Pasca diterbitkannya Rancangan Undang-Undang Energi Baru dan Terbarukan (RUU EBT) melahirkan sejumlah paradoks serta kepelikan yang menghambat RUU EBT belum kunjung rampung hingga saat ini. Selain polemik disharmonisasi regulasi yang tertuang dalam RUU EBT, urgensi pengaturan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) turut menuai banyak sorotan dari publik. Menilik kondisi negara Indonesia kini, parameter kegentingan PLTN menjadi sebuah tanda tanya besar. Mengingat cita-cita hukum (ius constituendum) PLTN pada RUU EBT, apakah operasi PLTN dapat secara efektif menjadi alternatif substitusi sumber energi fosil untuk akselerasi transisi EBT?