13 minute read

APAKAH “KEMERDEKAAN DI DALAM KRISTUS” ITU?

Jendela Teologi

APAKAH “KEMERDEKAAN DI DALAM KRISTUS” ITU?

Di Pelabuhan New York berdiri sebuah patung tembaga raksasa setinggi kurang lebih 46 meter. Patung tersebut didirikan di atas landasan setebal sekitar 46 meter, di puncaknya ditempatkan obor “Lady Liberty,” demikian orang-orang menyebutnya. Dari dasar alas hingga bagian obornya, patung tersebut memiliki ketinggian lebih dari 90 meter dari permukaan tanah. “Patung Liberty” ini dihadiahkan kepada Amerika Serikat dari Perancis pada tahun 1876, menandai 100 tahun sejak Deklarasi Kemerdekaan. Patung tersebut diresmikan sepuluh tahun kemudian pada tahun 1886, dan menjadi simbol yang mendunia dari kemerdekaan dan kebebasan, selama lebih dari 130 tahun.

Tetapi mungkin kita bertanya, kemerdekaan dari apa? Ide mengenai kebebasan, kemerdekaan, telah dimaknai sangat luas dalam dunia modern, dan kita menjadi sangat mudah untuk kehilangan konteks dari istilah ini. Kemerdekaan dari apa dan untuk apa?

Para bapak pendiri Amerika Serikat memikirkan satu nama penjajah dalam pikiran mereka ketika menyerukan kebebasan, yaitu Inggris. Lebih spesifik lagi bagi mereka, kemerdekaan berarti pemerintahan berdasarkan persetujuan dari yang diperintah, bukan otoritas raja. Namun, dalam perjuangan meraih kemerdekaan dari penjajahan Inggris, para pendiri negara ini tidak takut untuk berbicara tentang kemerdekaan dalam istilah-istilah yang agung:

Kami meyakini bahwa kebenarankebenaran ini jelas adanya, bahwa semua manusia diciptakan setara, bahwa semua manusia dianugerahi oleh Sang Pencipta dengan hak-hak tertentu yang tidak dapat dicabut, di antaranya hak untuk Hidup, hak akan Kebebasan, dan hak untuk mengejar Kebahagiaan.

Suara kebebasan di telinga manusia seperti tonik yang kuat, terkadang bisa menyembuhkan penyakit yang memang diderita, namun di lain waktu bisa menjadi racun. Teriakan kebebasan dapat menghasilkan pemilihan umum yang damai atau malah kerusuhan massal. Apa yang tadinya diawali dengan perjuangan untuk kebebasan nasional dari kekuasaan asing dapat dengan cepat berubah menjadi teriakan kebebasan dari pemerintah yang justru kita pilih sendiri ketika ternyata ada hal-hal yang tidak kita sukai dari mereka. Seruan untuk kemerdekaan, jika tidak terkendali, akan segera berubah menjadi tuntutan untuk “kebebasan” dari segala jenis “otoritas” dari luar, baik yang bersifat manusiawi maupun Ilahi.

Pada tahun 1992, Hakim Mahkamah Agung, Anthony Kennedy menuliskan dalam Kasus Planned Parenthood versus Casey, “Inti dari kebebasan adalah hak untuk mendefinisikan konsep diri sendiri mengenai eksistensi, makna, alam semesta, dan

misteri dari kehidupan manusia.” Ini adalah sebuah klaim yang tidak terbatas dan sangat luas, yang mungkin mengejutkan bahkan para pendiri yang paling liberal sekalipun. Ingat, hal itu terjadi 30 tahun yang lalu.

DEKLARASI KEMERDEKAAN

Namun, semodern apa pun kelihatannya penekanan pada kebebasan pribadi, seruan untuk kebebasan jauh lebih kuno daripada liberalisme modern, kerumunan massa Revolusi Perancis, atau dokumen resmi pendirian dari para pendiri Amerika Serikat. Lebih dari 1700 tahun sebelumnya, Rasul Paulus, pada klimaks suratnya kepada jemaat di Galatia, membuat pernyataan besar untuk kemerdekaan. Ini berarti bahwa seruan kebebasan Kristen – untuk kemerdekaan Kristen – jauh mendahului seruan yang menginformasikan dan mendistorsi pengertian kebebasan yang populer di masa kini.

Sumber: https://unsplash.com/

Paulus menulis dalam Galatia 5:1,

Supaya kita sungguh-sungguh merdeka, Kristus telah memerdekakan kita. Karena itu berdirilah teguh dan jangan mau lagi dikenakan kuk perhambaan.

