9 AGUSTUS TAHUN 2015
Eceran Rp.5.750
HALAMAN 25
Boleh Pakai Pulasan Merah Putih di Wajah
RENDRA KURNIA/RABA
BUNGKUS: Pesawat milik salah satu sekolah pilot ditutup bagian depannya agar terlindung dari abu vulkanik di Bandara Blimbingsari, Kecamatan Rogojampi, Banyuwangi, kemarin.
Penerbangan Lumpuh 5 Hari FREDY RIZKI/RABA
Jangan sampai lupa jati diri kita. Jangan lupakan bagaimana pahlawan merebut NKRI. Perluas wawasan kebangsaan kita, demi kemerdekaan Indonesia.’’
Agenda B-Fest Jalan Terus BANYUWANGI - Penutupan Bandara Blimbingsari, Banyuwangi, terus berlanjut. La-
rangan aktivitas penerbangan di bandara kebanggaan masyarakat Bumi Blambangan itu sudah berlangsung selama lima hari. Bandara sudah ditutup secara bertahap sejak pukul 13.30 Selasa lalu (4/8) hingga sore pukul 16.00 kemarin (8/8). Penutupan serupa bakal
terus dilakukan jika semburan material vulkanik Gunung Raung masih mengganggu rute penerbangan dari dan menuju Bumi Blambangan. Faktor keselamatan menjadi pertimbangan utama penutupan segala aktivitas penerbangan di Banyuwangi tersebut n Baca Penerbangan...Hal 31
Letkol (Inf) Mangapul Hutajulu Dandim 0825 Banyuwangi
BANYUWANGI - Memeriahkan HUT ke-70 Republik Indonesia (RI), Jawa Pos Radar Banyuwangi menggelar lomba fotogenik nuansa merah putih. Lomba kali ini memang spesial untuk anakanak. Ada tiga kategori yang dilombakan, yakni kategori A untuk anak usia hingga 4 tahun, kategori B usia 4–7 tahun, dan kategori C usia 7–12 tahun. ‘’Boleh pakai kostum merah putih. Pakai make up atau pulasan aksesori merah putih di pipi dan wajah juga boleh. Semua boleh, peserta bebas merdeka dalam berekspresi,” jelas ketua panitia lomba fotogenik merah putih, Benny Siswanto. Syarat mengikuti lomba fotogenik anak ini cukup mudah, peserta wajib mendaftarkan diri ke tempat yang telah ditunjuk panitia. Menyerahkan foto terbaru ukuran 4R yang belum pernah dilombakan, registrasi peserta untuk 1 foto Rp 30.000, 3 foto Rp. 70.000, 5 foto Rp. 100.000, dan jangan lupa wajib menyerahkan fotokopi akta kelahiran. Pendaftaran lomba fotogenik anak nuansa merah putih kemerdekaan dibuka mulai kemarin. Pendaftaran dapat dilakukan mulai sekarang di tiga lokasi, yakni kantor Jawa Pos Radar Banyuwangi di Jl. Yos Sudarso No. 89c Banyuwangi, Biro JP-Radar Genteng di Jl. KH. Hasyim Asyari, Ruko Madania R-06 Genteng, dan Biro JP-Radar Situbondo di Jl. Wijaya Kusuma No. 60 Situbondo. Ayo meriahkan HUT kemerdekaan RI ke-70 dengan mengikuti lomba fotogenik nuansa merah putih kemerdekaan. Ada hadiah menarik dan langganan koran gratis yang dapat Anda raih. Foto peserta juga akan ditampilkan di koran. Informasi dan pendaftaran dapat menghubungi (0333) 412224 atau kontak Benny 082 33 11 02 936. (*/c1/bay)
Target APBD 2016 Didok sebelum Oktober
RENDRA KURNIA/RABA
Saya masih belum merasa merdeka sepenuhnya. Mbecak siang malam hasilnya masih kurang untuk kebutuhan di rumah. Antara pengeluaran dengan pendapatan masih lebih banyak pengeluaran. Merdeka itu kalau penghasilan kami sudah cukup untuk menghidupi keluarga di rumah.’’ Suryanto Tukang Becak di Kelurahan Lateng
BANYUWANGI - Masa jabatan Abdullah Azwar Anas dan Yusuf Widyatmoko sebagai bupati dan wakil bupati Banyuwangi periode 2010-2015 bakal berakhir tiga bulan ke depan. Sebelum menanggalkan jabatan pada 20 Oktober 2015 mendatang, Anas bertekad mengoptimalkan pelayanan publik di seluruh instansi di lingkungan Pemkab Banyuwangi. Selain memprioritaskan pelayanan kepada masyarakat, pria yang dilantik sebagai bupati Banyuwangi pada 21 Oktober 2010 tersebut akan mendorong optimalisasi penyerapan anggaran. “Hampir setiap dua hari sekali saya mengecek serapan anggaran n
LENGANG: Suasana ruang tunggu penumpang di Bandara Blimbingsari, Kecamatan Rogojampi, Banyuwangi, kemarin.
Baca Target...Hal 31 RENDRA KURNIA/RABA
Perjalanan Pendaki Gunung Bersepeda Pancal ke Banyuwangi
Sudah Kunjungi 30 Puncak Gunung Se-Indonesia Setelah menempuh perjalanan hampir di seluruh dataran Jawa dan Sumatera, dua pendaki bersepeda pancal ini berambisi menaklukkan puncak-puncak gunung Indonesia. Kali ini perjalanan mereka tiba di Banyuwangi.
halaman kantor Jawa Pos Radar Banyuwangi malam itu (7/8) serempak menjawab “Gunung Tambora!” Gunung Tambora merupakan gunung stratovolcano di Pulau Sumbawa, Provinsi Nusa Tenggara Barat. Terus terang, baru pertama kali saya melihat kedua orang ini. Meski begitu, kami langsung tahu bahwa keduanya adalah pendaki gunung dengan melihat atribut yang mereka gunakan. Sehingga, secara otomatis pertanyaan itu kami lontarkan kepada dua pendaki bernama Ronny Hartono, 36, dan Ravi Agustian, 23, itu n
FREDY RIZKI, Banyuwangi
Baca Sudah...Hal 31
PERTANYAAN pertama yang diajukan kepada dua pendaki nyentrik tersebut adalah puncak gunung mana yang terakhir kali mereka kunjungi? Keduanya yang baru tiba di
NUNUT BERMALAM: Ronny Hartono (kanan) asal Kendal, Jawa Tengah, dan Ravi Agustian asal Bukittinggi, Sumatera Barat, di halaman kantor Jawa Pos Radar Banyuwangi.
Pengesahan APBD 2016 Ditarget sebelum Oktober Urusan Anggaran Pasti Lebih Cepat Produsen Gula Merah Terancam Bangkrut Hanya Parpol yang Gak Ada Matinya
GALIH COKRO/JAWA POS
26
BERITA UTAMA RADAR BANYUWANGI
Jawa Pos
Minggu 9 Agustus 2015
Produsen Gula Merah Terancam Gulung Tikar GLENMORE - Produksi gula merah PTPN XII Kebun Kalisepanjang kini terus merosot. Malahan, usaha itu terancam gulung tikar karena semakin berkurangnya pohon kelapa yang ada di wilayah perkebunan itu. Salah satu pembuat gula merah asal Dusun Mediunan, Desa Sepanjang, Kecamatan Glenmore, Asri Setyo Ningrum, 38, mengatakan saat ini banyak temannya yang sudah tidak lagi memproduksi gula. “Pohonnya diganti tebu,” katanya.
Menurut Asri, beberapa tahun terakhir tanaman pohon kelapa yang ada di wilayah Kebun Kalisepanjang, banyak yang ditebang. Selanjutnya, lahan di perkebunan itu ditanami tebu untuk pembuatan gula pasir. “Sekarang tinggal sedikit, lahannya diganti tebu,” ujarnya. Asri mengaku untuk produksi gula merah itu tidak mengalami masalah. Dalam sekali produksi, dirinya bisa menghasilkan 18 kilogram gula marah. Jumlah tersebut, dihasilkan dari pengo-
lahan tiga jeriken air nira. “Saya kalau normal bisa produksi 18 kilogram gula merah per hari,” ungkapnya. Produksi gula merah itu tidak bisa dipastikan, terkadang tidak bisa memenuhi target karena kualitas nira yang kurang bagus. “Kalau nira dari pohon kelapa itu kualitasnya jelek, hasil gula merah juga jelek,” cetusnya. Para perajin gula merah itu berharap, jika pohon kelapa yang saat ini mulai diganti menjadi tebu, mereka masih bisa mem-
buat gula merah. “Kalau tidak bisa, kami ya hanya bisa pasrah, karena ini juga bukan milik kita,” ungkapnya. Sementara itu, Manajer PTPN XII Kebun Kalisepanjang Mulyadib, saat dikonfirmasi mengatakan produksi gula di Kebun Kalisepanjang ini akan tetap beroperasi. Pengalihan kebun menjadi tanaman tebu, itu tidak mempengaruhi secara mutlak terhadap produksi gula merah. “Produksi gula merah akan terus,” katanya. (sli/c1/abi)
KECEK: Perajin melakukan proses mengentalkan adonan gula merah di Desa Sepanjang, Kecamatan Glenmore, Banyuwangi, kemarin (7/8).
