RECYCLED
FOREST STEWARDSHIP COUNCIL
TOTAL CHLORINE FREE
Untuk karya video, silahkan berkunjung: www.vimeo.com/74865492 For video please visit: www.vimeo.com/74865492
Festival Film
Iklim. Budaya. Perubahan. Perubahan iklim telah menjadi topik yang selalu ada di berbagai media massa. Bermacam-macam sudut pandang telah digunakan dengan satu tujuan yang sama yaitu membangkitkan kesadaran manusia bahwa saat ini bumi tempat kita hidup menanggung beban sangat berat yang akan berdampak kepada kehidupan manusia itu sendiri. Tema-tema spesifik dari mulai efek rumah kaca yang menyebabkan terjadinya kerusakan lapisan atmosfer, ketersediaan energi, kenaikan harga pangan, bencana alam ekstrem yang semakin sulit diprediksi sampai kesulitan mendapatkan air bersih adalah beberapa contoh pengaruh perubahan iklim yang telah banyak diangkat sebagai tema tulisan, kampanye dan gerakan politis seputar lingkungan hidup lainnya. Divisi perfilman Goethe-Institut melalui kantor pusatnya di Munich melihat potensi film sebagai salah satu media pembelajaran dan hiburan untuk membentuk kesadaran lingkungan hidup yang lebih bertanggung jawab. Dalam sebuah paket film berjudul Klima.Kultur.Wandel. (Iklim.Budaya.Perubahan.) dirangkumlah enam film panjang dan tujuh film pendek bertema lingkungan hidup dan aspek-aspek sosial budayanya. Dari DVD tersebut kami memilih delapan film yang akan ditontonkan pada film festival dalam rangka Climate Art Festival. “Was Tust Du Eingentlich?“ – “Apa yang sebenarnya kau lakukan?“ Negara : Jerman, 2008; Sutradara: Katrin Rothe Produksi : ZDF Durasi : 2,45 menit Sinopsis: Film animasi pendek ini mempresentasikan kumpulan pernyataan mengenai pertanyaan “Apa yang kau lakukan terhadap perubahan iklim?” Jelas sekali perubahan iklim adalah sesuatu yang disadari banyak orang. Tetapi, dari wawancara juga terlihat bahwa kebanyakan tak tahu bagaimana jalan keluarnya. Muncul pertanyaan: Apa yang dapat saya lakukan terhadap perubahan iklim? “Menschen Träume Taten” – “Manusia Mimpi Perbuatan“ Negara : Jerman 2007; Sutradara: Andreas Stiglmayer Produksi : Stiglmayr Film Durasi : 90 menit Sinopsis: Provinsi Jerman Timur di tahun 90an. Satu grup terdiri dari sekitar 120 orang mendirikan pemukiman ekologis yang dikelola sendiri bernama “Sieben Linden“. Didorong oleh utopia mengenai satu kehidupan yang bertanggung jawab dan tak merugikan lingkungan, mereka membangun satu desa mini yang di dalamnya semua bidang kehidupan ditata dengan baik selaras dengan alam. Dalam hal ini mereka diperhadapkan bukan hanya dengan masalah organisasi dan keuangan saja, tapi terutama kesulitan sosial. Karena keseimbangan antara kebutuhan masing-masing orang dan kepentingan kehidupan berkelompok harus diolah terus menerus. Walau demikian sebagian besar penduduk pemukiman tersebut sudah puas dengan bentuk kehidupan yang mereka bangun itu. Mereka memanfaatkan seluruh tenaga untuk merealisasikan impian mereka. https://www.youtube.com/watch?v=cJFc_XK7grQ “Wenn der Eisberg kalbt“ – “Kalau Gunung Es Mencair“ Negara : Jerman 2002; Sutradara: Sylvie Hohlbaum Produksi : HfG Offenbach Durasi : 6 menit Sinopsis: Manfred Binder ialah seorang “Penemu“ di propinsi Hessen. Buat Manfred kiamat yang disebabkan oleh perubahan iklim hanyalah masalah waktu saja. Pemecahannya untuk menyelamatkan manusia setelah naiknya permukaan air laut ialah membuat “kapsul penyelamatan“ raksasa, yang berenang di lautan... https://www.youtube.com/watch?v=Ci01Gpkexrk
“Über Wasser“ – “Tentang Air” Negara : Austria/Luxemburg 2007; Sutradara: Udo Maurer Produksi : Lotus-Film (A) dan Samsa Film (L) Durasi : 82 menit Sinopsis: Air merupakan sumber paling penting untuk kehidupan manusia. Tapi sayang semakin sulit mendapatkan air bersih. Melalui perubahan iklim masalah air di banyak bagian dunia semakin sulit. Dalam tiga episode hasil pengamatan intensif si pembuat film, diperlihatkan dalam film ini bagaimana manusia berkonfrontasi dengan fenomena berbeda seperti musim kemarau, banjir dan pencemaran air minum. Di Bangladesh rumah-rumah dijadikan kapal, di Kazakhstan desa-desa nelayan berubah menjadi pantai setelah laut aral menghilang; di kawasan kumuh Nairobi air minum menjadi barang dan menjadi masalah hidup dan mati. Di samping nasib individual, film ini juga membuka satu hal lagi: akibat dramatis dari perubahan iklim justru terjadi di negara-negara yang sumbangsihnya terhadap kerusakan iklim kecil sekali. https://www.youtube.com/watch?v=tseplRljmP8 “Die Konsequenz” – “Konsekuensi” Negara : Jerman Timur 1986; Sutradara: Klaus Georgi