringkat : 

JCI tidak secara spesifik menentukan “skala” mana yang harus digunakan dalam menilai modus kegagalan.

Skala yang dipilih adalah skala 1-10 A. Severity 

Yaitu efek pada pelanggan.

Nilai 10 adalah ekstrem (komplain) dan nilai 1adalah pelanggan tidak nyaman.

Contoh skala 1‐10

RATIN G 1

DESKRIPSI Dampak minor atau tidak ada

DEFINISI Tidak akan disadari oleh orang yang mengalami dan tidak mempengaruhi proses

2 Dapat mempengaruhi orang yang mengalami dan akan sedikit berpengaruh pada proses.

3 4 5

Dampak moderat

Dapat berpengaruh pada orang yang mengalami & menyebabkan


dampak serius pada proses. Akan berpengaruh pada orang dan menyebabkan dampak serius pada proses.

Cedera ringan

6 7

Akan mengakibatkan cedera serius pada orang & menyebabkan dampak serius pada proses.

Cedera berat

8 9 10

Bencana, cacat seumur hidup / meninggal

Sangat berbahaya : kegagalan akan menyebabkan kematian pada orang yang dilayani & menyebabkan dampak serius pada proses.

B. Occurance 

Contoh skala 1-10 DESKRIPSI

KEMUNGKINA N

Sangat jarang & hampir tidak ada

Tidak ada / sedikit diketahui terjadinya, 1 dalam 10.000 sangat tidak mungkin kondisi akan pernah terjadi

3

Kemungkinan rendah

1 dalam 5.000

4 5

Kemungkinan

1 dalam 200

1

DEFINISI

2

moderat

Mungkin, tapi tidak diketahui datanya, kondisi terjadi dalam kasus terisolasi, tetapi kemungkinannya rendah Didokumentasikan, tetapi jarang, kondisi tersebut memiliki kemungkinan cukup besar terjadi

6 Kemungkinan tinggi

1 dalam 100

9

Yakin terjadi

1 dalam 20

10

Selalu terjadi

1 dalam 10

7

Didokumentasikan & sering, kondisi tersebut terjadi sangat teratur dan / selama jangka waktu yang wajar.

8 Didokumentasikan, hampir pasti, kondisi tersebut pasti akan terjadi selama periode panjang yang spesifik untuk langkah / hubungan tertentu


C. Detection  1 2 3 4 5 6 7 8

Menggunakan skala 1-10 Pasti terdeteksi

10 dari 10 Hampir selalu terdeteksi dengan segera

Kemungkinan rendah

7 dari 10

Mungkin terdeteksi

Kemungkinan moderat

5 dari 10

Kemungkinan sedang terdeteksi

Kemungkinan tinggi

2 dari 10

Tidak akan terdeteksi dengan mudah

9

Hampir pasti tidak terdeteksi

0 dari 10

10

Tidak ada upaya deteksi

Tidak mungkin terdeteksi tanpa upaya serius Tidak ada mekanisme deteksi atau proses baru

rioritaskan Modus Kegagalan 

Modus kegagalan harus dilakukan prioritas sesuai dengan prioritas tindakan.

Jika modus kegagalan menggunakan RPN, mungkin dapat memilih “cut off point” untuk menentukan prioritas.

Nilai dibawah cutoff point tidak memerlukan tindakan segera kecuali tersedia waktu.

Nilai di atas cutoff point , harus dilakukan eksplorasi.


Tabel RPN dan Criticality No 1.

Sub Proses

Failure Mode

Print Charge slip charge slip & etiket berbeda dg & etiket resep

Effect

S

Dampak pada 9 pasien : salah obat, salah harga, terapi irasional

Potential Cause

O

D

RPN

Petugas salah input

3

7

189

Tinta mesin printer hampir

4

1

36

Dampak pada pengunjung : Dampak pada staf : komplain pasien, sangsi atasan Peralatan / fasilitas : Charge slip & etiket buram

Dampak pada pasien : salah minum obat

habis Dampak pada pengunjung : Dampak pada staf : komplain dari pasien

Target RPN = 150 Maka : 

Dibawah 150 resiko diterima oleh rumah sakit.



