Edisi: 108/Thn IV / 24 November - 7 Desember 2010
DWI MINGGUAN TERBIT 12 HALAMAN
KPU Cianjur Targetkan Partisipasi Pemilih 64% Hal. 5
Harga Eceran :
Polres Pelalawan Abaikan Pengaduan Masyarakat Hal. 6
Rp. 3.000,-
(Jabodetabek)
Warga Sungai Burung Pertanyakan PPJ Hal.
8
Akibat Letusan Merapi:
Pertanian Hancur, Warga Terpaksa Makan Singkong Magelang, Melayu Pos Letusan Gunung Merapi menghancurkan pertanian milik warga. Meskipun tidak terkena dampak langsung, namun abu vulkanik menutupi lahan pertanian mereka hingga tak bisa dipanen. Jumlah korban meninggal akibat letusan Gunung Merapi bertambah menjadi 304 orang, menyusul ditemukannya jenazah yang tertutup abu.
Titi Kamal
Rubah Gaya Promosikan Single Terbaru TITIAN MUHIBAH
Baca di hal. 11
Berbentenglah di Hati Rakyat
Oleh: Mas‘ud HMN Ketua Pusat Kajian Peradaban Melayu Jakarta
Tidak ada (tembok) yang tidak tembus oleh peluru emas. PENEGAKAN hukum agaknya bisa diibaratkan dengan tembok yang kuat. Akan tetapi betapapun kuatnya dapat juga ditembus oleh peluru emas. Ini menarik untuk dikaji ulang. Benarkah penegak hukum seperti itu ? Tidak ada penegak hukum yang lurus dan tahan terhadap peluru emas? Menjawab dua soal diatas agaknya ada dua pandangan yang bisa kita angkat. Pertama pandangan pessimistis dan pandangan kedua pandangan kaum optimistis. Pandangan pessimistis menganggap amat sulit penegakan hukum yang adil. Karena penegak hukum sendiri terlibat dalam budaya yang tidak sehmengankat Cina sebagai misalat, yaitu korup, budaya suap dsbnya. Unsur penegak hukum kita sangat bermasaalah dg budaya yang tidak sehat itu. Unsur Polisi misalnya sebagai penegak hukum. memiliki masalah. Seperti ada ungkapan yang mengatakan yang tidak bisa disogok (disuap) hanyalah polisi tidur dan polisi Hugeng ( waktu dulu adalah Kapolri) Ini mengesankan betapa merejalelanya budaya suap dan sogok tersebut yang hampir melanda semuanya. hakim,Jaksa serta Pengacara Pandangan Optimis, berpandangan masih ada yang bisa diselamtkan dari budayan yang tidak sehat itu asal ada kamauan dan tekad yang bulat dari pimpinan negara, Pandangan ini mengangkat Cina sebagai contoh kasus. Negara tirai bambu itu pernah mengidap budaya korupsi yang gawat.Namun kemudian muncul pimpinan dengan tekad yang kuat dan nekad untuk memberantas korupsi.Mereka rlatif berhasil. Lalu Cina kini menjadi negara kuat dalam bidang eknomi dan sukses memberantas korupsi Dalam minggu ini pertengahan Nopember, Patrialis Akbar Menteri Hukum dan Perundang Undangan (Mekundang) sering muncul di Televisi untuk kompanye sadar hukum.Temanya rakyat sadar hukum. Pesannya, agar rakyat taat pada azas hukum yang ada. Suasana psikologis bangsa kita saat ini memang sedang terganggu oleh atmosfir penegakan hukum, Satu Kasus kongret sebagai contoh, yaitu kasus Gayus Tambunan (Gayus), Sangat. jelas dan terang benderang penegakan hukum tidak dilaksanakan pada orang yang Bersambung ke hal. 11
PANTUN MELAYU
Di tepi kali saya menyinggah Menghilang penat menahan jerat Orang tua jangan disanggah Agar selamat dunia akhirat
Tumbuh merata pohon tebu Pergi ke pasar membeli daging Banyak harta miskin ilmu Bagai rumah tidak berdinding
Hati-hati menyeberang Jangan sampai titian patah Hati-hati di rantau orang Jangan sampai berbuat salah
Hal itu antara lain terjadi di Kec. Sawangan, Kab. Magelang, Jawa Tengah. Akibatnya pertanian hancur, korban letusan Gunung Merapi nonpengungsi terpaksa makan singkong karena persediaan pangan sulit. Selain singkong, mereka juga mengkonsumsi pepaya dan nagka muda. “Sekarang saya berada di posisi yang sangat tidak mengenakkan. Satu sisi harus memenuhi kebutuhan pengungsi, sisi lain warga saya kelaparan,” kata Kepala Desa Gantang Kec. Sawangan, Muhyat.
