Stomata Edisi 4

Page 1

STOMATA

Edisi 04/Tahun I /Maret 2013

1


2

STOMATA

Edisi 04/Tahun I /Maret 2013


Editorial PERBANKAN MENYAMBUT, PERTANIAN MEMBUBUNG Sektor pertanian kerap ­dinomorduakan ketimbang ­sektor lain seperti ­manufaktur atau perdagangan. Faktanya, sektor perbankan sering gamang menerapkan skema pembiayaan bagi petani. Belum ada upaya mendorong sektor pertanian sebagai lokomotif utama. Di saat sama, negeri nan subur ini tetap dihadapkan pada pilihan mengimpor komoditas pertanian terutama beras, sayur, dan buah-buahan.

R

OH pertanian Indonesia semakin melemah menyusul kurangnya perhatian pe­ merintah lewat skema APBN. Ini terjadi lantaran terbatasnya pendapatan negara yang pada akh­ irnya menyebabkan pem­bangunan sektor pertanian menjadi tidak ideal. Ambil contoh, untuk 2013, alokasi anggaran APBN untuk pro­ gram sektor pangan hanya sebesar Rp 83 Triliun atau sekitar 7 persen dari total APBN. Anggaran ini selanjutnya digunakan untuk membiayai dua kegiatan, ­yakni stabilisasi harga pangan bagi pemenuhan kebutuhan rakyat sebesar Rp64,3 triliun serta pem­ bangunan infrastruktur irigasi Rp18,7 triliun. Bandingkan dengan alokasi belanja PNS yang mencapai Rp241 triliun. Hanya sepertiganya saja. Padahal, jika mengacu pada ukuran Orga-nisasi Pangan Dunia (FAO), dana bagi sektor pertanian suatu negara adalah 20 persen dari APBN.

Sebagai negara agraris, Indonesia tidaklah tepat bila meremehkan sektor pertanian sebagai pelopor pertumbuhan ekonomi. Bukan usulan berlebihan mengingat ­mayoritas penduduk Indonesia menempati wilayah pedesaan yang sangat bergantung pada alam per­ tanian. Badan Pusat Statistik (BPS) hingga Mei 2012 mencatat, tenaga kerja di sektor pertanian mencapai 41,20 juta jiwa atau sekitar 43,4 persen dari ­jumlah total penduduk Indonesia. Angka tersebut mengal­ ami kenaikan sebesar 4,76 persen atau sebesar 1,9 juta dibandingkan Agustus 2011. Untuk tingkat dunia, Indonesia m ­ enempati urutan ketiga setelah Cina (66 persen) dan India (53,2 persen). Pentingnya sektor perbankan ­masuk lebih dalam ke sektor per­ tanian menjadi sangat mendesak mengingat persaingan pasar yang makin kompetitif. Setiap negara kini wajib membuka segala rintan­ gan per­dagangan dan investasi ­sekaligus membuka keran eksporimpor seluas-luasnya. Hasilnya, perlakuan non-tariff barrier telah berdampak besar terhadap sektor pertanian Indonesia, baik di tingkat mikro (usaha tani) maupun di tingkat makro (nasional-kebijakan). Di tingkat mikro, liberalisasi per­dagangan ini sangat terkait dengan efisiensi, produktivitas, dan skala usaha. Sedangkan di tingkat makro, kebijakan pemer­ intah sangat diperlukan untuk melindungi petani ­produsen

dan masyarakat konsumen. Pada kenyataannya, kelompok negara maju lebih berhasil mengamankan petaninya agar tetap bergairah berproduksi. Sementara negara berkembang relatif kurang berha­ sil memproteksi petani produsen dan masyarakat konsumen. Jika disimpulkan, ­tantangan sektor pertanian Indonesia ke depan adalah bagaimana meningkatkan daya saing komoditas pertanian dengan karakteristik yang sesuai keinginan konsumen, baik di pasar domestik ataupun pasar ekspor. Hal ini mengisyaratkan perlunya pembangunan pertanian dilakukan secara komprehensif dan terpadu dengan pengembangan sektor komplemennya seperti agroindus­ tri, penyediaan kredit, teknologi melalui penyuluhan, dan pasar. Maka sangatlah tepat apabila pemerintah bersama regulator perbankan mendorong sektor perbankan nasional memberikan perhatian lebih untuk memberikan akses pembiayaan kepada seluruh pelaku sektor pertanian dalam seg­ ala ukuran atau skala. Inilah s­ aatnya sektor pertanian digerakkan untuk meningkatkan kesejahteraan ma­ syarakat Indonesia. Koalisi perbank­ an-pertanian akan menjadi pondasi kuat menuju Indonesia sejahtera. Wuryani Pujiastuti

Majalah STOMATA PELINDUNG: Dewan Komisaris. PEMBINA: Dewan Direksi, Mulia Siregar. PEMIMPIN UMUM: Wuryani Pujiastuti. WAKIL ­PEMIMPIN UMUM: Siswo Hadi. PEMIMPIN REDAKSI: Anugrah T. Aji. WAKIL PEMIMPIN REDAKSI: Budhi Santoso. DEWAN KEBIJAKAN REDAKSI:­ Tatang Setiawan (ketua), Budhi Santoso, Mirwan, Marsudiyono, Siswo Hadi, Anugrah T Aji, Charly Samosir. REDAKTUR ­PELAKSANA: ­Charly ­Samosir. REPORTER: Indra Maliara, Ishak Pardosi, Dede Supriatna, Rega Adhiprana. FOTO­GRAFER: ­Sarwono. D ­ ESAIN GRAFIS: Basuki Rahmat. LAYOUT/TATA LETAK: Imam Wihartanto. DOKUMENTASI & RISET: Norman. TI, WEB & DATA: Bayu ­Nurcahyono. PEMIMPIN USAHA: Baban Sya’ban. PRODUKSI & PERCETAKAN: Dede Nandi. ADM.KEU/IKLAN/­SIRKULASI: ­Mirwan, Solichin, Rijmaladi. ALAMAT: Jalan Pertani No. 1-7 Duren Tiga, Pancoran Jakarta Selatan. KONSULTAN MEDIA: PT WAHANA CITRA MEDIA. Jalan Pancoran Barat II, No. 38A. Email: wahana.media.citra@gmail.com STOMATA

Edisi 04/Tahun I /Maret 2013

3


MATABACA Edisi 4/Tahun I/Februari 2013

KOMPLEKSITAS PEMBIAYAAN SEKTOR PERTANIAN

6-14

MATAANGIN Petani sering dinomorduakan dalam pembiayaan ­perbankan. Akibatnya, sektor pertanian Indonesia terus tertinggal. Pilihan impor pangan pun menjadi tidak terelakkan. Padahal, jika petani memperoleh akses kredit mudah dan cepat, swasembada pangan dapat tercapai.

16-19

ANAK TIRI ITU BERNAMA PERTANIAN MATAHATI

Sektor pertanian dan usaha mikro kecil menengah (UMKM) masih dipandang sebagai sektor yang tidak bankable di mata perbankan untuk digelontorkan kredit. Padahal, kedua sektor tersebut tetap kokoh ketika negeri ini dilanda krisis finansial dan menempati posisi pertama dalam memberikan kontribusi bagi produk domestik bruto (PDB) nasional.

TEMULAWAK, INDUK DARI SEGALA JAMU

24-29

MATAUANG Indonesia memiliki ribuan jenis tanaman berkhasiat untuk dikembangkan jadi jamu herbal. Dari sekian banyak, temulawak (curcuma xanthorrhiz) paling sering dimanfaatkan sebagai obat. Temulawak ibarat induk dari segala jamu. Sekitar 70 persen pengusaha jamu pasti memakai temulawak.

36-41

KARAWANG, PANGKAL KOTA PERJUANGAN MATAKAIL

Karawang juga menjadi bagian penting dari sejarah Indonesia. Saat masa revolusi kemerdekaan, Karawang merupakan salah satu daerah yang menjadi kancah perjuangan melawan penjajah Belanda, seperti dilukiskan dalam sajak Chairil Anwar berjudul ‘Karawang-Bekasi’.

30-33

4

MATAUNIK Gladiator dan Khasiat Bawang Merah

STOMATA

Edisi 04/Tahun I /Maret 2013

56-57

MATACINCIN Selebritis Berkebun di Lahan Kosong

42-45

MATABAJAK 1001 Alasan Beralih ke Minyak Jarak


Mata-Mata Betulkah Petani Bisa Sejahtera? MENGIKUTI sajian tentang kehidupan petani di Stomata, saya menjadi teringat dengan keluarga di kampung. ­ ereka umumnya adalah petani yang bekerja di sawah dan ladang. Di sawah, mereka bertani padi dan kopi untuk M di ladang. Sejak dulu petani masih belum bisa sejahtera meski punya lahan luas nan subur. Entah apa penyebab­ nya. Stomata yang hadir dengan tampilan menarik pun kembali mengungkit klise lama; hidup petani bisa lebih sejahtera. Saya bertanya-tanya, apakah betul petani bisa sejahtera? Bagaimana caranya? Sebab, sudah banyak selama ini cara yang ditempuh pemerintah untuk mewujudkan impian itu. Sayang, semuanya gagal dan menguap entah kemana. Namun, saya masih berharap impian dan cita-cita pemerintah yang ingin mengangkat kesejahter­ aan petani bukan isapan jempol belaka. Kelak, keluarga di kampung halaman akan lebih sejahtera ketimbang seka­ rang. Hasudungan, Tobasa-Sumut

Gapoktan Sebagai Penyalur dan Penyalur Pupuk Bersubsidi

Menanti Kohar Mampir di Kampung Kami MESIN kohar sangat membantu efisiensi kerja para petani. Yang tadinya butuh tiga jam untuk panen, sekarang hanya butuh se­ jam saja. Untungnya lagi, tenaga tidak banyak terkuras. Cukup siapkan bahan bakar kohar, semua beres. Namun sayang, kenyamanan itu masih bisa saya rasakan saat membaca Stomata. Ada rasa kerinduan ingin merasa­ kan betapa membantunya mesin kohar bagi para petani. Kalau bisa dikabulkan, apakah PT Pertani bersedia atau punya rencana mengirimkan mesin kohar ke kampung kami? Sebagai petani, kami sangat berharap perhatian pemerintah. Tidak hanya soal pupuk dan benih, kami juga membutuhkan tenaga bantuan semacam kohar. Mudah-muda­ han, harapan ini menjadi pertim­ bangan bagi manajemen di PT Pertani. Makmur petani, jayalah bangsaku. Petrus Tarigan, Tanah Karo-Sumut

SALAM sejahtera bagi redaksi Stomata. Lewat surat pembaca ini, saya ingin menyampaikan ­keluhan suputar kesulitan yang melanda petani untuk men­ dapatkan pupuk bersubsudi. Ke­ betulan saya berprofesi sebagai penyuluh Pertanian di Banyumas. Kelangkaan pupuk karena mata rantai distribusi yang terlalu panjang, adanya disparitas harga yang tinggi antara pupuk bersub­ sidi dengan yang non subsidi. Bagaimana kalau rantai distribusi pupuk bersubsidi di persingkat saja supaya keter­ sediaan pupuk tak menyulitkan petani. Salah satunya yaitu dengan memperdayakan Gapok­ tan (Gabungan Kelompok Tani) menjadi penyalur atau pengecer pupuk dan harga pupuk di pasaran jangan ada disparitas uang subsidi dari pemerintah di salurkan lewat Gapoktan. Selama ini permintaan pupuk dari pengecer resmi ber­ dasarkan RDKK (Rencana Definitif Kebutuhan Kelompok) tetapi pada kenyataannya pupuk yang seharusnya untuk mencukupi petani lewat kelompok tani tidak sepenuhnya untuk petani yang tercantum pada RDKK, banyak penyelewengan oleh pengecer resmi ataupun distributor resmi. Agus Hidayat, Purwokerto

Semoga Resi Gudang Dapat Menjalankan Fungsinya MEMBACA majalah Stomata, tentang Sistem Resi Gudang menimbulkan secercah ­harapan baru dalam meningkatkan ­ke­­se-jahteraan petani, terutama saat menjual gabah. Mengingat selama ini, petani selalu merasa harga jual gabah tak sebanding dengan biaya perawatan, harga bibit, pupuk, dan pestisida. Belum lagi, para petani merasa kebingungan dalam menjual dan menentukan harga gabah selain kepada teng­ kulak dengan harga yang telah ditentukannya. Akibatnya, banyak ­petani hidup dengan kondisi memilukan. Tak jarang para petani memilih merantau ke kota-kota besar ketimbang menjadi petani. Maka semoga saja dengan sistem resi gudang PT Pertani, para petani tidak lagi kebingungan untuk menjual gabah dengan harga yang cukup memuaskan. Sulaiman Salam, Bandung STOMATA

Edisi 04/Tahun I /Maret 2013

5


MATAANGIN

“Pinjam ke bank sangat susah. Syaratnya terlalu rumit dan berbelit-belit. Sekarang petani hanya mengandalkan akal, bukan modal

6

STOMATA

FOTO: ISTIMEWA

Edisi 04/Tahun I /Maret 2013


MATAANGIN

Kompleksitas Pembiayaan

SEKTOR

PERTANIAN STOMATA

Edisi 04/Tahun I /Maret 2013

7


MATAANGIN

Petani sering dinomorduakan dalam pembiayaan perbankan. Akibatnya, sektor pertanian Indonesia terus tertinggal. Pilihan impor pangan pun menjadi tidak terelakkan. Padahal, jika petani memperoleh akses kredit mudah dan cepat, swasembada pangan dapat tercapai.

M

8

STOMATA

Edisi 04/Tahun I /Maret 2013

FOTO-FOTO: ISTIMEWA

ASALAH permodalan bagi petani seper­ tinya tidak kunjung selesai, utamanya sejak era reformasi. Apa daya, meski mengaku sebagai negara agraris, ­sektor pertanian nyatanya belum mengembang. Kendalanya cukup dilematis, yakni kurangnya perhatian perbankan dalam menyalurkan kredit. Sedangkan di sisi lain, perbankan harus mene-rapkan prinsip kehati-hatian dalam setiap ­penyaluran kredit, terutama pada sektor perta­ nian yang berisiko tinggi. “Pinjam ke bank sangat susah. Syarat­ nya terlalu rumit dan berbelit-belit. Sekarang petani hanya mengandalkan akal, bukan modal,” keluh Ketua Kelompok Kontak Tani Nelayan Andalan Nasional, Winarno Tohir dalam diskusi panel ‘Mengurai Kompleksitas Akses Pem­ biayaan Bagi Petani’ yang digelar di PT Pertani (Persero). Selain Winarno, hadir dalam diskusi ini anggota Komisi IV DPR Viva Yoga Mauladi, pelaku pertanian Agus Santoso, dan Direktur Pengembangan dan Kredit Bank Indonesia, Santoso Wibowo. Winarno pun bercerita tentang ­mi-nimnya perhatian perbankan terhadap petani. Sebuah kondisi jauh berbeda bila dibandingkan negara lain seperti Jepang, Thailand, maupun Perancis. Jepang yang bukan negara agraris, sudah mempunyai bank khusus menangani pertanian. Selain prosesnya mudah, ­pe­ngem­­ba-lian kredit disesuaikan masa panen. “Misalnya, menanam mangga dengan waktu empat tahun. Maka pengembalian kreditnya dimulai pada tahun keempat,” ucapnya. Impian Winarno sederhana saja. Ia ber­ harap pemerintah menyiapkan bank pertanian. Dengan begitu, petani tidak lagi dipusingkan berbagai syarat untuk memeroleh modal usaha. Kemudian, kemudahan akses pembiayaan dibarengi kelengkapan prasarana. “Tidak murah tapi mudah,” tandasnya. Hal senada dikemukakan Viva Yoga Mauladi. Keseriusan DPR sudah tertuang dalam RUU Perlindungan dan Pemberdayaan Pertanian yang kini digodok legislatif dan pemerintah. RUU ini penting guna menjawab persoalan mendasar yang kerap dihadapi para petani. Memang, kata dia, pemerintah lebih tertarik ke


MATAANGIN

FOTO: ISTIMEWA

“Pemerintah seharusnya mengubah persyaratan sekaligus mengubah pemahaman petani

bank ­konvensional. Meski saat ini sudah ada kesepakatan untuk men­ unjuk bank yang khusus menan­ gani pertanian. Viva menjelaskan, persoalan petani dalam negeri sudah sangat kompleks. Misalnya, rata-rata kepemilikan lahan hanya 0,5 hektar. Jumlah petani juga semakin merosot menyusul makin berkurangnya ketersediaan lahan. Belum lagi kelompok yang sama sekali tidak mempunyai lahan seh­ ingga memilih sebagai buruh tani. Kondisi berbeda bila dibandingkan Australia dan Selandia Baru. Derita petani semakin lengkap ketika pemerintah mem­ persulit proses perolehan kredit. Terlebih, mereka sulit memenuhi persyaratan pembiayaan yang rumit. “Dan tentu saja petani gurem itu tidak bankable,” kata Viva Yoga. Politisi PAN ini men­contohkan bagaimana susahnya menda­ pat kredit dari perbankan meski Menteri Pertanian Suswono pernah menyebut ternak sapi bisa dia­ gunkan ke bank. Namun praktiknya bertolak belakang. Viva Yoga pun berjanji memperjuangkan aspirasi

para petani, salah satunya melalui asuransi. Model ini cukup seder­ hana, yakni pemerintah bertindak sebagai pembayar premi pertama. Sedangkan dananya diambil dari APBN atau APBD. “Kalau tidak salah, Kabupaten Gresik sudah diterapkan seperti ini, mengandalkan dana CSR dari PT Semen Gresik,” katanya. Wakil Ketua Fraksi PAN itu menambahkan adanya se­jumlah program bantuan perbankan kendati belum terlalu masif akibat perbankan memegang prinsip kehati-hatian. Karenanya, di­ perlukan terobosan salah satunya melalui lembaga petani semacam Gapoktan. “Pemerintah seharusnya mengubah persyaratan sekaligus mengubah pemahaman petani. Faktanya saat ini, harga pangan tidak di tangan pemerintah, ini yang membuat pasokan dan harga melonjak. Padahal, pemerintah mempunyai kewenangan untuk menjaga itu. Perlu diingat, ketidak­ stabilan pangan bisa mengancam stabilitas nasional,” tutur Viva. Minimnya perhatian ­perbankan terhadap sektor per­ tanian juga diakui Santoso Wibowo. Pria yang berkutat di bank sentral ini menjelaskan, kendala utama petani dalam mengembangkan usaha ­faktor modal.

Berdasarkan data BI per Juli 2012 dari total baki debet kredit perbankan Rp2.725,67 triliun (tidak termasuk BPR), hanya Rp526,40 triliun atau 19,31 persen saja yang menyasar Usaha Mikro Kecil Me­ nengah (UMKM). Ironisnya lagi, dari nilai kredit UMKM tersebut, 47,28 persen terserap untuk sektor per­ dagangan. Sementara sektor per­ tanian hanya mendapat jatah Rp40,70 triliun atau 7,73 persen dari jumlah keseluruhan. “Yang lebih me­nyesakkan, dari Rp40,70 triliun, serapan terbesar justru perkebunan kelapa sawit dan tebu,” ujar Agus. Agus juga menyoroti penyaluran kredit kepada UMKM. Berdasarkan penelitian, bank sulit menyalurkan kredit lantaran risiko yang bakal dialami calon debitur. Intinya, bank memandang calon debitur tidak punya jaminan memadai. “Gagal panen, fluktuasi harga hingga kematian ternak. Belum lagi risiko operasional atau keberlangsungan usaha. Bisa saja debitur usahanya mandeg lantaran ketersedian bahan baku tidak cukup dan pengalaman usaha tidak cukup,” katanya. Santoso menegaskan, dalam pemberian kredit, perbankan mengedepankan prinsip kehati-hatian. Bank harus

STOMATA

Edisi 04/Tahun I /Maret 2013

9


MATAANGIN

BANK PERTANIAN. Pengucuran kredit bagi petani menjadi tantangan utama perbankan. akibatnya, petani hanya mengandalkan akal bukan modal.

menganalisis sebelum memberikan pinjaman sesuai UU No. 7 Tahun 1992. Perbankan menyalurkan modal berdasarkan keyakinan yang didasari analisa mendalam mendalam atas itikad, kemampuan serta kesanggupan ­debitur untuk melunasi utang ­sesuai perjanjian. Keyakinan perbankan menyalurkan kredit melewati lima proses (5C) yakni, character (itikad debitur), capital (modal debitur ­untuk usaha), condition (prospek dan kondisi ekonomi), ­capacity (kemampuan debitur), dan ­collateral (agunan untuk jaminan pembayaran utang). “Kelengkapan surat-surat petani juga jadi kendala utama. Biasanya bank menilai surat tersebut tidak bisa diagunkan,” ucapnya. Jika analisa kredit di­ penuhi, selanjutnya pemohon kredit memuat informasi lengkap, benar dan sesuai persyaratan dan ketentuan bank, termasuk riwayat kredit pada bank lain. Peranan BI dalam ­pe­nyaluran kredit program pe­ merintahan tertuang dalam Inpres No 1 Tahun 2010, ten­ tang Per­cepatan Pelaksanaan Pembangunan ­Nasional 2010. ­Prioritas program tersebut adalah penang­gulangan kemiskinan lewat perluasan ­jangkauan Kredit Usaha Rakyat (KUR) serta ketahanan pangan melalui peningkatan akses ­pertanian/peternakan pada kredit program.