TN Alas Purwo Gelar Wayangan Asmarabumi HEBAT: Ayu Tria Andriana, peraih emas cabang downhill edisi Porprov Jatim V.
GALIH COKRO/RABA
Peluang Tampil Ayu Diperbanyak BANYUWANGI - Tidak sedikit atlet bertalenta yang lahir di Banyuwangi dalam Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Jatim V tahun 2015. Maka dari itu, cabang olahraga (cabor) harus all out memfasilitasi atlet bersangkutan agar naik ke level tertinggi. Apalagi, dari sekian peraih medali dalam ajang multi even itu ternyata masih pelajar. Seperti yang ditorehkan Ayu Tria Andriana. Atlet peraih emas dalam
cabang downhill itu kini masih duduk di tingkat kelas x SMA. Atlet putri asal Muncar itu sekolah di SMKN Darul Ulum, Kecamatan Muncar. Dengan usianya yang masih remaja, tidak menutup peluang jika dia bisa menorehkan capaian terbaik ke tingkat yang lebih tinggi. Hal itu disadari betul ketua Ikatan Sepeda Sport Indonesia (ISSI) Banyuwangi, Guntur Priambodo. Menurut Guntur, Ayu sudah
menunjukkan kualitasnya saat berlaga pada Porprov Jatim V Juni lalu. ‘’Tapi, dia masih bisa terus berkembang,’’ terangnya. Untuk itu, jelas dia, ISSI Banyuwangi telah mencanangkan program khusus. Artinya, program latihan tetap berjalan sebagaimana biasa. ‘’Kita jamin mereka supaya bisa berkembang, mereka bisa tampil di berbagai kejuaraan,’’ tandasnya. Dengan begitu, masih kata
Guntur, atlet bisa mengukur kemampuannya sendiri. Perkembangan atlet tersebut bisa dilihat dari kejuaraan. ‘’Kalau tanpa latihan, otomatis tidak akan berkembang,’’ tandasnya. Sebagaimana diketahui, cabang balap sepeda Banyuwangi sukses mempersembahkan dua medali emas dan dua perak dalam Porprov Jatim V di Banyuwangi, Juni lalu. ‘’Kita akan terus antarkan atlet ke level tertinggi,’ tekad Guntur. (ton/c1/bay)
BANYUWANGI
BANYUWANGI—Taman Nasional Alas Purwo (TNAP) menggelar pagelaran wayang kulit dengan lakon Asmarabumi. Wayang kulit ini akan digelar pada Jumat (14/8) mulai pukul 19.30 di Lapangan Sepak Bola Kantor Seksi Pengelolaan Taman Nasional Wilayah 1 Tegaldlimo TNAP, Pasar Anyar, Desa Kalipait, Kecamatan Tegaldlimo. Kepala Balai TNAP Ir Kholid Indarto mengatakan, ada dua dalang yang akan memerihkan acara ini, yaitu Ki H Anom Suroto dan Ki M Pamungkas Prasetyo Bayu Aji dengan bintang tamu Sumarbagyo “gareng” Semarang. Dikatakan, wayang kulit ini digelar dalam rangka mempromosikan pariwisata dan sosialisasi Taman Nasional Alas Purwo dalam bentuk pagelaran wawayng kulit semalam suntuk. Dalam kegiatan ini juga digelar promosi wisata alam dengan diikuti stand promosi, seperti BTN Alas Purwo, PT Plengkung Indah Wisata, PT Wanasari Pramudita Ananta, PT Wasawisata Alamhayati dan stand promosi Disti Mutiara Suci. “Kami juga akan menggelar bakti social berupa donor darah yang bekerjasama dengan PMI Banyuwangi,” kata Kholid
ISTIMEWA
KELILING: Panitia wayang kulit TNAP sedang memasang baleho di beberapa titik lokasi.
kemarin. Kholid sedikit membocorkan lakon wayang yang akan digelar. Dengan tema Asmarabumi. Dimana Asmara adalah cinta dan bumi diartikan tanah air yang berarti cinta tanah air. Diceritakan sebuah Negara Amarta Negara Poncowati dan Negara Astina dilanda mala petaka hebat. Menurut masing-masing pujangga Negara, mala petaka akan segera tuntas dan Negara akan menjadi tata tentram gemah ripah loh jinawi jikalau bisa memboyong semar.
Akhirnya, semua Negara menginginkan kehadiran kyai Semar, namun asalkan bisa menghaturkan kembang pudak Tunjung Biru. Maka pergilah para utusan dua Negara ini, dan anehnya mereka sama-sama mendapatkan kembang tersebut. “Dari mana mereka mendapatkan kembang tersebut dan siapakah yang mendapat wahyu ketentraman serta siapakah kyai Semar itu, jawabannya ada di hari Jumat (14/8) nanti,” kata Kholid. (*/als)
BANYUWANGI
BANYUWANGI
BANYUWANGI
Rumah Banyuwangi
Toyota Fortuner
Mitsubishi Colt
DIJUAL rumah & ruko L 10x15 = 150 M2 lok Banyuwangi utara pabrik Es bisa dobeli dengan cash atau kredit dan juga bisa disewa hrg nego Hub (0333) 631526-535176, 0811351148
Dijual Fortuner Th 2012, TRD Putih (Solar) Manual Hrg 330 Jt, Nego Bisa Cash/Kredit atau Tukar Tambah Hb: 082331659086
Dijual 5 truk Mitsubishi tahun 2005 s/d 2011. Bak kayu, Dam, siap pakai dan istimewa. Hubungi 081350062501; 081349513231
Belakang Ramayana
Djl Rumah+Kos-kosan 14 Pintu, L 475m2, SHM, Blkng Ramayana Bwi, Lokasi Pinggir Jln Warna Hijau Hadap Utara, Harga 1,25 M Nego H: 085100731772/085336242773
Rumah Kebalenan
Rumah Desa Balak
Pick Up SITUBONDO
DIJUAL rumah lok kebalenan/lugonto di jl. Raya Rogojampi/Genteng L 10x15 = 150M2 SHM bisa di beli dengan cash atau kredit dan juga bisa di sewa hrg nego Hub (0333) 631526 - 635176, 0811351148
PEMBERITAHUAN Sehubungan dengan makin maraknya aksi penipuan yang memanfaatkan iklan jitu di Koran Radar Banyuwangi kami himbau kepada masyarakat terutama pemasang iklan jitu di Radar Banyuwangi untuk waspada dan berhati-hati. Bila Anda menerima telepon, SMS dengan mengatasnamakan petugas dari Radar Banyuwangi maka segera konfir masi ke Radar Banyuwangi (0333) 412224. Radar Banyuwangi tidak ber tanggungjawab atas semua transaksi yang terjadi selain pemasangan iklan secara resmi di Radar Banyuwangi.
Iklan Radar Banyuwangi akan membantu anda dalam mempromosikan perusahaan, usaha anda. Pasang dan dapatkan harga menarik untuk pemasangan iklan mobil dan motor. Info dan pemesanan bisa menghubungi Toha HP: 08123353502.
