13-01-2016
Papua Lebih Penting dari Benny Wenda Penulis : Toas H, peneliti di Lembaga Analisa Politik dan Demokrasi (LAPD)
Kepala Badan Intelijen Negara (BIN), Sutiyoso mengemukakan niatnya untuk melakukan pendekatan lunak terhadap Benny Wenda seperti yang juga diterapkan kepada mantan kombatan Gerakan Aceh Merdeka Din Minimi yang kini mengakhiri pemberontakannya dan bersedia bekerjasama dengan pemerintah RI. Namun, pemimpin Gerakan Pembebasan Papua dan Juru Bicara United Liberation Movement for West Papua, Benny Wenda, menyatakan tidak takut dengan Badan Intelijen Negara Republik Indonesia. Bahkan dengan sarkartis, Tapol/Napool yang kini tinggal di London, Inggris, sejak 2003 setelah setahun sebelumnya kabur dari Lembaga Pemasyarakatan Abepura, Jayapura menyebut Kepala BIN Sutiyoso bersikap kekanak-kanakan, abai, dan tidak bijak dalam menghadapi persoalan Papua. “Saya tidak takut dengan metode apapun yang akan digunakan intelijen Indonesia terhadap saya. Mereka tak dapat menghentikan saya memperjuangkan hak-hak fundamental rakyat Papua untuk menentukan nasib sendiri,” kata Benny yang melarikan diri saat proses persidangan terkait dakwaan terhadap dirinya telah melakukan penyerangan ke kantor polisi di Abepura belum usai, dalam keterangan tertulis yang diterima CNNIndonesia.com. Benny juga mengkritik jawaban Sutiyoso saat ditanya wartawan tentang metode apa yang bakal digunakan BIN untuk mendekatinya jika pendekatan lunak ditolak oleh dia. Benny Wenda bukan figur tunggal Sebenarnya berbicara tentang integrasi Papua ke Indonesia sudah tuntas baik secara hukum nasional ataupun hukum internasional. Marak dan berlanjutnya permasalahan Papua sekarang ini disebabkan karena adanya upaya-upaya internasionalisasi oleh berbagai kalangan di Papua dan luar Papua seperti Benny Wenda cs yang merasakan bahwa diri dan kelompoknya “tidak mendapatkan untung” dengan bergabungnya Papua ke NKRI. Disamping itu, berlanjutnya permasalahan di Papua sekarang ini juga kemungkinan adanya permainan dari berbagai kelompok manusia yang sebenarnya tidak menginginkan Papua aman dan damai. Mereka melakukan hal tersebut untuk kepentingan mencari keuntungan ekonomi dan politik bagi dirinya sendiri. Sebenarnya soliditas diantara para kelompok pendukung “Papua Merdeka” tidak sehebat yang mereka kampanyekan, karena baik “sayap militer” ataupun “sayap politik” yang memperjuangkan “Papua Merdeka” sangat lemah, sangat rentan dan komunikasi tidak intens dilaksanakan, bahkan ada perpecahan diantara mereka. Dan, yang lebih penting adalah tidak ada tokoh sentral atau tidak ada figur tunggal dalam kepemimpinan “Papua Merdeka”, karena semuanya ingin disebut sebagai “bos”.