Pontianak Post

Page 1

42

���������

Pontianak Post

Kamis 29 April 2010 M / 15 Jumadil Awal 1431 H

P e rt a ma da n T e rut a ma di K a l i m a n t a n B a r a t

Eceran Rp. 2.500

Penyelundupan 47 Laptop Digagalkan Lolos dari Pemeriksaan Bea dan Cukai Entikong

SANGGAU--Jajaran Polres Sanggau berhasil menggagalkan penyelundupan 47 unit laptop dari Sarawak, Malaysia ke Pontianak, Kalbar. Laptop dikemas dan dibawa menggunakan mobil bok dicampur kardus makanan. “Semua merk laptop itu adalah Accer. Kita perkirakan nilai harga barang tersebut sekitar Rp500 juta,” kata Kapolres Sanggau AKBP I Wayan Sugiri didampingi Wakapolres Kompol Surakyo, Kabag Binamitra AKP Nurwignyo, Kasat Reskrim AKP Slamet Nanang Widodo SIK dan Kapolsek Entikong AKP Dani Fajar SIK. u Ke Halaman 7 kolom 1

Butuh Pengawasan Ketat Perbatasan PONTIANAK--Meskipun tak berpengaruh terhadap peredaran laptop di Kalbar, masuknya laptop ilegal dari luar negeri menyebabkan kerugian bagi pemerintah. Setiap laptop yang masuk secara ilegal, otomatis tidak dikenakan pajak pertambahan nilai. Meskipun saat ini sudah berlakunya perdagangan bebas China-Asean (CAFTA), dimana pajak masuk diberlakukan 0 persen. “Saat ini harga laptop resmi sudah banyak yang murah, sehingga laptop ilegal tak mempengaruhi harga pasaran. Kalau dulu iya, karena harga laptop masih mahal. Akan tetapi pemerintah sangat dirugikan karena mempengaruhi pendapatan daerah dari pajak barang,” ungkap Ahmad Djazuli, salah satu pengusaha IT di Kalbar. Selain itu, menurut mantan ketua Apkomindo ini, laptop ilegal tidak terdaftar di service center merk laptop tersebut. Kesulitannya akan ditemukan pada saat membawa ke tempat service centere untuk garansi

Anto/Kapuas Post

LAPTOP: Kapolres Sanggau AKBP I Wayan Sugiri memaparkan pengungkapan kasus penyelundupan laptop asal Malaysia.

KPK Terpojok Kasus Century Kurung Komisi III Kecam Tersangka Istimewakan Boediono dan Sri Mulyani Korupsi

GROW WITH CHARACTER

My Name Is Tan

Surabaya, 1 Mei 2010. Pada hari itu MarkPlus Inc tepat berusia 20 tahun. Selesailah sudah tugas saya untuk menulis seratus artikel yang dimuat setiap hari berturut-turut. Kumpulan tulisan tersebut diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama dari Kompas Gramedia sebagai suatu buku. Sesuatu yang unik dan barangkali belum pernah terjadi. Hal itu bisa terjadi karena kebesaran hati kedua belah pihak. Dalam menuliskan Hermawan Kartajaya cerita bagaimana saya mendirikan, mempertahankan, serta mengembangkan MarkPlus, saya menggunakan bahasa bercerita. Gaya bercerita orang Surabaya yang lugas dan apa adanya. u Ke Halaman 7 kolom 5

JAKARTA--Hujan kritik mengalir deras ke Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Lembaga antikorupsi itu dianggap lemah dalam penanganan kasus Bank Century. Salah satunya, keputusan KPK soal rencana pemeriksaan Wapres Boediono dan Menkeu Sri Mulyani di kantor mereka hari ini. Dalam Rapat Dengar (RDP) dengan anggota Komisi III DPR kemarin (28/4), institusi superbodi itu dituntut untuk memberlakukan azaz persamaan hukum (equality before the law) kepada Sri Mulyani dan Boediono. “Sebelum ini, KPK tegas, berani

menangkap Burhanuddin Abdullah (eks Gubernur Bank Indonesia) dan Aulia Pohan yang kita tahu sekali beliau siapa. Tapi saya terganggu dengan opini masyarakat terkait

pemeriksaan Sri Mulyani dan Boediono di luar Gedung KPK,” kata Bambang Soesatyo, anggota Fraksi Golkar di Gedung Parlemen, Senayan, kemarin. u Ke Halaman 7 kolom 5