Jl. Anggrek DIJUAL tanah+bangunan L4x8 = 32 M2 + 10x15 = 150 M2 bisa di beli dengan cash atau kredit dan juga bisa di sewa SHM lok Ds Balak hrg nego hub (0333) 631526 – 635176, 0811351148
Djl tnh 2 Kapling L+-440m2 Jl. Anggrek Blkg.K.Dinsos stb. Hrg.170jt Hub.08563639318
Jl. Mangaran
Ready stok. Pick up DP 6jt, Ertiga DP 30jt, Karimun DP Rp 25jt, Swift DP 30jt. Pasti ACC. Hub 081234017156; 087851561651
Djl Tnh 2 Kav+Bngnan, SHM (Kav. 2 dr tmr) Jl. Mangaran, Panji, Stb H: 081331961405
Rumah Kost Staff Admin Sewa Rumah Langsung Dapat Hasil dari Kost2an + Bisa Buat Usaha Lainnya + Bisa Buat Tempat Tinggal Hub: 081287778099/081281718688
STNK Hlg STNK P 6315 XO an Lutfi, Dsn. Balerejo RT. 3/3, Bumiharjo, Glenmore
Dbthkn Staff Admin 20-35 Th, SMA Sdrjt, Pny SIM C (Pny Motor) B s . M . E x c e l & Wo r d , L a m a r a n Ke Pe r u m Pe r m a t a B a ny u wa n g i J l . Yo s S u d a r s o N o. 9 9 , B w i H p. 085331035733
27
Agustusan RADAR BANYUWANGI
Jawa Pos
Minggu 9 Agustus 2015
Mulai Berbenah Tanggap Bencana
TERASA 17-ANNYA Boulevard pintu masuk Peruahan Graha Blambangan di Jalan Teratai, Lingkungan Sukorojo, RT 05, RW 03, Kelurahan Banjarsari, Kecamatan Glagah dihias umbul-umbul dan untaian bendera mini.
HINGGA
FREDY RIZKI/RaBa
TANGGAP BENCANA: Kondisi Gunung Raung yang masih belum menampakkan tanda-tanda membaik membutuhkan lebih banyak sukarelawan untuk mengatasi dampak erupsinya. Karena itu, sekitar 1000 anggota Forum Komunikasi Putra-Putri ABRI (FKPPI) disiagakan untuk menghadapi dampak terburuk Raung. Mereka juga dibekali kemampuan penanggulangan bencana. Tampak anggota FKPPI saat diinspeksi Dandim 0825 Letkol (INF) Mangapul Hutajulu di Lapangan Blambangan, Jumat (7/8) lalu.
MASYARAKAT nampaknya tidak ingin momen Agustusan berlalu bergitu saja. Di sejumlah daerah, kini banyak kita jumpai atribut merah putih yang dipajang di sepanjang jalan. Mulai umbul-umbul, bendera, hingga lampion. Yang menarik, forum putra-putri TNI menggelar apel untuk mengantisipasi dampak terburuk dari erupsi Gunung Raung. Para relawan ini tergerak demi menyelamatkan putra-putri bangsa yang berada di sekitar gunung Raung. (*) ISTIMEWA
DUA BULE JAGA STAN AYAM ORGANIK
TOHA/RaBa
PEMANASAN: Jajaran forpimda dan masyarakat luas melaksanakan senam aerobik sebelum jalan sehat di depan Pendapa Sabha Swagata Blambangan kemarin (8/8).
HUT Koperasi Diawali Jalan Sehat BANYUWANGI - Hari Ulang Tahun (HUT) Koperasi yang ke-68 di Banyuwangi kemarin ditandai dengan jalan sehat. Jalan sehat yang bermula di depan Pendapa Sabha Swagata Blambangan tersebut dimulai tepat pukul 06.00 WIB yang dibuka oleh Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas. Ratusan forum pimpinan daerah (forpimda), gerakan koperasi dan masyarakat luas bergabung untuk merayakan ulang tahun Koperasi tersebut. Dalam acara jalan sehat tersebut Dinas Koperasi dan Usaha Mikro Kecil dan Menengah (Dinkop-UMKM) menggandeng instansi kesehatan untuk memberikan layanan kesehatan gratis bagi masyarakat. Usai jalan sehat Forpimda dan gerakan koperasi tasyakuran bersama di pendapa. Sementara itu, pukul 18.00 WIB kemarin, ratusan pelaku usaha Kecil dan Menengah (UKM) di Pameran Pasar Rakyat telah mulai bisa melakukan transaksi jual-beli.
Berbagai pelaku usaha mulai dari kerajinan, aksesori, pakaian hingga kuliner menempati stan mereka masing-masing dengan hiasan yang unik terbuat dari kayu bekas. Kepala Dinkop-UMKM, Alief Kartino mengatakan pameran kali ini memang mengangkat tema wood recycle atau kayu bekas. Setiap pelaku UKM dituntut mengeksplorasi ide mereka untuk menghias stan agar menarik pengunjung. Tidak hanya memperhatikan stan, peserta UMKM dituntut untuk menampilkan produk mereka semaksimal mungkin. Sebab Pameran Pasar Rakyat ini menurut Alief bisa dijadikan momen bagi pelaku UKM untuk mengenalkan produk mereka pada masyarakat luas. Dinkop-UMKM menyediakan 25 stan ukuran 4x6 dan 55 tenda kerucut. Penataan peserta UKM kali ini akan dikombinasikan tidak terpaku pada segmen produknya. Pameran Pasar Rakyat akan digelar hingga 12 Agustus
2015 mendatang. Sebelumnya rangkaian acara HUT Koperasi telah dibuka oleh asisten kesejahteraan rakyat, Wiyono dan asisten bagian ekonomi Agus Suharto 5 Agustus lalu yang diawali oleh lomba menyanyikan mars koperasi. Tanggal 6 Agustus yang lalu, acara HUT berlanjut dengan lomba cerdas cermat. (cin/als)
BANYUWANGI-Ada pemandangan menarik di stan pameran memperingati HUT Koperasi di Taman Blambangan, kemarin sore (8/8). Dua bule muda tampak menjaga stan ayam organik. Mereka adalah warganegara Belanda. Penampilan kedua pemuda itu terkesan santai dalam balutan busana kasual. Yang satu mengenakan kaos kerah warna abu-abu dan satunya lagi berwarna hijau. Menariknya salah satunya mengenakan udeng khas Banyuwangi. Siapa sangka bahwa mereka adalah investor peternakan ayam organik di Banyuwangi. Wayan Valmer Wejland dan Stanley Van Dijk adalah dua anak muda yang menangani manajemen PT Naturalis Organik. Perusahaan itu berkecimpung di bidang peternakan ayam organik di Dusun Tamansari, Desa Gumuk, Kecamatan Licin. Di atas lahan seluas 4,8 hektare itu, ayam-ayam dilepasliarkan dan diberi pakan organik. Menurut Wayan, setiap minggu dia memanen antara 500 hingga seribu ekor ayam untuk dikirim ke Bali. Pasaran hotel dan restoran besar di Pulau Dewata menjadi segmen utamanya. Meski begitu, pasar lokal tetap mendapatkan perhatian. “Saat ini, kami mensuplai ayam organik ke Bali, karena pasarnya sangat menjanjikan,” tutur bule keturunan Bali-Belanda itu. Wayan menjamin, ayam dari peternakannya halal, karena dipotong sesuai syariat. Bahkan,
Bupati Idol Tahap VI
sertifikasi halal telah dikantongi dari Majelis Ulama Indonesia (MUI). Pemotongan ayam dilakukan sendiri dengan mesin potong modern di lokasi peternakan. “Jika ayam dipotong tidak jauh dari kandang, maka kemungkinan stres karena perpindahan tidak terjadi. Otomatis daging masih segar, sehingga rasanya lebih enak,” terangnya. Stanley menambahkan, peternakan sangat dijaga kebersihannya. Sehari dibersihkan dua kali, sehingga tidak menimbulkan polusi bau bagi lingkungan sekitar. Ayam dijamin tidak mengandung bahan kimia, karena tidak disuntik obat dan hormon. Bahkan pakan diproduksi sendiri dari jagung, sayur-sayuran, dan daun-daunan yang ditanam sendiri tanpa pestisida. “Jika sakit, ayam tidak disuntik obat tetapi cukup diberi jamu dari tanaman herbal,” ungkap pemuda berjambang itu. Stanley menegaskan bahwa ayam organik sangat berkualitas dan bermanfaat bagi kesehatan, karena tidak mengandung antibiotik seperti broiler. Padahal, antibiotik bisa membahayakan tubuh manusia. Apalagi tubuh orang yang resistensi terhadap antibiotik. Nah, ayam organik ini dipelihara dengan pola sehat. Setelah 15 hari, anak ayam dilepasliarkan di kandang terbuka berkapasitas 2.500 ekor. Kemudian baru dipanen setelah usia 45 hari. “Harganya dijamin terjangkau, karena berada di antara harga ayam broiler dan ayam kampung,” katanya. (*)
ISTIMEWA
JUAL AYAM: Wayan dan Stanley (pakai udeng) menjaga stan ayam organik dalam pameran HUT Koperasi, kemarin sore.
