LAPORAN SEMINAR RANCANGAN AKTUALISASI
PELATIHAN DASAR CPNS GOLONGAN III ANGKATAN 1
BELUM EFEKTIFNYA PEMBERIAN PERSETUJUAN TINDAKAN MEDIS
EMERGENSI DI RUANG INTENSIF ANAK RS ANAK BUNDA HARAPAN
KITA TAHUN 2022
DISUSUN OLEH:
FELIX
NIP. 198411252022031001
BAPELKES CIKARANG
KEMENTERIAN KESEHATAN RI 2021
i
LEMBAR PENGESAHAN
LAPORAN RANCANGAN AKTUALISASI
BELUM EFEKTIFNYA PEMBERIAN PERSETUJUAN TINDAKAN MEDIS
EMERGENSI DI RUANG INTENSIF ANAK RS ANAK BUNDA HARAPAN
KITA TAHUN 2022
Telah di seminarkan
Tanggal 23 Juni 2021, di Bapelkes Cikarang
Coach Dr. Atiq Amanah RP, MKKK NIP. 197803272009122002
Penguji
Mentor
Dr. Endah Citraresmi, SpA(K) NIP. 197202182009122002
Miftahur Rohim, ST, M.Kes NIP. 196903121992031014
ii
Menjadi aparatur sipil negara adalah impian bagi banyak orang di negeri ini. Bangga melayani bangsa – menjadi salah satu semboyan – yang diharapkan bukan hanya dalam tutur kata melainkan bentuk implementasi nyata. Proses penyusunan rancangan aktualisasi adalah langkah awal pelayanan di instansi kerja. Mengidentifikasi isu dan merancang langkah perubahan terhadap isu tersebut. Rancangan itu nantinya diharapkan menjadi kisah nyata perubahan untuk menuju instansi kerja yang lebih baik.
Tak luput, proses ini membutuhkan kerjasama dari berbagai pihak – yang mempunyai visi misi yang sama. Tidak ada lagi budaya senioritas, harusnya. Tidak ada lagi sekedar nurut, semestinya. Yang ada adalah semangat berubah menjadi lebih baik, idealnya.
Maka, proses yang baik pastinya akan membuahkan hasil yang baik pula. Tiada hasil yang mengkhiatani proses. Namun hasil itu tidak akan berguna bila tidak berarti untuk orang lain.
“You are the light of the world. A city set on a hill cannot be hidden. Nor do men light a lamp and put it under a peck measure, but on a lampstand, and it gives light to all in the house.” (Matthew 5:14-15)
Cikarang, 23 Juni 2022 Felix
iii
KATA PENGANTAR
iv
Halaman judul ……………………………………………………... i Lembar pengesahan ……………………………………………………... ii Kata pengantar ……………………………………………………... iii Daftar isi ……………………………………………………... iv Daftar tabel ……………………………………………………... v Daftar gambar ……………………………………………………... vi BAB I. Pendahuluan ……………………………………………………... 1 I.1. Latar belakang 1 I.2. Tujuan ……………………………………………………... 4 I.3. Manfaat ……………………………………………………... 5 BAB II. Profil Organisasi dan Peserta ……………………………………………………... 6 II.1. Profil instansi ……………………………………………………... 6 II.1.1. Gambaran umum instansi ……………………………………………………... 6 II.1.2. Visi dan misi ……………………………………………………... 6 II.1.3. Nilai dan moto ……………………………………………………... 6 II.1.4. Tujuan instansi ……………………………………………………... 6 II.1.5. Layanan unggulan instansi ……………………………………………………... 7 II.2. Profil peserta ……………………………………………………... 8 BAB III. Rancangan Aktualisasi ……………………………………………………... 10 III.1 Issue scan ……………………………………………………... 10 III.2. Tapisan isu ……………………………………………………... 12 III.3. Metode fishbone ……………………………………………………... 13 III.4. Gagasan kreatif pemecahan isu ……………………………………………………... 13 Daftar Pustaka ……………………………………………………... 23
DAFTAR ISI
v DAFTAR
Tabel 1. Analisis isu dengan metode APKL …………………………………………………………. 12 Tabel 2. Gagasan kreatif pemecahan isu …………………………………………………………. 13 Tabel 3. Matriks rencana kegiatan …………………………………………………………. 15 Tabel 4. Rencana jadwal aktualisasi …………………………………………………………. 22
TABEL
vi DAFTAR GAMBAR Gambar 1. Struktur organisasi RS ANAK Bunda Harapan Kita …………………………………………………………. 9 Gambar 2. Diagram fishbone …………………………………………………………. 14
BAB I PENDAHULUAN
I.1. Latar belakang
Pelayanan kesehatan menjadi indikator kemajuan suatu negara. Indonesia sebagai salah satu negara berkembang terus berusaha memperbaiki pelayanan kesehatan menuju lebih baik. Kementerian Kesehatan telah menjabarkan Misi Presiden tahun 2020-2024 yaitu menurunkan angka kematian ibu dan bayi, menurunkan angka stunting pada balita, memperbaiki pengelolaan jaminan kesehatan nasional, dan meningkatkan kemandirian penggunaan produk farmasi dan alat kesehatan dalam negeri.1
Angka kematian bayi dan ibu merupakan indikator sensitif untuk mengukur keberhasilan pencapaian pembangunan kesehatan sekaligus pencapaian indeks modal manusia. Angka stunting adalah proyek mayor sebagai parameter pembangunan modal manusia. Jaminan kesehatan nasional diperbaiki dari sisi ekualitas pelayanan kesehatan antar masyarakat dan sisi kendali mutu dan biaya. Pemerintah bertekad melakukan langkah strategis untuk mendorong penggunaan obat dan alat kesehatan produksi dalam negeri.1
Di dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional tahun 2020-2024, pemerintah ingin meningkatkan pelayanan kesehatan terutama penguatan pelayanan kesehatan primer, dengan mendorong upaya promotif dan preventif yang didukung oleh inovasi dan teknologi. Lima prioritas dalam peningkatan pelayanan kesehatan primer yakni peningkatan kesehatan ibu anak, percepatan perbaikan gizi masyarakat, peningkatan pengendalian penyakit, pembudayaan gerakan masyarakat hidup sehat, serta penguatan sistem kesehatan dan pengawasan obat makanan.2-5
Kementerian Kesehatan berupaya mendorong dan mendukung reformasi sistem kesehatan yang ditetapkan dalam enam transformasi kesehatan yaitu transformasi layanan primer, layanan rujukan, sistem ketahanan kesehatan, sistem pembiayaan kesehatan, sumber daya manusia di bidang kesehatan, dan teknologi kesehatan.
Transformasi layanan primer ditingkatkan melalui penguatan Puskesmas, penguatan fungsi promotif dan preventif. Layanan rujukan juga ditingkatkan meliputi ketersediaan tempat tidur, akreditasi rumah sakit, serta pelayanan kesehatan di daerah terpencil, tertinggal, perbatasan, dan kepulauan. Ketahanan kesehatan dilakukan dalam bentuk peningkatan kemandirian farmasi dan alat kesehatan, serta ketahanan tanggap darurat.
1
Terkait transformasi pembiayaan kesehatan, Kementerian Kesehatan melakukan transparansi dan perhitungan yang layak untuk menghindari masalah antara penyedia dan pembayar jasa. Pemerataan sumber daya manusia di bidang kesehatan yang berkualitas diperlukan untuk memperbaiki dan meningkatkan akses masyarakat terhadap pelayanan kesehatan. Terakhir, teknologi kesehatan dikembangkan seperti telemedicine dan digitilisasi layanan kesehatan.2-5
Aparatur sipil negara (ASN) adalah aset bangsa dalam menjalankan roda pemerintahan. Tugas dan kewajiban ASN sebagai aparat negara untuk melayani masyarakat telah diatur dalam Undang-Undang no. 5 tahun 2014 tentang Aparatur Sipil
Negara Nilai atau core values ASN “Ber-AKHLAK“ telah diresmikan oleh Presiden Joko
Widodo pada tanggal 27 Juli 2021. “Ber-AKHLAK” dijabarkan menjadi Berorientasi pelayanan, Akuntabel, Kompeten, Harmonis, Loyal, Adaptif, dan Kolaboratif. Nilai pertama Berorientasi pelayanan dimaknai dengan setiap ASN bersikap ramah, dapat diandalkan, dan wajib berkomitmen memberikan pelayanan yang baik bagi masyarakat.
Nilai Akuntabel digambarkan dengan rasa tanggung jawab ASN untuk mengemban kewenangan yang telah diberikan secara transparan, serta menggunakan kekayaan barang milik Negara secara bertanggung jawab, efektif, dan efisien. Nilai Kompeten dimaknai dengan peningkatan kompetensi ASN agar mampu menjawab tantangan dan melaksanakan tugas dengan baik. Nilai Harmoni dikaitkan dengan rasa saling peduli dan menghargai perbedaan antar ASN di lingkungan kerja sehingga tercipta harmonisasi lingkungan kerja yang kondusif. Nilai Loyal dimaknai dengan dedikasi ASN mengutamakan kepentingan bangsa dan negara, memegang teguh Pancasila dan UUD
1945, serta setia pada Negara Kesatuan Republik Indonesia dan pemerintahan yang sah.
Nilai Adaptif adalah upaya kreatifitas dan pengembangan inovasi ASN dalam menjawab perubahan demi pelayanan publik lebih baik. Nilai Kolaboratif dimaknai dengan kerjasama antar ASN maupun dengan Kementerian/Lembaga agar saling memberikan kontribusi dan bekerjasama untuk tujuan bersama. Adanya nilai “Ber-AKHLAK” tersebut diharapkan mendorong ASN untuk memiliki karakter yang profesional guna mewujudkan tata Kelola pemerintahan yang baik dan cerdas (SMART Governance).2-5
Dalam upaya menurunkan angka kematian ibu dan bayi, Kementerian Kesehatan telah menetapkan Rumah Sakit Anak dan Bunda (RSAB) Harapan Kita menjadi pusat kesehatan ibu anak nasional melalui SK Menteri Kesehatan No. HK.01.07/Menkes/638/2019. Angka kematian ibu ditargetkan turun dari 305 menjadi
2
183 per 100.000 kelahiran hidup; sedangkan target angka kematian bayi menjadi 16 dari 24 per 1000 kelahiran hidup di tahun 2024.
Salah satu bentuk implementasi SMART Governance di lingkungan kerja RSAB
Harapan Kita adalah melakukan perubahan isu yang menjadi kendala dalam pelayanan medis. Pada rancangan aktualisasi ini, isu yang hendak dibahas adalah optimalisasi formulir persetujuan tindakan medis. Isu tersebut dilatarbelakangi oleh tingginya angka ketidaklengkapan formulir persetujuan tindakan medis, padahal formulir persetujuan adalah suatu kesepakatan antara pasien dan tenaga kesehatan yang mempunyai nilai hukum.
Formulir persetujuan tindakan medis (informed consent) adalah persetujuan tindakan kedokteran yang diberikan oleh pasien atau wali setelah dokter memberikan penjelasan secara rinci mengenai tindakan kedokteran yang akan dilakukan terhadap pasien tersebut. Hal itu telah diatur dalam Undang Undang Nomor 29 Tahun 2004 Pasal 45, Peraturan Menteri Kesehatan RI nomor 290 /Menkes/Per/III/2008 serta Manual
Persetujuan Tindakan Kedokteran Konsil Kedokteran Indonesia tahun 2008.6
Dalam hubungan antara dokter dan pasien, pasien mempunyai dua hak yaitu hak
mendapatkan informasi dan hak menentukan nasib sendiri. Dokter harus memahami bahwa memberikan informasi dan mendapatkan persetujuan adalah dua hal yang berbeda meskipun saling berhubungan. Dalam hal memberikan informasi, pasien dan/atau wali berhak mendapat penjelasan dengan bahasa yang mudah dipahami terkait kondisi penyakit, langkah diagnosis/terapi, risiko/keuntungan, dan alternatif tindakan (bila ada; termasuk bila tidak ada tindakan). Lalu, pemahaman pasien dan/atau wali harus dinilai lagi oleh dokter. Pada akhirnya, persetujuan harus dilakukan secara sukarela dan kemandirian untuk memilih atau menentukan jenis terapi.7
Tuntutan medis (malpraktik) dapat diakibatkan oleh kelalaian dokter dalam menjalankan tugas secara profesional, kesalahan yang disengaja atau tidak etis, dan kesalahan dokter tidak melakukan tindakan sesuai dengan apa yang telah dijanjikan kepada pasien atau wali. Oleh karena itu, formulir persetujuan tindakan medis memiliki konsekuensi hukum yuridis yang berhubungan dengan tanggung jawab pidana.8
Contoh kasus tuntutan medis yang berkaitan dengan misinformasi persetujuan tindakan medis adalah kasus yang menimpa dokter Ayu di RS Prof Dr RD Kandou Manado tahun 2012. Saat itu keputusan majelis hakim Mahkamah Agung menyatakan ada tiga kesalahan yang dilakukan dokter Ayu. Salah satu dari tiga kesalahan itu adalah dokter tidak
3
pernah menyampaikan kepada keluarga pasien setiap risiko dan kemungkinan yang akan terjadi akibat operasi sectio caesarean, termasuk risiko kematian.9
Persetujuan tindakan medis pada kelompok anak mempunyai tantangan tersendiri.
Persetujuan harus dilakukan orangtua tetapi keputusan tersebut sebaiknya memperhatikan keinginan anak dan hubungan orangtua-anak, bukan sekedar keputusan ego dari orangtua. Sampai saat ini belum ada peraturan baku mengenai batasan usia anak yang dapat memberikan persetujuan sendiri. American Academy of Pediatrics memaparkan, berdasarkan Tennesse Supreme Court 1987, anak berusia <7 tahun belum dapat memberikan persetujuan sendiri; anak berusia 7-14 tahun dapat dipertimbangkan; sedangkan anak berusia 14 tahun sudah dinilai memiliki kapasitas untuk memberikan persetujuan sendiri.7
Berlatar belakang kasus tersebut di atas, tindakan medis harus dijelaskan oleh dokter kepada pasien atau wali dan formulirnya harus ditandatangani oleh dokter.
Pembuktian tindak pidana malpraktik yang diakibatkan formulir persetujuan tindakan medis akan dikaji dari aspek pembuktian yaitu tindakan terbukti sesuai standar pelayanan, terbukti pasien mengalami kerugian atau kerusakan setelah perataan dan terbukti ada hubungan sebab-akibat antara pelaksanaan praktik yang tidak sesuai dengan standar dengan kerugian yang dialami pasien.8
I.2. Tujuan
Tujuan penyusunan rancangan aktualisasi dibagi menjadi dua:
1. Tujuan umum:
• Bentuk implementasi dari aktualisasi nilai ASN yaitu Ber-AKHLAK (berorientasi pelayanan, akuntabel, kompeten, harmonis, loyal, adaptif, kolaboratif).
• Menjadi ASN Ber-AKHLAK untuk mewujudkan SMART Governance
2. Tujuan khusus:
• Menyusun formulir persetujuan tindakan medis yang lebih ringkas dan mudah dipahami di ruang intensif RSAB Harapan Kita.
• Memberikan kontribusi terhadap peningkatan kelengkapan formulir persetujuan tindakan medis di ruang intensif RSAB Harapan Kita.
4
I.3. Manfaat
Manfaat penyusunan rancangan aktualisasi dibagi menjadi:
1. Bagi calon aparatur sipil negara
• Menjadi aparatur sipil negara yang BerAKHLAK dalam bentuk aktualisasi dan habituasi serta meningkatkan kreativitas dan inovasi dalam pemecahan masalah di unit kerja.
2. Bagi instansi kerja
• Tercapainya salah satu visi dan misi RSAB Harapan Kita.
• Terpenuhinya alternatif penyelesaian masalah di RSAB Harapan Kita.
5
BAB II PROFIL ORGANISASI DAN PESERTA
II.1. Profil instansi
II.1.1. Gambaran umum instansi
RSAB Harapan Kita adalah RS khusus kelas A yang ditetapkan menjadi pusat rujukan kesehatan ibu dan anak tahun 2019. RSAB Harapan Kita menerapkan pola pengelolaan keuangan Badan Layanan Umum, berada di bawah dan bertanggung jawab kepada Menteri Kesehatan Republik Indonesia melalui pembinaan Direktur Jenderal Pelayanan Kesehatan Republik Indonesia, yang berkedudukan di Jalan
Let.Jen.S. Parman Kav. 87 Kelurahan Kota Bambu Utara Kecamatan Grogol
Petamburan, Jakarta Barat. Telepon (021) 5668284 (hunting) Faksimili (021) 5601816,5673832, Pos-el: info@rsabhk.co.id , Laman: www.rsabhk.co.id .
