9241502

Page 1

Performa (2012) Vol. 11, No. 2: 107-112

Penentuan Frekuensi Perjalanan Angkutan Umum Batik Solo Trans untuk Mengoptimalkan Jumlah Pendapatan Ayu Sally Damayanti*1 , Yusuf Priyandari, Wakhid Ahmad Jauhari Jurusan Teknik Industri, Universitas Sebelas Maret Surakarta Jl. Ir. Sutami 36A, Surakarta 57126, Telp/Fax. (0271) 632110

Abstract This research utilizes the rearrangement on trip frequency of Batik Solo Trans as the solution for increasing their daily revenue. The first phase of the trip rearrangement is identifying peak hours of Batik Solo Trans and analyzing data distribution of passengers’ quantity. Next, Monte Carlo simulation is applied for evoking the passenger quantity data as the basis on trip frequency calculation. There are three types of trip frequency which are calculated, minimum, maximum and service frequency. The service frequency is a threshold between revenue and operational cost. At the last phase, sensitivity analysis is applied on service frequency calculation. This research shows that a suggested frequency (service frequency) could be applied when tariff for a passengers and passenger quantity are remaining unchanged. Besides, if Batik Solo Trans still use the old trip frequency, it’s suggested that Batik Solo Trans considers rising the tariff. Keywords: Batik Solo Trans, trip frequency, Monte Carlo’s Simulation

1. Pendahuluan Batik Solo Trans (BST) merupakan angkutan umum masal yang dikelola oleh Pemerintah Kota Surakarta bekerjasama dengan Perum DAMRI untuk melayani masyarakat menuju wilayah-wilayah strategis yang ada di Surakarta. BST telah beroperasi sejak September 2010, namun penggunaannya belum optimal karena kurangnya jumlah penumpang yang menggunakan BST (Ferdinand, 2010). Kurangnya jumlah penumpang menyebabkan kerugian sehingga Perum DAMRI harus memenuhi selisih pendapatan dan biaya operasional (Widodo, 2011). Aziz (2011) juga mengungkapkan bahwa jumlah penumpang BST rata-rta 140 orang/bus/hari berada di bawah standar World Bank yakni 463-555 orang/bus/hari. Selain itu Aziz (2011) juga menemukan bahwa besarnya load factor BST belum memenuhi masih di bawah 70%. Nilai load factor itu menunjukkan bahwa secara rata-rata, dari jumlah tempat duduk yang tersedia hanya digunakan kurang dari 70%-nya. Salah satu upaya untuk mengatasi kerugian BST mengevaluasi atau menentukan kembali lokasi halte yang seminimal mungkin untuk mengurangi biaya operasional dan sekaligus dapat meningkatkan jumlah penumpang. Hal tersebut dilakukan Li et al, (2009) dalam mengkaji lokasi pemberhentian bus (halte) di Portland, Oregon. Hal ini tentu relevan dilakukan terhadap BST mengingat BST baru beroperasi dan sejumlah halte masih berupa halte portable yang dapat dipindah-pindah menyesuikan hasil perhitungan potensi jumlah calon penumpang. Cara lain untuk mengurangi kerugian adalah menaikkan tarif . Namun demikian Hanya saja menaikkan tarif selain berpotensi menaikkan pendapatan, juga berpotensi menurunkan animo masyarakat untuk menggunakan BST. Apabila animo masyarakat dalam menggunakan BST turun, maka maksud dan tujuan adanya BST yakni meningatkan kualitas pelayanan angkutan umum di Kota Surakarta tidak tercapai. *

Correspondence: rains.green@gmail.com


Turn static files into dynamic content formats.

Create a flipbook
Issuu converts static files into: digital portfolios, online yearbooks, online catalogs, digital photo albums and more. Sign up and create your flipbook.