L Isi Ballot Asli dan kirim sebanyak - banyaknya ke : 1. Jawa Pos Radar Banyuwangi Jl. Yos Sudarso 89C Banyuwangi 2. Biro Genteng Ruko Madania Jl. KH As yari 6 Genteng
Nama Calon Bupati Idol Pengirim Alamat
*Potong & kirim sebanyak-banyaknya ballot Asli. Batas pengiriman 22 Agustus 2015.
: : :
Edisi 8 Agustus
LOLOS 10 BESAR BUPATI IDOL 2015
*diterima paling lambat tanggal 9 Agustus 2015
13
244
151
11
51
168
28
2
2
28
Michael Edy Heriyanto
Abdullah Azwar Anas
Guntur Priambodo
Anton Sunartono
Eko Susilo Nur Hidayat
Basuki Rachmad
Neni Viantin Diyah Martiva
Angka Wijaya
Munib Syafa’at
Agus Dani T
RADAR BANYUWANGI
BUDAYA
30
Jawa Pos
Minggu 9 Agustus 2015
Dimangsa Kenangan Oleh Ken Hanggara*
K
ENANGAN-kenangan itu hadir bagai makhluk di dalam otakku. Mereka berkembang sekian lama, sekian tahun, untuk kemudian menetas di sana. Mereka tumbuh dan belajar menemukan cara memangsa seperti halnya anak elang. Dan ketika aku sampai di titik akhir hidupku, kenangan-kenangan itu benar-benar menuntaskan daya yang dulu pernah ada untuk mematikan nyawa-nyawa tak berdosa. Bunyi mesin berdengung di kamar putih membuatku sadar aku masih hidup, walau tentu tidak lama lagi. Kenyataan ini membuat kenangan-kenangan itu terus berdatangan. Seperti tak kenal lelah, seperti tak kenal ampun. Terus menyiksa dan menghabiskan darah kehidupanku dari dalam. Nyalaku meredup hari demi hari. Meski sekadar imaji, barangkali, rasa-rasanya tubuhku benar akan habis dibuatnya. Makhluk bernama kenangan, alangkah kejamnya kalian. Tidak kasihankah kalian padaku? Bisik-bisik menguar sejak sebulan lalu, bilang bahwa tidak ada harapan lagi bagi sosok lelaki tua yang tengah berbaring kesepian ini, yang tiada lagi sanggup bergerak-gerak seperti bayi atau bahkan sekadar berkata-kata, juga yang tiada lagi sanggup menyombongkan diri seperti masa lalu. Oh, masa lalu, betapa aku rindu padamu. Kuserahkan kulit keriput bergelombang ini, kuserahkan tulang-belulang yang payah ini, dan kuserahkan wajah tanpa dosa yang sesungguhnya menabung sekian gunung karma seumur hidup dalam waktu-waktu yang terasa begitu gelap, amat sangat gelap sampai tidak ada yang bisa terlihat; kuserahkan semua ini padamu. Agar aku bisa kembali dan mengulang semuanya dari nol. Dengung mesin itu masih juga belum pergi. Samarsamar, seseorang melangkah masuk, menyentuh dahi dan dadaku, lalu menyuntikkan sesuatu pada lenganku yang kurus. Rasa sakit jarum suntik tidak membuatku meringis. Apa segini kejamkah waktu padaku, ya, Tuhan? Tiba-tiba gejolak hati ini menjadi-jadi. Barangkali tahu ini semua bagai lelucon saja. Kenangan-kenangan masa lalu itu salah satunya melukiskan gambaran diriku yang jauh dari Tuhan. Lampu-lampu gemerlap menyorot ke sana kemari. Denting gelas dan suara cekikik tawa perempuan-perempuan nakal menghiasi sudut sebuah ruangan. Ah, bukan ruangan, melainkan bangunan. Aroma alkohol dengan asap sigaret beterbangan mengusik mata dan hidung. Seorang pemuda berbisik, “Nikmati malam ini. Besok kita akan berdarah-darah.” Malam itu sungguh menjadi titik mula yang, kalaupun bisa, kuminta pada siapa pun yang sanggup untuk hari ini mengembalikanku ke masa itu, ke detik itu. Apa seseorang benar-benar sanggup membuat mesin waktu? Itu bukan sebuah gurauan, ‘kan? Yang ada di kepalaku ketika itu hanyalah kunci kehidupan. Hidupku nyaris habis ketika semua orang penting dalam rumah mati terbunuh oleh suatu tragedi. Waktu itu aku masih terlalu kecil untuk mengenal darah dan kematian. Dengan tubuh merangkak, begitu yang kudengar dari seorang yang kemudian mengasuhku, kulihat dengan mata kepala kecilku: Bapak dan abangku disembelih, lalu diangkut dengan truk-truk dan dibuang ke liang-liang yang lebih buruk nasibnya ketimbang bangkai ayam. Ibu yang tidak kuat, mati mengenaskan di atas ranjang, menelan derita pilu yang terus menekan jiwanya. Sejak itu, aku hidup kesepian. Mengikuti orang tua angkatku, kami berpindah dari satu tempat ke tempat lain, dari satu kota ke kota lain. Jalan-jalan halus mulai dibangun, mengiringi proses perjalanan menuju era jaya negeri ini, yang nyatanya belum terwujud entah hingga kapan. Gedung-gedung tinggi memukau perhatianku ketika itu. Orang tua angkatku terlalu baik untuk membongkar kisahkisah lama tentang pembantaian sekian ribu orang. Penguasa bermain-main di atas ini. Politik menyamarkan wajah-wajah setan dan malaikat. Mereka menuduh keluargaku yang tidak bisa membaca sebagai komunis. Aku sendiri sampai detik itu belum tahu arti kata itu. “Mereka yang tidak tahu apa-apa, termasuk bapakmu itu, dibawa ke tempat-tempat terbuka lalu disembelih di depan banyak orang. Tidak ada yang berani melawan.” “Kenapa setelah itu Bapak dan Abang tidak dikubur di pemakaman umum?” “Karena tidak ada yang berani.” “Kenapa tidak ada yang berani?”
