5 minute read

Magnetic Resonance Imaging

Next Article
Otot pada jantung

Otot pada jantung

Cadangan Kognitif: Harapan Baru bagi Demensia?

Mungkinkah kita dapat mencegah demensia sejak dini? Lantas langkah apa yang dapat kita lakukan?

Advertisement

Pertanyaan: Akhir-akhir ini kesadaran masyarakat terhadap demensia semakin meningkat. Tatalaksana apa yang dapat dilakukan pada layanan primer dan edukasi seperti apa yang dapat disampaikan kepada masyarakat untuk mencegah demensia? - dr. D, Lampung T anggal 21 September merupakan hari peringatan Alzheimer Sedunia. Hal ini menunjukkan semakin maraknya kampanye untuk meningkatkan kesadaran masyarakat tentang penyakit Alzheimer dan demensia secara keseluruhan. Oleh karena itu, kalangan medis khususnya layanan primer perlu mempersiapkan diri untuk menghadapi gelombang kasus demensia beserta segala tantangan yang mungkin terjadi.

Demensia merupakan payung istilah yang biasa digunakan untuk meggambarkan sindrom akibat penyakit otak. Penyakit ini bersifat kronik progresif yang ditandai dengan kemunduran fungsi kognitif multipel yaitu amnesia, afasia, apraksia, agnosia, atau fungsi eksekutif. Berdasarkan penyebabnya, demensia dapat diklasifikasikan menjadi beberapa tipe yaitu demensia pada penyakit Alzheimer, demensia vaskular, demensia frontotemporal, demensia lewy bodies (DLB) dan demensia campuran. Epidemiologi demensia diperkirakan akan semakin meningkat dari 50 juta jiwa hingga 152 juta jiwa pada tahun 2050. Di Indonesia sendiri, jumlah penderita pada tahun 2015 mencapai 1,2 juta jiwa dengan proyeksi kenaikan hingga 4,3 jiwa pada tahun 2050. Prevalensi jenis demesia yang paling sering terjadi adalah demensia pada penyakit Alzheimer sebanyak 50-75% kasus. Kejadian kasus demensia biasanya terjadi pada individu lebih dari usia 65 tahun.

Diagnosis demensia dilakukan pada pasien yang menunjukkan minimal dua gangguan signifikan pada fungsi mental utama meliputi memori, komunikasi, atensi, daya nalar dan penilaian, serta persepsi visual. Penurunan pada fungsi kognitif dapat diuji dengan tes neuropsikologi atau pemeriksaan kuantitatif lainnya. Perlu juga diperhatikan apakah defisit kognitif tersebut sudah mengganggu kemandirian dalam melakukan aktivitas seharihari.

Manifestasi klinis setiap tipe demensia berbeda. Pada penyakit Alzheimer, terdapat gejala kehilangan memori jangka pendek, depresi fase awal, dan gangguan perilaku fase lanjut. Demensia vaskular sendiri memiliki onset mendadak dengan gejala awal mirip penyakit Alzheimer tapi disertai perubahan mood yang fluktuatif dan memiliki kaitan dengan riwayat penyakit kardiovaskular. Selanjutnya, demensia badan lewy memiliki gejala kemampuan kognitif yang fluktuatif, halusinasi visual, tremor, serta rigiditas seperti pada penyakit Parkinson. Kemudian demensia frontotemporal lebih sering terjadi pada pasien di bawah usia 65 tahun dan terdapat gejala khas perilaku disinhibisi, apati atau inersia, kehilangan simpati atau empati, perseverasi, dan perilaku stereotipik atau kompulsif, hiperoralitas atau perubahan diet, dan gangguan fungsi eksekutif tanpa gangguan kania/MA

memori dan visuospasial. Terakhir, demensia campuran biasanya terjadi pada pasien dengan usia sangat lanjut dengan berbagai penyakit komorbid.

Proses degenerasi otak membutuhkan waktu yang cukup lama. Perubahan patologis otak terjadi secara bertahap selama satu dekade atau lebih sebelum gejala muncul. Setelah itu, dibutuhkan beberapa tahun sejak timbulnya gangguan kognitif ringan sebelum berubah menjadi demensia. Oleh karena itu, sangat mungkin untuk mencoba melakukan tindakan preventif terhadap demensia. Akhir

akhir ini para peneliti mengalihkan perhatian ke arah pencegahan

terhadap demensia, baik melalui obat-obatan maupun modifikasi gaya hidup—terutama setelah beberapa uji coba farmakologis terkini gagal menunjukkan perbaikan pada pasien yang telah menunjukkan gejala demensia. Pendekatan farmakologis sendiri mungkin menjanjikan untuk mencegah demensia, namun obat-obatan bukanlah satu-satunya solusi. Berbagai penelitian juga mengeksplorasi faktor-faktor kognitif dan gaya hidup yang dapat melindungi seseorang dari demensia. Konsep “cadangan” telah diusulkan untuk menjelaskan ketidakselarasan antara tingkat kerusakan otak atau patologi dan manifestasi klinisnya. Studi tersebut menunjukkan bahwa derajat patologi tidak selalu menghasilkan demensia klinis. Perbedaan individual dalam proses kognitif atau jaringan neural yang mendasari performa dalam suatu kegiatan memungkinkan beberapa

Narasumber

dr. Profitasari Kusumaningrum, Sp. KJ Divisi Psikogeriatri, Departemen Psikiatri RSCM-FKUI

individu untuk beradaptasi terhadap kerusakan otak dibanding individu lainnya.