Produksi : DEFA-Studio für Trickfilme; Durasi : 2 menit Sinopsis: Para penonton di bioskop memandang terpaku pada layar: di depan pintu kereta mobil-mobil berhenti dengan knalpot yang menyedihkan. Orang yang berdiri di belakang batuk, binatang-binatang di hutan batuk, hutan batuk, bumi pun batuk. Film selesai, para penonton bertepuk tangan dan bergegas keluar – ke mobil mereka masingmasing. Ketidakselarasan antara apa yang diketahui dan tingkah laku, dipresentasikan dalam waktu dua menit saja. “Age of Stupid“ Negara : Inggris 2009; Sutradara: Franny Armstrong Produksi : Spanner Films Durasi : 92 menit Sinopsis: Tahun 2055 bencana karena perubahan iklim memusnahkan manusia. Di tengah-tengah lautan berdiri “Arsip” terakhir peradaban manusia. Satu-satunya pegawai yang tertinggal (Pete Postlethwaite) memandang kembali pada berita di permulaan abad ke21, ketika masih ada cara untuk menghindari bencana ini. Film ini menghubungkan tingkat bercerita fiksi dengan elemen-elemen dokumenter, di mana dia menjiplak arah dari bencana ekologis ini dari perspektif masa depan. Di atas semuanya ada satu pertanyaan: Kenapa kita tak menangani nasib kita selama kita masih punya kemungkinan menanganinya? Dalam hal ini tidak hanya kaitan-kaitan perubahan iklim saja dipaparkan, melainkan juga penghalang-penghalang, baik secara individual maupun budaya yang membuat penanganan masalah ini menjadi sulit. https://www.youtube.com/watch?v=DZjsJdokC0s “Der Kreis“ – “Lingkaran“ Negara : Jerman Timur 1988; Sutradara: Klaus Georgi Produksi : DEFA-Studio für Trickfilme Durasi : 3:25 menit Sinopsis: Sebuah perusahan raksasa mengeluarkan asap hitam dari cerobong asapnya yang tak terhitung jumlahnya. Orangorang di sekitar tempat itu harus pakai masker. Pabrik itu bekerja tanpa henti. Mesin demi mesin berjejer dan terus bekerja. Semua mesin itu memproduksi masker.
“Recipes for Disaster“ Negara : Finnlandia 2008; Sutradara: John Webster Produksi : Magic Hour Films ApS Durasi : 85 menit Sinopsis: Bagaimana seseorang bisa mengatasi masalah lingkungan, itulah yang digumuli juga oleh sutradara film John Webster. Dalam filmnya ini dia membuat percobaan sendiri, bagaimana gaya hidup yang miskin CO2. Lebih dari setahun dia dan keluarganya hidup selaras dengan lingkungan: mereka menolak menggunakan mobil, listrik atau barang-barang plastik dan juga menganti makanan mereka dengan produk lokal. Walau menghadapi banyak halangan dan perlawanan tapi mereka tetap jalan terus karena mereka juga merasa kebebasan baru – film ini menceritakan semua pergumulan ini dengan cara yang jenaka tapi otentik. Di film ini dia tidak hanya memperlihatkan ketidakselarasan yang tebuka antara kenyataan masa kini dan gaya hidup masa depan, melainkan juga adanya kualitas hidup yang lebih baik yang tersembunyi dalam perubahan. Dari memiliki menuju eksistensi. https://www.youtube.com/watch?v=q9ecxtr_8b4
Film Festival
Climate. Culture. Change. Climate change has become an issue that we can find in a all kind of media all the time. Various view points have been used with the same goal of raising the awareness that the current human world in which we live is very heavy burdened and will have an impact on human life itself. Specific themes ranging from greenhouse effect that causes damage to the atmosphere, energy security, rising food prices, extreme natural disasters which are more and more difficult to predict and also trouble getting clean water are some examples for the inuence of climate change which has been appointed in many writings, campaigning and political movements which are based on environmental issues. Goethe-Instituts film division through its headquarters in Munich saw the potential of film as a fun and educational medium to create awareness and environmental responsibility. The film-package called Klima.Kultur.Wandel. (Climate. Culture. Change.) consists of six feature-length films and seven short films regarding environmental and socio-cultural aspects. From this DVD Package we selected eight movies which were shown in the Film Festival during the Climate Art Festival. Was Tust Du Eigentlich? / What Are You Actually Doing? Katrin Rothe | Germany | 2008 | 2:45 min This short animated film presents an assortment of answers to the question, “What are you doing to combat climate change?” It becomes apparent that the majority of us are aware of climate change, but the interviews reveal our helplessness when it comes to finding solutions. The question then naturally poses itself, “What can I really do to combat climate