Surat Kabar Media Aesculapius (SKMA) edisi September-Oktober 2019

Page 4

4

SEPTEMBER - OKTOBER 2019

KLINIK

MEDIA

AESCULAPIUS

MA INFO

Hadapi Dermatitis Atopik, Atasi Gatal pada Anak Gatal teratasi, anak ceria kembali

D

ermatitis atopik, atau disebut juga eksim atopik, merupakan penyakit inflamasi kulit yang bersifat kronik dan gatal. Penyakit ini biasanya terjadi pada anak-anak, tetapi juga dapat ditemukan pada orang dewasa. Dermatitis atopik mengikuti pola relaps dan sering dikaitkan dengan meningkatnya kadar IgE serum, riwayat alergi tipe I, rhinitis alergi, dan asma. Dermatitis atopik biasanya dimulai sejak usia 3-6 bulan. Walau sebagian besar individu mencapai resolusi ketika dewasa, 10-30% tidak mengalami hal tersebut. Kelompok Studi Dermatologi Anak Indonesia (KSDAI) menyatakan prevalensi dermatitis atopik sebesar 23,67% dan menduduki 10 besar penyakit kulit anak di Indonesia. Manifestasi klinis dermatitis atopik meliputi kemerahan, edema, kulit kering, erosi, atau likenifikasi. Manifestasi klinis ini bergantung pada usia pasien dan berapa lama lesi tersebut ada. Tanda yang pasti muncul pada dermatitis atopik adalah gatal. Pada anak-anak dan balita, dermatitis muncul berpola pada wajah dan leher. Diagnosis dapat dilakukan dengan memeriksa tanda klinis yang muncul. Informasi lain seperti usia dini, onset, riwayat atopi, dan reaktivitas IgE dapat menunjang diagnosis. Pada beberapa kondisi, biopsi kulit dan tes lain (seperti serum IgE, tes genetik, dan tes patch) dapat membantu menyingkirkan dugaan

kelainan kulit lain. Menurut Guidelines of Care for the Management of Atopic Dermatitis yang dikeluarkan American Academy of Dermatology pada tahun 2014, tata laksana dermatitis atopik biasa dilakukan menggunakan agen topikal. Pelembab topikal digunakan untuk melawan kulit kering dan mengurangi kehilangan air transepidermis. Penggunaan pelembab meningkatkan hidrasi kulit dan memperkecil gejala serta tanda aure lia/M A penyakit, seperti gatal, eritema, fisura, dan likenifikasi. Pengobatan ini tersedia dalam bentuk krim, salep, minyak, gel, dan lotion. Selain itu, mandi dapat membantu menghidrasi kulit dan menyingkirkan kulit bersisik, zat iritan, dan alergen. Penggunaan pelembab setelah mandi disarankan untuk

menjaga status hidrasi kulit. Jika terdapat kulit dengan tingkat inflamasi yang cukup parah, perawatan dapat diberikan dengan merendamnya selama 20 menit dalam air dan diikuti pemakaian kortikosteroid topikal. Wet-wrap therapy (WWT) adalah salah satu cara untuk menurunkan gejala dermatitis atopik dengan cepat. Metode ini biasanya digunakan pada lesi signifikan dan dilakukan dengan agen topikal yang ditutup dengan lapisan perban basah, dan ditutup lagi dengan lapisan kering. WWT membantu meningkatkan penetrasi agen topikal, menurunkan hilangnya air, dan mencegah penggarukan. Kortikosteroid topikal (TCS) merupakan terapi antiinflamasi utama yang diberikan pada anakanak dan orang dewasa yang gagal merespon terapi dengan menjaga kelembaban kulit. Obat ini dianjurkan diberikan dua hari sekali, walaupun terdapat bukti yang menyatakan bahwa pemberian sehari sekali sudah cukup.

Penggunaan TCS biasanya sebanyak ujung jari dewasa (sekitar 0,5 gram) dan dioleskan pada daerah seluas dua telapak tangan dewasa. Pencegahan relaps dapat dilakukan dengan pemakaian 1-2 kali per minggu pada daerah yang sering muncul lesi. Untuk mengurangi penggunaan kortikosteroid berlebih, dapat digunakan inhibitor kalsineurin topikal sebagai penggantinya. Obat golongan ini lebih efektif daripada steroid pada beberapa situasi, seperti daerah sensitif (anogenital, lipatan kulit), daerah dengan atrofi karena steroid, dan penggunaan steroid topikal jangka panjang. Namun, terapi dengan obat ini dapat menyebabkan kebakaran kulit dan gatal, terutama pada inflamasi akut. Obat ini juga dapat mencegah munculnya lesi dengan penggunaan 2-3 kali per minggu. Selain penggunaan obat, kekambuhan penyakit dapat dicegah dengan modifikasi lingkungan. Hal ini dilakukan dengan menghindari iritan mekanik dan kimia, seperti wol, asam, pemutih, dan pelarut, atau alergen yang spesifik bereaksi pada penderita dermatitis atopik. Seprai khusus tungau debu rumah disarankan untuk mencegah memburuknya dermatitis atopik, rhinitis alergi, dan asma pada penderita. Memakai pakaian yang lembut dan menghindari kain yang mengiritasi juga dianjurkan untuk memperkecil iritasi kulit. catra