Diatas atau sama dengan 150 maka resiko akan di kontrol atau dieleminasi dengan rencana tindak lanjut.


V.

Langkah 5. Identifikasi akar masalah modus kegagalan. 

Dalam konteks FMEA : RCA digunakan untuk menganalisa kemungkinan salah dalam Proses dan sistem.



Desainnya adalah Kegagalan dimasa datang bisa dicegah. Kalaupun tidak dapat dicegah, pasien harus di proteksi terhadap dampak kegagalan tsb atau Dampak di mitigasi. Alat bantu yang bisa digunakan untuk analisa akar penyebab : 1. Brainstorming. Analisa akar penyebab : jika diinginkan ide / solusi yang tidak terbatas untuk menemukan akar masalah dari semua pihak dalam proses perbaikan. Tujuan : untuk menghasilkan beberapa ide-ide dalam waktu minimum melalui proses kreatif dalam kelompok. 2. Cause & Effect Diagram. Analisa akar penyebab : ketika masalah memiliki beberapa penyebab. Tujuannya : untuk menampilkan gambaran yang jelas dari beberapa hubungan sebab akibat antara hasil dan faktor yang mempengaruhi. Menggunakan 5 faktor yaitu = 5 M + 1 E 1 Tulang mencakup “Why� sebanyak 5 kali.


VI.

Langkah 6. Redesain Proses.

Hal yg perlu dilakukan adalah :

a) Lakukan studi literatur untuk mengumpulkan informasi dari literatur ilmiah.

b) Belajar dari rumah sakit lain dalam mengatasi masalah untuk problem yang sama.

c) Berkomitmen untuk mencapai berubahan baru dalam cara pandang baru. Strategi Redesain

1) Desain atau desain ulang proses untuk eleminasi peluang terjadinya kegagalan (mencegah terjadinya kegagalan).

2) Mencegah kegagalan sampai ke pasien dg meningkatkan deteksi kegagalan.

3) Fokus pada mitigasi dampak kesalahan yang sampai ke pasien.

VII. I.

Langkah 7. Analisis dan Uji Coba Proses Baru. Panduan Analisis. a. Bagaimana proses baru tersebut dapat diterapkan. b. Kapan proses yg baru akan diterapkan c. Siapa yang akan bertindak & bertanggung jawab.


d. Dimana proses baru tersebut akan diterapkan. II.

Panduan Pengujian. a. Pengujian diatas kertas. b. Simulasi c. Uji coba terbatas.

III.

Pengumpulan Data. a. Tinjauan terhadap catatan hasil pengujian, b. Survei sebelum dan sesudah perubahan. c. Sistem pelaporan. d. Pengamatan di lapangan e. Diskusi kelompok terfokus (FGD). f. Kehadiran pada program pendidikan. g. Evaluasi kompetensi.

VIII.

Langkah 8. Implementasi dan Monitor Proses yang Diredesain.

A. Strategi perubahan. o Buat ‘sense of urgency’ o Bentuk tim pemandu. o Buat visi dan strategi o Komunikasikan visi yang berubah. B. Strategi pemantauan. 

Dokumentasikan seluruh hasil proses yang baru, masukkan ke dalam prosedur (sehingga menjadi standar baru).

Berikan training dan sosialisasi menyeluruh.

Jaga

kestabilan

kekonsistenannya.

proses

selama

beberapa

waktu

untuk

memastikan


Contoh Tabel Implementasi dan Pemantauan : Hasil Kegiatan PIC

Dateline

Tindakan yg diambil

S

O

D

RPN

(penanggung jawab) (Batas waktu) Obat dg nama yg sama

Michael

15 April

10

3

3

90

namun berbeda sediaannya , diletakkan terpisah ( di rak yg berbeda)

Tindakan dan pengukuran outcome 1) Tentukan apakah potensial penyebab modus kegagalan akan di : a. Kontrol. b. Eliminasi. c. Terima. 2) Jelaskan tindakan untuk setiap potensial modus kegagalan yang akan dieliminasi atau dikontrol. 3) Identifikasi ukuran outcome yang digunakan untuk analisa dan uji re-desain proses 4) Identifikasi

penanggung

jawab

dan

deadline

/

target

waktu

untuk

melaksanakan tindakan tersebut. 5) Tentukan apakah perlu dukungan direktur atau tidak untuk menjalankan proses baru tersebut. 6) Lakukan pengukuran S, O dan D kembali setelah tindak lanjut dilakukan. 7) Hitung kembali nilai RPN baru. 8)

Jika nilai RPN sudah mencapai target maka cari kembali nilai RPN yang masih diatas target.