change?” Menschen – Träume – Taten / People – Dreams – Actions Andreas Stiglmayr | Germany | 2007 | 90 min The East German countryside in the 1990s: a group of around 120 people set up “Sieben Linden”, an autonomous eco-settlement. Spurred on by the utopia of an independent and environmentally sustainable way of life, they build a mini-village for themselves that satisfies all of life's needs in harmony with nature. During the process, they are confronted with organizational, financial and above all, with social difficulties. Finding the balance between individual wants and group needs often requires tough decisions. Nonetheless, most of the settlement's inhabitants are no longer able to imagine any other way of life. They derive great strength from making their dream a reality. Wenn der Eisberg kalbt / When the Iceberg melts Sylvie Hohlbaum, Gregor Schubert | Germany | 2002 | 6 min Manfred Binder is an 'inventor' in the Hesse countryside. As he sees it, it is only a matter of time before climate change brings about the end of the world. His solution for saving humankind in the face of rising sea levels is to create a gargantuan 'survival capsule' which will oat on the world's oceans. Über Wasser / About Water Udo Maurer | Austria/Luxembourg | 2007 | 82 min Without water, mankind could not survive. However, access to clean water is growing increasingly difficult. As a result of climate change, water-related problems are becoming increasingly severe in many corners of the world. In three closely followed episodes, the film shows people confronted with three contrasting phenomena - drought, ood and drinking-water pollution. In Bangladesh, houses are converted to boats; when the Aral Sea dries up in Kazakhstan, whole fishing villages suddenly find themselves stranded in a desert; while in the Nairobi slums, drinking water becomes a commodity and a matter of life and death. In addition to portraying these individual fates, the film makes one thing very clear: the regions where the consequences of climate change are most dramatic are those which contributed least to the problem.
Konsequenz / Consequence Klaus Georgi | GDR | 1986 | 2 min A cinema audience stares spellbound at the screen. Cars come to a halt at a railway crossing, their exhaust pipes fuming. The drivers cough, the forest creatures cough, the forest itself coughs, and so does the planet. The movie comes to an end, the audience applauds and they all depart – in their cars. The discrepancy between knowledge and action, presented in two minutes. The Age of Stupid Franny Armstrong | UK | 2009 | 92 min In the year 2055, climate change has almost entirely humankind. In the middle of the ocean lies the last “'repository” of human civilisation. Its only surviving member of staff (Pete Postlethwaite) looks over old footage from the beginning of the 21st century, back when it was still possible to prevent the catastrophe. This film combines a fictional narrative with documentary elements, retracing the path of ecological catastrophe from a future perspective. The pressing question remains, why didn't we take our fate into our own hands while we still had the chance? This lays bare the interconnectedness of climate change, exposing the cultural as well as individual hurdles that stand in the way of immediate action. Der Kreis / The Circle Klaus Georgi | GDR | 1988 | 3:25 min Huge black clouds of smoke are pumped out of the chimneys of an enormous manufacturing plant. The nearby inhabitants are forced to wear protective masks. The factory operates non-stop. Row upon row of machines, all producing the same thing: protective masks. Recipes for Disaster John Webster | Finland | 2008 | 85 min Filmmaker John Webster likewise focuses on the question of how we, as individuals, can combat climate change. Through his film, he allows us to participate in his efforts to lead a low-carbon lifestyle. Over the course of one year, he and his family attempt to reduce their ecological 'footprint' to a globally acceptable level by taking a variety of measures. They avoid using the car, electricity and anything made of plastic, and radically change their diet, eating only local products. Humorous and convincing, this film depicts the daily obstacles and adversities, as well as the newfound freedoms, which they encounter. It shows not only the obvious disparity between our existing lifestyle and a sustainable one but also that these changes lead to an improved quality of life. A journey from self-interest to self-awareness.
