Edisi Desember 2014

Page 1

Buletin Edisi Bulanan Edisi: 02/B/Reg/XIV Desember 2014

ORO P S Menyibak Realita

penaonline.wordpress.com FB: Persma Poros UAD Twitter: @PorosUAD

Fotografer : Nurul

Menunggu Pembangunan,

Para pekerja sedang beristirahat usai menanamkan besi sedalam 12 m di kampus V UAD.

Mahasiswa Kuliah di Lowanu ‘Lagi’ Pembangunan gedung baru Kampus V UAD (Universitas Ahmad

Kembali kuliah di Lowanu lagi, itulah keadaan yang harus diteri-

Dahlan) di Jalan Ki Ageng Pemanahan 19 Yogyakarta sudah dimulai.

ma oleh mahasiswa semester atas yang semula kuliah di kampus

Saat Poros mengunjungi lokasi pada 12 Desember tengah berlang-

V ini. Tak lagi menjadi hal yang harus ditutup-tutupi, harapan ma-

sung penanaman besi sedalam 12 meter. Gedung yang akan diban-

hasiswa semester atas adalah menikmati gedung baru ini dan tak

gun 4 lantai ini, guna menunjang kebutuhan mahasiswa baik ruang

lagi kuliah di Lowanu. Namun, 7 bulan lamanya memastikan bahwa

kuliah maupun laboratorium. Targetnya akan siap digunakan pada

mahasiswa akan kembali kuliah di Lowanu. Esti Khoiriyah selaku

awal tahun ajaran baru 2015, kurang lebih pembangunan akan ber-

mahasiswa semester V berharap bisa menempati gedung baru yang

langsung selama 7 bulan. Sambil menunggu pembangunan selesai,

akan dibangun. Ia juga berharap segera dibangun agar tidak meng-

besar kemungkinan mahasiswa Ilkom (Ilmu Komunikasi), PGPAUD

ganggu perkuliahan.

(Pendidikan Guru Pendidikan Anak Usia Dini), dan PGSD (Pendidikan Guru Sekolah Dasar) akan kembali lagi kuliah di Panti Asuhan Jalan Lowanu No.9 Kelurahan Mergangsan selama satu semester kedepan.

Meski pembangunan sudah dimulai, namun hingga 31 Desember lalu plang Izin Mendirikan Bangunan (IMB) belum juga terlihat disekitar lokasi pembangunan. Afan Kurniawan selaku Kepala Bifas (Kepala Biro Fasilitas dan Aset) mengatakan bahwa pihaknya telah Bersambung ke Hal 3


2

EDITORIAL

Sibuk Membangun Kampus, Lupa Mahasiswa Pagar kayu hingga pagar besi, masih

kuliah di Panti Asuhan Lowanu dan Maba

belum lagi menunjukan totalitasnya mem-

(Mahasiswa baru) 2015. Sedangkan, masa

berikan pendidikan bagi mahasiswa. 54

perkuliahan telah selesai di bulan Janu-

tahun pula UAD berjuang mencari donatur

ari, mau tidak mau mahasiswa 2012/2013

demi pembangunan yang tiada henti terus

harus mengelus dada selama 1 semester

di lakukan. Selama hampir setengah abad,

kedepan, lagi.

kini lahir kampus-kampus baru pasca pembangunan Persada (Pesantren mahasiswa Universitas Ahmad Dahlan) kampus IV. Kampus V dan panti asuhan menjadi alternatif baru, katanya selagi menunggu pembangunan kampus IV tuntas.

Belum puas donatur dari Raja Arab, UAD memperbanyak kuota penerimaan mahasiswa baru demi pemasokan dana yang lebih besar. Tak tanggung-tanggung, mahasiswa difabel pun di jamah. Padahal fasilitas khusus mahasiswa difabel belum

Masa perkuliahan yang dilaksanakan

tersedia. Difabel yang terlupakan, maha-

di Panti Asuhan lowanu dirasa tidak efektif

siswa di Panti yang terabaikan, hingga

oleh mahasiswanya. Mahasiswa mengang-

master plan lainnya. Di usia yang cukup

gap terdapat ketidakadilan jika mahasiswa

tua, UAD tak berhenti menjual diri dengan

dengan tujuan sama, biaya yang di bayar

mempercantik diri, lalu lupa akan fungsi

sama namun fasilitas yang didapatkan ber-

sebagai Perguruan tinggi yang memiliki

beda. Kampus alternatif katanya, ternyata

beribu-ribu mahasiswa.

menjadi boomerang mematikan. Bagaimana tidak, mahasiswa prodi Ilkom

(Ilmu Ko-

munikasi), PGSD (Pendidikan Guru Sekolah Dasar) dan PGPAUD (Pendidikan Guru Pendidikan Anak Usia Dini) 2012/2013 kerap melempar protes namun acuh yang di dapat.

Dalam rangka ulang tahunnya yang ke-54, tentu bukan hari yang biasa. UAD mengundang artis legendaris Ebiet G. Ade beserta anaknya Adera untuk membantu menampung turahan uang mahasiswa. Padahal masih banyak kebutuhan rumah tangga yang belum terpenuhi. Tak

Tak henti-henti menutup mata, sembari

selamanya sistem dan aturan orangtua

menumpuk surat keluhan mahasiswa, pem-

(universitas) selalu benar, ada kalanya

bangunan kampus V terus dilakukan, pada-

orangtua patut mendengarkan permintaan

hal IMB (Ijin Mendirikan Bangunan) tidak

anaknya (mahasiswa).

kasat mata di lokasi pembangunan. Pembangunan kampus V telah dilakukan sejak awal Desember lalu dan memiliki target 7 bulan untuk menyelesaikannya. Di sisi lain

Selamat ulang tahun yang ke-54, semoga tuhan memanjangkan umur mu. Red

bukankah pembangunan kampus V untuk menampung mahasiswa 2012/2013 yang

Kritik dan saran serta tanggapan dari penghuni kampus diterima secara terbuka oleh POROS. HP : 085-743-752-991 E-mail : poros_uad@yahoo.co.id Facebook : Persma Poros uad Twitter : @porosUAD

Ingin update berita kampus? Baca Buletin POROS Edisi Bulanan. Jangan sampai ketinggalan yaaaaa

gak baca? kudet! Mau berlangganan buletin POROS? SMS ke 085643878343 dengan format: nama, (spasi), prodi

P ORO S Menyibak Realita

Diterbitkan Oleh: UKM Pers Mahasiswa POROS UAD. Pembimbing: Anang Masduki S.Sos.I Pimpinan Umum: R.Nurul FitrianaPutri Bendahara Umum: Habibatul Jannah Sekertaris Umum: Ila Diazmy Candy Pimpinan Redaksi: Evelin Kristanti Redaktur Pelaksana: Fara Dewi Tawainella Reporter:Evelin, Azizah, Nurul, Fara, Dalety, Somad, Bintang, Sofi, Marwah, Candy, Tati* , Bintang Fotografer: Ika Endaryani Layouter: Nur Azizah Kadiv Litbang: Azkya Jamila. Staff: Devi, Marwah, Sery, Rosyid Kadiv Perusahaan: Nur Mussofiyatul Janah Staff: Silvi, Jaki, Labina* Kadiv Jaringan: Dalety Jelita Hayati Staff. Hammam, Anggit, Somad Kadiv Kaderisasi: Lalu Bintang Staff: Kartika Dewi.

