±
±
CMYK
± facebook.com/lampungpost @lampostonline @buraslampost
I
28 Hlm. rabu 18 febrUARI 2015
TERUJI TEPERCAYA
i TAHUN XL Terbit Sejak 1974 i Rp3000 No. 13407
www.lampost.co
±
略述开放以来的楠榜华文教育 (Bahasa Mandarin di Lampung Pascarefomasi) 公元一九六六年之前,中文教 育在印度尼西亚是开放的,由 于种种因素,导致一九六六年 之后,华文教育面临全面性的 根绝。学校禁止传授中文,街 市不可有中文招牌,中文书刊 更禁止流通。经此变动,印度 尼西亚华文教育史留下了一个 近三十多年的大断层。 九零年代中后期,印中双方的 关系逐渐紧密,尤其台湾与香 港在印度尼西亚的投资项目日 渐增加。当外来华籍人才进驻 国内各大建设,并为国人提 供大量就业机会的同时,我国 缺欠精通中文人才问题逐渐浮 现,于是政府开始放宽政策, 终于在二零零年起解禁华文教 育,不但允许各级学校自由 开启中文课程,并大量地从中 国引进优秀华文教师,更颁定 农历正月初一为国定假日,进 而鼓励国民认识甚至学习中华 文化。政府的这项英明政策,
为印度尼西亚的华文教育发展 史,开启了崭新亮丽的一页! 笔者二零零年开始投入中文教 育。累积三年的家庭教师经验 后,于二零零三年五月成立 了楠榜省第一所私营中文补习 班---汉元中文补习班。从当 年的第一班六名学生开始,至 今十一年,汉元已陆续招收过 近六千名学生。其中近百位从 汉元毕业后,继续前往中国深 造,更有学成回国后,投入楠 榜中文教师行列,为楠榜华文 教育尽一份心力。至今为止, 汉元学子出身,先后参与过楠 榜华文教师行列的已有三十余 人。汉元学生,从前以华裔为 多,近年来,原住民朋友日 渐增加,总数已和华裔学生相 等。今日汉元的教师团队,更 是以原住民居多,可见政府政 策的成功,已经全面影响了社 会各阶层,让越来越多的国民 了解学习中文的重要。
开放以来,楠榜华社积极发展汉 语教育,尤其以福建会馆以及客 属恳亲社为最。福建会馆两位已 经离开我们的诸贤南老师与刘景 裕老师,一直到辞世之前,依旧 亲身 教学!而客属恳亲社的 首席老
师,同时也是楠榜华文教师联 谊会主办人兼第一主席的林志康 老师,时至今日依然以七十多岁 的高龄,不遗余力地每周亲自主 持本地的师资培训工作。这三位 楠榜顶尖的资深教师,可以说为 了楠榜的中文传播,无怨无悔地 奉献了他们的一生。 在三十多年的大断层中,有一小 部分华裔的精英分子,将自己奉 献在楠榜华文大业的延续上,诸
贤南老师(已故),刘景裕老师 (已故),沈凯争老师(已故) ,林志康老师,何桂香老师, 张玉兰老师,林宝莲老师,陈美 玲老师,林华月老师,李金英 老师,以及其他好多好多笔者不 及一一叙述姓名的老师们,在当 时那个不被允许的年代,为了延 续中华文化,为了坚持自己心中 对汉语的那份爱与信念,克服重 重难关,让所有的不可能成为了 可能。在笔者尚未出生的年代, 坚毅不拔地手执教鞭,将中文教 育一路延续至今,是楠榜华社的 榜样与骄傲!欣逢新春佳节,笔 者谨在此代表所有蒙受恩泽的学 子,向老师致上最崇高的敬意! 是您们没让汉语发展在这断层中 消失,是您们在这条走向将来无 限宽广的旅程中,给于了楠榜学 子耀眼的光芒,楠榜汉语发展的 历史上,将永远深深地刻上您们 的名字,我们最亲爱最敬重的老 师!祝老师羊年行大运,健康幸
福长随左右! 感激楠榜邮报近年来一直致力 于中华文化的推展,先后与福 建会馆、客属恳亲社、广肇会 馆、同善寺、楠榜百家姓,以 及楠榜印华文学俱乐部合作, 连续两年发行汉语新闻周报, 更于今(二零一五)年与楠榜 百家姓联合举办楠榜华裔优秀 青年选拔比赛,为弘扬汉族文 化,发挥了承先启后的作用。 楠榜华裔深切期盼,在族群融 合的大道上,能始终成为楠榜 邮报的至交好友,让我们继续 同心合力,携手为我们的民族 与国家创造更美好的未来! 欣逢羊年春节,谨藉春联一 首,恭祝万方万福 国富民殷羊亳挥颂千秋业 年丰人寿燕剪裁成万点春 楠榜汉元中文补习班程国栋
Terjemahan... Hlm. 28
Tionghoa Picu Ekonomi Lampung Banyak etnis Tionghoa di Lampung sudah sangat membaur, bahkan menguasai bahasa etnis lain dan bekerja sama. RUDIYANSYAH
E
±