Warga Gantang, Sawangan yang sebagian besar mengandalkan hidupnya dari pertanian mulai kehabisan cadangan makanan. Padahal stok bantuan di desanya melimpah, namun hanya boleh didistribusikan kepada pengungsi yang menempati desa mereka. Di Desa Gantang terdapat 400 pengungsi yang berasal dari Desa Krinjing, Babadan, Srumbung dan dari Kabupaten Boyolali. Hampir seluruh kebutuhan pengungsi Bersambung ke hal. 11
Foto: Ist
PENDAMPINGAN ANAK PENGUNGSI. Sejumlah anak pengungsi bencana Gunung Merapi bermain bersama sejumlah mahasiswa relawan dari Universitas Gajah Mada Yogyakarta di tempat pengungsian rumah dinas ketua DPRD kabupaten Magelang, di Kota Mungkid, Magelang, Jateng, Jumat (19/11). Pendampingan anak-anak pengungsi sangat dibutuhkan selain sebagai hiburan juga untuk menghilangkan trauma serta memulihkan semangat dan mental mereka.
Kasus Sumiati Cermin Lemahnya Pemerintah Jakarta, Melayu Pos Kasus Sumiati, seorang Tenaga Kerja Indonesia (TKI) yang mengalami penyaniayaan di Arab Saudi dinilai sebagai cerminan lemahnya Pemerintah. “Saya melihat pemerintah amat sangat lemah kepada Arab Saudi baik itu dalam hubungan bilateral maupun dalam bisnis ke bisnis. Karena itulah pemerintah Arab Saudi bisa sesuka hatinya,” kata Anggota Komisi IX dari Fraksi PPP Okky Asokawati. Ketua Komisi IX DPR Ribca Tjiptaning menyatakan DPR akan rapat mengenai masalah Tenaga Kerja Indonesia (TKI). Namun untuk datang ke Arab Saudi men-
Okky Asokawati dampingi Sumiati, ia menilai, tidak banyak manfaat. “Kalau pun Komisi IX (yang membidangi tenaga kerja) ke sana tidak banyak manfaatnya. Salah-salah dianggap jalanjalan,” katanya. Politisi PDI Perjuangan ini
menyatakan, sejak terkuaknya penganiayaan terhadap Sumiatim perempuan TKI asal Dompu, Nusa Tenggara Barat di Arab Saudi, DPR sudah melakukan koordinasi dengan orang-orang yang Bersambung ke hal. 11
PDAM Tirtanadi Milik Rakyat, Bukan Milik Direksi Medan, Melayu Pos Manajemen PDAM Tirtanadi kebobolan terjadi di cabang Padang Bulan tepatnya di komplek perumahan Citra Garden terdapat sambungan liar yang tidak melalui prosedur resmi PDAM Tirtanadi. “Ada 50 SR (sambungan rumah) yang memiliki sambungan air dari pipa milik Tirtanadi tapi tidak memiliki meteran dan tidak terdaftar di Manejemen Tirtanadi dan itu sudah berlangsung kurang lebih tiga bulan dan sekitar 500 SR (sambungan rumah)
yang katanya sudah membayar namun rekeningnya belum terbit dan juga sudah tiga bulan mereka memakai air namun tidak membayar air sesuai meteran karena rekeningnya belum juga terbit dalam hal ini perusahaan milik daerah tersebut dirugikan mencapai ratusan juta rupiah,” ungkap seorang karyawan PDAM Tirtanadi yang tak ingin namanya ditulis, Senin (8/11). Berdasarkan informasi yang didapat, wartawan koran ini mencoba mengecek kebe-
naran informasi tersebut kelokasi yang dimaksud, salah seoarang Satpam yang tak bersedia namanya dikorankan membenarkan informasi tersebut. “Memang ada beberapa rumah di komplek ini yang bermasalah airnya, bang, tepatnya di blok D Rich Mansion, airnya sudah masuk tapi meterannya belum ada,” ujarnya. Mendapat informasi dari dua orang narasumber, Selasa (9/11) wartawan mencoba mengkonfirmasi kepada Bersambung ke hal. 11
