Lampung Post Weekend Minggu, 26 November 2017

Page 1

n Indo e si a 20

er

b a ik

Ber ba

sa

17

ha

SERTIFIKAT STANDAR PERUSAHAAN PERS

LAMPUNG POST PERINGKAT V PENGGUNAAN BAHASA INDONESIA DI MEDIA MASSA CETAK

T

DALAM RANGKA BULAN BAHASA DAN SASTRA 2017 BADAN PENGEMBANGAN DAN PEMBINAAN BAHASA KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN

PERINGKAT V NASIONAL

20

minggu Iv NOVEMBER 2017

HALAMAN

No.14337 / TAHUN XLIII

TERUJI TEPERCAYA

Terbit Sejak 1974

Yang Muda Peduli Lingkungan

@lampostonline @buraslampost

Harian Umum LampungPost

Leher Cantik dengan Bunga Timbul

Kita mesti menyadari bahwa menjaga lingkungan itu sangat penting demi keberlangsungan mahluk hidup.

Dengan kerah terbuka, kehadiran bunga-bunga yang mengitari leher tampak lebih tegas.

FASHION | Hlm. 20

MUDA | Hlm. 9

ig@lampost

E-Mail: redaksi@lampungpost.co.id

Rp3000/eks I Rp75.000/bulan (di luar kota + ongkos kirim)

“Sampai sekarang kami dari PGRI tidak pernah berhenti untuk terus memperjuangkan hak-hak guru terutama guru honorer.’ Wayan Satria Jaya Ketua PGRI Lampung

LENTERA | Hlm. 7

Ikuti Berita Terkini KLIK

www.lampost.co

Mendidik Anak lewat Dongeng Mendongengi anak itu soal niat atau kesungguhan hati. NUR JANNAH

S

ATU di antara sejumlah metode yang tepat dan efektif untuk mendidik anak dengan mendongeng. Banyak orang beranggapan mendongeng merupakan pekerjaan mudah dan bisa dilakukan setiap orang tua. Faktanya, sekarang jarang orang tua yang mau mendongeng untuk anaknya. Sebuah dongeng sebenarnya bukan hanya dituturkan sebagai pengantar tidur. Ada makna dan pesan yang ingin disampaikan melalui suatu dongeng. Orang tua yang memahami manfaat dongeng bagi anaknya dan memiliki kesadaran mendidik yang tinggi tentulah mau mendongengkan anak-anaknya. Sebab, mendongeng bukan perkara mau atau tidak. Mendongengi anak itu soal niat atau kesungguhan hati. “Orang tua harus memahami bagaimana dunia anak-anaknya. Pada tahapan tumbuh kembang yang manakah anaknya berada? Ketika orang tua paham hal tersebut, maka orang tua akan paham memilih ­dongeng yang baik untuk anaknya,” kata Direktur Kreatif Komunitas Dongeng Dakocan,

(orang tua). Menurut Iin, pada usia itu anak belum bisa berpikir rumit karena fase perkembangannya masih berada pada tahap psikomotorik.

Tantangan Iin juga menjelaskan tantangan mendongeng pada era digital lebih banyak ketimbang zaman dulu. Menurutnya, suasana yang tercipta harus menye­ nangkan agar pesan dalam dongeng dapat sampai atau diterima si anak. Iin menyebutkan pada dasarnya orang tua di rumah sudah memiliki suasana tenang yaitu saat zona alpha, ketika si anak akan tidur. Waktu tersebut adalah suasana paling ampuh untuk menyampaikan dongeng yang mengundang banyak pesan baik untuk anak-anak. Pesan yang disampaikan akan terserap langsung tanpa penghalang. “Sebab itu, bayangkan jika orang tua membiarkan anaknya tertidur sambil menonton televisi yang mungkin saja acara yang sedang ditayangkan meng­ undang banyak kekerasan dan hal-hal yang belum pantas menjadi hak untuk

n LAMPUNG POST/M UMARUDINSYAH MOKOAGOW

Iin Mutmainah, ditemui di rumahnya, beberapa hari lalu. Iin mengungkapkan dalam memberikan sebuah dongeng sebaiknya disesuaikan dengan tingkatan usia anak. Sebab, setiap tahapan umur memiliki konsekuensi terhadap dongeng tertentu. Ia mencontohkan dongeng untuk anak usia dua tahun targetnya adalah bagaimana membuat anak senang mendengarkan suara yang dihasilkan oleh pendongeng

n LAMPUNG POST/M UMARUDINSYAH MOKOAGOW

MENDONGENG UNTUK ANAK. Seorang ibu mendongeng untuk anaknya. Selain menghibur, kegiatan tersebut juga mengedukasi anak untuk

lebih peka terhadap sekitar.