Banyak penelitian telah meneliti mengenai hubungannya dengan faktor makanan, namun hingga saat ini tidak ada intervensi diet yang telah terbukti secara klinis efektif mencegah demensia. Faktor lain seperti aktivitas fisik rutin terbukti mengurangi risiko demensia. Melatih otak dengan banyak aktivitas yang merangsang secara mental seperti pendidikan, karir, dan aktivitas waktu luang juga dapat memperlambat laju penurunan kognitif. mariska

Kirimkan pertanyaan Anda seputar medis ke redaksima@yahoo.co.id Pertanyaan Anda akan dijawab oleh narasumber spesialis terpercaya.

TIPS DAN TRIK

Tepat dan Cermat dalam Melakukan Diagnosis Okupasi

Langkah tepat diagnosis okupasi sebagai kompetensi dokter umum

Diagnosis okupasi adalah aktivitas yang dilakukan untuk menegakkan diagnosis penyakit akibat kerja (PAK). Diagnosis ini penting dilakukan untuk menurunkan angka penyakit akibat kerja. Meski diagnosis okupasi termasuk dalam kompetensi dokter umum, masih sangat rendah pengetahuan dokter umum mengenai diagnosis okupasi. Sehingga, masih banyak pekerja yang meninggal akibat PAK yang tidak terdiagnosis dengan benar.

Terdapat tujuh langkah dalam diagnosis okupasi. Langkah pertama adalah menegakkan diagnosis klinis. Diagnosis klinis dilakukan sesuai dengan prosedur medis yang berlaku untuk melihat kemungkinan penyakit yang diderita pasien. Jika dokter umum tidak bisa menegakkan diagnosis klinis, pasien dapat dirujuk ke spesialis terlebih dahulu.

Langkah ke-2 adalah menentukan pajanan yang dialami pasien di tempat kerja. Untuk dapat mengetahui pajanan yang dialami, dilakukan anamnesis kepada pasien terkait aktivitas pekerjaan dan lingkungan kerjanya. Informasi lebih bernilai jika ditunjang dengan data objektif pajanan yang dialami pasien. Langkah 1 dan 2 wajib dilakukan sebelum ke langkah berikutnya.

Langkah ke-3 dan ke-4 terdapat di tempat kerja. Langkah ke-3 adalah menentukan hubungan antara pajanan dengan penyakit. Langkah ini dilakukan dengan metode evidence based. Apabila tidak menemukannya, dokter bisa call the expert karena ada beberapa kasus yang hanya ada di Indonesia. Langkah ke-4 adalah menentukan kecukupan pajanan. Penilaian dapat dilakukan secara kualitatif dan kuantitatif. Hal ini

memerlukan pemahaman patofisiologis dan bukti epidemiologis penyakit.

Langkah ke-5 dan ke-6 terjadi di luar tempat kerja. Langkah ke-5 adalah menentukan faktor individu yang berperan, seperti usia, jenis kelamin, kebiasaan, riwayat alergi, riwayat keluarga, dan komorbiditas. Langkah ke-6 adalah menentukan faktor eksternal tempat kerja. Faktor yang digali adalah pajanan lain yang mungkin dapat menyebabkan penyakit. marthin/MA

Dalam menentukan langkah ini, perlu digali lagi kegiatan pasien di luar tempat kerja seperti hobi, pekerjaan sampingan, dan pajanan di rumah. Langkah terakhir adalah penentuan diagnosis okupasi. Keenam langkah harus benarbenar dilakukan secara tepat dan cermat disertai dengan bukti dan referensi. Dalam

menyimpulkan diagnosis, terdapat tiga kemungkinan, yaitu PAK,

penyakit diperberat oleh pekerjaan, dan bukan PAK. Dikatakan PAK apabila langkah 1—4 terpenuhi namun tidak ditemukan bukti pada

langkah 5 dan 6. Apabila langkah 1—6 terpenuhi, diagnosisnya

adalah penyakit diperberat oleh pekerjaan. Bukan PAK jika tidak ditemukan bukti pada langkah 3—4.

Diagnosis okupasi memang terlihat mudah tetapi harus dilakukan secara tepat dan cermat. Dokter perlu teliti dalam menyelidiki apakah penyakit yang dialami oleh pasien benar-benar diakibatkan oleh pekerjaannya atau bukan. Dengan demikian, terapi dapat diberikan dengan tepat sasaran. safety

JASA PEMBUATAN BUKU

Media Aesculapius menyediakan jasa

penyusunan buku yang sangat fleksibel

baik dalam hal desain cover dan isi,

ukuran dan tebal buku, maupun gaya

penulisan termasuk menyunting tulisan

anda. Tak terbatas hingga penyusunan

saja, kami siap melayani distribusi buku

anda.

Adapun buku yang pernah kami buat:

buku biografi tokoh, buku pemeriksaan

fisik berbagai departemen, buku jurnal,

dan Kapita Selekta Kedokteran.

Hubungi Hotline MA: 0896-70-2255-62 (SMS/WhatsApp)

This article is from: