Tribunjogja 24-05-2015

Page 1

24

HARIAN

HALAMAN

MINGGU PON 24 MEI 2015 6 SYA’BAN 1436 NO 1488/TAHUN 4

RP 2.000

SPIRIT BARU DIY-JATENG

LANGGANAN RP 55.000 SMS 0851 021 2000, 0274-557687 EXT 219

JAWARA - Tim Futsal Putri SMA Stella Duce 2 Yogyakarta sukses menjadi Champion di ajang Tribun PAF Championdhip Series 2014-2015 di GOR Amongrogo, Sabtu (23/5). Berita dan folo lainnya ada di halaman 8.

TRIBUN JOGJA/HASAN SAKRI GHOZALI

Badingah Razia Semua Pasar

 Sampel Beras Belum Dikirim ke Lab  Bulog Divre II Pati Periksa Stok Gudang

Topas Mengais Rezeki di Futsal YOGYA, TRIBUN - Imbas dari ditiadakannya kompetisi musim ini cukup membuat para pemain profesional di Indonesia kelimpungan karena kehilangan mata

BERAS MENCURIGAKAN 1

Pemkab Gunungkidul akan melakukan razia ke seluruh pasar tradisional terkait temuan beras mencurigakan di Rongkop.

2

Sedangkan Bulog Divre II Pati langsung melakukan pengecekan beras di gudang setelah ada informasi beras yang ada di Rongkop Gunungkidul berasal dari Pati

3

Bulog Divre II Pati juga mencari tahu keberadaan UD Wijaya yang ditengarai menjadi penyalur beras di Rongkop tersebut.

Bersambung ke Hal 7

Arema Cronus Libas PSS 1-4 SLEMAN, TRIBUN - Sleman All Stars harus mengakui keunggulan Arema Cro-

nus dalam laga eksibisi yang digelar di Stadion Maguwoharjo, Sleman, Sabtu (23/5) malam dengan skor 1-4. Laga juga sempat diwarnai keributan antara suporter Arema Cronus dengan sejumlah peBersambung ke Hal 7

Demian

Selfie saat Dikubur Semen

SETELAH lima jam dikubur hidup-hidup di adonan semen, Demian Aditya menyempatkan berselfie bersama krunya. Demian Bersambung ke Hal 7 TRIBUNNEWS

4

5

Hingga sejauh ini sampel beras bercampur bahan sintetis di Rongkop belum dikirim ke laboratorium untuk dilakukan pengujian. Polisi di Bogor memeriksa 50 karung beras yang diduga juga mengan-dung bahan mencurigakan.

GUNUNGKIDUL, TRIBUN - Temuan beras yang diduga dicampur bahan sintetis di Dusun Duwet, Desa Karangwuni, Rongkop mendapatkan perhatian serius dari Pemerintah Kabupaten Gunungkidul. Untuk mencegah penyebaran yang lebih luas, bupati meminta seluruh dinas terkait untuk melakukan razia ke seluruh pasar. “Ini saya tugaskan kepada dinas dan instansi terkait serta asek untuk razia di seluruh pasar,” kata Bupati Gunungkidul, Badingah usai menghadiri acara gebyar PAUD di Bangsal Sewoko Projo Wonosari, Sabtu ( 23/5). Dia menjelaskan, ditemukannya beras yang diduga dicampur bahan intetis ini merupakan persoalan yang sangat serius. Sebab berkaitan dengan kesehatan masyarakat. Untuk itu, harus diusut tunBersambung ke Hal 7