10

STOMATA

Edisi 04/Tahun I /Maret 2013

Selain Inpres, BI juga mengeluarkan Inpres No. 3 Tahun 2010 tentang Program ­Pem­bang­­u­nan Berkeadilan, berfokus pada penanggulangan kemiskinan berbasis pemberdayaan UMKM, yakni penyusunan rencana tindakan perluasan KUR di tingkat pemerintah daerah. “Pemda mengeluarkan kebijakan mengenai rencana tindak operasional perluasan pe­nyaluran KUR, terutama untuk sektor perikanan dan kelautan, industri, pertanian, serta kehutanan. Adapun penanggung jawab di tingkat pusat berada di tangan Menko Per­ ekonomian, Bank Indonesia serta kementerian terkait. Sementara di

tingkat daerah, penanggungjawab ada pada gubernur dan wali kota berkoordinasi dengan kantor BI,” terangnya. Peran BI dalam pengem­ bangan UMKM adalah sebagai regulator dan supervisor bank dan lembaga keuangan non bank (LKNB). Peran ini dijalankan BI dengan Kementerian Keuangan. Kedua lembaga ini membuat peraturan dan mengawasi LK dan LKNB dalam menyalurkan ­pinjaman kepada UMKM yang telah me­ menuhi persyaratan. Terhitung 2013 hingga 2015, lembaga per­ bankan wajib memberi pinjaman minimal 5 persen secara bertahap kepada UMKM. Misalnya tahun


MATAANGIN

KEBERPIHAKAN PERBANKAN. Dalam pemberian kredit, perbankan masih mengedepankan prinsip kehati-hatian. FOTO-FOTO: SUPRI/STOMATA

antara lain penyediaan benih ­unggul, resi gudang, maupun pasar hewan. “Cari bibit unggul susah sekali sekarang,” ujar pengusaha pabrik tahu, ikan mas, padi o ­ rganik, ternak kambing, dan ternak kuda ini. Itulah sebabya ia jengkel dengan predikat harga sapi paling mahal sedunia yang disandang Indonesia. Padahal, sapi bukan­ lah ternak yang sulit dikembang biakkan. Menurut dia, ternak sapi bisa diagunkan ke bank asalkan dipasangi chip khusus agar mudah dikontrol. “Ini penting sebagai jaminan hukum untuk perbankan,” imbuh Agus. Ishak Pardosi ini besar pinjamannya 5 persen, tahun berikutnya bisa 10 persen. “Begitu seterusnya hingga besar pinjaman mencapai maksimal 20 persen pada 2015,” tambah S­ antoso. Sementara, Wakil Ketua PPATK Agus Santoso pesimis bank khusus per­ tanian terwujud. Pria yang g ­ emar bertani itu beranggapan jauh lebih mudah menggalakkan peran koperasi. “Kecuali UU Perbankan diubah. ­Perbankan saat ini masih ­konvesional,” katanya. Pendirian koperasi juga akan lebih mudah bila BI bersedia membantu. Agus sepakat kalau petani harus dibantu dan dibimbing pemerintah. Dia meyakini bantuan kredit untuk koperasi sebesar Rp

50 triliun sudah sangat membantu dan tak akan membebani bank sentral. Agus membandingkan ke­tertinggalan sektor pertanian Indonesia dibandingkan Malay­ sia. Indikator melorotnya prestasi pertanian t­ ampak dengan ting­ ginya inflasi. Sebab, salah satu penyebab naiknya inflasi adalah sektor makanan. Kondisinya se­ makin memburuk ketika sekolah menengah atas di ­bidang perta­ nian (SPMA) kini tak lagi diminati. Bahkan, perguruan tinggi sekelas IPB tidak lagi menghasilkan alumni yang fokus ke s­ ektor pertanian malah berkecimpung di bidang lain. Selain pembiayaan, momok klasik bagi para petani

Peranan BI dalam penyaluran kredit program pe­merintahan tertuang dalam Inpres No 1 Tahun 2010, ­tentang Per­ cepatan ­Pe­laksanaan ­Pem­bangunan ­Na­sional 2010. STOMATA

Edisi 04/Tahun I /Maret 2013

11


MATAANGIN

“Ide membangun bank pertanian tolong dikaji. Di sini ada Menteri Keuangan, ada Gubernur Bank Indonesia, ada Menteri Pertanian. Silakan dikaji, plus dan minusnya apa

12

STOMATA

Edisi 04/Tahun I /Maret 2013 FOTO: ISTIMEWA


MATAANGIN

HINGGA KINI, AKSES PERMODALAN DAN KEMAMPUAN PETANI UNTUK MEMBIAYAI USAHA TANI SANGAT TERBATAS. SEHINGGA, PRODUKTIVITAS HASIL TANI BELUM MENCAPAI TARGET. IRONISNYA, 足PEMBENTUKAN BANK PERTANIAN, LEMBAGA KEUANGAN PETANI, DAN ASURANSI KEMBALI PATAH DI TENGAH JALAN.

STOMATA

Edisi 04/Tahun I /Maret 2013

13


MATAANGIN

Bank Pertanian Ditolak Kredit Harus Dipermudah kata Menteri Pertanian Suswono. Dia berharap pemerintahan ber­ sedia memikirkan akses bagi petani ke perbankan. "Mau namanya bank atau apa, yang jelas petani harus dapat akses mudah mendapatkan modal," ucapnya. Mentan mengaku pinjaman bank penting karena bisa meningkatkan rasio kepemilikan lahan. Saat ini 40 persen petani pemilik lahan di ­Indonesia rata-rata hanya mem­ punyai 0,3 sampai 0,5 hektar. Faktanya, banyak petani kesulitan mendapat pinjaman bank karena rawan kredit macet. Dia menilai anggapan itu keliru. Kredit macet dari program Kredit Usaha Rakyat (KUR) hanya 3,3 persen sampai November 2012. "Kredit macet KUR selama ini rendah. Petani itu pada dasarnya jujur, mereka pinjam ke rentenir saja bisa mengembalikan,’’ tambah Mentan. Sejatinya, wacana pembentukan bank pertanian digulirkan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dalam acara Pekan Nasional XIII Petani Nelayan, Rabu (22/6). Saat itu, Presiden meminta usulan bank per­ tanian agar dipelajari kementerian terkait. Kajian ini diperlukan untuk mengetahui perlu tidaknya bank pertanian.

"Kemenkeu keberatan (bank per­ tanian), ya tidak apa-apa tapi prin­ sipnya kita ingin perlindungan bagi petani. Sekarang tinggal bagaimana DPR kapan mengesahkan RUU itu,"

Usulan bank pertanian di­sampaikan Rahmat, petani asal Sulawesi Selatan. Menurut dia, perlu adanya lembaga perbankan yang mem­ fokuskan diri membantu petani dan

FOTO: ISTIMEWA

T

IGA poin sektor pembiayaan pertanian itu sebelumnya masuk Daftar Inventarisasi Masalah (DIM) Rancangan Undang-Undang tentang Perlindungan dan Pemberdayaan Petani (PPP). Namun, Menteri Keuangan Agus Martowardojo keberatan adanya asuransi pertanian. Sedang-

14

kan bank pertanian, menurut dia telah diatur Undang-Undang Perbankan.

"Ide membangun bank pertanian tolong dikaji. Di sini ada Menteri Keuangan, ada Gubernur Bank Indonesia, ada Menteri Pertanian. Silakan dikaji, plus dan minusnya apa," kata SBY.

STOMATA

Edisi 04/Tahun I /Maret 2013


MATAANGIN

FOTO: ISTIMEWA

nelayan dalam penyaluran kredit. Sehingga, petani dan nelayan terdorong menabung jika ada bank khusus. Sementara, Ketua Komisi IV, M Romahurmuziy (F-PPP) menyatakan keberatan dengan penghapusan pasal bank pertanian, lembaga keuangan petani, dan asuransi pertanian. "Di negara maju seperti Amerika Serikat, petani dilindungi. Kalau me­ mang akan membebani fiskal dalam APBN, pemerintah harus membuat simulasi," kata Sekjen DPP PPP ini. Sementara, Nabiel Al Musawa dari F-PKS menyebut penghapusan bank pertanian dan asuransi per­ tanian menunjukkan pemerintah tak serius mengurus pertanian.

Hatta Rajasa: RUU Perlindungan Petani, Penting Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Hatta Rajasa menilai Rancangan Undang-Undang (RUU) tentang Perlindungan Petani yang kini mulai bergulir di DPR RI penting untuk diwujudkan. Regulasi ini tidak lain merupakan salah satu upaya untuk meningkatkan kesejahteraan petani di Tanah Air serta mendorong pencapaian kemandirian dan kedaulatan pangan Indonesia ke depan.

FOTO: ISTIMEWA

JADI, kalau hanya swasembada pangan saja tapi kesejah­ teraan petani menurun, maka hal itu akan berdampak pada tidak suistainable-nya ketahanan pangan Indonesia. Dan, saat ini sedang dibahas RUU terkait perlindungan kepada para petani Indonesia,” kata Hatta Rajasa, Jumat (8/3/2013). Untuk mewujudkan stabilitas pan­ gan pokok di Tanah Air, kata Hatta Rajasa, tentu harus ada upaya serius dari seluruh pihak untuk menjamin ketersediaan pangan dan harga pangan yang stabil bagi para petani. Dan Pemerintah saat ini sangat serius membangun ke­ tahanan pangan melalui program food security yang dalam aspek luas turut memperhatikan kes­ ejahteraan para petani. “Jadi, kalau kita memprotek petani kita, itu wajib, tanpa harus menimbulkan

Jadi, kalau hanya swasembada pangan saja tapi kesejah­teraan petani menurun, maka hal itu akan berdampak pada tidak suistainable-nya ketahanan pangan Indonesia.

HATTA RAJASA. Menko Perekonomian.

distorsi terhadap pasar,” katanya Oleh karena itu, lanjut Hatta Rajasa yang juga menjabat sebagai Ketua Umum Partai Amanat Nasional (PAN) itu, untuk mencapai keta­ hanan pangan, stabilitas keterse­ diaan bahan-bahan pokok serta harga pangan, maka perlu kerja sama yang sungguh-sungguh antara pemerintah dengan selu­ ruh pihak terkait, termasuk para kelompok tani sendiri. “Kerja sama pemerintah dengan seluruh kelompok tani kita men­ jadi sangat penting,” tegasnya. Rega Adhiprana

STOMATA

Edisi 04/Tahun I /Maret 2013

15


MATAHATI

Perbankan Hanya Salurkan Rp 4,8 Triliun ke Sektor Pertanian Sektor pertanian dan usaha mikro kecil menengah (UMKM) masih dipandang sebagai sektor yang tidak bankable di mata perbankan untuk digelontorkan kredit. Padahal, kedua sektor tersebut tetap kokoh ketika negeri ini dilanda krisis finansial dan menempati posisi pertama dalam memberikan kontribusi bagi produk domestik bruto (PDB) nasional.

S

EJATINYA, sektor pertanian dan UMKM menjadi primadona perbankan dalam menya­ lurkan kredit. Kenyataan di lapangan, distribusi kredit UKM masih terkosentrasi di sektor per­ dagangan, industri dan jasa. Kredit perbankan untuk pertanian saat ini masih di bawah 10 persen. Padahal, populasi pengusaha cilik menca­ pai 68 persen dan bertumpu pada ­sektor pertanian. Angin segar solusi pembiayaan ­petani muncul dari kredit usaha rakyat (KUR). Namun, persoalannya saat ini masih terjadi kesenjangan dari sisi sebaran geografis. Pe­ nyebaran KUR hanya terpusat di Jawa serta perekonomian kota, sedangkan porsi luar Jawa masih rendah. Realisasi kredit di sektor pertanian, perkebunan, dan kehutanan yang disalurkan perbankan hingga ­November 2012 hanya 7,9 persen atau Rp 4,8 triliun dari total pe­ nyaluran kredit UMKM sebesar Rp 62 triliun. Bank Indonesia (BI) mencatat ratarata penyaluran kredit UMKM men­ capai 20 persen per tahun, dengan rasio kredit bermasalah (NPL) sektor UMKM secara keseluruhan men­ capai 3,72 persen. Namun, hingga ­November 2012, realisasi UMKM yang disalurkan perbankan masih 16 persen. Bank sentral juga men­ data pedagang masih mendapatkan porsi terbesar dalam penyaluran kredit perbankan yakni 47,2 persen.

16

STOMATA

Edisi 04/Tahun I /Maret 2013

Disusul industri pengolahan 10,9 persen, konstruksi 6,2 persen, jasa kemasyarakatan, sosial, dan hiburan 5,2 persen. Menurut Direktur Departemen Kredit Bank Perkreditan Rakyat (BPR) dan UMKM Bank Indone­ sia, Zainal Abidin, total penya­ luran kredit UMKM bersih hingga ­November 2012, Rp 62 triliun. Adapun target penyaluran kredit pada 2012, Rp 150 triliun. Minimnya realisasi kredit ke sektor pertanian lantaran persoalan akses. Maka dari itu, kata Zainal, BI berusaha keras agar pelaku UMKM dan sektor per­ tanian mudah mendapatkannya. Sebelumnya, bank sentral memper­ luas akses melalui sertifikasi lahan petani dan asuransi. Sosialisasi dan bazar intermediasi juga perlu di­ tambah agar pemahaman nasabah tentang kredit pertanian semakin ciamik. Mulai tahun ini, secara bertahap BI memberlakukan aturan penyaluran kredit UMKM minimal 20 persen oleh perbankan. Pada medio 20132014, bank menyalurkan semam­ punya. Berikutnya pada 2015 mencapai lima persen, 2016 (10 persen), 2017 (15 persen), dan 2018 (20 persen). Pemerintah telah meminta petani untuk tak ragu meminjam dana melalui kredit usaha rakyat (KUR). Tujuannya untuk menggenjot produksi pangan demi surplus 10 juta ton pada 2014 dan menjaga

ketahanan pangan nasional. Apalagi, pada 2013 pemerintah menargetkan penyaluran KUR Rp 37 triliun atau naik 23,33 persen jika dibandingkan target 2012, yakni Rp 30 triliun. Realisasi KUR pada 2012 telah melampaui target, yaitu Rp 32,6 triliun. Menteri Koperasi dan Usaha Kecil Menengah, Syarief Hasan mengklaim penyaluran KUR tahun lalu disalurkan ke 1,8 juta ­debitur. ­Sedangkan 2013 diharap­ kan jumlah penerima KUR menjadi dua juta debitur. Sejak program ini digulirkan, ­tambah Syarief, total pe­nyaluran KUR mencapai Rp 96 triliun. ­Pemerintah menargetkan pe­ nyaluran dana KUR pada 2012 mencapai Rp 30 triliun atau naik 50 persen dibandingkan 2011, yakni Rp 20 triliun. Sepanjang 2011, ­realisasi KUR sebesar Rp 29 triliun. Rega Adhiprana

Mulai tahun ini, secara bertahap BI member lakukan aturan pe­ nyaluran kredit UMKM minimal 20 persen.


MATAHATI

CARA MENGAJUKAN KREDIT KE BANK PEMERINTAH UNTUK MENDAPATKAN FASILITAS KREDIT USAHA RAKYAT (KUR): 1. Usaha yang dijalankan memiliki pasar yang jelas dan memiliki prospek 2. Melampirkan surat identitas diri (KTP, Surat Nikah, Kartu Keluarga) 3. Melampirkan surat legalitas usaha (Surat Izin Usaha dari pemerintah setempat, NPWP, akta pendirian badan usaha, dan bukti lokasi usaha) 4. Laporan keuangan 2 tahun terakhir sebagai sarana pihak bank memeriksa kesehatan keuangan usaha anda 5. Jika bank meminta agunan dari anda, sertakan bukti kepemilikan barang yang diagunkan kepada bank 6. Tidak sedang menikmati fasilitas serupa di bank lain KETENTUAN-KETENTUAN PENGAJUAN KREDIT MODAL USAHA KUR INI ADALAH SEBAGAI BERIKUT:

KETENTUAN UMUM KUR KETERANGAN

PERSYARATAN

Calon Debitur

Individu (Perorarangan/badan hukum), Kelompok, Koperasi yang melakukan usaha produktif yang layak

Lama Usaha

Minimal 6 bulan

Besar Kredit

Maksimal Rp. 500 juta

Bentuk Kredit

KMK Menurun – maksimal 3 tahun KI – maksimal 5 tahun

Suku Bunga

Efektif maksimal 16 % pa

Perijinan

S/d Rp. 100 juta Rp. 100 juta

Legalitas

Individu : KTP & KK Kelompok : Surat Pengukuhan dari Instansi terkait atau Surat Keterangan dari kepala Desa/ Kelurahan atau Akte Notaris Koperasi/Bdan Usaha Lain : Sesuai ketentuan yang berlaku

Agunan

Pokok : Dapat hanya berupa agunan Pokok apabila sesuai keyakinan Bank Proyek yang dibiayai cashflownya mampu memenuhi seluruh kewajiban kepada bank (layak Tambahan : Al Seperti tanah/bangunan/Kendaraan (tidak wajib dipenuhi)

: SIUP, TDP & SITU arau Surat Keterangan Usaha dari Lurah/ Kepala Desa > : Minimal SIUP atau sesuai ketentuan yang berlaku

KETENTUAN UMUM KUR MIKRO KETERANGAN

PERSYARATAN

Calon Debitur

Individu yang melakukan usaha produktif yang layak

Lama Usaha Besar Kredit

Minimal 6 bulan Maksimal Rp. 5 juta

Jenis Kredit

KMK atau KI Menurun maksimal 3 tahun

Suku Bunga

Efektif maksimal 1,125 % flate rate per bulan

Prov & adm

Tidak dipungut

Legalitas

KTP & KK

Agunan

Pokok : Dapat hanya berupa agunan Pokok apabila sesuai keyakinan Bank Proyek yang dibiayai cashflownya mampu memenuhi seluruh kewajiban kepada bank (layak) Tambahan : Al Seperti tanah/bangunan/Kendaraan (tidak wajib dipenuhi)

KETENTUAN KUR LINKAGE PROGRAM KETERANGAN

PERSYARATAN

Calon Debitur

BKD, KSP/USP, BMT & LKM Lainnya & tidak mempunyai tunggakan

Lama Usaha Besar Kredit

Minimal 6 bulan Maksimal Rp. 500 juta Pinjaman BKD, KSP/USP, BMT, LKM ke end user maks Rp. 5 juta

Jenis Kredit

KMK Menurun maksimal 3 tahun

Suku Bunga

Efektif maksimal 16 % pa.

Prov & adm

Tidak dipungut

Legalitas

AD/ART Memiliki Ijin usaha dari yang berwenang Pengurus aktif

Agunan

Pokok : Piutang kepada nasabah Tambahan : Al Seperti tanah/bangunan/Kendaraan (tidak wajib dipenuhi)

STOMATA

Edisi 04/Tahun I /Maret 2013

17


MATAHATI

S

UDAH saatnya pemerintah membuat k­ ebijakan tepat guna yang mendukung sektor pertanian untuk menggerakkan roda pembangunan ekonomi nasional. Tak perlu segan memberikan proteksi bagi petani lokal.Ekonom Hendri Saparini meminta pe­ merintah serius memperhatikan sektor perta­ nian dan pangan. Pemerintah mesti mengedepankan strategi dan kebijakan yang mengarah kedua bidang tersebut. “Jangan sampai Indonesia jadi pasar produk impor,” tandasnya. Katanya, beberapa negara anggota ASEAN berani menempuh lan­ gkah drastis. Vietnam mau mensubsidi pupuk buat petani. Malaysia, mengeluarkan kebijakan pengendalian harga dan suplai. Mereka menu­ tup perbatasan saat terjadi kelangkaan barang di negaranya. Nah, belajar dari negara tetangga, lanjut Hendri, pemerintah pun jangan segan-segan memproteksi hasil pertanian. Menko Perekonomian Hatta Rajasa menyebut, per Januari 2013 pemerintah memproteksi 13 jenis produk hortikultura yang tertuang dalam Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 60 Tahun 2012 tentang Ketentuan Impor Produk Hortikultura yang melengkapi Peraturan Men­ teri Pertanian Nomor 60 Tahun 2012 tentang Rekomendasi Impor Produk Hortikultura. Akibatnya, Amerika Serikat (AS) kebakaran jenggot. Beleid anyar itu dianggap melanggar hukum perdagangan internasional, salah satu­ nya Perjanjian Tarif dan Perdagangan 1994. Alih-alih berdialog dengan Indonesia, otoritas Negeri Paman Sam mengirim surat protes ke Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) karena peraturan Indonesia dianggap membahayakan ekspor AS. Padahal, nilai ekspor holtikultura Amerika ke Indonesia terbilang kecil, hanya 120 juta dolar AS.

