Radar Banyuwangi | 16 September 2012

Page 1

16 SEPTEMBER

29

TAHUN 2012

Kelopoan, Idola Baru yang Membara BANYUWANGI – Watudodol sudah lama jadi salah satu ikon wisata pantai di Banyuwangi. Namun beberapa tahun terakhir ini, pengunjung Watudodol seolah kian menyusut. Warga lebih menyukai pantai Klopoan di Desa Bangsring, Kecamatan Wongsorejo, yang hanya berjarak sekitar 300 meter sebelah utara Watudodol. Pantai ini tumbuh menjadi idola baru yang makin digemari pengunjung. Tak hanya data pengunjung yang menunjukkan peningkatan dari tahun ke tahun. Jumlah warga yang mengais rezeki dari kawasan pantai Kelopoan Bangsring ini pun semakin banyak. Mulai dari deretan warung, jasa parkir, penjual kerang, jasa penyewaan perahu

Anggaran Wisata Terlalu Kecil

dan sebagainya. Meski demikian, pengelolaan wisata Pantai Kelopoan Bangsring tersebut bukan tanpa masalah. Sejumlah warga dan pemilik warung di pantai tersebut, memprotes Karang Taruna selaku pengelola lokasi wisata tersebut pada 27 Agustus 2012 lalu. Banyak ketidakadilan yang dirasakan oleh warga selaku penjual jasa di tempat wisata tersebut. Soal tarikan dan alur dana, penempatan warung, serta sikap arogansi oknum pengelola, menjadi bahan protes pada pengelola yang dikomandani Muhammad Taufiq ■ Baca Kelopoan...Hal 35

Baca Halaman 35

LAUT BIRU : Fasilitas gedung baru di kawasan Pantai Kelopoan, Desa Bangsring, Kecamatan Wongsorejo, Banyuwangi (kiri). Panorama pantai Kelopoan di Desa Bangsring (bawah).

Perlu Dibentuk BUMD Pariwisata SEMENTARA itu, aksi para pedagang dan warga di sekitar tempat wisata Pantai Kelopoan di Desa Bangsring, Kecamatan Wongsorejo, pada 27 Agustus 2012 lalu, rasanya perlu menjadi perhatian Pemkab Banyuwangi. Bukan lantaran konflik warga versus pengelola wisata yang perlu diperhatikan, tapi soal pengelolaan wisata di Bumi Blambangan. Wilayah Banyuwangi yang secara geografis berada di ujung timur Pulau Jawa ini, dikenal memiliki banyak potensi wisata pantai.

Banyak pula potensi wisata yang menyuguhkan keindahan alam. Bila dicermati, hampir semua lokasi wisata itu bukan sepenuhnya milik Pemkab Banyuwangi. Sebut saja destinasi wisata unggulan segi tiga berlian yakni penyu hijau di Pantai Sukamade, ombak G Land (Pantai Plengkung), dan Kawah Gunung Ijen. Pantai Sukomade di Desa Sarongan, Kecamatan Pesanggaran itu sepenuhnya di bawah kendali Taman Nasional Meru Betiri

(TNMB). Sedangkan Pantai Plengkung masuk wilayah Taman Nasional Alas Purwo (TNAP) ■ Baca Perlu...Hal 35

FOTO-FOTO: GALIH COKRO/RaBa

Ngadat, Diganti Lampu Buatan Sendiri Ratusan Pemohon MLAKU BARENG

Finis di Depan Gesibu BANYUWANGI – Posisi garis start dan juga finis acara Mlaku Bareng Pakde Karwo dan Gus Ipul pada 23 September mendatang sudah ditetapkan. Panitia memilih ruas Jalan Diponegoro depan Gelanggang Seni Budaya (Gesibu) Blambangan sebagai lokasi finis. Sedangkan garis start dipilih ruas Jalan Kartini di depan gedung wanita Paramitha Kencana ■ Baca Finis...Hal 35

FemalE Takut Banjir Keringat BERKERINGAT itu merupakan salah satu ciri tubuh yang sehat. Hal itu merupakan bagian dari proses metabolisme tubuh untuk mengeluarkan zat sisa pembakaran akibat aktivitas tubuh. Namun, tidak semua orang tidak suka dengan kondisi tubuh yang berkeringat. Seperti yang dialami Novia Ayu Lestari. Fotomodel kelahiran 28 November 1995 itu mengaku tidak suka bila tubuhnya berkeringat. Rasa risi dan gerah pun membayangi saat butiran keringat mengalir dari pori-pori kulitnya. “Aku nggak suka keringatan,” akunya. Novia pun kurang menyukai aktivitas berlebihan yang bisa memacu keringat. Termasuk aktivitas olahraga di luar ruangan. Meski demikian, dia tetap melakukan olahraga tertentu seperti jogging dan bulutangkis. “Aku bisanya cuma jogging dan bulutangkis. Selain itu, aku hanya suka nonton,” katanya. (nic/bay) NIKLAAS ANDRIES/RaBa