Polisi Bogor Periksa

50 Karung Beras POLSEK Klapa Nunggal menemukan 50 karung beras yang diduga sintetis dari seorang pedagang, Jumat (22/5) siang. Beras sebanyak itu disimpan di sebuah gudang di Kecamatan Klapa Nunggal, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Atas temuan tersebut, polisi mengamankan pemilik beras berinisial AR (45) untuk dimintai keterangan. Kapolres Bogor, AKBP Suyudi Ario Seto saat dimintai konfirmasi membenarkan temuan 50 karung beras yang diduga mengandung bahan plastik dari sebuah gudang di Kecamatan Klapa Nunggal, Kabupaten Bogor. “Iya betul, tadi siang Polsek Klapa Nunggal menemukan gu-

dang beras yang diduga sintetis dengan jumlah 50 karung. Saat ini, petugas masih melakukan pengembangan dan memeriksa pemilik beras tersebut,” ujar AKBP Suyudi Ario Seto, Jumat (22/ 5) malam. Terungkapnya gudang beras tersebut kata Kapolres bermula dari adanya laporan warga yang mengeluh kalau beras yang dimasaknya tidak kunjung matang. “Anggota kemudian mendatang rumah warga itu untuk melakukan pengecekan dan mengambil sampel beras yang sudah dimasak,” kata AKBP Suyudi Ario Seto. Bersambung ke Hal 7

GRAFIS/SULUH PRASETYA

18 Tahun Jadi TKI di Malaysia Tak Pernah Beri Kabar

ribun Jogja

Pria Asal Dlingo Itu Pulang Tinggal Nama Selama 18 tahun merantau ke luar negeri tanpa kabar, Jumbadi (40) alias Yasip alias Yosip Mohadi, seorang tenaga kerja Indonesia (TKI) asal Bantul pulang ke rumahnya di Karangasem, Muntuk, Dlingo dalam keadaan telah menjadi jenazah. Jumbadi meninggal dunia di Malaysia.

TRIBUN JOGJA/ANAS APRIYADI

PULANG - Kedua orangtua Jumbadi, memegang foto anaknya yang sudah 18 tahun menjadi TKI di Malaysia.

DITEMUI usai pemakaman anaknya, Sabtu (23/5), Mohadi, ayah Jumbadi menjelaskan bahwa Ia bersama istrinya Saginem telah merelakan kepergian anak tunggalnya itu. Berkaitan dengan dugaan anaknya meninggal karena dibunuh dengan luka di kepala, Mohadi menyerahkan sepenuhnya kasus tersebut kepada pihak yang berwenang dan tidak ingin menuntut terlalu banyak. “Sudah itu biar diurus sama

yang ada di negara sana, yang penting anak saya sudah bisa pulang walau sudah meninggal. Saya juga masih bisa mengurus jenazahnya” ucap Mohadi. Mohadi bercerita bahwa anaknya pertama kali merantau ke Malaysia pada tahun 1995 untuk mencari pekerjaan. “Dulu itu daerah sini lagi banyak yang lebih dulu merantau Bersambung ke Hal 7

MINGGU PON 24 MEI 2015

HALAMAN 9

TRIBUNJOGJA/HENDRA KRISDIANTO

AWAL ketertarikan Rossi di dunia musik bisa dikatakan karena ‘kecelakaan’. Tak disangka `kecelakaan’ tersebut kemudian berbuahkan hasil yang tidak biasa. Belum lama ini Rossi mendapat kesempatan untuk ikut merekam dengan para peneliti seperti, Rizaldi Siagian etnomusiolog Indonesia, Prof. Moh. Anis .Md,Nor dari University of Malaya Malaysia, dan beberapa peneliti lainnya. Mereka berusaha melacak keberadaan Ronggeng Melayu yang punah di Sumatera, tetapi justru berkembang di Thailand dan Indonesia. Hal ini membuat semuanya bekerja bersama dengan melibatkan masyarakat di Sumatera Utara untuk merevitalisasi ronggeng. Tentang keterlibatan dan karir di dunia musik, awalnya perempuan bernama lengkap Marcellina Rosiana ini disuruh ayahnya masuk di Sekolah Menengah Musik (SMM) setara SMK. Ia Menurutku Menur utku mengaku kembalikan ranah cukup lama untuk belajar musik yang dimulai suka musik, dari sebuah namun karena pengalaman musikal kondisi di lingkungan yang berkembang musik sejak secara alami, dan dari SMA, pendidikan musik semuanya jadi sebagai ‘penambah terbiasa. “Padahal dari wawasan’ bukan kecil aku sebagai penghambat seorang atlet badminton kreatifitasan ha...ha,” kata perempuan kelahiran Jakarta, 16 Juli 1988 ini. Setelah lulus di SMM, perempuan yang juga menjadi penggagas Festival Musik Tembi ini kemudian melanjutkan kuliah di jurusan seni musik di Yogyakarta. Sejak itulah muncul kegelisahan tentang ‘passion’ dan kenyamanan diri. Untuk mencari passion tersebut, Rossi mulai sering aktif di berbagai komunitas dan menjadi voulenteer tim produksi berbagai pertunjukan musik. Dalam pengamatan di berbagai pertunjukan, Rossi melihat banyak yang kurang memikirkan pentingnya manajemen dan kemasannya. Dari pengamatam tersebut, ia mencoba membuat sendiri pertunjukan musik seorang teman. Sejak itu ia sering diminta bantuan temannya yang juga para musisi untuk mengelola pertunjukan. Kemudian Rossi pun membuat tim manajemen pertunjukan sendiri bernama UNIK Production, dan aktif diberbagai kegiatan pertunjukan di Yogyakarta. Suatu ketika Rossi mendapat rekomendasi untuk bertemu Nuranto, pemilik Tembi Rumah Budaya. Saat itu