“Karena barang siapa yang berani, walau untuk sekadar mengurus mayat, maka tidak lama lagi akan mengikuti nasib orang yang dikasihani itu.” “Aku masih tidak mengerti.” “Sudahlah, Nak. Jangan banyak tanya.” Sesudah itu, hari demi hari, waktu demi waktu, aku tumbuh dan besar dengan cerita kekejaman penguasa. Orang tua angkatku pandai bersandiwara, hingga kebencian akut yang ia pendam selama ini tidak membuatnya mati. Tapi suatu hari seseorang mendengarnya bicara banyak, seakan menghasutku, seakan mendidikku agar suatu saat aku bangkit dan menjadi harimau yang siap menumpas mereka, meneruskan cita-cita mulia para pendahulu yang terbunuh. “Anda ditangkap karena Anda memberontak!” Seorang serdadu mengarahkan ujung pistol ke kepala orang tua angkatku. Aku masih ingat kejadian itu. Umurku tujuh tahun. Setelah itu aku dibawa ke tempat terpisah dari orang tua angkatku. Dan, tentu saja, sampai hari ini aku tidak tahu bagaimana nasibnya. Ya, Tuhan, apa tidak bisa waktu berputar kembali dan kupilih nasib sebagaimana yang orang tuaku pilih? Apa tidak ada cara untuk menghapus kenangan-kenangan buruk itu? Dalam sepi dan ketidakberdayaan, malam ini, detik ini, aku menangis. Bisik-bisik kian santer terdengar dari ruang luar kamarku. Entah siapa saja, entah di tempat mana. Hanya putih dan putih, walau pandangan mata selalu buram. Bau harum di langit-langit terasa lekat di hidung. Aku tahu ini bukan surga. Tidak ada surga untuk orang sepertiku. Adakah yang peduli untuk sekadar bertanya apa keinginan terakhirku? Aku mulai mengutuki diri melihat semua ini. Kenangankenangan itu tak mau henti menggerogoti. Ia belum akan berhenti sampai musuhnya benar-benar habis. Dan masa penghabisanku belum usai malam ini. Sepisah dari orang tua angkatku, seseorang membawaku ke suatu tempat. Entah bagaimana, harimau yang garang dan muda sepertiku ketika itu, yang bersiap me-
lawan kumpulan para serigala penguasa haus darah, diubah dengan cepat oleh mereka hingga seolah dari permukaan cermin dapat kulihat dua taring tumbuh memanjang di tepi bibirku dan lidahku menjulur-julur dengan air liur bergelantungan. “Tak ada yang bisa kamu percaya selain kami,” kata seseorang berwajah gelap. Dia bilang penguasa tidak bisa dilawan, meski engkau mengerahkan seribu harimau ditambah seribu serigala sekalipun. Seorang diri, penguasa bisa memutar balik dunia, walau dia sama sekali bukan tuhan. Penderitaanku setelah itu sirna. Mereka menyekolahkanku, merawatku, memberiku penghidupan yang layak. Buku-buku sejarah yang sebetulnya telah digubah oleh bukan tangan takdir, agaknya pelan-pelan mengubah pendirianku yang mula-mula. Aku mulai percaya bahwa mereka semua sebaik apa yang ada. Dan aku mulai percaya, boleh jadi, orang itu mengangkatku sebagai anak, menjagaku semenjak bayi, hanya agar karena dapat menjadi alat pemuas balas dendam pribadinya. “Jangan tegang. Nikmati malam ini. Besok kita berdarahdarah,” kata seseorang. Aku menutup wajahku dengan kedua tangan, yang dalam imajinasi benar-benar terjadi, walau nyatanya aku masih berbaring tanpa daya di dalam sebuah ruangan entah di mana, yang bukan surga, dan yang terdapat banyak orang bisik-bisik di luar ruangan itu. Kenangankenangan yang menetas di dalam otak dan tumbuh itu sudah terlalu lama menyerangku. Kini, mereka melihat kemungkinan tubuh ini akan habis pada malam ini juga. Mereka terus berdatangan. Seperti wabah yang belum ada obatnya. Seperti tidak ada lagi tempat untuk sekadar membuang rasa benci. Lampu-lampu gemerlap, suara tawa perempuan-perempuan nakal, bau alkohol, bau asap rokok, menemani pertemuanku dengan pria flamboyan legendaris yang murah senyum. Dia sodorkan selembar amplop padaku. “Tugas pertamamu, Nak. Jangan buat aku kecewa,” ujarnya seraya menyandarkan tubuh pada bantalan empuk
ku r s i nya. Dan benar, sejak itu aku selalu berdarah-darah. Bukan darahku sendiri, melainkan para musuh. Tanganku berlumuran darah dari para harimau yang menerjang tanpa daya, karena akulah jari jemari sang penguasa, akulah cara terbaik menumpas mereka, dan akulah bagian sebuah konspirasi besar. Wajah-wajah pemberontak itu berkelebatan di pikiranku. Wajah-wajah tanpa niat mau dikendali. Wajah-wajah yang menyimpan buah pemikiran berbahaya bagi penguasa. Karena konon, di negeri ini, ketika itu siapa saja akan terbunuh jika sekadar berpikir soal kebebasan. Oh, Tuhan, kenapa Kau biarkan kenangan masa lalu itu lahir menjadi predator yang menumpas jiwaku? Bisikbisik masih terdengar. Mesin berdengung lemah. Aku di ambang batas. Kenanganku, selamat tinggal. Terima kasih telah mengingatkanku, walau mungkin terlambat. Seseorang mengetuk pintu. Tidak seperti tadi, kini kedua tangan dan kakiku mulai bergerak, walau tak selincah dulu ketika penguasa memberiku tugas-tugas membunuh mereka yang suka berpikir tentang kebebasan. Tamu berwajah hitam itu menghampiri tempatku. Dengan mata menyala-nyala, lantang dia bersuara sebelum mengakhiri masaku, “Kau akan benar-benar berdarah dengan darahmu sendiri!” “Aku menyesal melakukannya. Aku sudah dengar kebenaran sejati itu.” “Kau sendiri tahu, tidak ada penyesalan seseorang yang dapat membuatmu lapang ketika bapak dan abangmu mati kehilangan kepala. Ikutlah denganku, dan menyesallah sampai tidak ada lagi yang perlu kau tangisi.” Dan kami pun pergi meninggalkan bisik-bisik, meninggalkan suara dengung mesin canggih, juga aroma pengharum ruangan. Kenangan-kenangan itu sudah pergi, walau aku tak tahu apa Tuhan masih menyimpannya untukku. *) Juara dua kategori bahasa Indonesia di ASEAN Young Writer Award 2014 dan menjabat Unsa Ambassador 2015.
SAJAK-SAJAK DARUZ ARMEDIAN
Filosofi Derai Hujan derai hujan yang kerapkali menyuarakan kepiluan semata karena terpisah dari lautan mengunjungi batu demi batu waktu demi waktu, sendirian kitalah yang alpa menabur puji-puja pada lengkung pelangi padahal cuma bayang-bayang hujan yang bercermin pada terik matahari
Mitologi Hujan lebih seribu satu guguran daun pada tiap-tiap tahun pada tiap-tiap aku mengenang dari jauh, dari balik seprai, ada derai kututup pintu, buka jendela lalu termangu seperti kueja semua tetes air terus menerus juga jejak langkahmu yang terhapus seperti yang kausangka bahwa hujan
adalah siksa bagi sesiapa yang kehilangan
Tetralogi Hujan hujan pertama: enam hari tuhan dimabuk cinta diadakan semesta (ruang, waktu, jin, manusia) untuk dicintainya sendiri namun ada yang terlupakan : hujan yang kerapkali melankoli kerapkali mencatat segala peradaban hujan kedua: kupanggil matahari yang tak pernah tuntas menghitung waktu mengisap ombak dari hamparan airku bergulung-gulung di langit, awan-awan jadilah hujan yang tak pernah tahu kapan ia kembali pulang hujan ketiga: adalah waktu di mana hujan tahu segala mencatat sejarah, meneliti kisah hujan keempat: milyaran tahun kemudian aku tetap laut mengisahkan ribuan peradaban yang terhanyut dan hujan yang kuhidupkan
barangkali semata jadi saksi, aku juga bakal ditiadakan
Maka, Akulah Hujan maka, akulah hujan, Roro Jonggrang demikian seperti dikisahkan ibumu malam itu tentang lelaki paling angin lahir dari rahim senyap dibesarkan hening
malam demi malam teriakkan kesenyapan (kesenyapan memang membutuhkan katakata untuk bangkit dari ketiadaannya) seperti derit gesekan bambu-bambu dan jerit duafa tertindas waktu dari sini, dari beranda di mana angin tak kedengaran lagi aku masih tak mengerti ini siapa yang bernyanyi (pada saat begini, riwayat-riwayat yang ditutur ibu kembali terkenang hujanlah yang melantunkan lagu paling lugu tentang sepi dan kematian)
hanya bisa menyuarakan puisi paling sepi walau tentang cinta sama sekali pada salah satu batu Prambanan yang hendak menyiksa penantianku padamu telah kuukir sebuah janji akan kurapuhkan ia dari setiap rintikku
Solilokui pada Malam Hari
Kedengarannya Hujan
Di sini, di beranda yang menggambar semesta Dan riuh angin meriwayatkan hujan di depan mata Kembali aku lagi yang memanggil dalam gigil
masih tak kumengerti ini siapa yang bernyanyi
Luke, kalau di sepanjang waktu kita menuntaskan pertemuan-pertemuan dan membunuh jauh
akan saja kukatakan derai tawamu serupa hujan jatuh yang merahasiakan suara daun mengaduh tetapi, lampu-lampu yang temaram dalam malam, dalam sepi, dalam kesenyapan berkisah padaku tentang kasih sayang hujan yang tak sering bertemu lautan Maka beginilah aku. Yang tersisa hanya menunggu waktu Istirah di pucuk rindu, di ujung penantianku Kau masih membisu dalam bayang-bayang semu nun jauh hanya doa yang senantiasa kurapal: Semoga halal kau kusentuh, sebelum raga merapuh Dan nafas keburu ajal. *) Penyair dan penulis cerpen.
RALAT Redaksi memohon maaf atas kesalahan nama pada rubrik budaya Jawa Pos Radar Banyuwangi edisi 2 Agustus 2015. Tertulis “SAJAK-SAJAK IDA FATMAWATI”, yang benar adalah “SAJAK-SAJAK IDA ERNAWATI”. Demikian kesalahan telah diperbaiki.