Saatnya Bangga Produk Pangan Lokal Negara-negara maju seperti Amerika, Jepang, dan beberapa negara di Uni Eropa gencar mensubsidi dan memproteksi sektor pertanian secara masif. Begitu ­Indonesia memberlakukan kebijakan serupa, mereka meradang. Mengapa?

18

STOMATA

Edisi 04/Tahun I /Maret 2013

Keterangan tertulis Kementerian Perdagangan Amerika Serikat menyatakan keberatannya ter­ hadap kebijakan Indonesia yang mengetatkan izin impor untuk produk-produk hortikultura pada 2011. Sebelumnya, AS telah dirugikan kebijakan kuota impr daging sapi dan produk hewan oleh pemerintah. Menurut duta perdagangan Amerika Serikat, Ron Kirk, kebijakan tersebut telah melanggar aturan WTO meski bertujuan melindungi in­ dustri dalam negeri Indonesia. Apalagi, sistem perizinan impor yang rumit dan tidak jelas di Indonesia telah memengaruhi ekspor perta­ nian dan perkebunan Amerika. Namun, Hatta menganggap sah-sah saja pemerintah mem­ batasi impor. Hal ini bakal menguntungkan pe­ tani dan menjadikan produk lokal ‘tuan rumah’


MATAHATI

di negeri sendiri. ‘’Tidak ada negara di dunia ini yang tidak memberikan melindungi petani lokalnya. Indo­ nesia adalah salah satu dari negara yang harus memberikan perlindun­ gan kepada para petani lokal,” jelas Menko Perekonomian. Mengendalikan 13 jenis produk holtikultura, jelas dia, merupakan cara ampuh melindungi petani lokal dan tidak melanggar ketentuan WTO. DPR ������������������������� pun mendukung pernya­ taan Hatta. Anggota Komisi IV DPR Ma’mur Hasanuddin, menegaskan, peraturan tersebut merupakan langkah positif dalam memperbaiki struktur produksi dan pemasaran buah lokal. Lebih jauh, katanya, kebijakan itu kondusif bagi petani dan merupa­ kan peluang meningkatkan pro­ duksi hortikultura. Ia berharap ke depannya volume impor bisa dite­ kan untuk memberikan ruang bagi produk buah dan sayuran lokal.

Sementara, Kepala Badan Karantina Pertanian Kementerian Pertanian, Banun Harpini, mengungkapkan, sejak kebijakan pembatasan berla­ ku, terjadi penurunan volume impor 33 persen (800 ribu ton) pada 2012. Padahal, 2011 angka impor men­ capai 1,2 juta ton. “Perkiraan kami realisasi impor 2013 lebih rendah lagi,” katanya. Ketua Bidang Perdagangan Him­ punan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Ismed Hasan Putro menam­ bahkan, larangan buah impor se­ lama enam bulan ke depan sangat konstruktif mendorong semangat petani lokal. “Saatnya kita konsisten mandiri memenuhi kebutuhan pangan dan hortikultura. Belajarlah dari Jepang dan Korea Selatan yang bangga dengan produk hasil bumi mereka,’’ ujarnya. Rega Adhiprana

“Saatnya kita konsisten mandiri memenuhi ke­ butuhan pangan dan ­hortikultura. Belajarlah dari Jepang dan Korea Selatan yang bangga ­dengan produk hasil bumi mereka

STOMATA

Edisi 04/Tahun I /Maret 2013

19


MATAKANCING

20

STOMATA

Edisi 04/Tahun I /Maret 2013


MATAKANCING

Gangnam Style Dahlan di Hari Ulang Tahun “BUMN di era pasar bebas seperti sekarang harus tergantung kepada kemampuan otot, otak, dan kesungguhan masing-masing. Kalau tergantung sama pemerintah sudah bukan zamannya lagi�

STOMATA

Edisi 04/Tahun I /Maret 2013

21


MATAKANCING Mercy hitam milik Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Dahlan Iskan sudah berada di parkiran Graha Gabah PT Pertani saat matahari baru saja menyembul di balik kerimbunan pepohonan kawasan Kalibata, Jakarta Selatan, Minggu 20 Januari 2013.

D

AHLAN lantas mengikuti rangkaian kegiatan Hari Ulang Tahun PT Pertani yang ke-54. Setelah itu, mantan Direktur Utama PT Pe­ rusahaan ­Listrik Negara tersebut mengenakan seragam olahraga berlogo PT Pertani dan mengikuti acara senam pagi. Dua jam lebih Menteri yang pernah melakukan transplantasi hati itu beraktivitas senam dengan gerak energik, salah satunya “Gangnam Style” gerakan tari menunggang kuda yang dipopulerkan Psy, ­penyanyi asal Korea Selatan.

Usai senam, Dahlan menyambangi lantai satu Graha Gabah untuk me­lihat aktivitas PT Pertani dalam meningkatkan ketahanan pangan nasional dalam bentuk pameran foto. Dari pameran itu Dahlan me­ nilai PT Pertani cukup kreatif dan memiliki terobosan baru dalam menjawab tantangan perubahan produksi pangan nasional akibat anomali cuaca yang tak menentu. Menurutnya, perusahaan pelat merah yang memiliki kreativitas dalam mengembangkan perusa­ haan, seperti yang dilakukan PT Pertani, patut diberikan apresiasi.

22

STOMATA

Edisi 04/Tahun I /Maret 2013

Pasalnya, selama ini banyak BUMN yang me­ngandalkan pemerintah dalam setiap pengambilan ke­ putusan ­sehingga terobosan baru jarang terjadi. Maka dari itu, Dahlan menilai rencana PT Pertani untuk meleng­ kapi infrastruktur pergudangan ­de­ngan menyediakan fasilitas mesin pengering gabah (Dryer) sebanyak 120 buah yang akan disebar ke seluruh Indonesia, merupakan ide mahal yang patut dihargai. “BUMN di era pasar bebas seperti sekarang harus tergantung kepada ke­mampuan otot, otak, dan kesungguhan masing-masing. Kalau tergantung sama pemerintah sudah bukan zamannya lagi,” ucap Dahlan. Menurutnya, banyak BUMN yang kehilangan ruh dalam berkon­ tribusi terhadap pembangunan per­ekonomian bangsa, seperti juga Pertani saat masih dijabat oleh direksi lama. Namun, sejak ada pergantian direksi, Pertani dinilai telah menemukan kembali ruh dan

jalan hidupnya. “Jasad yang tanpa ruh bagaikan kuntilanak. Maaf, saya memakai kata-kata ini untuk menyadarkan bahwa kuntilanak itu tidak menginjak bumi. Nah, Pertani sekarang sudah menginjak bumi dan cantik dalam arti sebenarnya, maksud saya punggungnya tidak bolong,” ucap Dahlan disambut tawa para karyawan Pertani. Dahlan juga meminta BUMN pa­ngan tersebut untuk memper­ banyak proyek inisiatif seperti memperkaya fasilitas per­gudangan karena Pertani mempunyai

kemampuan untuk tidak men­ gandalkan proyek pemerintah. Pasalnya, proyek pemerintah kerap ­melibatkan banyak pihak. “Kalau proyek pemerintah, kita sangat tergantung sama orang lain. Kitanya sanggup dan sungguhsungguh, mereka tidak. Kalau proyek sendiri kan tergantung kesiapan kita. Makanya, mau punya 120 dryer itu adalah tantangan terbesar dalam sejarah Pertani dan ini harus sukses. Mungkin banyak kendala, tapi harus bisa!” ujarnya. Sementara Direktur Utama Eddy Budiono mengatakan, pihaknya menargetkan sebanyak 120 dryer sudah bisa dimanfaatkan petani pada tahun 2013. Dryer yang menggunakan sekam sebagai bahan ­pemanas tersebut setiap hari mampu mengeringkan gabah sebanyak 30 ton per 8 jam. Alat pengering gabah bermerek Pertani ini merupakan produk hasil kerja sama antara Pertani dengan Shan­ dong ASAH International Trading

Co. Ltd asal China Lewat kerja sama ini Pertani telah ditunjuk menjadi distributor t­ unggal pemasaran di Tanah Air. Dengan terlaksananya pembangunan dryer, Eddy yakin perseroan akan menjadi pusat pergudangan agribisnis mumpuni dan menjadi pemimpin perusahaan pangan Indonesia. Menurut Eddy, dryer merupakan salah satu mesin yang dapat mengantisipasi dampak turunnya produksi pertanian akibat cuaca buruk. Karena petani tidak perlu mengandalkan sinar matahari untuk mengeringkan gabah. “Hasil panen petani bawa saja ke gudang


MATAKANCING

kami, kami akan proses dengan mes­ in ini. Keunggulannya adalah kualitas beras yang dihasilkan dryer ini lebih baik jika dibandingkan dengan cara konvensional,” ujarnya. Ditambahkan Eddy, resiko ru­ sak atau susut saat penanganan ­pascapanen dapat diminalisir dengan dryer tersebut. Dengan penanganan pascapanen yang modern, lanjutnya, maka akan berimbas terhadap peningkatan tingkat kesejahteraan petani. Sementara pengamat pertanian Anton Apri­yantono mengatakan,

pemerintah mesti menyiapkan skema penanggulangan bencana untuk me­ngurangi dampak peru­ bahan iklim yang saat ini mendera petani di berbagai wilayah Indo­ nesia. Untuk itu, birokrasi bencana harus dipangkas supaya petani bisa dibantu secepatnya. “Penanganan bencana untuk lahan pertanian harus ditingkatkan kualitas dan nilainya. Birokrasi bencana harus dibedakan dengan birokrasi lain supaya penanganannya bisa lebih cepat,” pungkasnya.

Hasil panen petani bawa saja ke gudang kami, kami akan proses dengan mesin ini. Keunggulannya adalah kualitas beras yang dihasilkan dryer ini lebih baik jika dibandingkan dengan cara konvensional

Rega Adhiprana

STOMATA

Edisi 04/Tahun I /Maret 2013

23


MATAUANG

TEMULAWAK INDUK DARI SEGALA JAMU Indonesia memiliki ribuan jenis tana­ man berkhasiat untuk dikembangkan jadi jamu herbal. Dari seki­ an banyak, temulawak (curcuma xanthorrhiz) paling sering diman­ faatkan sebagai obat.

“Temulawak ibarat induk dari segala jamu. Sekitar 70 persen pengusaha jamu pasti memakai temulawak,” kata Dr Charles Sareang, Ketua Gabungan Pengusaha Jamu dan Obat Tradisional Indonesia. Sebagai bahan obat tradisional, temulawak punya beragam manfaat misalnya antioksidan untuk meng­ hambat penuaan dini maupun kanker. Tanaman ini juga berkhasiat hepatoprotektif, artinya melindungi hati dari risiko kerusakan akibat terlalu banyak mengonsumsi obat. Hebatnya lagi, manfaat temulawak semakin beragam ketika digabung­ kan dengan tanaman herbal lain. Direktur Bina Pelayanan

24

STOMATA

Edisi 04/Tahun I /Maret 2013

Kesehatan Tradisional, Alternatif dan Komplementer dari Kemente­ rian Kesehatan, Dr H Abidinsyah ­Siregar, DHSM, MKes membenar­ kannya. “Semua yang mengandung kurkuma (temulawak) ternyata ter­ baik. Kalau digabung dengan tana­ man apa saja bisa menghasilkan manfaat luar biasa. Sampai Amerika ngejarngejar (ingin meneliti herbal terse­ but),” kata Dr Abidinsyah. Dikemukakan Abidinsyah, Indonesia

punya sekitar 30 ribu t­ anaman herbal dan sembilan ribu di antaranya berkhasiat. Namun, baru 38 jenis tanaman terbukti faedah­ nya secara praklinis pada hewan uji. Sedangkan yang terbukti secara klinis pada manusia baru enam macam. Upaya untuk makin memper­ kenalkan jamu dan obat tradisional sebagai pendamping pengobatan moderen, Kementerian Kesehatan melalui program saintifikasi jamu. Diharapkan pada 2014, 50 persen kabupaten dan kota di Indonesia sudah punya puskesmas yang dijadikan model pelayanan obat tradisional.


MATAUANG Di Indonesia, temulawak diandal­ kan sebagai obat herbal penyem­ buh berbagai macam penyakit. Tapi di tangan orang-orang Korea, temulawak malah dijadikan obat anti­ketombe. Akibatnya, sulit menemukan temulawak di Tanah Air.

Pengusaha Jamu Indonesia, Charles Saerang. Bagi pengusaha jamu, temulawak memberikan manfaat luar biasa. “Ibarat nasinya jamu. Orang me-ngonsumsi temulawak itu bakal enak makan, enak tidur, ke belakang. Semua oke juga menjadi antioksidan,” katanya.

“Saat ini temulawak memang menjadi incaran pengusaha Korea. Seperti di Semarang sekarang susah mendapatkan temulawak berkualitas bagus karena sudah diekspor s­ emua karena permintaan luar biasa,” papar Ketua Gabungan

Selain temulawak, pengusaha jamu memfokuskan penelitian dan pengembangan jamu yang berasal dari tanaman pegagan, sambiloto dan kencur. “Pegagan atau daun kaki kuda dan an­ tanan diyakini obat manjur untuk

menambah daya ingat. Bahkan, diyakini mampu membuat orang tambah pinter. Tanaman ini juga diekspor ke China,” ujarnya. Sementara, sambiloto yang biasa ditemukan di India, Siam hingga hingga semenanjung Malaya, serta Jawa, diyakini sebagai obat kanker perut dan diabetes. “Kalau kencur dipakai orang sebagai tonikum penambah nafsu makan. Jamu be­ ras kencur sangat populer sebagai minuman penyegar. Di Bali, urap dibuat menggunakan daun kencur,” jelasnya.

PRODUK OLAHAN Temulawak Bagian yang Dimanfaatkan

Daging

Hasil

Konsumen

Simplisia Rimpang

Industri obat tradisional (jamu)

Pati

Industri Makanan

Oleoresin

Industri Farmasi, Makanan

Minyak Temulawak Zat Warna Minuman berkarbonat (limun), minuman nonkarbonat, sirup dan bir.

Bagian yang Dimanfaatkan

Hasil

Konsumen

Kulit

Kulit

Industri Pupuk

Industri Farmasi, Makanan

Rumah tangga dan industri minuman

Rimpang temulawak mengandung sejumlah senyawa aktif berupa fraksi kurkuminoid yang terdiri dari kurkumin, ­desmetoksikurkumin dan bis-desmetoksikurkumin. Juga beberapa komponen minyak atsiri seperti xanthorrizhol, ­b-kurkumen, ar- kurkumen, kamfor dan germakrene. Kandungan utamanya berupa tepung. Bervariasi antara48-54 %. Makin tinggi tempat tumbuhnya, makin rendah kadar tepungnya. Temulawak juga mengandung karbohidrat, protein dan lemak. Serat kasar

dan mineral ­seperti kalium (K), natrium (Na), ­magnesium (Mg), Zat besi, Mangan. Fraksi minyak Atsiri tertinggi dapat diperoleh dari rimpang berusia 7 bulan. Pada usia 7,5 - 8 bulan, kandu­ ngan atsirinya berkurang. Saking banyaknya kandungan pada temulawak,menjadikan tanaman asli Indonesia ini sering digunakan sebagai bahan obat tradisional oleh masyarakat Indonesia .Tak hanya di Indonesia,orang hampir di seluruh duniapun juga memanfaatkan temulawak untuk kesehatan.

STOMATA

Edisi 04/Tahun I /Maret 2013

25


MATAUANG

TEMULAWAK BERKARBONASI Temulawak berkarbonasi pernah sangat populer tahun 1980-an. Dulu, minuman itu menjadi ­simbol status dan selalu dihidangkan di pestapesta perayaan. Kini, di tengah membanjirnya minuman bersoda, temulawak tetap eksis.

R

ony Hendra Setiadi (36), ­pengusaha muda dari Banyu­ wangi, memilih memertahankan minuman temulawak berkarbonasi (beruap). Karena keterbatasan te­ knologi dan kian ketatnya persain­ gan Rony memilih meninggalkan kehidupannya di Australia untuk menghidupkan lagi minuman tradi­ sional itu. Rony kini mengoperasikan pabrik temulawak berkarbonasi warisan keluarga. Ia adalah generasi ketiga dari pendiri pabrik temulawak beruap PL Hawai. Rony mewarisi usaha dari sang ayah, Boedijanto yang meninggal 2003.

http://www.flickr.com/photos/ikhlasulamal/3380102807/

26

STOMATA

Edisi 04/Tahun I /Maret 2013

Kakeknya adalah Liem Jun Koen, pendiri pabrik itu. Dulu, saat ber­ diri tahun 1960, pabrik tersebut boleh dibilang paling modern karena memakai mesin pen­ campur CO2 (karbon dioksida). Usaha kakeknya berkembang pesat saat digantikan sang ayah sekitar tahun 1970-an. Kala itu, perusahaan soda bermerek inter­ nasional belum banyak masuk. Pasar temulawak beruap juga sudah mapan. ”Karyawan ayah saat itu bisa 30 orang,” ucap Rony. Saat itulah, pasar temulawak beruap merambah Bali. Boedi­ janto sendiri turut turun tangan


MATAUANG http://www.flickr.com/photos/o2zone/6158999690/

Minuman temulawak ini masih ­dikemas dalam botol pendek warna hijau isi 320 mililiter. Labelnya dari kertas b ­ ergambar rumpun temulawak enam jari. Kotak minuman (kerat) terbuat dari kayu. ­Perbedaan ada pada tutupnya. Kalau dulu dari keramik dan kawat sebagai pembuka, kini dengan aluminium ­seperti minuman soda lainnya. Botol pendek tetap dipertahankan, selain bentuk botol berleher panjang.

memasarkan minuman tradisional bersoda ke kota-kota lain seperti Situbondo, Bondowoso dan Bali. Rony masih ingat, pada 1980-an ayahnya ­se­ring pergi berhari-hari ke sejumlah kota untuk berbisnis. Kadang pergi menggunakan truk pengangkut minuman milik per­ usahaan. Selain temulawak, saat itu juga diproduksi minuman soda rasa jeruk atau orson. Sayangnya orson tak langgeng. Saat Rony menggan­ tikan sang ayah pada 2003, orson tak diproduksi lagi. ”Terlalu banyak minuman ­pesaing dengan rasa serupa,” kenang Rony. Minuman beruap temu­ lawak bertahan di segala zaman. Kemasan, apalagi rasa tetap abadi. Begitulah kira-kira semboyan ke­ luarga Liem Jun Koen hingga kini. Meski sudah tiga kali berganti generasi, keluarga Liem Jun Koen tetap memertahankan bentuk, kemasan hingga rasa. Konsistensi itu mungkin menjadikan minuman temulawak tetap langgeng. Pertahankan Kemasan Minuman temulawak ini masih dikemas dalam botol pendek warna hijau isi 320 mililiter. Labelnya dari kertas bergambar rumpun temu­ lawak enam jari. Kotak minuman (kerat) terbuat dari kayu. Perbedaan ada pada tutupnya. Kalau dulu dari keramik dan kawat sebagai pembu­ ka, kini dengan aluminium seperti minuman soda lainnya. Botol pendek tetap dipertahankan, selain bentuk botol

berleher panjang. Menurut Rony, bentuk botol klasik me­mengaruhi pemasaran. Di Bali, warga yang ­sudah telanjur lekat dengan ­minuman temulawak bersoda ini lebih memilih model lama (pendek). Pabriknya pun tak berubah, berupa bangunan tua seluas 200 meter persegi. Lima mesin pengisi gas masih beroperasi manual. Sari temulawak diramu dari campuran esensi temulawak dan gula. Proses pengisian, penutupan dan pemasangan label dilakukan manual oleh tenaga manusia. Rony dan ayahnya me­ mang tidak berniat mengubah pabrik dengan mesin otomatis. Selain sangat mahal (harga mesin karbonasi termurah Rp 800 juta), mereka tetap memertahankan tenaga kerja. Saat ini ada belasan warga bergantung hidupnya pada industri minuman itu. Banyaknya tenaga kerja itulah yang membuat Rony tetap memertahankan pabriknya. Alasan ini juga mendorong Rony me­ninggalkan profesi sebagai banker di bank asing ternama untuk ­kembali ke Banyuwangi menggan­ tikan sang ayah. Keputusan Rony untuk meninggalkan Australia sudah melalui pertimbangan matang. Ia sudah tujuh tahun belajar dan bekerja di sana. Penghasilannya 28.000 dolar Australia per tahun. ”Saya tidak berniat pulang. N ­ amun, setelah Papa meninggal dan me­

wariskan perusahaan temulawak yang masih jalan, saya jadi ingin pulang. Meski kecil, perusahaan itu sayang untuk ditutup karena bisa menghidupi karyawan,” tuturnya. Sebagai anak lelaki satusatunya dari dua bersaudara, Rony tergerak meneruskan usaha ayahn­ ya. Awal-awal berada di Bayu­wangi, ia sempat stres. Maklum, kondisi Gold Coast, Australia jelas jomplang dengan Bayuwangi. Lama-lama dia bisa beradaptasi. Pabrik kuno itu pun kini ibarat rumah kedua. Kini, PL Hawai masih memproduksi 1.000-1.500 kerat setiap pekan. Produksi bisa meningkat 30 persen saat Lebaran. Rony kini berencana menjajal pasar temulawak di kotakota besar. Ia optimistis warga lokal dan wisatawan asing bisa me­ nerima, termasuk Jakarta atau kota besar lainnya. ”Temulawak beruap bisa tampil di kafe atau bar-bar dengan cara dicampur minuman lain. Atau dicampur air perasan jeruk nipis dan madu,” katanya. Ya, pasar minuman karbo­ nasi boleh marak tapi temulawak tetap bertahan dengan kekhasan dan rasa klasi­ knya. Tinggal pemasaran dan keuletan.

