Rujukan Informasi Terkini
SENIN 26 OKTOBER TAHUN 2015
Eceran Rp 5.750 HALAMAN 29
Menjadi Bagian Sejarah Baru Indonesia SEJARAH baru segera lahir. Satu setengah bulan lagi. Sejarah baru demokrasi Indonesia. Pemilukada (pilkada) serentak. Rakyat di 269 daerah di Indonesia akan memilih calon pemimpin mereka: gubernur, bupati, dan wali kota. Hari bersejarah itu adalah Rabu, 9 Desember 2015. Kita (rakyat Banyuwangi dan Situbondo) patut
MAN
bangga. Menjadi bagian dari sejarah baru tersebut. Bukan hanya sebagai saksi. Tapi terlibat langsung di dalamnya. Sebagai pelaku aktif. Sebagai pemilih. Atau, menjadi yang dipilih. Yang pula hak pilih dan dipilih, tentunya. He he he.... Mereka yang belum cukup umur untuk memilih pun patut bersyukur. Bakal mendapat pelajaran
NAHNU
Oleh SAMSUDIN ADLAWI 36
demokrasi. Bakal tahu seperti apa kualitas pesta demokrasi yang dilakukan para seniornya. Dari pelajaran itu, siapa tahu, kelak bisa melahirkan teori demokrasi baru. Yang lebih bagus. Lebih hemat. Lebih bermartabat. Peluang seperti itu sangat terbuka lebar. Lima tahun ke depan – atau malah tidak sampai lima
tahun - zaman sudah berubah signifikan. Bahkan sangat frontal. Tanda-tandanya sudah mulai kelihatan. Sudah muntub-muntub saat ini. Khususnya di bidang teknologi. Boleh jadi, lima tahun yang akan datang kita tidak perlu repot-repot datang ke TPS (Tempat Pemungutan Suara) ■ Baca Menjadi...Hal 39
Kobaran Api ke Arah Barat ■ Penyebab Kebakaran Lereng Merapi Masih Misterius
TELEKOMUNIKASI
KALIPURO – Kebakaran hutan di lereng Gunung Merapi makin meluas. Kobaran api malah merembet ke arah barat, tepatnya di kawasan hutan Lindung Banyuwangi Utara. Malam hari, api yang membakar kawasan hutan lindung tersebut terlihat jelas
dari wilayah Ketapang. Kabid Kedaruratan dan Logistik BPBD, Eka Muharam Suryadi mengatakan, dari pantauan di Perkebunan Selogiri bahwa api sampai sekarang masih terlihat membara ■ Baca Kobaran...Hal 39
MEMBARA: Kobaran api yang menjilat kawasan hutan lindung Gunung Merapi terlihat jelas pada malam hari.
Marak Tower Ilegal Legal : 300 unit Liar : Sekitar 170 unit Q Yang legal berpotensi menghasilkan retribusi sebesar Rp 3 miliar per tahun Q Yang ilegal tidak memberikan kontribusi ke PAD Q Tower bodong tidak mengantongi izin gangguan (HO) maupun Izin Mendirikan Bangunan (IMB) Q Hampir semua tower yang tidak berizin diurus oleh pihak ketiga Q Untuk mendirikan tower, pemilik rela menyewa lahan dengan tarif Rp 100 hingga Rp 150 juta per tahun ketimbang membeli tanah GRAFIS: REZA FAIRUZ/RABA
170 Tower Seluler Terindikasi Bodong
Hanguskan 1 Ha Hutan Lindung
BANYUWANGI – Menara atau tower telekomunikasi yang didirikan tanpa izin tentunya merugikan banyak pihak. Dari segi ekonomi, pemerintah daerah dirugikan karena tower tidak berizin tidak memberikan pemasukan bagi Pendapatan Asli Daerah (PAD) Banyuwangi. Padahal retribusi tower cukup besar. Saat ini saja, berdasar penghitungan pemerintah, tower legal sekitar 300 unit yang ada di Banyuwangi berpotensi menghasilkan retribusi sebesar Rp 3 miliar per tahun. Dengan besaran retribusi plus minus dua persen per unit. Data dari satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Banyuwangi, ada sekitar 170-an tower tak berizin yang tersebar di wilayah Banyuwangi. Rata-rata mereka tidak mengantongi izin gangguan (HO) maupun Izin Mendirikan Bangunan (IMB) dari pemerintah ■
KEBAKARAN yang terjadi di Gunung Merapi juga melalap kawasan hutan lindung Perhutani Banyuwangi Utara. Dari informasi yang diperoleh, kawasan hutan lindung Perhutani Banyuwangi Utara yang terbakar luasanya mencapai 1 hektare lebih ■ Baca Hanguskan...Hal 39
Baca 170 Tower...Hal 39 RENDRA KURNIA/RABA
HUT JATIM
Masuk Pelabuhan Ketapang Bakal Antre Panjang
Adam Disergap Saat Transaksi Sabu-sabu
KALIPURO – Dermaga movable bridge (MB) I dan II di Pelabuhan ASDP Ketapang maupun Gilimanuk ditutup sejak pukul 07.00 pagi ini. Penutupan dilakukan karena pihak PT Indonesia Ferry (Persero) ASDP akan memulai proses pembangunan penambahan kapasitas dermaga dari kekuatan tonase 20 ton menjadi 40 ton. Imbas dari penutupan itu kendaraan yang hendak menyeberang ke Bali diprediksi bakal antre lebih lama. Penumpukan kendaraan juga bakal memadati parkiran ASDP, bahkan bisa mengular sampai jalan raya. Untuk memberikan rasa nyaman kepada pengguna kapal, pihak ASDP harus bisa mengatur arus kemacetan nantinya ■
KETAPANG - Anggota Satreskoba Polres Banyuwangi kembali dapat tangkapan tersangka narkoba. Kali ini petugas meringkus Adam alias Adak, 38, warga Dusun Rowo, Desa Ketapang, Kecamatan Kalipuro. Pria yang pernah kesandung kasus narkoba itu diringkus di sebuah warung nasi di sekitaran Pelabuhan Landing Craft Mesin (LCM) Ketapang, Kecamatan Kalipuro, Sabtu kemarin (24/10) pukul 14.30. Ketika ditangkap, Adam hendak bertransaksi narkoba jenis sabu-sabu (SS) dengan pembeli. Diam-diam, aksi Adam diintai aparat Satreskoba Polres Banyuwangi ■
FREDY/RABA
Baca Masuk...Hal 39
PENUH CAHAYA: Tarian janger mengawali pembukaan peringatan HUT Pemprov Jatim di Lapangan Kecamatan Glagah kemarin malam.
Apresiasi Kesenian Janger GLAGAH – Puncak pergelaran seni dan budaya sebagai wujud partisipasi Banyuwangi dalam peringatan HUT Provinsi Jawa Timur ke-70 kemarin malam (24/10) ditandai dengan pergelaran janger. Tak ketinggalan, para wakil rakyat dari DPRD I Jatim ikut menyapa masyarakat di Lapangan Kecamatan Glagah. Sebelum pergelaran janger dari Grup Sastra Dewa pimpinan Temu dimulai, anggota DPRD Jatim dari Fraksi PPP, Fauzan, memberikan sambutan di hadapan masyarakat ■ Baca Apresiasi...Hal 39
http://www.radarbanyuwangi.co.id
RENDRA KURNIA/RABA
TUTUP SEBULAN PENUH: Mulai hari ini, dermaga MB II Pelabuhan ASDP Ketapang ditutup sementara untuk proses rehabilitasi.
Baca Adam...Hal 39
Cak Dikin, Seniman Oseng yang Ngetop di Surakarta
Masih Penasaran dengan Keajaiban Seni Kuntulan Nama Cak Dikin memang sudah tidak asing lagi bagi penggemar hiburan lawak tradisional dan Campursari. Ketika pariwisata Banyuwangi menggeliat, pria kelahiran Srono 51 tahun silam ini semakin sering pulang ke kampung halamannya. FREDY RIZKI, Glagah PRIA dengan nama asli Sujarno ini memang terlihat unik. Meski berpindahpindah tempat tinggal sejak dari Banyuwangi, lalu ke Jayapura dan menetap di Solo, naluri seninya tak pernah luntur.
Dia pun tetap dapat mengembangkan bakatnya dalam menciptakan lagu dan melawak. Bahkan, ketika diundang ke Banyuwangi saat bertepatan dengan even Banyuwangi Festival, Cak Dikin tak sedikitpun kehilangan daya seninya. Justru dia merasa hal ini sebagai kesempatan mengenal Banyuwangi lebih dalam. Menjadikan sebagian dari apa yang dia lihat sebagai inspirasinya untuk menciptakan karya. Maklum saja, karya-karya penyanyi yang memiliki enam orang anak ini lebih condong ke arah genre campursari yang membawa budaya khas Jawa. Bukan Bahasa Oseng atau budaya Suku Oseng yang menjadi entitas warga Banyuwangi. Kepada Jawa Pos Radar Banyuwangi, selepas mengisi acara peringatan HUT
Provinsi Jatim ke-70 di Kecamatan Glagah, Cak Dikin menceritakan jika semua bakat seninya berasal dari lingkungannya, yaitu masyarakat Srono. Bahkan pria yang sempat menikahi seorang seniman Gandrung ini menceritakan dirinya sudah menguasai hampir berbagai jenis alat musik tradisional Banyuwangi seperti saron, kendang dan kenul sejak dirinya masih duduk di bangku kelas 3 Madrasah Ibtidaiyah. Bakatnya terus berkembang, bahkan setelah dirinya bekerja sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS) di Dinas Pendidikan Jayapura pada tahun 1986. Budaya masyarakat Banyuwangi yang gemar bercanda menjadi inspirasinya saat mulai membuat grup lawak di Jayapura ■ Baca Masih...Hal 39
Zarkasi sambangi sa pendapa d dan ruang kerj kerja Dijamin langsung kerasa kerasan!
Masu Masuk pelabuhan pelab bakal antre panja panjang Semak Semakin antre semakin banyak setoranny setorannya!
Cak Dikin TULUS HARJONO FOR RABA
email: radarbwi@gmail.com / beritaraba@gmail.com