ASUHAN KESEHATAN

Intervensi Post-Stroke: Terapi Okupasi Bantu Rehabilitasi Rehabilitasi post-stroke dilakukan untuk meningkatkan kualitas hidup pasien pasca pengobatan

R

isiko harga diri rendah situasional merupakan salah satu diagnosis keperawatan yang bisa muncul pada pasien post-stroke akibat hilangnya fungsi fisik tertentu yang mengganggu aktivitas. Stroke adalah gangguan peredaran darah pada otak yang tidak adekuat sehingga menimbulkan gangguan khusus seperti hemiparesis (kelemahan), hemiplegia (paralisis), afasia (bisu), disartria (pelo), disfagia (sulit menelan), apraksia (koordinasi otot menurun), agnosia (penurunan kemampuan indra), dan inkontinensia (tidak dapat menahan kandung kemih). Gangguan fungsi yang dialami akan menghalangi kemandirian pasien terhadap pemenuhan kebutuhan sehari-hari. Sejak awal serangan stroke, intervensi yang dilakukan bertujuan untuk memperbaiki citra fisik dan kognitif. Salah satu usaha rehabilitasi yang dapat dilakukan dan diajarkan pada pasien serta keluarga adalah terapi okupasi Activity Daily Living (ADL). vina/MA Terapi okupasi ADL adalah usaha penyembuhan terhadap seseorang yang mengalami kelainan fisik atau mental dengan memberikan suatu keaktifan kerja yang dapat mengurangi keterbatasan yang dialami oleh penderita. Terapi

okupasional yang diberikan meliputi latihan aktivitas kehidupan sehari-hari, produktivitas, dan pemanfaatan waktu luang. Peran perawat dalam terapi ini adalah mengkaji kebutuhan terapi yang diperlukan oleh pasien. Tingkat keparahan stroke dan lama waktu pemulihan dari kejadian akut mempengaruhi tingkat terapi yang diperlukan. Hal selanjutnya adalah melakukan intervensi sesuai dengan perencanaan yang telah disusun. Terapi dilakukan dengan melatih otot-otot pasien yang melemah dengan kegiatan ringan seperti memegang sendok, mengancingkan baju, dan membersihkan mulut. Setelah mengalami kemajuan, kesulitan aktivitas dapat ditingkatkan menjadi makan minum mandiri dan merapikan tempat tidur sendiri. Semua kegiatan harus dibawah pengawasan perawat ataupun keluarga dan rutin dilakukan dengan jangka waktu tertentu serta tidak bersifat memaksa. Dengan latihan yang rutin ini, pasien secara perlahan akan kembali bisa melakukan aktivitas seharihari. Selain pada pasien, perawat juga harus melakukan intervensi keperawatan kepada keluarga berupa peningkatan pengetahuan

JASA TERJEMAHAN Kabar Gembira! Media Aesculapius menyediakan jasa terjemahan IndonesiaInggris dan Inggris-Indonesia dengan waktu pengerjaan singkat (3 x 24 jam) serta hasil terjamin. Tidak hanya jasa terjemahan, kami juga menyediakan jasa pembuatan slide presentasi dan poster ilmiah sesuai kebutuhan Anda.

Meirina Nur Asih Mahasiswi Keperawatan Fakultas Keperawatan Universitas Airlangga Surabaya dalam perawatan pasien post-stroke yang boleh dipulangkan. Pengetahuan yang diajarkan meliputi terapi okupasi sederhana yang bisa dilakukan keluarga serta menjaga diet pasien. Peran keluarga sangat penting bagi perkembangan pemulihan stroke. Oleh karena itu, sebisa mungkin keluarga dianjurkan agar bersikap sabar dalam merawat pasien dan diharapkan mampu memberikan dukungan moral kepada pasien dalam menjalani proses pemulihan. lidia

Hubungi Hotline MA: 0896-70-2255-62 (SMS/Whatsapp)


Turn static files into dynamic content formats.

Create a flipbook
Issuu converts static files into: digital portfolios, online yearbooks, online catalogs, digital photo albums and more. Sign up and create your flipbook.