STOMATA

Edisi 04/Tahun I /Maret 2013

27


MATAUANG

LEZATNYA ICE CREAM

TEMULAWAK M

28

STOMATA

Edisi 04/Tahun I /Maret 2013

Pada 14 Juli 2005, Pemerintah RI mencanangkan gerakan nasional minum temulawak (GNMT) yang salah satu tujuannya adalah meningkatkan penggunaan temulawak secara luas oleh masyarakat dalam upaya meningkatkan kesehatan. GNMT inilah yang menginspirasi kami ­untuk menciptakan sebuah produk olahan berbahan dasar temulawak yaitu es krim. Khairul Ikhsan & Inovasi Produknya

ahasiswa Farmasi Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta menciptakan es krim temulawak. Namanya Abilawa, atau nama samaran salah satu Pandawa yakni Bima dalam dunia pewayangan. Mereka terdorong membuat produk alternatif baru berbahan temulawak yang selama ini banyak diman­ faatkan sebagai bahan baku obat tradisional. Mereka adalah Topan Sawitra, Ina Rahmawati, Arum Setianingrum, Widi, dan Khairul Ikhsan. “Pada 14 Juli 2005, Pe­merintah RI mencanangkan g­erakan nasional minum te­ mulawak (GNMT) yang salah satu tujuannya adalah meningkatkan penggunaan temulawak secara luas oleh ma­syarakat dalam upaya ­meningkatkan kese-hatan. GNMT inilah yang menginspirasi kami untuk menciptakan sebuah produk olahan berbahan dasar temulawak yaitu es krim. Selain itu, kami juga melihat temulawak ini memiliki peluang usaha yang besar ­untuk dikembangkan dalam dunia industri,” papar Khairul Ikhsan. Abilawa, kata Khairul, merupakan es krim sarat gizi karena mimiliki kandungan kurkumin tinggi. Zat ini bermanfaat menjaga kesehatan hati (hepatoprotektor), anti oksidan serta menambah nafsu makan. Cara pembuatannya sederhana. Tak jauh berbeda dengan membuat es krim pada umumnya. Bahannya, 0,5 kilogram serbuk temulawak diolah dicampur air panas kemudian disaring. Selanjutnya, air saringan ditambahkan jeruk nipis dan di­ dinginkan. Hasil olahan temulawak ini kemudian diolah bersama bahan es krim lain yaitu susu sapi, gula,

­ aram, emulsifier, dan stabilizer. g “Kami menggunakan bahan es krim sudah jadi yang dijual di pasaran,” kata Khairul. Satu kali produksi, mereka mampu menghasilkan 60 cup es krim ukuran 100 milili­ ter. Lima sekawan ini melempar Abilawa ke pasaran dengan harga relatif murah, Rp 2.500 per cup-nya. Untuk satu kali pemasaran, mereka mampu menjual hingga 100 cup es krim. Produk yang diluncurkan pada 2009 itu untuk sementara baru di pasarkan di Pasar Minggu Pagi (Sunmor/Sunday Morning) UGM. Untuk memperluas pemasaran, ke depan mereka menjajaki kerja sama dengan sejumlah apotek dan herbal corner. Berkat inovasi produk es krim ini, Khairul Ikhsan dan rekanrekannya berhasil memeroleh juara III dalam Pekan Ilmiah Mahasiswa Farmasi Indonesia (PIMFI) 2009.


MATAUANG

TEMULAWAK RAHASIA STAMINA KUAT JOKOWI Stamina Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo memang patut diacungi jempol. Sejak menjabat Gubernur DKI, blusukan keluar masuk kam­ pung, tiada lelah. Lalu apa rahasia stamina kuat Jokowi? “Setiap pagi, saya selalu minum air seduhan temulawak dicampur kacang hijau dan madu yang dibuat oleh istri. Saya tidak pernah sara­ pan. Minuman itulah sarapan saya,” kata Jokowi. Menurut Jokowi, temulawak memiliki kandungan curcuma yang berfungsi memperbaiki fungsi hati, sehingga tubuh tidak mudah merasa lesu dan lelah. “Di dalam temulawak itu, ada kand­ ungan yang namanya curcuma. Kandungan itu bertugas untuk memperbaiki fungsi hati. Efeknya adalah tubuh menjadi tidak cepat

capek karena fungsi hati tidak ter­ ganggu,” ujar Jokowi. Yang dia maksud temulawak alias Cur­ cuma xanthorhizza. Rempah dan tana­ man obat ini sudah sangat terkenal di kalangan mana saja dengan khasi­ atnya menyegarkan badan. Jokowi mengaku sudah mengonsumsi minu­ man tersebut sejak 14 tahun silam, yakni ketika bekerja di perusahaan yang bergerak dalam bidang eksporimpor. “Saya sudah minum air temulawak itu se­ lama 14 tahun. Sejak saya bekerja di perusahaan ekspor-impor. Sewaktu bekerja disana, saya sering pulang jam dua pagi, bahkan tak jarang sampai jam empat pagi. Stamina saya harus kuat,” tutur Jokowi.

Korea Unggulkan Ginseng, Indonesia Andalkan Temulawak Korea mengunggulkan ginseng sebagai tanaman obat khas negara tersebut. Indonesia yang memiliki keragaman tanaman obat dan rempah-rempahan pun tak mau kalah. Kementerian Pertanian pun ingin mengunggulkan ­temulawak sebagai tanaman obat khas ­Indonesia dan jamu sebagai ramuan khas Indonesia. “Produk komoditas yang kita unggulkan adalah temulawak seperti Korea mengunggulkan ­ginseng. Jadi, kita ingin temulawak ini identik dengan Indonesia. Ginseng kan identik dengan Korea,” kata Direktur Budidaya dan Pascap­ anen Sayuran dan Tanaman Obat

http://browse.deviantart.com/?q=jokowi#/d5owegb

Aneka Produk Temulawak

Ditjen Hortikultura Kementerian Pertanian Yul H Bahar. Tak hanya temulawak, l­anjut Yul, pihaknya juga ingin meng­unggulkan jamu sebagai r­ amuan khas Indonesia. Yul memaparkan, jamu selain berfungsi sebagai obat juga memiliki fungsi keindahan dan keasrian. “Jamu itu bisa digunakan untuk obat dan juga untuk permen, odol, sabun, spa. Ginseng dari Korea itu bisa diolah bermacam-macam ada odol gin­ seng, bahkan parfum ginseng pun ada. Di bidang spa juga omzetnya

besar sekali. Jadi, jangan mengebiri jamu hanya sebagai obat. Jamu bisa terkait ­dengan farmasi, industri, dan ­kosmetik,” paparnya. Yul menyebutkan, dalam statistik, nilai penjualan jamu dalam setahun itu sekitar Rp10 triliun. Di luar angka statistik tersebut, sambungnya, mungkin lebih besar lagi nilainya. Yul mengatakan, ­apabila industri jamu dikembang­ kan lebih luas lagi seperti mem­ produksi minuman ringan dari jamu dan kosmetik yang berbahan dasar jamu dikembangkan lagi, nilai Rp10 triliun tersebut terbilang sedikit. “Kalau industri jamu lebih luas lagi, pendapatan kita lebih dari Rp10 triliun,” kata Yul yang enggan menyebutkan nilai ekspor produk jamu dan tanaman obat. Ishak Pardosi

STOMATA

Edisi 04/Tahun I /Maret 2013

29


MATAUNIK

Gladiator

DAN KHASIAT BAWANG MERAH Sudah umum kalau masakan di rumah Anda terasa lezat berkat bawang merah (allium cepa/kelompok aggregatum). Bawang merah dikenal sebagai bumbu masakan di Asia Tenggara bahkan dunia.

30

STOMATA

Edisi 04/Tahun I /Maret 2013


MATAUNIK

B

EGITU pentingnya peranan bawang m ­ erah (orang Jawa me­nyebutnya sebutan brambang) sebagai bahan dasar wajib di dapur. Lidah orang Indonesia boleh dibilang cocok d ­ engan bawang merah. Wajar saja, k­ etika terjadi lonjakan harga, semua jadi panik. Tapi tahukah Anda bahwa ­bukan bawang merah saja yang dapat dijadikan bumbu. Daun, tangkai dan bunga tanamannya pun dapat dijadikan bumbu pe­nyedap masakan.

Dulu, terapi serupa diberikan dokter kepada pengidap pneumonia. Seorang dokter menemukan artikel yang menyarankan untuk memotong kedua ujung bawang merah, lalu meletakkan salah satu ujungnya pada sebuah garpu kemudian menempatkan ujung garpu pada sebuah stoples kosong. Stoples diletakkan di sebelah pasien yang sakit pada malam hari. Keesokan paginya, bawang merah menjadi hitam dan penderita pneumonia kondisinya lebih baik.

Secara fisik tanaman ini berciri akar serabut dengan daun berbentuk silinder berongga. Bawang merah masuk katagori umbi-umbian yang terbentuk dari pangkal daun bersatu dan membentuk batang yang berubah bentuk dan fungsi, membesar lalu mem­ bentuk umbi berlapis. Banyak manfaat dari familia alliaceae ini kendati umbi bawang merah bukan merupakan umbi sejati seperti kentang atau talas. Bawang merah berkhasiat untuk ke­sehatan dan pengobatan. Kandungan gizinya cukup besar buat meningkatkan stamina tubuh. Konon ­khasiat bawang merah telah dimanfaatkan sejak za­ man dahulu kala.

Kejadian tersebut menguatkan hipotesa khasiat bawang merah. Bahkan, Organisasi Kesehatan Dunia mengakuinya sebagai penambah nafsu makan dan ­terapi penderita aterosklerosis. Selain itu, ahli ke­ sehatan mengakui bawang membantu meringankan asma kronis, alergi bronkitis, batuk biasa hingga sindrom dingin.

Konon, kabarnya para pekerja di M ­ esir saat memban­ gun piramida selalu me­ngonsumsi bawang merah menjaga daya tahan tubuh. Para gladiator di zaman Romawi kuno juga menggunakan bawang buat me­ nambah kekuatan otot. Mereka menggosok-gosokkan bawang merah ke seluruh tubuh sebelum bertanding agar tetap prima. Selain stamina, bawang merah juga dikanal sebagai penangkal penyakit karena memiliki kandungan istimewa menangkal bakteri. Bahkan, bawang merah berfungasi sebagai antiseptik. Ada cerita unik pada 1919, saat terjadi wabah flu yang menewaskan sedikit­ nya 40 juta orang. Kemudian, datang seorang dokter mengunjungi banyak petani untuk melihat dari dekat kemampuan mereka memerangi flu. Begitu terkejutnya sang dokter ketika mengunjungi ada salah satu keluarga petani yang tak tertular dan tetap sehat. Dokter itu pun menanyakan resep yang digunakan untuk menjaga daya tahan tubuh. Jawa­ bannya mengagetkan. Mereka mengaku mengupas bawang merah dan meletakkanya di atas piring pada setiap kamar di rumah itu. Dokter tak mau percaya begitu saja. Ia pun men­ gambil bawang merah dan melihatnya memakai mikroskop. Ternyata, dia menemukan virus flu dalam bawang merah. Dokter menyimpulkan bahwa ba­ wang bisa menyerap bakteri. Berbekal temuan baru tersebut, sang dokter memberikan resep serupa ke­ pada pasien-pasiennya yang terkena flu. Tak hanya itu, dia menampatkan banyak bawang merah dalam piring di beberapa titik. Ajaib, para karyawannya pun sehat.

Dede Supriyatna

MITOS KELIRU BAWANG MERAH HINGGA kini, masih banyak beranggapan mengonsumsi bawang mentah atau makanan mengandung bawang memicu bau badan. ­Benarkah? Faktanya bawang bukanlah sebagai faktor utama. “Bau badan bisa di­pengaruhi ­banyak faktor,” kata ahli gizi Dr. Diana F. ­Suganda. Kata dia, faktor utama penyebab bau badan adalah bakteri. Ketika keringat keluar dari tubuh Anda bercampur dengan bakteri, maka aroma tak sedap keluar. Bakteri pemicu bau badan mudah muncul di daerah lipatan di tubuh seperti ketiak. Memang, bawang termasuk jenis sayuran yang memacu peningkatan suhu tubuh seh­ ingga orang mudah berkeringat. Tapi ingat, ­selama Anda rajin menjaga kebersihan tubuh, ­men­gonsumsi bawang bukanlah masalah.

STOMATA

Edisi 04/Tahun I /Maret 2013

31


MATAUNIK

BAWANG MERAH DAN KESEHATAN: 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13. 14.

Membunuh kuman di mulut: Bawang merah sering digunakan untuk mencegah kerusakan gigi dan infeksi mulut. Mengunyah bawang mentah sampai tiga menit dapat membunuh semua kuman di mulut. Mengobati penyakit jantung: Bawang membantu dalam penipisan darah yang pada gilirannya mencegah sel-sel darah merah dari rumpun pembentukan. Blok ini dapat menyebabkan gangguan jantung atau penyakit kardiovaskular. Jerawat: Jus bawang merah dicampur madu atau minyak zaitun diyakini ampuh menyembuhkan jerawat. Mengobati batuk: Mengkonsumsi jus bawang dan madu meringankan sakit tenggorokan dan batuk. Bawang merah juga dapat meringankan sakit akibat gigitan serangga seperti lebah: Jus segar bawang merah atau pasta dapat digunakan untuk aplikasi eksternal untuk gigitan serangga dan sengatan kalajengking. Meningkatkan daya seks: Bawang merah dapat meningkatkan dorongan kehidupan seksual yang sehat. Pengobatan anemia: Bahkan kondisi anemia dapat ditingkatkan dengan makan bawang bersama dengan jaggery dan air. Meredakan sakit perut: Bawang memiliki sifat anti-inflamasi dan anti-bakteri yang memberikan bantuan untuk sakit perut dan sindrom gastro terkait. Mengobati gangguan urin: Jika menderita rasa terbakar saat buang air kecil, air rebusan bawang merah 6 sampai 7 gram. Pencegahan kanker: Bawang kaya senyawa aktif yang menghambat perkembangan sel-sel kanker. Bawang merah mengandung senyawa belerang yang melindungi perut, kolon, dada, paru-paru, dan prostat. Mengurangi earache: Beberapa tetes jus bawang terbukti ampuh mengurangi sakit telinga. Suara dering di telinga dapat disembuhkan dengan menerapkan jus bawang melalui kapas. Mengontrol diabetes: Jika dimakan mentah, bawang merah meningkatkan produksi insulin. Menjaga jantung: Konsumsi bawang merah mentah secara rutin dapat melindungi jantung dari penyakit koroner. Bawang merah mentah dapat mengontrol tekanan darah tinggi dan membuka arteri yang tertutup. Mengontrol level kolesterol: Bawang merah mengurangi level kolesterol jahat karena memiliki sulfur asam amino dan methylallyl sulfida.

Para gladiator di zaman Romawi kuno juga menggunakan bawang buat menambah kekuatan otot. KANDUNGAN YANG DIMILIKI BAWANG MERAH Kandungan Gizi Bawang merah, Nilai gizi per 100 g (3.5 oz) Energi 166 kJ (40 kcal) Karbohidrat 9,34 g Gula 4,24 g Diet serat 1,7 g Lemak 0,1 g jenuh 0,042 g monounsaturated 0,013 g polyunsaturated 0.017 g Protein 1,1 g

Air 89,11 g Vitamin A equiv. 0 mg (0%) Thiamine (Vit. B1) 0,046 mg (4%) Riboflavin (Vit. B2) 0,027 mg (2%) Niacin (Vit. B3) 0.116 mg (1%) Vitamin B6 0,12 mg (9%) Folat (Vit. B9) 19 mg (5%) Vitamin B12 0 mg (0%) Vitamin C 7.4 mg (12%)

Vitamin E 0,02 mg (0%) Vitamin K 0,4 mg (0%) Kalsium 23 mg (2%) Besi 0,21 mg (2%) Magnesium 0,129 mg (0%) Fosfor 29 mg (4%) Kalium 146 mg (3%) Sodium 4 mg (0%) Seng 0,17 mg (2%) Sumber: USDA Nutrient Database

32

STOMATA

Edisi 04/Tahun I /Maret 2013


MATAUNIK MATAUNIK

Hampir seluruh kawasan Indonesia seperti Nangroe Aceh Darussalam, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Jambi, Lampung, Jawa Barat, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Jawa Timur, Nusa Tenggara Barat, Bali, Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan, Sulawesi Utara dan Papua berpotensi memproduksi bawang merah.

FAKTA UNIK BAWANG MERAH

Gladiator di zaman Romawi kuno memanfaatkan bawang untuk menambah kekuatan otot. Mereka menggosokgosokan bawang merah ke seluruh bagian tubuh sebelum bertanding. Mereka percaya dengan melakukan hal tersebut dapat membuat kondisi tubuhnya semakin prima.

Pada 1919, seorang keluarga petani terbebas dari serangan wabah flu yang telah menewaskan sedikitnya 40 juta orang lantaran meletakkan irisan bawang ke dalam mangkok dan meletakkanya di bawah meja.

Para pekerja Mesir mengonsumsi bawang merah untuk menambah stamina saat memba­ngun piramida.

“Tanaman ini bagus mengatasi gigitan binatang berbisa, menenangkan jantung, dan mengikis perasaan melankolis dan sedih,” tulis pakar herbal zaman Elizabeth John Gerard pada 1597.

Bawang merah Allium ascalonicum­L.) adalah nama tanaman dari familia ­Alliaceae dan nama dari umbi yang dihasilkan .

Organisasi Kesehatan Dunia mengakui khasiat bawang merah dalam meredakan penyakit. Bawang merah baik untuk menambah dengan nafsu makan dan terapi meringankan sakit penderita aterosklerosis. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat akumulasi impor bawang merah pada Januari-November 2012 sebesar 95.000 ton atau 42 juta dolar AS (kurang lebih Rp 400 miliar). BPS juga mencatat penurunan impor bawang merah pada November 2012. Oktober 2012, impor bawang merah 1.175 ton, lalu turun menjadi 385 ton pada November 2012.

Bawang digunakan berabad-abad untuk tujuan pengobatan. Bawang juga mengandung komponen mi­ neral seperti kalsium, magnesium, natrium, kalium selenium, dan fosfor. Mengunyah bawang merah selama dua sampai tiga menit dapat membunuh kuman dalam mulut penyebab napas tak segar.