TNIS Tionghoa memicu perekonomian Lampung. Hal itu terkait peran pada bidang khusus, yakni perdagang an, selain sektor lain seperti politik yang kini terbuka kesempatannya bagi etnis ini. Antropolog dari Universitas Lampung (Unila), Barthoven Vivit Nurdin, mengatakan di Lampung etnis Tionghoa dikenal pandai menyesuaikan diri dengan kondisi masyarakat. “Memang mereka jarang bertani, tetapi mereka jago berdagang,” kata Vivit, ditemui di ruang kerjanya, Selasa (17/2). Kini, ujar dia, peluang etnis Tionghoa untuk turut berkontribusi ke masyarakat makin besar. Sebab, kini telah mendapatkan kesempatan untuk turut serta dalam panggung politik. “Mereka melakukan akulturasi kebudayaan, sehingga menciptakan kebudayaan baru (asimilasi) dalam masyarakat dengan tanpa kendala besar,” kata Vivit. Hal senada dikatakan sosiolog Universitas Bandar Lampung, Agustuti Handayani. Menurutnya, etnis Tionghoa memiliki peran yang kuat dalam pembangunan ekonomi di Lampung. Etnis Tionghoa rata-rata menjadi seorang pengusaha, secara langsung dan tidak langsung menyebabkan perekonomian di Lampung bisa maju.
n LAMPUNG POST/ZAINUDDIN
SAMBUT IMLEK 2015. Pernak-pernik yang dipasang untuk menyambut Imlek 2015 di Wihara Bodhisattva, Jalan Ikan Kembung, Bandar Lampung, Senin (17/2). “Etnis Tionghoa yang ratarata menjadi pengusaha menjamin perekonomian di Lampung,” kata dosen di FISIP UBL itu, melalui teleponnya, tadi malam. Tuti juga menerangkan etnis Tionghoa dengan kebudayaan dan kehidupan sosial yang berbaur mampu bertahan dan menarik perhatian bangsa asing. Sejak zaman Gus Dur, menurut Tuti, banyak hal positif yang bisa dipelajari atau diambil hikmahnya. “Mereka itu bisa mempertahankan kebudayaan sendiri di negeri orang. Perkembangan perizinan terhadap
etnis Tionghoa pun kini makin longgar. Etnis Tionghoa makin
“
Perkembangan perizinan terhadap etnis Tionghoa yang makin longgar membuat mereka makin memacu perekonomian. memacu pembangunan ekonomi dengan segala usaha dan bisnisnya,” katanya.