II.1.2. Visi dan misi
RSAB Harapan Kita mempunyai visi menjadi terdepan sebagai pusat kesehatan ibu dan anak nasional. Misi adalah menyelenggarakan pelayanan kesehatan ibu anak yang aman dan berkualitas, pendidikan tenaga kesehatan di bidang kesehatan ibu anak, pelatihan di bidang kesehatan ibu anak, penelitian di bidang kesehatan ibu anak, dan meningkatkan jejaring dan sistem rujukan di bidang kesehatan ibu anak.
II.1.3. Nilai dan moto
Nilai CANTIK RSAB Harapan Kita adalah cepat, akurat, nyaman dan aman, transparan dan akuntabel, integritas tinggi, dan kerjasama tim. Moto FACT adalah fast (cepat dalam memberikan pelayanan), accurate (tepat waktu, tepat sasaran, sesuai dengan prosedur, taat aturan), convenient and safe (nyaman dan aman dalam mendapatkan pelayanan kesehatan), dan team work (pelayanan diberikan secara terpadu antar profesi untuk mencapai totalqualitymanagement).
II.1.4. Tujuan instansi
RSAB Harapan Kita memiliki tujuan yaitu “Terwujudnya pelayanan kesehatan
Ibu dan Anak yang aman dan berkualitas dengan pelayanan unggulan Birth Defect
Integrated Center (BIDIC), Perinatal Terpadu dan Rujukan, dan Teknologi Reproduksi
Berbantu melalui kerja sana tim, jejaring dan sistem rujukan serta terselanggaranya
6
pendidikan, pelatihan, dan penelitian yang terintegrasi dengan aktivitas pelayanan”.
II.1.5. Layanan unggulan instansi
Layanan unggulan RSAB Harapan Kita difokuskan ke dalam tiga layanan yaitu BIDIC, Perinatal Terpadu dan Teknologi Reproduksi Berbantu. BIDIC adalah pelayanan kelainan bawaan lahir yang dilakukan secara terpadu meliputi berbagai bidang Subspesialis sesuai dengan kelainan yang ditemukan pada janin dan bayi, meliputi diagnostik, terapi obat-obatan dan tindakan bedah selama masih dalam kandungan dan juga setelah bayi lahir. Kelainan bawaan lahir adalah kelainan struktur, fungsi dan metabolisme yang ditemukan pada saat lahir yang dapat menyebabkan kelainan fisik dan mental sampai kematian. Kelainan bawaan lahir dapat disebabkan oleh faktor genetik, kurang mikronutrien tertentu, polusi, alkohol, rokok, obat-obat teratogenik, infeksi rubella, infeksi menular seksual, dan lain lain, namun upaya-upaya untuk mengatasi hal ini belum dilakukan optimal dan tergintegrasi. Tujuan dikembangkannya
layanan BIDIC adalah menjadi pusat deteksi dini dan tatalaksana komprehensif kelainan bawaan lahir dalam satu atap secara nasional, semenjak konsepsi sampai anak usia 18 tahun. Visi BIDIC adalah towards an excellent and comprehensive center in detectionandmanagementofbirthdefects.
Layanan Perinatal Terpadu bertujuan untuk menciptakan kondisi ibu dan janin serta bayi sampai usia satu bulan agar dapat mencapai pertumbuhan dan perkembangan yang optimal, sehingga terhindar dari penyakit, kecacatan dan kematian serta pengembangan NICU sebagai NeonatalSurgeryCenter.
Klinik Melati memberikan layanan terpadu untuk pelayanan bayi tabung khusus pasangan suami istri yang sulit memiliki keturunan, mulai masalah kedaruratan sampai masalah kompleks yang membutuhkan pemeriksaan mendetail. Gangguan kesuburan atau infertilitas merupakan penyakit sistem reproduksi yang menyebabkan pasangan suami istri mengalami kesulitan hamil walaupun telah melakukan hubungan suami istri secara teratur tanpa menggunakan alat kontrasepsi selama satu tahun.
7
II.2. Profil Peserta
Nama : Felix
NIP : 198411252022031001
Pangkat/Golongan : Penata Muda Tk I/IIIB
Jabatan : Dokter Ahli Pertama
Unit Kerja/Instansi : Emergensi Rawat Intensif Anak RSAB
Harapan Kita
Tugas dan fungsi jabatan selaku dokter spesialis anak di ruang intensif anak RSAB
Harapan Kita sesuai sasaran kinerja pegawai adalah:
1. Melaksanakan pelayanan medik rawat intensif anak
2. Melaksanakan tindakan spesialistik
3. Melaksanakan pelayanan kegawatdaruratan medik
4. Menyusun catatan medik pasien
5. Melakukan atau melayani konsultasi
6. Melaksanakan tugas jaga
7. Menyusun laporan pelaksanaan tugas
8
9
Gambar 1. Struktur Organisasi RS ANAK Bunda Harapan Kita
BAB III RANCANGAN AKTUALISASI
Ruang rawat intensif anak adalah salah satu bagian dari rumah sakit yang diperuntukkan merawat anak sakit berat atau parah dengan perawatan tingkat tinggi. Anak akan dipantau secara intensif terutama tanda vital yang meliputi detak jantung, pernapasan, dan tekanan darah. Anak juga akan mendapat penanganan yang tidak akan didapat di ruang rawat lain seperti pemasangan alat bantu napas (ventilator) dan obatobatan yang membutuhkan pemantauan ketat dari tenaga kesehatan.10 Oleh karena itu, hal yang wajar bila orangtua akan mengalami tingkat stres yang tinggi. Beberapa studi menunjukkan faktor stres orangtua yang anaknya dirawat intensif berkaitan dengan hal berikut yaitu perawatan intensif pertama kali, usia orangtua <30 tahun, tingkat kesadaran anak yang rendah, dan tingkat keparahan penyakit anak yang tinggi.11,12
III.1. Issue scan
1. Belum tepatnya pemberian dosis obat emergensi di ruang intensif anak
RSAB Harapan Kita tahun 2022
Dalam menjalani tugas perawatan pasien anak, dosis obat perlu dihitung berdasarkan berat badan. Hal itu berbeda dengan pasien dewasa yang cenderung lebih
mudah, misalnya minum parasetamol pada pasien dewasa cukup 3x1 tablet (500 mg); sedangkan pada anak bisa 3x60 mg, 3x120 mg, atau 3x180 mg tergantung dari berat badan.