Diskusi
Hutan di Titik Nol dan Tanggung Jawab Kita Sangkring Art Space | 7 Oktober 2013 | pukul 17.00 WIB-Selesai
Dampak dan mitigasi perubahan iklim di masyarakat urban Diskusi ini dilakukan sebagai satu bagian dari Climate Art Festival pada 7 Oktober selama satu hari dan menanggapi topik yang disajikan dalam pameran dan festival film. Tujuannya adalah untuk mendorong kesadaran masyarakat tentang isu-isu perubahan iklim (baik dalam mitigasi dan tindakan adaptasi) melalui proses yang melibatkan komunitas yang dipimpin oleh pembicara yang memberikan informasi dan mengajukan pertanyaanpertanyaan kunci (sesi input) sebagai bagian integral dari workshop ini. Itu mencakup sesi tanya jawab (Sesi Q dan A) untuk mengakhiri reeksi dan dialog yang dihasilkan dari festival film dan stimulus seni, dan sesi masukan dari speaker. Sesi input sekitar 20 menit untuk setiap pembicara. Moderator dalam diskusi ini adalah jurnalis Bambang Muryanto Bagus Kusuma Adji dari The Jakarta Post. Pembicara: Tumpak Winmark Hutabarat Eksekutif Nasional WALHI ( Wahana Lingkungan Hidup) Mina Susana Setra AMAN (Aliansi Masyarakat Adat Nusantara) Moh. Nurhadi GIZ ID (Deutsche Gesellschaft für Internationale Zusammenarbeit)
Discussion
Ground Zero Forest And Our Responsibility Sangkring Art Space | Oct 7th 2013 | 5pm - Finish
Impact and mitigation of climate change in urban society This workshop took place during the Climate Art Festival on the 7th of October. The discussion responded to the topics being presented within both the Climate Art exhibition and the Climate film festival. The aim is to foster community awareness of climate change issues (both in mitigation and adaptation actions) through a process of community-involved reection led by speakers who provide information and pose key questions (the input sessions) as an integral part of this workshop. This included a question and answers (Q and A) session to cap off the reection and dialogue generated in the film and art stimulus, and input sessions from speakers. The discussion was moderated by Bambang Muryanto, Bagus Kusuma Adji, a journalist from the daily The Jakarta Post. Speaker: Tumpak Winmark Hutabarat Eksekutif Nasional WALHI (Wahana Lingkungan Hidup) Mina Susana Setra AMAN (Aliansi Masyarakat Adat Nusantara) Moh. Nurhadi GIZ ID (Deutsche Gesellschaft für Internationale Zusammenarbeit)
Workshop Kebun Perkotaan Permakultur Sebagai Prinsip Dasar oleh Yolandri Simanjuntak
Dewasa ini kita tidak dapat menghindar dari kenyataan yang menghadapkan kita pada berbagai krisis. Baik itu krisis sosial; di mana masyarakat semakin individualis, seringkali dengan tetangga sendiri pun tidak lagi saling mengenal. Krisis pangan; kelaparan semakin merajalela di mana-mana, termasuk Indonesia. Krisis energi, cadangan bahan bakar fosil yang kita miliki semakin menipis kian hari. Tak dapat kita pungkiri bahwa krisis-krisis lainnya pun sudah menanti di depan apabila kita tetap mempertahankan pola yang sekarang. Isu lingkungan menjadi hal yang hangat dibicarakan saat ini. Apalagi dengan maraknya pembakaran hutan, eksploitasi sumber daya alam, hingga krisis dan naiknya harga bahan pangan di pasar. Untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga sendiri pun kita seringkali kesulitan. Terbukti dari langkanya kacang kedelai sebagai bahan dasar pembuatan tempe, mahalnya harga bawang, beras, dan kebutuhan pangan lainnya. Apa yang membuat hal tersebut terjadi? Mari kita lihat kembali ke sejarah kita. Tahun 1970-an, pada masa Rencana Pembangunan Lima Tahun Pertama oleh pemerintahan RI kala itu, diterapkanlah reformasi pada sektor pertanian untuk memenuhi kebutuhan dalam masalah produksi pangan di Indonesia. Masa tersebut disebut dengan Revolusi Hijau, di mana para petani didorong untuk meningkatkan penggunaan pupuk kimia. Awalnya revolusi hijau berhasil dijalankan di Indonesia. Indonesia hampir dapat memenuhi kebutuhan pangannya sendiri, terutama beras. Namun, setelah tahun 1984, produksi beras di Indonesia kembali berkurang karena mewabahnya hama padi yang resisten terhadap pestisida. Pemerintah kemudian mulai mencari solusi salah satunya dengan melarang penggunaan jenis pestisida tertentu dan menerapkan sistem pengendalian hama. Namun hal tersebut sudah terlambat karena tanah dan air telah teracuni oleh pupuk kimia dalam skala besar. Adalah permakultur, atau permanen agrikultur, atau permanen kultur (budaya permanen), yaitu prinsip tradisional yang digunakan dalam praktek berkehidupan sehari-hari (manusia, pertanian, peternakan, perikanan) dengan mencoba memanfaatkan segala potensi yang ada di sekitar dengan cara saling mengintegrasikannya. Prinsip permakultur bekerjasama dengan alam sehingga kita tidak perlu mengeluarkan energi