7 minute read

DUA KECENDERUNGAN YANG HARUS ‘DIWASPADAI’ DARI SEKOLAH MINGGU

DUA KECENDERUNGAN YANG HARUS ‘DIWASPADAI’ DARI SEKOLAH MINGGU

Kalau Anda ditanya orang, “Apa manfaat Sekolah Minggu (SM)?” apa jawaban Anda? Jawaban saya adalah “Jangan ditanya – banyak sekali!”

Kalau begitu, apa hal-hal yang harus diwaspadai dari SM?

Yang pertama, sebagaimana akan dibahas dalam tulisan ini, adalah kecenderungan SM mereduksi fungsi dan peranan keluarga sebagai agen utama pendidikan rohani anak-anak.

Bagaimana Hal Ini Bisa Terjadi?

Banyak orang Kristen yang berpikir bahwa kalau seseorang mau belajar Alkitab, dia harus pergi ke SM. Ini tidak salah. Persoalan baru muncul ketika mereka mulai berpikir bahwa “yang namanya tempat belajar Alkitab ya SM, dan hanya SM.” Kalau seseorang ingin bertumbuh secara rohani, tidak ada cara lain; dia harus ikut SM.

Banyak orang tua Kristen dan anak-anak mereka yang berpikiran sama: kalau mau belajar Alkitab, tempatnya ya di gereja, khususnya SM-nya. Tidak

perlu belajar Alkitab di rumah – rumah bukanlah tempatnya. Akibatnya adalah kata pepatah ini: “Badai debu terbesar di dunia terjadi pada setiap hari Minggu pagi.” Kenapa? Karena pada saat itu orang Kristen di seluruh dunia secara bersama-sama mengambil Alkitabnya dari atas meja, lemari atau rak bukunya dan mengibas-ngibaskan debu darinya –karena sudah tergeletak tak tersentuh selama satu minggu!

Apakah mengambil alih fungsi keluarga sebagai pusat pendidikan religius anak-anak adalah tujuan SM, atau gereja? Apakah guru-guru SM adalah pengganti tugas para orang tua di rumah? Jelas bukan. Keluarga sudah ada ribuan tahun sebelum gereja ada. Allah-lah yang mendirikannya, memelihara kelangsungannya, dan tidak ada indikasi kalau Ia telah mengakhiri keberadaan, fungsi dan peranannya di dalam Perjanjian Baru (PB). Gereja juga bukanlah pengganti institusi keluarga.

Apa yang Alkitab Ajarkan?

Allah, melalui wahyu umum-Nya, telah menunjukkan kepada kita siapa penanggung jawab utama pendidikan anak-anak. Dalam dunia binatang, seekor elang mengajari anak-anaknya terbang, seekor induk ayam mengumpulkan anak-anaknya di bawah sayapnya. Yeremia bahkan mengambil ilustrasi serigala sebagai contoh untuk Israel: “Serigala pun memberikan teteknya dan menyusui anak-anaknya, tetapi puteri bangsaku telah menjadi kejam seperti burung unta di padang pasir” (Rat 4:3)

‘Dunia kafir’ jelas mendapatkan ide tentang kewajiban para orang tua mendidik anak-anaknya dari wahyu umum ini. Athena, kota asal Plato, dengan serius menempatkan tanggung jawab menyelenggarakan pendidikan di dalam keluarga. Dari lima hak warga Kerajaan Romawi, yang pertama adalah wewenang ayah terhadap anaknya, yaitu mendidik. Rumah merupakan pusat sistem pendidikan, dan walaupun menghargai sekolah, Pliny muda berpendapat bahwa ‘sekolah adalah milik orang tua’ adalah satu-satunya prinsip yang benar.

Wahyu khusus Allah mengajarkan kebenaran yang sama dengan lebih jelas. Ketika membicarakan tugas-tugas Israel sebagai sebuah bangsa misalnya, Alkitab tidak pernah menyebutkan tugas mendidik anak-anak bangsa. Meskipun dalam Perjanjian Lama (PL) Allah berinteraksi lebih dengan Israel sebagai sebuah bangsa daripada dengan individuindividu dari bangsa itu, toh PL selalu mengacu atau menunjuk kepada orang tua sebagai penanggung jawab pendidikan anak-anak (lih. berbagai rujukan dalam Ulangan, Amsal dan Mazmur 78). Demikian pula PB (mis. Ef 6:4).

John Keating Wiles, seorang pakar Alkitab, menegaskan bahwa bagi orang Israel PL, mendidik anak adalah tugas keluarga. Tentang bagaimana anak-anak mempelajari hal-hal penting seperti mencari nafkah, membaca, menulis, dan berhitung, PL memang tidak menjelaskan apa-apa. Namun tentang bagaimana mengajarkan nilai-nilai hidup dan kepercayaan kepada Tuhan, PL menerangkan dengan sangat jelas tanpa ada kebimbangan sama sekali: itu adalah tugas utama keluarga yang harus ditaati setiap orang tua di kalangan umat Tuhan (dan prinsip ini tidak berubah di dalam PB).

Pentingnya tugas ini terlihat dari isi pengakuan iman paling mendasar bangsa Israel, yaitu Ulangan 6:4-9. Mendidik anak-anak secara rohani adalah tugas para orang tua yang terus berlangsung, berulang-ulang (ayat 7). Tugas ini hanya dapat dibatasi dengan membatasi kewajiban mengasihi Tuhan dengan segenap hati, jiwa dan kekuatan (ayat 5), yang oleh Yesus disebut sebagai ‘hukum yang terutama’ (Mat 22:37-38). Tanpa pengakuan iman ini, hampir mustahil membayangkan adanya iman umat Allah, baik dalam PL maupun dalam PB.

