Lampung Post Weekend Minggu, 22 Oktober 2017

Page 1

MINGGU IV OKTOBER 2017 NO.14302 / TAHUN XLIII Terbit Sejak 1974

E-Mail: redaksi@lampungpost.co.id Layanan: 0721-783693 (hunting) 0721-773888 (redaksi) Faks: 0721-783598 (usaha) 0721-783578 (redaksi)

20

Rp3000/eks (di luar kota + ongkos kirim)

TERUJI TEPERCAYA

@lampostonline @buraslampost

PERLU ENGGAK IKUTAN TREN BAHASA GAUL

Harian Umum LampungPost

TAMPILAN PROFESIONAL DENGAN BLAZER

Boleh saja menggunakan bahasa gaul dan bahasa asing, tetapi harus sesuai tempatnya. Apalagi ngobrol dengan bahasa Indonesia yang baku juga terdengar kaku.

Blazer umumnya jadi andalan untuk tampil modis pada acara formal, terutama ke tempat kerja.

MUDA | Hlm. 9

ig@lampost

Rp75.000/bulan (di luar kota + ongkos kirim)

HALAMAN

“Bahasa Indonesia tidak bisa dipelesetkan karena berarti merendahkan harga diri bahasa Indonesia. Sebab itu simbol atau identitas bangsa.” Yanti Iswara Kepala Balai Bahasa Provinsi Lampung LENTERA | Hlm. 7

FASHION | Hlm. 20

IKUTI BERITA TERKINI KLIK

GOLF, ANTARA HOBI DAN BISNIS

WWW.LAMPOST.CO

n LAMPUNG POST/ZAINUDDIN

BUNKER PASIR. Manajer Lapangan Golf Sukarame

Salgiyo, saat mengikuti turnamen golf, berusaha mengeluarkan bola golf dari bunker pasir di padang Golf Sukarame, Bandar Lampung, beberapa waktu yang lalu.

Menjadikan lapangan golf sebagai tempat menyalurkan hobi atau menjalin rekanan bisnis adalah hak masing-masing orang. NUR JANNAH­

O

n LAMPUNG POST/HENDRIVAN GUMAY

TURNAMEN GOLF. Peserta turnamen golf berekspresi saat berusaha memasukkan bola

ke lubang di padang Golf Sukarame, Bandar Lampung, beberapa waktu yang lalu. Turnamenturnamen golf yang digelar biasanya oleh berbagai penyelenggara, mulai dari perusahaan, klub golf, dan sebagainya.

Akrab di Hamparan Padang Golf MENDAPAT label sebagai salah satu olahraganya kaum berduit, ternyata tidak sedikit peminat olahraga golf. Hampir setiap akhir pekan atau hari libur Lapangan Golf Sukarame dipenuhi pencinta golf dari berbagai daerah. Tidak hanya perorangan, event turnamen juga rutin digelar setiap dua bulan dan tiga bulan sekali. Manajer Lapangan Golf Sukarame, Salgiyo, mengatakan saat ini di Bandar Lampung sudah banyak digelar turna­ men golf per dua atau tiga bulan dengan peserta dari berbagai daerah, baik dari dalam Lampung sendiri maupun dari luar, seperti Jakarta dan Palembang. Jika tidak ada turnamen, lapangan golf biasanya dipadati pemain pada hari-hari libur dan akhir pekan. Turnamen-turnamen golf yang digelar biasanya oleh berbagai penyelenggara, mulai dari perusahaan, klub golf, dan sebagainya. Hadiah yang disediakan sponsor pun bisa menambah daya tarik dan semangat pemain. Tidak jarang hadiahnya berupa mobil atau sepeda

motor untuk masuk di lubang-lubang tertentu. “Biasanya turnamen digelar oleh perusahaan-perusahaan yang berulang tahun dan sebagainya. Main golf ya murni mau main, ada juga yang sekadar say hallo dengan temannya,” ujar dia. Menurutnya, suasana keakraban amat kental saat semua berkumpul di lapangan golf yang hijau dan segar. Mulai dari yang sekadar menyalurkan hobi, bersenang-senang, atau menyapa sahabat. Selain di Lapangan Golf Sukarame, bagi yang ingin mencoba olahraga golf bisa belajar di Rizki Golf Driving Range, yang berlokasi di Universitas Malahayati Bandar Lampung. Di tempat itu, pemain level pemula hingga profesional bisa berlatih memukul bola, memperbaiki pukulan, dan meningkatkan akurasi pukulannya. Sebab, meski terbilang olahraga santai dan tanpa wasit khusus, untuk menjadi mahir memukul bola golf ke sasaran diperlukan latihan terusmenerus. (NUR/R4)