Jumlah bawang merah impor sepanjang 2011 melonjak. Periode Januari-November, impor tercatat 158.461 ton atau naik 116 persen dibandingkan total impor sepanjang 2010.

Tradisi kuliner menggunakan daun serta tangkai bunganya tanaman bawang merah untuk dijadikan bumbu penyedap masakan.

Tahun 2011 harga bawang merah di Indonesia mencapai Rp25-35 ribu per kilo.

Berdasarkan laporan data sosial ekonomi, produksi umbi bawang merah dengan daun tahun 2011 sebesar 893,124 ribu ton. Pada 2010, produksi menurun 155,810 ribu ton (14,85 persen).

STOMATA

Edisi 04/Tahun I /Maret 2013

33


MATAHARI

Mencari Skema Pembiayaan Pertanian yang Efektif PROF. DR. BUSTANUL ARIFIN, Guru Besar UNILA dan Ekonom Senior INDEF-Jakarta

I

Setelah melalui serangkaian pembahasan, diskusi panjang dan ­lobi-lobi melelahkan, upaya melakukan ­pemutihan tunggakan kredit usahata t­ ani ­(KUT) tampaknya akan menjadi kenyataan. Menteri Koordinator Per­ ekonomian Hatta ­Rajasa ­menyatakan ­pemerintah akan ­memutihkan KUT sekitar Rp5,7 triliun u ­ ntuk ­membantu memper­ lebar akses petani kepada ­perbankan.

34

STOMATA

Edisi 04/Tahun I /Maret 2013

NTINYA, petani yang menunggak kredit akan dihapus namanya dari Sistem Informasi Debitor (SID) di Bank Indone­ sia, sehingga mereka berpeluang mengajukan permohonan jenis pembiayaan pertanian lainnya saat ini, seperti kredit usaha rakyat (KUR), kredit ketahanan pangan dan energi (KKPE) dan sebagainya. Banyak petani di ­Indonesia, utamanya petani tana­ man pangan, tidak mampu meme­ roleh kredit baru bersubsidi dan berbunga lunak ini, karena mereka masih tercantum damanya di dalam SID Bank Indonesia. Di sisi lain, daya serap penyaluran kredit bersubsidi ini di sektor pertanian masih cukup rendah. Misalnya, lebih dari 60 persen KUR disalur­ kan bukan kepada petani atau sektor pertanian, tetapi kepada pedagang komoditas, penyedia jasa, pengecer dan sebagainya. Bahwa petani dan sektor pertani­ an memerlukan pembiayaan dari sektor perbankan dan lembaga keuangan lain tentu tidak terban­ tahkan. Sekian macam skema pembiayaan pertanian telah di­ cobakan sepanjang sejarah mod­ ern pembangunan ekonomi Indo­ nesia, baik melalui subsidi bunga seperti kredit program, maupun melalui kredit komersial tapi terka­ wal secara baik. Kredit program di sektor pertanian dengan bunga rendah juga sempat terlupakan dari hiruk-pikuk pola pemban­ gunan yang bertumpu pada industrialisasi rapuh, yang hanya

mengandalkan konglomerasi dan penguasaan aset secara tidak terkontrol, serta pola pembiayaan kepada kelompok usahanya send­ iri. Prinsip-prinsip kehati-hatian perbankan (pru­dential banking) nyaris tidak diper­hatikan, seh­ ingga terdapat ke­senjangan yang signifikan dalam pembiayaan aktivitas ekonomi riil masyarakat. Di satu sisi, terdapat akses pembiayan yang nyaris tidak terbatas bagi mereka yang memiliki kedekatan bisnis tertentu dengan sektor perbankan. Di sisi lain, bagi sektor ekonomi yang tidak memiliki kedekatan bisnis tertentu dengan perbankan, akses pembiayaan itu nyaris hanya berada di atas kertas. Semua paham bahwa pola yang terakhir inilah yang menjadi cikal-bakal krisis ganda di sektor keuangan dan perbankan serta krisis nilai tukar, yang akhirnya menjadi krisis ekonomi dan politik yang me­war­ nai pergantian rezim di Indonesia. **** Pada awal era Reformasi, peme­ rintah mencoba menghidupkan kembali kredit program bagi ­sektor pertanian dengan melun­ curkan Kredit Usahatani (KUT). Program KUT diberikan pemerin­ tah pada 1998-1999 senilai Rp7 triliun, untuk menanggulangi krisis ekonomi dan memberikan suntikan permodalan kepada ­sektor pertanian, yang mulai ter­ imbas penurunan daya beli yang sangat signifikan. Debat publik pun pada waktu itu cukup ramai, di antaranya karena ada yang menganggap bahwa KUT itu bukan merupakan produk perbankan, tapi program pemerin­ tah yang “dititipkan” kepada sektor perbankan. Misalnya, Bank Rakyat Indonesia (BRI) menyalurkan KUT dengan dana yang bersumber dari Kredit Likuiditas Bank Indonesia sebesar Rp 2,8 triliun melalui


MATAHARI

skema eksekusi dan skema saluran biasa. Bank Bukopin juga men­ yalurkan KUT sebesar Rp1,8 triliun, walaupun cukup banyak persen­ tase yang menunggak (Kompas, 24 Agustus 2011). Total jumlah KUT yang tertunggak diperkirakan Rp 5,7 triliun (81,4 persen), suatu jumlah tunggakan yang sangat besar untuk suatu program pembiayaan pertanian. Tunggakan KUT inilah yang saat ini hendak diputihkan oleh pemerintah, dengan alasan untuk memberi kesempatan kepada petani penunggak agar mampu mengajukan kredit sejenis di kemudian hari. Namanama petani penunggak kredit akan dikeluarkan dari SID Bank ­Indonesia, konon untuk me­ wujudkan prinsip-prinsip keadilan ekonomi bagi petani. Gagasan pemerintah itu tentu secara populis akan menda­ pat simpati karena seakan-akan telah membantu melepaskan beban bagi petani, terutama dari kalangan miskin, yang memang tidak berdaya membayar kem­ bali tunggakan KUT yang macet ­karena berbagai hambatan yang dihadapi usahataninya. Akan tetapi, apabila benar bahwa macetnya KUT sebagian besar (65 persen) bukan disebabkan petani, tentu upaya pemutihan tunggakan KUT itu dapat menjadi preseden buruk. Pemutihan itu seakan memberikan perlindungan bagi nasabah nakal, yang biasanya bukan petani, melainkan pe­ numpang gelap (free rider) yang mengambil untung dari adanya akses pembiayaan murah di sektor pertanian. Pemutihan itu juga seakan memberi “hukuman” bagi petani yang rajin membayar angsuran utangnya, karena dipersamakan dengan mereka yang sengaja nakal tidak berniat membayar cicilan itu. Sebagaima­ na kredit program lainnya, sistem administrasi dan birokrasi dari KUT

jelas tidak sederhana, walaupun dengan pertimbangan untuk memperbaiki kinerja pengawasan, monitoring dan evaluasi program itu sendiri. Justru dari kerumitan administrasi dan birokrasi inilah yang membuat program pem­ biayaan KUT menemui banyak kesulitan, termasuk sekian kasus penyaluran dana bukan kepada petani, tapi juga ke usaha non-

perbankan (dan lembaga keuan­ gan lain) dengan sektor perta­ nian. Kedua, perbaikan produk perbankan yang lebih inovatif dalam membiayai sektor perta­ nian, sehingga tidak sepenuhnya mengandalkan kredit program yang sering bermasalah seperti diuraikan sebelumnya. M ­ isalnya perbankan dapat mengembangan skema pembiayaan ke depan (for-

Ketika petani pada waktu itu juga harus memenuhi kebutuhan hidupnya dengan harga-harga yang semakin menjulang, maka keuntungan sesaat itu juga menjadi petaka bagi kehidupan petani

pertanian. Akumulasi sekian macam persoalan dan keraguan sektor perbankan untuk men­ ganggap bahwa KUT itu adalah produk perbankan telah berkontri­ busi pada tunggakan kredit yang menumpuk sampai akhirnya men­ jadi kredit macet yang mencapai Rp5,7 triliun. **** Dari pelajaran dan drama per­ jalanan KUT sejak awal era Reformasi, merumuskan dan melaksanakan pembiayaan sektor pertanian memang tidak mudah, karena selain persoalan kelem­ bagaan, biaya transaksi yang ditimbulkannya, dan kemungki­ nan moral hazards dan penyalah­ gunaan wewenang yang cukup besar. Oleh karena itu, beber­ apa jalan kelaur berikut mungkin bermanfaat dalam merumuskan skema pembiayaan pertanian yang efektif ke depan.Pertama, perbaikan komunikasi sektor

ward financing), dengan tingkat bunga komersial biasa. Bahkan perbankan perlu lebih berani merangkul sistem resi gudang (warehouse receipt system) yang saat ini hanya dinakhodai oleh Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti). Sistem resi gudang ini kelak akan lebih kompatibel dengan bursa berjangka komodi­ tas (futures trading), yang lebih menjadi ciri khas negara-negara industri maju. Ketiga, penyem­ purnaan skema perlindungan di sektor pertanian, termasuk pem­ berdayaan petani untuk menang­ gulangi hambatan permodalan yang dihadapi. Misalnya, wacana pengembangan asuransi tanaman (crop insurance) perlu dihidupkan kembali agar menjadi lebih opera­ sional di lapangan. Asuransi tana­ man ini akan sangat bermanfaat mengatasi risiko gangguan cuaca dan perubahan iklim, wabah hama dan penyakit, kegagalan panen dan lain-lain. barifin.wordpress.com

STOMATA

Edisi 04/Tahun I /Maret 2013

35


MATAKAIL

36

STOMATA

Edisi 04/Tahun I /Maret 2013


MATAKAIL

KARAWANG

PANGKAL

PERJUANGAN

BANGSA S

Menilik ­sejarah,­ se­­belum Ka­bupaten ­Karawang (Jawa Barat) lahir, sudah ada ­pe­merintahan ­tertata apik sejak ­zaman ­Ke­rajaan Taruma ­Negara (375-618), ­Kerajaan Sunda (671), ­Kerajaan Sumedang­larang ­(1580-1608), K­ esultanan ­Cirebon (1482), serta ­Kesultanan Banten (1526).

EKITAR Abad XV M, ulama besar Syeikh Hasanudin ­ bin ­Yusuf Idofi, dari Champa, terkenal dengan ­sebutan Syeikh Quro masuk membawa agama Islam ke ­Ka­ra­­wang. Saat Islam masuk ke Karawang, sebagiab besar daerah itu masih hutan belantara dan rawa. Tak heran jika ada yang merujuk kata Karawang dari bahasa Sunda, ke-rawa-an. Artinya tempat berawa-­rawa. Nama tersebut sesuai keadaan geografis Karawang yang be­ rawa-rawa. Karawang juga telah dikenal sejak Kerajaan Pad­ jadjaran, Bogor. Sebagai jalur lalu lintas penting untuk men­ ghubungkan Kerajaan Pakuan Padjadjaran dengan ­pusat pe­merintahan di Galuh Pakuan, Ciamis. Sumber lain menyebutkan, buku-buku Portu­ gis (1512 dan 1522) me­nulis pelabuhan-pelabuhan penting Kerajaan Pajaja­ ran adalah ‘caravan’, terletak di sekitar Sungai Citarum. Pada masa itu, bila orang-orang melakukan perjalanan melewati daerah rawa, untuk keamanan ­me­­re­ka pergi berkafilah-kafilah menggunakan kuda, sapi, kerbau bahkan kele­ dai. Orang Portugis biasa menyebut kafilah dengan sebutan ‘karavan’. Belakangan, karavan merujuk pada daerah Karawang yang memang terletak di sekitar Sungai Citarum. Luas Kabupaten Karawang saat itu meliputi Bekasi, Subang, Purwakarta dan Karawang. Secara singkat, Kabupaten Karawa­ ng berdiri sesuai Surat Keputusan Bupati Kepala Daerah Tingkat II Karawang: 170/PEM/H/SK/1968, 1 Juni 1968. Hari jadi Kabupaten Karawang ditetapkan pada 14 September 1633. *** Karawang juga menjadi bagian penting dari sejarah Indonesia. Saat masa ­revolusi kemerdekaan, Karawang merupakan salah satu daerah yang menjadi kancah perjuangan melawan penjajah Belanda, seperti dilukiskan dalam sajak Chairil Anwar berjudul ‘Karawang-Bekasi’. ������������������������������������������������������������� Jelang Proklamasi Kemerdakaan, Bung Karno dan Bung Hatta ber­ sama para pemuda mempersiapkan diri di Rengasdengklok tepatnya di Kam­ pung Bojong Kecamatan Rengasdengklok, menyusun naskah proklamasi. Peristiwa penting ini merupakan bukti otentik bahwa Kabupaten Karawang memiliki nilai historis besar bagi kemerdekaan RI. Tidak berlebihan kiranya Ka­ rawang diberi julukan sebagai daerah pangkal perjuangan. Di tempat-tempat tersebut dibangun tugu kesepakatan kebulatan tekad untuk memproklamir­ kan kemerdekaan Republik Indonesia. Indra Maliara

STOMATA

Edisi 04/Tahun I /Maret 2013

37


MATAKAIL

Mengikis Kendala Lumbung Padi Nasional Lokasi Karawang yang relatif dekat dengan kota besar seperti Jakarta, Bandung, Bekasi dan Bogor, merupakan daerah potensial yang dilirik para investor untuk perkembangan wilayah. Utamanya industri dan permukiman, yang notabene membutuhkan area luas.

K

ABUPATEN Karawang pun dianggap potensial menjadi sebuah kawasan kota man­ diri sekelas Serpong, Tangerang. Apalagi sudah sejak lama daerah ini masuk rencana pengembangan pusat pertumbuhan ekonomi se­ perti rencana Pelabuhan Cilamaya, Bandara Karawang dan lain-lain. Namun, nilai potensial itu menimbulkan persoalan ter­sendiri, yaitu alih fungsi lahan. Selama ini, Kabupaten Karawang terkenal dengan sebutan daerah lumbung padi nasional. Dari luas wilayah Kabupaten Karawang 1.753,27 kilo­ meter persegi atau 175.327 hektar (sekitar 4 persen dari total luas wilayah Provinsi Jawa Barat), luas areal pertaniannya yaitu 94.311 hektar atau hampir separuhnya. Sejumlah ­daerah yang terletak tidak jauh dari wilayah per­kotaan Kabupaten Karawang, cukup ­banyak lahan pertanian beru­ bah rupa menjadi perumahan,

38

STOMATA

Edisi 04/Tahun I /Maret 2013

rumah toko, dan bangunan lainnya. Sedang­kan wilayah pedesaan yang jauh dari perkotaan, areal pertanian disulap jadi rumah dan tempat usaha. Belakangan, alih fung­ si lahan pertanian terus terjadi. Bahkan, kemungkinan akan terjadi hingga waktu-waktu ke depan. Soalnya, hingga kini belum ada yang mampu membatasi alih fungsi lahan per­tanian di Karawang.����� Bu­ ��� pati Karawang, Ade Swara mengaku kesulitan mengendalikan, apalagi sampai mencegah alih fungsi lahan pertanian karena yang berhak atau ber­wenang adalah pemilik sawah. “Kami rasa cukup sulit mencegah alih fungsi lahan pertanian di Karawang. Tapi sebagai pemerin­ tah daerah, kami berupaya semaksimal mungkin memertahankan Karawang sebagai

daerah lumbung padi,” kata Ade. Dia menduga maraknya alih fungsi lahan sejak beberapa tahun terakhir akibat minimnya kesadaran pemilik areal sawah dalam menjaga atau memertahankan lahan pertanian. Berdasarkan data Dinas Pertanian dan Kehutanan setempat, laju alih fungsi lahan pertanian di Karawang rata-rata mencapai 181 hektar per tahun. Hingga penghu­ jung 2011, luas lahan baku pertani­ an di Karawang seluas 94.311 hek­ tar, terdiri dari 83.021 hektar areal sawah irigasi teknis, sawah irigasi setengah teknis 3.852 hektar, sawah irigasi sederhana 4.165 hektare dan areal sawah tadah hujan 3.273 hektar. Ketua Komisi B DPRD Karawang, Yoes Taufik. Dia me­ ngingatkan pemerintah daerah harus tegas dalam memertahankan areal pertanian, menyusul tingginya laju alih fungsi lahan. “Jika Karawang mau tetap dijadikan lumbung pertanian, pemerintah harus tegas,” tukas Yoes.


MATAKAIL

Kabupaten Karawang, cukup banyak lahan per­tanian berubah rupa menjadi pe­rumahan, rumah toko, dan bangunan lain­nya.

Dia melihat, alih fungsi lahan pertanian terbagi men­ jadi dua, yakni secara massal dan skala kecil. “Alih fungsi massal cukup berbahaya karena bisa meng­hilangkan lahan pertanian sekaligus dalam jumlah ­banyak,” imbuhnya. Alih fungsi lahan per­tanian secara massal terjadi karena kepentingan berbagai jenis pembangunan, seperti perumahan, industri dan lain-lain. ­Sedangkan, perubahan fungsi dalam skala kecil misalnya pemilik lahan membangun rumah pribadi. Memang, di satu sisi alih fungsi lahan merupakan konsekuensi per­ kembangan daerah.

Tapi, hal itu bisa dikontrol dengan komitmen pemerintah daerah. Beberapa tahun ke depan, diper­ kirakan akan terjadi ancaman luar biasa terhadap sektor pertani­ an. Ribuan ton produksi padi di Karawang terancam hilang terkait dengan rencana pembangunan Pelabuhan Internasional Cilamaya di ­Kecamatan Tempuran. Perwakilan Badan ­Koordinasi Penataan Ruang Daerah Karawang, Kukuh menge­ mukakan, alih fungsi lahan pertani­ an secara besar-besaran merupakan dampak rencana pembangunan pelabuhan internasional tersebut. Sesuai k­ ajian, kebutuhan akses jalan layang dari gerbang tol ­Dawuan ­menuju pelabuhan saja akan ­‘melahap’ 150 hektar. Jika diasumsikan setiap lahan pertanian yang beralih fungsi mampu memproduksi enam ton padi per hektar, setiap satu musim Karawang bakal kehilangan 900 ton dan kehilangan 1.800 ton per tahun (asumsi setahun dua kali musim. Ancaman kehilangan produksi padi akibat alih fungsi lahan dinilai berbagai pihak jauh lebih besar apabila akses menuju pelabuhan internasional menggunakan jalan konvensional (tanpa jalan layang). Berdasarkan rencana pembangunan Pelabuhan Inter­ nasional Cilamaya, panjang akses jalan dari gerbang Tol D ­ awuan ke pelabuhan mencapai 36 kilo­ meter dengan lebar 50 meter. Sebagian besar akses akan membelah areal persawahan, pertambakan dan sebagian kecil melewati perumahan di beberapa kecamatan. Indra Maliara

STOMATA

Edisi 04/Tahun I /Maret 2013

39


MATAKAIL

FOTO: ISTIMEWA

Antara Goyangan

dan Kebutuhan

Beras Nasional

S

Tidak hanya beken dengan goyang tariannya, Kabupaten ­Karawang identik dengan pro­duksi padi. Tak mengherankan jika Kabupaten Karawang mendapat julukan ‘lumbung padi nasional’. Berdasarkan data 2011, Kabupaten Karawang dapat memberikan kontribusi kebutuhan ­beras nasional yang setiap tahunnya rata-rata men­capai kurang lebih 784.000 ton beras per tahun.

40

STOMATA

Edisi 04/Tahun I /Maret 2013

EDANGKAN produksi padi pertahun mencapai 1.470.870 ton gabah kering pungut (GKP) yang terdiri dari produksi padi sawah 1.459.554. ton GKP dan produksi padi gogo 11.316 ton GKP. Luas panen padi sawah menca­ pai 197.013 hektar (Ha) dengan produktivitas 74,08 kwintal GKP/Ha dan luas panen padi gogo menca­ pai 2.908 Ha dengan produktivitas 38,61 kwintal GKP/Ha. Angka produksi tersebut tak terlepas dari potensi tanaman padi dengan luas lahan mencapai 94.311 hektare, terdiri atas 83.021 hektar areal sawah irigasi teknis, sawah irigasi setengah teknis seluas 3.852 hektar, sawah irigasi sederhana seluas 4.165 hektar dan seluas 3.273 hektar areal sawah tadah hujan. Sedangkan, luas lahan sawah yang bisa ditanami padi sebanyak dua

kali dalam satu tahun seluas 92.428 hektar, ditanami padi tiga kali dalam satu tahun seluas 4.624 hektar, ditanami padi sekali dalam setahun pada sawah seluas 1.533 hektar. Sementara 30 hektar sisanya tidak dimanfaatkan.

