
5 minute read
Renungan
Renungan
Mengapa Mereka Bertanya kepada Saya?
Pertemuan-Pertemuan Mengejutkan
Waktu itu Sabat yang menyenangkan. Setelah selesai acara gereja, saya dan istri menjamu teman-teman makan siang dan kami semua memutuskan untuk menikmati jalan-jalan sore di tempat teduh taman dekat rumah. Karena waktu itu musim panas yang menggerahkan dan lembab di Maryland, maka kami semua berganti pakaian dengan yang lebih nyaman dikenakan, dan akhirnya mulai di jalan setapak yang dinaungi pohon.
Banyak orang lain juga punya ide yang sama. Kami berpapasan dengan keluarga muda dengan anak-anak kecil di dalam kereta bayi, pasangan tua dengan percakapan yang serius, kelompok-kelompok keluarga besar, dan para remaja berpegangan tangan.
Setelah 10 menit berjalan-jalan, seorang wanita berusia 40-an berjalan ke arah saya dan menanyakan arah tempat menarik tertentu di taman itu. Saya tahu tempat itu dengan baik dan dengan segera mengarahkan dia ke tempat tersebut. Lima menit kemudian seorang pria lebih tua bertanya bagaimana sampai ke rumah terkenal di taman itu. Istri saya, Chantal, bisa menuntun dia ke bangunan yang benar. Lima belas menit kemudian, sebuah keluarga dengan seekor anjing yang ramah berjalan ragu-ragu ke arah kami dan menanyakan jalan menuju taman anjing terdekat. Saya tahu jalan terbaik menuju taman anjing dan berjalan bersama keluarga itu menuju belokan berikutnya, mengarahkan mereka ke tujuannya.
Saat itu teman-teman memandang kami dan bertanya: “Mengapa orang-orang datang bertanya-tanya arah kepada kalian? Apakah kalian mengenal orang-orang ini?”
ANTARA MELAKUKAN DAN KEHIDUPAN
Mengapa orang-orang datang kepada kami dan menanyakan arah? Kami berdua bersama istri telah memperhatikan fenomena ini sejak awal kegiatan berjalan-jalan di taman kesukaan kami. Mengapa orang-orang mengira bahwa kami mengetahui jalannya? Kami sudah bertanya kepada diri kami sendiri. Kami tidak mengenakan pakaian khusus atau tanda pengenal yang memperlihatkan bahwa kami adalah pegawai taman. Sebenarnya, dari celana pendek, T-shirt, dan sepatu jalan, kami tampak seperti orang-orang di sekeliling kami. Itu memang pertanyaan yang bagus, dan entah bagaimana mengingatkan kami tentang penginjilan.
Penginjilan adalah kata yang penting dalam perbendaharaan kata Advent—dan memang benar demikian. Kita telah dipanggil untuk membagikan kabar baik kedatangan Yesus yang segera, kepada dunia yang terluka yang tengah terlontar menuju kehancuran. Kadang-kadang kita telah menafsirkan makna kata ini hanya dalam istilah melakukan, gantinya memantulkan secara kuat dalam kehidupan kita.
Perkenankan saya mengilustrasikan ini dari pengalaman gereja Kristen mula-mula. Setelah pekerjaan ajaib Roh saat Pentakosta (Kisah Para Rasul 2–4) dan pertobatan ribuan orang, para pemimpin Yahudi mulai memperhatikan pergerakan baru ini, yang disebut “Jalan” (Kisah Para Rasul 9: 2). Perhatian terfokus ini menuntun kepada bertambahnya penganiayaan kekerasan (Kisah Para Rasul 8: 1–3; 9: 1,2), mendesak gereja untuk tersebar luas ke luar Yudea, Samaria, Siria, dan seluruh kerajaan Roma lainnya. Para pengkhotbah pengembara seperti Paulus, Petrus, dan para rasul dan pemimpin lain-

nya, kadang-kadang mengunjungi kota-kota yang lebih besar, dan terlibat di dalam apa yang kita sebut, penginjilan “publik.” Tetapi gereja Kristen justru menjadi yang paling konsisten karena pelayanan dan kegiatan dari pertemuan anggota gereja individual dalam gereja-gereja rumah kecil, yang amat erat dalam komunitas lokal mereka. Belas kasihan, kepedulian, dan kasih mereka terhadap orang-orang yang membutuhkan kemurahan dan dukungan, menarik orang-orang. Fokus mereka pada Yesus, yang menyelamatkan dan mengubahkan, telah mengubah orang-orang Kristen mula-mula ini dan keluarga dan tetangganya.
MENGAPA MEREKA MENANYAKAN ARAH?