BAB IV DOKUMENTASI

Dokumentasi dalam buku panduan ini adalah : Menuliskan semua langkah dalam bentuk form yang tersedia sebagai berikut :

2


LANGKAH GAMBARKAN ALUR SUB PROSES Jelaskan Sub Proses kegiatan yang dipilih A

B

C

D

E

F

Cantumkan beberapa Sub Proses untuk setiap tahapan proses Modus Kegagalan Modus Kegagalan Modus Kegagalan Modus Kegagalan 1. 1. 1. 1. __________ __________ __________ 1. ___________ ___________ 2. 2. 2. 2. 2. __________ __________ __________ ____________ ___________ 3. 3. 3. ___________ 3. __________ __________ __________ 3. _ ___________ 4. 4. 4. 4. 4. __________ __________ __________ ____________ ___________ 5. 5. 5. ___________ 5. __________ __________ __________ 5. _ ___________

1. ___________ 2. ___________ 3. ___________ 4. ___________ 5. ___________

HFMEA : Healthcare Failure Mode Effect and Analysis Langkah 4. Hitung skala prioritas kegagalan dengan tabel RPN dan Criticality No Sub Proses

Failure Mode

Effect

Dampak pada pasien : Dampak pada pengunjung : Dampak pada staf : Peralatan / fasilitas : Dampak pada pasien :

S

Potential Cause

O

D

RPN


Dampak pada pengunjung : Dampak pada staf :

Langkah 8. Tabel implementasi dan pemantauan. Hasil Kegiatan PIC

Dateline

Tindakan yg diambil

S (penanggung jawab)

O

D

(Batas waktu)

1) Pengorganisasian tim kerja. 2) Mekanisme kerja yaitu langkah-langkah dalam proses AMKD / FMEA. 3) Prosedur yang dilaksanakan, mengunakan : 

SPO Pelayanan / Peralatan Medis yang diperlukan.

SPO Analisis Modus Kegagalan dan Dampak (AMKD).

Surat Keputusan penetapan orang-orang yang terlibat.

Surat tugas petugas yang terlibat tim.

4) Laporan AMKD yang telah dibuat untuk satu analisis. 5) Salinan Kebijakan Direktur terkait tindak lanjut yang diusulkan oleh tim.

RPN


BAB V PENUTUP

Demikianlah panduan ini disusun sebagai pedoman dalam menjalankan layanan pasien yang aman, khususnya dalam rangka mencegah kesalahan identifikasi pasien. Panduan ini masih jauh dari sempurna, oleh sebab itu panduan akan ditinjau kembali setiap 2 sampai 3 tahun sesuai dengan tuntutan layanan dan standar akreditasi - baik Akreditasi Nasional 2012 maupun standar Internasional.



DAFTAR PUSTAKA

1. Daud A. 2008, Workshop Keselamatan Pasien dan Manajemen resiko Klinis di Rumah Sakit : Cegah Cedera Melalui Implementasi Keselamatan Pasien Dengan Redesain Proses (Analisa HFMEA), IMR, Jakarta. 2. Komisi Akreditasi Rumah Sakit, 2012. Panduan Penyusunan Dokumen Akreditasi, IMR, Jakarta. 3. Departemen Kesehatan Republik Indonesia, 2008. Panduan Nasional Keselamatan pasien Rumah Sakit-Edisi 2. Depkes, Jakarta. 4. Komite Keselamatan Pasien Rumah Sakit (KKP-RS), 2008. Pedoman Pelaporan Insiden Keselamatan Pasien (IKP)-Edisi 2. KKP-RS, Jakarta. 5. Buku FMEA, JCI Edisi Ke-3.




Turn static files into dynamic content formats.

Create a flipbook
Issuu converts static files into: digital portfolios, online yearbooks, online catalogs, digital photo albums and more. Sign up and create your flipbook.