PALAWIJA Pemerintah Kabupaten Karawang, Jawa Barat, melalui Dinas Pertanian Perkebunan Kehutanan dan Pe­ ternakan setempat mencanangkan Gerakan Tanam Palawija, dengan tujuan mengajak para petani untuk menanam palawija berbagai jenis. Kegiatan Gerakan Tanam Pal­ awija dilakukan sebagai salah satu upaya mengajak para petani peduli menanam palawija berbagai jenis. Dengan melakukan penana­ man ­palawija, maka petani telah


MATAKAIL

memutus mata rantai hama atau organisme pangganggu tanaman. Selain untuk memutus mata rantai hama tanaman, pengembangan pola tanam padi-padi-palawija juga bertujuan untuk meningkatkan produksi palawija dan sebagai alternatif pendapatan yang bisa diperoleh para petani. Apalagi melihat potensi luas lahan pertanian di Karawang yang bisa ditanami berbagai jenis tanaman ­palawija mencapai sekitar 2.000 hektar. Dengan pola tanam padipadi-palawija, maka waktu yang tersedia bagi para petani untuk menanam palawija tersebut ialah antara 60-80 hari. Semakin tepat mengikuti jadwal tanam, maka ­waktu yang ­tersedia bagi petani ­untuk menanam berbagai jenis tanaman palawija itu semakin pan­ jang. Selain menjadi lumbung padi nasional, Kabupaten Karawang juga memilki potensi primadona berupa palawija dan hortikultura. Palawija yang menjadi andalan antara lain kedelai, kacang tanah, kacang hijau, jagung, ketela pohon dan ubi. Pada tahun 2011 luas panen kedelai mencapai 388 hektare dengan produktivitas 16,32 kwintal biji ­kering/hektar dan luas panen kedelai muda 484 hektar dengan produktivitas 81,41 kwintal be­ rangkasan/hektar, sedangkan luas panen kacang hijau 1.432 hektar dengan produktivitas 11,28 kwintal/ hektar, produksi jagung sebesar 3.021 ton pipilan kering dengan luas panen 535 hektar dan produk­ tivitas 56,61 kwintal pipilan kering/

hektar, produksi jagung muda 7.662. ton tongkol dan pro­duktivitas 75,30 kwintal tongkol/hektar, ketela pohon 4.505 ton dengan luas panen 231 hektar dan produktivitas 195 kwintal/hektar, ubi jalar 337 ton dengan luas panen 21 hektar dan produktivitas 160 kwintal/hektar.

HOLTIKULTURA Pemerintah Kabupaten Karawang, Jawa Barat, melalui Dinas Pertanian Perkebunan Kehutanan dan Pe­ ternakan setempat mencanangkan Gerakan Tanam Palawija, dengan tujuan mengajak para petani untuk menanam palawija berbagai jenis. Kegiatan Gerakan Tanam Palawija dilakukan sebagai salah satu upaya mengajak para petani peduli menanam palawija berbagai jenis. Dengan melakukan pe­nanaman ­palawija, maka petani telah memutus mata rantai hama atau organisme pangganggu tanaman. Selain untuk memutus mata rantai hama tanaman, pengembangan pola tanam padi-padi-palawija juga bertujuan untuk meningkatkan produksi palawija dan sebagai alternatif pendapatan yang bisa diperoleh para petani.

man palawija itu semakin panjang. Tanaman hortikultura yang dibudi­ dayakan antara lain: jamur merang, kacang panjang, mentimun, terong, caisin, kangkung, bayam dan cabe merah/rawit, petsai dan men­ timun. Jamur merang merupakan ­komoditas yang dijadikan prioritas ung­gulan lokal sehingga berbagai upaya dalam pengembangan komoditas ini senantiasa dilakukan secara terintegrasi. Pada tahun 2011 produksi ­jamur merang mencapai 5.632 ton dengan produktivitas 2,2 k­ wintal/ kubung. Terjadi peningkatan produksi sebesar 380 ton atau 7,23 persen dibandingkan tahun 2010. Jumlah kubung tahun 2011 yang berproduksi juga mengalami ­peningkatan dari 2.501 kubung menjadi 2.560 kubung. Dari sisi pemasaran ada kenaikan harga jual jamur dari Rp. 14.000/kg menjadi Rp. 18.000/kg. Indra Maliara

FOTO-FOTO: ISTIMEWA

Apalagi melihat potensi luas lahan pertanian di Karawang yang bisa ditanami berbagai jenis tanaman palawija mencapai sekitar 2.000 hektare. Dengan pola tanam padipadi-palawija, maka waktu yang tersedia bagi para petani untuk menanam palawija tersebut ialah antara 60-80 hari. Semakin tepat mengikuti jadwal tanam, maka waktu yang tersedia bagi petani un­ tuk menanam berbagai jenis tana­

STOMATA

Edisi 04/Tahun I /Maret 2013

41


1001 ALASAN BERALIH KE MINYAK JARAK Varian tumbuhan yang memenuhi setiap jengkal tanah Indonesia sangatlah beragam. Beruntungnya lagi, mayoritas dari jenis tanaman itu bermanfaat bagi kehidupan. Dari sekadar obat tradisional, penghias ruangan sampai untuk menambah pendapatan. Salah sat­ unya ­tanaman jarak.Karena sangat bermanfaat, tanaman penghasil minyak itu makin populer dengan sebutan minyak jarak. Jarak yang bernama latin ricinus communis merupakan spesies tanaman dari euphorbiaceae dan tergolong ke dalam genus ricinus (subtribe ricininae). Tumbuhan yang tergolong tan­ aman perdu ini memiliki daun tung­ gal menjari antara 7-9, berdiameter 10-40 cm. Di kalangan farmasi, min­ yak jarak dikenal sebagai minyak kastroli. Jarak juga dikenal sebagai tanaman pagar dan dapat hidup di mana saja, termasuk tanah kurang subur. Awalnya, jarak tumbuh liar di hutan, tanah kosong, dan daerah pantai. Tapi, setelah berbagai pene­ litian dan pengembangan, tanaman kerajaan plantae semakin diminati pihak perkebunan. Berkebun jarak

42

STOMATA

Edisi 04/Tahun I /Maret 2013

Jarak pagar (Jatropha curcas L., Euphorbiaceae) merupakan tumbuhan semak berkayu yang banyak ditemukan di daerah tropik, sekarang makin mendapat perhatian sebagai sumber bahan bakar hayati untuk mesin diesel karena kandungan minyak bijinya. Kerabatnya, jarak pohon (Ricinus communis), yang bijinya menghasilkan minyak campuran untuk pelumas.

Tumbuhan ini dikenal dengan berbagai nama di Indonesia : jarak kosta, jarak budeg (Sunda); jarak gundul, jarak pager (Jawa); kalekhe paghar (Madura); jarak pager (Bali); lulu mau, paku kase, jarak pageh (Nusa Tenggara); kuman nema (Alor); jarak kosta, jarak wolanda, bindalo, bintalo, tondo utomene (Sulawesi); ai huwa kamala, balacai, kadoto (Maluku). memang tepat guna memenuhi minyak nabati yang diperoleh dari hasil ektraksi bijinya. Itulah alasan kenapa peng­ gunaan minyak jarak dalam satu dekade terakhir terus dikembang­ kan sektor industri. Jarak bisa diolah menjadi beberapa komoditas

tu­runan seperti sabun, pelembab kulit, pelumas, minyak rem, cat, pewarna, plastik tahan dinding, pelindung, tinta, malam dan semir, nilon, farmasi (1 persen dari total produk dunia), hingga parfum. Bagi kalangan wanita, minyak jarak berperan penting memelihara kecantikan kulit. Sebab, tanaman ini terbukti ampuh sebagai pelembab kulit sekaligus membantu men­ gatasi kerutan di wajah. Bahkan, industri kecantikan saat ini sangat mengandalkan jarak ketimbang menggunakan campuran bahan kimia. Kehadiran minyak jarak men­ jadi alternatif jitu menggantikan posisi kosmetika buatan pabrik yang berefek samping merugikan konsumen.

Mengenal Jenis Pohon Jarak

Jarak Pagar (Jatropha curcas L)

Jarak Ulung (Jatropha gossypifolia L)

Jarak Bali (Jatropha podagrica Hook)

Jarak Jitun/ Jarak Kepyar (Ricinus communis Linn)


MATABAJAK

Selain kulit, minyak jarak juga bermanfaat bagi pe­rawatan dan pertumbuhan rambut karena kaya ­vitamin E, mineral dan protein. Untuk ritual ini, bias­ anya minyak jarak dicampur minyak zaitun, air jeruk lemon, daun peppermint, dan air hangat. Hasilnya, sangat baik mencegah ketombe dan menghilangkan rasa gatal di kulit kepala. Minyak jarak juga aman di­ gunakan di seputar mata yang berkerut. Niscaya, kalau dipakai teratur kerutan di seputar mata berkurang. Satu lagi. Campuran minyak jarak, alpukat, dan susu krim baik sebagai bahan luluran untuk meng­ haluskan, memutihkan, dan melembabkan kulit. Kulit menjadi lebih segar, cantik dan awet muda. Sedangkan di bidang farmasi, minyak jarak sering dina­ mai racun ricin. Gunanya menetralisasi rasa k­ embung (konstipasi) dan merangsang pemuntahan. Di dunia medis, konsumsi minyak jarak membantu proses induksi persalinan. Namun, minyak jarak juga memiliki sejarah hitam. Pemimpin Fasis Italia, Benito Mussolini, pernah menggunakan minyak jarak untuk menyiksa lawan-­ lawannya di era Perang Dunia II. Oleh Mussolini, mereka dipaksa minum minyak hingga tewas.

Proses Pengolahan Minyak Jarak

Minyak Jarak, Solusi Alternatif Pengganti BBM Ketergantungan terhadap bahan bakar minyak (BBM) kemungkinan besar segera teratasi apabila jarak dimanfaatkan sebagai bahan bakar alternatif. Peman­ faatan minyak jarak dipastikan ramah lingkungan dan dapat diproduksi kembali. Berdasarkan analisis kimia, bahan bakar ber­ oksigen menimbulkan risiko oksidasi terhadap komponen mesin pemakai. Oksidasi biologis yang mengakibatkan penyimpanan bahan bakar bio ini lebih sulit daripada bahan bakar minyak bumi. Salah satu kesuksesan penggunaan minyak biodiesel terjadi pada 2004.

Tanaman jarak diduga berasal dari Ethiopia (Afrika). Masyarakat Indonesia mengenalnya sejak jaman penjajahan jepang (1942). Jarak pagar dikenal dengan sebutan wonderboom, palma chisti dan lain-lain, berkat sifat atau khasiatnya yang khas dari tanaman itu sendiri. Diperkirakan bahwa Bangsa Portugis dan Spanyol adalah yang pertama yang melakukan penanaman/ budidaya atas pohon jarak dan menamakan “Agno Casto” dan oleh bangsa inggris, sesuai dengan logat bahasanya menjadi/dinamakan “CASTOR”. Dalam bahasa latin pohon jarak diberi nama RINCUS yang artinya serangga karena bentuk bijinya yang berbintikbintik sehingga menyerupai serangga.

3 (tiga) Kg biji Jarak kering menghasilkan 1 kg Biodiesel. Perlu diketahui bahwa Mesin Pengolah Biodiesel tidak hanya mengolah bahan baku dari Tanaman Jarak Pagar namun beberapa bahan baku yang lain dapat di olah untuk menghasilkan Biodiesel seperti dari : CPO (minyak sawit), Kopra, Jelantah (minyak sisa penggorengan)

STOMATA

Edisi 04/Tahun I /Maret 2013

43


MATABAJAK

­ aimlerChrysler, perusahaan oto­ D motif terkemuka, berhasil mengu­ jicoba penggunaan bahan bakar BTL (Biomass to Liquid) pertama di dunia pada mobil Mercedes-Benz seri C, menempuh jarak 5.900 km dalam kondisi lingkungan ekstrim di India. Bahan bakar tersebut kemudian diberi nama dagang SunDiesel, diperoleh dari minyak jarak dan merupakan salah satu program DaimlerChrysler dalam mengem­ bangkan biodiesel.

Di Indonesia, pe­ngembangan bahan bakar dari tanaman jarak dipelopori Dr. Robert Manurung. ­Sejak 1997, lulusan Institut ­Teknologi Bandung (ITB) ini ­konsisten meneliti pirolisa biomassa yakni bahan bakar padat secara termal untuk menghasilkan bahan bakar cair, gas yang bisa terbakar dan padatan berupa arang-seperti cahaya terang di ujung terowo­ngan. Penelitiannya pada jarak pagar memperlihatkan secara teknologi sederhana dan ekonomis memung­ kinkan tanaman itu mampu meng­ gantikan ketergantungan terhadap solar. Rancangan Robert sempat dipamerkan pada 1998 di Istana Negara. Robert yang menyelesaikan S-2 Technology Asian Institute of Technology (Bangkok) dan S-3 di Rijksuniversiteit Groningen (RuG, Belanda) juga mendalami struk­ tur berbagai minyak tumbuhan. “Penelitian bukan lagi pada minyak jaraknya karena dapat digunakan langsung sebagai bio-diesel tanpa campuran metanol atau bahan lain tapi bagaimana mengutip minyak itu seefisein mungkin. Yang lebih penting, memanfaatkan limbah padatannya,” paparnya. Jarak pagar dipilih karena bisa

44

STOMATA

Edisi 04/Tahun I /Maret 2013

tumbuh di tanah tandus. Terbukti, Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur, Nusa Tenggara Barat serta sejumlah pesantren di Jawa Barat bekerja sama menanam jarak pagar di lahan tandus. Hasilnya, produk­ tivitas buah mencapai 30 kilogram per pohon per tahun sehingga nilai keekonomisan tercapai. Robert menegaskan, penggu­ naan jarak pagar sebagai substitusi solar sebuah keniscayaan. Selain buahnya menghasilkan minyak Sundiesel salah satu merek dagang yang mengembangkan biodiesel dari nabati.

Dr Robert Manurung kala mengunjungi University of Groningen untuk membantu peluncuran proyek penelitian yang bertujuan untuk membuat daerah-daerah terpencil di Indonesia lebih mandiri dengan menghasilkan nilai tambah dengan produk pertanian, termasuk tanaman tropis yang beracun, Jatropha Curcas. Dr Manurung memperoleh gelar PhD di Teknik Kimia di University of Groningen pada tahun 1994. Dia saat ini berperan sebagai penasihat ilmiah untuk sejumlah perusahaan di seluruh dunia dan profesor di Institut Teknologi Bandung. Spesialisasi nya adalah penerapan biofuel (terutama jatropha curcas) di negara berkembang. Dr. Robert Manurung dan Inovasinya

murni, bibit produktif tanaman jarak pagar (jatropha curcas) telah dikembangkan Badan Penelitian dan Pengembangan Perkebunan Kementerian Pertanian. Panen bibit jarak menghasilkan 8-9 ton biji per hektar. Menurut Kepala Badan Pe­nelitian dan Pengem­ bangan Perkebunan Departemen Pertanian, Syakir, pemerintah terus menggenjot budidaya jarak pagar. Jenis bibit yang dikembangkan adalah IP-2, menghasilkan 5-6 ton

biji jarak per hektar tanaman. Patut dicatat, yang dikembangkan adalah bibit induk, bukan bibit sebar. Pemerintah ­daerah atau perguruan tinggi di­dorong mengembangkan­ nya di daerah agar mudah diakses masyarakat. Sayang, industri dan perkebunan jarak tidak seintensif kelapa atau kelapa sawit. Ini tidak lepas dari tekanan negara lain yang menerapkan kebijakan standarisasi mengacu pada teknologi Eropa dan Amerika.


MATABAJAK

Budidaya Jarak Minim Peminat Harus diakui, budidaya tanaman jarak kurang diminati petani. Penyebab utamanya para petani minim informasi. Akibatnya, mereka meragukan keuntungan budidaya jarak. Berikut ini informasi dan kebijakan pemerintah dalam rangka membudidayakan tanaman jarak. 1. Jaminan Pasar Seluruh BUMN di bidang energi atau pengguna energi menjamin pembelian biji atau

silitasi pembentukan sentrasentra pembibitan di desa atau kecamatan. c. Pemerintah daerah dapat membentuk Badan Usaha Milik Daerah untuk menjadi perusahaan inti. Selanjutnya, membangun pabrik skala kecil (3 ton/hari) atau menengah (30 ton/hari) serta memfasilitasi pembentukan kelembagaan koperasi petani produsen jarak pagar dan nantinya mengalokasikan saham koperasi di

kecamatan Kabupaten Sukabumi akan ditanami jarak pagar. Juli 2012 telah dilakukan penanaman secara serentak. Pemerintah setempat melibatkan perusahaan Jepang, Okinawa Biodiesel. Pihak investor menyediakan benih siap tanam yang pembibitannya dilakukan di sekitar lahan garapan dengan usia antara 1,5 hingga dua bulan. Bahkan, Jepang menyiapkan pasokan pupuk kandang. Dalam kerja sama tersebut, ­lanjut Maman, Okinawa Biodiesel menyeleksi

Dengan menanam tanaman jarak ini nantinya petani akan mendapatkan penghasilan lebih. Selama ini petani merasa kebingungan untuk menjual kemana buah jarak ini.

terutama minyak jarak pagar, sebagaimana kesepakatan 29 BUMN pada 25 Agustus 2005 serta deklarasi bersama,12 Oktober 2005. Kesepakatan diteken PT PLN, Pertamina, PT Aneka Tambang, PT BA, PT Ra­ jawali Nusantara Indonesia, PT Perkebunan Nusantara I s/d XIV. 2. Peranan Pemerintah Daerah a. Pemerintah Daerah di­ harapkan memberi dorongan melalui Dinas Kehutanan dan Perkebunan lewat tenaga PPL (petugas penyuluh lapangan) serta menganggarkan melalui APBD. Selain itu menggencarkan sosialisasi ke segenap lapisan desa, sekolah, lembaga pendidikan sosial (pesantren, madrasah), komunitas adat terpencil. b. Pemerintah daerah memfa-

pabrik bersama BUMN. d. Pemerintah daerah mensertifikatkan lahan garap petani sehingga berpotensi menjadi objek pajak bumi dan bangunan (PBB) produktif sekaligus menciptakan aset baru yang semula nol (lahan kritis/tidur). Tanaman jarak mulai dilirik investor Tanaman jarak di Indonesia mulai dilirik investor asing. Kabupaten Sukabumi akan mengembangkan kawasan sentra tanaman jarak meli­ batkan investor dari Jepang. Jarak pagar dikenal sebagai bahan bakar alternatif biodiesel. ‘’Lahan yang disiapkan mencapai sekitar 2.500 hektar,’’ kata Ketua Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) Kabupaten Sukabumi, Maman Suparman. Disebutkan, lahan tersebar di 20 kecamatan. Ke depan, semua

petani. Mereka diberikan pelatihan cara menanam dan memelihara jarak pagar. Investor juga memberi­ kan pendampingan hingga masa panen. Tak hanya itu, tak tertutup kemungkinan perusahaan Jepang membangun pabrik pengolahan. Sehingga, proses produksi minyak menjadi bahan bakar biodiesel bisa dilakukan di Sukabumi. Dede S/Ishak penanaman jarak pagar ­se­benarnya tidak akan memakan areal yang luas. Pasalnya, ­tanaman tersebut bisa ­tumbuh di sela tanaman lain atau sebagai pagar. Pola ter­sebut akan memberikan keuntungan lebih bagi para petani. Terlebih, kini hasil panen ­tanaman jarak sudah ada penampungnya. Hasil panen jarak nantinya akan dibeli langsung oleh investor dengan harga Rp 2 ribu per kilogram. STOMATA

Edisi 04/Tahun I /Maret 2013

45


MATAILMU

Sejarah Kentang

Identik dengan Iblis

Sempat Ditolak di Eropa Kentang atau nama ilmiahnya solanum tuberosum adalah tanaman dari suku solanaceae yang memiliki umbi batang. Jauh sebelum dikenal sebagai bahan makan, kentang punya sejarah panjang.

tidak seagung gandum yang men­ julur ke langit, juga tidak bisa dibuat roti dan roti Ekaristi. Pendek kata, sebagian besar alasan mengacu pada satu hal, yakni ­kandungan kebudayaan umat manusia di dalamnya terlalu sedikit sedangkan kandungan alamiah­ nya terlalu banyak. Sehubungan dengan itu, dalam jangka waktu lama kentang dipandang sebagai bahan pangan untuk kaum miskin dan untuk pakan ternak, sementara kaum borjuis sama sekali tidak ingin menyentuhnya. Raja Frederik II dari Prussia (nama Jerman sebelum Perang Dunia I) meminta para petani yang ­mestinya menerima hukuman untuk mem­ budidayakan kentang. Pada 1748 parlemen Prancis bahkan menge­ luarkan maklumat melarang pe­ nanaman kentang karena ­khawatir kentang terkait dengan iblis. Bersamaan dengan diterima-nya secara bertahap kentang di Eropa, juga pada 1719 dibawa oleh kaum imigran Irlandia ke AS, dimulailah perkembangan kentang di AS. Ter­ utama pada 1804, sesudah wabah penyakit layu menyerang Eropa.