Pengalaman kami di taman telah menantang saya untuk memikirkan lebih banyak tentang alasan-alasan mengapa orangorang bertanya kepada orang lain meminta petunjuk, arah, atau bahkan pertolongan. Berikut tiga alasan yang mungkin, yang tak diragukan lagi juga bisa diterapkan pada cara kita terlibat dengan orang-orang mengenai Injil.
1. Kenali wilayahnya. Kami sudah tinggal lebih dari 12 tahun di lingkungan kami, dan kami benar-benar mengenal taman ini. Kami berjalan dengan yakin dan berencana di jalannya. Keyakinan dan tujuan biasanya menarik mereka yang tidak mengetahui jalannya—di sebuah jalan atau dalam kehidupan. Penerapan rohaninya sejajar: kecuali kita sudah mengenal Juruselamat kita secara pribadi, kecuali kita menikmati hubungan yang bersemangat dan penuh kasih dengan Dia, maka kita tidak bisa menuntun orang lain. Murid-murid mengenal Tuhan mereka secara pribadi dan secara intim. Mereka tidak hanya menyampaikan fakta-fakta atau daftar ayat Alkitab. Mereka berjalan bersama Tuhan mereka melalui bukit dan ke atas gunung. Mereka memiliki keyakinan akan Penebus mereka, dan mereka menikmati jaminan keselamatan. 2. Mudah didekati. Ketika kami berjalan di taman, biasanya kami tidak membawa telepon selular atau alat pendengar (earphone) menempel di telinga kami. Kami melihat-lihat sekitar; kami memperhatikan orang-orang biasa yang kami temui dan menyapa satu sama lain; kami tersenyum pada orang-orang dan terbuka untuk menjalin pertemanan baru. Kami tidak memperlihatkan wajah serius yang tegang melainkan minat yang penuh sukacita. Sepertinya Yesus handal dalam berbaur dengan semua jenis orang—sarjana yang seriusan, buruh harian yang lelah, tuan tanah yang kaya, anak-anak yang cerewet, remaja-remaja yang canggung, ibu-ibu yang jenuh. Menyampaikan keterbukaan kepada orang lain tidak sama dengan menjadi ekstrovert (periang). Yesus menggunakan orang-orang ekstrovert dan introvert (pendiam), (dan jenis apa pun di tengahnya), tetapi apa yang perlu kita bawa ke depan adalah keterbukaan dan sikap mudah didekati.
3. Mengambil kesempatan.
Chantal dan saya tidak pernah mengambil kelas menjelaskan semua daya tarik dan kemungkinan-kemungkinan di taman kami. Kami tidak pernah menjadi pemandu taman tetapi karena kami menyukai taman itu dan telah berjalan ribuan kilometer di dalamnya maka kami bisa menawarkan bantuan kepada mereka yang mencoba menemukannya. Kami mungkin tidak memiliki jawaban kepada semua perta-
nyaan, namun kami membantu sebisanya. Saya bertanya-tanya sungguh banyak kesempatan besar kita lewatkan untuk menyaksikan kebaikan Allah dan rencana-Nya bagi dunia saat kita tidak memberikan kesaksian kita karena kita merasa ini tidak cukup “spesial”? Betapa sering kita melewatkan kesempatan-kesempatan besar karena kita tidak memahami momen keterbukaan dan kesempatan ketika seseorang mengajukan satu pertanyaan?
BERJALAN SEPANJANG JALAN
Bersaksi bagi Yesus tidak dimulai dengan kata-kata. Ini dimulai dalam pertemuan pribadi dengan Yesus yang mengubahkan hidup kita. Begitu kita mengenal Juruselamat secara pribadi, maka kita bisa hidup yakin tentang kasih-Nya dan siap membagikan kebaikan-Nya kepada orang-orang yang mencari. Meskipun kita memang tidak mengetahui semua jawaban, namun kita bisa mengenal setiap kesempatan melayani dan menyampaikan beberapa dari berkat yang kita telah alami. Dan kemudian, kadang-kadang, melampaui arahan dan jawaban, kita bisa sebentar berjalan bersama mereka yang sedang mencari jawaban. Seperti para murid dalam perjalanan mereka menuju Emaus, mungkin kita mendapati bahwa berjalan bersama dalam komunitas dengan orang lain dan Yesus akan terbukti menjadi satu berkat yang berguna bagi satu sama lain. Saat kita membantu orang lain, kita sendiri menemukan tujuan dalam dunia yang tampak membingungkan dan tanpa arah ini.
Gerald A. Klingbeil melayani sebagai wakil editor Adventist World.