DWI MINGGUAN TERBIT 12 HALAMAN
Edisi: 123/Thn IV / 9 Juni - 5 Juli 2011
Sekdes Tajur Halang Diduga Korupsi Dana RTLH
Hal.
4
Harga Eceran :
Masyarakat Kundur Diajari Bermain Judi Aparat Penegak Hukum Diminta Tanggap Hal. 6
Rp. 3.000,-
(Jabodetabek)
Program Pendidikan Gratis Dipertanyakan Hal.
8
Hukum Pancung Ruyanti
Kemnaker dan BNP2TKI Harus Bertanggungjawab Jakarta, Melayu Pos Buntut dihukum pancungnya tenaga kerja wanita asal Indonesia Ruyati binti Satubi oleh pemerintah Arab Saudi, Sabtu (18/6) lalu, pihak yang dinilai paling bertanggungjawab adalah Kementrian Tenaga Kerja dan Transmigrasi, BNP2TKI dan Perwakilan Indonesia di Arab Saudi.
Sherina Munaf
Senang Perempuan Mulai Peduli Anak Jalanan
Baca di hal. 11
TITIAN MUHIBAH Tanpa Ada Yang Hakiki Tidak Ada Keberhasilan
“Mereka yang paling bertanggungjawab. Bila perlu bubarkan saja BNP2TKI, karena BNP2TKI banyak overlaping dengan Kemnaker, akhirnya banyak kasus yang tidak ditangani Kemnaker dan tidak ditangani BNP2TKI,” cetus Fayakhun Andriadi, Anggota Komisi I DPR RI Fraksi Partai Golkar, Dapil Luar Negeri. Menurut dia, seharusnya pemerintah, dalam hal ini adalah tiga instansi diatas yang paling berwenang, bisa mengupayakan dengan maksimal pembelaan terhadap
pekerja informal dari Bekasi, Jawa Barat itu. “Target minimal menghindari hukuman pancung,” ujarnya. Apalagi , kasus itu sejak Mei 2010 sudah dilaporkan ke pemerintah bahwa Ruyati dihukum mati. Dia juga menyayangkan PJTKI yang mempunyai dana asuransi puluhan milyar namun tidak bisa digunakan untuk membantu membayar denda yang bisa mengganti hukuman para tenanga kerja yang terkena masalah di sana. “Karena yang bersangkutan dituduh memBersambung ke hal. 11
BERANGKAT KE JAKARTA. Ratusan relawan referendum yang tergabung dalam Gerakan Rakyat Pendukung Keistimewaan bersiap berangkat ke Jakarta saat berkumpul di Ngabean, Yogyakarta, Minggu (19/6). Setibanya di Jakarta mereka akan melakukan aksi di DPR, Kemendagri, dan kawasan Monas untuk mendesak pemerintah dan DPR agar segera mengesahkan RUU DIY yang menetapkan Sri Sultan Hamengku Buwono IX dan Sri Paku Alam sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur.
Diduga Ada Permainan Beberapa Oknum Pejabat Oleh: Mas‘ud HMN Ketua Pusat Kajian Peradaban Melayu Jakarta MUNGKIN tidak semua kita ingat bahwa ada ucapan orang nomor satu negeri Cina yang monumental. Ucapan Mao Tse Tung (Mao Ze Dong) itu adalah “Tidak peduli kucing hitam atau kucing putih, yang penting mau menangkap tikus”. Masa itu 31 tahun lalu, ketika melakukan pembaharuan ekonomi,antara kapitalis dan sosialis. Moa Ze Dong menghendaki sistem yang pragmatis, dapat berfungsi, dapat menyelesaikan masalah perekonomian Cina. Ucapan monumental penting dari pemimpin besar rakyat Cina seperti dilekatkan kepada Mao Ze Dong agaknya paralel dengan apa yang kita angkat pada awal Titian Muhibbah kali ini, yaitu no essence no sucses (tanpa ada yang hakiki tidak ada keberhasilan). Artinya ada indikasi satu pencapaian perjuangan. Katakanlah dalam memaknai dari tujuan konsep nasionalisme kita. Ini menyiratkan pertanyaan, adakah keadilan telah terwujud, dan apakah kemakmuran sudah tercapai dan apakah bangsa yang bermartabat telah terwujud. Jawaban pertanyaan tentang keadilan di negeri ini, penerapannya masih jauh panggang dari api. Pencuri ayam dihukum berat, pencoleng klas kakap masih bisa bebas untuk kabur keluar negeri. Ahli hukum yang ada di negeri ini amat sibuk membela koruptor negara kelas kakap. Mencarikannya peluang untuk mendapatkan hukuman ringan. Apa perlunya kita membela orang yang dengan sengaja merusak negeri kita ini. Rasanya sangat menyakitkan perasaan kalau yang jelas-jelas adalah koruptor, dibela mati-matian oleh tokoh ahli hukum kita. Masalah kemakmuran untuk rakyat masih jauh dari harapan. Ini bisa dilihat dari kemiskinan yang masih belum teratasi, meskipun pendapat negara dalam angka sudah cukup besar yaitu seribu triliun. Tapi apa artinya angka tersebut kalau kemikisnan masih bertengger pada angka 70 juta (angka Raskin) atau 16 persen (data BPS), diiringi pengangguran yang tinggi pula. Bagaimana tentang martabat bangsa. Sudah menjadi rahasia umum martabat bangsa ini bermasalah dengan warga negara kita yang menjadi buruh di luar negeri. Dilecehkan, disepelekan bahkan dihina. Kita tidak bisa melindungi mereka, bangsa yang tidak bisa melindungi warga negaranya merupakan negara yang gagal. Ketiga indikator di atas, yakni keadilan, kemakmuran dan martabat bangsa belum seperti yang diharapkan. Padahal, inilah esensi atau hakikat perjuangan bangsa. Bersambung ke hal. 11
PANTUN MELAYU Elok kain benangnya rapat Kainnya rapat tak tembus pandang Elok pemimpin memegang adat Bila bertindak tidaklah garang Pucuk kemiri dimakan ulat Kayu yang kuat menjadi runtuh Buruk negeri lupakan adat Musuh mendekat negeripun runtuh Kayu ara dimakan ulat Bila ditebang pohonnya mati Anak negeri tidak beradat Gila bertengkar petang dan pagi
Pembangunan di Atas Lahan Kelompok Tani Dipertanyakan
Lahan Kelompok Tani diduga dimonopoli oknum Pejabat Karimun.
Karimun, Melayu Pos Dugaan masyarakat terhadap penjualan lahan kelompok tani Desa Gemuruh oleh oknum pejabat Kabupaten Karimun kian hangat
dibicarakan di setiap sudut kedai kopi di Pulau Kundur. Lahan yang telah dihibahkan oleh PT Timah untuk dijadikan lahan persawahan dan diperuntukan kepada kelom-
pok tani Desa Gemuruh, Kecamatan Kundur Barat, Kabupaten Karimun yang pada saat itu diresmikan oleh Gubernur Kepri yang pertama H Ismit Abdullah. Ironisnya, pesan dan titipan H Ismit Abdulah selaku Gubernur Kepri pada saat itu yang menitipkan kelompok tani Desa Gemuruh kepada siapapun yang menjadi Bupati Karimun seakan akan terlupakan. Hal yang dimaksud terlihat dari penimbunan tanah merah di atas lahan seluas, 45 HA yang menjadi milik kelompok tani Desa Gemuruh, yang kuat diduga Bersambung ke hal. 11
Proyek Tambal Sulam Dinas PU Karimun Disorot Karimun, Melayu Pos Proyek “tambal sulam” pembangunan insfrastruktur jalan di wilayah pulau-pulau di Karimun seolah jadi tradisi Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Bumi Berazam ini,wajar saja kalangan masyarakat peduli pembangunan daerah pesisir Kepulauan Kepri kepada Melayu Pos menaruh keprihatinan, proyek tambal sulam seperti pembangunan jalan di pulau Moro, Buru dan pulau Kundur dari anggaran APBD maupun APBN sejak tahun 2007 sampai saat ini terkesan digrogoti, ujar Edi Sukarno di Tanjungpinang (15/06) . Bahkan pihak legislatif sendiri sudah memberi abaaba kepada Bupati Karimun
Jalan Teluk Radang belum seumur jagung sudah mengelupas.