Seruan kemerdekaan ini menangkap beban hati Paulus. Separuh pertama dari ayat ini merupakan deklarasi kemerdekaan, yang mendahului seluruh isi surat, dari Galatia 5:13-6:10, dan kemerdekaan kehidupan Kristen. Lalu paruh kedua dari ayat 1, nasihat untuk berdiri teguh, menangkap kebenaran utama dari Galatia 2:16-4:7: penerimaan penuh oleh Allah melalui iman dalam Yesus Kristus.

Paruh kedua dari ayat 1, memimpin kepada Galatia 5:2-4; dan paruh pertama ayat 1 memimpin kepada Galatia 5:5-6, Paulus kembali kepada bagian pertama dari ayat 1. Lalu, ada dua penekanan yang berbeda dalam teks ini: kita dapat menyebutnya “kemerdekaan dari” (ayat 1-4) dan “kemerdekaan untuk” (ayat 1 dan 5-6).

Pertanyaan bagi kita adalah: Apakah kemerdekaan Kristen itu? Nas ini menjawab dalam dua bagian yang jelas. Kemudian kita akan menemukan pada bagian akhir adalah aspek ketiga yang lebih samar, mudah terluput, dan mungkin lebih penting untuk digarisbawahi.

Jadi, apakah kemerdekaan Kristen itu?

KEMERDEKAAN YANG HARUS DIPERTAHANKAN

Paulus berkata, “berdirilah teguh” dalam ayat 1. Kemerdekaan adalah panggilan yang akan disebutkannya dalam ayat 13; kemerdekaan Kristen, yang didasarkan pada pembenaran oleh iman, adalah kemerdekaan yang harus dipertahankan. Tidaklah cukup hanya diawali dengan iman, dan menambahkan perbuatan-perbuatan kebenaran. Juga harus berhati-hati untuk tidak berasumsi dan menerapkan ‘hanya oleh iman saja’ dalam cara-cara yang tidak patut.

Seperti misalnya, ketika orang tua berkata kepada anaknya, “Bersihkan kamarmu,” kita tidak boleh menganggap bahwa itu bukanlah perbuatankebenaran. Masalahnya di sini bukanlah soal kebenaran di hadapan Allah. Masalahnya adalah ketaatan kepada orang tua dan keluarga yang berbuah-buah. Kecuali jika orang tua menjadikan ini masalah kebenaran di hadapan Allah dengan mengatakan, “Jika kamu tidak membersihkan kamarmu, kamu akan masuk neraka.” Jika demikian, anak atau remaja Kristen memiliki hak untuk berkata,

“Ayah, saya tidak bisa memperoleh penerimaan penuh dari Allah dengan membersihkan kamar saya. Saya hanya bisa menjadi benar serta dibenarkan di hadapan Allah melalui iman saja dan di dalam Kristus saja. Saya akan menaatimu, karena engkau ayah saya, tetapi ini bukanlah masalah pembenaran di hadapan Allah.”

Jadi, sebagai orang-orang Kristen yang mengasihi dan bersukacita dalam kemerdekaan yang kita miliki dalam Kristus melalui pembenaran oleh iman, kita akan berhati-hati dan waspada terhadap tuntutan-tuntutan yang kita bebankan pada orang lain, dan tuntutan-tuntutan yang kita biarkan ditaruhkan orang lain pada kita, serta apa dasar dari tuntutantuntutan tersebut. Untuk berdiri teguh, dan mempertahankan pembenaran di hadapan Allah, kita ingin menjaganya agar tetap jelas dalam pikiran dan perkataan kita.

KEMERDEKAAN DARI SUNAT

Berikutnya kemerdekaan Kristen adalah kemerdekaan dari apa? Kita telah melihat dalam surat ini bahwa pembenaran oleh iman membebaskan kita dari dosa (Galatia 3:22), dan dari kutuk Hukum Taurat (Galatia 3:13; dan dari prinsip-prinsip dasar dunia, Galatia 4:3). Pengorbanan Yesus menebus dosa-dosa kita, dan membebaskan kita dari rasa bersalah serta dari kuasa dosa-dosa kita.

Kemerdekaan yang segera ditemukan dalam surat ini adalah merdeka dari sunat. Galatia 5:2 adalah pertama kalinya dalam surat ini Paulus menyebutkan tentang sunat, tetapi ini adalah puncaknya dalam Galatia. Karena tekanan dari guru-guru palsu, orang-orang Kristen di Galatia kelihatannya sudah menambahkan perayaanperayaan Yahudi ke dalam kekristenan mereka (Galatia 4:10), dan mempertimbangkan untuk menerima sunat sebagai langkah tegas untuk menerima hukum perjanjian yang lama. Jadi, sunat melambangkan orang percaya memikul kuk hukum perjanjian yang lama, meyakini bahwa itu adalah langkah yang perlu diambil untuk menjadi bagian dari umat Allah dan didapati “benar” pada hari penghakiman.