berlebih, hanya bagaimana kita bisa mendesain sedemikian rupa agar terbentuk siklus perputaran energi sehingga tidak ada energi yang terbuang dari segala proses yang terintegrasi tersebut. Sistem ini juga yang dianggap dapat menjawab permasalahan kesulitan kita mendapatkan akses kepada kebutuhan pangan kita. Dengan memakai sistem permakultur, kita juga tidak dibatasi dengan keadaan lingkungan yang kita miliki, namun bagaimana kita bisa bekerjasama dengan keadaan tersebut untuk saling mendukung. Pemanfaatan sampah-sampah dapur, kotoran ternak dan manusia, sisa pembuangan air rumah tangga, hal-hal tersebut bisa digunakan untuk mendukung sistem tersebut. Sistem permakultur juga dilaksanakan guna mengembalikan keadaan alam pelan-pelan ke keadaan semula. Berangkat dari kenyataan tersebut, workshop kali ini ingin mengajak warga di Kampung Ledok Tukangan, di bantaran Kali Code, terutama anak-anak muda, untuk belajar bersama mengenai prinsip-prinsip pada permakultur dan bagaimana memanfaatkan lahan terbatas untuk berkebun. Dengan dibantu oleh teman-teman dari gerakan PermablitzJogja, workshop kali ini akan fokus pada pengenalan prinsip-prinsip permakultur yang dipraktekkan pada kebun vertikal. Mengapa kebun vertikal? Kembali lagi pada lokasi workshop sendiri di sebuah pemukiman padat penduduk di tengah-tengah kota Jogjakarta yang pastilah memiliki lahan terbatas untuk bercocok tanam, dan target pesertanya berasal dari kampung tersebut. Harapannya, peserta workshop kemudian dapat menjadi pengawal kebun dengan sistem permakultur di kampung Ledok Tukangan. Kembali menyebarkan ilmu dan ide mengenai permakultur kepada warga di kampung Ledok Tukangan dan kepada orang lain. Warga Ledok Tukangan dapat memiliki kebun vertikal di rumah untuk memenuhi kebutuhan pangan rumah tangga, dan saling bekerjasama pula dengan tetangga untuk bertukar hasil panen. Selain itu, pada workshop nanti juga akan ada satu hari khusus untuk melaksanakan ďŹ eldtrip bersama peserta workshop ke Bumi Langit Institute di Imogiri dan kebun pangan rumah tangga milik Paul Daley di Nitiprayan. Tujuan berkunjung ke Bumi Langit adalah agar peserta dapat melihat bagaimana sistem permakultur diterapkan dalam skala besar, yaitu pengintgrasian antara rumah tangga, peternakan, perairan, perikanan, dan pertanian. Sedangkan di rumah Paul Daley, peserta dapat melihat kebun skala rumah tangga yang dikelola dengan sistem permakultur dan berintegrasi juga dengan para tetangga.
Urban Gardening Workshop Permaculture as the Basic Principle by Yolandri Simanjuntak
These days, we can't escape from the crisis confronting us. Whether these be a social crisis; an increasingly individualistic and consumption-orientated society. Neighbours often don't even know each other anymore. There is a food crisis; rampant hunger spreading worldwide, including Indonesia – despite food production being adequate worldwide; distribution and access is inequitable. There is an energy crisis, with fossil fuel stores depleted extensively every day. We cannot deny that other crisis are looming in our future, if we are unable to even sustainably maintain the current patterns. Environmental issues are a common topic of discussion nowadays: in Indonesia, the rise of forest fires, the exploitation of natural resources, to the crisis and rising food prices of food in the marketplace. Meeting household needs seems increasingly difficult. The shortage of local soy beans for making tempeh, for example, and the high price of onions, rice and other staple food for Indonesians. What brought us here? Let's look back at our history. In the 1970s, during the first Five-Year Development Plan by the Indonesian government at that time, reforms were applied to the agricultural sector in order to meet the needs of food production in Indonesia. This was part of the Green Revolution movement, in which farmers were encouraged to increase industrial farming practices, increasing the use of chemical fertilisers and other industrial farming practice measures. However, at this time, Indonesia was producing almost enough food to feed the nation. Yet, in 1984, rice production in Indonesia reduced drastically due to pesticide-resistant rice pest outbreaks. In response, the government searched for a solution, by banning the use of certain pesticides and implementing pest management. But large-scale soil and water poisoning had already occurred due to the widespread use of chemical fertilisers and pesticides. In this Festival, we have shared permaculture techniques as a method of food production that is environmentally sustainable and effective. Permaculture (or 'permanent agriculture'/'permanent culture') uses agricultural and design principles based