KEUTAMAAN MENUNTUT ILMU PADA PUISI FAḌLUT-TA’ALLUM

Page 1

Citra Ilmu, Edisi 31 Vol. XVI, April 2020

KEUTAMAAN MENUNTUT ILMU PADA PUISI FAḌLUT-TA’ALLUM: KAJIAN ANTOLOGI HIDĀYATUL-AŻKIYÀ ILĀ ṬARĪQIL-AULIYÀ KARYA SYAIKH ZAINUD-DĪN AL-MALĪBĀ RĪ ASY-SYĀ FI̒I ̄ Hidayatun Ulfa Sekolah Tinggi Agama Islam Nahdlatul Ulama Temanggung hidayatunulfa52@gmail.com Abstrak Penelitian ini membahas tentang keutamaan menuntut ilmu yang terdapat dalam puisi Faḍlut-Ta’allum dalam antologi Hidāyatul-Ażkiyà ilā Ṭarīqil-Auliyà karya Syaikh Zainud-Dīn al-Malībārī asy-Syāfi̒. Pisau analisis dalam penelitian ini mengacu pada kajian semiotika yang dikemukakan oleh Riffaterre. Berdasarkan analisis semiotik yang dilakukan, dapat disimpulkan bahwa dalam puisi “Faḍlut-Ta’allum”dalam antologi Hidāyatul-Ażkiyà ilā ṬarīqilAuliyà karya Syaikh Zainud-Dīn al-Malībārī asy-Syāfi̒i ̄ tersebut ditemukan ketidaklangsungan ekspresi melalui penciptaan arti, yakni ditemukannya bentuk baḥr Kāmil dengan qafiyyah lamiyyah. Adapun melalui pembacaan semiotik dapat diketahui bahwa puisi tersebut merupakan gambaran bagaimana keutamaan-keutamaan orang yang menuntut ilmu. Dengan menuntut ilmu, seseorang dapat memperoleh pertolongan dan kemudahan dari Allah baik di dunia hingga akhirat. Kata Kunci: keutamaan menuntut ilmu, Faḍlut-Ta’allum, Hidāyatul-Ażkiyà ilā Ṭarīqil-Auliyà , Syaikh Zainud-Dīn al-Malībārī asy-Syāfi̒, semiotik.

Abstract This study discusses the primacy of the study found in the poems of Faḍlut-Ta’allum in the anthology of the Hidāyatul-Ażkiyà ilā Ṭarīqil-Auliyà by Syaikh Zainud-Dīn al-Malībārī asy-Syāfi̒. The analysis in this study refers to the study of semiotics proposed by Riffaterre. Based on the semiotic analysis carried out, it can be concluded that in the poem “Faḍlut-Ta’allum” in the anthology of Hidāyatul-Ażkiyà ilā Ṭarīqil-Auliyà the work of Shaykh Zainud-Dīn al-Malībārī asy-Syāfi̒ was found to be unsustainable through the creation of meaning, the form of bahr Kāmil with qafiyyah lamiyyah. As for the semiotic reading it can be seen that the poem is a picture of how the virtues of those who study. By studying, one can get help and ease from God both in the world to the hereafter.

Key words: The Primacy of the study, Faḍlut-Ta’allum, Hidāyatul-Ażkiyà ilā Ṭarīqil-Auliyà , Syaikh Zainud-Dīn al-Malībārī asy-Syāfi̒, semiotic.

Pendahuluan Bersamaan dengan masuknya Islam di Indonesia, sekitar abad ke-13, bertambah pula pengetahuan keislaman di Nusantara. Hal ini terlihat dengan adanya karya-karya keagamaan di pesantren, yang selalu dikaitkan dengan kitab-kitab klasik berbahasa Arab. Manifestasi keilmuan tersebut mula-mula datang dalam bentuk tasawuf dan ilmu-ilmunya yang tidak

lepas dari ilmu syariah pada umumnya. Masa abad ke13 Masehi itu, Islam datang ke Indonesia sudah dalam bentuk yang dikembangkan di Persia dan kemudian di anak Benua India, yaitu yang berorientasi sangat kuat pada tasawuf. Oleh karena itu, dapat dikatakan bahwa tasawuf adalah orientasi yang menentukan corak keilmuan dan watak tradisi keilmuan di pesantren pada saat itu. Naskah-naskah berbahasa Arab bergenre tasawuf

35


Turn static files into dynamic content formats.

Create a flipbook
Issuu converts static files into: digital portfolios, online yearbooks, online catalogs, digital photo albums and more. Sign up and create your flipbook.