(*tidak aktif)


BERITA UTAMA

3

Sambungan Hal 1

mendapatkan izin dari Dinas Perizinan Kota

siswa Program Studi (HMPS) PGSD, PGPAUD,

khawatir jika hanya dijanjikan namun tidak

Yogyakarta terkait pembangunan Kampus V.

Ilkom, Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah

ada kepastian. “Di Lowanu tidak sama se-

Namun masih menunggu satu tanda tangan

(IMM) yang bertempat di kampus V dipin-

perti kampus lain, kita disana hanya num-

lagi setelah itu plang IMB sudah bisa dipa-

dahkan ke tempat lain. Salma Sarajevo salah

pang tidak ada fasilitas yang memadai, Di

sang. “Tinggal nunggu satu tanda tangan

satu anggota HMPS PGPAUD mengatakan

Lowanu panas, ruangan kurang kondusif,

lagi, setelah itu plang baru bisa dipasang,”

terlonta-lonta jika akan mengadakan rapat.

Merasa diasingkan,” ujarnya.

jelas Afan disela waktu istirahatnya.

Pembongkaran serta pemindahan ruang

Jumlah tenaga kerja diperkirakan sekitar 120 pekerja serta biaya yang dihabiskan untuk pembangunan gedung ini, kurang lebih 15 M. Hal tersebut diungkapkan oleh

HMPS memang sudah dikomunikasikan secara langsung oleh dosen kepada pengurus HMPS.

membangun gedung mall bahkan hotel. “Perkiraan untuk gedung berlantai empat, ya 15 M,” terangnya. Safar Nasir, selaku pimpinan produksi pembangunan kampus V sampai 31 Desember tidak bisa Poros temui karena sedang berada di Luar Kota untuk melaksanakan tugas dari Rektorat. “Sedang rapat dengan rektorat, beliau mau pergi ke Luar Kota, Aceh, Jakarta, kemungkinan tanggal empat baru disini (Jogja-red),” papar seorang resepsionis di Rektorat.

Lowanu hanya dilengkapi kipas angin dan proyektor. Listrik pun yang sangat dibutuhkan sangat terbatas. Bifas sebenarnya su-

Mahasiswa Mengeluh

salah seorang pekerja yang sudah biasa

Hingga saat ini ruang perkuliahan di

Siapa sangka ditengah pembangunan, ternyata banyak menyimpan keluhan Esti yang mengatakan bahwa sebenarnya ia tidak nyaman kuliah di Lowanu namun hal ini merupakan solusi dari Universitas. “sebenarnya sih gak nyaman, tapi mau gimana lagi, kita lihat dari kebersihan aja gak terlalu bersih to, apalagi kalo ujan ada yang bocor lah ada yang inilah, apalagi kalo ujannya deres, genangan air tuh tinggi banget di depan kelas,” keluhnya. Diwawancarai ditempat yang berbeda Rifa Hanna Widyani maha-

Pembangunan kampus V mengharuskan

siswa PGSD mengkhawatirkan jika sampai

sekretariat organisasi (Himpunan Maha-

lulus kampus V belum selesai dibangun. Ia

dah mengupayakan semaksimal mungkin. Namun dilain sisi, pihak Universitas menyayangkan bila merenovasi besar-besaran Panti Asuhan yang bukan milik UAD. “Toh, kita juga hanya sewa disana (Panti Asuhan Lowanu -red),” ujar Afan. Ia juga mengakui bahwa Lowanu tidak efektif sebagai tempat perkuliahan. “Saya mengakui sekali, kalo Lowanu tidak representatif untuk kuliah, saya juga pernah menjadi mahasiswa sih,” ungkapnya. Ia mengatakan jika kampus menahan para siswa untuk mendaftar, ‘kasihan’, jikalau mereka kuliah ditahun depan karena menunggu pembangunan kampus V di UAD. Nurul

SUARA MAHASISWA

Bagaimana tanggapanmu mengenai pembangunan kampus V ? Pembangunannya udah berjalan, tapi masih kurang cepet.

Menurutmu,

apakah UAD sudah menyiapkan fasilitas untuk mahasiswa Difabel?

yang lengkap untuk menunjang belajar mahasiswa difabel tersebut. Fasilitas di UAD sendiri menurut saya belum cukup

Menurutku UAD belum bisa menerima mahasiswa difabel, dari segi fasilitas yang disediakan Universitas juga masih kurang. Jangankan untuk mahasiswa difabel, kebutuhan mahasiswa normal saja masih kurang.

Anindita, PGSD Lebih bagus kalo di bangun lagi kampus 5 ini, sebab lebih banyak lebih bagus. Karena di kampus 5 ini kan ada banyak program studi, ada PGSD dan ada PGPAUD. Jadi PGSD sama PGPAUD ini agar ruangannya itu tidak dicampur.

Via Sahraen, Teknik Industri

Anang Maulana, PGSD Seneng sih ada pembangunan kampus 5, ya mudah-mudahan sebelum lulus masih bisa menikmati. Walaupun agak sedikit terganggu karena aktivitas ini. Enik Nurfadila, PGPAUD

Jika Universitas ingin menerima mahasiswa difabel harus mempunyai fasilitas

A. Pritha, Pendidikan Bahasa Inggris

Kalau menurut aku sih ya, setiap Universitas harus menyiapkan kelas khusus di setiap prodinya dan dosen-dosen khusus.

Selama ini seringkali mahasiswa yang ter-

Soalnya kan mereka juga belum tentu bisa

batas secara fisik tidak mampu mengakses

ditempatkan di kelas biasa, dan dosennya

layanan publik di kampus karena akses

sih pasti juga belum tentu bisa kecuali

yang terbatas. Jadi pelayanan harus diting-

dosen khusus untuk mahasiswa difabel.

katkan lagi, contohnya Perpustakaan.

memenuhi untuk mahasiswa difabel.