on traditional practices, used in everyday life (human, agricultural, livestock and fisheries) through using methods that attempt to take advantage of and integrate all the conditions and elements potentially available and in existence around us. Permaculture principles collaborate with natural elements, so that they do not require expending excess energy. The basic concept to use design in such a way that an 'energy turn around cycle' is created so that no energy is wasted from an integrated system. The system also considers the difficulty of providing an adequate food supply to satisfy needs, as a focus. By using permaculture systems, we a re not limited to the state of the environment that we have, but rather how we can work with the current state to both support each other, and to enhance the current environmental state. The outgoing waste of households, for example, the utilisation of kitchen waste, human and animal manure, household waste water management, can all be used as inputs that are integrated into and support the system. The permaculture system, when implemented, can restore the natural state slowly to an ecologically (and socially) sustainable state. Permaculture principles collaborate with nature so that we do not need to waste or expend excess energy, or depend upon external inputs that cause harm or environmental destruction (e.g. industrial chemical fertilisers and pesticides). Based upon this premise, the permaculture workshop for the Climate Art Festival, invited residents (with emphasis on young children) in the Kampung of Ledok Tukangan, on the banks of the river Code. The participants learned together the principles of permaculture, and how to maximise and utilise limited garden space. With the assistance of the Permablitz Jogjakarta movement, the workshop focused on the introduction of permaculture principles and it's practice for vertical gardens. So, why the focus on vertical gardens? The location for the workshop, in Ledok Tukangan Kampung, is a densely populated area in the midst of Jogjakarta that has limited land available for cultivation. The workshop participants were able to become pioneers of gardening with a permaculture system in their Kampung (and hopefully further afield), while the workshop focused on practices that were site-appropriate (as in standing with the broader permaculture principles of being site-specific in design). Residents were taught how to create a vertical garden at home to supplement their household food needs, and also to cooperate with each other (using a
cooperative approach to the gardening) in exchanging crop harvests, tools, seeds and other resources. The residents now hold the knowledge to be able to spread their knowledge and ideas about permaculture to the other residents of the Kampung, as well as to other Kampungs. In addition to the workshop, participants were able to attend a ďŹ eld trip to the Bumi Langit Institute at Imogiri, as well as to the household food garden of Paul Daley in Nitiprayan. At Bumi Langit, participants could see in action how permaculture systems and principles are implemented on a large scale, integrating household(s), livestock, water and water use, ďŹ sheries and agriculture. In the Nitiprayan garden, they could view an urban permaculture system that effectively manages an integrated permaculture system with and between neighbouring households in the area.
9
Menuju Kekuatan Komunitas yang Berkelanjutan oleh Astrid Reza
Perubahan iklim. Kata-kata ini terasa besar dan rumit. Banyak hal yang harus dijabarkan ketika kita mencoba memahami isu perubahan iklim. Sudah terlalu banyak perdebatan dan tawaran solusi mengenai bagaimana kita harus mengatasi perubahan iklim yang berdampak kepada seluruh mahkluk hidup di bumi ini. Namun dari sekian banyak solusi, kebanyakan dari kita tidak mengetahui bagaimana cara yang paling efektif untuk mengatasi perubahan iklim. Atau bahkan yang paling sederhana, dari mana kita akan mulai? Bergerak sebagai sebuah komunitas informal, gerakan Permablitz yang dimulai di Jogjakarta mencoba menjawab beberapa persoalan yang mendasar. Persoalan yang mendasar dari masyarakat urban pada saat ini adalah kehilangan kemampuan untuk memahami proses dari mana makanan kita berasal. Setiap manusia butuh makan, namun saat ini bahkan kita tidak lagi bisa merelasikan proses bagaimana makanan bisa sampai di atas piring kita. Seolah-olah kita semua mengalami amnesia akut dalam proses yang paling dasar dari kehidupan kita sebagai manusia. Kemajuan dan pembangunan telah menghilangkan lahan-lahan agrikultur, sawah-sawah dan kebun-kebun pangan. Hilangnya lahan-lahan hijau ini berkontribusi langsung terhadap perubahan iklim. Selain itu juga