FOTO: ISTIMEWA

A

WALNYA, kentang tumbuh di hanya sebatas ­daerah dingin, sekitar Danau Titicaca Pegunungan ­Andes, perbatasan Peru dan Bolivia. Kentang dibudidayakan penduduk Indian setempat dan dipergunakan sebagai bahan pangan. Selanjutnya, kentang tumbuh subur di negaranegara Amerika Selatan seperti Chili, Kolombia dan Ekuador. Pada abad-16, petualang ­Spanyol membawa kentang ke Eropa, mereka hendak mengenalkan kentang kepada Eropa sebagai tanaman hias. Raja Spanyol, Philipp II mengirimkan kentang sebagai kado kepada Sri Paus di Roma. Orang Italia menyebutnya sebagai ‘Kedelai Tanah’. Setelah masuk Eropa, kentang tidak langsung serta merta diterima sebagai salah satu bahan pangan.

46

STOMATA

Edisi 04/Tahun I /Maret 2013

Konsep kebudayaan Eropa mem­ buat mereka menolak kentang sebagai bahan pangan bahkan menganggapnya setan iblis, ter­ utama bagi orang Prancis. Alasannya beragam. Salah satunya memakan kentang bisa terkena penyakit kusta. Terlebih dalam Bibel tidak pernah disinggung mengenai kentang berasal dari Amerika Latin yang merupakan bahan pangan utama suku bangsa taklukan dan tidak berkembang. Selain itu, buah kentang tumbuh di bawah tanah,

Sementara, penyebaran kentang di negara-negara Asia seperti India, China, Jepang, dan kepulauan Hindia Barat dilakukan oleh orangorang Inggris pada akhir abad ke-17. Di daerah-daerah tersebut, kentang ditanam secara luas pada pertengahan abad ke-18. Di Indonesia, tak jelas kapan kentang masuk ke Nusantara. Namun pada 1794, tanaman kentang ditemukan telah ditanam di sekitar Cisarua (Kabupaten Bandung). Pada 1811, tanaman ini telah tersebar luas di Indonesia terutama di daerah-­ daerah pe­gunungan.

Konsep kebudayaan Eropa membuat mereka menolak kentang sebagai bahan pangan bahkan menganggapnya setan iblis


Manfaat Kentang Bagi Kesehatan

MATAILMU

KLASIFIKASI ILMIAH KENTANG Kerajaan: Plantae Divisi: Magnoliophyta Kelas: Magnoliopsida Upakelas: Asteridae Ordo: Solanales Famili : Solanaceae Genus: Solanum Spesies: S. tuberosum Nama binomial: Solanum tuberosum KENTANG memiliki cukup banyak manfaat untuk kesehatan dan sumber vitamin dan gizi yang dibutuhkan untuk perkembangan anak. Di Indonesia, kentang belum jadi makanan popular lantaran memiliki bentuk mirip umbiumbian seperti ketela. Namun di balik bentuknya yang kurang menarik.

TEKANAN DARAH TINGGI Kentang dapat digunakan ­untuk menurunkan tekanan darah tinggi karena di dalamnya ter­ dapat banyak vitamin C dan B. Tapi bagi penderita diabetes harus menghindari mengonsumsi kentang secara berlebihan. Selain itu, kandungan serat di dalamnya membantu menurunkan kolesterol dan meningkatkan fungsi insulin dalam tubuh.

MAKANAN PENGURANG BERAT BADAN Kentang merupakan gundukan kar­ bohidrat dan sedikit protein. Meng­ onsumsi kentang merupakan salah satu cara diet alami karena menjadi alternatif pengganti karbohidrat.

MELANCARKAN FUNGSI PENCERNAAN Kandungan kentang yang di­ dominasi karbohidrat dan cukup lunak saat dikonsumsi membuat tanaman ini mudah untuk dicerna dan membantu memperlancar ­sistem pencernaan. Namun juga perlu diingat, makan terlalu banyak dapat menyebabkan keasaman dalam jangka panjang.

MANFAAT KENTANG UNTUK KULIT Vitamin-C dan B kompleks dan ­mineral pada kentang sangat baik untuk kulit. Selain itu kentang men­ tah yang ditumbuk dan di­campur madu dapat berfungsi sebagai masker muka dan juga baik untuk kesehatan kulit Anda agar terasa

BATU GINJAL Manfaat kentang selanjutnya adalah mencegah batu ginjal. Bagi pen­ derita batu ginjal sebisa mungkin harus menghindari makanan ber­ protein tinggi, khususnya protein hewani seperti daging, ikan, bayam, dan lain-lain. Kentang kaya mag­ nesium guna mencegah pengen­ dapan kalsium (pengapuran) pada ginjal dan jaringan lain yang dapat mem­bentuk batu ginjal.

FOTO-FOTO: ISTIMEWA

PENYAKIT JANTUNG Selain vitamin, mineral dan serat kentang juga mengandung zat karotenoid yang bermanfaat untuk kesehatan jan­ tung dan organ internal lainnya. Namun bagi penderita obesitas dan diabetes tidak dianjurkan mengkonsumsinya karena mengandung karbohidrat dan glukosa. Kelemahannya, kentang mempunyai indeks glycemia cukup tinggi dan mengandung solanin. Indeks glycemia tinggi dapat menaikkan insulin dan gula darah dengan cepat sehingga merugikan penderita diabetes. Kandungan solanin bila terlalu banyak menyebabkan mual, muntah dan diare. Untuk mencegah hal tersebut sebaiknya menurunkan reaksi solanin dengan cara penyimpanan di tempat pendingin atau lembab. Kentang memiliki kadar air cukup tinggi, sekitar 78 persen, sumber vitamin C dan B1 serta beberapa jenis mineral seperti fospor, zat besi, dan kalium. STOMATA

Edisi 04/Tahun I /Maret 2013

47


MATAILMU

KANDUNGAN GIZI KENTANG PER 100 G Karbohidrat merupakan zat gizi terbesar yang dikandung kentang. Selain itu, kentang juga mengandung protein dalam jumlah lumayan serta thiamin dan niasin. Dalam 100 g kentang terkandung 83 kalori.

KENTANG PER 100 GR

NASI PER 100 GR

Energi 93 Kcal Karbohidrat 21 g Vitamin C 9,6 mg Folat 28 mcg Kalsium 15 mg Zat besi 1,1 mg

Energi 130 Kcal Karbohidrat 28,6 g Vitamin C 0 mg Folat 58 mcg Kalsium 3 mg Zat besi 1,5 mg

FOTO: ISTIMEWA

Kentang dan nasi sama-sama masuk dalam kategori karbohidrat karena kandungan tepung dan gula tinggi. Kentang sedikit lebih tinggi kandungan gizinya ­dibandingkan nasi dengan kandungan protein dan ­mineral lebih lengkap. Kentang, apabila dikonsumsi ­dengan kulitnya (dibersihkan dengan benar) masuk dalam k­ ategori karbohidrat kompleks.

Budidaya dan Cara Menanam Kentang BUDIDAYA tanaman kentang dan c­ ara menanam kentang sama seperti tanaman sayuran lainnya. Kita perlu mengetahui karakter tanaman sebelum memulai mem­ budidayakannya. Ketidaktahuan akan berpengaruh besar terhadap pertumbuhan dan perkembangan tanaman kentang. Misalnya faktor iklim, tinggi-­ rendahnya letak geografis, ke­ suburan tanah, ham, dan pathogen, serta tumbuhan pengganggu.

Karena peka terhadap air, pe­ nanaman sebaiknya diawali pada akhir musim hujan. Kentang juga sangat peka terhadap kelembaban dalam tanah. Kalau perubahan kelembaban dalam tanah ter­ lalu tinggi akan berdampak pada pertumbuhan umbi tidak normal (bentuknya bercabang-cabang).

KESUBURAN TANAH Kesuburan tanah memegang peranan vital. Selain sebagai ­penyangga akar, tanah juga berfungsi sebagai penyedia air, zat-zat hara, dan udara bagi pernafasan akar. Tanah subur bisa meng­optimalkan perkembangan dan per­tumbuhan. Faktor-faktor penyubur tanah adalah kandungan air, bahan o ­ rganik, batuan induk, suhu, organisme tanah, keasaman tanah, struktur dan tekstur tanah, serta kelengkapan dan ketersediaan zat-zat hara.

Waktu penanaman yang baik adalah akhir musim hujan (April atau Mei). Jika ingin menanam pada awal musim hujan (Oktober atau November) diusahakan usia ­tanaman sudah berumur dua bulan dan umbinya sudah cukup besar. Angin kencang juga tak baik buat pertumbuhan karena ­batang ­tanaman kentang tidak kuat ­sehingga mudah patah.

Kalau perubahan kelembaban dalam tanah terlalu tinggi akan berdampak pada pertumbuhan umbi tidak normal

Iklim. Tanaman kentang berasal dari daerah subtropika, daerah bersuhu udara dingin dan lembab tapi juga perlu sinar matahari.

48

STOMATA

Edisi 04/Tahun I /Maret 2013

LETAK GEOGRAFIS Tanaman kentang dapat tumbuh dengan baik di dataran tinggi, yakni lebih dari 500 meter di atas per­ mukaan air laut. Idealnya, kentang ditanam pada ketinggian antara 1000-3000 meter di atas permu­ kaan laut. Tinggi-rendahnya suatu tempat berhubungan dengan suhu udara dan kelembaban udara. Perbedaan kelembaban dan suhu udara sangat penting untuk per­ tumbuhan tanaman kentang.


Kentang cocok ditanam di tanah gembur, banyak mengandung humus, sedikit berpasir, sedikit mengandung air. Tanaman kentang akan tumbuh ideal pada tanah yang memiliki kesamaan tanah (pH) antara 5-5,5.

MATAILMU

GEMBUR Kegemburan tanah membantu perkembangan akar tanaman kentang dalam membentuk umbi sempurna sehingga bermutu tinggi. BANYAK MENGANDUNG HUMUS Tanah yang banyak mengandung humus mempercepat pertumbuhan tanaman karena menyimpan zat-zat makanan dalam jumlah cukup. Zat tersebut diperlukan bagi tanaman kentang sehingga dapat tumbuh subur dan menghasilkan umbi besar dan sehat. SEDIKIT BERPASIR Tanah yang sedikit berpasir bisa menumbuhkan kentang yang ber足 karbohidrat tinggi dan rasanya men足 jadi lebih lezat. SEDIKIT MENGANDUNG AIR Tanaman kentang tidak tahan air terlalu berlebihan, terlebih-lebih yang menggenang. Air berlebihan mem足 buat tanaman kentang terserang penyakit. BIOTIK Selai abiotik (iklim dan tanah), faktor biotic juga perlu diperhatikan. Hama, pathogen, dan gulma adalah faktor biotic yang sering menggagalkan panen.

FOTO: ISTIMEWA

STOMATA

Edisi 04/Tahun I /Maret 2013

49


MATAILMU

Cara Menanam Kentang HAL-hal yang perlu dikerjakan dalam bercocok tanam kentang adalah pengolahan dan penggarapan tanah, ­ embibitan, penanaman, penyiraman, pendangiran dan penyiangan, serta pembumbunan. p PENGOLAHAN DAN PENG­ GARAPAN TANAH Tanah harus diolah sebaik mungkin. Tanah harus dicangkul sedalam 30-40 cm se­ telah itu dibiarkan beberapa hari agar mendapat sinar mata­ hari agar peredaran udara lancar dan hama dan bakteri mati. Selanjutnya menggemburkan tanah. Tanaman kentang hanya bisa tumbuh dengan baik pada tanah gembur agar akar kentang bisa berkembang maksimal. Tanah kurang gembur dapat menghambat proses perkembangan umbi. Untuk menggemburkan tanah dapat di­ gunakan cangkul berukuran sedang atau garu. Langkah berikutnya adalah membuat bedengan sebagai tempat penanaman. Bedengan me­mudahkan petani memelihara tanaman. Dengan bedengan,

FOTO-FOTO: ISTIMEWA

kentang tidak akan tergenang air jika hujan turun. Beden­ gan sebaiknya dibuat membujur ke arah barattimur. Lebarnya lebih kurang 70 cm (untuk satu jalur tanaman) atau 140 cm (untuk dua jalur ­tanaman). Sementara, panjang be­ dengan disesuaikan kondisi tanah. Tinggi bedengan lebih kurang 15 cm sedangkan parit bedengan lebarnya lebih kurang 25 cm. Parit berfungsi sebagai jalan untuk merawat tanamann sekaligus saluran air. Karenanya, parit bedengan dibuat sedemikian rupa agar air dapat mengalir lancar bila turun hujan. Kemudian membuat saluran air. Saluran air dibuat untuk pem­ buangan sekaligus mengalirkan

air agar tidak menggenang di parit-parit. Kentang sangat peka terhadap air, terlebih-lebih sejak penanaman sampai berumur dua bulan. Akar tanaman kentang yang tergenang air akan membusuk kemudian layu. Tahap terakhir adalah meratakan tanah. Perataan dilakukan supaya permukaan bedengan datar dan tidak terdapat ­bongkahan-bongkahan tanah. PEMBIBITAN Bibit sangat ­me­nen­tukan ke­ berhasilan pe­ nanaman. Bibit yang baik kemungkinan besar membuahkan kesuksesan penana­ man. Sebaliknya, bibit kurang bagus pasti hasilnya mengecewakan. Kentang ditanam melalui umbinya langsung pada lahan tanpa melalui proses persemaian terlebih dahulu. Jauh sebelum penanaman, bibit dipersiapkan terlebih dahulu. Pilih­ lah umbi-umbi kentang yang baik, besar dan tidak banyak matanya. Umbi kecil tak boleh dipergunakan sebagai bibit sebab matanya kurang kuat dan persediaan makanan sedikit sehingga tunas sudah mati. Selain itu, umbi yang kecil ada kemungkinan berasal dari tanaman yang sakit. Umbi yang besar bisa dibelah menjadi dua. Simpanlah bibit kentang di tempat kering dan berhawa segar. Simpan di dalam bakul, lakukan di atas asap kurang lebih tiga bulan.

50

STOMATA

Edisi 04/Tahun I /Maret 2013


MATAILMU

PENANAMAN Karena kentang tidak memerlukan per­ semaian, setelah memilih bibit dan disimpan dengan cermat, ­kemudian muncul titiktitik tumbuh. Hal ini pertanda bibit sudah bisa ditanam. Bibit bisa langsung ditanam di tempat yang telah dipersiapkan. Pertama-tama buatlah lubang berupa alur-alur silang. Kemudian, pada titik pertemuan silang itulah nantinya bibit kentang ditanam. Agar pertumbuhan sempurna, jarak tanam diatur sebagai berikut. Jarak antara baris 50-65 cm, jarak tanam di dalam baris 30-40 cm, dalamnya tanaman masuk ke tanah 5-10 cm. Pada tanah berat, bibit ditanam lebih dangkal. Demikian pula pada musim penghujan, bibit ditanam lebih dangkal agar tidak banyak ­terendam air. Sebaliknya, pada musim kemarau bibit kentang ditanam lebih dalam agar tidak mengalami kekeringan. Dalam proses penanaman, tiaptiap lubang tanaman diberi pupuk kandang 0,5 kg. Dalam satu hektar tanaman kentang diperlukan pupuk kandang 20-30 ton. Letakkanlah bibit di atas pupuk kandang ­dengan kedalaman 7,5-12,5 cm. Usahakan agar tunasnya menghadap ke atas. Pada sebelah kanan dan kiri bibit, berilah pupuk DS dan ZA sejauh kurang lebih 5 cm dari bibit. Sebelah kanan diberi pupuk DS kira-kira 16 gram dan kiri diberi pupuk ZA lebih kurang 16 gram. Kemudian, tutup lubang tanam dengan tanah. Dalam satu hektar tanaman kentang diperlukan lebih kurang 80-900 kg DS dan ZA. Untuk lahan satu hektar diperlukan 1200-1500 kg bibit dengan berat setiap umbi antara 30-40 gram.

Setelah lebih kurang 10-12 hari kemudian, bibit kentang mulai tumbuh merata. Penanaman juga bisa dilakukan tanpa membuat bedengan. Mula-mula tanah digemburkan dan diratakan terlebih dahulu kemudian buatlah lubang. Lalu, tanamlah bibit pada lubang tersebut. Setelah itu, tanah di bagian kanan dan kiri barisan tanaman di­ timbunkan pada bibit yang baru ditanam sehingga membentuk gundukan tanah me­ man­jang. Lebar paritparit antara gundukan tanah sama seperti parit b ­ edengan, lebih kurang 25 cm dan tinggi 15 cm. PENYIRAMAN Kendati peka bukan berarti kentang tak butuh air. ­Tanaman terlalu kering juga tak ­bagus buat perkembangan ­tanaman. Jika terlalu kering, suhu tanah menjadi panas dan kelembaban turun. Umbi kentang me­merlukan suhu dingin dengan kelembaban tinggi. Pada tanah yang suhu dan kelembaban tidak stabil, umbi kentang kurang me­ narik dan benjol-benjol. Penyiraman kentang juga perlu diperhatikan, terutama bila tidak turun hujan.

PEMBUMBUNAN Setelah tanaman kentang beru­ mur 3-4 minggu, perlu dilakukan pembumbunan, yakni proses pe­ninggian tanah. Pembumbunan akan merangsang pembentukan akar baru agar umbi semakin banyak, perkembangan lebih baik dan batang kokoh. Hanya saja, pembumbunan tidak boleh terlalu tinggi karena dapat mengganggu pernapasan tanaman di dalam tanah. Indra Maliara/Dede Supriyatna

Kendati peka, bukan berarti kentang tak butuh air. Terlalu kering juga tak bagus buat perkembangan ­tanaman.

PENDANGIRAN DAN ­PENYIANGAN Setelah tanaman berumur kira-kira satu bulan, perlu dilakukan pendangiran. Tanah di sekitar tanaman digemburkan agar peredaran udara lancar. Rumput-rumput di sekitar tanaman juga perlu dibersihkan agar tidak mengganggu pertum­ buhan tanaman kentang. Proses penggemburan disertai peninggian gundukan tanah atau bedengan agar umbi tanaman selalu terkubur. Umbi kentang yang tidak tertutup tanah akan berwarna hijau dan berkualitas rendah. FOTO: ISTIMEWA

STOMATA

Edisi 04/Tahun I /Maret 2013

51


FOTO: SUPRI/STOMATA

MATACSR

PETA DRYER. Dirut PT Pertani Eddy Budiono sedang menjelaskan kepada Meneg BUMN Dahlan Iskan tentang program 120 dryer Pertani yang tersebar di seluruh Indonesia..

Dahlan Iskan Apresiasi

Program 120 Mesin Dryer PT Pertani Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Dahlan Iskan meng­apresiasi per­usahaan pelat me­rah yang memiliki kreatifitas dalam mengembangkan per­usahaannya. Pasalnya selama ini banyak BUMN yang ­mengandalkan pemerintah dalam setiap pengambilan ke­putusan sehingga terobosan baru jarang terjadi.