RADAR BANYUWANGI
BERITA UTAMA
31 Track Downhill Kalibaru Kalahkan Jateng
Jawa Pos
Minggu 9 Agustus 2015
LICIN - Ini kabar baik bagi pencinta gowes lintas alam di Jawa Timur. Lintasan sepeda kategori downhill di Bumi Blambangan ternyata dinilai sebagai salah satu yang terbaik di Indonesia. Lintasan sepeda ekstrem kelas downhill yang berada di Kecamatan Kalibaru, Banyuwangi, itu termasuk yang disukai penggila olahraga yang memacu adrenalin itu. ‘’Lintasan downhill tujuan wisata yang berada di Kalibaru, termasuk yang terbaik. Banyak tamu yang mengakui lintasan downhill itu jauh lebih baik daripada lintasan downhill di Salatiga, Jawa Tengah,’’ ujar Eko, cross country cyclist guide asal Jember. Eko menambahkan, wisata olahraga downhill memang membidik kalangan tertentu. Hanya mereka yang hobi bersepeda ekstrem yang mem-
buru lintasan-lintasan curam menantang maut semacam itu. “Masyarakat umum lebih menyukai lintasan cross country di alam terbuka,” jelas pemandu yang suka gaya rambut pelontos itu. Sementara itu, Owner Pesona Ijen Tour and Travel, Supriyadi, menyambut baik pengakuan kalangan cyclist terhadap lintasan downhill di Banyuwangi itu. Oleh karena itu, pihaknya siap memfasilitasi penggemar sepeda adan masyarakat umum yang akan menaklukkan lintasan ekstrem di Bumi Blambangan. Masyarakat yang suka cross country, kata dia, tersedia banyak rute yang tak kalah mengasyikkan di beberapa kecamatan. ‘’Salah satu yang paling disukai tamu adalah lintasan di Tawonan, lereng Gunung Ijen,” ujarnya. (c1/bay)
MENANTANG: Warga menjajal rute gowes cross country di kawasan Tawonan, Desa Tamansari, Kecamatan Licin, Banyuwangi, beberapa waktu lalu.
RAMADA KUSUMA/RABA
Debu Menumpuk di Landasan Pacu n PENERBANGAN... Sambungan dari Hal 25
Di tengah ketidakpastian itu, Pemkab Banyuwangi bertekad tidak akan menghentikan kalender pariwisata dalam rangkaian Banyuwangi Festival (B-Fest) 2015. “Walaupun penerbangan lumpuh dalam waktu yang lama, B-Fest tidak boleh berhenti,” ujar Bupati Abdullah Azwar Anas. Menurut Anas, lumpuhnya penerbangan di Bandara Blimbingsari tidak berpengaruh signifikan terhadap tingkat kunjungan wisatawan ke kabupaten berjuluk The Sunrise of Java ini. Setidaknya itu terbukti dari ting-
ginya tingkat okupansi hotel dan banyaknya wisatawan yang berkunjung ke Kawah Ijen. Anas tidak menampik penutupan bandara itu sedikit-banyak akan berpengaruh terhadap minat orang luar Banyuwangi datang ke Bumi Blambangan untuk menyaksikan berbagai kegiatan B-Fest. Sebagai contoh, pada perhelatan Banyuwangi Ethno Carnival (BEC) 2014 ada tiga pesawat jet pribadi yang mengangkut tamu kehormatan dari ibu kota. “Jika penutupan bandara berlangsung saat ada agenda B-Fest, kami merekomendasikan warga luar Banyuwangi menumpang kereta api. Kami
juga akan menyiapkan travel untuk menjemput tamu kehormatan dari Surabaya,” kata dia. Sementara itu, penutupan Bandara Blimbingsari kemarin dilakukan dalam dua tahap. Tahap pertama, penutupan diberlakukan sampai pukul 10.00 berdasar Notice of Airmen (Notam) C0691/2015. Namun, karena kondisi belum memungkinkan, otoritas perhubungan udara menerbitkan Notam C0692/2015 yang menyatakan penutupan bandara diperpanjang hingga pukul 16.00. Kepala Bandara Blimbingsari, Sigit Widodo mengatakan, penutupan bandara yang ber-
lokasi di Desa Blimbingsari, Kecamatan Rogojampi, Banyuwangi, itu didasarkan atas keselamatan penerbangan. Menurut Sigit, abu vulkanik sangat berbahaya bagi penerbangan. “Karena itu, meski hujan abu tipis, penerbangan tetap tidak diizinkan,” tuturnya. Selain mengganggu rute penerbangan, aktivitas vulkanik Gunung Raung juga mengakibatkan penumpukan abu vulkanik di landasan pacu (runway) Bandara Blimbingsari. “Maka, jika bandara akan kita buka, debu yang menumpuk di runway tersebut harus dibersihkan terlebih dahulu,” pungkasnya. (sgt/c1/bay)
Agar Pembangunan tak Terhambat n TARGET... Sambungan dari Hal 25
Saat ini penyerapan anggaran pemkab sudah 50 persen,” ujarnya. Target lain, Anas berupaya menuntaskan pembahasan Rancangan Pendapatan dan Belanja Daerah (RAPBD) Tahun 2016 sebelum Oktober. “APBD 2016 ditarget sudah disahkan
sebelum Oktober. Kami sudah berkomunikasi informal dengan pimpinan dewan. Pimpinan dewan sudah sepaham,” ungkapnya. Anas menuturkan, target APBD 2016 didok sebelum Oktober tersebut bukan untuk kepentingan dirinya, melainkan untuk kepentingan rakyat Banyuwangi. Dijelaskan, jika APBD belum
disahkan pada Oktober, maka proses pembahasan anggaran pembangunan di Bumi Blambangan bisa berkepanjangan. Bahkan, APBD 2016 berpotensi disahkan pada Februari tahun depan. Sebab, setelah bupati definitif menanggalkan jabatan, posisi orang nomor satu di lingkungan Pemkab Banyuwangi itu akan
ditempati pelaksana tugas (Plt). Padahal, Plt tidak bisa melakukan kebijakan strategis. Oleh karena itu, Anas mengaku berterima kasih kepada dewan yang telah sepaham dan akan berupaya mengesahkan APBD 2016 sebelum Oktober. “Supaya agenda pembangunan untuk rakyat tidak terganggu,” pungkasnya. (sgt/c1/bay)
Kemarau, Mata Air Ditanami Buah BANYUWANGI - Puncak musim kemarau tahun ini akan terjadi pada Agustus. Itu prediksi Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Banyuwangi. Namun, Pemerintah Kabupaten Banyuwangi jauh hari sudah menyiapkan langkah untuk meminimalkan dampak kekeringan tersebut. Salah satunya penghijauan lahan di sekitar sumber mata air. Badan Lingkungan Hidup (BLH) yang menangani hal tersebut konsisten melaksanakan penghijauan di sekitar mata air tiga tahun terakhir. “Tupoksi (tugas pokok dan fungsi) kami dalam hal kekeringan yang sudah menjadi fenomena rutin tahunan ini adalah melestarikan lahan di sekitar mata air,” ujar Kepala BLH Banyuwangi, Husnul Chotimah, beberapa hari lalu. Husnul mengungkapkan, selama tiga tahun belakangan pihaknya telah menggarap dua mata air di Kecamatan Kalipuro dan Kecamatan Glagah. “Tahun ini kami akan fokus melakukan pelestarian di Glagah lagi (Jagir),” jelasnya. Anggaran untuk menggarap satu mata air tidak mencapai Rp
100 juta. Dana itu berasal dana Anggaran Pendapatan dan Belanja (APBD) Banyuwangi. Dana tersebut digunakan untuk membeli bibit tanaman. Satu hektare lahan minimal membutuhkan 2.000 bibit tanaman yang ditanam dengan jarak 10 meter antara satu pohon dengan pohon lain. Untuk memaksimalkan program penghijauan tersebut, BLH menggandeng kelompok pelestari lingkungan di tingkat desa, seperti Himpunan Penduduk Pemakai Air Minum (HIPPAM). “Setelah observasi lingkungan, kami melakukan konsolidasi dengan HIPPAM setempat yang dibarengi sosialisasi. Tahap selanjutnya, pemberian bantuan bibit tanaman,” beber Husnul. Selama tiga bulan BLH bersama masyarakat melakukan evaluasi tingkat kesuburan tanah dan ketahanan hidup. Dalam masa tiga bulan tersebut, biaya pemupukan disediakan BLH. Untuk jenis tanaman, Husnul memilih tanaman buah-buahan. Sebab, selain mampu menyimpan air tanah dengan baik, tanaman buah-buahan juga memiliki nilai ekonomi yang berman-
faat untuk masyarakat. “Saat ini tanaman yang kami sarankan adalah durian, nangka, alpukat, dan manggis. Fungsiny akan abadi karena memiliki manfaat ekonomi bagi masyarakat setempat,” cetusnya. Husnul mengatakan, program penghijauan lahan sekitar mata air tersebut belum optimal. Sebab, pihaknya belum memiliki data pasti berapa jumlah keseluruhan mata air di Banyuwangi. Tahun depan BLH akan mengajukan anggaran untuk melakukan penelitian demi mengetahui realitas jumlah mata air di Banyuwangi. “Kami akan bekerja sama dengan salah satu fakultas pertanian universitas negeri,” katanya. Jika telah diketahui, maka kalkulasi pemanfaatan mata air lebih tepat. Husnul mengakui, BLH berkomitmen melestarikan mata air di Banyuwangi. Sumber air memiliki manfaat yang luas bagi kelangsungan hidup makhluk. “Selain untuk konsumsi dan pengairan, jika debit airnya tepat maka bisa dimanfaatkan untuk mikrohidro atau pembangkit listrik,” tandasnya. (cin/c1/bay)
Rasakan Aroma Mistis di Puncak Sejati Gunung Raung n SUDAH... Sambungan dari Hal 25
Yang unik dari dua pendaki gunung itu adalah sepeda pancal yang mereka bawa. Jumlahnya hanya satu, sehingga mereka harus bergantian menggunakannya. Satu orang mengendarai dan lainnya berjalan mengikuti di belakangnya. Memang tidak efektif. Tapi menurut Ronny, pemimpin pendakian tersebut, sepeda pancal itulah yang menjadi roh perjalanan mereka. Onthel yang mereka beri nama Pertiwi Nusantara itu ternyata selalu mereka bawa ke gunung mana pun yang mereka berkunjung. Tidak peduli seberapa berat, Si Pertiwi harus tetap bisa berpose di puncak gunung. “Onthel ini kami beri nama saat di Pulau Miangas, memang sudah niat akan kami bawa ke mana pun,” jelas Ronny. Setelah kami seduhkan dua gelas kopi ke hadapan para pendaki tersebut, mereka terlihat mulai rileks. Ronny kembali bercerita tentang keinginannya menaklukkan seluruh puncak gunung se-Indonesia. Bahkan, dia ingin menaklukkan puncak gunung tertinggi di Benua Afrika, Kilimanjaro. Tetapi dia pun maklum, bahwa usahanya menggapai cita-cita itu tidak mudah. Apalagi, dengan mengikutsertakan Si Pertiwi yang membuatnya harus bekerja keras. Modal awal yang mereka miliki hanyalah uang Rp 100 ribu. Untuk mempertahankan hidup, Ronny mengaku beberapa kali dibantu komunitas onthel, OI (Orang Indonesia), dan pencinta alam. “Kalau kebetulan tidak ada yang menampung, kita tinggal di hotel merah putih. Pom bensin (SPBU) maksudnya,” Kata Ronny sambil tertawa. Di tengah jalan saat menyusuri daratan Sumatera, Ronny yang awalnya sendirian akhirnya bertemu Ravi yang mau menemaninya berkeliling Indonesia. Layaknya cerita perjalanan Sun Go Kong, Ronny bersama Ravi dan sepeda pancal Si Pertiwi itu mulai menyusuri dataran tinggi
RENDRA KURNIA/RABA
MAHAL LAGI: Tumpukan telur di lapak pedagang Pasar Banyuwangi kemarin.
Harga Telur Kembali Meninggi ISTIMEWA
PUNCAK: Para pendaki saat tiba di Gunung Tambora, Pulau Sumbawa, Nusa Tenggara Barat.
dari ujung Pulau Jawa hingga ujung Pulau Sumatera. Sampai ketika mereka tiba di Banyuwangi pada Jumat malam lalu (7/8), sudah 30 puncak gunung yang mereka hinggapi. Gunung-gunung itu, di antaranya Gunung Pangrango, Gunung Slamet, Gunung Sindoro, Merbabu, Sumbing, Ciremai, Welirang, dan Gunung Mahameru. Setelah itu, perjalanan dilanjutkan ke puncak Gunung Agung di Bali, Gunung Rinjani di Pulau Lombok, Gunung Guntur, Gunung Kerinci, hingga Gunung Lawu di perbatasan Jateng dan Jatim. Mereka juga sudah menggapai puncak Gunung Merapi, Gunung Arjuno, Gunung Penanggungan, Gunung Ungaran, Gunung Penanjakan, dan tempat wisata yang medannya tak terlalu berat seperti Gunung Bromo. Puncak gunung yang harus dilalui dengan trekking berjamjam pun sudah mereka lakukan. Sebut saja Gunung Argopuro dan Gunung Raung yang waktu itu masih belum erupsi. Selain itu, keduanya sudah mencapai
puncak Gunung Rajabasam Dempo, Gunung Singgalang, Gunung Marapi, Gunung Sibayak, Gunung Leuser, dan yang baru dikunjungi adalah Gunung Tambora. Dari ke-30 puncak gunung itu, Ravi menceritakan Puncak Leuser di Provinsi Nangroe Aceh Darussalam yang terberat. Mereka harus mendaki selama 15 hari untuk mencapai puncak. Yang kedua adalah Puncak Sejati Gunung Raung. Kami pun meminta mereka menceritakan puncak Gunung Raung yang kini merupakan kawasan terlarang pendakian. Kali ini Ronny yang gantian bercerita. Ronny mengatakan, tidak semua pendaki dapat mencapai Puncak Sejati Gunung Raung. Lokasinya terbilang paling sulit di antara puncak Raung lainnya. Ronny menambahkan, pendaki profesional saja butuh waktu empat hari bolak-balik untuk mencapai Puncak Sejati Raung. Mereka harus melewati puncak bendera dan jembatan gantung yang disebut Ronny dengan
nama Sirotol Mustaqim. “Puncak ini tidak kalah mistisnya dengan Semeru. Jika hati pendakinya tidak bersih, mustahil ditaklukkan. Saya juga melihat saat itu ada dua sosok raksasa yang memunggungi Puncak Sejati, seolah mereka melindungi sesuatu,” ungkap Ronny. Tetapi, Ronny merasa bersyukur, karena bisa menggapai puncak Gunung Raung saat itu. Apalagi, kondisinya kini sudah tidak memungkinkan dilakukan pendakian. Ronny tampaknya masih ingin bercerita banyak, tapi sepertinya dia tahu kondisi sudah larut malam. Meski sudah 30 puncak gunung mereka lalui, Ronny merasa masih ingin mendaki gunung lebih banyak lagi. Dia ingin menyampaikan pesannya kepada seluruh orang di Indonesia. “Saat berada di puncak gunung, para pendaki harus rendah hati dan tidak takabur. Pesan itu akan kami sampaikan kepada semua orang. Si Pertiwi juga akan kami serahkan ke Museum kalau sudah selesai nanti,” kata Ronny dengan bangga. (c1/bay)
BANYUWANGI - Harga telur ayam ras kembali merangkak naik di akhir pekan ini. Di tingkat pengepul, harga satu kilogram telur ayam dihargai Rp 19 ribu per kilogram (Kg). Harga yang dipatok pengepul tersebut dianggap cukup mahal oleh pedagang. Akhirnya, mau tidak mau mereka menaikkan harga jual. Saat ini harga telur ayam ras di pasaran dibanderol sekitar Rp 20 ribu per Kg. “Itu kami jual dari harga mentah yang diberikan pengepul senilai Rp 17.900 per Kg. Kami jual Rp 20 ribu dengan keuntungan Rp 2 ribu per Kg,” terang Misnawati, 52, salah satu pedagang Pasar Banyuwangi. Misnawati mengatakan, har-
ga yang dipasang sekarang sudah cukup membuatnya kekurangan pembeli. Masyarakat memang mengeluhkan harga telur ayam ras yang mencapai Rp 20 ribu per Kg tersebut. “Apalagi, harga mentah Rp 19 ribu per Kg. Entah akan kita jual eceran berapa nanti. Mungkin Rp 21 ribu hingga Rp 22 ribu per Kg,” jelasnya. Seperti biasanya, kenaikan harga telur ayam tersebut diduga karena stok minim untuk memenuhi kebutuhan pasar. Padahal, harga telur ayam yang sempat melonjak saat Ramadan berangsur turun usai Lebaran. Harga telur ayam yang sekarang kembali meningkat seperti har-