Ketika pasien anak dalam kondisi emergensi, perhitungan dosis obat sering menjadi masalah karena tenaga kesehatan harus sigap menghitung dosis obat emergensi, bersamaan dengan tindakan yang lifesaving. Contoh obat emergensi adalah epinefrin (1 ampul berisi 1 mL/mg = 1 mL mengandung 1 mg epinefrin). Dosis epinefrin adalah 0,01 mg/kgBB. Dewasa berat badan 50 kg, dosis epinefrin 0,5 mg atau 0,5 mL; sedangkan anak gizi buruk berat badan 3 kg, dosis epinefrin 0,03 mg atau 0,03 mL sehingga lebih sulit untuk diambil.
Sebuah studi di unit gawat darurat anak memaparkan bahwa 107 dari 32.928 resep obat tergolong tidak tepat yaitu 96 salah dosis (75 lebih dosis, 21 kurang dosis), 5 salah pasien, dan 6 formulasi obat salah. Ibuprofen, benzodiazepin, dan kortikosteroid adalah jenis obat yang sering salah peresepan. Tidak ada akibat fatal yang terjadi pada pasien anak berdasarkan studi tersebut.13
10
Laporan kasus lain memaparkan epinefrin yang diberikan lebih dosis dapat memicu komplikasi jantung yang fatal. Epinefrin adalah obat utama pada penanganan syok anafilaksis (bentuk alergi berat) yang diberikan secara intramuskular. Akan tetapi ketika epinefrin diberikan secara intravena pada kasus anafilaksis akan menimbulkan takikardi hingga henti jantung. Laporan kasus tersebut menyarankan agar epinefrin sudah diracik terlebih dahulu, disimpan di trolley emergensi, dan diberikan label yang membedakan antara dosis untuk penanganan anafilaksis dan dosis untuk resusitasi henti jantung.14
2. Belum efektifnya pemberian persetujuan tindakan medis emergensi di ruang intensif anak RSAB Harapan Kita tahun 2022. Anak yang dirawat di ruang intensif akan membutuhkan banyak tindakan medis seperti ventilator, pemasangan infus di pembuluh darah besar (centralvenouscatheter), transfusi darah, pungsi cairan tubuh, resusitasi jantung paru, dan lain-lain. Formulir persetujuan tindakan medis membutuhkan banyak informasi yang harus diisi. Ada 11 informasi yang harus dilengkapi sebelum orangtua menandatangani yaitu diagnosis, dasar diagnosis, tindakan kedokteran, indikasi tindakan, tata cara, tujuan, risiko, komplikasi, prognosis, alternatif – risiko, dan hal lain yang akan dilakukan untuk menyelamatkan pasien. Tenaga kesehatan mempunyai kewajiban untuk menjelaskan informasi tersebut. Akan tetapi, tenaga kesehatan lebih sering menjelaskan singkat karena terburu-buru dan keluarga langsung menandatangani tanpa memahami prosedur secara benar. Keluarga hanya berharap semua tindakan itu baik tanpa memikirkan kemungkinan efek samping dan risiko.
Studi di rumah sakit rujukan di Bandung memaparkan ketidaklengkapan formulir persetujuan tindakan medis pada informasi prognosis (54,1%), alternatif – risiko (52,5%), dan komplikasi (50,8%).15 Penelitian di rumah sakit di Padang menunjukkan hanya 66,3% formulir persetujuan diisi lengkap. Jenis informasi yang terbanyak tidak lengkap adalah tujuan (58,2%), indikasi (55,2%), dan risiko (47,8%).16 Formulir persetujuan tindakan medis telah diatur dalam Permenkes RI No. 290/MENKES/PER/III/2008 dan dapat menjadi bahan pembuktian dalam perkara hukum dan perlindungan tenaga kesehatan dari tuntutan yang tidak proporsional dari pasien.
11
3. Belum terintegrasinya pencatatan hasil laboratorium yang membutuhkan durasi lama di ruang intensif anak RSAB Harapan Kita tahun 2022. Pemeriksaan laboratorium di ruang intensif sangat banyak. Hasil laboratorium ada yang segera, namun ada yang membutuhkan beberapa hari hingga minggu seperti kultur spesimen, profil imunologi (antibodi/seluler), biopsi/sitologi, analisa genetik, dan lain-lain. Akibatnya, pencatatan hasil laboratorium sering terlewatkan dan pada beberapa kasus memperlambat tatalaksana dan penentuan prognosis.
III.2.
Untuk mengangkat salah satu dari beberapa isu di atas, maka analisis isu dibuat berdasarkan teknik tapisan dengan menetapkan rentang penilaian (1-5) pada kriteria Aktual, Kekhalayakan, Problematik, dan Kelayakan. Aktual artinya isu tersebut benar terjadi dan sedang hangat dibicarakan dalam masyarakat. Kekhalayakan artinya isu tersebut menyangkut hajat hidup orang banyak. Problematik artinya isu tersebut memiliki dimensi masalah yang kompleks, sehingga perlu dicarikan segera solusi secara komperehensif, dan Kelayakan artinya isu tersebut masuk akal, realistis, relevan, dan dapat dimunculkan inisiatif pemecahan masalahnya. Bagan di bawah ini memperlihatkan keterangan yang diperoleh berdasarkan data dan fakta yang ada.
