Melayu Pos

Page 1

DWI MINGGUAN TERBIT 12 HALAMAN

Edisi: 122/Thn IV / 8 - 21 Juni 2011

Dishub DKI Abaikan Tupoksi Parkir Liar dan Angkutan Bermasalah Merajalela Hal. 4

Harga Eceran :

Tambang Ilegal Marak di Delapan Kecamatan Hal. 6

Rp. 3.000,-

(Jabodetabek)

Akademisi: Demoralisasi Penegak Hukum Semakin Parah

Hal.

9

Pengamat:

Tiru Spirit Pembudayaan Pancasila Era Soekarno

Jakarta, Melayu Pos Pembina Institut Studi Nusantara (ISN), Yanto Hartono, mengatakan, upaya untuk mereaktualisasikan Pancasila dapat dilakukan dengan cara meniru spirit yang terjadi pada pola pembudayaan di era Presiden Soekarno.

Astrid Ellena

Target Berikutnya Miss World 2011

Baca di hal. 11

TITIAN MUHIBAH Bagaimana Penegakan Cita-cita Hukum Kita?

Oleh: Mas‘ud HMN Ketua Pusat Kajian Peradaban Melayu Jakarta

“Memang ketika era Bung Karno itu ada istilah `indoktrinasi` yang mungkin alergi kita pakai sekarang. Tetapi yang paling penting, substansi isi nilai-nilai Pancasila dan spiritnya itu, bukan pola indoktrinasinya,” katanya dalam suatu diskusi terbatas oleh Institut Studi Nusantara (ISN) di Jakarta, Sabtu. Diskusi terbatas itu, digelar ISN bekerja sama dengan “Indonesian Press Online Services” (IPOS), masih sehubungan dengan perayaan Hari Lahir Pancasila, 1 Juni 2011, dengan fokus aplikasi amanat konstitusi bagi

PANTUN MELAYU Anak Cina Bertimbang Madat Dari Makasar langsung ke Deli Hidup di Dunia Kita Beradab Budaya Tidak Diperjual Belikan Berguru hadap pada perjuangan Berguru hati pada keikhlasan Berkaca jiwa pada mereka yang Papa Terbarkan sapa dalam bahasa kejujuran Bunga Melati Harum Baunya Sering dipakai Merias Wanita Walau Agama Kita Berbeda Tujuan Kita Tetaplah Sama

Foto: Ist

HARI PANCASILA. Dua ribuan kader Angkatan Muda Partai Golkar (AMPG) mengikuti peringatan Hari Kebangkitan Nasional, Hari Kelahiran Pancasila, dan Hari Lingkungan Hidup di Kawasan Bundaran Hotel Indonesia, Jakarta, Minggu (5/6). Acara dihadiri Ketua Umum Partai Golkar Aburizal Bakrie dan para petinggi Partai Golkar.

Politik di Indonesia Sudah Berkultur Korupsi

Tidak ada (tembok) yang tidak tembus peluru emas (pepatah Cina) MUNCULNYA FAKTA ditangkapnya Hakim bernama Syarifudin oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) yang menerima uang suap sebesar Rp 250 juta di rumahnya (1/6), dari Piguh Wirawan Kurator atas perannya dalam perkara kepailitan PT Skycamping Indonesia (Republika 5/6) kian membuat kelamnya cita-cita hukum kita. Sementara ungkapan tidak ada tembok yang tidak tembus peluru emas menjadi tantangan lain dari penegakan hukum tsb. Hal ini mengingat hukum hádala keperluan bangsa yang beradab di muka bumi. Jika itu bobol, hukum omburadul, kacau, sama artinya negara gagal menjadi negara beradab. Penegakan hukum memang agaknya bisa dibaratkan dengan tembok yang kuat. Akan tetapi betapapun kuatnya dapat juga ditembus oleh peluru emas alias uang. Ini menarik untuk dikaji benarkah penegak hukum seperti itu? Tidak ada penegak hukum yang lurus dan tahan terhadap peluru emas sekalipun? Menjawab dua soal di atas ini agaknya ada dua pandangan yang bisa kita angkat. Pertama pandangan pesimistis dan pandangan kedua pandangan kaum optimistis. Dari sudut pandang pessimistis menganggap amat sulit penegakan hukum yang adil. Karena penegak hukum sendiri terlibat dalam budaya yang tidak sehat, yaitu korup, budaya suap dsbnya. Unsur penegak hukum kita sangat bermasalah dengan budaya yang tidak sehat itu. Unsur Polisi misalnya. Sebagai penegak hukum memiliki masalah. Seperti ada ungkapan yang mengatakan yang tidak bisa disogok (disuap) hanyalah polisi tidur dan polisi Hugeng ( waktu dulu adalah Kapolri). Ini mengesankan betapa merajalelanya budaya suap dan sogok tersebut yang hampir melanda semuanya, hakim, jaksa serta pengacara. Pandangan optimis, berpandangan masih ada yang bisa diselamatkan dari budaya yang tidak sehat itu asal ada kamauan dan tekad yang bulat dari pimpinan negara. Pandangan ini mengangkat Cina sebagai contoh kasus. Negara tirai bambu itu pernah mengidap budaya korupsi yang gawat. Namun kemudian muncul pimpinan dengan tekad yang kuat dan nekad untuk memberantas korupsi. Bersambung ke hal. 11