tidak bisa menggunakan kedekatan emosional yang terjadi secara langsung antara si pendongeng dan si anak. Sementara guru kesenian dan ­dongeng dari SDN 2 Gedongair, Bandar Lampung, Maryudi menjelaskan ­banyak manfaat yang didapat anak dari mendongeng. Salah satunya meng­asah keterampilan dan membentuk karakter anak itu sendiri. Selain itu, mendongeng melatih anak untuk berani tampil percaya diri di depan umum. “Di sini yang kami tekankan adalah anak belajar berani bicara di depan orang lain. Salah satunya untuk tema pahlawan, anak-anak jadi lebih ­mengenal karakter pahlawan Indonesia. Mulai dari kapan dia lahir, nama panggil­ an, dan sebagainya” kata Maryudi di sela lomba dongeng di Mal Boemi Kedaton, Selasa (21/11). Psikolog dari Universitas Lampung, Diah Utaminingsih, menjelaskan mendongeng dapat menanamkan nilai-nilai budi pekerti kepada anak. Selain itu, ada kedekatan emosional antara orang tua dan anak, sebab ketika mendongeng ada interaksi aktif secara langsung. “Di sini orang tua bisa secara langsung menumbuhkan rasa ingin tahu anak dan menumbuhkan motivasi untuk belajar,” ujar Diah. (M1)

Pendongeng harus sedikit bekerja keras karena punya lawan yang nyata yakni acara sinetron atau film di televisi.

didengar atau ditonton seorang anak?” Iin melanjutkan dongeng masa kini banyak yang diadaptasi menjadi ­sinetron, sayangnya bukan diperuntukkan untuk anak-anak. Sekarang, ­dongeng malah menjadi konsumsi remaja dan dewasa. Hal ini merupakan pemikiran yang keliru. Karena itu, sebaik-baiknya orang tua men­dongeng, kata dia, mendongenglah secara langsung pada anak. Televisi, kata Iin,

nur@lampungpost.co.id

Pesan Moral Sebuah Cerita

n LAMPUNG POST/M UMARUDINSYAH MOKOAGOW

PENDONGENG. Pendongeng tengah menghibur anak-anak dengan cerita menarik. Kini kegiatan

mendongeng jarang diselenggarakan.

KETIKA orang tua mendongeng untuk anak, apa yang menjadi cerita dan pesan moral dalam sebuah dongeng akan disimpan di alam bawah sadar seorang anak. Pesan moral tersebut akan dikenali oleh syaraf di kepalanya dan akan muncul 20 tahun ke depan menjadi sikap hidupnya. Hal itulah yang menjadikan aktivitas mendongeng begitu bermanfaat untuk anak. Direktur Kreatif Komunitas Dongeng Dakocan, Iin Mutmainah, mengungkapkan jika ingin membangun generasi yang respek dengan toleransi dan keberagaman, maka ceritakanlah kepada anak-anak tentang indahnya perbedaan. Ia mencontohkan melalui cerita Timun Mas yang tanpa adaptasi. Si ibu minta diberikan anak kepada raksasa, tapi ibu harus berjanji untuk memberikan kembali anaknya kepada sang raksasa saat anaknya berusia 18 tahun. Pada kemudian hari, ibu itu melanggar janjinya dan raksasa yang menagih janji tersebut akhirnya mati. Menurutnya, jika ini diceritakan kepada anak usia 5—6 tahun bisa kacau. Sebab, kesimpulan terhadap cerita ini bisa beragam. Bisa saja akan ada pemikiran dari anak-anak yang mendengar dongeng itu bahwa janji tidak harus ditepati, janji bisa dilanggar, kejujuran akan hilang, dan lain sebagainya. Dengan demikian, tidak akan terbangun

sikap bertanggung jawab dari anak. “Jangan ceritakan versi Timun Mas pada anak usia itu, buat versi lain. Misalnya, kare­ na keteguhan hati sang ibu, akhirnya dia tetap menepati janji kepada si raksasa. Ibu itu menyerahkan anak yang sangat dicintainya. Dalam hatinya, ibu itu berdoa agar Tuhan melindungi anaknya,” kata Iin. Dia melanjutkan dalam dongeng tersebut raksasa adalah lambang dari cobaan dan rintangan berat menuju perjalanan hidup menjadi manusia yang dewasa dan bertanggung jawab. Sebab itu, pesan yang disampaikan dari dongeng yang versinya telah berubah itu menjadi tepat sasaran dan tepat makna. “Negara Jepang sudah melakukan hal ini. Mereka telah merevitalisasi dongeng rakyatnya dan menjadikannya gerakan budaya. Anak-anak usia dini sudah diberikan dongeng tentang falsafah bangsanya. Tentu saja dikemas dengan cerita yang sederhana dan dimengerti oleh anak.” Ditanya soal tokoh karakter baik dari cerita rakyat maupun tokoh Disney apakah akan memengaruhi antusiasme si anak saat ini, Iin menjawab hal tersebut tidak menjadi masalah. Menurutnya, dalam sebuah dongeng yang terpenting adalah isi pesannya, bukan siapa tokohnya. Meski dia tidak menampik bahwa anak-anak sangat suka dengan brand image sebuah tokoh. (NUR/M1)


Turn static files into dynamic content formats.

Create a flipbook
Issuu converts static files into: digital portfolios, online yearbooks, online catalogs, digital photo albums and more. Sign up and create your flipbook.