LAHRAGA golf dikenal seba­ gai olahraga mewah. Hal itu disebabkan perlengkapan dan sarana tempat olahraga santai itu ter­ bilang mewah, mulai dari lapangan, stik golf, dan lainnya. Tidak heran jika olahraga ini banyak dilakoni kalangan menengah ke atas, mulai dari pengusaha hingga pejabat. Bahkan padang golf kerap dijadikan tempat untuk mempererat hubungan bisnis dan juga meningkatkan per­ saudaraan. Salah satu pencinta olahraga golf yang juga pengusaha bidang properti, Dody Hartanto, mengaku bermain golf memiliki banyak filosofi yang me­ miliki kaitan erat dengan manajemen berbisnis. Seperti saat akan memukul stik golf, pemain harus tahu ke mana arah bola. Kemudian walaupun bola tersebut masuk lubang, pemain harus berusaha bagaimana caranya agar bola tersebut bisa keluar dari lubang. Ketika orang bermain golf sama seperti sedang meng­atur strategi bisnis. “Jadi kalau ada yang bilang bermain golf itu mempererat hubungan bisnis ada benarnya. Sebab, di sana kita semua bertemu dengan banyak orang,” ujarnya. Manajer Lapangan Golf Sukarame, Salgiyo, menguraikan pemain golf di Lampung, terutama di Bandar Lam­ pung, memang berasal dari berbagai kalangan. Mulai dari pengusaha, partai politik, asuransi, dan sebagainya semua

bertemu di hamparan luas padang golf. Namun, tidak melulu pertemuan di la­ pangan golf bermaksud untuk menjalin hubungan bisnis atau politik. Menurutnya, pada saat bermain golf semua bertemu di lapangan tanpa ada yang mengarahkan, semuanya meng­ alir begitu saja. Oleh karena itu, dari lapangan muncul banyak pertemanan, baik sesama pebisnis, perbankan, dan lain-lain.

Buat saya bermain golf melatih kejujuran terhadap diri sendiri. “Mungkin saja pas ketemu banyak yang memanfaatkan momen di situ, bisa mengutarakan secara langsung. Kalau ada momen yang tepat kenapa tidak,” kata Salgiyo. Namun dia memastikan bahwa manfaat olahraga golf bisa dirasakan setelah mencoba bermain. Jika kemu­ dian menjadi hobi dan dimanfaatkan untuk menambah relasi itu terserah pada orangnya masing-masing. “Main golf itu tidak bisa diceritakan kalau tidak main sendiri.”

Melatih Kejujuran Berbeda halnya dengan Ansori yang mengaku mendapat banyak manfaat dari bermain golf. Selain menyalur­ kan hobi, bermain golf untuk melatih kejujuran terhadap diri sendiri. Setiap pemain golf memiliki cara dan strategi masing-masing untuk memasukan bola ke lubang. Sebab, meski terbilang olah­ raga santai dan tidak memiliki ukuran lapangan yang baku, olahraga ini mem­ butuhkan keterampilan dan strategi. “Intinya kalau lagi main golf bawaan­ nya happy saja, melepaskan pekerjaan di kantor. Buat saya bermain golf melatih kejujuran terhadap diri sen­ diri. Bermain sendiri, melempar bola sendiri, mengawasi bola sendiri, dan sebagainya,” ujar Ansori. Meski banyak anggapan lapangan golf digunakan sebagai tempat lobi-lobi urusan bisnis bahkan politik, Ansori yang juga pengusaha membantah hal itu. Menurut dia, ketika bermain golf murni menyalurkan hobi. Meski demikian dia tidak menampik bahwa ketika bermain di lapangan bertemu dengan orangorang dengan berbagai latar belakang, sehingga tidak menutup kemungkinan ada lobi-lobi atau sejenisnya. “Kalausayapribadipuremain,enggakada lobi-lobi. Murni senang-senang, mungkin kalau orang lain iya karena di sana bertemu banyak teman, ada yang dari pengusaha, wiraswasta, perbankan, asuransi, politikus, dan sebagainya,” kata dia. (R4) nurjannah@lampungpost.co.id


Turn static files into dynamic content formats.

Create a flipbook
Issuu converts static files into: digital portfolios, online yearbooks, online catalogs, digital photo albums and more. Sign up and create your flipbook.