
8 minute read
Saluran yang cenderung masih
SEPUTAR KITA
Advertisement
Penyakit kulit dan kelamin masih menjadi kasus yang sangat umum dan banyak dijumpai oleh tenaga kesehatan dalam kondisi klinis sehari-hari. Kulit kita merupakan organ tubuh dengan luas permukaan yang paling besar dan terpajan secara langsung dengan dunia luar. Oleh karena itu, tidak heran apabila penyakit kulit dan kelamin memiliki spektrum yang cukup luas, mulai dari kasus “biasa” seperti cacar air dan jerawat, hingga kasus kegawatdaruratan seperti sindrom Steven Johnson. Tak jarang, beberapa penyakit kulit yang hanya terjadi di daerah endemik, layaknya penyakit kusta, dianggap “terlupakan”. “Negara kita, Indonesia, masih menjadi negara dengan insidensi penyakit lepra terbanyak ketiga di dunia. Dari sepuluh tahun lalu tetap di peringkat tiga, ini sedih sih,” tutur dr. Melani Marissa, Sp.KK, dalam presentasinya yang berjudul “Neglected Tropical Diseases: Updates on Mycobacterial Skin Infections”.
Presentasi tersebut merupakan salah satu topik dari acara DEVICE 2019: Dermatovenerology in Everyday Clinical Practice yang diadakan oleh Pelantikan Lulusan Dokter Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (PLD FKUI) 2020/2021. Acara yang jatuh pada tanggal 31 Agustus 2019 ini bertempat di Auditorium IMERI FKUI Salemba dan dibagi-bagi menjadi empat sesi seminar dan dua workshop. Dimulai dari jam delapan pagi, acara ini dibuka dengan seminar-seminar
Sebuah persembahan tahunan terhadap disiplin ilmu kedokteran kulit dan kelamin
yang dibedakan berdasarkan topik, di antaranya terdapat sesi infeksi, alergi dan imunologi, kegawatdaruratan, serta dermatologi kosmetik. Usai berlangsungnya sesi seminar, acara pun dilanjutkan dengan sesi workshop mengenai penentuan diagnosis dan tata laksana pada kasus dermatologis serta update terbaru mengenai penggunaan balutan luka, baik pada luka infeksi maupun non infeksi.
Presentasi yang diberikan oleh Melani termasuk ke dalam sesi seminar infeksi. Pada awal presentasi, dijelaskan bahwa kasus-kasus penyakit kulit yang terlupakan (neglected) sebenarnya jarang ditemukan sehari-hari dan lebih sering terjadi di daerah endemis dibandingkan daerah perkotaan. Walau demikian, hal tersebut tidak menutup kemungkinan bagi kita sebagai tenaga kesehatan untuk menemukan pasien dengan kasus-kasus tersebut. Penyakit kulit yang tergolong neglected adalah infeksi Mycobacterium pada kulit dan morbus hansen ( juga dikenal sebagai kusta/ lepra). Dalam SKDI, infeksi Mycobacterium tuberculosis dengan tipe skrofuloderma dan kusta ini termasuk kompetensi 4A, sehingga harus dapat ditangani hingga tuntas oleh dokter umum.