Jepri Baedowi, Hukum

Mitha Pusphita, Psikologi


4

LITBANG

UAD Belum Siap Terima Mahasiswa Difabel Different ability, biasa disebut difabel

Selain itu, adanya penerimaan ma-

pihak kampus untuk menyiapkan fasilitas

dijelaskan bahwa mahasiswa penyandang

hasiswa difabel harus diimbangi dengan

tersebut. Dari hasil survey diketahui bahwa

difabel adalah mahasiswa berkebutuhan

fasilitas yang memadai dan menunjang

94,5% responden menyatakan UAD belum

khusus. Layaknya pada sebuah universitas

bagi difabel. Hal ini didukung dengan data

menyiapkan fasilitas khusus bagi difabel

mengelola untuk memberikan layanan dan

yang didapat yakni 94,5% responden me-

dan sebesar 5% responden menjawab UAD

sarana mahasiswa berkebutuhan khusus.

nyatakan setuju bahwa mahasiswa difabel

sudah menyiapkannya dan 0,5% responden

Telah di tegaskan dalam UU Nomor 4 Ta-

harus diberikan fasilitas khusus, sedangkan

tidak menjawab.

hun 1997 tentang penyandang cacat, BAB I,

5,5% responden tidak setuju. Tingginya an-

Pasal 1 ayat 4, Aksesibilitas adalah kemu-

gka setuju, menunjukkan kesadaran bahwa

dahan yang disediakan bagi penyandang

fasilitas khusus memang harus diberikan

cacat guna mewujudkan kesamaan kesem-

bagi mahasiswa difabel,

patan dalam segala aspek kehidupan dan penghidupan.

Sebagian

berpendapat

ta 0,5% tidak menjawab. Dari hasil tersebut

fasilitas khusus tersebut penting bagi ma-

mahasiswa

bisa disimpulkan bahwa UAD tidak memiliki fasilitas terkait mahasiswa difabel.

Universitas Ahmad Dahlan menerima

hasiswa difabel sebanyak 81,5% responden, sementara 18,5 % responden berpendapat

2011,2012, 2013 dan 2014. Namun sam-

sebaliknya. Tingginya angka persentase re-

pai saat ini banyaknya jumlah mahasiswa

sponden yang berpendapat bahwa adanya

difabel belum ada pendataan khusus oleh

fasilitas khusus memang harus dipenuhi

pihak BAA (Biro Akademik dan Admisi) UAD.

untuk sarana

Mahasiswa berkebutuhan khusus harus di-

fasilitas tidak disediakan, maka dapat di-

imbangi dengan fasilitas yang memadai

katakan kampus belum siap menerima ma-

seperti toilet, area parkir, akses jalan menu-

hasiswa difabel.

bel dalam belajar. Namun sejauh ini UAD belum memiliki fasilitas penunjang belajar mahasiswa difabel. Melihat permasalahan Universitas yang

menerima mahasiswa difabel dan 19,5% responden menyatakan UAD sudah siap, ser-

Mahasiswa difabel, terlihat pada tahun

ju kelas dan fasilitas yang membantu difa-

Dari Dua ratus sample, 80% mahasiswa menyatakan belum adanya kesiapan UAD

mahasiswa difabel. Ketika

Dapat disimpulkan dari berbagai data yang didapat bahwa aksesibilitas untuk difabel belum disediakan oleh pihak Universitas. Beberapa pendapat dalam kolom kritik dan saran menyimpulkan bahwa jika UAD berani menerima mahasiswa berkebutuhan khusus maka UAD harus siap menyediakan fasilitas khusus bagi difabel dengan

Tidak hanya cukup mengetahi pentingnya fasilitas khusus bagi mahasiswa difa-

tidak mempersulit fasilitas mahasiswa non difabel.

bel, namun perlu ada tindakan nyata dari Apakah anda mengetahui bahwa di UAD memilki mahasiswa difabel?

belum menyediakan fasilitas penunjang

Menurut anda, apakah difabel harus diberikan fasilitas khusus?

mahasiswa difabel, Litbang POROS melaku-

TIDAK 6%

kan survey untuk mengetahui tanggapan mahasiswa terhadap adanya mahasiswa difabel dan fasilitas yang disediakan. Dalam survey kali ini Litbang poros menggunakan

TIDAK 42%

YA 58%

YA 94%

metode random sampling. Survey Litbang Apakah anda mengetahui pentingnya fasilitas khusus untuk mhasiswa difabel?

POROS dilaksanankan tanggal 21-23 Desember 2014 dengan membagikan angket secara langsung kepada responden. Terdiri dari dua ratus angket, lima pertanyaan tertutup dan kolom essay terdiri dari kritik dan

TIDAK 19%

saran. dengan Responden yang dipilih yaitu

YA 81%

mahasiswa semester 1, 3, 5 dan 7. Berdasarkan hasil survey tersebut, sebanyak 58,5 % responden mahasiswa mengetahui yang dimaksud mahasiswa difabel

Apakah UAD sudah menyiapkan fasilitas yang dibutuhkan oleh mahasiswa difabel?

dan 41,5% lainnya tidak mengetahui tentang mahasiswa difabel. Pengetahuan mahasiswa tentang mahasiswa difabel tentu menjadi langkah awal, munculnya kepedulian terhadap mahasiswa difabel yang menempuh pendidikan di UAD.

TIDAK JAWAB 1%

SUDAH 5%

BELUM 94%

Menurut anda apakah UAD sudah siap untuk mahasiswa difabel? TIDAK JAWAB 1%

BELUM 80%

SUDAH 19%


BERITA KEDUA

5

Menelisik Ruang di Sudut Kampus “Kemaren saya ke klinik karena demam, disana tidak ada kursi roda, saya pengen ada satu aja, ada kursi roda disana,” bisiknya Rahmawati (bukan nama sebenarnya). Tubunya yang mungil. Dengan senyumanya yang manis, menghampiri reporter Poros. Ia mendekati kami, dengan baju berwarna merah dan jilbab berwarna coklat bermotif garis-garis membentuk kotak. Saat Ia di depan kami, Ia Sedikit malu memperkenalkan dirinya. Ia merupakan Mahasiswi yang kini menempuh studi di Fakultas Psikologi. Ia juga merupakan salah satu mahasiswa penyandang disabilitas (difabel). Sakitnya Ia derita sejak kecil, hal tersebut membuat Ia sedikit mengalami kesulitan dalam berjalan. Setiap akan berangkat menuju ruang kelas di ITC yang berada di lantai 4 misalnya, Ia dibantu teman sejawatnya untuk naik, kadang pula Ia berjalan sendiri. “Aduh lantai 4, capek, tapi saya balik ke orang tua, perjuangan ada nilainnya, walaupun capek,” ungkapnya sambil tersenyum. Ia mengungkapkan, sebenarnya tidak masalah jika Ia harus naik ke lantai 4, hanya saja Ia merasa sedikit kesulitan jika disetiap tangga tidak ada pegangan untuk membantunya naik, hal tersebut sempat menyulitkan dirinya untuk berjalan, “Saya ndak terlalu masalah dengan tangganya, kayak didepan ( menunjuk depan hall kampus I) itu kan ada tangga, perlu dikasikan pegangan tangan, jangan dibuat curamlah,” ucapnya serambi merapikan tempat duduknya. Saat disinggung kenapa bisa mengambil kuliah di UAD, dengan senyuman yang setengah malu- malu Ia bercerita, sebenarnya Ia tidak berpikir ingin kuliah di UAD, Ia hanya berpikir Fakultas Psikologi yang bagus di perguruan tinggi swasta maupun negeri. Akan tetapi saat itu temannya beramai- ramai membujuknya untuk mendaftar di UAD. Walaupun Ia sempat merayu temannya untuk menunggu pengumuman dari sekolah “Kita nunggu sekolah dulu lah,”