1. Analisis isu dengan metode APKL
2. Belum efektifnya pemberian formulir persetujuan tindakan
emergensi di ruang intensif anak
3. Belum terintegrasinya pencatatan hasil laboratorium yang membutuhkan durasi lama di ruang
2022
Dari tahapan penapisan isu dengan metode APKL di atas, terpilih isu yang menjadi prioritas yaitu tidak lengkap dan tidak mudah dipahaminya formulir
12
Tapisan isu
No. Isu A P K L Jumlah 1. Belum tepatnya pemberian dosis obat emergensi di ruang intensif anak RSAB Harapan Kita tahun 2022 5 5 5 4 19
medis
RSAB Harapan
5 5 5 5 20
Tabel
Kita tahun 2022
intensif
Harapan
tahun
5 4 5 3 17
anak RSAB
Kita
persetujuan tindakan medis emergensi di ruang rawat intensif anak RS Anak
Bunda Harapan Kita tahun 2022.
III.3. Metode fishbone sebab akibat
Akar penyebab masalah pada isu belum efektinya pemberian formulir persetujuan tindakan medis emergensi di ruang intensif anak RS Anak Bunda Harapan
Kita tahun 2022 dapat terlihat dari gambar diagram fishbone (gambar 2).
III.4. Gagasan kreatif pemecahan isu
Berdasarkan hal diatas diperlukan upaya ataupun gagasan untuk menyelesaikan permasalahan tersebut. Gagasan tersebut adalah menyusun formulir persetujuan tindakan medis eergensi yang ringkas dan informatif. Dari gagasan tersebut, beberapa kegiatan aktualisasi yang dapat dilaksanakan pada kegiatan aktualisasi adalah:
Tabel 2. Gagasan kreatif pemecahan isu
No. Kegiatan
1. Penetapan identifikasi tindakan medis emergensi yang akan dibuatkan template
2. Persiapan draft formulir persetujuan tindakan medis emergensi yang sudah memiliki template
3. Sosialisasi formulir persetujuan tindakan medis emergensi yang sudah memiliki template
4. Pelaksanaan formulir persetujuan tindakan medis emergensi yang sudah memiliki template
5. Evaluasi pengisian formulir persetujuan tindakan medis emergensi yang sudah memiliki template
13
Sumber
Inovasi
Inovasi
Inovasi
Inovasi
Inovasi
Skills Systems Surroundings
Obat tingkat tinggi
Perawatan tingkat tinggi/intensif
Kecemasan orangtua
Penjelasan dengan metode lisan
Perangkat formulir hanya kertas
Penjelasan tidak baku/seragam
Belum ada sistem evaluasi kelengkapan formulir
Belum efektifnya
Kurang pemahaman orangtua
Pendidikan orangtua rendah
Waktu untuk penjelasan informasi kurang
Dokter buru-buru
Suppliers
pemberian informed consent tindakan medis emergensi di ruang intensif anak
Risiko tindakan
Efek samping tindakan
RSAB Harapan Kita tahun 2022
Risiko tuntutan malpraktik
Safety
Gambar 2. Diagram fishbone
14
NO KEGIATAN
tindakan medis
emergensi yang
akan dibuatkan
template baku
o Konsultasi dengan
mentor
o Mengidentifikasi
jumlah tindakan
medis emergensi
o Memilih beberapa
tindakan medis
emergensi yang
sering dilakukan
tersebut untuk
dibuatkan template
o Mengidentifikasi
informasi yang akan
dimasukkan ke dalam
template formulir
tindakan medis
emergensi
• Dokumentasi
tindakan medis
emergensi
• Dokumentasi
tindakan medis emergensi
yang dipilih
yaitu intubasi,
pemasangan
akses vena
sentral, transfusi darah, dan pungsi lumbal
Konsultasi dengan
mentor adalah
bentuk dari Loyal, Kolaboratif, dan
Harmonis;
Melakukan
identifikasi dan
memilih beberapa
tindakan medis
untuk dibuatkan
template adalah
bentuk
Kompeten, transparansi,
tanggung jawab,
dan Akuntabel,
serta wujud awal
Identifikasi masalah
yaitu
ketidaklengkapan
formulir persetujuan
tindakan medis
sejalan dengan
kontribusi misi RSAB
Harapan Kita yaitu
menyelenggarakan
pelayanan
kesehatan ibu anak
yang aman; serta
sesuai dengan moto
accurate – sesuai
prosedur.
Dengan
melakukan
identifikasi
tindakan medis
emergensi
diharapkan
dapat
menguatkan
moto akurat
15
Tabel 3. Matriks rencana kegiatan
TAHAPAN
OUTPUT KETERKAITAN NILAI ASN KONTRIBUSI TERHADAP VISI MISI ORGANISASI PENGUATAN NILAI ORGANISASI
KEGIATAN
1. Penetapan identifikasi
2. Persiapan draft
formulir
persetujuan
tindakan medis
emergensi yang
sudah memiliki
template
o Melakukan konsultasi
dengan mentor
o Melakukan konsultasi
dengan Kepala
Instalasi ICU, Ketua
Kelompok Staf Medis
Anak, Komite Medik,
Instalasi Rekam
Medis, dan Komite
Hukum RSAB Harapan
Kita
dari upaya
Berorientasi
pelayanan; Nilai
Adaptif adalah
menyesuaikan
identifikasi dengan
masalah yang
terjadi di lapangan
selama ini.