Tuberkulosis kutis didefinisikan sebagai infeksi pada kulit oleh kuman Mycobacterium. “Utamanya akibat mycobacterium tuberculosis, bisa juga akibat mycobacterium bovis tapi jarang,” ujar Melani. Tuberkulosis kutis memiliki gambaran klinis yang sangat bervariasi, dipengaruhi oleh jalur masuknya dan respons imun dari host. Berdasarkan gambaran klinisnya, tuberkulosis kutis dibagi menjadi skrofuloderma, lupus vulgaris, tuberkulosis kutis verukosa, tuberkulosis chancre, tuberkulosis kutis miliaris, dan tuberkulosis kutis gumosa. Ada pun lepra merupakan penyakit infeksi akibat kuman Adit/MA
Mycobacterium leprae yang menyerang kulit dan sistem saraf perifer. Diagnosis penyakit ini ditegakkan dengan melihat adanya satu dari tiga tanda kardinal kusta dengan bantuan pemeriksaan bakteriologis dengan pewarnaan basil tahan asam Ziehl-Neelsen. jonathan
RUBRIK DAERAH
Sebuah Kisah Internship yang Berarti
Pengalaman adalah guru yang paling berharga. Dari pengalaman mengabdi di Lamongan, saya belajar banyak hal

Sikap empati merupakan sikap yang harus dimiliki sebagai seorang dokter. Pentingnya empati dalam menghadapi pasien sangat dirasakan oleh dr. Gadisa Aulia Pratami saat menjalani internship. Gadisa merupakan dokter lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia tahun 2011 yang telah menjalani program internship di RSUD Kabupaten Lombok Utara. Ia memilih untuk kembali mengabdi ke daerah tempatnya dilahirkan dan dibesarkan agar dapat kembali dekat dengan orang tuanya setelah beberapa tahun ia habiskan di perantauan untuk mengenyam pendidikan. Saat ini, Gadisa tengah bertugas sebagai dokter umum di IGD RSUD Dr. R. Soedjono, Selong. dr. Gadisa Aulia Pratami gadisa.aulia@yahoo.co.id RSUD dr. R. Soedjono, Selong Lombok Timur
Akses menuju lokasi internship –dengan waktu tempuh 3 jam dari rumah Gadisa– bisa dibilang sulit dijangkau. Akan tetapi, jalur pantai dan jalur perbukitan dengan medan yang rawan longsor serta pohon tumbang tidak menyurutkan semangat Gadisa untuk tetap mengabdi. Peralatan dan obat-obatan di RSUD Kabupaten Lombok Utara ini juga terbatas. Tidak hanya itu, bahkan terdapat juga keterbatasan dalam sumber daya manusia di bidang kesehatan, terutama untuk dokter spesialis. Segala keterbatasan ini menjadi tantangan bagi Gadisa dan melatih kesabarannya dalam mengatasi berbagai keadaan.
Dari berbagai peristiwa yang telah dilalui selama menjadi dokter internship, terdapat pengalaman yang akan selalu berkesan bagi Gadisa. Pada suatu malam pukul 12, Gadisa mendapat pasien perempuan berusia lebih dari 40 tahun datang ke IGD dengan keluhan nyeri dada. Dari keluhan tersebut, salah satu diagnosis yang terpikirkan oleh Gadisa adalah Acute Coronary Syndrome (ACS). Oleh sebab itu, ia telah bersiap untuk melakukan pemeriksaan EKG. Namun, setelah ia lakukan anamnesis lebih lanjut, pasien tersebut menyatakan bahwa ia merasakan nyeri dada dikarenakan khawatir dan merasa terdapat benjolan di payudara ketika dalam posisi tidur. Kemudian, Gadisa melakukan pemeriksaan fisik dan ia tidak menemukan ada tanda-tanda benjolan seperti yang dikatakan pasien tadi. Pada awalnya, Gadisa merasa kedatangan pasien ini di tengah malam terkesan ‘berlebihan’. Namun, seketika Gadisa pun sadar dan berusaha menempatkan dirinya sebagai pasien tersebut, yang notabene Gadisa juga merupakan seorang perempuan. Apalagi pasien tersebut tidak memiliki latar belakang pendidikan yang mengerti mengenai kesehatan, hal ini pasti sangat membuat pasien cemas akan kondisinya. Selanjutnya, Gadisa pun mengedukasi pasien tersebut mengenai cara SADARI (Periksa Payudara Sendiri) dan menganjurkan untuk check up rutin.
