ISSN : 1412-7490
Edisi No.188 Tahun XIV ~ Minggu I Juni 2015
Tabloid Mingguan Berita Jatim Pos Terdaftar di Dewan Pers, Nomor 10 Halaman 111 Buku Data Pers Nasional 2014 atau bisa diakses pada Website Dewan Pers : www.dewanpers.or.id. Untuk konfirmasi hubungi Gedung Dewan Pers Lantai 7-8 Jl. Kebon Sirih No. 32-34 Jakarta Pusat Telp (021) 3504874-75. Faks (021) 3452030.
14 Tahun Tabloid Jatim Pos
Makin Lengkap dengan Online www.jatimpos.co SETELAH serangkaian acara-acara sebelumnya, minggu kemaren (31/5) puncak peringatan HUT Tabloid Mingguan Berita JATIM POS ke-14, di Rumah Makan Taman Sari Indah Surabaya de-
ngan pemberian santunan kepada fakir miskin dan anak yatim piatu. Yang istimewa, pada kesempatan itu dilangsungkan launching online “JATIMPOS. CO” untuk melengkapi dan
update berita setiap saat. Sebab bila menunggu berita hasil cetak tabloid Jatim Pos masih harus satu minggu. Kini beritaberita menarik dari wartawan Jatim Pos bisa dilihat di Bersamb ke hal. 11
Dari kiri : Machmud Suhermono, Sekretaris PWI Jatim menjelaskan UU Pers dan UKW didampingi : Gatot Sudjono, Siswo Utomo dan Huzni Wakid (kiri) dan Pimpinan Redaksi Jatim Pos H.Syaiful Anam memberikan santunan kepada fakir miskin dan anak yatim (kanan).
PNS Berijazah Palsu Terancam Dipecat Bondowoso dan Sampang Akan Bertindak Tegas
Surabaya, Jatim Pos Entah keceplosan atau hanya sebatas kelakar saja Walikota Surabaya Tri Rismaharini Selasa lalu 26 Mei-2013 mengungkapkan dirinya pernah ditawar si hidung belang saat melewati gang Dolly. “Saya suka blusukan masuk dan keluar gang pemukiman penduduk di perkampungan penduduk kota Surabaya. Saat masih Mahasiswi saat melewati gang Dolly bersama teman-teman saya sempat ditawar oleh seseorang,” ungkap Risma dengan nada tanpa beban dihadapan warga Kampoeng Lawas Maspati yang menyaksikan pembukaan Festival Kampung Lawas Maspati. Apakah kasus penawaran Risma tersebut ada hubungannya dengan penutupan lokalisasi Dolly? Wallahu alam, hanya Risma yang tahu. Namun sedemikian jauh Risma tidak menjelaskan secara detail berapa ribu rupiah nilai penawarannya kecuali mengatakan dengan keberadaan kampoenglah Surabaya sampai sekarang tetap ada dan dikenal sampai keseluruh dunia. Bersamb ke hal. 11
MESKI bukan isu baru, namun terbongkarnya sindikat pemalsu ijazah di Jakarta kembali membuat heboh. Pemilik ijazah palsu patut was-was, terlebih setelah ada seruan Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (KemenPAN-RB) yang meminta Inspektorat di seluruh daerah melakukan pengawasan ketat terhadap PNS. Hal ini terkait dengan adanya indikasi kuat banyak PNS yang membeli ijazah palsu (Ipal) untuk kepentingan kenaikan pangkat. “Ini memang sudah ranah Badan Kepegawaian Negara (BKN), tapi saya tegaskan di sini tidak ada ampun bagi aparatur yang berani menggunakan ijazah palsu,” tegas MenPAN-RB Yuddy Chrisnandi, Selasa (26/5/2015). Bagi PNS yang kedapatan ijazahnya bodong, lanjutnya, akan dikenakan sanksi berupa penurunan pangkat. Sedangkan yang baru akan dipromosi, dibatalkan kenaikan pangkatnya. “Jangan karena ingin naik pangkat lantas menghalalkan segala cara. Saya pastikan PNS yang pakai ijazah bodong, turun pangkatnya. Teknis pelaksanaannya BKN yang paling tahu,” tegasnya. Yuddy menyatakan, telah memerintahkan BKN untuk lebih ketat dalam verifikasi data PNS. Baik PNS baru maupun yang akan mengurus kenaikan pangkatnya. Yuddy Chrisnandi juga sudah mengin-