Jadi, dalam ayat 2, Paulus berkata, pada intinya, “Jika aku dapat mengatakan satu hal kepadamu….”

Ia berkata, “Dengarlah: Aku, Paulus….” Dengan kata lain, dengar, ini aku. Engkau mengenalku. Aku yang memberitakan Injil kepadamu. Dengarlah. Aku tidak perlu berbasa-basi: “Jika kamu menerima sunat, Kristus tidak ada gunanya bagimu.” Bukan karena

sunat itu salah atau terkutuk, tetapi dalam hal ini, menerima sunat berarti bahwa orang-orang Galatia sekarang percaya bahwa Kristus, dan iman kepadaNya, tidak cukup untuk dibenarkan di hadapan Allah, dan oleh karena itu, melakukan sunat akan menjadi pemberontakan terhadap Allah dan Kristus. Ini adalah peringatan pertama.

Sumber: https://www.vox.com/

KEMERDEKAAN DARI HUKUM TAURAT

Peringatan kedua ada dalam Galatia 5:3: “Sekali lagi aku katakan kepada setiap orang yang menyunatkan dirinya, bahwa ia wajib melakukan seluruh hukum Taurat.” Ketika Paulus mengatakan ‘wajib melakukan’ pada ayat ini, itulah makna sebenarnya. Dalam situasi ini, di mana hukum perjanjian yang lama, melalui sunat, telah dipermasalahkan (oleh para guru palsu) menjadi syarat dibenarkan di hadapan Allah, ketika melakukannya berarti berbalik dari Kristus dan perjanjian-Nya yang baru.

Mereka tidak bisa sekadar menambahkan sunat saja; melakukan sunat berarti menganut dan melakukan seluruh Hukum Taurat. Setelah Kristus hadir, tidak ada lagi sistem pengorbanan sah yang lain, yang diterima Allah. Jika Anda “menambahkan Hukum Taurat,” maka Anda harus melakukan seluruh Hukum Taurat dengan sempurna. Dan Anda tidak akan mampu melakukan seluruh hukum perjanjian yang lama dengan sempurna. Hal ini pun sama, Anda pun sesungguhnya tidak dapat melakukan seluruh perintah dalam perjanjian yang baru dengan sempurna, tetapi dalam perjanjian baru kita memiliki Kristus. Dalam perjanjian baru, pengampunanNya tersedia bagi dosa-dosa kita. Kita melakukan pengakuan dosa setiap Minggu sebagai sebuah gereja. Kita juga gagal setiap minggunya. Bahkan

setiap hari. Kita tidak dapat menjadi benar atau memperoleh pembenaran di hadapan Allah oleh atau melalui perbuatan kita.

KEMERDEKAAN DARI USAHA MEMPEROLEH KEBENARAN

Kemudian yang ketiga dan merupakan peringatan terakhir terdapat dalam Galatia 5:4: “Kamu lepas dari Kristus, jikalau kamu mengharapkan kebenaran oleh hukum Taurat; kamu hidup di luar kasih karunia.”

“Kasih karunia” di sini, seperti halnya dalam ayat 3, membahas masalah yang mendasarinya. Dalam seri ini, kita telah membahas tentang “hukum” yang berarti perjanjian yang lama, dan bukan hukum atau perintah-perintah dalam arti umum. Kita telah menekankan pergantian zaman dalam sejarah, dari perjanjian lama kepada perjanjian baru. Tetapi surat ini tidak hanya berbicara tentang perjanjian yang lama versus perjanjian yang baru. Ada masalah kedua di balik itu: melakukan versus percaya, untuk mendapatkan kedudukan yang benar di hadapan Allah. Atau usaha versus kasih karunia.

“Menjalankan kehidupan Kristen oleh kasih karunia berarti

bahwa kita memperoleh hubungan yang benar dengan Allah oleh iman semata dan tetap tinggal dalam hubungan tersebut.”

Dengan menerima sunat, Paulus berkata bahwa kita telah terlepas dari kasih karunia, karena sunat melambangkan penambahan pada karya

Kristus untuk kita bisa dibenarkan dan tidak bisa dihindarkan bahwa kita memasukkan Hukum Taurat dan perbuatan-perbuatan kepada kasih karunia dan iman untuk menjadi benar di hadapan Allah melalui Kristus.

