Melayu Pos

Page 1

Edisi: 112/Thn IV / 19 Januari - 1 Febaruari 2011

DWI MINGGUAN TERBIT 12 HALAMAN

Harga Eceran :

Buruh Dengan PT Nusantara Abadi Manajemen PT BUCP Garap Lahan Ilegal akan Dipertemukan Hal. 3 Hal. 6

Rp. 3.000,-

(Jabodetabek)

Janji Kucuran Dana Jamsostek Pake Syarat?

Hal.

10

Protes Tokoh Agama Bisa Picu Revolusi Sosial Jakarta, Melayu Pos Kritikan sejumlah tokoh agama beberapa waktu lalu bahwa pemerintah membohongi publik dinilai pengakuan tulus. Apalagi, pernyataan ini dilakukan setelah mereka melihat kondisi masyarakat dan sudah dibahas secara matang. Pakar pskologi politik UI Hamdi Muluk mengingatkan bahaya revolusi jika pemerintah terus mengelak dituduh berbohong oleh para pemuka agama.

Peran Baru Membuat Carissa Putri Merasa Tertantang

Baca di hal. 11

TITIAN MUHIBAH Akhlak Mulia

Oleh: Mas‘ud HMN Ketua Pusat Kajian Peradaban Melayu Jakarta SULIT dipungkiri bahwa akhlak bangsa termasuk pemimpin bangsa sudah merosot. Padahal pemimpin berakhlak mulia diperlukan untuk memastikan bangsa ini berjalan pada jalan yang benar, jujur, adil dan arif dalam mencapai kesejahteraan. Lantas bagaimana seharusnya? Ungkapan Akhlak Mulia selalu terdengar sebagai kriteria untuk para pemimpin. Ini dilawankan dengan kata akhlak buruk, yaitu bermakna perilaku yang tidak sesuai dengan moral, atau hukum. Oleh karena itu seyogyanya menjadi penting untuk dilaksanakan. Akhlak mulia yang dalam kata lain dinyatakan sebagai Akhlakul karimah menjelaskan seseorang menjalankan menjunjung tinggi kejujuran, keadilan, kebenaran kearipan dalam perilakunya. Singkatnya, orang berakhlak mulia harus jujur. Orang berahlak mulia haruslah menegakkan kejujuran, keadilan, kebenaran dan orang yang berahklak mulia menegakkan kebenaran. Di samping itu orang yang berakhlak muia mempunyai kearipan dalam bertingkah laku. Dalam hubungan itu, mungkin disini pesan Agama Islam mampu menjelaskan bagaimana akhlak dalam perilaku orang. Seperti dijelaskan oleh hadist nabi Muhammad SAW dalam doanya yang berbunyi: Allahumma a uuzubika makaratul akhlak Ya Allah aku berlndung dengan Engkau dari Budi pekerti yang buruk (Hadist Rawi Tarmizi) Nabi Muhammad SAW saja yang dengan predikat seorang utusan Allah masih memohon agar bisa berlaku dalam perilaku akhlak mulia. Tentu ini sesuatu yang penting dan tidak mudah dilaksanakan. Dalam keadilan misalnya ada hadist Rasulluh yang menyatakan: Lau anna Fatimataa binti Muhammadin saraqat laqatak’tu yudahaa Andai kata Fatimah anak perempuan Muhammad mencuri niscaya akan aku potong tangannya (HR Muslim). Begitulah keadilan untuk semua ditegakkan dengan tidak pandang bulu. Artinya tidak mebedakan orang yang berpangkat tinggi dengan rakyat biasa. Nabi Muhammad menyatakan anaknya sendiri akan dihukum adil sebagaimana pihak lain bersalah kalau mencuri. Sesungguhnya kita merindukan akhlak mulia bagi bangsa kita. Karena di sana lah akan kita temukan suasana yang aman, sentosa penuh kedamaian. Kita tidak bisa Bersambung ke hal. 11

PANTUN MELAYU Bunga mawar bunga melati Kala dicium harum baunya Banyak cara sembuhkan hati Baca Quran paham maknanya Anak ayam turun sembilan Mati satu tinggal delapan Ilmu boleh sedikit ketinggalan Tapi jangan sampai putus harapan Buah berangan dari Jawa Kain terjemur disampaian Jangan diri dapat kecewa Lihat contoh kiri dan kanan