M

AKA dari itu, Dahlan menilai rencana PT Pertani untuk melengkapi infrastruktur per­gudangan dengan menyediakan fasilitas mesin pengering gabah (Dryer) sebanyak 120 buah yang akan disebar ke seluruh Indonesia merupakan ide mahal yang patut dihargai. “BUMN di era pasar bebas seperti sekarang harus tergantung kepada kemampuan otot, otak, dan kesungguhan masing-masing. Kalau ter­ gantung sama pemerintah sudah bukan zamannya lagi,” kata Dahlan usai menghadiri HUT PT Pertani ­(Per­sero) ke-54 di kantor PT Pertani, Duren Tiga, Jakarta Selatan, Minggu (20/1/2012). Menurutnya, banyak BUMN yang ­ke­hila­ngan ruh dalam berkontribusi terhadap pembangunan perekonomian bangsa, seperti juga Pertani saat masih dijabat oleh direksi lama. Namun, sejak ada pergantian d ­ ireksi, Pertani dinilai telah menemukan kembali ruh dan jalan hidupnya. “Jasad yang tanpa ruh bagaikan ­kuntilanak. Maaf, saya memakai kata-kata ini untuk menyadar­ kan bahwa kuntilanak itu tidak menginjak bumi. Nah, Pertani sekarang sudah menginjak bumi dan

52

STOMATA

Edisi 04/Tahun I /Maret 2013

cantik dalam arti sebenarnya, maksud saya pung­ gungnya tidak bolong,” ucap Dahlan disambut tawa para karyawan Pertani. Dahlan juga meminta BUMN pangan tersebut untuk memperbanyak proyek inisiatif seperti memperkaya fasilitas pergudangan karena Pertani mempunyai kemampuan untuk tidak mengandalkan proyek pemerintah. Pasalnya, proyek pemerintah kerap melibatkan banyak pihak. “Kalau proyek pemerintah, kita sangat tergantung sama orang lain. Kitanya sanggup dan sungguh-sungguh, mereka tidak. Kalau proyek sendiri kan tergantung kesiapan kita. Makanya, mau punya 120 dryer itu adalah tantangan terbesar dalam sejarah Pertani dan ini harus sukses. Mungkin banyak kendala, tapi harus bisa!” ujarnya. Sementara Direktur Utama Eddy Budiono mengatakan, pihaknya menargetkan sebanyak 120 dryer sudah bisa dimanfaatkan petani pada tahun 2013. Dryer yang menggunakan sekam sebagai ­bahan pemanas tersebut setiap hari mampu menge­ringkan gabah sebanyak 30 ton per 8 jam. Alat pengering gabah bermerek Pertani ini merupakan produk hasil kerjasama antara Per­ tani dengan Shandong ASAH International Trading Co. Ltd asal China, dimana Pertani telah ditunjuk menjadi distributor tunggal pemasaran di Tanah Air. Dengan terlaksananya pembangunan Dryer, Eddy yakin perseroan akan menjadi pusat pergudangan agribisnis mumpuni dan menjadi pemimpin per­ usahaan pangan Indonesia. Rega Adhiprana


MATACSR

GP3K BAKAL

FOTO: ISTIMEWA

TEREALISASI 2,7

Juta hektare Di 2013 Menteri Badan Usaha Milik Negara Dahlan Iskan menargetkan program GP3K (Gerakan Peningkatan Produksi Pangan Berbasis Korporasi) bisa direalisasikan 2,7 juta hektar sawah di Indonesia di tahun 2013. Ini merupakan salah satu cara BUMN untuk ikut menyukseskan program swasembada beras yang ditargetkan mencapai 10 juta ton pada 2014.

H

AL itu diungkapkan Dahlan Iskan pada panen raya GP3K di Dusun Babakan Loa, Kelurahan Plawad, Kecamatan Karawang Timur, Jumat (1/3/2013). Menurutnya, dana GP3K bukan dari APBN tapi dari BUMN, program ini untuk meningkatkan produktivitas lahan pertanian padi dan kesejahteraan petani serta mendukung penyediaan stok gabah beras nasional untuk mendukung penguatan ketahanan pangan nasional. “Tapi dana itu tidak diberi­ kan begitu saja kepada petani, itu yarnen (bayar panen) dan dana itu juga akan kembali lagi ke BUMN," ujar Dahlan. Dikatakannya, untuk PT. Pertani menyediakan 100 pengering padi yang akan disebar di seluruh Indonesia. Untuk itu dibuatkan gudang pengering di Kampung Babakan Loa, Kelurahan Plawad, Kecamatan Karawang Timur. “100 pengering akan saya minta ke PT. Pertani dan berikut penggilingan­ nya yang berbahan bakar skat," katanya. Mantan CEO PLN itu tidak membuka acara panen raya dengan melakukan sambutan, tapi me­ manggil tiga peserta yang hadir ­untuk bertanya kepada dirinya. Dalam sesi pertanyaan, Dahlan menceritakan adanya penimbunan pupuk pada zaman dulu sebe­ lum adanya pengaturan pupuk. ­“Alhamdulillah karena tahun ini diatur lebih baik," tutur Dahlan. Rega Adhiprana

PKBL. Jamrido sepakat menyalurkan dana pinjaman kemitraan Rp1,8 miliar kepada para petani di Jawa Timur dan Sumatera Utara. PT Pertani bertindak sebagai penyalur dan penjamin.

Gandeng PT Pertani

Jamkrindo Kucurkan Dana

Kemitraan Rp1,8 Miliar Perusahaan Umum Jaminan Kredit Indonesia (Perum Jamkrindo) baru saja menandatangani kerjasama ke­ mitraan dengan PT Pertani (persero) berupa program ­peningkatan produktivitas pangan berbasis korporasi.

D

ALAM program tersebut, pihak Jamkrindo sepakat ­ enyalurkan dana pinjaman kemitraan sebesar Rp1,8 m miliar kepada para petani di wilayah Jawa Timur dan S­ umatera Utara. “Kerjasama dilakukan melalui program kemitraan dan bina lingkungan (PKBL) Perum Jamkrindo dengan sistem ­executing, di mana unit PKBL PT Pertani sebagai penyalur dana dan perusahaan PT Pertani sebagai penjamin(avalis)nya,” ujar Direktur Utama Jamkrindo, Diding S Anwar. Terjadinya kerjasama kali ini, menurut Diding, merupakan bentuk dari sinergi antara Badan Usaha Milik ­Negara (BUMN) dalam mendukung program pemerintah terkait ketahanan pangan nasional. Dengan adanya program kerjasama tersebut, ­Diding menjelaskan, pihaknya ingin turut serta dalam gerakan swasembada beras nasional. Program tersebut sekaligus juga untuk membantu pemerintah dalam mencapai target surplus beras hingga 10 juta ton pada tahun 2014 mendatang melalui Program Gerakan Peningkatan Produktivitas Pangan Berbasis Korporasi (GP3K). “Swasembada pangan nasional kami anggap sangat penting dan memiliki peran strategis dalam memantap­ kan ketahanan pangan, khususnya untuk membantu para petani mengatasi angka kemiskinan di pedasaan. Selain itu juga ­untuk meningkatkan pendapatan petani, salah satunya dengan cara program kemitraan budidaya tanaman pangan dengan kelompok tani,” tutur Diding. Dengan kerangka pemikiran tersebut, lanjut ­Diding, pihaknya juga sekaligus ingin ikut memberikan dukungan terhadap perkembangan kinerja usaha mikro, kecil dan menengah serta koperasi dalam kaitannya berkontribusinya terhadap pertumbuhan ekonomi naisonal. Rega Adhiprana STOMATA

Edisi 04/Tahun I /Maret 2013

53


Mesin

MATARANTAI

Pemipil

Jagung Tanaman jagung (zea mays) sudah ditanam sejak ribuan tahun lalu. Di ­Indonesia, tanaman dari Amerika ini ­sudah dikenal kira-kira 400 tahun lalu.

K

OMODITAS jagung memiliki potensi untuk me­nyangga kebutuhan pangan non beras karena kandungan terbesar biji jagung adalah ­karbohidrat, dan potensial digunakan sebagai bahan baku industri. Jagung juga dapat digunakan ­sebagai bahan baku berbagai industri pangan, ­minuman, kimia dan farmasi serta industri lainnya. Model pengembangan sektor pertanian yang hanya menekankan pada peningkatan produksi merupakan paradigma lama tanpa kurang mem­ pertimbangkan perlakuan dan pengendalian mutu produk setelah panen. Paradigma baru menghendaki sistem pertanian berkelanjutan dan berorientasi pasar, dengan memperhatikan kualitas produk setelah panen sehingga memiliki nilai jual yang relatif menguntung­

kan di pihak petani. Penanganan pascapanen merupa­ kan salah satu wujud paradigma baru. Menurut para ahli dalam proses produksi ­jagung, energi yang dibutuhkan untuk ke­giatan produksi sekitar 32 persen dari total energi yang dibutuhkan sedangkan untuk penanganan panen dan ­pascapa-nen mencapai 72 persen. Hal ini ­me­nunjukkan bahwa penanganan panen dan ­pas­capanen secara benar membutuhkan curahan kerja cukup besar. Pascapanen merupakan kegiatan yang menentukan terhadap kualitas dan kuantitas produksi, kesalahan dalam penanganan panen dan pasca panen dapat mengakibatkan kerugian besar bahkan produk kehilangan nilai ekonomi. Karena itu penanganan pas­ capanen secara benar perlu mendapat prioritas dalam proses produksi usaha tani Pemipilan merupakan cara penanganan pascapanen jagung yang perlu mendapat perhatian. Pemipilan adalah suatu proses perontokan biji jagung dari tongkolnya. Saat tepat untuk memipil jagung adalah ketika kadar air jagung berkisar antara 18-20 persen. Selain memertahankan fungsi jagung untuk jangka waktu lama, penanganan tersebut juga akan meningkatkan nilai jual jagung yang pada akhirnya meningkatkan pendapatan petani. Diciptakannya alat dan mesin penanganan pascapanen tepat guna dengan biaya pembuatan dan pemeliharaan relatif murah serta memiliki tingkat ke­ mudahan dalam pengoperasian dan pemeliharaannya merupakan salah satu pendukung tujuan tersebut.

MODEL PEMIPIL JAGUNG FOTO: ISTIMEWA

54

Pemipilan merupakan cara penanganan pascapanen jagung yang perlu mendapat perhatian. Pemipilan adalah suatu proses perontokan biji jagung dari tongkolnya. STOMATA Edisi 04/Tahun I /Maret 2013

Di Indonesia, terutama di daerah pedesaan, pemipilan jagung umumnya masih dilakukan secara tradisional, yaitu dengan tangan. Kapasitas pemipilan jagung dengan tangan berkisar antara 10-20 kg jagung pipil/jam. Kapasitas kerja suatu alat pemipil jagung ditentukan oleh persentase kulit pada jagung, kadar air, kecepatan pemberian (feeding), dan kecepatan putaran alat. Secara umum, ada 3 alat pemipil j­ agung yang biasa digunakan olah masyarakat yaitu alat ­pemipil jagung kikian; alat pemipil jagung model TPI; dan alat pemipil jagung tipe ban.


MATARANTAI hatikan pada saat proses pemipilan ini adalah dilakukannya penge­lompokan ukuran tongkol jagung sehingga dapat mem­ percepat proses pemipilannya. Hal lain yang perlu diperhatikan adalah penyediaan bak penampung dengan diameter yang cukup lebar. Hal ini dimaksudkan untuk menghindari ter­ lempamya jagung yang telah terpipil keluar dari bak pe­nam­ pungan.

ALAT PEMIPIL JAGUNG TIPE BAN Mekanisme pemipilan dilakukan oleh silinder pemipil dan saringan penahan. Silinder pemipil berfungsi untuk meng­ gerakkan tongkol jagung dan melepaskan biji jagung dengan gaya gesek yang ditimbulkannya. Saringan penahan berfungsi untuk menahan dan menekan jagung yang akan dipipil se­ hingga proses pemipilan dapat berlangsung dengan baik. Selain itu, saringan penahan juga berfungsi untuk me­misahkan biji jagung yang telah terpipil dengan tongkol jagung. Pada ­saringan penahan dilengkapi dengan per (pegas) yang ber­ fungsi untuk membantu proses pemipilan dan pengaturan celah antara silinder dengan saringan penahan karena ukuran jagung yang dipipil beragam.

ALAT PEMIPIL JAGUNG KIKIAN Alat pemipil jagung kikian adalah alat pemipil jagung tradisional. Rangkanya terbuat dari kayu dan diletakkan seng berlubang dibagian tengah. Cara kerja alat ini adalah: 1. Digesekkan tongkol jagung ke seng berlubang. 2. Gaya gesek akan melepaskan biji-biji jagung dari tongkol- nya. 3. Ditampung biji-biji jagung yang telah terpipil.

CARA KERJA DARI ALAT INI ADALAH: Masukkan jagung tongkol ke dalam bak penampungan yang merupakan tempat sementara sebelum jagung dipipil. Letak bak penampungan ini berada di bagian depan tempat duduk operator. Saluran pengumpanan dipasang dengan kemiringan 11,5°. Kemiringan tersebut menyebabkan jagung tongkol yang diumpankan dapat bergerak karena adanya gaya berat jagung dan tanpa ada kemacetan. Setelah melewati saluran pengumpanan, jagung tongkol masuk ke unit pemipilan. Pada silinder pemipil terdapat satu baris baut yang menonjol ke permukaan dan berfungsi sebagai pelepas biji jagung pertama. Selain itu, barisan baut tersebut juga berfungsi untuk membalik dan mendorong tongkol jagung dari daerah pemipilan bila terjadi selip. Silinder tersebut ditutupi dengan ban mobil luar bekas yang masih mempunyai gigi sehingga dapatmenimbulkan gesekan dan gaya pukul sehingga proses pemipilan terjadi lebih mudah. Ishak Pardosi/Dede Supriyatna

Alat pemipil jagung tipe TPI adalah alat pemipil manual yang digunakan pada jagung dengan ukuran tertentu. Dengan de­ mikian, apabila ukuran jagung cukup beragam maka diperlu­ kan alat pemipil jagung tipe TPI lebih dari satu buah. Kapasitas alat ini antara 12-15 kg/jam/ orang. Pengoperasian alat pemipil jagung tipe TPI ini ­sangat mudah, yaitu hanya dengan memasukkan tongkol jagung yang terkupas pada alat pemipil lalu memutarnya dengan pemberian tekanan pada kedua tangan operator. Hal penting yang perlu diper­

FOTO-FOTO: ISTIMEWA

ALAT PEMIPIL JAGUNG MODEL TPI

STOMATA

Edisi 04/Tahun I /Maret 2013

55


MATACINCIN

BERKEBUN

Maylaffayza

DI LAHAN

56

KOSONG P

ADA suatu sore akhir pekan lalu, pemain biola Maylaffayza berada di antara 150 orang yang berkumpul di kawasan Apartemen Springhill, Kemayoran, Jakarta. Bukan untuk unjuk pamer kepiawaian memainkan biola tapi ikut mengawali gerakan menghijaukan Jakarta bersama komunitas Jakarta Berkebun.

FOTO: ISTIMEWA

STOMATA

KALAU DULU LINCAH MEMAINKAN NADA SENAR BIOLA­ KINI JARI-­ JARI­NYA TERLATIH DENGAN ­TANAH, SEKOP, SERASAH, DAN TANAMAN.

Edisi 04/Tahun I /Maret 2013

”Saya tidak punya latar belakang pertanian,” kata ­wanita perempuan kelahiran Jakarta, 10 Juli 1976 itu. Seperti sebagian besar anak kota, Fayza juga tidak akrab dengan urusan cangkul-mencangkul, pupuk, dan benih atau bibit tanaman. Tapi, itu tak me­nyurut­ kan minat berkebun dengan bergabung dalam ko­ munitas Jakarta Berkebun. ’’Lihat Jakarta jadi hijau dan belajar menanam untuk makanan kita sendiri,” ujarnya. Kepedulian Mayla sebagai respons keluhan warga yang merasa sesak dengan kondisi Ibu Kota. Di lahan yang dipinjamkan perusahaan real estat itu, mereka menanam kangkung dan sawi. Ketertarikan Mayla terhadap tanaman berawal dari ajakan rekannya, Ridwan Kamil yang menyampaikan visi dan cita-cita membuat Jakarta lebih hijau dan layak dihidupi generasi berikutnya. ’’Mas Emil juga menceritakan passion-nya untuk mengajak keluarga dan masyarakat ikut berkebun. Mendekatkan diri dan meningkatkan penghargaan dengan alam walaupun tinggal di perkotaan melalui berkebun,’’ tuturnya. Menurut pemilik nama lengkap Maflaffayza Permata Fitri Wiguna ini, berkebun bukan saja hanya bisa dilakukan di pedesaan tapi juga perkotaan. Nah, untuk menggiatkan penghijauan bagi masyarakat perko­ taan, pendekatannya juga perlu menyenangkan dan bersifat rekreasi. Misalnya, mengambil tempat di lahan tempat bermain. Para pesarta akan mendapat sepetak


MATACINCIN

FOTO: ISTIMEWA

tanah dan berbagai bibit tanaman. Peserta dapat me­ngunjungi seminggu sekali untuk merawat ta­ naman. Sedangkan pengawasan harian dilakukan oleh warga yang tinggal di rumah bedeng sekitar. Lewat kegiatan ini, selain mengandung unsur fun juga merupakan edukasi masyarakat dalam ­pe­lestarian lingkungan. Kegiatan tersebut, lanjut Mayla, sebetulnya sudah ada di beberapa daerah namun perlu digalakkan. Apalagi daerah hijau di kota makin menipis. Aksi penghijauan itu, tentu saja positif dalam me­ motivasi orang tua dan generasi muda untuk ikut berkebun.

BERKEBUN. Salah satu kegiatan @idberkebun

‘’Kita tidak saja dapat mengenal cara berkebun tapi juga mau tidak mau jadi bermain air, bermain dengan tanah dan terkena matahari. Hal yang luar biasa jarang kita alami sebagai manusia, yang sebetulnya merupakan bagian dari alam,’’ terang wanita berusia 36 tahun itu.

yang bisa dilakukan siapa pun. Kunci penting kegiatan ini adalah sustainability, alias ber­ kesinambungan. Karena memang tujuannya adalah pelestarian, di luar bahwa ini difungsikan sebagai kegiatan rekreasi dengan aktifitas ­positif,’’ imbuhnya.

Untuk memuluskan kegiatan berkebun, pe­ rumahan Springhills di Kemayoran bersedia me­ minjamkan lahan. Yang membuat Mayla bahagia, pesertanya banyak dan terlihat antusias kendati harus berpeluh di bawah terik matahari.

Selain membuat hijau lahan kosong, ber­kebun di rumah atau di lahan yang cukup luas, bisa juga dijadikan ajang berlibur. Kegiatan se­ perti ini sangat bermanfaat bagi anak-anak. ­Setidaknya ada tiga keuntungan dalam kegiatan berkebun di lahan sempit, yaitu:

’’Saya yakin di antara kita ada yang tidak pernah berkebun atau mungkin pernah berkebun saat kecil. Ini jadi hal yang menyenangkan. Nantinya, Jakarta Berkebun akan dibuat di tempat lain, di ­­ lahan-lahan yang tidak terpakai dan diizinkan di­pakai. Sebetulnya ini adalah hal sederhana

1. EKOLOGI Ingatan anak-anak mengenai bermacammacam bentuk daun, berbagai jenis akar, nama bunga dan bagian-bagiannya, nama buah dan bagian-bagiannya hanya sebatas hafalan di Sekolah Dasar. Tetapi apa manfaat cacing yang hidup di tanah dan rantai makanan yang terjadi mungkin mereka lupa. Disinilah anak bisa belajar mengenai tumbuhan dan bagaimana tanaman itu bisa tumbuh.

FOTO: ISTIMEWA

2. EDUKASI Selain pelajaran biologi, pelajaran yang dapat diambil adalah memunculkan kreativitas pada anak. Bagaimana cara anak menanam dan me­ rawat tanamannya agar tumbuh subur sampai siap untuk dipanen nantinya. 3. EKONOMI Merujuk pada hasil akhir berkebun yang sukses, pastinya panen akan berlimpah, dan bisa dikonsumsi kelurga. Kalaupun tetap berlebih, hasil panen bisa dijual dengan dititipkan pada tukang sayur ataupun dijual. Dede Supriyatna

Kita tidak saja dapat mengenal cara berkebun tapi juga mau tidak mau jadi bermain air, bermain dengan tanah dan terkena matahari. Hal yang luar biasa jarang kita alami sebagai manusia, yang sebetulnya­ STOMATA merupakan bagian dari Edisi 04/Tahun I /Maret 2013alam

57


Rp. 110.000,-

Rp. 55.000,-

58

STOMATA

Edisi 04/Tahun I /Maret 2013

Rp. 9.900,-

Rp. 95.000,-

Rp. 45.000,-

Rp. 140.000,-


STOMATA

Edisi 04/Tahun I /Maret 2013

59


60

STOMATA

Edisi 04/Tahun I /Maret 2013


Turn static files into dynamic content formats.

Create a flipbook
Issuu converts static files into: digital portfolios, online yearbooks, online catalogs, digital photo albums and more. Sign up and create your flipbook.