terangnya menirukan pembicaraannya saat itu, namun saat itu juga Ia mulai mempersiapkan diri untuk mendaftar. Dalam observasi yang dilakukan oleh reporter poros, tak ada satupun keterangan yang berkaitan dengan mahasiswa difabel, baik dalam formulir pendaftaran maupun buku panduaan yang diberikan kepada mahasiswa, hal tersebut pun dibenarkan oleh Rahma. Ia mengatakan Saat akan medaftarkan dirinya di UAD, Ia sempat menerima formulir pengisian identitas mahasiswa, namun Ia tidak melihat adanya keterangan khusus yang berkaitan dengan anak yang berkebutuhan khusus. ” Nah keterangan itu yang ndak saya dapatkan. Beberapa jurusan difabel ada yang boleh dan tidak misalnya, menurut saya diperinci saja, kalau pun tidak di formulir ya di buku keterangan saja cukup sih” terang Rahma sembari menunjukan fotonya saat mengikuti lomba paduan suara. Dalam pantauan poros pula, fasilitas yang dibutuhkan oleh penyadang difabel tak ada satupun di kampus pencerahan tersebut. Seperti halnya pegangan tangga saat naik tangga, kursi roda, tempat parkir khusus, dan lain sebagainya. Hal tersebut dirasa cukup menyulitkan mahasiswa disabilitas dalam melakukan aktivitasnya. Rahma yang juga gemar menulis puisi dan membaca menuturukan saat Ia sedang sakit dan masuk ke ruang klinik UAD, Ia tidak melihat adanya fasilitas kursi roda. Padahal hal tersebut begitu dibutuhkannya “Kemaren saya ke klinik karena demam, disana tidak ada kursi roda, saya pengen ada satu aja, ada kursi roda disana,” bisiknya sambil mengangkat satu jarinya. Saat ditemui di kantor BAA (Biro Administrasi dan Akademik), Ani Purwani selaku

bidang Akademik BAA menjelaskan jika di UAD memang belum ada fasilitas khusus terutama bagi mahasiswa disabilitas “Saya tahu ada yang dia (mahasiswa-red) harus pakai alat bantu. Tapi nampaknya yang bersangkutan juga tidak kesulitan dengan fasilitas yang ada. Maka pihak kampus memang belum memfokuskan hal itu,” jelas Ani saat ditemui di jam kerjanya. Menurut Rahma fasilitas yang ada di UAD pun masih kurang baginya. Walaupun Ia sendiri masih bisa menjalankan aktivitasnya dan merasa tidak ternganggu. Akan tetapi hal tersebut baginya harus segera direalisasikan mengingat UAD merupakan perguruan tinggi yang cukup dipandang masyarakat kini. “Aku ndak masalah, soalnya aku bisa beraktifitas sendiri, namun ruangannya mungkin lebih bisa ditata lagi, fasilitas buat difabel diperhatikanlah, walaupun UAD tidak Universitas inklusi sih, jangan sampai mahasiswa ndak betah kuliah, ndak nyaman,” tegasnya. Sembari merapikan dokumen Ia mengungkapkan bahwa sampai saat ini BAA belum pernah menerima keluhan terkait kendala yang dirasakan oleh mahasiswa difabel. “Kalau mahasiswa, saya malah belum mendengar mereka request (ke-red) kita. Akhirnya Mungkin dari pihak UAD belum jadi prioritas lah kearah situ,” terangnya. Terkait hal ini Ani Purwani mengatakan bahwa selama prodi tidak memiliki masalah, maka hal tersebut tidak menjadi kendala mahasiswa difabel untuk menempuh pendidikan. “Asal tidak mengganggu prodi, atau tidak menggangu selama dia belajar,” ungkapnya dengan nada menyakinkan. Ditanya mengenai kesiapan kampus, “Bisa dikatakan belum ada kesiapan apaapa, jadi yang kita siapkan ya reguler. Yang jelas kita melihat kalau yang bersangkutan bisa beradaptasi dengan kondisi reguler berarti cukup,” Ungkap Ani yang juga mengajar di prodi Teknik Industri. Somad


6

OPINI

BEMU, Antara Ada dan Tiada Seri Sellia Mahasiswa Farmasi 2013 UAD BEMU (Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas) merupakan organisasi yang penting dalam tataran Universitas, secara garis besar fungsi dari BEMU ini adalah menyampaikan suara mahasiswa kepada Universitas Dimana BEMU tidak hanya fokus pada pekerjaan prokernya saja tetapi harus menyesuaikan diri dengan tuntutan realiata sosial. Hampir satu periode BEMU mengibarkan bendera kekuasaannya pasca terpilihnya

presiden mahasiswa dengan

keputusan aklamasi pada tanggal 24 April 2014 silam. Akan tetapi, kinerja BEMU belum

sampai hari ini

dirasakan

secara

menyeluruh oleh mahasiswa. Mereview kembali

kinerja BEMU

satu Periode terakhir, hanya P2K (Program Pengenalan Kampus) dan OF (Orange Festival) yang ditutup pada tanggal 20 Desember 2014 dirasakan

saja

langsung

OF (Orange Festival)

yang terlihat dan oleh

mahasiswa.

merupakan salah

satu rangkaian dari MILAD UAD

yang

diselenggarakan oleh Universitas dalam menyambut hari jadi UAD yang ke 54, dan menjadi salah satu Proker dari BEMU. Rangkaian

acara OF ini pun mulai dari

perlombaan di bidang Olahraga, Kesenian, IPTEK, Duta UAD, Keagamaan hingga

UAD peduli yang diperuntukan untuk

Ebit G. Ade dan Adera dihadirkan yang bisa

mahasiswa UAD sendiri. Akan tetapi, pada

dipastiakn nilai rupiah yang dikeluarkan

realitanya tidak semua mahasiswa bisa

pun tidak sedikit, sementara pembangunan

ikut berpartisispasi didalamnya banyak

kampus IV sampai saat ini belum jua usai

mahasiswa yang apatis lantaran kurangnya

ditambah

sosialisasi yang diadakan BEMU, padahal

kampus V yang menyebabkan mahasiswa

sosialisasi

Ilmu Komunikasi,

merupakan

senjata

dalam

lagi

dengan

pembangunan

Pendidikan Guru PG

menarik antusias mahasiwa dalam acara

PAUD (Pendidik anak Usia Dini) dan PGSD

ini. Tidak hanya itu koordinasi yang minim

(Pendidikan Guru Sekolah Dasar) kuliah

juga dirasakan pihak UKM. Ini terlihat dari

dipanti

beberapa UKM saja yang diikutsertakan

peran dan fungsi BEMU sebagai

seperti UKM Menwa, KSR, Musik, PSM,

dari mahasiswa yang seharusnya turut

Badminton serta Basket. Pengadaan forum

membantu mengadvokasi dan melakukan

resmi sebagai salah satu bentuk sosialisasi

pembacaan terhadap kondisi sosial yang

dan koordinasi dengan UKM dan ORMAWA

ada di lingkungan kampus .

pun

hanya diadakan beberapa kali saja.