Lalu apa artinya secara praktis untuk menjalani kehidupan Kristen oleh kasih karunia ini di mana ada perintah-perintah yang harus ditaati dalam perjanjian baru? Setiap Minggu di gereja, kami berlatih melakukan Amanat Agung Yesus untuk mengajar semua bangsa melakukan apa yang diperintahkan-Nya.

Pada dasarnya, menjalankan kehidupan Kristen oleh kasih karunia berarti bahwa kita memperoleh

Sumber: https://www.vox.com/

hubungan yang benar dengan Allah melalui iman, hanya dalam Kristus saja, dan tetap tinggal dalam hubungan tersebut.

Seiring kita menaati perintah-perintah Kristus (yang kita lakukan, dan semakin dari hati), dan seiring kita mengakses suara Tuhan setiap hari melalui Firman-Nya, merespons-Nya dalam doa, berkumpul dengan tubuh Kristus setiap Minggu untuk menyembah serta sepanjang minggu bersekutu, kita tidak mencari untuk mengamankan atau mempertahankan pembenaran kita di hadapan Allah dengan perbuatan kita; tetapi usaha-usaha kita, kehidupan kita, ketaatan kita yang lahir dari iman adalah saluran-saluran Allah untuk terus mengalirkan anugerahnya bagi kita. Bukan melakukan kewajiban-kewajiban demi memperoleh pembenaran, tetapi ekspresi-ekspresi dari apa yang kita sebut pengudusan. Ini yang kemudian memimpin kita kepada tujuan dari kemerdekaan kita.

PENGHARAPAN AKAN KEMERDEKAAN YANG

AKAN DATANG

Pertama, kita harus memperjelas bahwa “pengharapan” dalam bahasa Inggris kesannya jauh lebih tidak pasti di telinga kita daripada “pengharapan” dalam bahasa Yunani (elpis) terhadap orang-orang di Galatia. Dan pengharapan, sebagai keyakinan yang dalam, bukan keinginan yang tipis, sesuai dengan aspek masa yang akan datang dari pembenaran, ketika memang pengharapan tersebut didasarkan pada iman.

Paulus memiliki pandangan akan hari penghakiman dalam ayat 5, dan ia tidak mengubah penekanannya pada iman. Iman dalam Kristus adalah bagaimana kita sekarang menikmati penerimaan penuh dari Allah dan bagaimana kita akan didapati benar sampai pada akhirnya. Kita masuk oleh iman, tetap di dalam oleh iman, dan akan teguh sampai akhir oleh iman. Dasar yang sama: Karya Kristus, bukan usaha kita. Sarana yang sama: iman kita, bukan perbuatan kita. Lalu pengharapan apa lagi yang masih akan datang? Deklarasi Allah di mata dunia tentang pembenaran kita di dalam Kristus, oleh iman, sehingga seluruh dunia tahu, saat hari penghakiman, diteguhkan oleh bukti yang nyata dari perubahan hidup kita.

KEMERDEKAAN UNTUK MENIKMATI ALLAH

Lalu kita merdeka untuk apa lagi? Paulus menyatakan dalam Galatia 5:5, “sebab oleh Roh,” yang sangat penting untuk memahami kemerdekaan Kristen. Roh Kudus mengubahkan kita. Ia mengeluarkan dari kita hati yang lama, yaitu hati yang keras, dan menaruh hati yang taat. Ia

memberi pada kita hasrat-hasrat yang baru. Ia terus mengerjakan pengudusan seumur hidup dalam kita, dan kita menjadi baru. Ia membebaskan kita untuk diangkat menjadi anak-anak-Nya.

Ia membebaskan kita untuk mewarisi segala sesuatu, yang berarti bahwa kemerdekaan di dalam Kristus – merdeka untuk – termasuk untuk menikmati “hal-hal di bumi” yang telah diberikan-Nya pada kita. Dalam Kristus, melalui Roh Kudus, kita bebas untuk menikmati anugerah yang baik dari Allah secara penuh – yang berarti menerima anugerah-anugerah itu secara sadar dari tangan-Nya, dan menikmatinya untuk kita kembali lagi kepada Sang Pemberi. Dan masih ada lagi.