Kekerasan PT MUP Terhadap Anak-Anak Pelalawan, Melayu Pos Untuk kesekian kalinya kekerasan terus dilakukan managemen PT Mitra Unggul Pusaka (MUP) Kebun Penarikan, Kecamatan Langgam, Kabupaten Pelalawan kepada anak-anak di bawah umur yang tidak lain adalah anakanak karyawan di PT MUP itu sendiri. Ratusan anak-anak di bawah umur ini ketakutan dan trauma atas tindakan dan ancaman yang dilontarkan manageman PT MUP yaitu Ir A S Tarigan (Askep) dan H Hutagaul (mandor I) sehingga mereka terlantar tidak sekolah beberapa hari. Kejadian ini berawal ketika orang tua anak-anak ini melakukan mogok kerja pada
hari Senin (15/11). Aksi mogok ratusan karyawan ini atas keprihatinan mereka atas tindakan penganiayaan dan perampasan sepeda motor milik Agus yang dilakukan RN mandur PT MUP. “Karena kami merasa tidak senang atas tindakan main hakim sendiri tersebut, justru itu pekerja mogok,” kata Aris salah seorang pekerja. Tindakan mogok yang dilakukan pekerja tidak diterima oleh Managemen PT MUP Askep dan mandor I. Mereka menyuruh anak sekolah turun dari bus bagi orang tuanya yang ikut mogok kerja. “Semua anakanak yang naik bus sekolah yang orang tuanya mogok Bersambung ke hal. 11
Telat Setor Kredit Mobil di ACC Finance
Mobil Dirampas Konsumen Diperas
Kantor ACC Finance cabang Pontianak di Jl A Yani Ruko Mega Mall.
Pontianak, Melayu Post, Wah..wah..wah pantas saja kalau banyak perusahaan finance (pembiayaan kredit) di negeri ini cepat berkembang dan maju pesat. Bagaimana tidak lha wong baru berapa bulan telat setor angsuran kredit mobil sudah dirampas dan melibatkan pihak ke tiga (preman-red) dan kronikroninya untuk menekan konsumen. Katanya premanisme di negeri sudah Bersambung ke hal. 11 Bagian: Kedua (habis)
Bukit Batu “Jejak Sejarah” terbentuknya Kalimantan Tengah
“SUATU HARI di Teluk Derep, Tumbang Kasongan, terdengar suara gemuruh halilintar memekakkan telinga. Petir kilat sambar me-
nyambar. Saat itu sebuah batu besar diturnkan dari langit. Diyakini bahwa anak Burut Ules yang telah gaib bersama istri pertamanya, saat itu telah dewasa. Sesuai janji, apabila telah dewasa ia akan kembali ke alam bapaknya bertempat tinggal, maka janji itu telah ditepati. Batu yang diturunkan dari langit kemudian terkenal dengan nama Bukit Batu dan diyakini sebagai tempat kediamannya, walau tak terlihat dengan mata jasmani, namun ia ada
di sana sebagai Raja dan penguasa daerah tersebut…” Sebagaimana legenda yang tidak menunjuk waktu peristiwa. Legenda Burut Ules dan Bukit Batu juga tidak bisa dilacak waktu kejadiannya, tetapi diyakini sebagai sungguh terjadi. Kisah cerita itu mengidentifikasi “Bukit Batu” sebagai makhluk yang mempunyai jenis kelamin laki-laki. Dari Bukit Batu inilah kisah Tjilik Riwut mengawali jejak. Riwut Dahiang, ayah
Tjilik Riwut, menginginkan mempunyai seorang anak laki-laki sebab setiap anaknya lahir laki-laki selalu meninggal. Di Bukit Batu Riwut Dahiang bertapa, dalam bahasa setempat disebut sebagai balampah untuk memohon kepada Hatalla (Tuhan) supaya mendapatkan anak laki-laki. Wangsit yang diperoleh dalam pertapaan itu ialah, bahwa anak laki-laki Riwut Dahiang yang akan dilahirkan kelak akan mengemban tugas khusus untuk
masyarakat sukunya. Tjilik Riwut dalam masa pertumbuhannya hampir tidak pernah melupakan Bukit Batu. Dalam usia yang masih belia, Tjilik Riwut biasa pergi meninggalkan teman bermainnya untuk menuju Bukit Batu, yang jaraknya dari tempat tinggalnya sekitar 15 Km. Tjilik Riwut berjalan menuju Bukit Batu untuk melakukan apa yang dulu pernah dilakukan oleh ayahnya, Riwut Dahiang. Bersambung ke hal. 11