lampungpost edisi, 29 juli 2012

Page 1

±

±

CMYK

± Terbit Sejak 1974 Sirkulasi: (0721) 788999 Layanan Umum: (0721) 783693 Iklan: (0721) 774111 SMS: 0815 4098 5000 Redaksi (0721) 773888 SMS: 0812 7200 999

i

www.lampungpost.com

i

DINAMIKA MASYARAKAT LAMPUNG

minggu, 29 juli 2012 No. 12509 TAHUN XXXVII

±

Imsakiah 1433 H Bandar Lampung dan Sekitarnya

29 Juli 2012

Terbit 24 Halaman

i HARGA ECERAN : Rp3.000

30 Juli 2012

Imsak

04.40

Imsak

04.40

Subuh

04.50

Subuh

04.50

Zuhur

12.07

Zuhur

12.07

Asar

15.30

Asar

15.30

Magrib

18.04

Magrib

18.04

Isya

19.16

Isya

19.16

±

REPORTER CILIK

WAWANCARA.

Elgi, Dhela, Nicha, Iva, dan Ani mewawancarai Kadis PU Tulangbawang Barat Robinsyah... HLM. 14

Ketua Kadin Lampung Mustafa menjelaskan untuk mengamankan investasi perlu melibatkan pengusaha lokal.... HLM. 9

n LAMPUNG POST/zainudin

n LAMPUNG POST/syaefulloh

Tetap Eksis di Puncak Lapar

TAFSIR AL-MISHBAH (10)

Beda Keyakinan Tetap Harus Dilindungi

OLIMPIADE LONDON

Orang Tua Doakan Dua Lifter Lampung

±

PR I NGSE W U (L a mpost): Orang tua lifter Jadi Setiadi dan Citra Febriyanti yang bertarung di Olimpiade London 2012 hanya bisa berdoa agar kedua atlet angkat besi kelahiran Kecamatan Pringsewu, Kabupaten Pringsewu, itu dapat meraih prestasi terbaik. “Kami hanya bisa berdoa dan mendorong dia supaya apa yang dicita-citakan dapat terlaksana. Semoga di Olimpiade ini Jadi Setiadi dapat meraih kemenangan,” ujar Warsih, ibunda Jadi Setiadi, didampingi suaminya, Saibun, di kediamannya, Jalan Pramuka, Kelurahan Pringsewu Barat, Sabtu (28-7). Warsih mengetahui anaknya masuk grup yang berisi lawan-lawan berat dari berita di Lampung Post. “Meskipun lawan-lawannya berat, mudahmudahan dia bisa tetap sema­ ngat,” kata dia. Jadi Setiadi, yang merupakan anak kedua dari empat bersaudara itu, berasal dari keluarga kurang mampu. Ayahnya seorang sopir yang kini tinggal di rumah mengurusi kolam ikan. Menurut Warsih, keluarga semula tidak menduga Jadi Setiadi bakal memiliki prestasi menonjol pada olahraga angkat besi yang dapat mem-

banggakan keluarga, bangsa, dan negara. “Dia sejak usia 10 tahun sudah mulai latihan olahraga yang cukup berat. Karena ketekunannya, dia bisa berhasil,” kata Warsih. Orang tua Citra Febriyanti juga mengaku hanya bisa mendoakan anaknya meraih prestasi terbaik. “Kami hanya bisa berdoa semoga dia dapat meraih prestasi terbaik,” ujar Mukinah (50), ibu Citra, saat ditemui di rumahnya di Kelurahan Pringsewu Selatan. Saat itu suami Citra, Nusyanto (33), yang juga atlet angkat besi, sedang bertandang ke rumah mertuanya. Sementara Samijan (60), ayah Citra, terbaring sakit karena penyakit asmanya kambuh. Mukinah mengaku tidak menduga Citra yang merupakan anak bungsu dari tujuh bersaudara itu dapat mengikuti Olimpiade. Anaknya itu mulai menekuni olahraga angkat besi sejak kelas III SD. Imron Rosadi, pelatih sekaligus bapak asuh atlet angkat besi Lampung, saat ditemui di Padepokan Angkat Besi Gajah Lampung di Pringsewu berharap Jadi Setiadi dan Citra Febriyanti bisa mengulangi prestasi yang dicapai dalam latihan. (ONO/R-2)

n LAMPUNG POST/SUDIONO

±

DUKUNGAN ORANG TUA. Saibun (55) dan Warsih (50), ayah dan ibu Jadi Setiadi, atlet angkat besi asal Pringsewu, yang saat ditemui di rumahnya kemarin antusias membaca berita tentang anaknya yang sedang mengikuti Olimpiade di London.

BURAS

Atlet Lampung di Olimpiade! “DUA atlet angkat besi Lampung, Jadi Setiadi (kelas 56 kg) dan Citra Febriyanti (53 kg), ikut membela Tim Merah Putih di Olimpiade London 2012 yang dibuka kemarin dini hari WIB!” ujar Umar. “Kedua atlet secara khusus didampingi pelatih asal Lampung, Edi Santoso, putra pelatih angkat besi kebanggaan Lampung, Imron Rosadi!” “Kedua atlet dan pelatih asal Lampung itu tergabung dalam kontingen Indonesia hingga keberangkatannya dilepas oleh Presiden!” timpal Amir.

±

n METRO TV

Quraish Shihab

n LAMPUNG POST/IKHSAN DWI NUR SATRIO

MENUNGGU WAKTU BUKA PUASA. Sejumlah warga melihat atraksi gaya bebas oleh sejumlah pengendara sepeda motor di lapangan PKOR Way Halim, Bandar Lampung, Jumat (27-7). Atraksi itu menjadi tontonan warga sekaligus untuk menunggu waktu berbuka puasa.

NGABUBURIT, kata dalam bahasa Sunda ini menasional sebagai padanan kalimat menunggu waktu berbuka puasa. Itu waktu puncaknya raga menahan lapar. Sayang, ada saja yang menyimpang.

P

uluhan remaja dan orang tua memadati Taman Dipangga, Telukbetung Utara, Bandar Lampung, Kamis (26-7) sore. Beragam aktivitas mereka lakukan, mulai dari mengobrol santai, mengawasi anak-anak, atau mojok berdua di atas sepeda motor. Pemandangan tidak jauh berbeda di sekitar Kantor Gubernur Lampung. Beberapa pemuda berkeliling naik sepeda motor, ada yang bermain inline skate atau sepatu roda, skateboard, naik sepeda, dan joging. Remaja yang lain tidak mau kalah, mereka menyalakan petasan tidak jauh dari sekumpulan remaja lain yang sedang asyik mengobrol di atas sepeda motor. Beragam aktivitas itu dilakukan untuk menunggu buka puasa. Kegiatan yang lebih tren disebut ngabuburit ini memang didominasi remaja dan anak muda. Tradisi yang hanya ada di bulan Ramadan ini melekat kuat dan tidak bisa lepas dari aktivitas berpuasa. Banyak titik yang dijadikan lokasi ngabuburit, selain Taman Dipangga dan Kantor Gubernur, tempat yang tidak kalah ramai adalah lapangan Saburai, PKOR Way Halim, Citra Garden, dan Unila. Ayu Lestari adalah salah satu yang

memanfaatkan sore untuk ngabuburit. Ia tampak asyik duduk mengobrol bersama temannya di Taman Dipangga hari itu. Dia masih mengenakan pakai­ an sekolah. Kebetulan tempatnya PKL adalah Polda Lampung yang berdekat­ an dengan taman tersebut. Ayu memilih ngabuburit bersama teman daripada langsung pulang ke rumahnya di Kelurahan Olokgading. “Daripada langsung pulang lebih enak nunggu buka puasa di sini (Taman BACA FOKUS MINGGU Menakar Selera...

14

Dipangga), lebih ramai dan seru,” kata siswa SMA Gunadharma ini. Selain di Taman Dipangga, Ayu kadang berkumpul di Perumahan Citra Garden. Kompleks perumahan mewah ini memang memiliki taman yang indah dan luas. Sekitar taman ini memang ramai anak muda sejak sore hingga menjelang magrib. “Kalau di Citra Garden kadang di­ usir satpam, baru ngabuburit sebentar sudah disuruh pergi,” kata dia. Ayu duduk bersama temannya Siti

Aminah, keduanya memang teman satu sekolah dan tinggal di sekitar Telukbetung Barat. Taman Dipangga dan Citra Garden dipilih karena letaknya tidak terlalu jauh dari rumah. “Nga­ buburit kalau memang ada teman, kalau sendiri enggak seru,” kata Siti. Siti dan temannya mulai datang ke taman pukul 16.00 sampai menjelang buka puasa, ngabuburit diisi dengan mengobrol dan bercanda dengan teman. Ngabuburit paling pas untuk mengisi waktu menjelang buka puasa. “Menunggu beduk magrib di rumah bosan, kalau main dan ngabuburit lebih seru dan enggak terasa buka puasa pun tiba,” katanya. Berbeda dengan Ayu, Ade Stiawan lebih memilih ngabuburit dengan bermain skateboard . Jalan aspal di dekat Kantor Gubernur menjadi arena yang menantang bagi pelajar SMAN 8 Bandar Lampung ini. Meskipun lapar dan haus, tidak menghalangi Ade untuk berselucur dengan papannya. Peluh yang sudah membasahi bajunya tidak dihiraukan, dia tetap berseluncur dan melompat dengan skateboard. Ade menilai lebih baik bermain skateboard daripada hanya duduk mengobrol atau jalan-jalan dengan sepeda motor. “Enggak ada manfaatnya kalau cuma ngabuburit nanti malah ngerumpi. Enak main skateboard supaya bisa menguasai trik baru,” kata dia. (PADLI RAMDAN/M-1)

KUPASAN Tafsir Al-Mishbah pada episo­ de kesepuluh kali ini adalah Ayat 1—10 Surah At Taubah (Pengampunan). Ke­ lompok ayat ini menerangkan hubungan kaum muslimin dan kaum musyrikin. Pada ayat pertama hingga ketiga dijelaskan pemutusan hubungan Allah dengan kaum musyrik bukan berarti Allah tidak lagi memberi mereka rezeki atau melimpahkan rahmat. Rezeki dan rahmat-Nya yang bersifat umum tetap melimpah kepada mereka, kendati mereka durhaka karena Allah Maharahman. A l la h pu n menega sk a n da la m ayat-ayat-Nya, yang bertobat dari kemusyrik­an akan diampuni Allah dan dihapus semua dosa-dosa yang telah dilakukannya sebelum bertobat itu. Adapun perintah memerangi dan melawan atau membunuh bukan ditujukan kepada seluruh kaum musyrik, melainkan hanya kepada mereka yang membatalkan perjanjian secara sepihak serta menganiaya atau memerangi kaum muslimin. Allah menuliskan dalam Ayat 7, “Selama mereka berlaku lurus ter­ hadapmu, hendaklah kamu berlaku lurus terhadap mereka.” Pada Ayat 6 diterangkan bahwa wajar dan baik memberi perlindungan kepada siapa pun yang teraniaya walaupun berbeda agama dan keyakinan. Bahkan bila yang bersangkutan ingin meninggalkan tempat, hendaknya dia diantar sampai ke tempat yang aman kare­ na dalam ayat juga disebutkan bahwa, “Mereka kaum yang tidak mengetahui.” Namun, perlu diingat, seseorang yang diberi perlindungan tidak boleh dipaksa untuk menganut agama kepercayaan siapa yang melindunginya. Ayat berikutnya berkali-kali meng­ isyaratkan tentang keburukan orang yang fasik. Fasik berarti tidak menepati perjanjian. Dalam Ayat 10, “Mereka tidak memelihara kerabat terhadap orangorang mukmin dan tidak pula mengindahkan perjanjian. Dan mereka itulah orang-orang yang melampaui batas.” Ayat-ayat ini menyiratkan tidak dibenarkan pengkhianatan dan penipuan terhadap siapa pun, karena itu pula wajib menghormati perjanjian dengan siapa pun selama mereka menghormatinya. (R-2)

H. BAMBANG EKA WIJAYA “Tapi terasa aneh juga, ketika ada putra-putri Lampung pergi berjuang ke arena tertinggi dunia, warga Lampung terkesan kurang peduli! Jangankan nyangoni (memberi uang saku), membacakan doa selamat berjuang saja pun tak terdengar! Padahal, untuk bisa lolos kualifikasi Olimpiade itu tak mudah dicapai, hingga jumlah atlet kontingen Indonesia hanya 22 atlet di 8 cabang!” “Sudahlah!” potong Umar. “Tak perlu terlalu melankolis soal perhatian masyarakat daerah Lampung pada atletnya! Nanti kalau pulang bawa medali Olimpiade pasti dielu-elukan juga!” “Berorientasi pada hasil itulah sikap yang tidak tepat!” tegas Amir. “Lebih-lebih di bidang olahraga yang justru amat ditentukan oleh pro­ ses dalam semua dimensinya—aspek teknis, fisik dan mental—dari kegigih­ an berlatih dan dukungan lingkungan,

CMYK

terutama dukungan skala besar masyarakatnya! Pasti beda semangat juang atlet yang diberi dukungan lahir batin warga terdekatnya dengan atlet yang terkesan dibiarkan ngeloyor pergi sendiri! Okelah mereka dilepas Presiden lewat seremoni! Tapi pasti lain kalau mereka dilepas warga kota asalnya, Pringsewu, lalu teman-teman dekatnya mengarak keberangkatan mereka dengan iringan sepeda motor sampai batas kabupaten!” “Acara begitu bisa melelahkan mere­ ka, seperti waktu Timnas PSSI mau tanding final lawan Malaysia dibawa sowan ke rumah ketua umum partai tertentu, mendapat protes keras dari masyarakat nasional!” tukas Umar. “Itu beda, karena kunjungan pemain Timnas PSSI nyata hanya untuk mencapai tujuan terselubung pimpinan PSSI waktu itu!” tegas Amir. “Sedang ini, kalau dilakukan jauh hari

±

sebelum berangkat ke London, bahkan api Olimpiade juga bisa membara di hati warga Lampung—menyulut hati remaja Lampung untuk berprestasi agar bisa menjadi atlet kontingen Indonesia ke Olimpiade berikutnya!” “Memang! Mimpi juga perlu ditabur pada iklim yang tepat!” timpal Umar. “Iklim itulah yang di Lampung kurang berkembang, kecuali sasana angkat besi Pringsewu yang dirintis Imron Rosadi, provinsi ini langka dari pembangunan sarana prasarana olahraga berstandar Olimpiade!” *** Add on: facebook. com/buraslampost

Follow on: @buraslampost

LAMPUNGPOST .COM n Redaksi

(0721) 773888 SMS: 0812 7200 999

±

±

±


Turn static files into dynamic content formats.

Create a flipbook
Issuu converts static files into: digital portfolios, online yearbooks, online catalogs, digital photo albums and more. Sign up and create your flipbook.