Pontianak Post
Jumat 20 November 2009 M / 3 Dzulhijjah 1430 H
P e rt a ma da n T e rut a ma di K a l i m a n t a n B a r a t
Eceran Rp. 2.500
MENANTI DIPANGGIL:
SELEBRITAS
Iswanto tertunduk lesu di Poltabes Pontianak. Dia menanti dipanggil penyidik untuk dimintai keterangan. Pengurus KONI Kalbar kemarin resmi melaporkan mantan bendahara ini setelah tak mampu mengembalikan uang KONI Rp2,1 miliar yang digunakannya.
Sempat Dikira Sombong AYU Diandra Sari punya pengalaman menarik di sela menjadi wakil Indonesia di ajang Miss International 2009 yang berlangsung pada 1230 November 2009 di Sichuan Tennis International Hotel, Chengdu, Tiongkok. Ketika di Beijing, runner-up 1 Putri Indonesia alias Putri Lingkungan 2008 itu dikira warga setempat sombong lantaran tak mau menggunakan bahasa sendiri. Kala itu, Dea --sapaan karibnya-berjalan-jalan di Kota Beijing bersama Kusumadewi dari Yayasan Puteri Indonesia. Sambil Ayu Diandra Sari menikmati cuaca dingin karena mulai turun salju, dia sesekali berbelanja. Mungkin melihat wajah Dea yang sedikit oriental, para pedagang mengajaknya berbicara dengan menggunakan bahasa
Polisi Bidik Pejabat Terkait Shando/Pontianak Post
KONI Polisikan Iswanto, Dijerat UU Korupsi
u Ke Halaman 7 kolom 6
PONTIANAK—Kapoltabes Pontianak Kombes Pol M Asep Syahrudin menegaskan, uang KONI yang digelapkan Iswanto sebesar Rp2,1 miliar merupakan tindak pidana korupsi. Bukan penggelapan yang hanya dijerat dengan pasal KUHP. “Kalau penggelapan, uangnya milik pribadi, jeratnya dengan KUHP. Tapi ini yang diambil uang negara, namanya korupsi. Dijerat dengan undangundang korupsi. Karena uang tersebut milik KONI, institusi di bawah pemprov,” tegas Asep kepada Pontianak Post kemarin. Penegasan Asep menanggapi laporan pengurus Ketua KONI Kalbar terhadap Bendahara KONI Kalbar non aktif Iswanto, Kamis (19/11). Iswanto kembali u Ke Halaman 7
kolom 5
SIDANG ANTASARI
Penyidik Sudutkan Wiliardi JAKARTA--Pengakuan Wiliardi Wizar tentang adanya arahan untuk menyebut keterlibatan Antasari Azhar dalam kasus pembunuhan Nasrudin Zulkarnaen kembali dimentahkan lagi oleh penyidik. Kali ini tiga penyidik Polda Metro Jaya kompak membantah memberikan tekanan kepada Wiliardi dalam proses pembuatan Berita Acara Pemeriksaan (BAP). Tiga perwira yang dihadirkan sebagai saksi verba lisan (penyidik) adalah Wiliardi Wizar yang langsung melakukan pemeriksaan. Mereka adalah Kompol Arief Setiawan, Kompol Zarius Saragih, dan Kompol Tarhan Marpaung. ”Pada saat pemeriksaan diberikan kebebasan,” u Ke Halaman 7 kolom 5
DPP Golkar Diminta Netral Aburizal Bakrie Pastikan Hadir PONTIANAK—Musda Partai Golkar hari ini (Jumat) mulai berlangsung. Persaingan antarkandidat calon ketua pun makin memanas. Ketua Umum DPP Partai Golkar Aburizal Bakrie dipastikan membuka musda yang dilangsungkan di Gedung Zamrud, Jalan A Yani Pontianak mulai pukul 10.00. Wakil Ketua Panitia Pengarah Musda Golkar Kalbar Awang Sofian Rozali mengatakan, semula
musda tersebut dilaksanakan di Gedung PCC pukul 19.00, namun berubah menjadi pukul 10.00 di Gedung Zamrud. Hal ini untuk menyesuaikan jadwal Aburizal, karena pada hari yang sama dia harus membuka musda Golkar lainnya di dua provinsi berbeda yakni Kalimantan Tengah dan Kalimantan Timur. Kehadiran DPP Golkar diminta netral. Mereka harus mengedepankan fungsi pengayom sehingga Golkar tetap solid. Sementara untuk agenda pemilihan umum Ketua DPD Golkar Kalbar periode 2009-2014, di-
agendakan pada Sabtu (21/11) siang atau sore. “Bisa saja pembahasannya sampai malam,” ujarnya. Sementara itu hingga kemarin, masing-masing kubu menyatakan siap tempur. Bahkan sudah terasa perang terbuka dengan memasang baliho raksasa di sejumlah sudut strategis Kota Pontianak. Abang Tambul Husin dan Morkes Effendi yang paling dominan memasang spanduk dan umbul-umbul tersebut dan memperkenalkan visi dan misinya.