“Mekanisme seperti itu (defensif) tidak akan mempan. Sejarah sudah membuktikan, ada limitasi waktu. Bisa berbohong kepada semua orang sepanjang zaman. Tapi membohongi semua orang sepanjang zaman, no way. Ini yang dikuatirkan,” tegas Hamdi. Protes publik yang merasa dibohongi, akan mengancam stabilitas negara. Pada gilirannya bisa melahirkan revolusi sosial yang ditandai dengan penjatuhan terhadap penguasa. “Lalu rakyat me-

ngambil kesimpulan sendiri kalau pemerintah bohong terus. Memang kesimpulan itu tidak selalu eksplisit, tapi dirasakan. Kalau sampai bentuknya eksplisit dan ada yang men-chanelling itu bisa melahirkan revolusi. Mereka turunin pemerintah yang sudah tidak dipercaya. Apa mau seperti itu. Kan tidak. Kita tetap cinta bangsa ini. Pergolakan-pergolakan yang keras itu dalam sejarah kadang-kadang perlu, tapi lebih banyak Bersambung ke hal. 11

Foto: Ist

PENGUNGSI LAHAR DINGIN. Pengungsi menempati barak pengungsian, di Ledok Tukangan, Yogyakarta, belum lama ini. Puluhan pengungsi korban banjir lahar dingin di kawasan sungai code masih menempati barak pengungsian karena rumahnya sudah tidak layak huni akibat terjangan lahar dingin.

Hariman Siregar:

Kecelakan Kerja di KKPA PT IIS Asian Agri

Dengan Sistem Libralisasi Korban Tewas Ekonomi, Kita Jadi Penonton Tanpa Santunan

Hariman Siregar Jakarta, Melayu Pos Kendati era reformasi sudah menginjak usia 13 tahun, namun dampak perbaikan yang dilakukan belum nyata

dirasakan masyarakat. Bahkan, jika diambil perbandingan, apa yang terjadi saat ini jauh lebih menyeramkan ketimbang tahun 1974, saat

dibukakan pemerintah orde baru kesempatan masuknya pemodal asing ke Indonesia. “Lebih serem lagi sekarang,” ujar pelaku sejarah dalam peristiwa 15 Januari (Malari) 1974, Hariman Siregar, di Taman Ismail Marzuki Cikini Jakarta Pusat, baru-baru ini. Hariman, yang dijuluki rajawali politik Indonesia, menceritakan, ketika awal era Soeharto pada 1970-an alias Orba (Orde Baru), Soeharto membuka diri masuknya modal asing. Namun dilawan oleh mahasiswa termasuk Hariman dkk hingga Bersambung ke hal. 11

Pelalawan, Melayu Pos Pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM) yang dilakukan oleh sejumlah perusahaan nakal di Kabupaten Pelalawan kepada pekerjanya kembali terjadi dan sungguh menyedihkan. Perusahaan ini bisa dikatakan tidak berperikemanusiaan lagi, karena nyawa seekor ayam yang mati akibat flu burung lebih berharga bila dibandingkan dengan seorang manusia yang meninggal karena kecelakaan kerja. Walaupun Pemerintah telah mengatur UndangUndang RI No 3 Tahun 1992

dan Undang-Undang RI No 40 Tahun 2004 Tentang Jamsostek dan Sistem Jaminan Sosial Nasional, Undang-Undang RI No.1 Tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja, namun peraturan perundang-undangan tersebut selalu diabaikan karena kurangnya ketegasan dari pejabat yang berwewenang. Seperti yang terjadi pada (24/12) di KKPA PT Inti Indosawit Subur (PT IIS) salah satu cabang Asian Agri di Desa Lalang Kabung Kecamatan Pelalawan. Seorang pekerja yang bernama Yerni Waruwu Bersambung ke hal. 11

Kinerja DPRD Bengkalis Dinilai Buruk Rehabilitasi Lapangan Sukra Asal Rampung Bengkalis, Melayu Pos Tampaknya masyarakat dari pengamat Dinamika Institusi Penyelenggara Negara di Kabupaten Bengkalis mulai menyorot akan buruknya kinerja dari DPRD Kabupaten Bengkalis. Hal itu terbukti dan terlihat jelas, minggu pertama Januari 2011 dilewati begitu saja oleh dewan tanpa adanya kegiatan. Kredibilitas dan akuntabilitas dewan kian dipertanyakan. Demikian yang ditegaskan Ketua Umum Gerakan Muda Penyalur Aspirasi Rakyat (GEMPAR) Kabupaten Bengkalis, M Fakhrurrozi

yang juga pengamat pemerintahan kepada wartawan, Minggu (9/1) kemarin. Menurut pria yang akrab disapa Agam ini, begitu banyak kerja DPRD yang hingga saat ini masih tertunda, namun, agaknya tidak ada inisiatif dari pengemban amanat suara rakyat Bengkalis tersebut untuk berbuat banyak mengawali tahun 2011. “Dewan idealnya bisa memilah-milah antara kepentingan masyarakat dengan kepentingan politiknya. Padahal, seharusnya Badan Musyawarah (Banmus) DPRD Bengkalis harus segera

bersidang menetapkan jadwual kegiatan dan agenda. Dan prioritas yang harus dilaksanakan adalah pembahasan Kebijakan Umum Anggaran dan Plapon Perencanaan Anggaran Sementara (KUA-PPAS) yang sudah diserahkan Bupati Bengkalis pada Desember 2010 lalu ke DPRD Bengkalis,” tegas Agam dengan nada kecewa. Sangat disayangkan lanjut Agam, KUA-PPAS yang telah diserahkan Bupati Bengkalis tersebut belum mendapat tanggapan yang seharusnya dari DPRD Bengkalis. Dan itu Bersambung ke hal. 11

Indramayu, Melayu Pos Pelaksanaan rehabilitasi lapangan di Desa Sukra, Kecamatan Sukra, Kabupaten Indramayu terkesan asal rampung. Pasalnya selain pekerjaannya asal-asalan material yang digunakan jauh menyimpang dari standar. Pekerjaan yang dilakukan CV Surya Gemilang Jatibarang tersebut menggunakan tanah urug berupa tanah lumpur dari kurasan sungai yang bercampur sampah plastik dan tidak jarang didapati pecahan be-

Lapangan Sukra pasca rehab

ling (kaca) sehingga usai pengerjaan masyarakat enggan menggunakan karena khawatir terkena pecahan beling. Bersambung ke hal. 11

HISTLEGEND

Bagian: Kedua (habis)

Sejarah Penciptaan Lambang “Garuda Pancasila”

Sultan Hamid II, Perancang Lambang Negara TANGGAL 10 Januari 1950 dibentuk Panitia Teknis dengan nama Panitia Lencana Negara di bawah koordinator Menteri Negara Zonder Porto Folio Sultan Hamid II dengan susunan panitia teknis M Yamin sebagai ketua, Ki Hajar Dewantoro, M A Pellaupessy, Moh Natsir, dan RM Ng Purbatjaraka sebagai anggota. Panitia ini bertugas menyeleksi usulan rancangan lambang negara untuk dipilih dan diajukan

kepada pemerintah. Merujuk keterangan Bung Hatta dalam buku “Bung Hatta Menjawab” untuk melaksanakan Keputusan Sidang Kabinet tersebut Men-

teri Priyono melaksanakan sayembara. Terpilih dua rancangan lambang negara terbaik, yaitu karya Sultan Hamid II dan karya M Yamin. Pada proses selanjutnya yang

diterima pemerintah dan DPR adalah rancangan Sultan Hamid II. Karya M Yamin ditolak karena menyertakan sinar-sinar matahari dan menampakkan pengaruh Jepang. Setelah rancangan terpilih, dialog intensif antara perancang (Sultan Hamid II), Presiden RIS Soekarno dan Perdana Menteri Mohammad Hatta, terus dilakukan untuk keperluan penyempurnaan rancangan itu. Terjadi kese-

pakatan mereka bertiga, mengganti pita yang dicengkeram Garuda, yang semula adalah pita merah putih menjadi pita putih dengan menambahkan semboyan “Bhineka Tunggal Ika”. Tanggal 8 Februari 1950, rancangan final lambang negara yang dibuat Menteri Negara RIS, Sultan Hamid II diajukan kepada Presiden Soekarno. Rancangan final lambang negara tersebut Bersambung ke hal. 11


Turn static files into dynamic content formats.

Create a flipbook
Issuu converts static files into: digital portfolios, online yearbooks, online catalogs, digital photo albums and more. Sign up and create your flipbook.