ga rata-rata telur saat Ramadan. Sementara itu, harga beras juga mengalami peningkatan. Peningkatan harga beras mulai Rp 800 hingga Rp 1000 per kilogram. Beras medium rata-rata kini dijual eceran seharga Rp 11 ribu per Kg, padahal harga pekan lalu hanya Rp 10 ribu per Kg. Setelah harga cabai rawit naik dari Rp 48 ribu per Kg menjadi Rp 60 ribu per Kg empat hari lalu, kali ini giliran harga cabai merah besar ikut-ikutan naik. Setiap dua hari harga cabai merah besar naik sekitar Rp 2 ribu per Kg. Harga cabai merah yang sebelumnya Rp 18 ribu per Kg kini mencapai Rp 26 ribu per Kg. (cin/c1/bay)
Bongkar-muat Barang Bikin Macet SITUBONDO - Aktivitas bongkar-muat barang secara sembarangan di ruas jalan utama Situbondo menuai protes warga. Sebab, kendaraan yang bongkarmuat di kawasan itu kerap mengganggu pengguna jalan. Hendri, 46, warga Situbondo, bongkar-muat sembarangan itu menyebabkan kemacetan di jalan utama Kota Santri. Bongkarmuat yang dilakukan di tepi Jalan Irian Jaya dan kawasan Jalan Basuki Rahmad, Situbondo, adalah salah satu contohnya. Di
dua titik itu lalu lalang kendaraan ramai. ”Di sini ada pasar, terus ada juga terminal bus, jadi jelas macet,” ujarnya. Selain macet, bongkar-muat barang secara sembarangan dapat memicu terjadinya kecelakaan lalu lintas. Hendri mengaku, kecelakaan lalu lintas kerap terjadi di dua lokasi itu. Oleh karena itu, Hendri meminta agar pihak berwenang menertibkan bongkar-muat sembarangan di tepi jalan itu. Pemilik toko dan pemilik ken-
daraan, kata dia, tidak seharusnya melakukan bongkar-muat sembarangan. ‘’Apalagi hingga memakan bahu jalan,” ujarnya. Hendri berpendapat, pemerintah harus lebih peka, misalnya menyediakan tempat khusus bongkar-muat. Dengan begitu, tidak akan ada lagi aktivitas bongkar-muat yang meresahkan pengguna jalan. ”Sebab, seharusnya ada sarana yang bisa menampung bongkar-muat. Tetapi, rupanya pemerintah belum peka,” tambah Hendri. (bib/c1/bay)
32
Jawa Pos
Minggu 9 Agustus 2015
CEPAT MENGERAS: Gula yang sudah jadi harus secepatnya dituang ke dalam wadah cetakan.
legitnya
gula merah dari
legen
Pohon kelapa banyak terdapat di Dusun Sumbersari, Desa Dadapan, Kecamatan Kabat. Nah, di situ juga banyak warga yang membuat gula merah berbahan dasar legen dari pohon-pohon kelapa.
Bahan Baku Mudah, Proses Lebih Lama MEMBUAT gula merah tergolong sangat mudah. Bahan baku yang dibutuhkan untuk membuat gula merah juga tidak banyak. Cukup legen saja. Oh iya, dicampuri soda sedikit agar gula merah yang dihasilkan nanti benar-benar keras secara sempurna. Karbulah, 40, warga pembuat gula merah, mengatakan membuat gula merah tergolong simple. Hanya saja, waktu yang dibutuhkan untuk membuat gula merah sangat lama. Mengolah legen menjadi gula merah bisa menghabiskan waktu sehari. ”Legen yang cair ini harus kita rebus dalam waktu sehari sampai mengental dan berubah warna menjadi merah,” kata ibu lima anak tersebut. Perempuan yang sudah membuat gula sejak 20 tahun itu menjelaskan awal proses pembuatan gula merah. Menurutnya, warga di Dusun Sumbersari, Desa Dadapan, baik laki-laki maupun perempuan membuat gula merah. Kebanyakan kaum laki-laki bekerja sebagai penderes legen di pohon kelapa. Yang perempuan kebanyakan kebagian tugas sebagai tukang rebus legen. ”Perempuan kebanyakan juga yang bagian nyetak gulanya,” jelas Karbulah. Awalnya, pagi hari legen yang didapat dari para laki-laki warga Dusun Sumbersari dikumpulkan di sebuah jeriken besar. Kemudian, air legen tersebut dituangkan ke sebuah wajan besar yang sudah panas. ”Ya tinggal kita tunggu saja air legen ini sampai matang. Kita beri sedikit soda agar mengental,” Setelah selama seharian di rebus, air legen di dalam wajan yang sudah mengental dan berubah warna menjadi merah ini kemudian diangkat dari tungku api biar lebih dingin. Selama didinginkan, adonan gula merah setengah jadi ini harus tetap diaduk sampai merata dan cepat kaku selama setengah jam lamanya. Kemudian, setelah dirasa cukup, adonan setengah jadi ini dituangkan ke dalam sebuah cetakan dari plastik yang sudah disediakan. Pada saat menuangkan adonan ke dalam cetakan, kondisi gula merah yang setengah jadi harus masih dalam kondisi hangat. ”Kalau dingin nanti tidak bisa dicetak. Karena kalau sudah dingin adonan ini sudah menjadi kaku,” kata Istiqomah, perempuan pembuat gula merah lainnya. Adonan yang sudah ada dalam cetakan, kemudian didiamkan selama 15 menit sampai benar-benar dingin dan adonan menjadi kaku. Dengan demikian, gula merah ini bisa dikatakan sudah jadi 100 persen. Tinggal proses akhir, yaitu proses pengepakan gula merah ke dalam plastik. ”Ini sudah jadi, kita bungkus nanti kita timbang untuk kita jual kepada pengepul gula merah,” pungkas Istiqomah, sambil mengepak gula merah yang sudah jadi. (tfs/c1/als)
HAMPIR seratus persen warga Dusun Sumbersari berprofesi sebagai pembuat gula merah dan sebagai penderes kelapa. Aktivitas pembuatan gula merah bisa dijumpai di setiap rumah-rumah warga di Dusun Sumbersari setiap hari. Di belakang setiap rumah warga selalu kita jumpai sebuah tungku api yang membara. Di atasnya terdapat wajan jumbo berisi legen yang sedang dimasak hingga jadi gula merah. Sujarno, 40, salah satu warga pembuat gula merah mengatakan, gula merah dari air legen ini beda dengan gula merah berbahan dasar nira aren. Bedanya, gula merah dari aren rasanya lebih manis. Harganya juga berbeda. Gula merah dari air legen sudah pasti lebih murah harganya. ”Rasanya pasti lebih manis gula yang berbahan baku aren. Tapi di sini semua pakai air legen. Karena bahan bakunya mudah didapat. Kari menek (tinggal dipanjat),” kata bapak dua anak ini.
Saat ini menurut Sujarno, air legen yang dijadikan sebagai bahan dasar sedang dalam kondisi bagus-bagusnya. Hal ini, sangat berpengaruh terhadap hasil gula merah yang sudah jadi. Warna dari gula merah yang sudah jadi tidak berwarna hitam, melainkan gula merah yang dihasilkan benar-benar berwarna merah. ”Air legen saat ini bening, jadinya warna gulanya sangat merah,” tambahnya. Menjadi seorang pembuat gula merah sudah dilakoni Sujarno sejak 12 tahun silam. Pilihannya untuk tetap menjadi pembuat gula merah ini karena dia hanya memiliki keahlian untuk membuat gula merah saja. Selain itu, keuntungan yang didapat dari pembuat gula ini juga bisa dibilang cukup lumayan. Per kilogramnya, saat ini dihargai oleh pengepul dengan harga Rp 9.000. ”Kita jualnya per kilogramnya. Sehari kita bisa buat rata-rata 20 kilogram,” terang Sujarno. (tfs/c1/als)
FOTO-FOTO: RENDRA KURNIA/RABA
MANIS: Gula yang sudah jadi ditata sambil menunggu pengepul. Perkilogram dihargai Rp 9.000.
TENAGA EKSTRA: Air legen yang mendidih terus diaduk agar tidak menggumpal. MASIH SEGAR: Bahan baku legen diperoleh dari perkebunan kelapa yang berada di sekitar tempat pembuatan.
TRADISIONAL: Butuh waktu cukup lama untuk mengolah air legen menjadi gula merah.