• Draft formulir
persetujuan
tindakan
medis yang
sudah terisi
disertai
grafis/gambar
Menciptakan draft
formulir
persetujuan
tindakan medis
yang sudah terisi
template
membutuhkan
sikap Kompeten
dan wujud awal
dari Berorientasi
pelayanan;
Draft formulir
persetujuan tindakan
medis yang informatif
sejalan dengan
kontribusi misi RSAB
Harapan Kita yaitu
menyelenggarakan
pelayanan
kesehatan ibu anak
yang aman
Dengan
mempersiapkan
draft formulir
persetujuan
tindakan emergensi diharapkan
dapat
menguatkan
sistem pelayaan
kesehatan anak
16
o Membuat draft
template isian item
formulir persetujuan
tindakan medis (yang
sudah dipilih)
o Membuat
grafis/ringkasan
gambar dari masing-
masing tindakan
medis (yang sudah
dipilih)
o Melakukan konsultasi
kembali draft formulir
tindakan medis ke
Kepala Instalasi ICU,
Ketua Kelompok Staf
Medis Anak, Komite
Medik, Instalasi
Rekam Medis, dan
Komite Hukum RSAB
Harapan Kita
Grafis/ringkasan
gambar pada
formulir
persetujuan
tindakan medis
sesuai dengan nilai
Adaptif dan
Akuntabel yaitu
inovasi yang lebih
informatif dan
transparan pada
orangtua pasien;
Konsultasi dengan
atasan/pimpinan
dan kerjasama unit
lain adalah bentuk
dari Loyal,
Harmonis dan
Kolaboratif.
17
3. Sosialisasi
formulir persetujuan
tindakan medis
emergensi yang
sudah memiliki template
o Membuat teknis cara
pengisian formulir
tindakan medis
o Melakukan konsultasi
dengan mentor
o Mengundang dokter
dan perawat di
lingkungan ruang
intensif dan instalasi
gawat darurat untuk
sosialisasi
o Melakukan sosialisasi
secara daring atau
luring mengenai
formulir persetujuan
tindakan medis yang
sudah memiliki template
o Melakukan sesi tanya
jawab terkait sesi
sosialisasi
• Dokumentasi
pertemuan dengan mentor
• Dokumentasi
surat undangan
sosialisasi
• Dokumentasi
kegiatan
sosialisasi
• Dokumentasi
hasil tanya
jawab terkait
sesi sosialisasi
Konsultasi dengan
mentor adalah
bentuk dari Loyal;
Melakukan
sosialisasi dengan
rekan sejawat di beberapa unit kerja
adalah bentuk
Harmonis dan
Kolaboratif.
Undangan ke unit
terkait adalah
upaya
transparansi,
Akuntabel dan
Berorientasi
pelayanan;
Kegiatan sosialisasi
Sosialisasi formulir
persetujuan tindakan
medis sejalan dengan
kontribusi misi RSAB
Harapan Kita yaitu
menyelenggarakan
pelayanan
kesehatan ibu anak
yang aman; serta
sesuai dengan moto
kerjasama tim dan
moto team work
Dengan
melakukan
sosialisasi
formulir
tindakan medis emergensi
diharapkan
dapat
menguatkan
sistem pelayaan
kesehatan anak
dan moto kerjasama tim
18
4. Pelaksanaan
formulir persetujuan
tindakan medis
emergensi yang
sudah memiliki template
o Melakukan konsultasi
dengan mentor
o Mencetak dan memperbanyak
formulir persetujuan
tindakan medis yang
sudah memiliki template
o Mengimplementasikan
uji coba pelaksanaan
pengisian formulir
persetujuan tindakan
medis secara
langsung kepada
orangtua pasien
berkaitan dengan
nilai Kompeten;
Sosialisasi baik
luring maupun
daring adalah nilai
Adaptif
• Dokumentasi
pertemuan dengan
mentor
• Dokumentasi
formulir
persetujuan
tindakan
medis yang
sudah memiliki
template
• Dokumentasi
formulir
persetujuan
tindakan
Konsultasi dengan
mentor adalah
bentuk dari Loyal;
Melaksanakan
pengisian formulir
persetujuan
tindakan medis
pada orangtua
pasien menjadi
wujud
Berorientasi
pelayanan;
informasi dalam
setiap item
persetujuan
Pelaksanaan formulir
persetujuan tindakan
medis sejalan dengan
kontribusi misi RSAB
Harapan Kita yaitu
menyelenggarakan
pelayanan
kesehatan ibu anak
yang aman
berkualitas; serta
sesuai dengan nilai
transparan
akunbatel, dan
moto convenient and safe
Dengan
melakukan
pelaksanaan
formulir
tindakan medis emergensi
diharapkan dapat menguatkan
sistem pelayaan
kesehatan anak, nilai akuntabel, dan moto aman
nyaman
19
pengisian formulir
persetujuan
tindakan medis
o Melakukan
pengawasan prosedur
pengisian formulir
persetujuan tindakan
medis agar sesuai
kelengkapan
medis
emergensi
yang sudah
diisi oleh
orangtua
tindakan medis
adalah bentuk
Kompeten, transparansi
Akuntabel kepada
orangtua pasien;
Formulir yang
informatif adalah
bentuk Adaptif;
Hubungan
Harmonis dan
Kolaboratorif
antara orangtua
pasien dan dokter
dalam pengisian
formulir
o Melakukan konsultasi
dengan mentor
o Melakukan pertemuan
umpan balik dengan
dokter dan perawat di
• Dokumentasi
pertemuan dengan mentor
• Dokumentasi
Konsultasi dengan
mentor adalah
bentuk dari Loyal;
Bersedia
melakukan evaluasi
Evaluasi pengisian
formulir persetujuan
tindakan medis
sejalan dengan
kontribusi misi RSAB
Dengan
melakukan evaluasi
pengisian formulir
20
5. Evaluasi
emergensi yang
sudah memiliki
template
lingkungan ruang
intensif dan instalasi
gawat darurat
o Melakukan konsultasi
dengan Kepala
Instalasi ICU, Ketua
Kelompok Staf Medis
Anak, Komite Medik,
Instalasi Rekam
Medis, dan Komite
Hukum RSAB Harapan
Kita terkait
kekurangan yang
terjadi di lapangan
o Melakukan revisi pada
formulir persetujuan
tindakan medis
pertemuan
umpan balik
• Dokumentasi
pertemuan dengan
atasan dan
unit terkait
• Formulir
persetujuan
tindakan
medis yang
sudah direvisi
sesuai umpan
balik
dengan unit terkait
adalah bentuk
Harmonis dan
Kolaboratif;
Revisi adalah
bentuk Adaptif
agar formulir
persetujuan
tindakan medis
tersusun lebih
baik; selain itu
revisi
membutuhkan nilai
Kompeten dan
bentuk
Berorientasi
pelayanan yang
lebih baik demi
kepentingan pasien
yang transparan,
Akuntabel.
