t? a b e H a w s i s a h Ma
website: kammiuns.org twitter: @KAMMIUNS Fb: Kammi Uns
Persembahan dari KAMMI
Negarawan
Yakin?
Edisi 1 Periode 2014 - 2015
Setelah melalui proses seleksi yang ketat dalam SNMPTN, akhirnya saat ini kalian akan segera menyandang predikat sebagai mahasiswa. Mahasiswa dalam tahap awalnya memasuki dunia kampus memiliki orientasi awal yang berbeda-beda. Ada yang menganggap kuliah sebagai keharusan penuntasan jenjang pendidikan, ada yang hanya mengejar ijazah sebagai orientasi karir di masa depan, ajang mencari jodoh, ada pula yang mengorientasikan kuliahnya demi penuntasan hasrat intelektual. Termasuk yang manakah diri kalian? Pertanyaan selanjutnya, sudah yakinkah kalian dengan jurusan/ program studi yang kalian pilih? Sebab, kalau kalian tak merasa cocok di awal, bagaimana bisa menjalani masa kuliah dengan penuh tanggung jawab? Ingat, masa kuliah tak akan seindah seperti yang disajikan di layar kaca. Kalian akan disibukkan dengan tugas kuliah, kompleksitas pergaulan dengan rekan kuliah, rekan organisasi, dosen, hingga masyarakat sekitar kampus. Tidak percaya? Merasa hanya kuliah hanya tentang diri kalian sendiri, atau paling banter ya tentang kalian dan orang tua? Proses belajar yang akan segera kalian jalani bukan hanya menyangkut tentang diri kalian, tetapi juga ratusan juta rakyat IndonesiaI. Saat seleksi masuk perguruan tinggi, ada berapa ratus ribu siswa yang mendaftar? Berapa banyak yang diterima? Kasarnya, jika ada 800 orang yang mendaftar di program studimu, lantas yang diterima hanya 80, kalian pikir berapa banyak kawan kalian yang saat ini sedang berjuang menentukan arah? Dengan perbandingan keketatan tiap orangnya adalah 1:10, kalian memiliki tanggung jawab besar atas 9 orang yang gagal mendapatkan kursi di perguruan tinggi.
Jika itu belum cukup, baiknya kalian cari tahu dari mana asalnya subsidi untuk uang kuliah kalian. 20% APBN yang dialokasikan oleh pemerintah untuk pendidikan, termasuk perguruan tinggi dan beasiswa pemerintah diambil dari uang rakyat, tidak peduli seberapa miskinnya ia. Ingat, 70% APBN negara kita berasal dari pajak. Siapa yang membayar pajak? Mereka adalah abang tukang becak, ibu penjual asongan, sopir bus, kenet angkutan umum, dan sesiapapun yang terkena wajib pajak. Ingatlah bahwa anonim manusia yang tak kalian kenal pun turut andil dalam penentuan masa depan kalian (tentu dengan asumsi bahwa dana pendidikan diambil dari pemasukan pajak dan non pajak). Maka, kalian tak hanya bertanggung jawab terhadap satu dua orang, tapi juga ratusan juta rakyat Indonesia.
meringankan beban kita? Masih enggan untuk serius dalam menekuni kompetensi keahlian yang kita pilih saat ini? Masih apatis untuk sekedar berbaur b e r s a m a ra k y a t d a n b e r u s a h a memberdayakan mereka? Katanya menjadi mahasiswa artinya juga menjadi kaum intelektual. Ingat, terminologi intelektual bukanlah logika yang sifatnya pasti dan hanya memiliki tafsir tunggal. Namun secara umum, kata intelektual ditafsirkan sebagai kondisi dimana seseorang berkutat secara tekun dan serius pada ilmu profesionalnya, untuk selanjutnya mentranformasikan pengetahuannya sebagai bentuk peran sosialnya dalam menyelesaikan problematika umat. Kaum intelektual adalah sosok yang mencerahkan, demikian kata Gramsci. Konsekuensi logisnya, kaum intelektual wajib memberi fungsi pencerahan bagi orang-orang disekitarnya dengan kapasitas keilmuan yang mereka miliki.
Di awal perkuliahan, hampir pasti kalian akan diingatkan dengan status keren kalian sekarang: (MAHA)SISWA. Organisasi mahasiswa akan mencekoki kalian dengan ragam label, dari mulai agen perubahan, moral force, iron stock, dan lain-lain. Dosen akan mencekoki kalian dengan ragam tuntutan, bisa dengan optimisme ataupun skeptisisme. Kalian sendiri akan mulai membebani diri kalian dengan ragam pragmatisme dan oportunisme yang disajikan di bangku kuliah maupun angan-angan tentang lahan pekerjaan yang hendak kalian garap pasca lulus.
Mahasiswa yang terlanjur tercitrakan sebagai kaum intelektual mestinya mampu bergerak di ranah ini, mempertemukan teori dan praksis guna memecahkan berbagai problem sosial yang mengakar di masyarakatnya. Bukan hanya memperkuat ilmu pengetahuan sesuai dengan basis akademis untuk kebutuhan pribadi, tetapi juga berani untuk peka dan melek pada realitas sosial, serta memberikan kebermanfaatan untuk sesama.
Lantas, bagaimana wujud pertanggungjawaban kita pada ratusan juta anonim manusia yang telah
Jadi, mau memberikan kebermanfaatan apa kalian selama menjalani studi di kampus?