Dana BOS Tak Cair, Guru Madrasah Resah Ancam Kelangsungan Hidup 11.841 Madrasah di Jatim PARA guru madrasah di seluruh di tanah air resah, karena tidak bisa mencairkan dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS). Ini akibat adanya aturan baru dari Kementerian Agama sehingga kanwil dan kandepag di seluruh Indonesia tidak berani mendistribusikan dana BOS ke sekolah-sekolah. Informasi yang diperoleh, aturan baru itu mengubah pola pencairan yang selama ini melalui akun 57 menjadi akun 52. Ketua Komisi VIII DPR-RI Saleh Daulay yang membidangi masalah agama saat dikonfirmasi mengatakan, sudah berbicara dengan beberapa pejabat kementerian
agama. “Saya tadi menghubungi inspektorat jenderal, sekjend, dan bahkan dengan menteri agama. Mereka memiliki jawaban yang seragam, terkendala aturan baru Kemenkeu,” kata Saleh dalam
pesan singkatnya kepada Jatim Pos, Jumat (29/5/ 2015). Aturan ini, kata dia, berimplikasi besar bagi proses pencairan dana. Walaupun Bersamb ke hal. 11
Kelangsungan hidup ribuan Madrasah di Jatim terancam, akibat guru mereka belum terima gajian.
Kerja zaman sekarang membutuhkan ijazah S1, baik swasta maupun PNS. Untuk itulah banyak orang dengan gampangnya melakukan kecurangan dengan menggunakan ijazah palsu. struksikan Inspektorat untuk melakukan pengecekan ulang terhadap seluruh PNS. Ia mengimbau kepada Inspektorat Kementerian lain juga turut
melakukan pengecekan ke seluruh Kementerian dan Lembaga Pemerintah daerah. Menurutnya, pihak yang paling dirugikan adanya ijazah
palsu ini adalah pemerintah. Karena apabila PNS gunakan ijazah yang palsu berkonsekuensi terhadap kepangkat Bersamb ke hal. 11
Jelang Ramadhan Banyak Uang Palsu Beredar BI: Kenali dengan Cara 3 M PERWAKILAN Bank Indonesia (BI) Malang, Jawa Timur mewanti-wanti beredarnya uang palsu menjelang bulan Ramadhan dan hari Raya Idul Fitri 2015. Peringatan itu wajar
disampaikan menyusul temuan uang palsu di Jember sebesar Rp 12,2 miliar beberapa waktu lalu. Kepala Kantor BI Malang Dudi Herawadi mengatakan
temuan uang palsu dalam jumlah besar tersebut dikhawatirkan akan memengaruhi peredaran uang palsu di sekitar Malang. Dudi mengimbau warga setempat agar berhati-hati. Bersamb ke hal. 11
KONI Jatim Minta Anggaran 400 Miliar Untuk Hadapi PON 2016 di Bandung
MINIMNYA anggaran akan mempengaruhi prestasi atlet yang berjuang mengharumkan nama Jawa Timur di kancah Pekan Olahraga Nasional (PON) ke-19 yang akan diselenggarakan di Bandung, Jawa Barat. Apalagi target Provinsi Jatim sebagai juara umum membutuhkan dana yang tidak sedikit sebagai penunjang prestasi atlet. Alasan itu pula yang mendorong Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Jawa Bersamb ke hal. 11
Suasana Rapat Anggota Tahunan KONI Jatim di Garden Palace Hotel Surabaya. Foto: fariz yarbo