Nubuat besar perjanjian baru dalam Yeremia 31 menangkap dengan tepat “kemerdekaan dari” dan “kemerdekaan untuk” dari kehidupan Kristen. Dalam Kristus, kita telah dimerdekakan dari: “Aku akan mengampuni kesalahan mereka dan tidak lagi mengingat dosa mereka (Yeremia 31:34). Dengarkan bagaimana Yeremia menyatakan dimerdekakan untuk:

Tetapi beginilah perjanjian yang Kuadakan dengan kaum Israel sesudah waktu itu, demikianlah firman TUHAN: Aku akan menaruh Taurat-Ku dalam batin mereka dan menuliskannya dalam hati mereka; maka Aku akan menjadi Allah mereka dan mereka akan menjadi umat-Ku. Dan tidak usah lagi orang mengajar sesamanya atau mengajar saudaranya dengan mengatakan: Kenallah TUHAN! Sebab mereka semua, besar kecil, akan mengenal Aku, demikianlah firman TUHAN, sebab Aku akan mengampuni kesalahan mereka

dan tidak lagi mengingat dosa mereka.” (Yeremia 31:33-34)

Kemerdekaan Kristen adalah merdeka untuk mengenal Allah. Kita menjadi milik-Nya, dan Ia menjadi milik kita. Melalui Roh Kudus, kita dibebaskan untuk hidup kudus, untuk hidup yang sejati, untuk menjadi putra dan putri-Nya dalam keluarga yang paling bersukacita, dan menikmati warisan-Nya atas segala sesuatu, serta menikmati Yesus sekarang dan selamanya. Kemerdekaan Kristen adalah pada akhirnya dan selamanya menikmati untuk apa kita diciptakan – untuk siapa kita diciptakan, yaitu bagi Allah di dalam Kristus.

“Kemerdekaan Kristen adalah menikmati untuk apa kita diciptakan –untuk siapa kita diciptakan, yaitu bagi Allah di dalam Kristus.”

KEMERDEKAAN BERSAMA

Kemerdekaan Kristen adalah kemerdekaan bersama. Bukan jenis kebebasan yang menjauhkan kita dari satu sama lain, untuk melindungi hak kita sendiri, dan menjaga kemerdekaan pribadi. Kemerdekaan ini adalah kemerdekaan bersama, kemerdekaan dengan, sebuah kemerdekaan yang lebih besar dan lebih bisa dinikmati bersama yang lain. Dalam Kristus, kita dibebaskan untuk melayani yang lain, memberkati yang lain, mengasihi satu sama lain; kita dibebaskan dari pembenaran diri, fokus pada diri sendiri, dari keakuan. Kita bebas untuk membuat pilihan yang bahagia untuk tidak

menerima hak kita pada waktu tertentu demi kasih pada yang lain, seperti yang dinyatakan Paulus dalam 1 Korintus 9:19: “Sungguhpun aku bebas

terhadap semua orang, aku menjadikan diriku hamba dari semua orang.”

Kemerdekaan untuk bersukacita bersama melalui kasih adalah kemerdekaan yang lebih besar daripada fokus pada diri sendiri. Kemerdekaan yang paling manis dan bisa dinikmati bukanlah

kemerdekaan pribadi tetapi bersama – dan sering kali kemerdekaan itu bisa dinikmati dengan menyangkal diri untuk mendapatkan beberapa “hak pribadi”, atau kemerdekaan yang lebih terbatas, demi kepentingan orang lain dan menikmati sukacita yang lebih besar serta kemerdekaan kasih yang lebih besar. Kemerdekaan dengan adalah kemerdekaan yang jauh lebih besar daripada kemerdekaan solo.

Jadi, kita datang bersama menghadap Meja

Perjamuan Tuhan. Perjamuan Akhir Tuhan adalah perjamuan kebebasan dan juga kesatuan. Kebebasan karena kita dimerdekakan dari dosadosa kita, dari kematian dan neraka, serta bebas dari beban untuk memperoleh penerimaan Allah dengan usaha sendiri. Kita telah dibebaskan untuk kehidupan di dalam Roh dan sukacita dalam kekudusan dan kasih. Kita telah dibebaskan bersama. Ada kesatuan dalam kemerdekaan kita di dalam Kristus.

Pembenaran oleh iman membebaskan kita untuk mengasihi satu sama lain. https://unsplash.com/

Kita menyebut ini Perjamuan karena di Meja Perjamuan Tuhan kita ditarik bukan menjauh, tetapi mendekat, kepada Kristus dan kepada satu sama lain.

David Mathis (@davidmathis) adalah editor eksekutif untuk desiringGod.org dan gembala dari Cities Church. Ia adalah seorang suami, juga ayah dari empat anak, dan penulis Workers for Your Joy: The Call of Christ on Christian Leader (2022).

This article is from: