Hentikan Propaganda Lisan versus Tulisan

Page 1

Hentikan Propaganda Lisan versus Tulisan Oleh: Putu Laxman Pendit “Orang Indonesia lebih senang ngobrol daripada membaca!” Begitu sering kita dengar keluhan di masyarakat, mengomentari ketiadaan kebiasaan membaca. Jika sedang punya waktu senggang, orang Indonesia konon lebih suka bercakap-cakap. Jika ada televisi dan radio, orang Indonesia lebih suka memirsa dan mendengar bersama sanak saudara atau rekan sepermainan, daripada mengambil buku dan membaca sendirian. Dalam banyak acara resmi, para pejabat atau pengamat sering sekali mengatakan bahwa “masyarakat kita masih masyarakat lisan”, lalu mereka menjadikan kondisi itu sebagai lawan dari “masyarakat membaca” (reading society). Seringkali pula dikatakan bahwa perbukuan dan aktivitas membaca selama ini terhalang oleh kesenangan orang Indonesia mengobrol dan menonton televisi. Kebiasaan memakai bahasa lisan atau kelisanan (orality) adalah istilah yang digunakan untuk komunikasi berbasis percakapan atau obrolan. Selama ini kita secara umum membenturkan kelisanan dengan keberaksaraan (literacy), sebuah istilah lain untuk menggambarkan pola komunikasi berbasis tulisan. Secara lebih ekstrim bahkan ada pandangan yang menganggap bahwa kebiasaan kita menggunakan cara-cara lisan mencerminkan masa lampau, sementara penggunaan aksara atau tulisan adalah tanda-tanda kemajuan. Masyarakatmasyarakat yang belum mengenal tulisan seringkali dinamakan masyarakat primitif, sementara masyarakat yang sudah mengenal tulisan disebut masyarakat moderen. Secara umum seringkali orang mengatakan bahwa masyarakat tradisional harus dimodernisasi dengan cara menggantikan tradisi lisannya menjadi budaya tulisan. Tradisi lisan juga sering disalahkan sebagai penyebab dari ketiadaan kebiasaan membaca di sebuah masyarakat. Kelisanan juga sering dikaitkan dengan "masyarakat primitif”, dan diasosiasikan dengan masyarakat yang kecil, homogen, tidak mengandalkan tulisan melainkan mengandalkan hubungan personal dan wawanmuka. Masyarakat seperti ini sering pula disebut masyarakat mistis yang kurang mengandalkan logika (pre-logical), karena anggota masyarakatnya diduga tidak mengandalkan cara berpikir abstrak, melainkan lebih sering bersikap irasional. Masyarakat “moderen” adalah sebaliknya, sering dipuji sebagai masyarakat yang beradab berdasarkan indikasi ketersebaran penggunaan tulisan secara meluas di semua aspek kehidupannya, menggunakan berbagai teknologi teks, dan diasumsikan sebagai masyarakat yang bergerak maju dengan bantuan ilmu dan teknologi. Namun sebenarnya pandangan dikotomis primitif-beradab seperti ini sudah dipatahkan oleh para peneliti antropologi moderen yang menemukan bahwa apa yang disebut “primitive societies” itu ternyata tidak primitif dalam cara berpikir mereka, cara berbicara atau dalam cara berkomunikasi pada umumnya. Mereka seringkali juga punya cara berpikir yang sama rumitnya dengan masyarakat modern, sebagai bukti bahwa mereka juga sangat mengandalkan pola pikir rasional. Apa yang disebut mistik dan perdukunan (witchcraft) itu ternyata berlandaskan pola pikir yang mirip juga dengan pola pikir yang menghasilkan ilmu pengetahuan. Bahasa mereka juga sangat kompleks, mengalahkan kompleksitas "bahasa moderen". Di kalangan antropolog, dikenal adanya seorang pionir pemikiran strukturalisme dari Perancis, bernama Claude Levi-Strauss. Dia menulis buku berjudul “The Savage Mind” dan mengatakan bahwa perbedaan primitif/beradab sebenarnya adalah perbedaan dalam cara memahami dunia (ways of knowing) yang menghasilkan dua jenis cara berpikir ilmiah (scientific 1


Turn static files into dynamic content formats.

Create a flipbook
Issuu converts static files into: digital portfolios, online yearbooks, online catalogs, digital photo albums and more. Sign up and create your flipbook.