gaya hidup semakin tidak sehat dan tergantung pada makanan-makanan siap saji. Penggunaan bahan kimia yang tinggi terhadap bahan pangan dan kebijakan pangan kita cenderung mengimpor dari luar negeri. Kehidupan urban juga memaksa setiap orang menjadi semakin individual dan tidak lagi saling peduli dengan orang lain. Dengan hilangnya budaya pertanian dalam masyarakat yang sebelum agraris, otomatis kebudayaan nenek moyang kita semakin lama semakin terkikis. Pengetahuan dan kebijaksanaan lokal tidak lagi didengarkan dan dianggap penting. Kita tidak lagi menanam makanan kita sendiri, tidak lagi memiliki kebanggaan terhadap khasanah makanan kita dan tidak lagi memahami bagaimana caranya mengolah sendiri pangan kita. Dengan ketergantungan kita yang tinggi terhadap industri dan konsumerisme, kita sebagai bangsa tidak lagi berdaulat atas apa yang kita makan. Paparan di atas terasa menakutkan. Jalan keluar dari persoalan ini seolah terasa sangat jauh. Permablitz mencoba menghadirkan kembali semangat bekerja sama sambil belajar bersama membuat kebun pangan. Gerakan ini mengusung semangat gotong royong dan membangun kembali kekuatan komunitas untuk mengerjakan sesuatu bersama-sama. Selain itu basis dari kegiatan ini adalah kesadaran lingkungan, pangan sehat dan hidup berkelanjutan. Kebanyakan orang merasa mereka tidak memiliki lahan atau tanah untuk berkebun. Dalam kegiatan Permablitz, kita semua dapat belajar bersama-sama mengerjakan sebuah kebun pangan di wilayah urban. Lahan ini bisa dimiliki secara individu ataupun komunitas. Kebanyakan dari orang-orang yang terlibat adalah pemula dan kebanyakan dibesarkan dalam budaya urban. Beberapa orang mungkin untuk pertama kalinya akan merasakan bagaimana pertama kalinya menggunakan cangkul, arit dan sekop. Beberapa orang lainnya akan merasakan bagaimana sebenarnya pengetahuan terpendam yang diwariskan dari orang-orang tua atau kakek-nenek mereka masih memiliki relevansinya dalam proses membuat kebun pangan. Bagaimana pengetahuan-pengetahuan ini menemukan ruang untuk berbagi dan dapat dimanfaatkan bersama. Di momen yang sama selain terkait dengan kegiatan berkebun, sebagian orang dapat terlibat dalam kegiatan memasak bersama. Dalam proses memasak bersama ini kebersamaan dalam mengolah makanan di dapur terasa saling mendekatkan dan hangat. Pepatah mengatakan bahwa dapur adalah jiwa atau api dari rumah. Sedangkan makanan adalah pertukaran kebudayaan yang luar biasa, berbagai macam orang dapat terlibat dan membagi pengetahuan mengenai masakan dari daerah atau kebiasaan/tradisi rumahnya masing-masing. Selain mengenali cara pengolahan makanan yang bisa diambil dari hasil kebun, pengetahuan makanan sehat juga dibagi. Misalnya bagaimana caranya memasak tanpa MSG atau bumbu-bumbu jadi yang mengandung kimia berbahaya. Bagaimana pengetahuan akan bumbu-bumbu tradisional Nusantara yang begitu kaya dapat diaplikasikan dalam masakan. Masih dengan semangat berbagi, setelah proses berkegiatan di kebun seharian, proses makan bersama menjadi penting dalam merajut rasa kebersamaan. Individu-individu yang sebelumnya tidak saling mengenal dapat merasakan kembali kebersamaan sebagai bagian dari kegiatan komunal. Hal ini jarang kita rasakan dalam keseharian kehidupan modern saat ini. Integrasi seluruh kegiatan ini akhirnya menjadi penting dan berjalan
beriringan. Kegiatan Permablitz bersifat sukarela dan mengandalkan kesadaran serta insiatif keterlibatan setiap individu dalam proses pembelajaran bersama. Hal-hal yang dilakukan cukup sederhana. Bagaimana memaksimalkan pengolahan lahan kebun yang terbatas secara kreatif? Bagaimana memaksimalkan pemanfaatan bahan-bahan bekas atau yang tersedia di sekitar? Bagaimana proses penanaman benih dan juga saling bertukar benih? Bagaimana saling berbagi pengalaman mengenai perkembangan kebunnya masing-masing? Bagaimana cara saling mengatasi problem-problem lingkungan sekitar terkait dengan kebun masing-masing? Bagaimana saling membagi pengetahuan mengenai kehidupan yang berkelanjutan dan merubah kebiasaan sehari-hari? Sekian kegiatan terus bergulir dan berkembang. Setiap kebun yang tergarap secara perlahan namun pasti mulai membangkitkan kesadaran dan komitmen yang lebih terhadap lingkungan dalam setiap individu yang terlibat. Pada akhirnya untuk mengatasi isu perubahan iklim, Permablitz mencoba mencari jawabannya dimulai dari halaman rumah kita sendiri. Dengan satu plot kecil tanah kebun atau hanya sekedar pot. Mencoba menanam benih tanaman sekaligus benih kesadaran akan betapa pentingnya mengkreasikan ruang-ruang hijau berkelanjutan dan bermanfaat langsung di dalam kesumpekan kehidupan modern. Dalam atmosďŹ r inilah diharapkan kekuatan komunitas yang berkelanjutan akan semakin berkembang.
