
5 minute read
Efek yang dapat dianalogikan sebagai
Media Aesculapius Surat Kabar Kedokteran dan Kesehatan Nasional Terbit Sejak 1970
September-Oktober 2019 / Edisi 04 / Tahun XLVIII / ISSN 0216-4996 @MedAesculapius | beranisehat.com |
Advertisement
0896-70-2255-62
TIPS AND TRIK Tepat dan Cermat dalam Diagnosis Okupasi hlm 3
ASUHAN KESEHATAN Intervensi PostStroke: Terapi Okupasi Bantu Rehabilitasi hlm 5
ARTIKEL BEBAS Kebaikan Itu Datang dalam Bentuk Rasa Asam hlm 6
Polusi Udara Jakarta, Akankah Berakhir?
Polusi udara telah menjadi masalah yang berlarut-larut, dengan dampak yang begitu besar pada manusia
bersambung ke halaman 11 D alam beberapa bulan terakhir, polusi udara di DKI Jakarta menjadi masalah yang sering diperbincangkan oleh masyarakat. Berdasarkan pantauan pada situs airvisual.com yang mengukur kualitas udara di seluruh belahan dunia secara langsung, Jakarta bertengger di peringkat ke-5 terburuk pada Senin (30/9/2019) malam dengan Air Quality Index (AQI) 155. Tingkat AQI setinggi itu termasuk dalam kategori tidak sehat. Pengukuran ini dilakukan menggunakan parameter PM (particulate matter) 2,5 atau debu berukuran 2,5 mikron. WHO menetapkan ambang batas udara sehat dengan konsentrasi PM 2,5 maksimal 25 μg/m 3 dalam 24 jam. Namun, dengan AQI 155, konsentrasi PM 2,5 di Jakarta mencapai 63,8 μg/m 3 , yang mana sudah jauh dari batas udara sehat.
Polusi udara bukanlah perkara baru bagi DKI Jakarta. “Tingkat polusi sebenarnya sudah tinggi dari dulu, namun orang-orang baru meributkannya saja sekarang,” ujar Prof Dr. R. Budi Haryanto, S.KM, M.Kes, M.Sc, Guru Besar Departemen Kesehatan Lingkungan FKM UI. “Menurut berbagai penelitian, sumber pencemar udara di Jakarta memang dominan dari transportasi kendaraan bermotor,” ujar Budi. Sumber polusi tersebut juga terus bertambah dengan meningkatnya jumlah kendaraan bermotor tiap tahunnya.
Pemerintah sering dituding kurang bertanggung jawab atas masalah polusi yang menahun ini. Namun, pemerintah juga sudah merespons masalah polusi ini salah satunya dengan memperluas kebijakan ganjil-genap. Selain itu, Pemprov DKI Jakarta juga telah berupaya untuk meningkatkan transportasi umum dengan pengadaan MRT dan peningkatan frekuensi KRL Commuter Line. “Sudah merespons itu sebenarnya bagus, namun perlu dilihat kembali hasilnya, kalau AQI Jakarta tetap tinggi, apakah berhasil?” kata Budi.
Dengan demikian, Budi menggarisbawahi 4 penyebab penting mengapa terjadi pencemaran udara di Jakarta. Beliau mengatakan bahwa kualitas bahan bakar, teknologi kendaraan, manajemen transportasi, serta pemantauan kualitas udara menjadi faktor penting dalam terjadi pencemaran udara. Sebagai faktor pertama, kualitas bahan bakar menjadi titik tumpu bagi kualitas transportasi di Jakarta, terutama ketika dihubungkan dengan polusi udara. “Kualitas bahan bakar di Indonesia masih rendah. Katakanlah diesel, kalo dibakar kan akan keluar sulfur,” tegas Budi serasa menjelaskan pentingnya bagi kita untuk segera beralih ke bahan bakar yang memiliki kualitas yang lebih baik. “Semua pertimbangannya untuk kesehatan, supaya emisi yang keluar dari kendaraan bermotor tidak mengganggu kesehatan,” terangnya lagi.
Selain kualitas bahan bakar, Budi juga menjelaskan bahwa teknologi kendaraan juga mengambil peran penting dalam terjadi pencemaran udara. Beliau juga menegaskan bahwa teknologi kendaraan ini juga berhubungan dengan kualitas bahan bakar yang dijelaskan sebelumnya. “Sebagus apapun bahan bakarnya, kalau kendaraan ngga sesuai, tetap saja keluarin emisi yang polusi,” pungkasnya. Penjelasan beliau sekaligus ingin menyiratkan bahwa ternyata pemerintah juga perlu untuk membenahi peraturan terkait pembatasan umur kendaraan. Beliau menilai bahwa umur kendaraan tidak dapat dijadikan tolok ukur terkait emisi yang dihasilkan kendaraan tersebut. Faktor ketiga yang juga ikut ambil bagian adalah manajemen transportasi. Beliau
menegaskan bahwa masalah ini menjadi pekerjaan rumah
bagi pemerintah, terutama dalam masalah mengatasi macet. “Kendaraan
bermotor itu sebagus apapun kecepatan
rata-ratanya harus antara 30-110 km/ jam. Bila tidak,
pembakaran akan berlangsung
kurang optimal,” jelas Budi. Oleh sebab itu,
penting untuk membenahi transportasi Jakarta, terutama agar tidak menyebabkan kemacetan.
Faktor yang terakhir adalah terkait pemantauan kualitas udara. Beliau menegaskan bahwa pemantauan menjadi sebuah hal yang harus dilakukan, terutama bila ingin menilai perbaikan kualitas udara. Pemantauan ini juga berkaitan erat dengan manajemen transpotasi. Apabila suatu area memiliki tingkat polusi yang tinggi, maka dapat dilakukan rekayasa lalu lintas sehingga moda transportasi dapat dialihkan dari daerah tersebut.
Terlepas dari perdebatan terkait kebijakan pemerintah dan masalah polusi udara yang terus berlangsung, satu hal nyata yang penting untuk diperhatikan adalah dampaknya pada kesehatan. “Polusi udara itu jelas mengganggu kesehatan kita,” ujar Prof. dr. H. Menaldi Rasmin, Sp.P (K) dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Pertama, yang paling mudah terlihat adalah gangguan pada kulit yang menjadi lebih kering dan mudah teriritasi. Dampak yang kedua adalah pengaruhnya pada mata karena iritasi terus-menerus pada kornea mata. Ketiga, tentunya adalah dampaknya pada sistem pernapasan yang akan dibahas lebih lanjut.
Ketika kita menghirup udara yang berpolusi, polutan di dalamnya akan turut masuk ke saluran pernapasan. Pertama, partikel-partikel polusi akan menimbulkan iritasi di daerah saluran napas atas dari hidung, faring, laring, hingga masuk ke trakea. Selain itu, udara yang berpolusi suhunya juga cenderung lebih tinggi dan menyebabkan kehangatan saluran napas bawah dalam waktu yang lama. Hal ini akan memengaruhi silia, sehingga lama-lama sakinah/MA
Zonasi Industri & Residensial: Perlukah?
Setelah transportasi darat, sumber polutan udara terbesar di Jakarta disusul oleh industri. Hingga saat ini, terdapat banyak industri yang berada di tengah ibukota. Industri berada di tengah-tengah zona residensial penduduk dan juga sebaliknya. Industri-industri ini sudah telanjur eksis di ibukota sejak puluhan tahun lalu. “Sebagai sebuah megapolitan, sebenarnya sudah harus melakukan pemisahan antara daerah tempat tinggal atau residensial, area tempat kerja nonpabrik termasuk sekolah, dan area kerja,” tegas Menaldi.
Pabrik yang memberikan asap buangan ke atas perlu dipisahkan dari area residensial. Untuk itu, Pemprov DKI Jakarta sudah mengatur tentang kawasan industri pada Perda No. 1/2014 tentang Rencana Detail Tata Ruang dan Peraturan Zonasi. Peraturan ini dibuat dengan tujuan adanya keselarasan antara pembangunan dengan lingkungan hidup. Beberapa industri akan direlokasi ke lahan yang termasuk dalam zona industri yang telah ditetapkan pemerintah di kecamatan tertentu. Sayangnya, hingga saat ini, sosialisasi terkait zonasi industri ini belum berjalan dengan cukup baik dan masih menimbulkan kebingungan bagi pengusaha industri.
Selain dengan industri pabrik, zonasi antara area kerja nonpabrik dengan residensial juga perlu dipikirkan. “Di luar negeri, 10-15 menit dari perumahan sudah ada stasiun kereta dan halte bis dan bisa menaruh sepeda di stasiun. Artinya, kendaraan umum terjangkau sampai pemukiman,” ujar Budi. Hal ini berbeda dengan kondisi Jakarta yang tidak karuan, contohnya saja mal-mal yang tersebar di berbagai tempat. Kondisi ini menyebabkan akses ke berbagai tempat tidak efisien sehingga membuat kemacetan semakin parah.
Sebagai sumber polutan nomor dua setelah transportasi, zona industri pabrik perlu dipisahkan dari zona residensial untuk mengurangi dampak pencemaran terhadap kesehatan masyarakat. Area residensial juga sebaiknya dipisahkan dari area kerja agar akses transportasi menjadi lebih efisien. billy Banyaknya industri yang terlanjur menyelip di antara pemukiman menjadi PR untuk ibu kota
SKMA untuk Anda!
Mari bersama membuat SKMA menjadi lebih baik.
!1. Apakah konten SKMA bermanfaat/ relevan dengan kondisi kesehatan saat ini? 2. Apakah anda masih membutuhkan SKMA edisi selanjutnya? Jawab dengan format: Nama-Umur_Kota/Kabupaten_Unit Kerja_ Jawaban 1_Jawaban 2 Contoh: Rudiyanto_43_Jakarta Pusat_RSCM_Ya_Ya Kirim melalui WhatsApp/SMS ke 0896-70- 2255-62 atau mengisi formulir pada bit.ly/ surveyskma Lima orang pengisi survei yang beruntung akan mendapatkan cenderamata dari Media Aesculapius