
4 minute read
Metode atau alat pencegah kehamilan
Menengok Pengalaman Internship di Ambon
Melayani dengan tepat di tengah keterbatasan yang ada
Advertisement
Setelah menjalani pendidikan dokter umum, kini saya mengikuti program internship sejak Februari 2019. Saat ini saya berpraktik di salah satu rumah sakit tingkat 2 dan juga puskesmas di Kota Ambon, Maluku. Selama beberapa bulan bertugas di sini, saya menemukan banyak perbedaan dalam layanan kesehatan yang ada di Ambon.
Perbedaan dalam layanan kesehatan yang ada mencakup ketersediaan obat, ketersedian alat, dan kompetensi petugas. Beberapa obat standar yang seharusnya tersedia, seperti albendazol, DEC, dan atropine, masih sangat minim jumlahnya. Demikian juga ketersediaan alat, seperti alat radionuklir, alat pemeriksaan patologi anatomi, serta alat diagnostik terkalibrasi standar, juga masih sedikit jumlahnya. Kompetensi petugas
adit/MA
kesehatan pun belum merata. Pernah terjadi kesalahan penyebutan hasil laboratorium oleh petugas kesehatan pada kasus malaria vivax. Kesalahan tersebut baru diketahui setelah 3 hari pascapemeriksaan.
Faktor utama timbulnya berbagai kekurangan tersebut adalah wilayah Ambon yang merupakan kepulauan. Wilayah kepulauan ini membatasi akses keluar masuk pulau Ambon. Rujukan ke luar pulau sangat sulit dilakukan karena mahalnya biaya transportasi bagi pasien. Selain itu, kondisi ombak laut yang tidak menentu dan sedikitnya jadwal perjalanan yang tersedia juga mempersulit proses rujukan.
Di antara semua hal yang telah saya lalui di sini, terdapat pengalaman yang menurut saya unik. Suatu hari, saya pernah menangani seorang pasien dengan kaku di seluruh tubuh setelah muntah berisi air dan makanan sekitar 10 kali dalam sehari. Saya memerlukan pemeriksaan penunjang berupa elektrolit. Akan tetapi, pemeriksaan tersebut tidak tersedia di rumah sakit tempat saya bekerja. Jika ingin memaksakan untuk memeriksa di tempat lain, dibutuhkan biaya sekitar Rp600.000,00-Rp800.000,00 serta harus menunggu 1 hari. Karena tidak memungkinkan, akhirnya saya mencari cara lain. Saya pun menggunakan pendekatan klinis dan melakukan diagnosis banding penyakit lain. Saya memutuskan untuk melakukan pemeriksaan jantung menggunakan EKG. Diagnosis yang ditegakkan adalah hipokalemia meskipun hasil EKG kurang spesifik.
Dalam kasus tersebut, tata laksana yang saya berikan cukup unik. Injeksi kalium intravena saat itu tidak memungkinkan karena adanya aritmia ventrikel yang dapat menyebabkan kematian. Saya memutuskan untuk memberikan infus ringer laktat cepat dalam 30 menit. Lalu saya meminta keluarga pasien untuk membawa pisang dan menyuruh pasien untuk memakannya sebanyak tiga sampai lima buah. Setelah satu jam, terjadi perbaikan dan pasien diizinkan pulang.
Berpraktik di tempat yang memiliki banyak keterbatasan memberikan kesan tersendiri. Berbagai kasus yang ditemukan sangat menarik untuk dieksplorasi. Dalam situasi yang sulit seperti yang saya ceritakan, menurut saya dokter perlu mempertajam anamnesis dan pemeriksaan fisik. Ketajaman klinis seharusnya cukup untuk memikirkan beberapa diagnosis banding. Intinya, apa pun kesulitan yang dihadapi, jangan takut

Brian Santoso Dokter Internship
Kontak : line @brianvermes E-mail : brian_santoso@yahoo.com Alamat : RS JA Latumeten Tingkat 2 Ambon dan Puskesmas Ch. M. Tiahahu
untuk bertindak jika telah memiliki dasar yang kuat. Jangan lupa untuk tetap belajar rendah hati. Semoga pengalaman yang dibagikan ini bermanfaat.