juga ia ditantang untuk mengembangkan potensi dengan membuat festival musik dengan ranah yang lebih luas daripada pertunjukan-pertunjukan yang biasa digarapnya. Sejak itu ia mulai membuat Festival Musik Tembi untuk yang pertama kali di 2011, dan terus berkembang sampai sekarang. Festival ini sangat fokus pada penggalian bunyi-bunyian Nusantara dengan idiom musik tradisi, dan musik lintas genre sebagai ruang kreatif dan bereksplorasi. Dari aktif di berbagai kegiatan musik, dam semakin sering melihat musik tradisi, Rossi semakin jatuh cinta, dan sebagai orang Indonesia ia mengaku merasa bertanggungjawab untuk terus melestarikannya. Meski sejak dini sudah les, sekolah, hingga kuliah di jurusan musik dengan instrumen biola dan minat musikologi, Rossi menyadari kalau dirinya memang bukan seorang ‘pemain’ musik. Namun setelah harus berdamai dengan diri sendiri untuk meyakinkan hal ini, ia tak bisa lepas dari seni pertunjukan dan selalu senang, bahkan bisa menangis mengimpresikan ketika melihat, menonton, bahkan membuat pertunjukan. “Jadi caraku menyebarkan musik tradisi dengan aktif berfestival dan di berbagai kegiatan musik di berbagai kota,” ujarnya. Diakuinya saat ini musik bisa dibilang sudah mewabah dilintas kalangan, semua orang suka musik. Menurut Rossi musik terjadi sangat alami di sebuah lingkungan. Ada yang hanya sebagai penikmat saja, tapi ada yang memang jalur sebagai pelaku. Orang bisa disebut musisi sebenarnya bukan karena berpatok dari sebuah gelar di sekolah yang khusus musik, namun menurut Rossi, bagaimana orang tersebut pandai menyusun nada nada sehingga menghasilkan harmoni yang bisa dinikmati audiens. Rossi berujar bahwa pendidikan musik itu perlu untuk memberikan wawasan tambahan dari pengalaman-pengalaman musikal yang dialami oleh pengajar, yakni dengan langkah-langkah yang lebih mudah dipahami, namun bukan sebagai sebuah batasan kreatif. Saat ini menurutnya, di Indonesia banyak pendidikan musik justru membatasi kekreatifitasan dan mencari-cari kesalahan dan kebenaran musik. “Menurutku kembalikan ranah musik yang dimulai dari sebuah pengalaman musikal yang berkembang secara alami, dan pendidikan musik sebagai ‘penambah wawasan’ bukan sebagai penghambat kreatifitasan,”

Selengkapnya

Hal. 9


Turn static files into dynamic content formats.

Create a flipbook
Issuu converts static files into: digital portfolios, online yearbooks, online catalogs, digital photo albums and more. Sign up and create your flipbook.