DWI MINGGUAN TERBIT 12 HALAMAN
Edisi: 120/Thn IV / 11 - 24 Mei 2011
Kesemrawutan Transportasi Jakarta Rusak Citra RI Hal. 4
Harga Eceran :
Usut Dugaan Mark Up Kapal Latih Hal. 6
Rp. 3.000,-
(Jabodetabek)
Kades Sukodono Palsukan Tanda Tangan Hal. 10
Taufik Kiemas:
Ideologi Pancasila Kesepakatan Pendiri Bangsa Serang, Melayu Pos Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) Taufik Kiemas mengajak seluruh komponen bangsa melawan semua ideologi yang menyimpang dari Pancasila termasuk gerakan NII, dan radikalisme.
Ardina Rasti
Bangga Mendapat Peran Yang Idealis
Baca di hal. 11
TITIAN MUHIBAH Ketakutan dan Intoleransi
Oleh: Mas‘ud HMN Ketua Pusat Kajian Peradaban Melayu Jakarta BENARKAH UNGKAPAN rasa ketakutan, dan intoleransi sebagai masalah dalam kebangsaan Indonesia kini? Ataukah ini hanya ungkapan palsu belaka mengingat dalam beberapa kasus sejarah mengindikasikan demikian. Kalau benar, siapa sumber masaalah dan bagaimana menjelaskannya? Tidak jarang, ungkapan ketakutan dan intoleransi dimunculkan mengarah pada umat Islam.Yaitu Islam yang radikal, tidak toleransi dan bertentangan dengan kemanusiaan. Padahal, sejatinya Islam itu sebagai Agama yang paripurna, yang rahmatan lil alamiin. Sebenarnya Toleransi sebagai sebuah faham, bukanlah sesuatu yang asing dalam pandangan Islam. Lihatlah sejarah Islam, masa Rasulullah menjalankan kekuasaanya terhadap semua golongan, diperlakukan secara baik, dilindungi dan diberi tempat yang aman buat mereka. Inilah sejatinya takrif toleransi dalam Islam. Hal yang sama dalam perjalanan sejarah bangsa Indonesia ada fakta yang jelas. Jika saja umat Islam tidak toleransi, tidak melindungi golongan beragama lain. Indonesia sudah lama menjadi negara berdasarkan Islam. Bukankah ketika kemerdekaan diperoleh, pemimpin waktu itu mayoritas beragama Islam. Andaikan mereka mau, bisa dipaksakan. Namun ini tidak dilakukan, pemimpin Islam memilih kompromi dengan kepentingan golongan lain. Jelas itu kompromi strategis, karena kompromi itu diperlukan untuk menghadapi musuh musuh negara, dan demi kebangsaan Indonesia. Hidup dalam keragaman. Menarik apa yang dinyatakan Amine Rais, agar umat Islam tidak terkecoh oleh pernyataan yang menyesatkan. Mantan Ketua MPR RI secara blak-blakan menolak bahwa umat Islam menyebarkan ketakutan, radikal dan Islam sebagai teroris. Amin Rais menolak tindak kekerasan dalam Islam. Mengutip hadis menyatakan bahwa jika seorang membunuh orang yang tidak bersalah, kesalahannya sama dengan membunuh semua manusia dimuka bumi. Kata dia, Islam menentukan cara untuk menghadapi musuh-musuhnya dengan melarang membunuh yang tidak bersalah. Jika sekarang menghadapi tindakan kekerasan seperti dilakukan Osama bin Ladin itu satu kesalahan. Tetapi cara menghadapi seperti yang dilakukan Presiden Amerika Obama juga satu kesalahan. Dalam pandangan Amin Rais, Osama bin Ladin melakukan perlawanan tindak kekerasan dari posis tertindas, sementara Presiden Amerika Obama melakukan Bersambung ke hal. 11
PANTUN MELAYU Elok kain benangnya rapat Kainnya rapat tak tembus pandang Elok pemimpin memegang adat Bila bertindak tidaklah garang Pucuk kemiri dimakan ulat Kayu yang kuat menjadi runtuh Buruk negeri lupakan adat Musuh mendekat negeripun runtuh Kayu ara dimakan ulat Bila ditebang pohonnya mati Anak negeri ridak beradat Gila bertengkar petang dan pagi
“Ideologi Pancasila sudah final dan menjadi kesepakatan bersama para pendiri bangsa, semua ideologi yang menyimpang dari Pancasila harus dilawan. Selama ini Pancasila hampir terlupakan karena gaungnya kurang terdengar terutama pada generasi muda,” kata Taufik Kiemas usai membuka sosialisasi empat pilar negara bersama Forum Silaturahim Anak Bangsa (FSAB) di Serang, Banten, Minggu. Ia mengatakan, banyaknya bermunculan ideologi yang menyimpang saat ini karena kurangnya sosialisasi dan pemahaman tentang pentingnya nilai-nilai
Taufik Kiemas Ketua MPR
ideologi Pancasila sebagai ideologi bangsa. Oleh karena itu, pemerintah harus kembali memikirkan bagaimana Bersambung ke hal. 11
Foto: Ist
ANTI NEOLIB. Sejumlah pengunjuk rasa membawa poster bertuliskan “Neolib in ASEAN” ketika menggelar aksi protes di depan Sekretariat ASEAN, Jakarta, Minggu (8/5). Selain menuntut upah buruh yang layak, meerka menolak intervensi imperialisme atas negara-negara ASEAN secara politik, ekonomi, kebudayaan dan militer.
Penangkar Walet Berkedok Rumah Tinggal Kian Marak
Foto: Majid
Penangkaran burung walet yang dilakukan di tengah pemukiman penduduk telah mulai meresahkan warga Tanjungbatu Kundur.
Karimun, Melayu Pos Kepala UPTD Dinas Pendapatan Daerah (Dispenda) Kundur Effendy menegaskan pihaknya berupaya meningkatkan pajak sarang burung walet yang saat ini sudah diatur dalam UURI No 28 tahun 2009 dan peraturan daerah (Perda) No 19 tahun 2010 juga peraturan bupati (Perbup) No 23 tahun 2010. “Pajak, restribusi dari wajib pajak 2010 yang lalu tercapai Rp 504 juta terdiri dari restribusi reklame, pajak tempat hiburan, restoran, hotel dan penakaran sarang burung walet. Meskipun demikian masih ada pengusaha Bersambung ke hal. 11
Abaikan Keluhan Pembeli
Perumahan Azizah Hanya Mencari Keuntungan Semata Kampar, Melayu Pos Perumahan Azizah yang terletak di Desa Tarai Bangun, Kecamatan Tambang, Kabupaten Kampar sebagian sudah dihuni oleh para konsumennya. Namun hingga saat ini belum tersentuh aliran listrik dan jalan menuju perumahan itu sangat tidak layak. Hal ini dapat dilihat dari pembuatan jalan yang amburadul dan terkesan asal jadi. Hal inilah yang membuat resah para penghuni perumahan itu. Afrijal salah satu penghuni perumahan Azizah yang beralamat di Jalan Bupati Desa Tarai Bangun RT 01/01 merasa haknya belum diberikan oleh
pihak developer. Afrijal sudah berulang kali menghadap pihak developer untuk mempertanyakan kapan listrik akan dimasukkan ke rumah mereka, serta kapan jalan untuk masuk ke perumahan itu diperbaiki. Namun tampaknya pihak developer tidak peduli dengan keluhan dari Afrijal. Terbukti hingga hari ini tidak ada pelaksanaan perbaikan jalan, terlebih listrik untuk penerangan. Menurut Afrijal, pihak developer hanya cari keuntungan pribadi tanpa memikirkan hak dari konsumennya. Brosur yang diberikan pihak developer kepada mereka Bersambung ke hal. 11
Kejaksaan Bidik Dinas Pendidikan PT AML Diduga Jarah Lahan Bondowoso, Melayu Pos Terkait proyek 16 paket dana sebesar Rp3,6 miliar fee dinas 12,5% dan 94 paket dijual Rp470 juta kepada rekanan. Terkuakmya kasus tersebut berawal dari bangunan sekolah yang asal–asalan. Kasus tersebut sudah dipulbaket pihak Kejaksaan Nageri Bondowoso dan sudah jadi bidikan Kejaksaan. Pungli sebesar 12,5% dari dana APBNP kepada rekanan ternyata mendapat respon positif dari Kejaksaan Negeri Bondowoso, hal ini disampaikan Kasi Intel, Sarta SH. “Beberapa rekanan yang kami
Dra Hj Endang Hardiyanti Kepala Dispendik
HISTLEGEND
temui memang menyatakan ada pungli 12,5% yang dilakukan Kepala Dispendik Endang Haryanti,” katanya, belum lama ini. Beberapa rekanan saat dikonfimasi Melayu Pos menerangkan kalau ‘fee’ terhadap dinas memang benar adanya. Dan program Dana Alokasi Khusus (DAK) yang belum dilaksanakan sebanyak 94 paket itu bahkan para rekanan juga mengakui kalau mereka telah membeli paket tersebut senilai Rp5.000.000 per paket. Namun setelah di floting ternyata tidak sesuai Bersambung ke hal. 11
Oleh Rida K. Liamsi
Milik Pemda dan Masyarakat Karimun, Melayu Pos PT Argo Mekar Lestari (AML) yang bergerak di bidang perkebunan kelapa sawit di Pulau Kundur, kian berani dan semena-mena untuk menjarah lahan milik masyarakat bahkan milik pemerintah daerah (Pemda). Masyarakat meminta agar tindakan yang dilakukan oleh PT AML segera dihentikan, karena perbuatan yang dilakukan oleh PT AML telah membuat Bersambung ke hal. 11
Bagian: Ketiga (habis)
Kerajaan Melayu Riau Bagian dari Sejarah Indonesia dan Malaysia? NAMUN DEMIKIAN, dalam kaitan yang lebih khusus, apa yang disebut sebagai Kesultanan Riau itu, adalah eks Kesultanan Johor. Kalau sebelum terjadi perebutan kekuasaan antara keturunan Sultan Malaka dan keturunan Bendahara Tun Habib, Kesultanan Johor itu disebut sebagai Johor, Pahang dan Riau, sesudah perbelahan itu sebutannya menjadi Riau, Johor dan Pahang. Itu bermula dari tahun 1722 saat Sultan Sulaiman dilantik dan
menjadikan Riau (dalam hal ini Riau dalam pengertian ibukota dan bukan wilayah) sebagai pusat kekuasaannya. Sementara Johor dan Pahang, keduanya dijadikan daerah pegangan yang masingmasing dikuasai oleh dua Petinggi kerajaan. Johor dibawah seorang Temenggung, dan Pahang dibawah Bendahara. Tahun 1824, wilayah kekuasaan Riau ini tinggal lagi gugusan pulau Bintan, Lingga, Batam, dan Pulau Tujuh (Natuna). Sedangkan
Johor dan Pahang serta Singapura masuk wilayah semenanjung dan berdiri sendiri. Dipandang dari segi kekuasaan dan kedaulatan sebagai sebuah kerajaan yang merdeka dan berdulat, sebenarnya Kesultanan Riau itu hanya berlangsung tak lebih dari 62 tahun (17221784). Sebab, dengan berakhirnya perang Riau (17821784) dimana Riau mengangkat figur Raja Kecik Bersambung ke hal. 11