Jaksa: Hersan Kooperatif PONTIANAK—Kejaksaan didesak melakukan penahanan kurungan badan bagi tersangka korupsi. Hal ini bertujuan untuk memberikan efek jera. Demikian ditegaskan Ketua Umum DPP Laskar Anti Korupsi Indonesia (LAKI) Burhanudian Abdullah kepada Pontianak Post, Rabu (28/4), menanggapi beberapa kasus dugaan korupsi di Kalbar yang tersangkanya masih bebas berkeliaran. Menurut Burhan, memang tidak ada aturan secara spesifik yang mengharuskan itu. Kejaksaan mempunyai alasan-alasan u Ke Halaman 7 kolom 1

Burhanudin Abdullah

‘‘

Ini yang kami anggap tidak adil. Orang mencuri ayam lansung dikurung. Sementara orang yang mencuri uang rakyat hingga bermiliarmiliar rupiah bebas berkeliaran. Mana rasa keadilan hukum itu?

‘‘

u Ke Halaman 7 kolom 5

Berkas Edwin Siap Dilimpahkan Barang Bukti Tablet Sabu Dimusnahkan PONTIANAK—Berkas Edwin Rahadi segera dilimpahkan ke kejaksaan. Pihak kepolisian kini menunggu hasil laboratorium forensik Mabes Polri yang melakukan penelitian lembaran uang dolar palsu milik Edwin. Kasat Reskrim Poltabes Pontianak Komisaris Sunario menjelas-

kan pemeriksaan uang palsu di Labfor untuk menyakinkan kepalsuan lembaran dolar Amerika itu. Karena kepolisian membutuhkan keterangan ahli, untuk memastikan kepalsuan uang yang disita dari kediaman Edwin di Jalan Adi Sucipto itu. Sunario belum bisa memastikan kapan selesai penelitian di Labfor. Namun ia menyakini, hasilnya akan segera dapat diketahui. “Sekarang lagi menunggu kecocokan nomor seri,” kata Sunario.

Karena dolar Palsu Edwin akan diperiksa nomor seri per lembarnya. Ketika telah usai mencocokkan nomor seri tersebut berarti berkas segera dilimpahkan. Sebab itu yang kini dinanti poltabes untuk melangkah ke kejaksaan. Sunario menambahkan dalam perkara uang palsu memang agak sedikit rumit penanganannya. Ia mencontohkan temuan seratus lembar uang palsu membutuhkan berita u Ke Halaman 7 kolom 5

Shando Safela/Pontianak Post

MUSNAHKAN BB: Tersangka Edwin tengah membongkar barang bukti sebelum dimusnahkan.

RPA di Tangerang; Penampung Bayi Hasil Hubungan Gelap TKI 11:42 15:02 17:46 18:56 04:19

Gillian Berdarah Syria, Najla Bibit Bangladesh Berangkat dari keprihatinan atas nasib tenaga kerja Indonesia (TKI), tahun lalu Yudhi Ramdani memelopori berdirinya Rumah Penitipan Anak (RPA) TKI. Kini tempat itu menampung bayi-bayi hasil hubungan gelap atau perkosaan para buruh migran.

ZULHAM MUBARAK, Jakarta Zulham Mubarak/Jawa Pos

GILLIAN Rashed tersenyum lebar. Sambil tengkurap, sesekali bayi berusia tujuh bulan itu menggerak-gerakkan tangan dan kaki, seakan sedang belajar berenang. Kulit Gillian putih mulus, mata bulat, dan

hidung mancung khas Timur Tengah. Cakep dan lucu. Siapa sangka bayi yang akrab dipanggil Gilang itu ternyata tidak dikehendaki ibunya, seorang TKI di Qatar. Ketika mendarat di Bandara

Soekarno-Hatta sepulang dari Qatar, sang ibu langsung menitipkan Gilang ke RPA TKI secara diam-diam. “Sudah hampir dua bulan Gilang di sini, sudah seperti anak saya sendiri,” kata Yudhi sambil

LUCU: (Dari kiri) Gillian Rashed, Fahri Ramdhani (putra Yudhi Ramdani), Najla Nurfatilah Sohar, dan Rizky Aziansyah.

merengkuh dan menciumi bayi itu. Gilang adalah salah satu penghuni RPA TKI. Dia di situ bersama tiga bayi lain. Mereka adalah Najla Nurfatilah Sohar,

Online: http://www.pontianakpost.com/ *Mempawah, Sambas, Singkawang, Bengkayang Rp 2.500 *Landak, Sanggau, Sintang Rp 3.000 *Ketapang Rp 3.000 *Kapuas Hulu Rp 3.000

u Ke Halaman 7 kolom 1

Jawa Pos Group Media


Turn static files into dynamic content formats.

Create a flipbook
Issuu converts static files into: digital portfolios, online yearbooks, online catalogs, digital photo albums and more. Sign up and create your flipbook.