SEPUTAR KITA
JACOST: Mengenal Lebih Jauh Fraktur Tulang Panjang
Tungkai memiliki fungsi untuk menyokong tubuh, sedangkan lengan untuk membantu aktivitas. Perbedaan fungsi ini mempengaruhi penanganan awal hingga evaluasi penyembuhan tulang yang patah. Namun, hal ini kurang dipahami sehingga banyak dokter yang masih terjebak dalam konsep bahwa kedua ekstremitas manusia sama-sama tersusun atas tulang panjang. Untuk itu, Jakarta Course in Orthopaedic and Seminar in Trauma Management (JACOST) 2019 mengangkat tema mengenai fraktur femoral dan tibial, yang diadakan di Gedung IMERI Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia pada 3

Fraktur tungkai tidak dapat disamakan dengan fraktur lengan
gita/MA
Agustus 2019.
JACOST 2019 diselenggarakan oleh PABOI DKI Jaya dan Departemen Orthopaedi & Traumatologi FKUI/RSCM. Simposium ini terdiri atas empat sesi utama: Penilaian Awal Fraktur Femoral (dr. Bambang Gunawan, SpOT(K) ); Tujuan Tatalaksana dan Masalah Fraktur Femoral (dr. Yogi Prabowo, SpOT(K) ); Jenis Fraktur Kruris dan Open Fracture TibiaFibula (Prof. Dr. Dr. Ismail Hadisoebroto Dilogo, SpOT(K) ) dan Sindrom Kompartemen serta Rehabilitasi Fraktur Kruris (dr. Ihsan Oesman, SpOT(K) ).
Fraktur Femoral
Pada dasarnya, fraktur bukan hanya tentang bagian tubuh yang patah, melainkan menilai cedera lain yang ada. “Pastikan tidak ada lifethreatening condition, dan selalu pikirkan ada cedera lain”. Seringkali, dokter jaga hanya berfokus pada bagian tulang yang patah dan lupa memastikan adanya ancaman nyawa. Evaluasi yang diperlukan adalah manajemen Airway, Breathing, Circulation (ABC) lalu menilai adanya cedera lain (politrauma) dan pemeriksaan sistematis.
Terjadinya cedera yang termasuk highimpact trauma seperti jatuh dari ketinggian 6 meter, tabrakan dengan kecepatan 40 km/jam atau pejalan kaki/pengendara yang terlempar dari tempat asal berpotensi menyebabkan politrauma. Hal penting yang juga perlu dinilai dari kondisi awal trauma adalah syok hipovolemik. Tidak jarang syok hipovolemik luput dari pemeriksaan karena tidak ditemukan perdarahan, seperti perdarahan thorax, abdomen, fraktur pelvis bilateral, dan femur. “Femur termasuk tulang yang keras, jika terjadi fraktur pada femur kemungkinan disebabkan high-impact trauma, sehingga ada fraktur di tempat lain. Jika ditemukan Lavallee Lesion, artinya ada gesekan antara kulit dengan jaringan otot yang menyebabkan hematoma.”
Femur memiliki fungsi untuk menahan beban dan mobilisasi sehingga kunci dari keberhasilan penanganan frakturnya adalah mobilisasi pada kondisi yang tepat. Penyembuhan fraktur dapat dilakukan dengan manajemen nonoperatif (traksi, imobilisasi, reduksi tertutup, hingga reduksi terbuka – ORIF atau bahkan eksisi fragmen).
Fraktur Tibia
Fraktur tibia merupakan jenis fraktur yang paling sering terjadi pada pengendara motor. “Karena letaknya yang dekat dengan kulit, fraktur tibia juga disebut sebagai cedera jaringan lunak yang menyebabkan fraktur. Apabila mekanisme cederanya melibatkan lutut, dapat terjadi fraktur tibia proksimal dengan fraktur tibia distal yang menyebabkan floating-knee.” Berkaitan dengan kruris yang memiliki tulang tibia dan fibula, sindrom kompartemen akut dapat muncul dengan cepat. Apabila tidak dikenali segera, sindrom kompartemen dapat berlanjut hingga terjadi kontraktur iskemik, miolisis, amputasi akibat ascending necrotizing infection, hingga kematian akibat sepsis. Keterlambatan penanganan sindrom kompartemen sering terjadi akibat konsep yang salah mengenai sindrom kompartemen menyebabkan iskemia. Tanda awal yang justru perlu ditemukan segera adalah passive stretch pain, diikuti paraesthesia. lila