
1 minute read
Buntut Konflik Pengelolaan Wisata, Warga Blokir Jalan Menuju Pantai Widodaren
GUNUNGKIDUL, TRIBUN - Jalan menuju Pantai Widodaren di Kalurahan Kanigoro, Kapanewon Saptosari, Gunungkidul, ditutup oleh warga. Akses wisatawan pun kini menjadi sulit.
Lurah Kanigoro, Suroso, mengatakan aksi itu dilakukan oleh warga pelaku usaha di pantai tersebut. “Jalannya ditutup dengan batu-batu yang ditumpuk,” kata Suroso saat dihubungi wartawan pada Rabu (18/1).
Advertisement
Ia memaparkan, penutupan jalan dipicu oleh protes soal pengelolaan pantai, terutama pembangunan kios sebagai tempat usaha warga setempat.
Menurut Suroso, warga meminta dibangunkan sekitar 73 kios. Namun, karena terbatasnya anggaran, Pemerintah Kalurahan Kanigoro baru mampu membangun 30 kios sejak 2019 lalu dan sudah siap digunakan di 2020. Namun, ia menyebut kios yang ada justru tak digunakan oleh warga hingga mangkrak. Suroso menyebut konflik pengelolaan Pantai Widodaren berlangsung sejak lama. Penutupan jalan itu pun jadi aksi terbaru yang dilakukan warga. “Sebenarnya sudah ada tujuh kali pertemuan, namun belum ada kata mufakat,” ujarnya. Anggota Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Pantai Widodaren, Mujiko juga menyatakan penutupan jalan sebagai aksi protes karena permintaan mereka belum terpenuhi. Selain jumlah ruko, ukurannya pun belum sesuai permintaan. Sesuai kesepakatan, ukuran ruko adalah 4x6 meter, namun yang terbangun hanya 2,5x3 meter. “Jalan yang ditutup juga milik warga, akan kami tutup sampai permintaan terpenuhi,” kata Mujiko.
Kepala Dinas Pariwisata (Dispar) Gunungkidul, Mohamad Arif Aldian mengatakan pihaknya sudah berkoordinasi dengan Panewu Saptosari terkait hal tersebut pada Senin (16/1) lalu. Arif menilai permasalahan itu sebagai konflik internal, karena terjadi antara warga setempat dengan Kalurahan Kanigoro. Konflik berpotensi memanas jika terlalu banyak pihak yang terlibat. Itu sebabnya, Dispar Gunungkidul memilih untuk tidak mengintervensi dulu.
“Saya harap, saat ini dari kapanewon dulu yang memfasilitasi,” kata Arif. Meski demikian, ia menyatakan
Dispar Gunungkidul tak sepenuhnya lepas tangan. Pihaknya tetap terus memantau perkembangan dari konflik tersebut, serta tak menutup kemungkinan Dispar akan terlibat dalam penanganan jika memang dibutuhkan. Panewu Saptosari, Eka Priyatna mengakusudah mengecek kondisi di lapangan. Ia mengaku belum tahu secara rinci masalah yang terjadi. Namun, pihaknya tetap mengupayakan komunikasi antara dua pihak yang berkonflik. “Tetap kami koordinasikan agar ada penyelesaiannya,” kata Eka. (alx)