http://www.radarbanyuwangi.co.id

IMB Ditolak BPPT

BANYUWANGI - Beberapa titik traffic light di Banyuwangi sering ngadat. Akibatnya, arus lalu-lintas menjadi kacau. Lantaran biaya peremajaan lampu lalu-lintas butuh dana besar, Dinas Perhubungan Komunikasi dan Informatika pun menyiasati dengan lampu bikinan sendiri. Seperti yang terjadi di perempatan Bank BNI di Kelurahan Kertosari, Kecamatan Banyuwangi. Pekan lalu, traffic light itu sering padam dan tidak berfungsi. Selain itu, traffic light tersebut sering korslet, sehingga menyala tidak normal. Lampu warna hijau dan merah tidak berfungsi secara normal. “Ada beberapa titik yang sudah kita usulkan agar diremajakan,” ujar Kepala Dinas Perhubungan, Komunikasi, dan Informatika (Dishubkominfo) Agus Siswanto. Agus mengungkapkan, pada tahun 2013 pihaknya mengusulkan peremajaan delapan titik traffic light. Empat titik akan dipasang di Kecamatan Banyuwangi, tiga titik di Kecamatan Genteng dan satu titik di Kecamatan Gambiran. Hanya saja, Agus belum bisa memastikan apakah anggaran APBD 2013 memadai untuk anggaran pengadaan traffic light ■ Baca Ngadat,...Hal 35

PERBAIKAN: Pekerja memasang lampu baru di traffic light perempatan Bank BNI Banyuwangi.

GALIH COKRO/RaBa

BANYUWANGI - Untuk menertibkan penataan bangunan, pemerintah daerah memperketat proses penerbitan Izin Mendirikan Bangunan (IMB) baru. Hanya bangunan yang sudah memenuhi ketentuan yang diterbitkan IMB-nya. Salah satu yang wajib dipenuhi pemohon IMB adalah, gambar bangunan yang akan didirikan. Pemohon sebelum mengajukan IMB, harus mendesain terlebih dahulu bangunan yang akan didirikan dalam bentuk gambar. Selama ini, syarat untuk melampirkan gambar dalam berkas permohonan IMB kurang menjadi perhatian pemohon. Permohonan IMB jarang melampirkan gambar dan menyerahkan pembuatan gambar itu kepada petugas Dinas Pekerjaan Umum Bina Marga, Cipta Karya dan Tata Ruang. Saat ini, praktik seperti itu tidak diperbolehkan lagi. Sebelum mengajukan IMB, pemohon harus terlebih dahulu me-

DOK. RaBa

Abdul Kadir

nyiapkan gambar bangunan yang bakal didirikan. “Kalau tidak ada gambar, kita tidak akan memberikan rekomendasi penerbitan izin IMB,” ujar Plt Kepala Dinas PU Bina Marga, Cipta Karya, Tata Ruang Banyuwangi, Mujiono. Selain harus melampirkan gambar, lanjut Mujiono, pemohon juga harus memperhatikan lokasi bangunan dengan garis sempadan jalan ■

Baca Ratusan...Hal 35

Melihat Proses Pembuatan Kapur Tradisional di Kotakan, Situbondo

Hanya Bekerja bila Ada Pesanan Cuaca yang sangat panas akhir-akhir ini cukup menyiksa warga Kota Santri Situbondo. Namun, kondisi ini justru membuat para pembuat kapur meraup keuntungan. NUR HARIRI, Situbondo BEKERJA membuat kapur tidak seperti kebanyakan pekerjaan lain. Saat matahari menyengat merupakan saat yang sangat tepat untuk mengolah kapur mentah menjadi kapur siap dipakai untuk bahan bangunan. Seperti yang terjadi di Desa Kota-

Kelopoan, Idola baru yang membara

ambil dari bukit di Desa Kotakan. Prosesnya, setelah bahan kapur mentah itu diambil dan ketika panas datang, maka mereka harus menyiapkan tempat untuk pembakaran kapur tersebut. “Bahan ini diambil di gunung desa sini, setelah dikumpulkan, kami menempatkannya di atas tungku, baru kemudian dibakar,” ujar Didik, salah seorang pekerja kapur. NUR HARIRI/RaBa Dalam satu kali pemPROSES: Para pekerja menyiapkan kapur untuk dibakar di Desa Kotakan, Situbondo. bakaran, itu membutuhkan, Kecamatan/Kabupaten Situ- bekerja di bawah terik matahari, se- kan setara dengan tiga hingga empat bondo ini. Beberapa orang terpaksa telah kapur mentah itu mereka truk kayu ■ Baca Hanya...Hal 35

Dalam istilah kuliner disebut ‘Degan Bakar’

Perlu dibentuk BUMD pariwisata

Cocok untuk pelesir dengan alasan studi banding pariwisata

email: radarbwi@gmail.com/radarbwi@jawapos.co.id


Turn static files into dynamic content formats.

Create a flipbook
Issuu converts static files into: digital portfolios, online yearbooks, online catalogs, digital photo albums and more. Sign up and create your flipbook.
Radar Banyuwangi | 16 September 2012 by alsod - Issuu