Setelah kejadian tersebut, Gadisa merasa bahwa empati sangat penting dalam pelayanan kesehatan. Empati yang merupakan kemampuan dalam menempatkan diri di posisi orang lain bukanlah hal yang mudah pada realitanya. Menumbuhkan sikap empati yang benar-benar Polusi Udara...
membutuhkan banyak latihan dan pengalaman. Sebab itu, sejak pendidikan preklinik, empati sangat ditekankan untuk kemudian terus diasah dan diterapkan. Hal ini akan sangat berguna ketika dihadapkan di dunia kerja dimana sebagai seorang dokter setiap hari akan berhadapan dengan pasien, yang merupakan sebuah kewajiban untuk melayani dengan empati. Pasien pun akan merasa lebih nyaman dan tenang apabila dokter mengaplikasikan sikap empatinya saat menghadapi dan berkomunikasi dengan pasien.
fungsinya untuk melakukan pembersihan jalur napas akan terganggu. Sel-sel mukosa yang terpajan akan menghasilkan sekret yang lebih banyak sebagai bentuk kompensasi. Akibatnya, lendir yang menumpuk tersebut akan menghalangi liang keluar masuknya udara. Lendir juga menjadi sarang bagi mikroorganisme sehingga menyebabkan saluran napas menjadi rentan terhadap infeksi berulang. Ketiga, dampak yang juga ditakutkan adalah masuknya partikelpartikel yang karsinogenik. Faktor genetik mungkin berperan besar dalam memengaruhi timbulnya kanker pada seorang individu, tetapi tentu ada peran pemicu dari luar yang turut berkontribusi seperti halnya zat karsinogenik dari polusi ini.
sambungan dari halaman 1
Menaldi, merupakan kelompok yang terutama paling rentan terhadap dampak polusi, misalnya orang dengan gangguan ginjal kronik, penyakit hati kronik, dan sebagainya. Selain itu, kelompok usia anak-anak dan lanjut usia juga memiliki imunitas tubuh yang lebih rendah terhadap polusi, sehingga lebih rentan terkena dampaknya. “Jadi, artinya kita merusak dua kelompok besar loh sebenarnya,” tegas Menaldi, merujuk pada kedua kelompok usia tersebut. jessica,billy,elvan
Melayani Masyarakat dengan Sirkumsisi Massal #ReFest: Festival Pencegahan Bunuh Diri
Minggu, 1 September 2019, dilaksanakan sirkumsisi massal bagi anak-anak di Madrasah AlKhoeriyyah, Kabupaten Bogor. Kegiatan ini diadakan oleh Departemen Pengabdian Masyarakat Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.
dokumen penyelenggara

Departemen Bedah Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) menjadi supervisor kegiatan ini. Selain sirkumsisi massal, dilakukan pula edukasi kesehatan bagi peserta. Acara ditutup dengan dengan pemberian buah tangan. wira
Minggu, 15 September 2019, diadakan lokakarya #ReJuvenate: “Mindful Living in A Fast-Changing World”. Acara ini merupakan bagian dari #ReFest, festival yang diadakan oleh komunitas Into The Light Indonesia. Acara ini diselenggarakan untuk memperingati Hari Pencegahan Bunuh Diri
dokumen penyelenggara

Indonesia. Festival ini terdiri dari serangkaian acara berupa seminar, lokakarya, kelas dengan materi khusus, board games, kegiatan amal, dan penggalangan dana. Acara berlangsung dari bulan September hingga November 2019. mariska
SENGGANG
Memaksimalkan Potensi Diri dengan Tari
Keseimbangan otak kanan dan otak kiri merupakan hal yang penting. Dr. Dr.med. Bulantrisna Djelantik, dr SpTHT-KL (K) merupakan salah seorang yang memaksimalkan keduanya. Beliau memaksimalkan otak kanan dengan bidang keilmuannya sebagai dokter dan otak kiri dengan hobinya sebagai penari. Bukan sekadar hobi, menari membawa Bulan menorehkan banyak prestasi pun melestarikan budaya bangsa sampai tingkat dunia.