Hendarman Supandji
Presiden tidak memiliki intuisi untuk menentukan apakah ini berkaitan dengan kepentingan masyarakat atau tidak.
Jaksa Abaikan Rekomendasi Tim Delapan JAKARTA--KejaksaanAgung tak lama lagi bakal melimpahkan kasus Bibit dan Chandra ke pengadilan. Sebab, mereka tak mau mengikuti rekomendasi Tim Delapan. Alasannya, rekomendasi Tim Delapan bertentangan dengan Undang-Undang dan Tim Delapan dinilai tidak konsisten dalam kasus Bibit dan Chandra. ”Selama ini yang bilang alat bukti kurang, ada missing link, itu kan rekomendasi Tim Delapan. Selama ini yang ngomong kan Tim Delapan.
u Ke Halaman 7 kolom 5
u Ke Halaman 7 kolom 1
Mario Blanco; Generasi Penerus sang Maestro Lukis Don Antonio Blanco 11:30 14:54 17:34 18:47 04:05
Telat Sadar Warisi Bakat Ayah, Sempat Terjuni Otomotif Don Antonio Blanco menjadikan Bali segala-galanya dalam hidup. Sang maestro itu pun mewujudkan impiannya untuk menghabiskan waktu dan meninggal di pulau indah tersebut. Mario Blanco, sang penerus, punya prinsip yang sama. Seperti apa?
SUGENG SULAKSONO Ubud PADA usia 6 tahun, Don Antonio Blanco bermimpi. Pria berdarah campuran Spanyol-Italia, lahir di Filipina, namun besar di Amerika Serikat, itu melihat sebuah tempat yang indah
Sugeng Sulaksono/Jawa Pos
TERUSKAN CITA-CITA: Mario Blanco di The Blanco Renaissance Museum Ubud, Bali.
tapi belum tahu di mana. Sampai suatu hari, di Amerika, ditemukan buku karya Miguel Covarrubias tentang Bali. ’’Setelah pergi ke Amerika, ternyata tidak puas. Nggak mau tinggal di sana,’’ungkap Mario Blanco mengisahkan ihwal kedatangan sang ayah, Antonio Blanco, ke Indonesia. Berangkatlah Antonio ke Bali pada awal 1950-an. Tempat pertama yang dia injak adalah Singaraja. ’’Tapi, sampai di Singaraja, kaget, bingung. Kotanya kotor. Akhirnya marahmarah,’’ujar Mario sambil berjalan mengelilingi The Blanco Renaissance Museum di Campuan, Ubud, Bali. ’’Untung, setelah itu ketemu wakil gubernur zaman itu dan dibawalah papa dari Singaraja ke Ubud. Kebetulan juga, raja Ubud sangat terbuka dan ingin mempromosikan Bali,’’ lanjut Mario yang belum lama ini menyerahkan lukisan
Online: http://www.pontianakpost.com/ *Mempawah, Sambas, Singkawang, Bengkayang Rp 2.500 *Landak, Sanggau, Sintang Rp 3.000 *Ketapang Rp 3.000 *Kapuas Hulu Rp 3.000
u Ke Halaman 7 kolom 1
Jawa Pos Group Media