pemenuhan kesejahteraan serta keadilan sosial. “Kebetulan, saya termasuk salah satu yang ikut kursus kader revolusi pada tahun 1963 hingga 1965. Lulus dari itu, saya menjadi anggota tim `indoktrinator` Tupabin atau `tujuh bahan pokok indoktrinasi`,” kata Yanto Hartono yang di usianya sekitar 70 tahun, masih aktif menelusuri sejarah kebangsaan nasional. Berbicara pada pembukaan forum terbatas ISN dan IPOSnews itu, ia menambahkan, tidak perlu pembudayaan Pancasila itu dilakukan Bersambung ke hal. 11

Ikrar Nusa Bhakti Jakarta, Melayu Pos Pengamat politik dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Ikrar Nusa Bhakti menilai kultur politik

di Indonesia sudah tercemar korupsi, dengan ditandai banyaknya praktik korupsi baik di tingkat pusat maupun daerah. “Pelaku korupsi di Indonesia sudah tidak malu dan tidak takut melakukan korupsi. Pejabat dan politisi yang sudah ketahuan melakukan korupsi tidak ada yang mudur dari jabatannya,” kata Ikrar Nusa Bhakti dalam diskusi “Indonesiaku Dibelenggu Koruptor”, di Jakarta, Sabtu. Pembicara lainnya pada diskusi tersebut adalah pengamat ekonomi Hendri Saparini dari Econit Advisory Group dan aktivis lembaga swadaya masyarakat (LSM) In-

donesia Corruption Watch Ade Irawan. Menurut Ikrar, kalau di Jepang pejabat dan politisi yang ketahuan korupsi langsung mundur dari jabatannya.Bahkan, masih kata Ikrar, ada pejabat di Jepang yang hanya menerima 50.000 yen atau sekitar Rp5 juta saat kampanye, kemudian dituduh korupsi, ia pun langsung mundur dari jabatannya. “Di Indonesia untuk menjadi pejabat dan politisi biayanya sudah sangat mahal, sehingga mendorong pejabat dan politisi berperilaku korup,” katanya. Ikrar mensitir, pernyataan Bersambung ke hal. 11

Ratusan Sopir Truk Demo BBM di Depan Kantor DPRD Kotim Sampit, Melayu Pos Ratusan sopir truk berunjuk rasa di depan kantor DPRD Kotim Kalimantan Tengah, Senin (30/5) berlangsung damai. Para demonstran membawa spanduk, poster, serta keranda mayat bertuliskan kritikan terhadap DPRD, Pemkab, dan aparat keamanan yang dianggap tidak bisa mengatasi krisis BBM solar yang sudah berlangsung selama empat tahun. Orasi di depan ratusan Bersambung ke hal. 11

Para pendemo yang berunjuk rasa di depan kantor DPRD agar permasalahan BBM di Kotim dapat teratasi.