Tumbuh besar di Bali membuat Bulan terbiasa menari di upacara dan berbagai kegiatan adat. Sejak kecil, Bulan bahkan sudah terlibat dalam berbagai misi kesenian mewakili Indonesia di luar negeri. Bagi beliau menari adalah hobi, bukan pekerjaan. Beliau pun akhirnya mengambil jurusan kedokteran di Universitas Padjajaran Bandung agar dapat menjadi seorang dokter. Keputusan ini diperkuat dengan ketertarikan beliau ketika melihat ayahnya yang juga seorang dokter.Di sela-sela jadwal kuliah, menari tetap menjadi salah satu prioritas Bulan. Tak jarang, beliau harus meninggalkan jadwal kuliah untuk menerima undangan dari pemerintah dalam misi kesenian di luar negeri. Namun, hobi ini sama sekali tidak mengganggu akademisnya. Tak jarang pula ketika menjalani misi kesenian, beliau membawa serta buku pelajaran kedokteran untuk dipelajari. Beliau tetap menyempatkan belajar di sela-sela latihan dan penampilan. Kedua kesibukan ini membuatnya terampil dalam mengatur waktu. Siapa sangka, menari membuatnya lebih mudah
Selain untuk melepas penat, menari menjadi sarana untuk melestarikan budaya bangsa
untuk menerima pelajaran di perkuliahan. Setelah lulus menjadi dokter, beliau melanjutkan studi hingga mendapat gelar spesialis Telinga, Hidung, Tenggorokan (THT) di Universitas Padjajaran. Beliau juga sempat mengambil S2 di Jerman dan melanjutkan S3 di Belgia. Pengalamannya di bidang THT terutama bidang pendengaran membawa beliau bergabung di WHO (World Health Organization)-SEA menjadi konsultan pendengaran. Lagi-lagi di tengah kesibukan yang ada, beliau tetap menyempatkan diri untuk menonton beberapa
pementasan tari.
Bulan telah membentuk komunitas tari bernama Bengkel Tari Ayubulan. Terbentuk sejak tahun 1994, bengkel tari ini telah menggubah banyak tari antara lain Drama Tari Legong Asmarandana, Legong Witaraga, Topeng Sitarasmi, Legong mintaraga, dll. Hal ini mengantarkan Bulan mendapat penghargaan MURI (Museum Rekor Indonesia) sebagai pelatih dan penari aktif selama 55 tahun lebih untuk tarian Legong dan Goak Legong.
Menyeimbangkan antara menari dan dokumen pribadi
Nama Lengkap Dr. dr. Ayu Bulantrisna Djelantik, MD, Sp. THT
Jabatan Pengajar di Akademi Audiologi Indonesia
Alamat Email btrisna@gmail.com
belajar ilmu kedokteran tentu tidak mudah. Bulan harus memanfaatkan waktu luang sebaik mungkin untuk belajar. Lingkungan bukan menjadi hambatan beliau untuk tetap menari. Tari dan ilmu kedokteran merupakan dua hal yang cukup berbeda. Meskipun demikian, kedua hal yang membuat Bulan bahagia itu mampu berjalan maksimal secara bersamaan.Saat ini Bulan telah pensiun sebagai dokter. Kini, waktu dan tenaganya dicurahkan untuk melatih tari. Bulan juga mengajak teman-temannya untuk ikut melatih tari di daerah tempat tinggalnya masing-masing. Sudah ada banyak cabang pelatihan tari Bulan yang tersebar di Jakarta dan Bandung. Baginya, menari bukan hanya bergerak untuk menghibur. Melalui tari, beliau membuka kesadaran banyak orang akan baik dan buruk serta menyampaikan pesan moral dari ceritacerita bangsa ini. Menari membawa kesenangan pribadi bagi dirinya. Dengan menari, beliau merasa tidak memikirkan diri sendiri. Beliau mengatakan “Jika bukan kita, siapa yang akan melestarikan budaya bangsa ini?” lila