Akhirnya yang terlihat persiapan

yang

koordinasi

seharusnya

dan

dilakukan

bersama antara panitia dengan pihak UKM dalam acara ini pun terkesan mendadak . Menelisik kembali

panti asuhan. Lantas dimana wakil

Awal tahun 2015 menandakan akan berakhirnya masa pemerintahan BEMU periode 2013/2014.

Sebenarnya satu

periode adalah waktu yang cukup produktif untuk BEMU menjalankan tugasnya akan

BEMU merupakan

tetapi pada realitanya kinerja BEMU tahun

wakil mahasiswa di dalam Universtitas,

ini antara ada dan tiada. BEMU ada bukan

sudah

melakukan

sekedar untuk menjalankan P2K dan OF saja.

koordinasi dengan semua pihak seperti

seharusnya

BEMU

Ketika melaksanakan suatu kegiatan BEMU

Ormawa dan UKM yang juga merupakan

harusnya memiliki tujuan dan landasan

bagian dari mahasiswa. Akan tetapi, yang

yang jelas. Kinerja BEMU pun harusnya bisa

telihat BEMU seperti

ini

transparan karena BEMU ada bukan karena

terlihat dari pelaksanaan P2K susulan

kerja sendiri

berdiri sendiri harus ada koordinasi dengan

pada tanggal 22-23 November yang tidak

pihak Ormawa, Ortom dan UKM ,bukan tidak

berkoordinasi dengan Ortom maupun UKM

mungkin kejadian seperti P2K susulan yang

yang notabennya tak dapat dipisahkan dari

katanya mengedepankan softskill

acara tersebut. Sementara itu penutupan

terkesan makrab akan terulang kembali di

malam puncak OF artis ibu kota sekelas

tahun depan.

justru


BERITA KETIGA

7

Kapitalisasi

Buku Studi Islam Ilustrator : Sofi

Penjualan buku yang dilakukan Dosen studi islam di prodi PKN, menuai banyak protes. Terkait hal ini, Kaprodi melakulan pendekatan kepada dosen yang bersangkutan yang saat ini mengajar mata kuliah studi islam di semester ganjil. Penjualan buku yang dilakukan dosen studi islam, Riezam,

menjualnya, tapi bisa melalui toko buku. Mengenai buku yang

kepada mahasiswanya di prodi PKN menuai banyak kecaman.

diwajibkan kepada mahasiswa Sebaiknya tidak diwajibkan karena

Lantaran mahasiswa terkesan diwajibkan membeli buku tersebut.

mahasiswa enggan untuk membelinya, terlebih jika buku tersebut

Ibnu Rosihan, ketua HMPS PKN, mengatakan bahwa mahasiswa

tidak berkualitas, sambungnya.

memang tidak diwajibkan untuk membeli buku, akan tetapi semua tugas harian ada didalam buku tersebut dan tidak diperbolehkan untuk digandakan. Ia juga menambahkan, kualitas buku tidak sesuai dengan harga yang ditawarkan. Buku yang dijual dengan harga 50 ribu tanpa adanya ISBN tidak boleh di fotocopy. Menaggapi hal itu, Riezam selaku dosen studi islam memaparkan bahwa hal ini dikarenakan faktor produksi. “karena saya hanya mencetak 150 eksemplar. Kalau saya mencetak seribu harganya bisa jadi 25 ribu,” Jelasnya. Lebih lagi buku yang ia suruh beli adalah tulisannya dengan kedua temanya. Tidak sekedar mewajibkan mahasiswa untuk membeli buku, Reizam juga telah menjanjikan bahwa dengan membeli buku, maka mahasiswa akan mendapatkan tambahan nilai 20 persen. “Saya mewajibkan, karena buku itu untuk pendalaman materi.” Tambah riezam. Mahasiswa akan mendapat nilai minimal B apabila dia

Dosen adalah pendidik profesional dengan tugas utama mentransformasikan, mengembangkan, dan menyebar luaskan ilmu pengetahuan kepada mahasiswa, seperti undang-undang No 14 Tahun 2005 pasal 1 ayat 2. Ketika ditanya perihal dosen yang menjual buku di prodinya Sumaryati mengatakan bahwa apabila buku itu sifatnya adalah dalam rangka untuk meningkatkan pemahaman mahasiswa terhadap ilmu yang akan disampaikan itu bisa saja (boleh-red). Buku yang diwajibkan oleh Riezam kepada mahasiswa semester I, III dan V secara konten isi sama. LPSI sebagai lembaga yang menangani pembelajaran studi islam akan segera menindak lanjuti hal tersebut. Seperti yang diutarakan oleh LPSI “ kami akan segera menindaklanjuti untuk mengkomunikasikan dengan pihak-pihak terkait.”

Bintang

secara kehadiran dan tugas tertib. Sholeh Tarehabibi mahasiswa PKN semester V mengaku keberatan dengan harga yang ditentukan. “bagi anak kos uang segitukan bisa buat makan”, katanya sambil tersenyum. Ketika dimintai keterangan mengenai pembelian buku yang berimbas ke nilai, ia mangatakan, “Bisnis boleh, tapi jangan berdampak ke nilai karena mahasiswa banyak yang tidak mampu. Mengetahui ada dosen yang berbisnis dilingkungan prodinya, Sumaryati selaku kaprodi PKN mengatakan metode penjualan akan lebih terhormat jika bukan kita (Red-Dosen) sendiri yang

PEMBODOHAN MAHASISWA TERSISTEMATIS Jual beli nilai dan orientasi bisnis dalam pendidikan telah menjadi kebiasaan yang lumrah dalam dunia pendidikan kita. - Anonim -


8

OPINI

Fasilitas Prodiku Tak Sesuai Brosur Aris Wismoyo

Mahasiswa Ilmu Komunikasi 2013 UAD

seorang pun yang merasa heran lagi apa

putus-asa, dan kekecewaan. Apa yang se-

yang terjadi dengan Ilmu Komunikasi.

benarnya terjadi?