John MacArthur, Jr. menyimpulkan, “Tuhan sendiri dengan serius telah memberikan tanggung jawab kepada orang tua untuk membesarkan anakanak mereka dalam ajaran dan nasihat Tuhan, bukan kepada guru sekolah, teman sebaya, pekerja penitipan anak, atau orang lain di luar keluarga. Merupakan tindakan yang salah bagi orang tua yang berupaya melepaskan tanggung jawab tersebut, lalu mencari-cari kambing hitam ketika keadaan menjadi kacau.”

Apa Sebab dan Akibat-akibat dari Kecenderungan ini?

Tidak memahami ajaran Alkitab mengakibatkan munculnya teologi yang keliru. Ed Young mengingatkan, “Masalah dengan kebanyakan kita adalah salah mengerti tentang apa yang terpenting bagi Kerajaan Allah. Kita pikir jawabannya adalah gereja atau pelayanan yang kita lakukan. Padahal yang terpenting adalah keluarga. Sekelompok orang yang dikhususkan Tuhan untuk memperluas kerajaan-Nya di dunia ialah keluarga.”

Selanjutnya, ada filsafat yang keliru. Banyak orang tua yang meluangkan sedikit sekali waktu untuk anak-anak mereka. Mereka melemparkan tanggung jawab kepada pihak lain: gereja dan guru-guru SM-nya. Mereka menghibur diri dengan berkata, “Yang penting kualitas, bukan kuantitas” –ini jelas mitos. Bagaimanapun, diperlukan oksigen dengan jumlah yang cukup untuk dapat tetap hidup. Quality time (waktu yang berkualitas?) adalah filosofi yang seluruhnya bertolak belakang dengan inti Ulangan 6:7.

Ingatlah lima tahun kelalaian Daud memperhatikan puteranya. Akibatnya tragis. Ketika Absalom, mati, keluar kata-kata ratapannya yang teramat memilukan, “Anakku Absalom, anakku, anakku Absalom! Ah, kalau aku mati menggantikan engkau, Absalom, anakku, anakku!” (2 Sam 18:33). Daud bersedia memberikan nyawanya bagi puteranya, namun telah lalai memberikan waktunya. Ingat, seorang anak menyamakan ‘kasih’ dengan ‘waktu’. Anak harus mendapat kesan bahwa bagi orang tuanya, dirinya adalah prioritas tertinggi di dalam keluarga.

Pikirkanlah tantangan, ujian dan pencobaan tiada henti yang harus orang Kristen hadapi selama tujuh hari dalam seminggu di dunia yang sudah jatuh ini. Pikirkanlah bahwa hanya ada satu jam saja (atau kurang) kelas SM yang Anda dan anakanak anda ikuti untuk melengkapi dan menyiapkan diri menghadapi semuanya itu. Bagaimana Anda sanggup menjalani hidup dan hari-hari Anda dengan berhasil? ‘Energi’ dan ‘kuasa’ yang Anda dan anak-anak Anda peroleh sangatlah tidak sepadan. Ini belum memperhitungkan faktor SDM (guru, narasumber) yang tidak kompeten, isi buku pelajaran yang kurang berisi, dll. (bukankah ‘tak ada

gading yang tak retak’?).

Harus ada cara untuk menjamin bahwa pengaruh dari ‘luar’ terhadap pembentukkan karakter anak tidak lebih banyak dibanding pengaruh orang tua. Sebagaimana ditegaskan oleh MacArthur, “Orang tua harus cukup banyak melibatkan diri dalam kehidupan anak-anak mereka untuk memastikan bahwa tidak ada pengaruh lain yang mendahului.”

Kalau pengaruh keluarga terus menurun, sementara gereja asal-asalan dalam mencurahkan satu jam seminggu kelas SM-nya untuk mendidik anak-anak dan kaum mudanya, maka ‘sesuatu’ yang lainlah, yang akan menjadi agen terpenting pembentuk kerohanian mereka.

Bagaimana Mencegah Kecenderungan ini?

Pertama, kita harus kembali pada ajaran Alkitab tentang keluarga. Salah satu persoalan besar gerejagereja masa kini adalah tidak tercantumnya doktrin tentang keutamaan keluarga di dalam dokumendokumen pengakuan iman mereka (tidak ada yang lebih krusial dan lebih memerlukan perhatian khusus daripada pokok ini dewasa ini).

Kedua, SM harus mewaspadai kecenderungannya mengambil alih fungsi utama keluarga anggotaanggota gereja.

Ketiga, para orang tua Kristen harus bertobat. Mereka harus belajar dari Eunike. Karena ketekunannya menjalankan peranannya sebagai orang tua, hasilnya adalah seorang Timotius yang

tumbuh dewasa, lalu menjadi seorang pemimpin, seorang pembicara, seorang negarawan, dan seorang perintis jemaat baru. Ed Young berkata, “Tak ada gelar yang diberikan oleh ‘Sekolah Membesarkan Anak.’ Tak ada proses akreditasi bagi seorang ayah dan ibu. Meskipun demikian, orang tua adalah guru yang paling baik bagi anaknya.”

Selain menjadi pengajar, orang tua juga harus terus belajar. Kapan hasil belajar mereka terlihat? “Ketika anak-anak kita sudah dewasa dan mempunyai anak sendiri, barulah kita menerima buku rapor kita,” demikian kata Ed Young. Sekali lagi, lihatlah tiga generasi Lois-Eunike-Timotius (2 Tim 1:5). Ingatlah bahwa ketika kita mendidik anak-anak kita di rumah, kita juga sedang mendidik anak-anak yang kelak akan mereka lahirkan.

Penulis adalah dosen Sekolah Tinggi Teologi Baptis Indonesia (STBI) Semarang Editor: Juniati

This article is from: