JUMAT
0328-6770024 JUMAT 13 JUNI 2014 | No. 0380 | TAHUN III www.koranmadura.com
Dolly, Rahmat atau Laknat? Soekarwo: Bila Tidak Ditutup, Pemerintah Justeru Melanggar HAM SURABAYA- Penutupan Lokalisasi Dolly di Surabaya makin banyak mendapatkan tanggapan dari berbagai kalangan. Tidak sedikit yang mendukung, namun juga sangat banyak yang menentang.
bagi HAM. “Dengan ditutupnya Dolly, pemerintah ingin memberikan pekerjaan yang layak bagi rakyatnya dan membawa mereka kepada kehidupan yang bermartabat, itu bukan melanggar HAM,” tegasnya. Hal ini diungkapkan Soekawo setelah Komnas HAM mendatangi kawasan Dolly Kamis pagi (12/6). Kedatangan Menanggapi penutupan lokalisasi mereka disambut oleh ratusan yang disebut-sebut paling besar di asia Pekerja Seks Komersial tenggara ini, Gubernur Jawa (PSK) dan para pekerja di Timur, Soekarwo menganggap BERITA Dolly dengan dialog mimbar pemerintah justru melanggar TERKAIT bebas. Hak Asasi Manusia (HAM) bila Dianto Bahriadi, Anggota Hal 9 membiarkan dolly tetap berKomnas HAM yang datang operasi. Sebab menurutnya, pada kesempatan tersebut pembiaran terhadap lokalisasi Dolly mengimbau agar Pemerintah Kota justru sama artinya membiarkan tidak Surabaya mengkaji ulang kebijakan mendapatkan kehidupan yang layak penutupan Lokalisasi Dolly yang rendan bermartabat. cananya akan dilakukan sejak tangal “Justru dengan membiarkan 18 Juni mendatang. Menurutnya, bila Pekerja Seks Komersial (PSK) beroptidak ada ada jaminan kesejahteraan erasi, pemerintah telah melanggar bagi warga pasca penutuan tersebut, HAM, karena tidak memberi rakyatnya pemerintah bisa disebut melkesempatan pekerjaan yang layak,” anggar HAM.=BETH kata Soekarwo usai melantik anggota KPU Kabupaten/Kota se-Jatim, Kamis (12/6/2014), di Surabaya. Menurut pria yang kini sudah menjabat Gubernur Jatim untuk yang kedua kalinya ini, HAM tidak bisa dilihat secara parsial, perspektifnya sangat luas. Tidak menyediakan fasilitas, iklim pergaulan dan infrastruktur agar masyarakat bisa hidup dengan layak dan terhormat dianggapnya sebagai bentuk pelanggaran
1
KORAN MADURA
13 JUNI 2014 | No. 0380 | TAHUN III ECERAN Rp 3.500 LANGGANAN Rp 70.000
Semula hanya untuk Tentara Belanda Pilpres Benar ua D a is B r na be Putaran Nasional hal 3
Tak pernah ada yang tahu kapan persisnya Gang Dolly ada, namun yang jelas keberadaan gang Dolly sudah ratusan tahun. Konon orang yang mula-mula menyediakan perempuan-perempuan penghibur lelaki hidung belang adalah tante Dolly yang nama lengkapnya adalah Dolly Van Der Mart. Waktu itu mungkin ia tidak pernah berpikir bahwa apa yang dilakukannya kelak akan menjadi cikal bakal lokalisasi terbesar di asia tenggara. Saat itu ia hanya menyediakan beberapa gadis untuk menjadi pekerja seks komersial untuk melayani dan memuaskan syahwat para tentara Belanda. Seiring berjalannya waktu, ternyata pelayanan para gadis asuhan tante Dolly tersebut mampu menarik perhatian para tentara untuk datang kembali. Dalam perkembangannya, gang Dolly semakin dikenal masyakarat luas. Tidak hanya prajurit Belanda saja yang berkunjung, namun warga pribumi dan saudagar yang berdagang di Surabaya juga ikut menikmati layanan PSK tante Dolly hingga gang itu terkenal dengan nama gang Dolly Keluarga tante Dolly hingga sekarang masih tinggal di kawasan Dolly. Namun, karena suatu alasan tidak lagi mengelola bisnis jual beli ‘daging mentah’ tersebut. =wikipedia