Pada saat tahun ajaran 2014/2015

Di sana (prodi Ilkom) juga dulu di-

dimulai, mahasiswa Ilmu Komunikasi dikag-

katakan bahwa semuanya akan berjalan

Seandainya sebuah survey intern dilaku-

etkan lagi oleh sistem ruang perkuliahan.

dengan baik. Kita diberitahu bahwa mem-

kan tentang kondisi perkuliahan, akankah

Sejatinya, prodi ini masuk dalam jajaran

bandingkan ilmu komunikasi dengan prodi

setiap mahasiswa menunjukkan bahwa

Fakultas Sastra, budaya, dan komunikasi

yang lain adalah analogi palsu dan tidak

dunia perkuliahan menjadi lebih nyaman?

namun entah mengapa beberapa tahun

pas. Pernahkan ada perang yang bera-

Jawabannya mungkin dapat ditemukan

belakangan bahkan sejak awal dibukanya

khir dengan happy ending? Perang Dunia I

dalam beberapa pendapat mahasiswa yang

prodi tersebut sudah ditempatkan bersama

menciptakan Hitler, Perang Dunia II mem-

sadar akan betapa sulitnya menjadi maha-

Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan

produksi Perang Dingin dan runtuhnya Uni

siswa.

di Kampus V. Bagaimana bisa? beberapa

Soviet dengan bantuan Usamah bin Laden

mungkin menyatakan bahwa “tidak ada

dan kalangan Mujahidinnya menciptakan

yang kita takutkan kecuali rasa takut itu

Alqaidah.

Jawabannya juga akan tergantung pada siapa yang menjadi pemburu dan siapa yang jadi buruan. Perang melawan kegelisahan belum berakhir, begitu kita diberitahu. Para mahasiswa pun sepakat untuk mengambil langkah tegas guna memperkuat pagar penghalang kecurangan. Dalam sebuah pernyataan yang dimaksudkan untuk men-

sendiri.” Sekarang rasa takut itu digunakan untuk menggiring mahasiswa haus perang agar dapat mengatakan bahwa mereka tidak hanya memiliki keperkasaan pemikiran tetapi juga ketakutan dalam waktu yang sama.

Mahasiswa bagaikan seorang pendosa yang telah melihat cahaya dan dia telah menggadaikan ilmunya, saat ini tidak ada lagi suara-suara relevan yang ditemukan, dogma Perang melawan keterpurukan telah mengalami kemunduran. Universitas yang

gungkapkan kesatuan dan membulatkan

Beberapa waktu lalu rasa sedikit nya-

merasa mendapat dukungan saat ini telah

tekad dalam mengambil langkah-langkah

man mulai terkontaminasi, teracuni oleh

melirik Program Studi baru yaitu “Kedok-

penting guna memberikan dimensi baru se-

sistem ruang perkuliahan yang mulai ti-

teran” sebagai target besar berikutnya. Ada-

bagai respon, yang dalam menghadapinya

dak beraturan. Prodi Ilmu Komunikasi di-

kah perang melawan kecemasan hanyalah

tampak dibayangi ketakutan dan horor.

kuliahkan di Panti Asuhan. Panti Asuhan

alasan belaka untuk memuluskan ambisi-

Yatim Putra Muhammadiyah dan Pondok

ambisi mahasiswaa.?

Sebuah Universitas di Yogyakarta yang bisa dibilang cukup memiliki nama dimasyarakat luas, Universitas Ahmad Dahlan. Tahun ini merupakan tahun keterpurukan dan kesaksian bagi mahasiswa salah satu prodi (program studi) terkait telah menjadi permainan yang kurang menguntungkan. Betapa tidak, dari banyaknya deretan prodi yang mungkin masih asing sekali dengan prodi Ilmu Komunikasi. Pertama, yang paling mengagetkan adalah ketika beberapa mahasiswa saling berkenalan, entah itu akibat publikasi yang kurang merata atau sengaja ditutup-tutupi. Banyak yang tidak mengenal persis bahwa prodi tersebut memang benar-benar ada. Berseberangan dengan segala pernyataan yang pernah diucapkan mahasiswa penghuni Ilmu Komunikasi itu sendiri. Secara gamblang menyatakan bahwa Ilmu Komunikasi adalah baru. Padahal ini sudah resmi dibuka sejak tahun 2012.Semua anggapan itu tampak kurang relevan. Tidak ada

Pasantren Darussalam, Jl. Lowanu MG 11. Lagi-lagi entah motif apa yang mendasari, prodi ini terancam kenyamanannya. Terus dipaksa bertebaran debu saat memasuki halaman Panti Asuhan ketika musim panas, menerima debu basah dan melekat dipijakan ketika musim hujan. Ruangan yang bisa dibilang “menipu” karena sangat tidak sesuai dengan apa yang tertera pada brosur pendaftaran. Ya, memang untuk akses jalan sangat mudah dijangkau karena letaknya yang persis dipinggir jalan raya Lowanu. Namun apakah ini sesuai? Ilmu Komunikasi yang mematok pembayaran setara dengan beberapa prodi kelas III universitas ini harus menerima pelayanan yang bisa dibilang “kurang memuaskan”. Bahkan saudara sefakultas pun bisa menikmati apa yang tertera jelas pada brosur pendaftaran. Ini bukanlah keluhan biasa, ini murni timbul dari rasa gelisah yang berasal dari dalam rasa

Kenyamanan menjadi kendala utama dalam suatu perkuliahan apabila terus terusik, maka prospek menuruti aturan hanyalah ilusi belaka. Hanya mahasiswa yang dapat membuat kenyamanan belajar untuk berpikir waras. Kalangan saudara dekat Ilmu Komunikasi, termasuk Sastra Indonesia dan Sastra Inggris, hendaknya dapat meyakinkan ilmu komunikasi bahwa pernyataan seperti ini merupakan kekecewaan yang sama bahayanya dengan keterpurukan. Mahasiswa tidak akan musnah. Hierarki akan semakin kuat dan perkuliahan tidak akan bertambah nyaman. Setiap kali pemikiran kritis bergerak, mahasiswa-mahasiswa baru akan lahir. Kita tidak perlu mengaplikasi sistem pemahaman menjadi ahli strategi untuk mengetahui hal semacam ini. Masalahnya kapan Kepala Program Studi akan berhenti bersikap berpura-pura tidak tahu?


EVENT

9

lomba. Sedangkan ribuan mahasiswa lainnya memilih mengikuti

Orange Festival Penuh Tujuan

acara penutupan atau konser langsung penyanyi legendaris Ebid G. Ade dan anaknya. Saat ditemui setelah acara penutupan Adhitya ketua panitia acara mengungkapkan tujuan OF adalah agar mahasiswa memiliki jati diri tentang kebudayaan. OF 2014 ini menggunakan tema kebudayaan yang menurut panitia direalisasikan dalam acara pembukaan dan penutupan. Acara pembukaan diselenggarakan dengan mengadakan pelatihan softskill yang bertema “Revitalisasi Budaya Indoneisa sebagai Upaya Penguatan Jati Diri Pemuda” dengan menghadirkan Guru Besar Sastra dari UNY (Universitas Negeri Yo-

Fotografer : Fara

gyakarta) yang hanya terbatas untuk 500 orang. Sedangkan acara

Adera sedang menyanyikan lagu ‘ lebih Indah’ di acara penutupan OF

penutupan mengadakan konser langsung dengan menghadirkan

OF (Orange festival) 2014 Milad UAD yang ke-54 telah ditutup

Ebid dan anaknya Adera yang disimboliskan sebagai masa perali-

dalam acara penutupan pada sabtu (20/12) di green hall kampus

han antara yang tua dan yang muda atau antara Universitas dan

III UAD. OF ini diselenggarakan oleh BEM U dan pihak Universitas.

Mahasiwa dengan pengunjung hampir seluruh KBM UAD.

Dalam rapat bersama seluruh UKM (Unit Kegiatan Mahasiswa) pada 1 Oktober 2014 lalu, panitia memaparkan selain untuk memperingati Milad UAD, acara ini pun diselenggarakan agar masyarakat UAD benar-benar merasakan ulang tahunnya dan sekaligus untuk mewadahi para mahasiswa melalui rangkaian-rangkaian lomba.

Acara penutupan pun memiliki pencapaian tersendiri yakni agar mahasiswa UAD bisa berkumpul bersama dan menghilangkan batasan-batasan yang ada. Menurut Adhitya kita bukan Ekonomi, Farmasi, FKM, FKIP, tapi kita tetap satu yaitu UAD. Acara penutupan memang dikhususkan kepada seluruh mahasiswa UAD, mahasiswa

Acara ini berjalan sesuai rangkaiannya dan berakhir pada

yang hadir pun hanya membawa KTM (Kartu Mahasiswa) sebagai

puncaknya dengan menghadirkan penyanyi Ebit G Ade bersama

tiket masuk. Dengan tujuan utama yakni menghilangkan batasan

anaknya Adera. OF memiliki beberapa rangkaian acara dan lomba

tersebut.

yaitu, Keagamaan (Da’i Muda, Qiro’ah, dan Kaligrafi), IPTEK (Desain Poster, Cerdas Cermat, dan Mading 3D), Olahraga (Futsal, Badminton, dan Basket), Kesenian (UAD Got Tallent, Selfie Event, dan Festival Kuliner), Duta UAD dan UAD berbagi. Namun dalam pelaksanaannya dari belasan ribu mahasiswa UAD hanya 27 yang menjadi perserta

Adhitya mengakui persiapan untuk OF 2014 ini kurang cukup. Ia mengungkapkan setelah ini akan membuat kepanitiaan baru dan semoga disetujui oleh BEM U sehingga bisa memantangkan konsep untuk 2015 nanti.

Fara

Kirana Baskhara Dalam Budaya Selasa, (23/12) kirana baskara, UKM Tari

heran jika penampilan tersebut dibawakan

UAD menggelar pagelaran tari yang meny-

oleh 60 penari baru UKM Tari UAD.

ajikan tarian dari berbagai nusantara. Tar-

UKM dengan mayoritas perempuan ini

ian tersebut menggambarkan harmoni alam

mengakui bahwa kendala yang disebabkan

terwujud dalam gerak. Tarian yang di perse-

adalah teknis, untuk perbedaan gender tidak

mbahkan bertujuan untuk kembali meng-

menjadi masalah dalam UKM yang baru la-

ingatkan manusia pada alam dan tanah air, khususnya muatan lokal yang

hir kurang dari satu tahun ini. “Kalau dari

berkaitan

tentang tarian. Tarian tersebut bertempat di Taman Bu-

kami tidak mempermasalahkan gander, Penampilan Tari MinyakTampi oleh UKM Tari UAD

Fotografer : Fara

mungkin boleh dikatakan kami mayoritas perempuan, tapi itu bukan sebuah alasan

daya Yogyakarta dengan menampilkan ra-

gerak tarian. Persiapan untuk menampilkan

karena disini kita juga punya rekan – rekan

gam daerah nusantara seperti Jawa Barat,

tarian tersebut memerlukan waktu selama

yang lain, karena kita mayoritas perempuan

Jawa Tengah, Jawa Timur, Sumatra, Bangka

tiga bulan dan intensive satu bulan sebelum

lebih hati – hati dalam masalah psikologis”

Belitung, dan Kalimantan.

pertunjukan.

jelas Melya Novitasari, Pendidikan Bahasa

Pagelaran tari yang terkonsep dalam

Selain sebagai harmoni terwujud dalam

tema Nature in Culture juga mengisahkan

gerak, tarian ini bertujuan untuk mengin-

alam dengan Kostum tarian seperti halnya

gatkan kembali pada kearifan lokal, acara

Tampi/tampah. Alat tersebut menggambar-

ini juga bertujuan untuk membentuk regen-

kan sifat tradisional yang dibawakan dalam

erasi Kirana Baskhara, UKM Tari UAD. Tak

Inggris 2012, selaku Ketua panitia. “untuk penari agar lebih kompak lagi” ungkap Nurul, prodi Matematika dan IPA 2013, sebagai audience.

Azkia


10

RESENSI

Cemilan Bacaan Ringan “Madre” Judul buku : Madre Kumpulan : Cerpen dan puisi Penulis

: Dewi Lestari

Penerbit

: Bentang

Cetakan

: Pertama

Tebal Buku : 162, 20 cm

Buku Madre merupakan buku ber-genre fiksi karya Dewi Lestari (Dee), Penulis muda yang tergolong sangat produktif. Tak hanya produktif, tapi karya-karyanya dapat diakui sebagai karya yang ‘layak baca’. Tak heran, karyanya banyak yang medapat respon baik dari masyarakat dengan ganjaran label best seller. Setelah menghadirkan karya terbaiknya seperti Supernova, Perahu Kertas, Partikel, sekarang Dee menyuguhkan karyanya yang berjudul Madre. Madre, memiliki 13 cerita, beberapa di antarannya ber-genre puisi. Pada buku ini, cerita pembuka yang berjudul “Madre” menjadi cerita inti. Mengisahkan tentang seorang anak muda bernama Tansen yang diberi amanat untuk menghidupkan kembali sebuah toko roti yang telah lama mati. Tansen yang mendapatkan sebuah warisan sebuah kunci kecil tempat pendingin. Wasiat itu diberikan oleh Tan yang merupakan kakek dari Tansen. Walaupun awalnya Tansen tidak tahu itu adalah kakeknya, namun

ISBN

: 978-602-8811-49-1

Editor

: Sitok Sringenge.

Resensor

: Anggit Dwiyanto

lambat laun Tansen menyadarinya. Misteri apa sebenarnya yang ada dalam sebuah lemari pendingin akhirnya terjawab. Sebuah adonan roti bernama “Madre”.

maka Tansen memilih bekerja sama dengan orang tersebut. Dan akhirnya lambat laun toko yang sudah mati suri dapat kembali berjaya seperti dulu.

Diceritakan adonan Madre tersebut sudah

Dewi Lestari menggambarkan tokoh

berusia 70 tahun. Madre dalam bahasa Spa-

yang sudah tua dengan kata-kata menjadi

nyol berarti “Ibu”. Sang kakek berkeyakinan

nilai tambah dari buku ini. Apa lagi alur

bahwa hanya keturunan langsunglah yang

cerita yang sangat tidak terduga, mem-

bisa menghidupkan kembali Madre yang

buat pembaca merasa selalu ingin tahu

lama tertidur di lemari es. Adonan roti ini

cerita selanjutnya. Meski demikian ter-

yang akan menjadikan toko roti yang sudah

dapat kekurangan dalam novel Madre ini

mati suri bisa hidup lagi dan bersaing den-

yaitu cerita yang terlalu panjang. Salah satu

gan bakery yang modern.

definisi dari cerpen adalah cerita yang habis

Di tengah cerita terdapat situasi yang rumit bagi Tansen. Cerita itu berawal dari adanya

seseorang yang

menginginkan

dibaca sekali duduk, tapi untuk cerpen Madre tergolong terlalu panjang. Bahkan hampir mirip dengan novel.

“Madre” dan berani membayar dengan har-

Cerita-cerita yang lain juga tak kalah

ga yang sangat tinggi. Tansen pun dihadap-

dengan Madre. Seperti cerpen yang ber-

kan dua pilihan yaitu harus menjual Madre

judul “Semangkok Acar untuk Cinta dan

maka akan mendapat uang yang melim-

Tuhan”. Dari cerita tersebut terlihat betapa

pah atau meneruskannya dengan pertim-

pintarnya Dewi Lestari melalui karyanya

bangan bagaimana jika roti buatnya tidak

menjawab pertanyaan ‘apa itu cinta dan apa

laku. Dengan pertimbangan yang panjang

itu Tuhan.

Redaksi menerima tulisan berupa opini, sastra, resensi, surat pembaca. Tim Redaksi berhak untuk melakukan perbaikan tanpa mengurangi substansi dari tulisan tersebut. Kirim tulisan kalian lewat E-mail : poros_uad@yahoo.co.id


SASTRA

11

Hakku Terampas Oleh : Habibatul Jannah Mahasiswa Psikologi 2012

Pagi menyapa, mentari timbul di ufuk timur mencoba menghangatkan permukaan bumi. Embun telah beranjak pergi diiringi dengan nyanyian merdu kokok ayam yang silih berganti. Hari ini masih pagi, tetapi lalu lalang kendaraan bermotor sudah menyelimuti jalanan didepan Panti. Yah, aku hidup di Panti Asuhan selama 15 tahun. Selama itu aku tak tahu dimana Ayah dan Ibuku, bagaimana rupanya, seperti apa pribadinya. Aku buta akan hal itu. Tapi, biarlah. Aku tak pernah ingin lebih jauh mengerti hal itu, karena bagiku, teman-teman yang kini bersamaku di Panti cukup untuk membuatku bahagia. Aku bergegas mandi dan bersiap untuk kesekolah. Ku ambil handuk dan peralatan mandi, lalu aku mulai menjalankan aktifitasku setiap paginya. “Ealah, lagi-lagi banyak orang yang melihat kearah kita,” kataku kepada Soni, temanku di Panti ini sambil membenarkan tali sepatu yang belum selesai terikat. “Ya wis biasa to kita jadi tontonan gini. Hahaha, mirip artis kita itu,” celetuk Soni padaku sambil tertawa sinis. Aku tertegun Soni berkata demikian, karena akupun tahu sebenarnya ia merasa risih dengan keadaan seperti ini. Menjadi perhatian orang asing yang entah kitapun tidak tahu dari mana asal mereka. “Yo gak gitu toh Son, aku yo isin kalo diliatin tiap hari kayak gitu,” jawabku sambil mendengus kesal. Kamipun berjalan bersama menuju Sekolah karena Sekolah kami tidak begitu jauh dari Panti. Dalam perjalanan menuju Sekolah pun aku masih memikirkan kenapa orang-orang itu gemar sekali menjadikan kami sebagai tontonan. Padahal disini aku juga sama dengan mereka. Sama-sama manusia. Aku tahu, bahwa Panti ini bukan milikku, bukan milik Ibu atau Bapakku. Tapi entahlah, aku selalu malas setiap kulihat lalu lalang motor masuk kedalam Panti yang menghalangi jalan keluar untuk aku pergi kesekolah. Entah, aku tidak pernah mengenal mereka. Tapi mereka selalu datang hampir tiap hari. Aku sangat terganggu, teman-temankupun terganggu. Bagaimana tidak, jangan

kan untuk bermain sepak bola dihalaman Panti, mau menjemur pakaianpun kurasa malu, karena tidak elok rasanya hal pribadi yang kujemur menjadi pemandangan orang asing itu. Terkadang aku bertanya-tanya pada diriku sendiri, apakah orang sepertiku tidak punya hak untuk diberikan kenyamanan? Apakah orang sepertiku tidak dapat kelayakan hidup? Bagaimana aku mendapatkan kenyamanan ketika hal pribadi yang kujemur menjadi sebuah tontonon tiap harinya oleh orang asing itu? Ah, orang-orang asing itu yang katanya ‘kuliah’ tetap saja mengurangi rasa nyamanku. Aku sudah lupa kapan tepatnya mereka mulai ada dalam Panti ini. Yang kudengar mereka hanya menumpang belajar di wilayah Panti ini. Aneh memang, kuliah diwilayah Panti yang bukan tempat yang layak untuk ‘kuliah’ menurutku. Sebenarnya tidak adakah tempat yang layak bagi mereka itu? Bukankah mereka itu sudah membayar mahal untuk kuliahIlustrator : Nurul nya? Tetapi mengapa mereka masih tega untuk kuliah ditempat kumuh seperti ini? Aku sebenarnya tak begitu peduli pada mereka akan kuliah dimana. Tetapi bagaimana dengan kenyamananku dan kenyamanan penghuni panti yang telah membesarkanku ini? Siapa sebenarnya dalang dari semua ini hingga hak kenyamanan kami dirampas? Tidak adakah hati mereka yang menengok kami yang di Panti? Sempat terbesit dalam pikirku, bagaimana dengan penguasa dikampus orang-orang asing itu? Apakah mereka duduk bersandar sambil membenarkan dasi mereka tanpa memikirkan halhal seperti ini? Ataukah mereka tahu, tapi pura-pura tak mengerti? Ataukah memang mereka tak mengerti? Biarlah, aku hanya berharap waktu yang menjawab semua pertanyaanku. Juga, Tuhan menjawab doaku, semoga kami diberikan kenyamanan untuk hidup di Panti ini dan Tuhan memberikan kesadaran kepada mereka para penguasa kampus yang membiarkan anak-anaknya kuliah di Panti yang kumuh ini agar nantinya mereka diberikan tempat yang layak untuk menuntut ilmu.



Turn static files into dynamic content formats.

Create a flipbook
Issuu converts static files into: digital portfolios, online yearbooks, online catalogs, digital photo albums and more. Sign up and create your flipbook.