Penuh Makna Terkait makna perayaan Imlek (Chuxi) atau Sa Cap Me atau Sin Cia, Djohan Suwandi Wangsa mengatakan etnis ini menyambutnya dengan penuh optimistis, seperti tradisi etnis lainnya, hari raya keagamaan menjadi momentum silaturahmi. “Acara makan besar bersama keluarga di malam Tahun Baru adalah kewajiban,” kata Djohan, yang berprofesi sebagai pengacara itu, saat ditemui di Wihara Thay Hin Bio, kemarin. Salah seorang warga etnis Tionghoa lainnya, Junaidi Susanto alias Ayung, menjadi-
±
TAJUK
共创楠榜荣景
(Membangun Lampung dalam Perbedaan) KEBIJAKAN humanis yang dilakukan Presiden ke-4 RI Abdurrahman Wahid memberikan dampak luar biasa bagi etnis Tionghoa di Indonesia. Gus Dur mengeluarkan Peraturan Presiden No. 6/2000 pada 17 Januari 2000. Perpres ini mencabut Inpres No. 14/1967 yang bersifat diskriminatif terhadap etnis Tionghoa. Dengan dicabutnya Inpres tersebut, terbuka jalan etnis Tionghoa mengekspresikan perayaan agama dan adat secara umum. Dilanjutkan Presiden berikutnya Megawati Soekarnoputri mengeluarkan Keppres No. 19 Tahun 2002 yang menetapkan Imlek sebagai hari libur nasional. Apresiasi negara pada perayaan Imlek dan berbagai pernik khas Tionghoa lain memberikan warna-warni bagi bangsa Indonesia. Tak hanya kekayaan seni dan budaya, tapi juga peran di pemerintahan. Kini, tidak sedikit etnis Tionghoa yang duduk di kursi legislatif bahkan menjadi kepala daerah. Keterbukaan dan demokratisasi di dunia politik memberikan kesempatan luas bagi warga keturunan Tionghoa berperan serta membangun daerah dan bangsa. Bahkan, secara kuantitas, jumlah calon legislatif Tionghoa pada Pemilu 2014 lalu meningkat dua kali lipat dibandingkan Pemilu 2009. Forum Demokrasi Kebangsaan mencatat pada Pemilu 2009 caleg Tionghoa hanya 150 orang, sedangkan pada 2014 mencapai 350 orang di seluruh Indonesia. Sebagai warga keturunan, keberadaan mereka sebagai anggota legislatif maupun di pemerintahan tidak sekadar mewakili etnis, tetapi juga harus bisa menjadi warga Indonesia, dan warga Lampung pada khususnya. Dengan menjadi warga Indonesia seutuhnya, mereka dituntut bisa memberikan kontribusi nyata dalam memajukan daerah. Bekerja sama serta bahu-membahu bersama seluruh masyarakat lainnya. Kehadiran mereka di dunia politik dan pemerintahan pun perlahan mengikis anggapan Tionghoa sebagai penguasa ekonomi di negeri ini. Mengingat di era Orde Baru lalu mayoritas di antara mereka berprofesi sebagai pedagang, pebisnis, dan pengusaha. Keberadaan warga Tionghoa di pemerintahan hendaknya juga bisa menjadi menularkan sikap rajin, ulet, pekerja keras, dan pantang menyerah yang membudaya dalam diri mereka. Dengan saling bahu-membahu niscaya mendorong percepatan pembangunan daerah. Era reformasi memang memberikan suasana baru bagi etnis Tionghoa. Tak ada lagi pemaksaan bagi mereka melakukan asimilasi. Mereka dipersilakan memelihara budaya dan identitas etnik, tapi diharapkan lebih membaur ke dalam masyarakat Indonesia yang lebih besar. Pembauran dan saling bekerja sama ini hendaknya bukan sekadar perwujudan toleransi, melainkan harus ada rasa saling memiliki bahwa etnis Tionghoa menjadi bagian tak terpisahkan dari NKRI. Dengan menjaga rasa memiliki ini akan mendorong suku Tionghoa bekerja untuk menjadikan Lampung dan Indonesia lebih baik. n
±