HBA Raih Penghargaan Anugerah Gemilang Presiden

Jambi, Melayu Pos Karena dinilai berjasa serta memiliki komitmen dan kepedulian dalam menumbuhkembangkan aktivitas kepramukaan khususnya di Provinsi Jambi, Gubernur Jambi, Bersambung ke hal. 11

Pasokan Gula Malaysia Rugikan Negara & Masyarakat Pontianak, Melayu Pos Gula pasir asal Malaysia yang masuk melalui Borderborder PPLB yang ada Kalimantan Barat sangat merugikan negara dan masyarakat. Pasalnya, aturan Sosek Malindo yang memperbolehkan masyarakat di sekitar perbatasan untuk berbelanja sekitar RM 600 ke negeri Jiran cenderung dijadikan ajang main mata oleh para oknum penegak hukum dan cukong yang kerap mengatas namakan masyarakat untuk mencari keuntungan. Ironisnya, ketentuan Sosek Malindo tersebut tidak serta merta didukung oleh para pe-

HISTLEGEND

negak hukum, pasalnya gula pasir asal Malaysia yang dibeli oleh masyarakat dan cukong di sekitar perbatasan hanya di perbolehkan untuk dikonsumsi dan diperjual belikan di beberapa kecamatan yang ada di sekitar perbatasan. Celakanya apabila gula pasir asal Malaysia yang dibeli oleh masyarakat di sekitar perbatasan tersebut akan dibawa/diperjual belikan ke daerah lain yang ada di Kalimantan Barat selalu dipermasalahkan hingga hal tersebut menjadi proyek ajang main mata penegak hukum dan para cukong untuk mencari ke untungan. Agus Bagian: Kedua

Putri Hijau Ratu Kerajaan Aru Deli Tua

D

iyakini bahwa kerajaan ARU adalah kerajaan yang besar dan kuat sehingga dianggap musuh oleh kerajaan Majapahit. Hal ini dapat dibuktikan dari sumpah Amukti Palapa sebagaimana yang ditulis dalam kisah Pararaton (1966), yaitu: Sira Gajah Madapatih amangkubhumi tan ayun amuktia palapa, sira Gajah mada: “Lamun awus kalah nusantara isun amuktia palapa, amun kalah ring Guran, ring Seran,

Tanjung Pura, ring HARU, ring Pahang, Dompo, ring Bali, Sunda, Palembang, Tumasik, samana isun amukti Palapa”. Hal senada juga dikemukakan oleh Muh. Yamin dalam bukunya dengan judul “Gajah Mada: Pahlawan Persatuan Nusantara “(2005). Dari penjelasan diatas diketahui bahwa berdasarkan periodeisasinya maka kerajaan ARU berdiri pada awal abad ke-13 yakni pasca runtuhnya kerajaan NAGUR Batak Timur pada tahun 1285.

Pusat kerajaan ARU yang pertama ini adalah Kota Rentang dan telah terpengaruh Islam yang sesuai dengan bukti-bukti arkeologis yakni temuan nisan dengan ornamentasi Jawi yang percis sama dengan temuan di Aceh. Demikian pula temuan berupa stonewares dan earthenwares ataupun mata uang yang berasal dari abad 13-14 yang banyak ditemukan dari Kota Rentang. Bukti-bukti ini telah menguatkan dugaan bahwa

lokasi ARU berada di Kota Rentang sebelum jatuh ketangan Aceh. Sebagai dampak serbuan yang terus menerus maka centrum ARU pindah ke Deli Tua yakni pada akhir abad ke-14, dan pada permulaan abad ke-15 Sultan Alauddin Riayat Syah Al Kahar (1537-1568) mulai berkuasa di Aceh. Benteng Putri Hijau Deli Tua Edmund Edwards McKinnon (2008) menulis “Aru was attacked by Aceh and the

ruler killed by subterfuge and treachery. His wife fled into the surrounding forest on the back of an elephant and eventually made her way to Johor, where she married the ruling Sultan who helped her oust the Acehnese and regain her kingdom”. Selanjutnya, “a sixteenth century account by the Portuguese writer Pinto states that Aru was conquered by the Acehnese in 1539 and recounts how the Queen of Aru made her way to Johor Bersambung ke hal. 11


Turn static files into dynamic content formats.

Create a flipbook
Issuu converts static files into: digital portfolios, online yearbooks, online catalogs, digital photo albums and more. Sign up and create your flipbook.