Towards Sustainable Community Power by Astrid Reza
Climate change. This phrase seems too heavy and complex. There are many things to be scrutinized while we are trying to understand the issue of climate change. There are too many debates and proposed solutions to address climate change which affects all living things in this earth. Yet, out of the myriad solutions, most of us have no idea which method is the most effective to address the climate change. Or the simplest one, where do we start? Active as an informal community, Permablitz movement which is started in Jogjakarta tries to answer some basic problems. The basic problem from the urban community is that the loss of ability to understand the process of where the food originates. All human needs food, however, we are no longer able to relate the process of how the food can be served on our plates; as if we are suffering from an acute amnesia on the most basic principle of our life as a human. The modernization and development decrease the lands for agricultures, rice fields, and food gardens. The disappearance of green spaces directly contributes to the climate change. So do the unhealthy lifestyle and the dependence to fast-food. The high use of chemical substance to the food and our food policy which allows food imports also contribute to the situation. The urban life also forces the community to be more individualistic and concern less to others. By the disappearance of agriculture in the community which was once an agricultural community, our ancestors' culture automatically fades away. The local knowledge and wisdom is no longer considered as important. We no longer grow our own food, have no pride to the essence of our food, and no longer understand how to manage our own food. With our high dependency to the industry and consumerism, we are no longer a country which has sovereignty upon what we eat. The above explanation is nerve-wrecking. The solution to the problem seems out of reach. Permablitz tries to present the spirit of working and learning together in creating food gardens. This movement is based on the spirit of togetherness and is rebuilding the power of community to do anything together. Besides, the foundation of this movement is the awareness to the environment, healthy food and sustainable living. Most people think that they do not have enough space or land to do gardening. In Permablitz’s activities, we all can learn together to create a food garden within an urban region. This space may belong to an individual or a community. Most participants are newbies and grown within urban culture. Some may even have the activities as their first experience in using spade, sickle, and scoop. Some others will experience the real knowledge of creating food gardens inherited by their parents or grandparents. It is how this knowledge finds a room and can be utilized together. At the same moment, besides gardening, some other participants may involve in cooking activities with the others. In this activity the process of cooking creates togetherness; as it is said by a proverb that the kitchen is the soul or fire of a house. While the food may serve as a great tool for cultural exchange; many kinds of people may involve and share their knowledge on food from their region or their own tradition at home. Besides acknowledging the method to process the food which can be harvested from the food garden, the knowledge of healthy food is also introduced, for example cooking without MSG or fabricated ingredients which contain dangerous chemical substance. It is also about how the knowledge of Indonesia’s traditional spices, which are undoubtedly rich, can be used for the food processing. With the spirit of togetherness, after the one-day activity in the field, the feast becomes an important part to build the community. The individuals who were strangers will experience the togetherness as part of communal activity. This is something that we rarely experience in our modern life nowadays. The integration of these activities, eventually, becomes crucial and works along with one and another.
Permablitz's activities are voluntarily and count on the individuals' awareness as well as their initiatives and involvements in the collaborative learning process. The activities are relatively simple, such as how to creatively maximize the management of limited space, how to maximize used stuff or things surrounding us, how to grow seeds, how to share experiences on the development of each garden, how to collaboratively solve the problems on their environments related to their gardens, how to share their knowledge on sustainable living and change the daily habits. A series of activity has to be maintained and developed. Each garden will gradually increase individual awareness and commitment to the environment. In the end, to address the issues on climate change, Permablitz tries to answer it by starting the activity in our own yard. Using a small piece of land or only a pot, try to plant a seed of tree and awareness on the importance to create sustainable green space which provides direct beneďŹ t in our complex modern life. Within this atmosphere, the power of community is expected to be sustainable and to develop.
Festival Komunitas
Iklim Kita oleh Fitriani Dwi Kurniasih
Ruang publik di kehidupan urban masyarakat perkotaan saat ini merupakan suatu hal yang langka. Pembangunan rumah, gedung dan area perkantoran yang terjadi telah merampas hak bermain anak-anak, berkumpul masyarakat perkotaan dan hanya menyisakan sedikit ruang yang masih mungkin untuk digunakan sebagai sarana hiburan. Semakin minimnya tempat bermain, berkumpul di luar ruang, sebagian besar dari penghuninya yang tinggal di perkotaan hanya tinggal dirumah dan asyik dengan perangkat elektronik seperti komputer, handphone dan televisi sebagai pilihan hiburan mereka. Hal ini berimbas pada kekurangpekaan masyarakat perkotaan terhadap lingkungannya. Berangkat dari kepedulian akan ruang kota yang nyaman, bekerjasama dengan Sanggar Anak Kampung Indonesia; mereka tinggal di kampung Ledok Tukangan kampung di tengah kota, di bantaran sungai Code berusaha membuat hiburan untuk warga kampung kota tanpa meninggalkan kepedulian terhadap lingkungan dengan membuat festival yang diberi nama Festival komunitas "Iklim Kita". Festival bersama komunitas; menyampaikan gagasan mencintai lingkungan yang dikemas dengan seni dan budaya dengan melibatkan beberapa komunitas diantaranya komunitas sepeda, komunitas street art, komunitas daur ulang, komunitas seni dan budaya, komunitas film, komunitas perempuan warga Ledok Tukangan dengan menghadirkan banyak aktivitas.
Community Festival
Our Climate by Fitriani Dwi Kurniasih
Public space in today's urban life is a rare thing. The construction of houses, buildings and office spaces seizes playground for children, places for urban community gatherings and leaves little space for means of entertainment. The smaller the space for playing or gathering outside houses, the more residents who live in cities just stay at home being preoccupied with electronic devices such as computers, mobile phones and televisions as their entertainment options. As a result, urban communities react increasingly insensitive to the environmental issues. Departing from the concern for a comfortable urban space, Climate Art Festival collaborates with Sanggar Anak Kampung Indonesia. The organisation's studio is located in the urban area of Ledok Tukangan in the city center of Jogjakarta, right on the bank of river Code. There the program of “Our Climate Festival” is set to entertain the city residents without neglecting the concern for the environment. A festival together with the community, with the target of conveying the idea of loving the environment while presenting lots of arts and cultural activities and by involving many organisations including bicycles groups, street artists, recycling activists, art and cultural communities, film communities, and women groups from Ledok Tukangan and other parts of Jogjakarta.
Logo Partner: