±
±
CMYK
±
CMYK Layanan Berlangganan, Iklan & Customer service
TErBIT SEjaK 1974 Harga Eceran Rp. 3000/Eks
24
Sirkulasi: (0721) 788999 Layanan Umum: (0721) 783693 Iklan: (0721) 774111 SMS: 0815 4098 5000
HALAMAN
I
I
DINAMIKA MASYARAKAT LAMPUNG
MINGGU, 22 jaNUarI 2012 No. 12327 TAHUN XXXVII
±
Wawancara. Komandan Brigif 3 Piabung, Kolonel Marinir Hardimo.
9
13
reporter Cilik. Murid SDS Bhakti Ibu, Bakauheni, mewawancarai Kepala BPMPPT Lampung Selatan.
14
Inspirasi. Lewat film dokumenter, SMKN 5 menjadi tenar.
±
Tradisi yang Tak
Tergerus Zaman Di tengah gempuran modernisasi perkotaan, rumah, bendabenda pusaka, dan tradisi adat Lampung yang berusia ratusan tahun masih terawat. Sistem kekerabatan pun tidak tergerus oleh kemajuan zaman.
n LAMPUNG POST/ZAINUDDIN
Di Kelurahan Kedamaian, Tanjungkarang Timur, dijumpai rumah adat Balau yang menyimpan bendabenda pusaka dan tempat bermusyawarah.
±
±
Rajabasa Lama n LAMPUNG POST/HENDRIVAN GUMAY
Nasrun (60) menuruni tangga untuk menyambut tamu di rumahnya, di Jalan Kapten Abdul Haq, Rajabasa, Bandar Lampung. Nasrun adalah generasi kelima yang tinggal di rumah adat yang dibangun sejak 1807.
T
n LAMPUNG POST/ZAINUDDIN
Lamban balak (rumah besar) Kebandaran Marga Olok Gading, yang menjadi pusat adat istiadat Marga Balak Olok Gading, di Negeri Olok Gading, Telukbetung Barat.
Olok Gading
±
Arsitektur tradisional Lampung lainnya dapat ditemukan di Negeri Olok Gading, Telukbetung Barat. Negeri Olok Gading ini termasuk Lampung Pesisir Saibatin. Begitu memasuki Olok Gading kita akan menjumpai jajar an rumah panggung khas Lampung pesisir, di sanalah kita akan melihat Lamban Balak Kebandaran Marga Olok Gading, yang menjadi pusat adat istiadat Marga Balak Olok Gading. Bangunan ini berbahan kayu berjuluk Lamban Balak Kebandaran Marga Balak Lampung Pesisir. Bentuknya sangat unik dan khas dengan siger besar berdiri megah di atas bangunan bagian muka. Sampai sekarang lamban ini ditempati kepala adat Marga Balak secara turuntemurun. Di lamban (rumah) ini ada siger yang berusia ratusan tahun, konon sudah ada sebelum Gunung Krakatau meletus. Selain siger, ada juga keris, pedang, tombak, samurai, kain sarat (kain khas Lampung pesisir seperti tapis), terbangan (alat musik pukul seperti rebana), dan tala (alat musik khas Lampung sejenis kulintang).n
BURAS
D
H. BAMBANG EKA WIJAYA
PKH, BLT Baru yang Kurang Sosialisasi! “PKH—Program Ke luarga Harapan—suatu bantuan langsung tu nai (BLT) buat keluar ga miskin yang telah di lakukan sejak 2011 dan dilanjutkan tahun ini kurang sosialisasi!” ujar Umar. “Kebanya kan keluarga miskin yang amat membutuhkan tidak tahu ada program itu, hingga tak menerima BLT tersebut seka
±
nah berdiri lima IDAK mu i dalam Kuntara keratuan, yaitu dah mene Keratuan Pugung, mui sessat Raja Niti, dise Pemang atau rumah adat butkan di daerah Keratuan gilan, Keratuan Lampung di Ban Dipuncak, Keratu da r La mpu ng. Lampung dahulunya an Balaw, dan Ker Sedikit dari yang pernah berdiri lima atuan Darah Putih tersisa itu berada (Hadikusuma, d i Ke d a m a i a n , keratuan 1989: 47). Keratu Negeri Olok Ga an Balaw, berdiri sejak sebelum Islam ding, dan Rajabasa Lama. masuk di Lampung, yaitu pada masa Di ketiga tempat ini, gempuran Kerajaan Sekala Brak. modernisasi tak bisa meruntuhkan Untuk melihat jejak peninggalan ba ngunan tradisi adat Lampung. keturunan Ratu Dibalau, kita mesti Keberadaan mereka menjadi benteng melintas di Jalan Hayam Wuruk lalu terakhir kemegahan adat asli suku temukan satu gapura cukup megah Lampung di Kota Bandar Lampung. dengan monumen siger sebagai mah Rumah adat, ritual adat, benda kota, dipadu dengan dua payung tiga benda pusaka peninggalan puyang tingkat di kanankiri (kuning dan (nenek moyang, red) mereka dan putih). sistem kekerabatan di ketiga tem Menjorok ke dalam, halaman luas pat itu pun terawat rapi, meskipun dengan paving block menjadi latar umur nya telah ratusan tahun. bertakhtanya rumah adat berjuluk Di Kedamaian, Kecamatan Tan Tatar Intan. Tulisan “Tatar Intan” di jungkarang Timur, komunitas suku bagian atas bangunan dan di pintu Lampung berada di bawah komando gerbang ditegaskan dengan tulisan keturunan Ratu Dibalau, salah satu aksara Lampung. Di seberang Tatar dari lima keratuan di Lampung. Intan terdapat kompleks perumah Prakarsa mendirikan perkampungan an dengan tulisan di pintu masuk di Tiyuh Kedamaian ini terjadi pada “Lamban Sai Ragah”. 1870 oleh Pangeran Raja Saka. Jejakjejak lama adat dan budaya Di dalam Kuntara Raja Niti, yaitu Lampung di wilayah ini mulai terlihat kitab hukum adat Lampung yang kontras sejak beberapa developer peru diperkirakan peninggalan kekuasaan mahan mewah bermunculan. (UDA/D-2) Majapahit di Lampung, disebutkan ULUN LAMPUNG...HLM. 2 di daerah Lampung dahulunya per
Jika di Kedamaian dan Olok Gading lebih kepada adat istiadat Lampung Saibatin yang aristokrat, di Rajabasa Tuha (bersebe lahan dengan Terminal Rajabasa) perkampungan adat istiadat Lampung didominasi oleh Lampung abung dan pubian (pepadun) yang lebih demokratis. Dalam satu riwayat, perpindahan sebagian masyarakat keturunan abung di wilayah Lampung Selatan (sebelum dimekarkan menjadi Kota Tanjungkarang, Telukbetung, Bandar Lampung pada 1982) terjadi sejak 1800an sampai dengan peperangan Raden Intan (Lampung oorlog) pada 18261856. Saat itu, banyak keturunan abung maupun pubian membantu pertahanan Radin Intan dari serangan kompeni Belanda. n
ligus tak tahu cara dan kriterianya untuk bisa mendapatkannya!” “Dalam konferensi pers, Jumat (201), Tim Nasional Percepatan Penanggulangan Kemiskinan (TNP2K) menyatakan PKH yang dibagikan secara BLT tahun ini sebesar Rp1,8 triliun untuk 1,5 juta keluarga miskin, per keluarga menerima Rp1,3 juta hingga Rp2,2 juta!” sambut Amir. “Naik dari 2011 Rp1,6 triliun untuk Rp1,1 juta keluarga!” “Cenderung dilakukannya PKH secara tak terbuka, apa kriteria yang berhak mene rima, jumlah yang diterima tak seragam, menjadi potensi konflik ke depan!” tegas Umar. “BLT 2008 dan 2009 yang dilakukan dengan kriteria penerima jelas berdasar hasil pendataan Badan Pusat Statistik (BPS) yang menjangkau semua yang berhak menerima
CMYK
±
TIDaK TErBIT (2008 sebanyak 19,1 juta keluarga dan 2009 18,2 juta keluarga) dengan jumlah dana penerimaan sama dan merata saja tak luput dari banyak konflik dan beraneka kasus di seantero negeri! Apalagi dalam PKH ini yang menerima cuma sebagian kecil saja dari 18 juta lebih keluarga miskin di Indonesia, ke mungkinan iri dan cemburu dari mayoritas yang tidak menerima mudah terjadi!” “Apalagi kalau dalam pembagian itu diketahui massa penentuan penerimanya diwarnai oleh kepentingan politik, kedekatan nepotisme, atau pendekatan diskriminatif lainnya, potensi konflik terkait nasib mayoritas dari 18 juta lebih keluarga miskin cukup kritis!” timpal Amir. “Bolehlah pada tahun pertama PKH dilakukan secara diamdiam, sembunyi dari keluarga miskin yang tak kebagian. Tapi, selubung kerahasiaan itu
±
takkan bisa terus dipertahankan ketika ketaka dilan di kalangan warga miskin itu berlangsung kian mencolok!” “Selain rawan konflik akibat ketidakadilan da lam penentuan penerima PKH, jumlah bantuan yang tidak sama antarpenerima juga menyulit kan kontrol masyarakat atas pelaksanaannya! Dengan begitu, PKH ini juga rawan penyim pangan!” tukas Umar. “Untuk mengurangi potensi konflik dan penyimpangan itu ke masa depan, layak untuk dipertimbangkan dananya dipakai membangun cluster usaha bersama warga miskin model Kibutz di Israel (dahulu), hingga programnya dinikmati bersama dan secara ekonomi terlembaga berkelanjutan! Jadi jangan cuma bisa mengulang kasus BLT, puluhan triliun dana hanya dikonsumsi bablas masuk kakus!” ***
SEHUBUNGAN dengan Tahun Baru Imlek 2563 yang ditetapkan Pemerintah sebagai hari libur nasional, Lampung Post tidak terbit pada Senin (23-1). Harian ini kembali terbit pada Selasa (24-1). Kepada pembaca dan relasi harap maklum. n Penerbit.
CMYK
±