Harapan Kita yaitu
menyelenggarakan
pelayanan
kesehatan ibu anak
yang aman
berkualitas; serta
sesuai dengan nilai
transparan
akunbatel, dan
moto accurate
tindakan medis
emergensi
diharapkan
dapat
menguatkan
sistem pelayaan
kesehatan anak, nilai akuntabel, dan moto akurat
21
No. Kegiatan Juni Juli Keterangan
1. Penetapan identifikasi tindakan medis emergensi
yang akan dibuatkan template baku
2. Persiapan draft formulir persetujuan tindakan medis
emergensi yang sudah memiliki template
3. Sosialisasi formulir persetujuan tindakan medis
emergensi yang sudah memiliki template
4. Pelaksanaan formulir persetujuan tindakan medis
emergensi yang sudah memiliki template
5. Evaluasi pengisian formulir persetujuan tindakan
medis emergensi yang sudah memiliki template
22
Tabel 4. Rencana jadwal aktualisasi
Mgg-4 Mgg-1 Mgg-2 Mgg-3 Mgg-4
DAFTAR PUSTAKA
1. Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Kementerian Kesehatan RI. Rencanan aksi program 2020-2024. Diunduh dari https://erenggar.kemkes.go.id/file2018/e-performance/1-416151-3tahunan-367.pdf pada tanggal 10 Juni 2022.
2. Kementerian Keuangan Republik Indonesia. Ini fokus anggaran kesehatan dalam
RAPBN 2022. Diunduh dari https://www.kemenkeu.go.id/publikasi/berita/ini-fokusanggaran-kesehatan-dalam-rapbn-2022/ pada tanggal 10 Juni 2022.
3. Redaksi Sehat Negeriku. Menkes: kesiapan transformasi sistem kesehatan butuh dukungan seluruh pihak. Diunduh dari
https://sehatnegeriku.kemkes.go.id/baca/umum/20211122/1138879/menkeskesiapan-transformasi-sistem-kesehatan-butuh-dukungan-seluruh-pihak/ pada tanggal 10 Juni 2022.
4. Purwanto B. Kementerian kesehatan RI bertransformasi. Diunduh dari
https://kesmas.kemkes.go.id/konten/133/0/kementerian-kesehatan-ribertransformasi pada tanggal 10 Juni 2022.
5. Humas Indonesia. Transformasi kesehatan Indonesia dengan enam pilar. Diunduh dari
https://humasindonesia.id/berita/transformasi-kesehatan-indonesia-denganenam-pilar-627 pada tanggal 10 Juni 2022.
6. Kristiawan AP. Kedudukan hukum informed consent dalam pemenuhan hak pasien di rumah sakit. Jurnal Hukum dan Dinamika Masyarakat. 2021;19:1-15.
7. Tajuddin MA, Pieter S. Urgensi informed consenst antara dokter dengan pasien terhadap pembuktian tindak pidana malpraktik. Widya Pranata Hukum. 2021;3:2844.
8. Katz AL, Webb SA. Informed consent in decision-making in pediatric practice. Pediatrics. 2016:138:e20161485.
9. Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia. Putusan Mahkamah Agung
nomor 365K/Pid/2012 tanggal 18 September 2012. Diunduh dari
https://putusan3.mahkamahagung.go.id/direktori/putusan/9e48e293e14434de31d 0e42541aea526.html pada tanggal 20 Juni 2022.
10. Torres A. When your child’s in the pediatric intensive care unit. Diunduh dari
https://kidshealth.org/en/parents/picu.html pada tanggal 22 Mei 2022.
23
11. Kumar BS, Avabratha KS. Parental stress: a study from a pediatric intensive care unit in Mangalore. Int J Contemp Pediatr. 2015;2:401-5
12. Pooni PA, Singh D, Bains HS, Misra P, Soni RK. Parental stress in a paediatric intensive care unit in Punjab, India. J Paediatr Child Health. 2013;49:204-9.
13. Todd SE, Thompson AJ, Russell WS. Retrospective review for medication dose errors in pediatric emergency department medication orders that bypassed pharmacist review. Pediatr Emerg Care 2021.37:e1308-10.
14. Kanwar M, Irvin CB, Frank JJ, Weber K, Rosman H. Confusion about epinephrine dosing leading to iatrogenic overdose: a life-threatening problem with a potential solution. Ann Emerg Med. 2009;55:341-4.
15. Herfiyanti L. Kelengkapan informed consent tindakan bedah menunjang akreditasi JCI Standar HPK 6 pasien orthopedi. Jurnal Manajemen Informasi Kesehatan Indonesia. 2015;3:81-8.
16. Oktavia D, Hardisman, Erkadius. Analisis ketidaklengkapan pengisian lembar informed consent pasien beda di rumah sakit tingkat III dr. Reksodiwiryo Padang. Jurnal Manajemen Informasi Kesehatan Indonesia. 2020;8:15-24.
24