Melayu Pos

Page 1

DWI MINGGUAN TERBIT 12 HALAMAN

Edisi: 131/Thn IV / 12 - 25 Oktober 2011

Ratusan Warga Demo di Kantor Bupati Bogor Hal.

Harga Eceran :

Terungkap Kecurangan Syamsuar dan Alfedri 3

Rp. 3.000,-

(Jabodetabek)

KKN Penerimaan Siswa Baru Harus Diusut Hal.

7

Hal.

9

Marzuki Ali :

Wacana Pembubaran KPK Tidak Realistis Jakarta, Melayu Pos Keberadaan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terus menuai kritik. Tak hanya itu, wacana pembubaran KPK pun sempat dilontarkan salah satu anggota DPR Fahri Hamzah beberapa waktu lalu. Wacana tersebut ditanggapi secara beragam di kalangan anggota dewan. Sebagian menilai wacana pembubaran KPK sama sekali tidak realistis.

Maria Selena

Tak Ada Niat Masuk Dunia Hiburan

Baca di hal. 11

TITIAN MUHIBAH Kegelisahan dan Teologi Kematian

Oleh: Mas‘ud HMN Ketua Pusat Kajian Peradaban Melayu Jakarta KEGELISAHAN dan Teologi Kematian kita angkat sebagai dua faktor yang berkaitan dengan aksi bunuh diri yang semakin banyak saja terjadi. Setidaknya ada dua aksi yang menyusul bom bunuh diri di Solo Jawa Tengah baru-baru ini. Pertama bom paling tragis, menewaskan 70 orang dan melukai banyak orang,di Mogadhisu Somalia, Afrika, 4 Oktober lalu. Kedua, di Tibet, dua orang anak muda membakar diri memperotes kezaliman penguasa Cina. Pemerintaha Tibet yang merupakan Provinsi Cina itu, menangkap dan menahan ratusan Biksu pemuka Agama Budha di Tibet (7/10). Ini dikabarkan sebagai kejadian ke tujuh sejak bulan Maret tahun ini yang melakukan cara yang sama dengan membakar diri hidup-hidup. Dua peristiwa kematian dengan bunuh diri seperti kita kutip di atas, menyentakkan pikiran kita. Apa yang terjadi di balik kasus ini. Akankah model bom bunuh diri dan aksi bakar diri berkelanjutan. Apa yang menjadi dasar yang paling kuat menjelaskan bom bunuh diri ini. Adakah hubungan pelakunya dengan ajaran spiritual tentang Teologi Kematian? Agaknya ajaran Agama atau moral terhubung dengan sikap pelaku aksi di atas. Yaitu satu paham keagamaan (Teologi keagamaaan) untuk memastikan sikap mereka terhadap kehidupan dan kematian. Seperti mengutamakan orientasi kehidupan dunia, dan orientasi kehidupan akhirat. Golongan yang pertama mereka dengan orientasi kedunian, sering kali sikapnya cenderung berfoya-foya, menikmati dan enjoi terhadap kahidupan. Bahkan secara berlebihan. Hidup tanpa peduli orang lain. Sehingga muncul serakah, zalim dan lupa diri. Implikasi pemahaman Agama dan Moral demikian, memunculkan maraknya korupsi, perbuatan maksiyat, perilaku merusak lingkungan. Agama dan moral tidak berfungsi. Kalau ada, tidak mencegah atau menhindar dari kebatilan, tetapi malahan berjalan bersamaan. Karena tidak jarang kita saksikan ibadah dan ajaran spiritual seperti telah besepakat. Mereka yang ahli ibadah berbuat korupsi dan kelompok kejahatan beribadah juga dengan rajin. Akan tetapi sikap keagamaan dalam masalah kematian (akhirat) akan lain. Orang yang memahami kematian, tidak akan korupsi, takut berbuat jahat dan perbuatan amoral. Teologi kematian ini menjadi faktor yang membentuk sikap melawan ketidak adilan, memilih jalan yang paling dekat untuk mencapai tujuan hidup. Bersambung ke hal. 11

PANTUN MELAYU Da ulu kaliki na babuah Kinilah ubi nan babungo Dulu budi nan batuah Kinilah piti nan kuaso Dulu pepaya nan berbuah Kini singkong nan berbunga Dulu budi nan bertuah Kini duit yang kuasa Bansak kehulu kerapatan Saying durian gugur bunganya Sesal kemudian pendapatan Sesal kemudian tiada gunanya

Wacana Fahri mengenai pembubaran KPK ini pun mendapat tanggapan beragam, termasuk dari ketua DPR Marzuki Ali. Marzuki menilai pembubaran KPK tidaklah realistis. ‘Itu sebuah kritik,” katanya. “Tidak perlu perdebatan lagi, apakah wacana pembubaran KPK realistis atau tidak. Jawaban saya, jelas tidak realistis. Itu singkat, tepat dan jelas,” lanjut Marzuki. Tapi dijelaskan Marzuki, KPK sebagai lembaga yang

independen jangan antikritik, yang dapat melemahkan kinerja KPK. “Lembaga itu hanya nama, di dalamnya ada manusia-manusia. Nah manusia itu kan tidak sempurna,” tuturnya. Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Busyro Muqoddas menyerahkan kepada rakyat Indonesia tentang wacana pembubaran KPK. “Mari kita tunggu reaksi masyarakat, apakah usulan itu Bersambung ke hal. 11

Foto: Ist

IDE PEMBUBARAN KPK . Wakil Ketua KPK Bibit Samad Rianto (kiri), Praktisi Hukum Achmad Rifai (tengah) dan Ketua DPR RI Marzuki Ali (kanan) saat menjadi pembicara dalam diskusi Lembaga Penegakan Hukum dan Strategi Nasional di Jakarta, Minggu (9/10). Diskusi tersebut membahas tentang Realistiskah KPK dibubarkan saat ini.

Soebowo: ICW: UU Penyelamatan Aset Rita Pemberitaan Bisa Harus Segera Direalisasikan Pengaruhi Mental Atlet Jakarta, Melayu Pos Indonesia Corruption Watch menyatakan UndangUndang Penyelamatan Aset harus segera direalisasikan atau disahkan mengingat banyaknya buron koruptor yang masih bisa menikmati keuntungan dari perusahaannya di tanah air. “Sampai sekarang (Rancangan, red) UU Penyelamatan Aset masih berada di DPR,” kata Anggota Badan Pekerja ICW, Emerson F Yuntho, di Jakarta, Minggu. Sebelumnya, buron pengalihan hak tagih (cessie) Bank Bali, Djoko Tjandra, dikabarkan membangun Hotel Mulia Resort di Bali. Emerson Yuntho mengatakan buron koruptor itu ha-

rus dimiskinkan melalui penyitaan asetnya, pasalnya selama ini para buron koruptor masih bisa leluasa mengendalikan asetnya di dalam negeri. Seperti membangun hotel di Bali, bisa saja Djoko Tjandra mengendalikannya melalui “remote” dari luar negeri, katanya. Dikatakan, jika benar Djoko Tjandra itu masih bisa membangun hotel di Bali dan dikabarkan pernah berada di Bali, maka itu sangat disayangkan. “Sekaligus menunjukkan lemahnya kejaksaan (selaku eksekutor Djoko Tjandra),” katanya. Kejaksaan Agung sendiri memerintahkan Kejaksaan

Tinggi Bali untuk mengusut pembangunan salah satu hotel di daerah itu oleh buron pengalihan hak tagih (cessie) Bank Bali, Djoko Tjandra. “Saya sudah perintahkan Kajati Bali untuk mengeceknya,” kata Wakil Jaksa Agung (Waja), Darmono, di Jakarta, Jumat (7/10). Darmono mengatakan jika memang benar Djoko Tjandra ada di Bali, maka pihaknya akan langsung menangkapnya. “Jika memang benar atas nama Djoko Tjandra dan berada atau pernah di Bali selama buron, kita akan menangkapnya,” katanya. Bahkan Anggota Komisi III DPR Nudirman Munir Bersambung ke hal. 11

Palembang, Melayu Pos Ketua Umum Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Pusat, Rita Soebowo, mengkhawatirkan pemberitaan yang gencar seputar venues SEA Games XXVI di Palembang, Sumtera Selatan dan DKI Jakarta yang belum siap, mempengaruhi mental atlet Indonesia. “Pemberitaan seputar venues SEA Games di beberapa media massa dan elektronik begitu mengkhawatirkan kami, karena secara tidak langsung mempengaruhi mental atlet. Para atlet tentu merasa tidak sepenuhnya didukung, karena tempat bertanding saja belum siap, padahal tidak demikian ada-

Rita Subowo nya,” ujar Rita, di Palembang, Minggu. Menurut dia, venues yang dikabarkan belum siap itu diharapkan dapat digunakan pada SEA Games, mengingat pengerjaannya tinggal taBersambung ke hal. 11

Petani Tambak Belum Terima Ganti Rugi

Provokasi Satpol PP Pemkab Indramayu Kurang Tanggap Depok Tidak Jelas Soal Bendung Karet Waledan Indramayu, Melayu Pos Bendung Karet Waledan di Desa Lamaran Tarung, Kecamatan Cantigi, Kabupaten Indramayu, Jawa Barat, baru– baru ini akan dibangun oleh Pemerintah Pusat melalui Balai Besar Wilayah Sungai Cimanuk-Sicanggarung (BBWS) yang dikerjakan PT Brantas–PP KSO (Join Operation) sebagai pemenang tender, sejak pertengahan Bulan Agustus 2011 lalu hingga kini belum melaksanakan pekerjaan akibat Pemerintah Ka-

bupaten Indramayu kurang tanggap lantaran masih belum memberikan ganti rugi kepada pihak petani pengarap tambak lahan milik Perhutani padahal nilai rupiahnya relatif kecil. Entah kenapa sebabnya dan apa kendalanya? Akibatnya, menjadi ganjalan bagi Pelaksana Proyek Bendung Karet Waledan. Padahal, Pemerintah Pusat telah memberi bantuan ratusan miliar untuk membangun bendung karet waledan kiranya Pemkab dan atau pihak instansi

HISTLEGEND

terkait lebih fokus memikirkan untuk kesejahteraan rakyat Indramayu luas. Sejumlah kelompok Petani Penggarap Tambak yang diketuai Budiono tanggal 4 Oktober 2011 lalu, mendatangi Gedung DPRD yang tujuannya menuntut ganti rugi lahan tambak yang diperuntukan kepentingan Pengelak Bendung Karet dan pada prinsipnya keberadaan proyek bendung karet pihaknya sangat setuju dan mendukung Bersambung ke hal. 11

Depok, Melayu Pos “Pemanfatan limbah” itu kata yang tepat untuk jenis usaha yang dilakukan perusahaan perorangan yang berskala mikro di Kelurahan Serua, Kecamatan Bojong Sari, usaha yang bergerak dalam daur ulang sampah (Scrub) aluminium. Sudah saatnya kita bercermin tentang sampah yang ada dibagi dalam dua golongan organic dan non organic. Bahkan menjadi permasalahan dunia bahwa sampah jenis organic sudah sepatutnya men-

jadi perhatian Pemkot Depok, hasil inilah yang kemudian dijadikan peluang usaha oleh Nimin, pengusaha mikro dalam daur ulang sampah non organic. Sejalan dengan hal tersebut ternyata lagi-lagi Satpol PP Depok (Hendri Red) menanggapi hal yang berbeda bahwa ini merupakan hal yang tidak layak untuk beroperasi, karena ini dianggap racun. “Ya gak tau ini dianggapnya beracun,” ujar Nimin menjelaskan arogansi pihak Bersambung ke hal. 11

Oleh T Luckman Sinar Basyarsyah II

Sejarah Orang Melayu dan Rajanya DENGAN tertanamnya penjajahan Belanda di Sumatera Timur, maka proses Melayunisasi Raja Melayu ke daerah pedalaman yang dihuni suku-suku Batak sudah terhalang, karena daerah tersebut disiapkan oleh Belanda sebagai daerah pengembangan agama Kristen. Seseorang dianggap sebagai Melayu apabila telah memenuhi syarat sebagai orang Islam, berbicara bahasa Melayu, mempergunakan adat Melayu, dan memenuhi syarat

menetap di tempat tertentu (Nagata: 91). Jadi, istilah Melayu adalah berdasarkan alasan kultural. Salah satu ciri orang Melayu adalah memegang konsepsi “kerajaan”. Hal ini menunjukkan pentingnya fungsi raja bagi orang Melayu dalam policy negara dan pemusatan sesuatu pada raja dalam indentitas kultural orang Melayu tua. Raja adalah simbol personifikasi nilainilai masyarakat dan tradisi sejarah (Milner, 1977).

Kerasnya konsep beraja tersebut ditunjukkan oleh beberapa pepatah Melayu, seperti “Ada raja adat berdiri, tiada raja adat mati” dan “Biar mati anak, daripada mati adat” (Kementerian Penerangan RI). Arti “kerajaan” di sini adalah wilayah kediaman (establishment) yang ada bandarnya. Orang Melayu sangat menghormati raja dari keturunan dinasti yang tersohor terus-menerus (illustrious and impeccable). Hal ini berfungsi sebagai

legitimasi, karena menurut mereka rakyat dan negeri mudah dicari, namun dinasti purba yang tersohor tidak dapat dicari. Selama dinasti itu utuh, tidak ada alasan untuk membubarkan kerajaan. Sesuai dengan adat pada zaman Hindu dan Budha, raja dianggap “bodhisatva” yang memberikan “tantra” dan kedamaian abadi kepada rakyatnya yang setia “bhakti” dengan “anugerah”. Ada seperangkat alat musik nobat yang menjadi bagian dari re-

galia kerajaan, yaitu sesuatu yang bersifat sakral dan mengandung supernatural power, misalnya jin kerajaan. Pengangkatan raja baru tidak syah jika tidak “dinobatkan”. Pada zaman dahulu, jika terdengar alat musik nobat dibunyikan, maka orang berhenti bekerja seolaholah raja berada di situ (Sinar, t.t.: 3’16). Raja ‘berdaulat’ dan mempunyai kesaktian yang tidak dipunyai rakyat biasa. Konsep ini dipengaruhi ajaran IsBersambung ke hal. 11


Turn static files into dynamic content formats.

Create a flipbook
Issuu converts static files into: digital portfolios, online yearbooks, online catalogs, digital photo albums and more. Sign up and create your flipbook.