kan perayaan itu sebagai ajang silaturahmi. Walau di rumahnya yang berdinding bilik, dua belas keluarga akan berkumpul pada malam perayaan Imlek. “Tidak ada persiapan khusus, kami hanya melakukan ibadah pada satu minggu sebelum Sin Cia untuk mengenang dan mendokakan para leluhur, ibadah yang selalu kami lakukan sebelum perayaan Sin Cia,” ujar Ayung, yang sehari-hari bekerja sebagai sopir itu. Gong Xi Fat Chai. (BOY/U1) rudiyansyah@lampungpost.co.id
edisi imlek Hlm. 21—28
Sekopong, Selter Nelayan Labuhanmaringgai ±
TIDAK TERBIT SEHUBUNGAN dengan peringatan Tahun Baru Imlek 2566 yang ditetapkan Pemerintah sebagai hari libur nasional, Lampung Post tidak terbit pada Kamis (19/2). Harian ini akan terbit kembali pada Jumat (20/2). Anda masih dapat mengikuti berita-berita aktual melalui lampost.co dan radio SAI 100 FM. Kepada pembaca dan relasi harap maklum. n Penerbit
±
CMYK
DI lepas pantai Laut Jawa, gundukan pasir seluas dua kali lapangan sepak bola itu seperti yatim piatu, tak bertetangga. Dari speed boat yang dikemudiakan Kelvin (40), angin yang menyapu air biru di samudera itu membuat warna-warni tenda-tenda nelayan yang didirikan selayaknya kemah pramuka, timbul tenggelam. Garis datar putih di atas permukaan yang terbentuk dari buih percik alum yang menggulung adalah rima yang membuat pemandangan begitu dinamis. “Ngeri juga, ya ombaknya. Pulau Sekopong itu jadi seperti mainan puteran di pasar malem,” kata seorang penumpang perahu cepat yang baru pertama kali akan berkunjung ke pulau itu, Sabtu (14/2). Spekta pulau itu sesungguhnya sangat menarik sebagai destinasi wisata. Namun, keindahan dan lokasinya yang strategis telah “dicup” oleh nelayan di
seputaran Labuhanmaringgai, Lampung Timur. Mereka menggunakan pulau plontos berpasir putih itu sebagai tempat truka, pemberhentian sementara hasil tangkapan ikan untuk diolah menjadi ikan asin. Menumpang speed boat yang dicarter nelayan untuk berbelanja kebutuhan pokok selama di Sekopong, Lampung Post mengunjungi pulau eksotis itu, Sabtu (14/2). Dari dermaga sungai Desa Margasari, perahu bermesin besar itu melaju cepat membelah air sungai menuju muara Kualapenet yang ber hadapan dengan perairan lepas Laut Jawa. Tepat di bibir pantai dekat Tempat Pelelangan Ikan (TPI), perahu cepat berwarna hijau tanpa atap itu berhenti menghampiri empat penumpang. Bahan makanan, seperti beras, sayuran, minyak goreng, air mineral, hingga gula-kopi menjadi bawaan utama. Selebihnya,
±
ada alat-alat pendukung, seperti tabung elpiji, lampung, dan senter ikut naik. Siap. Dengan terampil, Kelvin, sang nakhoda, menghidupkan mesin berkekuatan 40 pk yang terpasang di parahunya itu. Berikutnya, seiring deru mesin yang menggaung, sampan besar itu melaju, menerjang ombak hingga bagian depan motor laut itu seperti berlompat-lompatan. Selama satu setengah jam, perjalanan mendebarkan itu bisa terobati dengan memandang ke arah darat. Pohonpohon mangrove yang masuk wilayah lindung Taman Nasional Way Kambas tampak lestari. Di sisi lain, pantai berpasir putih tampak seperti garis putih yang membatasi warna biru air laut dengan warna hijau tetumbuhan di hutan pe rawan itu. (R6) n Agus Susanto
n BERSAMBUNG ke Hlm. 5
±
SELURUH karyawan Lampung Post mengucapkan Selamat Tahun Baru Imlek. Semoga di tahun kambing ini akan mendapatkan segala kebaikan, kesenangan, dan kebahagiaan bagi masyarakat Tionghoa di Lampung. (Han Yuan Cheng Guo Dong)
±