untuk segera mengganti Kepala Dinas Pekerjaan Umum Ir Abu Bakar MT, namun Bersambung ke hal. 11
Aksi Ranjang Mardaningsih Gemparkan Dunia Pendidikan Kabupaten Karimun
PJT II Diminta Tertibkan Tanah Aset Pengairan
Kundur, Melayu Pos Dengan beredarnya video aksi ranjang yang diperankan oleh sepasang suami istri Lukman dan Mardaningsih membuat dunia pendidikan kian gempar di Kecamatan Kundur, Kabupaten Karimun. Belum lagi hilang ingatan masyarakat dengan nasib yang menimpa Uniasthari yang menjadi korban pembunuhan dan penganiayaan beberapa waktu lalu, masyarakat Kecamatan Kundur kembali dihebohkan dengan beredarnya Vidio Lucah yang
Karawang, Melayu Pos Banyaknya bangunan yang bertengger di sepanjang bantaran/tanggul, garis sempadan bahkan badan sungai, terlepas apakah memiliki izin atau tanpa izin dari pihak berwenang, pendirian bangunan bar uterus bertambah. Hal ini dipastikan akan mempengaruhi kegiatan Operasinal Pemeliharaan (OP) jaringan/ saluran irigasi, sungai, kali maupun danau. Sebenarnya, untuk pemanfaatanlahan milik Divisi Pengelolan Air (DPA II)-Perum Jasa Tirta (PJT
diperankan oleh sepasang insan yang mengabdikan diri di dunia pendidikan atau pendidik alias guru. Walaupun niat di hati Mardaningsih dan Lukman video tersebut akan dijadikan koleksi pribadi, namun nasib apes pasangan suami istri tersebut ahirnya menjadi aib dalam dirinya. Bahkan video lucah sepasang suami istri tersebut sudah jelas akan mencoreng nama baik dunia pendidikan di Kabupaten Karimun khususnya Kecamatan Kundur.
Kendati demikian video yang berdurasi 20 minit yang dilakonkan Mardaningsih dan Lukman kian diburu oleh masyarakat yang ingin mengetahui kebenarannya. Menurut inpormasi yang diperoleh Melayu Pos di lapangan, video lucah tersebut sudah beredar di tengah-tengah masyarakat di Kecamatan Kundur lebih kurang dalam kurun waktu tiga bulan. Ironisnya sampai saat ini belum ada niat instansi atau aparat terkait khususnya dari Dinas PenBersambung ke hal. 11
HISTLEGEND
II) khususnya di daerah garis sempadan sungai dapat dilakukan oleh masyarakat dengan persyaratan yang diatur pada Peraturan menteri PU No.63/PRT/1993 Tahun1993 Bersambung ke hal. 11 Bagian: Ketiga (habis)
Putri Hijau Ratu Kerajaan Aru Deli Tua
M
engingat kuatnya b e n t e n g pertahanan ARU Deli Tua yang ditumbuhi bambu, sehingga menyulitkan serangan Aceh. Menurut catatan Pinto, dua kali serangan Aceh ke Deli Tua mengalami kegagalan. Pada akhirnya pasukan Aceh melakukan taktik sogok yakni dengan memberikan uang emas kepada pengawal benteng. Dalam kisah Putri Hijau disebut bahwa pasukan Aceh menembakkan meriam ber-
peluru emas, sehingga pasukan ARU berhamburan untuk mencari emas. Penyogokan pasukan ARU yang dilakukan oleh pasukan Aceh, menjadi penyebab kehancuran kerajaan ARU Deli Tua. Permaisuri kerajaan dengan laskar yang tersisa mencoba merebut Benteng, tetapi tetap gagal. Akhirnya permaisuri dengan sejumlah pengikutnya berlayar menuju Malaka dan menghadap kepada gubernur Portugis. Te-
tapi ia tidak disambut dengan baik. Akhirnya permaisuri menjumpai Raja Johor, Sultan Alauddin Riayatsyah II dan bersedia menikahinya apabila ARU dapat diselamatkan dari penguasaan Aceh. Akan tetapi, ARU telah dikuasai oleh Aceh yang dipimpin oleh panglima Gocah Pahlawan. Akhirnya permaisuri raja ARU menikah dengan raja Johor. Gocah Pahlawan diangkat sebagai wali negeri Aceh di reruntuhan kerajaan ARU. Selanjutnya,
ARU Deli Tua pada masa pimpinan wali negeri Aceh ini menjadi cikal bakal kesultanan Deli yang berkuasa pada tahun 1632-1653. Benteng Putri Hijau yang terdapat di Deli Tua-Namu Rambe berdasarkan survei yang dilakukan oleh John Miksic (1979) luasnya adalah 1800 x 200 M2 atau 360 Ha. Letaknya percis diantarai dua lembah (splendid area) yang disebelah baratnya mengalir Lau Patani/Sungai Deli. Temuan penting dari situs ini
adalah ditemukannya benteng pertahanan yang terbuat secara alami maupun bentukan manusia. Benteng ini termasuk dalam kategori local genius terutama dalam menghadapi musuh, yakni musuh yang datang menyerang harus terlebih dahulu menyeberangi sungai, kemudian mendaki lereng bukit (benteng alam) dan akhirnya sampai di benteng bentukan manusia. Oleh karenanya, musuh memerlukan energi Bersambung ke hal. 11